Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, seolah ikut menangisi nasib Rizky Pratama.
Rizky berdiri mematung di depan pintu kaca sebuah minimarket 24 jam dengan seragam yang basah kuyup.
Di tangannya, nampak selembar kertas surat pemecatan yang sudah lecek terkena air.
"Maaf, Rizky, tapi kerjamu terlalu lambat dan sering salah hitung kembalian."
Kata-kata manajernya tadi sore masih terngiang jelas di telinganya.
Ini adalah pekerjaan kelima yang memecatnya dalam tahun ini saja.
Rizky menghela napas panjang, tatapannya kosong menembus tirai hujan.
"Kenapa hidupku sial terus, ya?" gumamnya pelan, nyaris tak terdengar di antara suara guntur.
Perutnya berbunyi nyaring, mengingatkan kalau dia belum makan sejak pagi demi menghemat uang.
Uang di dompetnya sekarang hanya tersisa dua puluh ribu rupiah, sisa gaji terakhir yang dipotong berbagai denda kelalaian.
Dengan gontai, Rizky mulai berjalan menembus hujan, tidak peduli lagi tubuhnya akan sakit besok.
Rumah kontrakannya yang sempit masih jauh, tapi dia tidak punya uang untuk naik angkot.
Sambil berjalan, pikirannya melayang ke ibunya di kampung yang sedang sakit-sakitan.
Rizky ingin sekali mengirimkan uang untuk berobat, tapi jangankan untuk ibu, untuk makannya sendiri saja susah.
"Aku benar-benar anak tidak berguna," rutuknya pada diri sendiri.
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sebuah toko pegadaian yang sudah tutup, namun lampunya masih menyala sedikit.
Di lehernya, melingkar sebuah kalung perak murahan dengan liontin batu hitam berbentuk tetesan air.
Itu adalah satu-satunya peninggalan ayahnya sebelum meninggal dunia.
Rizky memegang liontin itu dengan ragu.
"Mungkin ini bisa laku lima puluh ribu untuk makan beberapa hari ke depan," pikirnya putus asa.
Tapi dia segera menggelengkan kepala keras-keras.
"Tidak, ini satu-satunya kenangan dari Ayah, aku tidak boleh menjualnya."
Rizky mempercepat langkah kakinya, mencoba membuang pikiran buruk itu jauh-jauh.
Dia berjalan menunduk, menghindari tatapan orang-orang yang berteduh di halte.
Tanpa sadar, Rizky sudah sampai di perempatan jalan besar yang cukup ramai meski sedang hujan.
Lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau untuk pejalan kaki.
Rizky melangkah maju menyeberangi zebra cross dengan pikiran yang masih melayang entah ke mana.
Tiba-tiba, dari arah kanan, terdengar suara raungan mesin mobil yang sangat kencang.
VROOM! VROOM!
Sebuah mobil sport mewah berwarna merah melaju brutal, menerobos lampu merah dengan kecepatan tinggi.
Rizky tersentak dari lamunannya dan menoleh ke sumber suara.
Cahaya lampu mobil yang menyilaukan mata langsung menghantam pandangannya.
"Eh?"
Hanya itu yang sempat terucap dari mulut Rizky.
Tubuhnya kaku, tidak sempat untuk menghindar sedikit pun.
BRAAAKKK!
Suara benturan keras terdengar sangat mengerikan.
Tubuh kurus Rizky terpental tinggi ke udara seperti boneka kain yang rusak.
Dia melayang beberapa meter sebelum akhirnya jatuh menghantam aspal jalanan dengan keras.
DUG!
Dunia seakan berhenti berputar bagi Rizky.
Rasa sakit yang tak terbayangkan langsung menjalar ke seluruh noda di tubuhnya.
Dia bisa merasakan tulang-tulangnya patah, dan kepalanya bocor mengeluarkan banyak darah.
Darah segar berwarna merah pekat langsung mengalir, bercampur dengan air hujan di atas aspal dingin.
Mobil sport yang menabraknya sempat berhenti sebentar, nampak kaca jendelanya turun sedikit.
Dari dalam, terlihat seorang pemuda sebaya Rizky dengan wajah panik dan berbau alkohol.
