Indonesia
NovelToon NovelToon

Garis Yang Tak Kupilih

Bab 1

Riuh tepuk tangan dan gema riang di aula sekolah akhirnya menyurut, menyisakan euforia yang membuncah di dada setiap siswa.

Hari yang ditunggu-tunggu itu resmi tiba—hari kelulusan.

Di genggaman tangan Puja, selembar ijazah dan surat keterangan lulus tercetak rapi.

Angka-angka di sana sempurna, memvalidasi seluruh peluh, malam-malam tanpa tidur, dan perjuangan kerasnya selama tiga tahun terakhir.

Dengan langkah ringan dan senyum yang tak sanggup ia sembunyikan, Puja berjalan menuju kantin—tempat berlabuhnya seluruh tawa dan cerita mereka selama ini.

Di salah satu sudut meja panjang, enam sahabatnya sudah berkumpul. Yuana, Sulfi, Norma, Ratna, Dewi, dan Dwi melambaikan tangan heboh saat melihat sosoknya mendekat.

"Akhirnya kita lulus..." Ucap Sulfi mendesah lega, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari menatap langit-langit kantin seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.

Puja menganggukkan kepalanya pelan, ikut mendudukkan diri di tengah lingkaran hangat itu.

Antusiasme yang membakar dadanya tak sanggup lagi ia tahan.

"Aku sudah tidak sabar untuk ke Yogyakarta meneruskan kuliah psikologiku," bisiknya dengan mata berbinar, membayangkan gerbang universitas impian yang kini tinggal selangkah lagi berada di ruang genggamannya.

"Aduh, aduh, iya, iya! Percaya, Bu Dokter Psikologi!" seloroh Dwi dan Yuana hampir bersamaan, disambut tawa riuk dari Ratna dan Dewi yang langsung menggoda Puja dengan sebutan barunya.

Namun di tengah derak tawa yang memenuhi meja, Norma menatap Puja dengan binar cemas yang tak bisa disembunyikan.

Ia memajukan tubuhnya sedikit, memotong keriuhan sejenak.

"Tapi, apakah kamu sudah memberitahukan Abi dan Umi?" tanya Norma pelan, suaranya sarat akan kehati-hatian.

Pertanyaan sederhana itu seketika memangkas senyum di bibir Puja.

Binar bahagia di matanya meredup, berganti bayang-bayang samar yang selalu menghantuinya setiap kali nama kedua orang tuanya disebut.

Puja menggelengkan kepalanya perlahan, membiarkan keheningan tipis menyusup di antara mereka.

"Aku belum memberitahukan kepada mereka," ucap Puja lirih, menunduk menatap jemarinya yang saling bertaut erat di atas meja.

Melihat raut cemas yang tiba-tiba membayang di wajah sahabatnya, kelima gadis itu saling pandang sejenak.

Tanpa aba-aba, mereka merapat dan melingkarkan lengan, memeluk Puja bersamaan.

Pelukan hangat yang menyalurkan seluruh keberanian dan dukungan yang mereka punya.

"Bicarakan baik-baik ya, Ja. Mereka pasti bangga melihat nilaimu," bisik Norma lembut seraya mengusap punggung Puja, diangguki pelan oleh yang lainnya sebelum pelukan itu perlahan terurai.

Puja menganggukkan kepalanya, mencoba mengukir senyum tipis untuk menenangkan para sahabatnya.

Tanpa membuang waktu lagi, ia berpamitan dan melangkah menuju parkiran.

Roda sepeda onthelnya mulai berputar, membelah angin sore yang membawa aroma dedaunan basah.

Puja mengayuh pedalnya dengan irama teratur, melajukan sepeda tua itu menyusuri jalanan kampung menuju rumahnya yang sangat sederhana—sebuah bangunan berdinding papan dengan pekarangan kecil yang kini nampak tenang di bawah pendar mentari yang mulai meredup.

Sesampainya di rumah, Puja melangkah masuk dengan dada yang berdesir hangat oleh harapan.

Ia menemukan Abi tengah duduk di ruang tamu sederhana mereka.

Dengan senyum memudar penuh kehati-hatian namun terselip kebanggaan yang membuncah, Puja menyerahkan lembaran kertas di tangannya.

"Aku mendapatkan nilai sempurna, Abi," ujar Puja lembut, menunjukkan hasil kelulusannya.

