Indonesia
NovelToon NovelToon

SUAMI ASING UNTUK HAFIZHAH BUTA.

MAHKOTA CINTA UNTUK IBU.

Lantunan surah Ar-Rahman bergema lembut di aula utama Pondok Pesantren Nurul Hasanah. Suasana begitu khidmat, diselimuti Isak tangis haru dari ratusan pasang mata yang hadir. Di atas panggung utama, Nabila Azra Humaira berdiri anggun dengan balutan busana muslimah serba putih dengan mahkota kecil bertengger di atas kepalanya, dengan tangannya yang gemetar perlahan merengkuh sebuah mahkota berhias payet berkilau, lalu menempatkannya dengan sangat hati-hati di atas jilbab sang ibu.

"Bunda... ini untuk Bunda," bisik Nabila lirih. Suaranya bergetar menahan gejolak rasa di dada. "Satu huruf, satu ayat, tiga puluh juz... semuanya Nabila hadiahkan untuk Bunda dan Ayah. Terima kasih sudah sabar mendoakan Nabila selama ini."

Ibunya tak sanggup lagi menahan tangis. Beliau memeluk erat tubuh putri tunggalnya itu, mengecup kedua pipi Nabila berulang kali dengan pendar kebanggaan yang terpancar jelas dari matanya. Di samping mereka, sang ayah tersenyum lebar dengan air mata yang menggenang di sudut mata keriputnya. Hari itu, Nabila resmi diwisuda sebagai seorang Hafizhah 30 Juz. Sebuah gelar mulia yang ia perjuangkan lewat ribuan malam tanpa tidur dan peluh kesabaran.

Usai prosesi yang menguras emosi tersebut, riuh tepuk tangan dan ucapan selamat mengalir tanpa henti. Namun, waktu tak membiarkan kebahagiaan itu berlama-lama. Karena jarak rumah yang cukup jauh dan cuaca menjelang sore itu mulai mendung tebal, kedua orang tua Nabila harus segera bersiap untuk pulang.

"Nabila sayang, Ayah dan Bunda pulang duluan, ya?" ucap sang ayah seraya mengelus lembut puncak kepala Nabila yang tertutup jilbab. "Selesaikan tugas pengabdianmu di pondok ini dengan ikhlas. Jadi anak yang salehah dan terus amalkan Al-Qur'anmu."

"Nabila masih ingin dipeluk Bunda, Yah..." goda Nabila sambil tersenyum manja, memeluk lengan ibunya erat-erat.

"Apalagi Bunda, Nak. Rasanya enggan sekali melepasmu," sahut sang ibu lembut, mengusap pipi Nabila. "Tapi kamu masih ada tanggung jawab mengajar adik-adik santri di sini. Jaga diri baik-baik, ya, Nabila. Bunda dan Ayah sangat mencintaimu."

Pelukan hangat sore itu terasa sangat berbeda. Ada rasa hangat yang menjalar, namun sekaligus menyelipkan kepedihan samar yang tak sanggup Nabila jelaskan. Ia melambaikan tangan hingga mobil sedan hitam milik orang tuanya bergerak perlahan melintasi gerbang utama pesantren dan menghilang di balik tikungan jalan raya.

Satu jam kemudian, Nabila yang masih berkumpul bersama teman-teman sesama wisudanya. Kini berpamitan, karena ia berniat kembali ke kompleks asrama untuk merapikan berkas administrasi pengabdiannya. Namun, baru beberapa langkah ia mengayunkan kaki, getaran keras dari ponsel di dalam saku gamisnya mengejutkannya. Nama kakaknya, Ardhana, tertera di layar.

Nabila mengangkat panggilan itu dengan senyum yang masih mengembang di bibir. "Assalamu'alaikum, Mas Ardhana! Mas tahu tidak, tadi acara wisudanya lancar sekali..."

"Nabila..."

Suara di ujung telepon memotong kalimatnya. Suara Ardhana terdengar pecah, tidak beraturan, dan diiringi deru sirine yang meraung-raung menyayat udara.

"Mas Ardhana? Ada apa? Mas kenapa menangis?" Jantung Nabila mendadak berdegup kencang secara tidak wajar. Senyum di wajahnya surut seketika.