Namun, alih-alih keluar untuk menolong, pemuda itu justru menginjak gasnya dalam-dalam.
CIITTT! VROOOM!
Mobil itu kabur melarikan diri, meninggalkan Rizky yang sekarat di tengah jalan.
Orang-orang di sekitar yang melihat kejadian itu berteriak histeris.
"Tabrak lari! Tolong! Ada tabrak lari!"
Beberapa orang berlarian mendekati tubuh Rizky yang terkapar kaku.
Pandangan Rizky mulai kabur, semuanya terlihat berbayang dan perlahan menjadi gelap.
Suara teriakan orang-orang terdengar menjauh, berganti dengan berdenging panjang di telinganya.
"Apakah... aku akan mati di sini?" batin Rizky dalam hati, air matanya menetes bercampur darah.
Dia merasa sangat dingin, rasa sakitnya perlahan hilang berganti rasa baal yang menjalar.
Di tengah kesadarannya yang semakin menipis, Rizky merasakan sesuatu yang hangat di dadanya.
Liontin batu hitam peninggalan ayahnya ternyata pecah akibat benturan keras tadi.
Namun, di balik pecahan batu hitam itu, muncul sebuah cahaya hijau zamrud yang sangat terang.
Cahaya itu tidak terlihat oleh orang lain, hanya Rizky yang bisa merasakannya.
Sesuatu yang hangat dan kental mengalir keluar dari pecahan liontin itu, langsung meresap masuk ke dalam pori-pori kulit dada Rizky.
Rizky merasa jantungnya berdenyut sangat kencang, TUNG! TUNG!
Rasa hangat itu menyebar dengan cepat ke seluruh tubuhnya, mengejar setiap luka dan patah tulang.
"Apa ini?" Rizky bertanya dalam hati dengan sisa-sisa kesadarannya.
Dia merasa seolah-olah ada ribuan semut hangat yang sedang memperbaiki tubuhnya dari dalam.
Rasa sakit yang tadi sempat hilang kini muncul kembali, tapi kali ini rasanya seperti tulang-tulangnya sedang disambung paksa.
"Aaakh..." Rizky mengerang pelan, tubuhnya sedikit kejang.
Orang-orang yang mengerumuninya semakin panik melihat kondisi Rizky.
"Jangan digerakkan! Tunggu ambulans datang!" teriak salah seorang warga.
Namun, di dalam tubuh Rizky, sebuah keajaiban sedang terjadi.
Cahaya hijau itu perlahan meredup setelah semuanya meresap sempurna ke dalam tubuhnya.
Di dada Rizky, tepat di mana liontin itu sebelumnya berada, kini terbentuk sebuah tato kecil berbentuk daun berwarna hijau zamrud yang samar.
Rizky menghela napas terakhirnya yang berat, lalu pandangannya benar-benar menjadi gelap gulita.
Dia pun pingsan tak sadarkan diri, di tengah guyuran hujan dan kerumunan orang yang panik.
BEEP BEEP BEEP.
Suara mesin monitor jantung terdengar berirama dan konstan memecah kesunyian ruangan.
Rizky perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat bagai ditimpa batu.
Cahaya lampu neon putih di langit-langit langsung menusuk pandangannya.
Hal itu membuatnya secara refleks menyipitkan mata untuk beradaptasi.
"Di mana aku sekarang?" gumam Rizky dengan suara serak dan parau.
Tenggorokannya terasa sangat kering seperti padang pasir yang dilanda kemarau panjang.
Rizky mencoba menggerakkan jari-jari tangannya secara perlahan.
Dia terkejut karena sama sekali tidak merasakan rasa sakit yang diantisipasinya.
"Bukannya semalam aku ditabrak mobil sport itu?" batin Rizky kebingungan.
Dia ingat betul tubuhnya terpental tinggi dan menghantam aspal jalanan dengan sangat keras.
Seharusnya saat ini seluruh tulang di tubuhnya hancur berantakan.
CKLEK.
Suara gagang pintu diputar terdengar jelas dari arah pintu masuk.
Seorang perawat wanita berseragam putih masuk sambil membawa nampan berisi obat-obatan.
Perawat itu melangkah masuk tanpa menatap ke arah ranjang tempat Rizky berada.