Abi menerima kertas itu, menatap angka-angka di sana sejenak tanpa raut wajah yang berarti.

Puja memajukan langkahnya, mengumpulkan keberanian yang telah ia pupuk sepanjang jalan.

"Abi, aku meminta izin untuk kuliah di Yogyakarta. Aku ingin jadi psikolog," ucap Puja penuh harap, matanya berbinar membayangkan cita-cita yang sudah lama ia rangkai.

Namun, jawaban yang keluar dari bibir Abi seketika meruntuhkan seluruh pijakannya.

"Maaf, Nduk. Kamu harus menikah dengan Ustadz Jeffry."

Dunia Puja seolah berhenti berputar. Udara di sekitarnya terasa menyempit mendadak.

"Menikah?" bisik Puja, suaranya bergetar hebat.

"Abi, umurku masih delapan belas tahun. Dan seharusnya aku masih sekolah, bukan menikah. Tolong, Abi... izinkan putrimu ini sekolah."

Puja bersimpuh, mencoba membujuk dan memohon belas kasihan sang ayah.

Namun, wajah Abi tetap mengeras. Tidak ada ruang untuk negosiasi.

Di balik keputusan dingin itu, bayang-bayang Umi Mina memegang peranan penuh.

Ibu tirinya itu terus-menerus meracuni pikiran Abi sejak beberapa minggu terakhir, membujuknya dengan iming-iming imbalan materi dan hadiah berlimpah yang dijanjikan oleh keluarga Kyai Ali.

Bagi Umi Mina, Puja tak lebih dari jalan pintas menuju kemewahan yang selama ini ia idamkan.

Dan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-kata Umi Mina membuat posisi Puja sama sekali tak berdaya.

"Lekas ganti pakaianmu! Mereka sebentar lagi akan sampai ke rumah kita," perintah Abi tanpa membantah, suaranya dingin menembus dada Puja.

"Aku nggak mau, Bi! Aku nggak mau!" jerit Puja, air matanya akhirnya pecah menembus pertahanan dirinya.

Sebelum Puja sempat berlari melarikan diri, Umi Mina melangkah maju dengan kasar.

Jemari wanita itu mencengkeram lengan Puja, menyeretnya masuk ke dalam kamar.

Tanpa rasa iba, Umi Mina memaksa melepaskan pakaian seragam Puja dan menggantinya dengan gaun panjang serta kerudung rapi.

Ia sama sekali tidak memedulikan tangisan dan isakan Puja yang memohon agar dikasihani.

"Hapus air matamu! Jangan bikin malu keluarga di depan Kyai Ali!" bentak Umi Mina seraya merapikan lipatan kain di bahu Puja secara kasar.

"Buat apa sekolah tinggi-tinggi? Pada akhirnya, perempuan itu kodratnya cuma di dapur, kasur, dan melayani suami!"

"Aku bukan Umi!" bentak Puja dengan suara bergetar yang dipenuhi rasa sakit dan kemarahan yang meluap.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Puja mendorong tubuh Umi Mina keluar dari kamarnya.

Langkah ibu tirinya itu terhuyung kaget sebelum Puja membanting pintu kayu kamarnya keras-keras dan memutar kunci dari dalam.

"Puja! Buka pintunya! Jangan bikin malu Abi!" gedor Umi Mina dari luar, namun Puja tak peduli.

Di dalam kamar yang sempit itu, tubuh Puja meluruh menghantam lantai kayu.

Tangisnya pecah tanpa henti. Ia meremas kain gaun yang dipaksakan padanya, menatap bayangan dirinya di cermin tua yang terasa begitu asing.

Semua mimpi yang ia rajut untuk berangkat ke Yogyakarta, nilai sempurna yang baru saja ia perjuangkan dengan peluh dan air mata, mendadak lebur tak bersisa.

Belum sempat napasnya teratur dari sedu sedan, suara deru mesin beberapa mobil terdengar memasuki pekarangan rumah mereka yang sederhana.

Suara derit rem yang berhenti tepat di depan teras seolah menjadi penanda runtuhnya seluruh harapan Puja.

Gedoran pintu dari Umi Mina seketika terhenti, berganti dengan langkah tergesa-gesa menuju pintu depan untuk menyambut tamu agung mereka.