"Ayah... Bunda, Nabila... Mobil Ayah kecelakaan parah di jalan lintas utama! Cepat ke Rumah Sakit Medika, Nabila! Cepat!"

DEGG.

Dunia seolah berhenti berputar detik itu juga. Ponsel di tangan Nabila hampir saja terlepas jika ia tidak menggenggamnya kuat-kuat. Gemuruh di dadanya jauh lebih dahsyat ketimbang suara petir yang mendadak menyambar di langit sore yang kian menghitam. Tanpa memikirkan apa pun lagi, tanpa mengabari pihak pengasuh pondok, Nabila berlari kesetanan menuju tempat parkir motor pengabdian.

Pikiran Nabila benar-benar kosong. Yang ada di kepalanya hanyalah bayangan wajah ayah dan ibunya. Ya Allah, tolong... tolong selamatkan mereka. Jangan ambil mereka sekarang, jerit batinnya berulang kali seperti mantra.

Ia menyalakan mesin sepeda motor matik dengan tangan yang gemetar hebat. Gerimis mulai turun menyapu bumi, membasahi jalanan aspal yang kian licin. Nabila menancap gas tanpa mengindahkan keselamatan dirinya sendiri. Air mata mengalir deras membasahi pipinya, bercampur dengan titik-titik air hujan yang menusuk kulit wajahnya. Pandangannya kabur, tertutup oleh linangan air mata dan kaca helm yang mengembun.

Di sebuah persimpangan jalan yang sudah lumayan jauh dari kompleks pesantren, laluan kendaraan begitu padat. Nabila memacu motornya mendahului beberapa kendaraan di depannya dengan tergesa-gesa. Ia harus sampai di rumah sakit secepat mungkin. Ia harus melihat ibunya. Ia harus memeluk ayahnya.

Namun, di tengah kepanikan yang membakar jiwanya, sebuah klakson nyaring berbunyi panjang dari arah berlawanan.

HOONNKKK!

Dari balik tikungan tajam, sebuah truk bermuatan berat tampak oleng dan hilang kendali akibat rem blong di jalanan licin. Lampu sorot truk itu menyilaukan mata Nabila secara mendadak.

Nabila membelalakkan mata. Ia berusaha membanting stang motornya ke arah kiri secara spontan, namun jaraknya sudah terlalu dekat. Ban motornya terselip di aspal yang basah.

GBRRAASSHH!

Suara benturan logam bertabrakan melengking keras memecah heningnya sore yang diguyur hujan. Tubuh Nabila terlempar keras dari atas sepeda motor, melayang beberapa meter di udara sebelum akhirnya dihantamkan secara kasar ke trotoar jalan. Helmnya terlepas dan hancur berkeping-keping.

Rasa sakit yang teramat sangat menjalar di sekujur tubuhnya, terutama di bagian belakang kepalanya yang terbentur keras. Pandangan Nabila yang samar-samar menatap langit kelabu perlahan-lahan mulai meredup. Suara jeritan orang-orang di sekitarnya yang berlarian mendekat terdengar makin menjauh, melambat, hingga akhirnya sunyi sama sekali.

Cahaya di mata Nabila perlahan padam, menyisakan kegelapan pekat yang menelan dirinya dalam ketidak sadaran.

KEGELAPAN ABADI.

Bau antiseptik yang menyengat menusuk indra penciuman Nabila, menyambut kesadarannya yang merayap perlahan dari dasar ketidak berdayaan. Ada rasa pening yang luar biasa hebat memukul bagian belakang kepalanya, seolah tengkoraknya baru saja dihantam bongkahan batu besar. Seluruh persendiannya terasa ngilu, seperti dilindas beban yang amat berat.

Nabila mencoba menggerakkan jemarinya. Dingin. Kain sprei kasar dan aroma khas ruang perawatan langsung memberi tahu di mana ia berada saat ini.

"B... Bunda..." bisik Nabila lirih. Tenggorokannya terasa sangat kering dan tercekik, bagaikan padang pasir yang tak tersentuh air bertahun-tahun. "Ayah..."

Ia mencoba membuka matanya.