"Waktunya ganti infus ya, Pak," kata perawat itu sambil sibuk melihat catatan medis di tangannya.
Rizky langsung mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk bersila di atas ranjang.
"Suster, ini rumah sakit mana ya?" tanya Rizky dengan nada suara santai.
Perawat itu spontan mengangkat kepalanya dan matanya langsung membelalak lebar.
"Astaga Tuhan!" teriak perawat itu dengan nada histeris.
PRANG.
Nampan besi beserta botol obat di tangannya jatuh berserakan ke lantai saking terkejutnya.
"Dokter Herman! Dokter Herman cepat ke sini!" teriak perawat itu sambil berlari ketakutan keluar ruangan.
Rizky hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat tingkah heboh perawat barusan.
"Memangnya ada yang aneh kalau pasien bangun dari tidurnya?" keluh Rizky pada dirinya sendiri.
Dia menyingkap selimut rumah sakit tebal yang menutupi separuh badannya.
Rizky menunduk dan melihat tubuhnya kini mengenakan pakaian pasien berwarna biru muda.
Anehnya tidak ada satu pun perban, gips, atau jahitan yang menempel di tubuhnya.
Hanya ada beberapa kabel sensor pendeteksi detak jantung yang tertempel di dadanya.
"Ini sangat tidak masuk akal," ucap Rizky sambil mencabut kabel-kabel itu dengan mudah.
Dia lalu menurunkan kakinya dari tepi ranjang dan memijak lantai keramik yang dingin.
Rizky berdiri tegak lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Tubuhku malah terasa jauh lebih bugar dari sebelumnya," gumamnya takjub.
Bahkan rasa pegal kronis di punggung bawahnya akibat bekerja kasar bertahun-tahun kini hilang total.
TAP TAP TAP.
Terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari lorong luar yang mendekati ruangannya.
Seorang pria paruh baya memakai kacamata dan jas putih dokter masuk bersama perawat tadi.
Pria itu adalah Dokter Herman yang menangani Rizky di ruang gawat darurat semalam.
Dokter Herman menatap Rizky dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan rahang setengah terbuka.
"Ini... ini sungguh mustahil dan di luar nalar medis manusia," ucap Dokter Herman terbata-bata.
Rizky memiringkan kepalanya menatap bingung ke arah rombongan dokter tersebut.
"Maaf Dok, tapi apa saya ini sebenarnya punya penyakit parah yang menular?" tanya Rizky jujur.
Dokter Herman maju beberapa langkah dan langsung memegang kedua bahu Rizky dengan erat.
"Anak muda, tahukah kamu bagaimana kondisi hancurmu saat dibawa ambulans semalam?" tanya sang dokter dengan nada bergetar.
Rizky menggelengkan kepalanya pelan karena dia memang langsung kehilangan kesadaran sesaat setelah kecelakaan.
"Tulang rusuk kananmu patah lima bagian, tengkorak retak, dan terjadi pendarahan organ dalam yang masif," jelas Dokter Herman serius.
"Kami para tim medis bahkan sudah berdiskusi untuk mencatat waktu kematianmu."
Rizky menelan ludahnya dengan susah payah mendengar betapa mengerikannya kondisi tubuhnya semalam.
"Tapi Dok, buktinya saya merasa sehat bugar seperti siap ikut lari maraton hari ini," balas Rizky sambil tersenyum canggung.
Dokter Herman langsung mengeluarkan stetoskop dari saku jasnya tanpa membuang waktu.
Dia menempelkan ujung stetoskop itu ke dada lalu berpindah ke punggung Rizky bergantian.
"Coba tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan," perintah Dokter Herman menginstruksikan.
Rizky menuruti instruksi medis itu tanpa kendala sedikit pun.
Setengah jam berikutnya dihabiskan dengan berbagai tes fisik dan cek refleks saraf yang dipandu oleh dokter.
"Detak jantung stabil, tekanan darah sempurna, dan respon motorik seratus persen prima," gumam Dokter Herman sambil mencatat di papan jalannya.
"Sepertinya alat CT Scan dan rontgen rumah sakit kita benar-benar rusak parah semalam, Suster."
Perawat di sebelahnya hanya bisa mengangguk pasrah karena tidak tahu harus memberikan tanggapan apa.