Dari balik pintu kamar yang terkunci, Puja mendengar suara salam berdengung hangat dari luar rumah, disusul suara Abi yang menyambut mereka dengan penuh penghormatan.

Rombongan Kyai Ali telah tiba. Dan di antara derap langkah kaki di luar sana, sosok Ustadz Jeffry kini resmi menapakkan kaki, membawa takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Bab 2

Abi dan Umi dengan raut wajah penuh keseganan segera mempersilahkan rombongan besar itu untuk masuk dan duduk di ruang tamu mereka yang sempit.

Senyum sumringah Umi Mina tak mampu menyembunyikan binar kesetanan akan hadiah materi yang sudah membayang di pelupuk matanya.

"Di mana calon pengantinnya?" tanya Kyai Ali ramah, memecah keheningan seraya menatap sekeliling ruangan mencari keberadaan Puja.

Umi Mina tersenyum canggung lalu menggelengkan kepalanya pelan, memberi kode tajam pada suaminya.

Mengerti maksud sang istri, Abi berdiri dengan langkah terburu-buru menuju pintu kamar Puja.

Ia mengetuk pintu kayu itu beberapa kali. Ketukan kali ini tidak berisikan amarah, melainkan nada permohonan yang berat.

"Nduk, jangan mempermalukan Abi..." bisik Abi dari luar pintu, suaranya sarat akan tekanan.

"Aku nggak mau menikah, Abi..." sahut Puja dari balik pintu, suaranya parau dan habis terkuras oleh tangis.

"Nduk, buka pintunya. Kasihan tamu-tamu di luar," panggil Abi lagi, mencoba mengetuk hati putrinya.

Di dalam kamar, Puja menarik napas panjang. Dengan jemari yang bergetar, Puja menghapus air matanya yang tersisa di pipi.

Ia sadar, mengurung diri hanya akan menunda siksaan ini.

Dengan kepasrahan yang menyakitkan, ia memutar kunci dan membuka pintu.

Abi yang melihat pintunya terbuka segera meraih lengan Puja, mengusap bahunya sejenak sebelum mengajaknya keluar kamar menuju ruang tamu.

Langkah kaki Puja terasa seberat timah. Setiap incinya dipenuhi rasa tidak rela.

Sepanjang jalan menuju ruang tamu, Puja terus menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Ia enggan mendongak, sama sekali tidak mau memandang wajah calon suaminya—pria yang dalam sekejap mata telah menghancurkan seluruh impian, cita-cita, dan masa depan yang sudah ia susun rapi.

Di ruang tamu yang semakin terasa menyesakkan, Kyai Ali mulai membuka suara.

Suaranya tenang namun berwibawa, memecahkan keheningan seraya memperkenalkan siapa sosok Ustadz Jeffry di lingkungan pesantren dan keluarganya—seorang putra mahkota pesantren yang dihormati, santun, dan dikenal akan kedalaman ilmunya.

Usai memaparkan sosok putranya, Kyai Ali menatap Jeffry yang duduk di sampingnya.

Dengan nada tegas penuh harapan, Kyai Ali meminta Jeffry menyegerakan pernikahan ini dengan anak sahabatnya.

Atas dasar bakti dan kepatuhan penuh kepada sang ayah, Jeffry menerima keputusan tersebut meski ia belum pernah mengenal sosok calon istrinya sama sekali.

Bagi Jeffry, ridho sang ayah adalah jalan utamanya.

"Sekarang Jeffry sudah siap, Abah," ucap Jeffry datar namun mantap, menyerahkan bulat-bulat garis takdirnya pada titah orang tua.

"Bagus, bagus..." sahut Kyai Ali dengan anggukan puas dan senyum mengembang.

"Kalau begitu, ayo kita laksanakan akad nikah ini!"

Puja mencengkeram erat tangannya saat mendengar jawaban Jeffry.

Buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah, kekecewaan, dan rasa sesak yang menghimpit dadanya hingga sulit bernapas.

Kepasrahan pria itu terasa seperti vonis mati bagi seluruh impian dan cita-cita yang baru saja ia genggam beberapa jam lalu.

Penghulu merapikan lembaran berkas di hadapannya, lalu memberi isyarat kepada Abi dan Jeffry untuk saling berjabat tangan.

Udara di dalam ruang tamu yang sederhana itu seketika terasa hening membeku.

Semua mata tertuju pada kedua pria yang kini memegang erat telapak tangan satu sama lain.

