Tengah malam disaat semua orang sedang menikmati istirahat tiba-tiba seorang pelayan istana meminta izin untuk bertemu penguasanya "Tuan, ada utusan dari Kediri ingin bertemu."
"Sialan, tengah malam begini, menganggu waktu istirahat saja, tunggu sebentar aku akan menemuinya." ucap Tunggul Ametung
diruang pertemuan Tunggul Ametung dan berapa abdi istananya sudah berkumpul ekpresi kesal tidak bisa disembunyikan dari wajah mereka karena utusan ini
"Langsung saja, pesan apa yang kau bawa." tanya Tunggul ametung
"Penguasa Kediri memerintahkan akuwu Tumapel untuk secepatnya menumpas pemberontakan di Tugaran."
Tunggul Ametung lalu menyuruh utusan itu untuk segera pulang karena pesannya sudah diterima, tapi utusan itu tampak kesal, abdi istana tersenyum mendengar ucapan Tunggul ametung
"Tapi... Sekarang sudah malam."
"Ya aku tahu, memangnya kenapa kalau sudah malam, pesannya sudah aku terima sekarang tidak ada alasan lagi untukmu berada disini kembalilah ke Kediri."
Utusan kembali dengan rasa kesal dan mengumpat didalam hati, disisi lain seorang penasihat memberikan saran kepada sang akuwu kalau ini mungkin saja jebakan dari penguasa Kediri "mau bagaimana lagi sebagai bawahan kita wajib untuk taat kepada mereka." lalu Tunggul ametung menyuruh semuanya untuk kembali istirahat
Tiga hari kemudian Tunggul ametung dan pasukannya bergegas untuk menumpas pemberontak di tugaran, sebelum berangkat ia mencium istrinya Dedes dan "tenang saja ini tidak akan lama."
Diperjalanan para pasukan dan beberapa teman Tunggul Ametung merasakan firasat buruk, tapi karena perintah penguasa Kediri mereka tetap melanjutkan perjalanan
Penumpasan pemberontakan terjadi banyak pemberontak yang kabur lalu dikejar pasukan Tumapel, sama halnya dengan Tunggul ametung sendiri dia mengejar pemberontak yang lari tanpa sadar sudah terpisah dengan pasukannya lalu disaat itu anak panah tiba-tiba menghujani tubuhnya dari berbagai arah beberapa abdi setia menyusulnya dan melindunginya lalu membawanya keluar dari medan itu mencari tempat yang aman, hingga akhirnya bertemu dengan rumah gubuk didalamnya ada seorang perempuan yang sedang mengobati seseorang
Tolong cepat obati Akuwu perintah salah seorang yang membawanya tadi, setelah diberi instruksi untuk merebahkannya disebuah tikar, perempuan itu lalu mulai melakukan pengobatan, "ini.... ini racun ucapnya."
Pengawal yang membawa akuwu menghunus pedangnya ke leher perempuan itu "jangan asal bicara kamu"
"Benar, saya yakin yang mulia akuwu kena racun." setelah itu dia mengidentifikasi dan mencoba membuat ramuan untuk racun itu dan menyuruh para pengawal untuk menjaga akuwu
Kurang lebih tiga hari masa perawatan akhirnya akuwu mulai membaik, dia bertanya tentang pemberontakan, dan prajurit menceritakan apa saja yang sudah terjadi selama beliau sedang tidak sadarkan diri "ini pasti ulahnya." hubungan Tumapel dan Kediri memang kurang baik, tapi dia tidak menyangka mereka akan melakukan cara sampai seperti ini
Setelah tubuhnya membaik wanita yang merawatnya juga perlahan memiliki ketertarikan kepada tunggul ametung dan terjadilah apa yang terjadi.
Besoknya Tunggul Ametung bersiap untuk kembali ke Tumapel dan "Lupakan kejadian tadi malam, aku masih mencintai istriku." perempuan itu tampak sedih dan "yang mulia kalau saya mengandung bagaimana." Tunggul ametung menyerahkan sebuah cincin kesayangannya lalu "Gugurkan saja anak itu, dan ambil ini sebagai kompensasi."
Tunggul Ametung dan pasukannya bersiap untuk kembali ke Tumapel dan kejadian itu berlalu begitu saja tanpa ada yang mengingatnya, sesampainya di Tumapel rombongan mereka disambut oleh penghuni istana tidak terkecuali Dedes.
