“Bagaimana ini, Pak lurah. Apa kami rakyat kecil harus makan batu?!” teriak salah seorang warga berperawakan sedang.
“Tenang … harap tenang, kita tunggu ketua kelompok tani yang bertanggung jawab atas hal ini.” Pak lurah berkacak pinggang, kepala dengan peci hitam terus melongok ke persimpangan jalan, berharap yang di tunggu menampakkan batang hidungnya.
“Kalian bisa berucap tenang sebab lumbung padi penuh, sedang kami yang hidup mengandalkan sepetak sawah harus kelaparan jika sampai sawah kami gagal panen!” sahut petani lebih tua, masih memikul cangkul di pundaknya.
Betul …
Betul …
Sorakan warga yang berkumpul di balai desa menggema, cibiran sahut menyahut, kasak-kusuk semakin riuh.
“Pak lurah, bukankah seharusnya desa mengambil kebijakan? Selama ini pertanian kita tak pernah bermasalah, tapi sejak kepemimpinan berganti pada anak perempuannya panen tak lagi berlimpah, sangat jauh berbeda dengan zaman kepemimpinan tuan Londo dulu,” celetuk ibu muda datang sambil menggendong balita baru berusia sekitar satu tahun.
“Betul itu. Zaman semakin maju pertanian kita malah semakin mundur. Harga daun tembakau turun, belum lagi beberapa tanaman palawija tak laku di jual, dan sekarang … harapan terakhir kita juga terancam gagal panen,” imbuh seorang pria yang sepertinya suami si ibu muda.
Warga saling bertukar pandang sebagian ada yang langsung setuju, sebagian lain memilih diam, memperhatikan.
“Bahkan sekarang, satu karung tembakau kering tak lagi cukup untuk membeli sekantong beras. Lantas bagaimana nasib kami Pak Lurah? Apa memang tujuan kalian sebenarnya menyengsarakan bukan mensejahterakan rakyat?!” imbuh pria muda tadi dengan suara menggebu-gebu.
“Kalian itu terlalu sibuk menyalahkan kami yang berada di atas tanpa mau berbenah, mawas diri,” sahut seseorang dari balik kerumunan.
Semua mata seketika menoleh, sebagian langsung menunduk, beberapa tetap menatap nyalang seolah menantang.
Anneke Van Beek, gadis muda berusia kisaran dua puluh lima tahun, menjabat sebagai ketua kelompok tani, melanjutkan perjuangan sang papa tiri—Petter Van Beek. Sosok yang lebih dahulu berhasil memajukan sektor pertanian di Desa Lereng Bukit.
Anne adalah putri Sulastri, seorang wanita pribumi yang diselamatkan Petter Van Beek, setelah hampir meninggal akibat pendarahan, pasca melahirkan.
Meski merupakan keturunan asli pribumi, Anne tumbuh dan dibesarkan di lingkungan keluarga londo. Latar belakang itulah yang membentuknya menjadi perempuan cerdas, tegas, dan cerdik. Parasnya ayu, sementara pembawaannya selalu tenang dan berwibawa, juga sedikit jumawa, membuatnya disegani sekaligus dihormati oleh masyarakat desa.
Dari balik kerumunan, Anne berjalan tenang tanpa melepas caping anyaman bambu yang melingkar di kepala. Senyum tipis terulas, namun sorot mata tajam, menjurus pada satu orang sedari tadi paling lantang menyuarakan keluhan.
“Di mana kau menukar satu karung tembakau kering dengan sekantong beras?” tanyanya pada pria muda, berkulit hitam mengkilat sebab terlalu lama berada di bawah terik matahari.
“Di … ehm itu ….” terbata-bata si pria mencari alasan.
“Kau yakin isi karung mu itu tembakau, bukan sampah daun kering yang kau pungut di bawah kebun kopi?” Ia kembali mencerca, tatapannya tak lepas dari wajah pias si pria muda. “Boleh saja menggunakan perbandingan, Kang, tapi juga harus disesuaikan, jangan asal mangap berakhir kowe malu sendiri.”
Gadis masih setia mengenakan pakaian kebaya dan kain jarik meski zaman telah berubah itu melanjutkan langkahnya, berjalan tenang menaiki undakan menuju teras kantor balai desa, bergabung dengan perangkat desa lainnya.