Abi menarik napas panjang, menahan getar di suaranya sebelum akhirnya mengucapkan kalimat sakral itu:

"Ananda Jeffry bin Ali, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Puja binti Ahmad, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas dibayar tunai."

Tanpa jeda, dengan suara yang tegas, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun, Jeffry menjawab:

"Saya terima nikah dan kawinnya Puja binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Penghulu.

"Sah! Sah!" sahut para saksi dan tamu yang hadir secara serempak.

Suara ketukan dan doa "Alhamdulillah" bergema memenuhi ruangan.

Di sudut meja, Puja semakin menundukkan kepalanya, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes basah jatuh ke pangkuannya.

Di detik itulah, seluruh lembaran mimpinya resmi tertutup, digantikan oleh ikatan pernikahan yang tak pernah ia harapkan.

"Puja, ayo cium tangan suamimu," ucap Abi lembut, mencoba memecah kekakuan yang menggantung di udara.

Puja masih menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Di pelupuk matanya yang kabur oleh sisa air mata, ia melihat sebuah jemari tangan yang bersih dan putih terulur di hadapannya.

Tanpa berani mendongak menatap sosok pemiliknya, Puja menyalami dan mencium punggung tangan itu pasrah.

"Alhamdulillah..." bisik para tamu serentak, mengiringi momen sakral yang menandai peralihan garis hidup Puja.

Jeffry merapikan posisi duduknya, lalu berdehem pelan seraya menatap ayahnya dan Abi secara bergantian.

"Abah, Abi... malam ini Jeffry akan langsung membawa Puja, istri saya, ke rumah pondok."

Mendengar hal itu, Umi Mina yang sejak tadi tak sabar langsung menyela tanpa rasa malu, menagih janji yang menjadi alasan utamanya mendesak pernikahan ini.

"Anu... Kyai, bagaimana dengan janji hadiah yang kemarin sempat dibicarakan?"

Kyai Ali tertawa terkeh-keh, tidak merasa tersinggung sedikit pun.

"Aduh, iya... saya hampir lupa," ujurnya ramah seraya memberi isyarat kepada salah satu rombongannya.

Tak lama kemudian, sebuah amplop tebal berisi uang tunai dan berkas kepemilikan sebidang tanah sawah diserahkan kepada Abi untuk dikelola.

Senyum Umi Mina mengembang lebar memamerkan kepuasannya, sementara Puja hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat—menyadari betapa harga dirinya dan masa depannya baru saja ditukar dengan sebidang tanah dan seikat rupiah.

Setelah selesai acara pernikahan, Puja masuk ke dalam mobil suaminya.

Sementara rombongan lain ada di mobil bersama Kyai Ali.

Suasana di dalam mobil terasa begitu hening, canggung, dan sarat akan tekanan emosional yang menghimpit.

Tidak ada musik, tidak ada sapaan hangat, hanya deru mesin yang samar-samar mengisi rongga udara yang dingin.

Puja masuk ke dalam mobil Jeffry tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ia melipat tangannya di dada, lalu membuang pandangan jauh-jauh ke luar jendela.

Matanya menatap lekat jalanan malam yang perlahan semakin menjauhi rumah, kampung halaman, dan seluruh masa lalu yang baru saja dirampas darinya.

Di dalam dadanya, Puja menyimpan amarah yang membara, kekecewaan yang remuk, dan kebencian mendalam kepada pria di sampingnya.

Bagi Puja, Jeffry bukan sekadar suami yang dijodohkan, melainkan sosok asing yang telah dengan mudah menghancurkan masa depan dan memadamkan mimpinya untuk menjadi seorang psikolog.

Sementara itu, Jeffry tetap fokus mengemudikan mobil dengan tenang.

Kedua tangannya menggenggam kemudi secara stabil, menatap lurus ke arah jalan raya yang gelap.

Wajahnya tetap datar dan dingin, tak memancarkan emosi apa pun atas badai kekecewaan yang tengah membakar perempuan yang kini resmi menjadi istrinya.

Bab 3

Laju roda kendaraan perlahan melambat, berbelok memasuki sebuah gerbang besi tinggi yang menyambut mereka dengan papan nama berukir kaligrafi indah: Pondok Pesantren Al-Hidayah.

Deretan bangunan bernuansa hijau keputihan berdiri kokoh di balik rindangnya pohon-pohon peneduh.