Setelah cukup beristirahat Tunggul ametung mengirim utusan untuk Kediri menyampaikan keberhasilannya menjalankan tugas dari mereka. Dan juga malam harinya Dedes menyadari ada sesuatu yang hilang dari suaminya itu yaitu cincin kesayangannya, iapun mencari-cari alasan dan berkata kalau cincin itu tidak sengaja ia hilangkan saat menumpas pemberontak, Dedes tanpa curiga menerima alasannya
Ditempat lain perut seorang wanita yang dulu pernah mengobati Tunggul ametung itu sudah membesar dan tak lama lagi sepertinya akan melahirkan, para warga dan tetua desa yang tahu alasannya hanya diam dan tidak ada yang berani mencemooh wanita itu, lalu seorang wanita tua mendekatinya dan mengkonfirmasi sepertinya sebentar lagi bayi di kandungannya itu akan segera lahir, perempuan itu hanya tersenyum
Di sebuah rumah kos seorang novelis menggerutu dan mengeluarkan kata-kata kasar ketika tahu kalau karyanya tidak lulus review padahal dia sudah susah payah menyusunnya lalu mereka memberikan alasan tidak masuk akal seperti dibuat menggunakan ai lah apalah dan disuruh kembali mengajukan kontrak beberapa hari lagi, dengan kesalnya pria itu membaca kembali cerita buatannya satu persatu dan memperbaiki apa yang menurutnya kurang ataupun menghapus apa yang menurutnya bisa dipangkas, hingga setelah selesai tiga hari dia mengajukan kembali novelnya itu.
Tak perlu waktu lama, beberapa menit kemudian ponselnya mendapat sebuah notifikasi tentang novel yang ia ajukan setelah membuka notifikasi tersebut layar ponselnya mendadak menjadi blank dan juga menjadi tidak teratur menyala lalu mati² refleks novelis itu kemudian mencoba untuk mematikan ponselnya dan tetap saja keadaan ponselnya begitu, dengan panik diapun melempar ponselnya dan anehnya bukan rusak yang terjadi malah sebuah portal terbuka dan perlahan menyedot jiwanya....
beralih ke perempuan yang sedang mengandung sepertinya sudah saatnya dia melahirkan anak itu banyak wanita tua sudah bersiap untuk membantunya untuk persalinan lalu beberapa ada yang mengajaknya mengobrol tentang hal-hal random, misalnya kalau anak ini laki-laki mau diberi nama siapa, atau kalau perempuan, perempuan itu sempat menyebut Sena... Arya Sena, setelah melakukan hubungan Tunggul Ametung menyebutkan nama itu ucapnya, lalu topik beralih ke hal-hal lainnya dan tanpa terasa anak itu sudah lahir tapi sayangnya bayi itu lahir dengan keadaan meninggal dunia, perempuan tadi pun meminta untuk memeluk anak yang baru saja dilahirkannya dan para bidan hanya mengikuti dengan pasrah dan ketika ia bertanya kenapa anak ini tidak menangis, perempuan yang baru melahirkan itu mempertanyakan sesuatu yang sudah ia ketahui, bidan mencoba menenangkannya karena dia baru saja melahirkan dan lebih mengendalikan emosinya, perempuan itu menangis perlahan tangannya terdengar pelan dan menjadi tidak ada suara lagi, para bidan mencoba memeriksa nafas dan nadinya dan..... Perempuan itu sudah tidak bernyawa... Bidan dan orang yang membantu persalinan pun menangis melihat pemandangan ini
Novelis yang tertarik kedalam sebuah portal akibat melemparkan ponselnya tadi sekarang melayang-layang tanpa arah jiwanya sudah terlepas dari badannya diapun belum menyadari apa yang terjadi tetapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya orang-orang menangis dan juga perempuan dan bayi yang sudah tidak bergerak, saat sudah melihat dan ingin pergi dia seperti dihisap oleh sang bayi itu novelis tadi mencoba melawan tetapi sayangnya daya hisap dari bayi itu lebih kuat dan akhirnya jiwanya merasuk kedalam tubuh bayi itu lalu bayi itu kemudian mengeluarkan tangisan.