Rizky hanya diam duduk mendengarkan percakapan mereka dari atas pinggiran ranjang.
Tiba-tiba Rizky merasakan ada sesuatu yang sangat berbeda bergejolak di dalam kepalanya.
Pikirannya mendadak terasa sangat jernih dan tajam, sejernih air mata air pegunungan yang belum tersentuh.
Matanya tanpa sengaja menatap fokus pada papan nama kecil yang tersemat di jas dokter tersebut.
"Dr. Herman Susanto, Spesialis Bedah Umum, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1998," ucap Rizky memecah keheningan.
Dokter Herman langsung menoleh ke arah Rizky dengan dahi berkerut tajam.
"Bagaimana kamu bisa tahu dari universitas mana saya lulus?" tanya Dokter Herman sangat keheranan.
"Tulisan di papan namaku ini sangat kecil dan hanya mencantumkan nama beserta gelar, bukan detail tahun kelulusan."
Rizky sendiri juga melotot terkejut dengan apa yang baru saja meluncur mulus dari mulutnya.
"Tunggu, saya juga tidak tahu pasti dari mana saya tiba-tiba mengetahui informasi itu," jawab Rizky kebingungan sendiri.
Matanya lalu beralih menyapu ruangan dan menatap tumpukan berkas rekam medis di meja perawat di sudut seberang.
Jarak meja itu membentang sekitar enam meter dari tempatnya duduk santai sekarang.
Ajaibnya Rizky bisa membaca tulisan tangan dokter yang terkenal super acak-acakan itu dengan sangat jelas tanpa rabun sedikit pun.
"Pasien kamar 304 atas nama Bapak Budi, memiliki diagnosis gagal ginjal kronis stadium empat," baca Rizky dengan artikulasi lantang.
"Tindakan medis darurat yang diperlukan adalah cuci darah atau hemodialisis minimal dua kali dalam seminggu."
Dokter Herman dan perawat itu saling bertatapan kaku dengan wajah pucat pasi seperti melihat hantu.
"Kamu benar-benar bisa membaca isi rekam medis rahasia itu dari jarak sejauh ini?" tanya perawat itu dengan bibir gemetar.
"Bukan cuma sekadar bisa membaca Suster, rasanya saya juga langsung mengerti semua istilah medis yang rumit itu," jawab Rizky sambil memijat pelipisnya.
Ingatan masa lalu di dalam otaknya juga mendadak bermunculan dengan sangat tajam dan mendetail bak film beresolusi tinggi.
Rizky bisa mengingat setiap baris kalimat di buku biologi SMP tebal yang pernah dia pinjam dari perpustakaan sepuluh tahun lalu.
Dia bahkan kini mengingat dengan sempurna detail plat nomor mobil merah yang menabraknya tanpa ampun semalam.
"Mobil sport warna merah keluaran terbaru dengan plat B 1234 XYZ," batin Rizky penuh dendam yang tertahan.
"Kapasitas otakku rasanya seperti baru saja mendapatkan pembaruan sistem ke tingkat maksimal," pikirnya menganalisa keadaannya.
Dokter Herman berdehem pelan untuk memecah kecanggungan aneh yang merayap di ruangan inap itu.
"Baiklah Rizky, secara fisik kamu sudah dinyatakan sehat total dan sama sekali tidak butuh rawat inap lanjutan," kata dokter itu memutuskan.
"Tapi karena pihak kepolisian belum datang untuk memintai keterangan kecelakaanmu, kamu sebaiknya istirahat saja di sini sampai siang."
"Terima kasih banyak atas pengertian dan bantuannya, Dokter," jawab Rizky sambil menganggukkan kepalanya sopan.
Dokter Herman dan perawat itu pun segera berjalan keluar ruangan sambil terus berbisik-bisik memperdebatkan keajaiban medis ini.
Kini Rizky ditinggalkan sendirian di dalam kamar inap rumah sakit kelas menengah yang mulai terasa sunyi tersebut.
Dia perlahan turun dari ranjang dan memaksakan kakinya berjalan ke arah cermin wastafel di sudut kamar.