Suasana pesantren malam itu nampak lengang, hanya menyisakan beberapa santri yang berlalu-lalang dengan peci dan sarung, menunduk hormat setiap kali mobil Jeffry melintas menuju kompleks kediaman pengasuh.

Jeffry mematikan mesin mobil tepat di depan sebuah rumah gaya Jawa modern yang asri. Pria itu melepas sabuk pengamannya, lalu menoleh ke samping.

Puja masih bergeming, enggan bergerak sedikit pun dari posisi duduknya dengan mata sembap yang masih menatap kosong ke arah luar jendela.

"Kita sudah sampai," ucap Jeffry datar. Suaranya bariton, tenang, namun menyiratkan ketegasan yang tak membantah.

Puja tak menyahut. Ia tidak mengangguk, tidak pula bergerak menguraikan lipatan tangan di dadanya.

Rasa benci dan kecewa yang mengkristal di dalam dada menyumbat tenggorokannya rapat-rapat.

Melihat respons dingin dari perempuan di sampingnya, Jeffry tidak memaksakan kata-kata. Ia keluar lebih dulu dari mobil, mengitarinya, lalu membukakan pintu untuk Puja.

"Turunlah. Perlengkapanmu sudah dibawakan oleh rombongan Abah di mobil belakang," ujar Jeffry pelan sembari mengulur jarak, memberikan ruang bagi Puja.

Puja menarik napas panjang yang terasa menyengat di paru-parunya.

Dengan sisa tenaga dan gengsi yang menguatkan pijakannya, ia melangkah turun tanpa menyentuh jemari atau memandang sekilas pun wajah suaminya.

Langkah kakinya berat, seolah setiap pijakan membawanya makin jauh dari mimpi-mimpinya di Yogyakarta dan makin dalam masuk ke dalam sangkar emas yang tak pernah ia inginkan.

Mereka memasuki rumah. Bau harum kayu jati dan wewangian terapi merujuk hangat di dalam ruangan.

Namun bagi Puja, semua itu terasa menyesakkan.

"Ini kamarmu," tunjuk Jeffry pada sebuah pintu kayu berukir halus di lantai bawah. "Istirahatlah. Kamu pasti lelah."

Puja langsung menyambar koper kecil berisi barang-barangnya yang baru saja diturunkan dari mobil rombongan, lalu melangkah cepat menuju kamar tersebut.

Tanpa menunggu tanggapan dari pria di hadapannya, ia mendorong pintu, melangkah masuk, dan menyandarkan tubuhnya di balik pintu kayu yang tertutup rapat.

Sepi seketika menyergap. Puja meluruhkan tubuhnya ke lantai, memeluk lututnya erat-erat di tengah temaram lampu kamar.

Di dalam ruangan asing itu, benteng pertahanannya kembali runtuh.

Bayangan lembar ijazah dengan nilai sempurna, ucapan selamat dari sahabat-sahabatnya di kantin sekolah, serta impian mengenakan jas almamater universitas berputar layaknya mimpi buruk yang memutar balik kenyataan.

Semua itu lenyap, berganti dengan status baru sebagai istri seorang Ustadz—posisi yang diperjualbelikan demi sebidang tanah sawah dan seikat uang tunai.

"Lekaslah mandi, setelah itu istirahat," ucap Jeffry.

Puja hanya diam tanpa bersuara.

"Maaf kalau pernikahan ini terkesan mendadak. Kedua Abah sudah tidak sabar untuk menggendong cucu."

Puja mendongakkan kepalanya, menatap pria di hadapannya dengan tatapan sengit dan luka yang membara.

"Jadi aku hanya mesin pembuat anak?"

"B-bukan begitu maksudku," potong Jeffry, tampak sedikit terkejut dengan nada bicara Puja.

"Kalau begitu lakukan sekarang," ucap Puja dingin, menyodorkan kepasrahan yang penuh kehampaan.

Jeffry menghela napas panjang. Tatapannya melemah, menyiratkan kesabaran yang tebal di tengah suasana yang memanas.

"Kita suami istri, dan berhubungan intim itu harus dalam keadaan sadar serta saling menyayangi. Kalau seperti ini, apa bedanya kita dengan hewan?" ujar Jeffry lembut sembari maju selangkah, lalu menunduk untuk mencium kening Puja perlahan.