Sudah hampir satu bulan sejak aku memasuki tubuh bayi ini setiap hari banyak kosakata baru yang aku pelajari dan juga berita-berita dari para wanita yang sedang bergosip, mulai dari siapa bayi ini sebenarnya, dari mereka aku akhirnya tahu kalau bayi yang badannya sekarang aku tempati adalah seorang anak dari Tunggul ametung dan seorang wanita yang pernah menyelamatkannya ketika Tunggul ametung terluka akibat sergapan dan kena racun, yang aku miliki saat ini hanyalah sebuah cincin peninggalan ibuku yang katany pernah diberikan Tunggul ametung sebelum dia meninggalkan tugaran dan tidak pernah kembali lagi.
Hingga akhirnya sebuah berita hangat terdengar di seluruh penjuru tentang terbunuhnya Tunggul ametung oleh kebo ijo, lalu mereka membahas tentang Ken Arok yang mengadili Tunggul ametung dan memegang kekuasaan singhasari sementara disisi lain berita tentang istri Tunggul ametung yang sedang hamil besar juga diambil istri oleh Ken Arok.
Saat itu aku akhirnya sadar kalau sekarang aku berada dizaman Singosari, dan kehadiranku mungkin saja membawa cerita berbeda dengan sejarah yang ada, tapi siapa peduli aku datang dari masa depan dan menganggap saat ini hanyalah sebuah dunia novel, bercerita sedikit novel yang aku tulis yang menyebabkan ku terseret kesini adalah novel tentang kerajaan- kerajaan di nusantara tapi aku tidak menyangka akan terseret ditimeline Singosari.
Orang- orang memanggilku dengan Sena.. Arya Sena, selama tujuh tahun ini, aku diasuh oleh seorang wanita tua sering dipanggil nyai Purnama, dia adalah wanita yang melajang dan tidak bersuami, dari cerita-cerita yang aku dengar nyai purnama pernah punya seorang kekasih sayangnya kekasihnya terbunuh lalu nyai purnama memilih untuk tidak menikah seumur hidupnya.
Disisi lain aku tidak hanya diasuh oleh nyai Purnama ada juga seorang kakek yang disegani disini mereka menyebutnya mpu Pala, dia mengajariku untuk puasa dan tanpa sejak dini dia juga sesekali berlatih ilmu ketika sedang senggang, mungkin maksudnya untuk menarik perhatianku, tentu saja aku tertarik kapan lagi bisa belajar Kanuragan dan ilmu-ilmu yang dizaman modern sudah tidak dipakai lagi.
Sesekali juga aku mendengar sebuah kabar tentang singhasari dari gosip-gosip yang beredar sampai akhirnya mpu Pala mengajakku untuk bertamu atau menemui kenalannya mpu Parwa.
Hah, mpu Parwa, benar dia adalah ayah dari Ken Dedes, diperjalanan mpu Pala beberapa kali memberikan nasihat-nasihat untukku ketika bertemu dengannya harus begini begini, jaga sikap, sopan santun, ya pokoknya begitulah orang tua yang sedang mengajari anaknya.
Sesampainya ditempat mpu Parwa kami disambut oleh beberapa orang dan disuruh menunggu dulu karena beliau sedang melakukan semedi, setelah menunggu cukup lama akhirnya kami dipersilahkan untuk bertemu langsung dengan beliau, setelah perbincangan yang cukup lama akhirnya mpu Pala bertanya kepada mpu Pala tentang diriku dan spontan aku langsung memperkenalkan diriku yang akhirnya beliau terkejut ketika mengetahui identitas asliku adalah seorang anak dari Tunggul ametung lalu beliau bergumam "Berarti dia kakanya Anusapati."
Dan setelah mpu Pala menyelesaikan tujuan kedatangannya kesana aku diajak untuk bangun tetapi aku tidak menurut begitu, aku bersujud didepan mpu Parwa dan "mpu tolong jadikan saya muridmu."
Beliau hanya terdiam dan tertawa kecil lalu "kamu masih terlalu kecil untuk berlatih dibawah bimbinganku, tunggulah sampai kamu sudah tiga belas tahun baru datang lagi nanti, untuk sekarang lebih baik tetap berguru dengan mpu pala saja."