Nabila mengedipkan matanya berkali-kali. Satu kali, dua kali, tiga kali. Namun, tidak ada apa-apa. Tidak ada langit-langit kamar hospital yang putih, tidak ada pendar lampu neon, tidak ada bayangan apa pun. Hanya ada kegelapan yang pekat, tebal, dan gulita.

Rasa panik mulai merayapi dadanya. Tangannya yang gemetar bergerak naik, meraba wajahnya sendiri. Ada balutan kain kasa tebal dan perban yang melilit rapi di sekeliling kepala hingga menutupi kedua matanya.

"Kenapa... kenapa gelap sekali?" gumamnya, suara bergetar ketakutan. "Mas Ardhana? Siapa pun... tolong nyalakan lampunya! Kenapa lampunya dimatikan?"

Langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat ke samping tempat tidurnya. Suara gesekan tirai pembatas disusul oleh helaan napas yang berat dan tertahan.

"Nabila? Kamu sudah sadar, Nak?" Suara seorang pria paruh baya terdengar. Itu suara Dokter Lukman, dokter senior yang juga kenalan baik keluarga mereka.

"Dokter? Dokter Lukman!" Nabila berusaha menegakkan tubuhnya, namun rasa pening membenturnya kembali ke bantal. Tangannya mengudara di hampa, mencari pegangan dengan panik. "Dokter, kenapa mataku diikat? Kenapa gelap sekali? Tolong buka perbannya, Dok. Nabila harus lihat Bunda sama Ayah! Mereka di mana, Dok?!"

Dokter Lukman memegang lembut tangan Nabila yang bergetar hebat, mencoba menyalurkan ketenangan yang tak sedikit pun mampu meredakan badai di dada gadis itu.

"Nabila, dengarkan Saya pelan-pelan, ya..." Suara Dokter Lukman terdengar sangat berat, sarat akan rasa iba yang mendalam. "Benturan saat kecelakaan itu sangat keras. Terjadi abruptio pada saraf optikmu dan kerusakan permanen pada struktur bola mata akibat serpihan kaca helm."

Nabila membeku. Gerakan tangannya terhenti di udara. "M-maksud Dokter apa? Nabila tidak paham..."

"Kami sudah melakukan operasi terbaik yang kami bisa, Nabila. Tapi... benturan itu merusak saraf penglihatanmu secara total," desah Dokter Lukman dengan nada penuh rasa bersalah. "Kamu... tidak akan bisa melihat lagi. Penglihatanmu hilang permanen, Nabila."

JLEBB.

Kata-kata itu menghujam jantung Nabila tanpa ampun. Dunia di sekelilingnya seketika hening. Detak jarum jam dinding seolah mati. Hampa. Sangat hampa.

"T-tidak... tidak mungkin..." Nabila menggelengkan kepalanya keras-keras, mengabaikan rasa sakit yang menusuk di dadanya. "Dokter bohong, kan?! Nabila baru saja wisuda! Nabila baru saja menghafal tiga puluh juz Al-Qur'an! Bagaimana bisa Nabila tidak bisa melihat lagi?! Bagaimana Nabila membaca ayat-ayat Allah kalau Nabila buta?!"

Air mata menembus lapisan perban tebal di matanya, membasahi kain kasa yang membebat wajahnya hingga terasa hangat dan perih. "Buka perbannya, Dok! Buka! Nabila mau lihat!"

"Nabila, tenang, Nak! Jangan diusap matanya!"

Nabila hysteris. Ia meraba-raba kepalanya sendiri, jemarinya yang lemah berusaha mencengkeram dan menarik ujung perban itu dengan paksa. Ia tidak peduli rasa sakit yang menjalar, ia hanya ingin membuktikan bahwa dunia ini tidak benar-benar gelap. Ia hanya ingin melihat bayangan tangannya sendiri.

Tepat saat suasana ruang perawatan makin kacau oleh Isak tangis dan teriakan frustrasi Nabila, pintu kamar rawat terbuka lebar. Langkah kaki yang terhuyung-huyung mendekati pembaringan.

"Nabila..."