Kecupan singkat itu terasa begitu hangat, namun sekaligus membekukan Puja yang terpaku di tempatnya.

"Lekaslah mandi, aku mau melihat para santri," tambah Jeffry pelan.

Jeffry melangkah mundur, menutup pintu kamar itu rapat-rapat, dan meninggalkan Puja sendirian dalam keheningan yang menyiksa.

Abah melihat Jeffry yang baru saja keluar dari area kamar dengan raut wajah tenang namun menyimpan beban berat.

Kyai Ali menghentikan langkahnya, menatap putra mahkotanya itu dengan tatapan teduh seorang ayah sekaligus guru.

"Jeffry, kemarilah sebentar, Nak," panggil Kyai Ali lembut, mengisyaratkan Jeffry untuk mendekat.

Jeffry melangkah menghampiri sang ayah, menundukkan kepalanya penuh hormat.

"Nggih, Abah."

Kyai Ali menepuk bahu Jeffry perlahan, menyalurkan kehangatan serta rasa tanggung jawab yang kini berpindah ke pundak putranya.

"Pernikahan itu bukan sekadar menyatukan dua raga dalam satu ikatan, tapi menyatukan dua jiwa yang berbeda arah. Puja masih muda, dan hatinya mungkin sedang terluka karena impiannya harus tertunda. Tugasmu sebagai suami bukan untuk menuntutnya langsung patuh atau menguasai hatinya secara paksa, melainkan menjadi pelindung yang sabar, membimbingnya dengan kelembutan, dan menjadi rumah yang aman baginya."

Kyai Ali menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam mata putranya.

"Jadilah suami yang bijaksana. Sebagaimana Rasulullah menuntun keluarganya dengan kasih sayang, bimbinglah istri bertahap. Luaskan dadamu untuk memahami kekecewaannya, dan doakan hatinya agar perlahan bisa menerima takdir ini."

Jeffry mendengarkan setiap bait nasihat itu dengan khusyuk.

Petuah sang ayah meresap dalam ke sanubarinya, menjadi pegangan di tengah badai kepasrahan yang kini ia dan istrinya jalani.

"Iya, Abah," jawab Jeffry mantap namun santun, menganggukkan kepalanya penuh kepatuhan.

Setelah mencium tangan sang ayah untuk memohon restu, Jeffry membalikkan badan dan melangkahkan kakinya keluar dari kediaman. Kemudian, Jeffry menuju ke pondok untuk memantau para santri.

Jeffry yang akan melangkahkan kakinya harus berhenti saat melihat kedatangan Ningsih, adik Kyai Ali, bersama putrinya, Ningrum, yang selalu iri hati.

Mereka berdua memang tinggal di kediaman belakang kompleks pondok pesantren.

Malam ini, dengan senyum yang dipaksakan dan langkah gemulai, mereka sengaja datang membawa semangkuk kolak hangat khusus untuk Kyai Ali.

Namun, belum juga melangkah melewati ambang pintu, pandangan tajam Ningsih sudah tertuju pada pintu kamar Puja yang tertutup rapat.

"Aduh, Abah... Puja itu jangan dimanja!" cetus Ningsih dengan nada suara tinggi penuh sindiran, melirik ke arah Kyai Ali yang masih berdiri di ruang tengah.

"Anak bau kencur baru lulus sekolah kok sudah disuruh santai-santai jadi nyonya rumah? Nanti dia besar kepala!"

Ningrum yang berdiri di samping ibunya ikut melipat tangan di dada, mendengus pelan dengan tatapan mata yang memancarkan ketidaksukaan mendalam pada sosok pengantin baru sepupunya itu.

Jeffry menghela napas panjang. Rasa lelah di dadanya kian berhimpit melihat sikap sang bibi yang tidak pernah berubah.

Pria itu membalikkan badan, berdiri tegap memandang Bibi Ningsih dan Ningrum dengan tatapan teduh namun sarat akan ketegasan.

"Bibi..." panggil Jeffry pelan, suaranya tenang tanpa nada tinggi, namun cukup untuk membuat suasana seketika hening.

"Puja sekarang sudah resmi menjadi istri saya. Apapun yang dialaminya hari ini—perubahan hidup yang mendadak dan keputusannya untuk berada di dalam kamar—adalah hak dan bagian dari proses dirinya. Sebagai suami, sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga dan memahaminya, bukan menghakiminya."