Aku anggap ini adalah tantangan dan cara beliau menguji kesabaranku baiklah kalau begitu.
Setelah kembali ke Tugaran aku kembali berlatih dengan mpu Pala sampai umurku 13 tahun nanti, tapi tidak hanya sendiri aku bersama seorang teman yang tidak sengaja aku dapat namanya Rabu Tilawang, orang tuanya adalah pendatang dari luar dan bermukim di tugaran.
Tentu bukan hanya Kanuragan saja yang aku pelajari, dari nyai Purnama aku mempelajari pengobatan racun dan sebagainya konon beliau jugalah yang mengajari ibu dari tubuh asli ini.
Beberapa waktu berlalu ditempat mpu Parwa Dedes dan anusapati mengunjungi kediaman sederhana itu, dan disaat itulah mpu Parwa membagikan sebuah kebenaran yang baru diketuainya kepada Dedes, kalau sebenarnya Anusapati memiliki seorang saudara, awalnya Dedes terkejut lalu mpu Parwa menenangkannya dan berkata dia akan melatih anak itu untuk membantu mengokohkan pijakan Anusapati nanti, mpu Parwa juga sesekali mengumpat tentang tindakan Arok didepan Dedes, permainan politik licik lah apalah, Dedes hanya diam mendengarkan tanpa berkata apapun.
Di lingkungan istana singhasari anak-anak lain sedang bermain bersama dan Anusapati seperti diasingkan dirumahnya sendiri terbukti dari perbedaan yang diterimanya mulai dari guru anak-anak arok yang lain mendapatkan guru terbaik sedangkan Anusapati hanya mendapatkan guru yang bahkan namanya tidak dikenali banyak orang, dan juga gurunya itu tidak memperlakukan Anusapati dengan baik, seperti memukul Anusapati dengan dalih memberikan pelajaran atau apalah dan tidak ada yang melarangnya melakukan itu, saat Dedes mengeluhkan perilaku yang diterima anusapati Arok hanya mengatakan itu bagian dari metode pengajaran yang dilakukan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Dimalam hari Dedes selalu mencoba menghibur Anusapati dan menyemangatinya untuk tetap bertahan, dan jangan pernah tertarik untuk mempelajari ilmu perang, Anusapati bertanya dengan polosnya lalu, Dedes kemudian menangis dan menyuruhnya untuk berjanji untuk tidak mempelajari itu.
Disisi lain ken Arok raja singhasari semakin gencar mencari dan menghabisi sisa sisa pengikut dari penguasa terdahulu entah itu Tunggul Ametung atau sisa-sisa dari abdi Kediri yang berada didaerahnya.
Beberapa ilmu sudah diserap oleh Sena ada tiga yang paling dikuasainya halimunan menyembunyikan langkah kaki dan juga ilmu belut.
Pembunuh pertamanya terjadi secara tidak sengaja saat berjalan-jalan dihadang oleh sekelompok preman yang merasa tertantang karena ditatap oleh Sena "Lihat apa kamu, Nantang kah?.", Rabu mencoba untuk menahan Sena agar dia tidak emosi "Sudah Sena kita lebih baik tetap jalan aja tidak usah dengarkan dia" tetapi takdir berkata lain Sena yang berumur tiga belas tahun berbekal ilmu yang diajarkan mpu pala berlari menuju preman itu dan perkelahian terjadi, Sena dengan mudah mematahkan leher preman itu lalu menghajar anak buahnya sendirian.
Perasaan yang dialami Sena ketika membunuh orang pertama kalinya adalah hambar, Sena menganggap dunia ini bukanlah tempat asalnya dan menganggap orang lain hanyalah karakter figuran yang tidak terlalu penting, saat ini yang mengganggu pikirannya adalah untuk apa dia disini dan apa tujuannya.
Pikiran itu yang selalu mengganggunya sejak pertama berada didalam tubuh bayi sampai saat ini, dan dia juga sedang mencoba mencari jawabannya dengan meditasi bertapa tapi belum juga mendapatkan apa tujuan sebenarnya dia berada disana.
Setelah perjalanannya bersama Rabu tilawang Sena akhirnya sampai ke panawijen tempat mpu Parwa, saat Sena dan Rabu datang seorang abdi langsung menyuruh mereka masuk dan mengatakan kalau mpu sudah menunggu didalam.