Bayangan yang terpantul di depan cermin itu masih menunjukkan wujud yang sama, seorang pemuda miskin berusia dua puluhan.
Namun sorot matanya yang terpantul kini memancarkan aura tajam, cerdas, dan penuh rasa percaya diri yang belum pernah ada.
Rizky mendadak teringat akan satu-satunya peninggalan ayahnya lalu meraba area dadanya dengan raut wajah panik.
"Gawat, di mana jatuhnya liontin batu hitam pemberian Ayah?" ucapnya sambil terus meraba lehernya yang terasa kosong.
Dia membuka tiga kancing teratas baju pasiennya dengan terburu-buru untuk memeriksa area dadanya lebih saksama.
Rizky tersentak kaget saat melihat ada sebuah tanda lahir yang sangat asing tercetak di tengah dadanya.
Tepat di atas area letak jantungnya, terdapat pola tato alami berbentuk sehelai daun kecil yang berwarna hijau zamrud.
"Tanda daun aneh apa ini? Seingatku seumur hidup dadaku selalu bersih tanpa noda apa pun," gumam Rizky sambil mengusap tanda itu.
Begitu ujung jarinya bersentuhan pelan dengan pola daun tersebut, sebuah gelombang energi hangat langsung membanjiri seluruh tubuhnya.
Sensasinya sungguh luar biasa nyaman seperti sedang berendam di kolam air panas saat cuaca bersalju.
"Apakah mungkin liontin batu hitam itu hancur saat tabrakan dan sisa keajaibannya menyatu dengan tubuhku?" tebak Rizky menggunakan logika barunya yang brilian.
Perhatian Rizky tiba-tiba terenggut oleh keberadaan sebuah benda keramik di sudut ruangan dekat kaca jendela.
Terdapat sebuah pot berisi tanaman hias Lidah Mertua yang kondisinya terlihat sangat memprihatinkan dan sekarat.
Sebagian besar daun-daun panjangnya layu, menguning kering kerontang, dan nyaris mati membusuk ke tanah.
Rizky merasa ada sebuah dorongan tak kasat mata di dalam batinnya yang memanggil untuk segera mendekati tanaman itu.
Dia melangkah perlahan seolah terhipnotis dan akhirnya berdiri diam tepat di depan pot keramik tersebut.
Saat Rizky mulai memusatkan pandangannya pada tanaman hias yang sekarat itu, sebuah fenomena gaib terjadi lagi.
TING.
Sebuah suara notifikasi yang sangat jernih dan mekanis berbunyi tepat di dalam rongga kepalanya.
Lalu entah dari mana, sebuah kotak teks transparan bersinar tiba-tiba melayang tepat di atas tanaman Lidah Mertua tersebut.
[Sansevieria Trifasciata. Kondisi: Sekarat kritis. Penyebab: Kekurangan nutrisi air murni dan minim paparan cahaya matahari.]
Rizky sontak melompat mundur selangkah karena kaget setengah mati melihat tulisan hologram yang melayang itu.
"Halusinasi gila macam apa lagi ini? Kenapa tiba-tiba ada tulisan melayang di udara kosong?" gumamnya sama sekali tak percaya.
Dia mengucek kedua kelopak matanya dengan sangat kuat berkali-kali untuk menyadarkan diri.
Namun saat dia membuka mata kembali, teks informasi status tanaman itu tetap diam bertengger di tempat asalnya.
Rasa penasaran yang meletup-letup di hatinya mulai sukses mengalahkan rasa takut dan bingungnya.
Rizky memberanikan diri mengulurkan tangan kanannya perlahan menuju tanaman hias malang yang nyaris mati tersebut.
Dia menempelkan telapak tangannya dengan sangat lembut di atas helaian daun yang paling kuning dan kering.
WUSH.
Sebuah aliran energi hangat yang memancarkan cahaya hijau terang seketika meledak keluar dari telapak tangan Rizky.
Energi misterius yang menenangkan itu mengalir masuk menderas bagai aliran sungai ke dalam batang dan akar tanaman tersebut.
Rizky refleks memejamkan mata dan entah bagaimana bisa merasakan denyut kehidupan yang tadinya redup dari tanaman itu kini meronta menguat.
SREK SREK SREK.