Suara itu. Suara Ardhana, kakak kandungnya. Suara yang biasanya selalu terdengar tenang dan jahil, kini terdengar pecah, parau, dan hancur berkeping-keping.

"Mas Ardhana!" Nabila langsung mengarahkan wajahnya ke sumber suara, meraba-raba udara dengan tangannya yang bersimbah air mata. "Mas! Dokter Lukman bohong, kan? Katakan pada Nabila kalau ini cuma mimpi buruk! Mas, mata Nabila kenapa tidak bisa melihat apa-apa?!"

Ardhana tidak menjawab dengan kata-kata. Pria muda itu langsung merangkul tubuh adiknya, memeluk Nabila dengan sangat erat hingga dadanya naik turun menahan guncangan tangis yang teramat hebat. Air mata Ardhana menetes basah di bahu gamis Nabila.

"Mas... jawab Nabila, Mas..." Isak Nabila makin menjadi, jemarinya meremas kuat baju belakang kakaknya. "Bunda sama Ayah di mana? Kenapa mereka tidak ke sini melihat Nabila? Mereka di kamar sebelah, kan? Bawa Nabila ke sana, Mas... Nabila mau cium tangan Bunda..."

Pelukan Ardhana makin mengencang, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, adiknya akan hancur terurai menjadi debu.

"Ayah... Bunda... sudah tidak ada, Nabila..." bisik Ardhana, suaranya nyaris tenggelam oleh tangisnya sendiri yang pecah.

Tubuh Nabila mendadak kaku. Seluruh darah di tubuhnya seakan berhenti mengalir.

"A-apa...?"

"Mobil Ayah menghantam pohon besar di dekat jalan lintas..." Ardhana menekan kepalanya ke leher Nabila, terisak tanpa sanggup ditahan lagi. "Bapak meninggal kemarin, setelah dokter berusaha menyelamatkannya tapi Ayah, tidak bisa terselamatkan juga, Nabila... Dan Bunda... Bunda menghembuskan napas terakhirnya di ruang ICU beberapa jam setelah kepergian Ayah... Mereka berdua sudah meninggalkan kita..."

BOOOMM!

Langit seolah runtuh tepat di atas kepala Nabila. Takdir melempar dirinya ke dalam jurang kehancuran yang tak bertepi. Dalam satu sore yang kelam, ia kehilangan mahkota kehidupannya. Ia kehilangan penglihatannya, ia kehilangan senyum ayahnya, dan ia kehilangan kehangatan pelukan ibunya.

Semuanya hilang. Musnah tanpa sisa.

"TIDAAAKKKKK! BUNDAAA! AYAAHHH!"

Jeritan histeris melengking dari tenggorokan Nabila, memecah kesunyian rumah sakit. Suaranya penuh dengan rasa sakit yang begitu dahsyat, rasa sakit dari seorang anak yang dunianya dihancurkan secara mendadak.

"Bohong! Semuanya bohong! Kenapa tidak Nabila saja yang mati?! Kenapa Nabila disuruh tinggal di dunia yang gelap ini sendirian?! AYAAAAH! BUNDAAA! Bawa Nabila ikut kalian!"

Nabila memberontak dalam pelukan Ardhana. Ia memukul-mukul dadanya sendiri, mencengkeram sprei rumah sakit, dan menangis sejadi-jadinya hingga napasnya tersengal-sengal. Tangannya kembali naik, memukul kepalanya sendiri, merutuki takdir kejam yang kini mencengkeram hidupnya.

Ardhana hanya bisa terus memeluk adiknya erat-erat, menangis bersama dalam duka yang tak tertanggungkan. Di ruangan yang serba gelap bagi Nabila itu, tidak ada lagi cahaya kebahagiaan. Hanya ada dua saudara yang saling memeluk dalam kehancuran, meratapi takdir yang baru saja merenggut seluruh kebahagiaan keluarga mereka.

SATU BULAN DALAM SUNYI.

Satu bulan telah berlalu sejak tragedi berdarah itu merenggut segalanya, namun bagi Nabila, waktu seolah mati di sore yang basah itu. Dunia yang dahulu penuh warna dan lantunan ayat suci kini menjelma menjadi cangkang hampa berwujud kegelapan abadi. Ia mengurung diri di dalam kamar, meringkuk di sudut kasur dengan mata membisu yang tak lagi mampu menatap indahnya dunia.