Sena masuk di iringi Rabu dibelakangnya "salam guru" ucap Sena
"Aku belum mengajarkan apapun kepadamu kenapa kau memanggilku guru."
"Dulu saat aku pertama kali kesini dan dijanjikan setelah tiga belas tahun untuk kembai kesini anda sudah menerimaku sebagai muridmu guru."
Mpu Parwa tersenyum mendengar jawaban Sena lalu menyuruh mereka berdua duduk.
Sena mengenalkan kalau dia datang bersama temannya dan meminta untuk mpu Parwa sudi membimbingnya juga, mpu Parwa tidak mengatakan apapun dan hanya menyuruh mereka untuk beristirahat dia kemudian menyuruh abdinya untuk mengantarkan Sena dan temannya ketempat yang akan mereka tempati selama tinggal disana.
Malam harinya mereka mendengarkan nasihat-nasihat yang disampaikan oleh mpu Parwa, setelah semua orang kembali ketempat masing-masing Sena tetap ditempatnya Rabu disuruhnya untuk duluan karena ada percakapan pribadi antar dia dan gurunya "guru ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan."
"Tanyakanlah Sena."
"Aku ingin bertanya kemana orang-orang setelah mati"
"Kenapa kau menanyakan itu."
"Tadi siang aku baru membunuh orang, dan aku memikirkannya jika mati kemana dia akan pergi."
"Dunia ini hanyalah Wadah, Sena. Jiwa adalah Isi. Ketika wadah itu pecah oleh pedang atau usia, jiwanya tidak hilang, melainkan kembali melayang mencari jalan pulang."
Sena Menunduk, menatap telapak tangannya sendiri "Jika jiwa tidak pernah hilang... apakah jiwa dari tempat lain dari masa yang sangat jauh bisa terlempar ke dalam wadah baru di zaman ini? Dan apakah jiwa yang mati di sini bisa kembali ke tempat asalnya?"
Mpu Parwa Tersenyum tipis, memahami arah pertanyaan terselubung Sena "Jiwa yang terikat karma akan terus berputar dalam roda Samsara. Jika jiwa itu datang dari ranah atau era lain, berarti ada janji atau takdir yang belum selesai ia tuntaskan di bumi ini. Ia tak bisa 'pulang' sebelum tugasnya genap."
"Tugas...?"
"Ya. Preman yang kau bunuh tadi telah menyelesaikan jalannya di dunia ini lewat tanganmu. Sedangkan kau... kau dikirim ke sini bukan untuk mempertanyakan kapan bisa kembali, melainkan untuk menjadi benteng dan pedang bagi saudaramu, Anusapati. Setelah takdir itu tuntas, barulah jalan pulang atau Moksa itu akan terbuka dengan sendirinya."
Sejak saat itu mpu Parwa sering menyebut Anusapati dan menanamkan doktrin kalau dirinya adalah pelindung dan pedang bagi Anusapati saudaranya, tapi bagi Sena semua itu hanyalah permainan politik.
Hingga suatu hari Dedes datang menemui ayahnya lalu mpu Parwa berkata kepada Dedes "lihatlah anak itu apa kau mengenalinya?."
"Siapa dia bapa?."
Mpu Parwa tersenyum tipis "Dialah yang akan menjadi pedang untuk cucuku Anusapati, disini aku akan mengasahnya dan menajamkannya"
"Jangan- jangan orang yang bapa maksud waktu itu adalah dia?."
"Benar, dia adalah anak dari suamimu dan saudara Anusapati."
Sena kemari sebentar ucap mpu Parwa, Sena pun menghentikan latihannya dan bergegas menghampirinya gurunya itu "Iya guru, ada apa"
"Beri salam kepada ibumu"
"Ibu?."
"Dia adalah istri dari ayahmu penguasa Tumapel dulu Ken Dedes, ibu dari saudaramu Anusapati."
Dedes tidak langsung percaya begitu saja, dan dia meminta bukti kepada Sena kalau benar dia memang benar anak Tunggul ametung apa yang bisa membuktikan pengakuannya benar
"Maafkan aku, aku tidak bisa membuktikan apapun ibundaku meninggal ketika melahirkan dahulu lalu saya diasuh oleh kerabat dari ibu, saya tidak punya bukti apapun selain ini." Sena menunjukkan cincin yang dipakainya kepada Dedes.