Jeffry menatap Bibi Ningsih lurus-lurus, lalu beralih sekilas pada Ningrum.

"Urusan bagaimana Puja beradaptasi di rumah ini adalah tanggung jawab saya sepenuhnya. Saya mohon dengan sangat, tolong hormati keberadaannya di sini dan tidak mengeluarkan ucapan yang hanya akan memperkeruh suasana. Biarkan Puja tenang terlebih dahulu."

Ningsih tertegun seketika, tak menyangka keponakannya itu akan memasang badan secara terbuka membela perempuan yang baru beberapa jam dinikahinya.

Ningrum hanya bisa merengut makin dalam, mengepalkan jemarinya menahan kekesalan.

Kyai Ali yang menyimak percakapan itu dari ruang tengah akhirnya melangkah mendekat.

Raut wajahnya nampak tenang, namun ketegasan jelas terpancar dari sorot matanya. Beliau menatap adik dan keponakannya itu secara bergantian.

"Ningsih, lebih baik kalian bawa pulang kembali kolak ini. Abah sedang mengurangi makanan bersantan," ucap Kyai Ali halus namun tak memberi ruang untuk membantah.

"Sudah malam, sebaiknya kalian kembali ke kediaman belakang dan beristirahat."

Ningsih dan Ningrum hanya bisa gigit jari. Tanpa berani menyanggah lagi perintah sang Kyai, Ningsih mengangkat kembali nampan kolak itu dengan wajah bersungut-sungut, lalu berbalik pergi meninggalkan rumah utama bersama Ningrum yang terus mendesis kesal sepanjang jalan.

Setelah situasi kembali tenang, Jeffry pamit mencium tangan ayahnya sekali lagi.

Jeffry melanjutkan langkahnya menuju ke pondok untuk memeriksa para santri, memastikan seluruh aktivitas malam berjalan tertib.

Sementara itu di kamar, Puja baru selesai mandi. Air dingin yang membasahi tubuhnya sedikit mengurangi kepenatan, meski gumpalan sesak di dadanya sama sekali belum terurai.

Rambutnya yang masih basah dibiarkan terurai di bahu.

Dengan jemari yang bergetar menahan luapan emosi, ia melangkah menuju meja kecil dan mengambil ponselnya dari dalam tas.

Layar ponsel itu menyala, menampilkan beberapa notifikasi pesan masuk dari para sahabatnya yang khawatir.

Tanpa membuang waktu, Puja membuka grup percakapan mereka dan mengetikkan sebuah pesan singkat:

Besok kita ketemuan di warung es pak Bagyo jam delapan, penting.

Setelah itu, Puja menaruh ponselnya di atas meja, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang asing dengan tatapan kosong.

Tak lama setelah layar ponselnya redup, nada dering notifikasi berbunyi berturut-turut.

Puja membuka ponselnya kembali dan membaca balasan pesan dari sahabat-sahabatnya di grup yang serempak mengiyakan dan menanyakan kondisinya dengan penuh cemas.

Belum sempat ia membalas, suara langkah kaki yang mendekat dari balik pintu membuat jantungnya berdesir hebat.

Sontak, Puja panik. Ia buru-buru menyambar guling di sampingnya, lalu menaruh guling pembatas persis di tengah-tengah kasur sebagai garis tegas pemisah di antara mereka.

Setelah mematikan layar ponsel dan meletakkannya kembali, ia langsung membaringkan tubuh membelakangi pintu dan berpura-pura memejamkan matanya rapat-rapat.

Ceklek.

Gagang pintu terdorong perlahan. Seketika itu pula tubuh Puja membeku.

Puja langsung seperti patung, tidak berani bergerak sedikit pun, bahkan menahan napasnya agar tak menimbulkan suara.

Jeffry melangkah masuk dengan perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada sosok sang istri yang terbaring kaku dengan guling yang membentang tegak di tengah ranjang.

Jeffry tersenyum tipis melihat tingkah istrinya yang menggemaskan sekaligus penuh kepasrahan itu. Pria itu tahu betul Puja hanya berpura-pura tidur.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata untuk mengusiknya, Jeffry mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang temaram.

Ia pun segera naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya di sisi luar guling pembatas, dan memejamkan matanya membiarkan malam membungkus sunyi di antara mereka.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!