Suara gesekan daun terdengar sangat bising namun jelas di telinga Rizky yang kini memiliki pendengaran sangat peka.
Dia segera membuka matanya dan menahan napas terkesiap melihat pemandangan ajaib yang tersaji tepat di depan wajahnya.
Hanya dalam hitungan belasan detik, daun Lidah Mertua yang tadinya kuning kering kerontang berubah warna menjadi hijau segar berseri-seri.
Batang tanaman yang awalnya lemas terkulai kini perlahan naik dan berdiri kokoh menantang udara ruangan.
Keajaiban itu nyatanya belum mau berhenti di situ saja karena tanah di dalam pot tiba-tiba mulai bergetar pelan.
Tiga buah tunas hijau baru tiba-tiba menyembul paksa memecah kelembapan permukaan tanah hitam tersebut.
Tunas-tunas mungil itu tumbuh merambat membesar dan memanjang dengan tingkat kecepatan yang tidak masuk akal sehat manusia.
Kurang dari satu menit berlalu, tanaman yang nyaris menjadi kompos itu sepenuhnya menjelma menjadi tanaman hias super rimbun dan memukau.
Rizky buru-buru menarik tangannya menjauh dengan ritme napas tersengal-engal lantaran masih sulit percaya.
Dada bidangnya beringsut naik turun dengan sangat cepat saat otak jeniusnya mencoba mencerna kejadian mistis barusan.
"Astaga naga, apakah aku benar-benar baru saja menghidupkan dan mempercepat pertumbuhan tanaman ini?" ucap Rizky dengan suara parau yang bergetar.
Dia membalikkan kedua telapak tangannya berulang kali dan menatapnya dengan pandangan kosong penuh rasa takjub.
Pikirannya yang kini bekerja seratus kali lipat lebih cepat mulai merangkai semua kepingan teka-teki gila hari ini.
Kecelakaan maut semalam pasti membuat darahnya membasahi Liontin Dewi peninggalan ayahnya yang sudah retak.
Liontin ajaib itu kemudian hancur lalu melebur sepenuhnya ke dalam aliran darahnya murni demi menyelamatkan nyawanya dari cengkeraman dewa kematian.
Efek samping mutasi dari penyatuan relik itu adalah otaknya yang berevolusi paksa menjadi super cerdas dengan bonus ingatan fotografis absolut.
Dan yang paling membuat darahnya mendidih antusias, dia baru saja mendapat kekuatan mutlak untuk mengendalikan rantai kehidupan dunia tumbuhan.
"Kalau memang aku bisa melakukan sihir pertumbuhan sekuat ini hanya pada tanaman hias biasa di rumah sakit," gumam Rizky merangkai strategi.
Senyum menyeringai tipis dan penuh ambisi perlahan mulai mengembang di sudut bibirnya yang masih sedikit pucat.
"Maka sudah bisa dipastikan aku juga mampu melakukan mukjizat yang sama pada tanaman herbal dan semua jenis obat-obatan."
Rizky memalingkan wajahnya lalu melangkah maju menatap ke luar jendela kaca besar di sisi kanannya.
Pemandangan ratusan gedung pencakar langit kota metropolitan Jakarta terlihat berdiri angkuh di bawah paparan hangat sinar matahari pagi.
Selama dua puluh dua tahun hidupnya bergulir, kota kejam ini hanya pernah memberinya rantai kemiskinan, cacian menyakitkan, dan rentetan kegagalan pahit.
Dia selalu menjadi pihak yang diinjak-injak oleh orang berkuasa dan berakhir dibuang seperti sampah masyarakat yang tidak berguna.
Tapi tepat mulai detik ini, poros nasib dan putaran takdir hidupnya telah bergeser berbalik seratus delapan puluh derajat.
"Bersiaplah dunia, karena Rizky Pratama sang pecundang lemah itu sudah mati tertabrak semalam di jalanan yang dingin," batin Rizky dengan tekad membara layaknya kobaran api.
Dia menggenggam erat kedua telapak tangannya hingga kuku-kukunya memutih menahan luapan emosi.
"Dengan kekuatan liontin dewi ini, aku akan merangkak dari bawah untuk membangun kerajaanku sendiri dan menjadi penguasa mutlak di industri ini!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!