Al-Qur’an berbingkai emas peninggalan ibunya tergeletak tak tersentuh di atas meja nakas. Jemari Nabila yang dahulu dengan lincah membuka lembar demi lembar mushaf kini terlalu gemetar bahkan hanya untuk menyentuhnya. Buat apa? Untuk apa ia mengaji jika Allah merenggut penglihatannya dan membiarkannya membusuk dalam kegelapan ini?

"Nabila... makan sedikit ya, Dek? Mas buatkan sup kesukaanmu," suara Ardhana memecah hening yang menyiksa. Langkah kakinya terdengar mendekat, perlahan dan begitu berhati-hati.

Nabila tak bergeming. Wajahnya yang kian tirus berpaling ke dinding kamar. "Bawa keluar, Mas. Nabila tidak lapar."

Helaan napas berat terdengar dari Ardhana. Pria itu duduk di tepi ranjang, meletakkan nampan berisi mangkuk sup yang masih berasap di meja. Tanpa mengeluh, Ardhana menarik sendok dan mengarahkannya ke bibir sang adik.

"Satu suap saja, Dek. Kasihan tubuhmu. Sudah dua hari kamu cuma minum air putih," bujuk Ardhana dengan nada bicara yang teramat lembut. Tidak ada sedikit pun nada kesal atau lelah dalam suaranya.

Selama satu bulan penuh, Ardhana lah yang menjadi pilar tunggal di rumah itu. Dengan kesabaran yang luar biasa, ia merawat Nabila, membersihkan kamarnya, bahkan mengurus pakaian adiknya tanpa sepatah kata pun keluhan. Namun, di balik ketenangannya yang luar biasa, ada sesuatu yang ganjil. Ardhana selalu menatap Nabila, atau setidaknya, menghabiskan setiap detiknya untuk menatap sang adik dengan binar mata yang sarat akan kerinduan yang teramat sangat. Seolah-olah, ia tahu bahwa detik-detik kebersamaan mereka di rumah itu sudah berhitung mundur. Seolah-olah, Nabila akan segera pergi jauh meninggalkannya.

Nabila memiringkan kepalanya, menepis pelan tangan Ardhana hingga sendok itu berdenting menabrak mangkuk. "Kenapa Mas Ardhana masih repot-repot merawatku?! Aku ini cuma beban! Harusnya aku ikut mati bersama Ayah dan Bunda sore itu!" jerit Nabila dengan suara serak, air mata hangat kembali menetes membasahi pipinya yang pucat.

"Nabila, jangan bicara seperti itu..." Ardhana merengkuh pundak adiknya yang bergetar hebat. Pelukannya begitu erat, bahkan terlalu erat, seolah ia takut Nabila akan melenyap dari jangkauannya saat itu juga. "Kamu satu-satunya harta yang ditinggalkan Ayah dan Bunda untuk Mas. Selama Mas masih bernapas, Mas tidak akan pernah merasa kamu ini beban."

"Tapi aku buta, Mas! Aku tidak berguna! Aku tidak bisa melihat wajahmu lagi, aku tidak bisa membantu apa-apa!" amuk Nabila dalam pelukan kakaknya.

Ardhana tak membalas amarah itu. Ia justru makin menekan kepala Nabila ke dadanya, menyembunyikan matanya sendiri yang berkaca-kaca. Ardhana memejamkan mata rapat-rapat, menahan gejolak rasa bersalah dan rahasia besar yang menghimpit dadanya. Nabila tidak tahu bahwa selama satu bulan ini, Ardhana berjuang sendirian di luar sana. Pria itu mengurus proses hukum kecelakaan orang tua mereka yang terkesan ditutup-tutupi, sekaligus menghadapi teror dari beberapa pihak luar mengenai masalah keuangan dan warisan peninggalan almarhum ayahnya yang mendadak kacau secara misterius.

Ada badai besar yang sedang mengintai rumah mereka, dan Ardhana tahu betul bahwa dirinya tidak akan bisa menyembunyikan Nabila di balik ketiaknya selamanya. Takdir yang dirancang almarhum ayahnya sebelum menghembuskan napas terakhir sudah mulai berjalan.