Setelah melihat itu Dedes kembali teringat memori ketika dia menanyakan tentang cincin yang hilang kepada Tunggul ametung, ternyata cincin itu bukan hilang tetapi diberikan kepada seorang wanita dan sekarang anaknya membawa itu kepada dirinya, Dedes tidak berkomentar apapun dia hanya bertanya kalau begitu artinya kamu adalah kaka atau adik dari Anusapati, Sena menjawab kalau dia tidak tahu pastinya tapi dari cerita-cerita yang dia dengar kalau Tunggul ametung mati dia sudah lahir.
Setelah mendengar itu Dedes mengatakan kalau adiknya saat ini tengah terkurung di Kedaton tanpa diperbolehkan mempelajari ilmu perang, Dedes meminta Sena untuk belajar sungguh-sungguh dan membantu adiknya karena Sena tidak punya siapapun lagi kecuali adiknya, Dedes juga mencoba menanamkan doktrin ke Sena.
Tapi Sena hanya tersenyum dan berjanji akan berusaha melakukan yang terbaik untuk menjaga adiknya nanti, setelah mendengar itu hati Dedes menjadi lega lalu mpu Parwa kemudian menyuruhnya untuk melanjutkan latihannya, setelah berdiri dia tidak langsung kembali untuk latihan Tangannya secara kasual terulur ke samping, meraih sebatang bambu runcing bekas pagar kecil yang tergeletak di dekatnya. Tanpa ancang-ancang yang berarti, tanpa mengumpulkan aura kanuragan yang mencolok, Sena menyentak pergelangan tangannya.
CUSSS!
Bambu itu melesat membelah udara seperti anak panah yang dilepaskan dari busur raksasa. Gerakannya begitu cepat dan presisi hingga menciptakan siulan tipis.
BLEB! CRAGK!
Penguping: "AAAGHH—!"
Sebuah jeritan tertahan terdengar dari balik semak-semak rindang di luar pagar. Bunyi daging dan tulang yang tertembus bambu terdengar sangat jelas, disusul suara tubuh berat yang roboh menghantam tanah kering.
Mpu Parwa dan Dedes kaget setelah melihat orang yang tanpa mereka sadari sedari tadi ada disekitar sana, lalu Mpu Parwa menyuruh abdinya untuk segera membereskan mayat itu, Dedes juga disuruh untuk segera kembali ke kedaton dan Sena kembali melanjutkan latihannya.
Pengawasan Mpu Parwa dari Jauh:
Mpu Parwa berdiri sambil memperhatikan Sena yang bergerak kembali mengulang beberapa gerakan yang diajarinya.
Dalam batin Mpu Parwa "Anak ini tidak pernah diajari cara membunuh secara formal oleh Mpu Pala, tapi instingnya refleks mencabut nyawa tanpa ragu demi melindungi rahasia. Dia bukan sekadar murid... dia adalah badai yang sedang tumbuh."
Malam harinya sesuai pengajaran dari mpu Parwa dan hanya ada Sena sendiri disana "Sena... tindakanmu tadi siang menyelamatkan nyawa kita semua dan rahasia Anusapati. Tapi itu juga menandakan bahwa mata dan telinga Arok sudah menyebar sampai ke balik semak-semak Panawijen. Mulai malam ini, kamu bukan hanya diajari tentang nasihat-nasihat tapi juga tentang sejarah dan taktik politik"
Mpu Parwa menjelaskan bahwa Ken Arok naik takhta lewat pertumpahan darah Karena itu, Arok diliputi ketakutan konstan bahwa takhtanya akan direbut dengan cara yang sama.
Analisis modern Sena di batin: "Oh, classic tyrant syndrome. Orang yang naik pake cara kotor akan selalu takut dikumpulin/dieksekusi pake cara kotor juga. Arok lagi ada di fase super paranoid."
Kemudian mpu Parwa melanjutkan bahwa Anusapati sengaja dipisahkan dari akses militer. Arok membentuk opini umum bahwa Anusapati adalah pangeran yang "lemah, pemalu, dan tidak berbakat perang" agar rakyat Tumapel tidak menaruh harapan padanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!