"Mas cuma mau menghabiskan sebanyak mungkin waktu denganmu, Nabila," bisik Ardhana lirih, hampir tak terdengar. Suaranya bergetar menahan tangis. "Jadi tolong... jangan benci hidupmu. Izinkan Mas merawatmu selagi Mas masih bisa berada di sisimu."

Nabila tertegun dalam kegelapan. Ada nada kepasrahan yang teramat dalam dari ucapan kakaknya, sebuah nada yang membuat dadanya kian sesak oleh rasa bersalah. Kenapa Ardhana bicara seolah-olah mereka akan berpisah dalam waktu dekat?

"Mas Ardhana..."

"Mas ke dapur dulu, mau memanaskan supnya lagi," potong Ardhana cepat, bangkit dari kasur sebelum Nabila sempat bertanya lebih jauh. Langkah kakinya terburu-buru meninggalkan kamar, mengunci rasa serba penasaran dalam dada adiknya.

Sepeninggal Ardhana, Nabila terduduk membisu. Rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya. Kakaknya sudah berkorban begitu banyak, merawatnya tanpa henti, sementara ia hanya bisa meratapi nasib dan menyusahkan Ardhana.

Nabila memantapkan hati. Ia tidak boleh terus-menerus menjadi benalu. Ia harus belajar berdiri di atas kakinya sendiri, meski dalam kegelapan.

Secara perlahan, Nabila menurunkan kakinya dari tempat tidur. Membelakangi ketakutannya, ia meraba-raba udara, mencoba mengandalkan memorinya tentang tata letak kamar yang pernah ia huni bertahun-tahun. Ujung jemarinya menyentuh dinding, lalu merayap menuju gagang pintu kamar.

"Aku pasti bisa... aku tidak boleh merepotkan Mas Ardhana lagi," bisiknya menguatkan diri sendiri.

Nabila berhasil membuka pintu kamar. Dengan langkah terpincang-pincang dan tangan terlentang membelah hampa, ia menyusuri lorong rumah. Namun, dunia tanpa cahaya ternyata jauh lebih kejam dari perkiraannya. Hilangnya pijakan visual membuat keseimbangannya kacau balau.

BARRAGGHHH!

Kaki Nabila tersandung ujung meja konsol di lorong. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur dengan keras ke lantai ubin yang dingin. Vas bunga porselen di atas meja ikut tersenggol dan jatuh pecah berkeping-keping tepat di sampingnya.

"Aww!" Nabila merintih kesakitan.

Serpihan tajam porselen menancap di telapak tangan kanannya. Darah segar berwarna merah pekat merembes keluar, mengaliri lantai marble yang dingin. Rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan rasa hina yang membakar jiwanya. Nabila tergeletak di lantai, menangis terisak-isak meratapi ketidak berdayaannya bahkan hanya untuk berjalan di rumahnya sendiri.

"Nabila?!" Suara langkah Ardhana berlari panik dari arah dapur.

Namun, sebelum Ardhana sempat mendekati adiknya, sebuah suara menghentikan pergerakan semua orang di rumah itu.

KTOCK... KTOCK... KTOCK...

Ketukan di pintu depan rumah berbunyi. Bukan ketukan tergesa-gesa atau bernada ancaman, melainkan tiga kali ketukan yang terdengar sangat tegas, tenang, dan berwibawa.

Ardhana membeku di tempatnya. Matanya membelalak menatap pintu kayu di depannya, seolah ia sudah menanti momen ini dengan rasa takut sekaligus kepasrahan yang mendalam.

Nabila yang masih terduduk di lantai dengan tangan bersimbah darah menghentikan tangisnya. Di balik kegelapan matanya, jantungnya mendadak berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Ada aura asing yang begitu kuat berhembus masuk bersamaan dengan ketukan pintu tersebut.

Siapa yang datang ke rumah mereka di saat duka masih menyelimuti? Dan mengapa Ardhana justru menahan napasnya, seolah sosok di balik pintu itu adalah jawaban atas takdir yang selama ini disembunyikannya?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!