“Ada berapa hektar sawah yang menguning daunnya?” tanyanya, pada ulu-ulu atau juru pengairan desa.
“Kurang lebih ada sekitar lima belasan hektar, Nduk. Orang-orang kita sedang melihat ke lokasi yang rata-rata berada di pinggiran desa,” jelas Dasim, juru pengairan desa yang juga merupakan orang kepercayaan keluarga Van Beek. Dulunya kusir dokar Sulastri—ibunda Anne.
Anne mengangguk samar, tatapannya menyapu wajah penasaran warga desa, menunggu keputusan darinya.
“Suruh warga kembali ke rumah masing-masing. Aku akan mencari tahu penyebab rusaknya daun-daun padi itu, jika benar karena hama, minta Maria untuk mengirim pasokan pestisida sesegera mungkin,” titah Anne dengan raut tenang.
Dasim beranjak dari duduknya, siap menyampaikan perintah dari ketua kelompok tani yang merupakan ndoro kecilnya. Pemuda hitam manis yang kini mulai menua itu berdiri gagah, meminta izin sejenak pada lurah sebelum berteriak dengan suara lantang dan tegas.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, tak perlu risau. Kami aparat desa akan berusaha menyelamatkan sawah kalian dari gagal panen. Secepatnya—”
“Bagaimana mungkin kami tak risau jika padi-padi kami sudah layu dan siap mati!” potong salah seorang penduduk, sedari tadi terlihat gelisah, tak sabar menanti penjelasan para aparat desa.
“Betul. Kami butuh jaminan dan kepastian tak ‘kan kelaparan jika tahun ini benar-benar terjadi gagal panen di desa kita.” Pria muda berkulit hitam kembali angkat bicara, merasa mendapat teman untuk kembali mengajukan protes.
“Harusnya bu ketua terhormat bisa mengambil keputusan agar kami warga desa merasa tenang,” istri si pria muda turut menimpali.
“Anda sebagai ketua bisa mengatakan tenang, di saat kami rakyat kecil di hadapkan dengan ancaman kelaparan. Di mana hati nurani Anda sebagai ketua?! Kami hanya butuh kepastian jaminan panenan melimpah. Betul tidak saudara-saudara!” teriak seseorang dari kerumunan, wajahnya tak terlihat, namun niatnya jelas sengaja ingin memprovokasi penduduk desa.
“Betul itu ….”
“Betul ….”
“Pripun iki bu ketua, kami butuh kepastian.”
“Istri ku baru saja melahirkan, apa jadinya anak kami kalau sampai sawah tempat menggantungkan hidup satu-satunya tak bisa menghasilkan apa-apa,” keluh salah seorang warga, tangan dengan otot menonjol sebab sering dipakai bekerja kasar mengusap keringat bercampur air mata.
“Apa Anda tetap akan diam saja melihat penderitaan kami, wahai ibu ketua terhormat!” Seseorang tak terlihat jelas wajahnya kembali berteriak.
Kasak-kusuk penduduk desa terdengar di berbagai sudut, suasana perlahan tenang kembali riuh. Warga saling melempar kata, mengumpat, mengeluh, tak sedikit berusaha mempengaruhi mereka yang memilih diam, sabar menunggu titik terang.
Anne tetap tenang di kursinya, wajah ayu tak lagi tertutup caping anyaman bambu menatap sekitar, senyum tipis terulas saat netranya menangkap sosok beberapa bulan terakhir sering mengusik ketenangan nya.
“Pemuda pengecut itu,” gumamnya yang hanya bisa didengar dirinya sendiri.
Ia kemudian beranjak dari duduknya, berdiri tegak menghadap penduduk desa, satu tangan terangkat meminta penduduk desa diam sejenak. Namun belum sempat gadis ayu itu angkat bicara, celetukan pemuda sedari tadi terkunci di netranya menggema, membuat suasana semakin ricuh.
“Jika memang tak lagi sanggup memimpin pertanian desa, lebih baik Anda mundur dari posisi ketua. Kami butuh pemimpin yang bisa memberi kepastian, bukan janji palsu yang pada akhirnya hanya akan jadi angin lalu!”
“Setuju! Sudah seharusnya ketua kelompok tani kita dipimpin orang yang lebih mumpuni di bidangnya, bukan perempuan yang bisanya hanya menebar janji!” Seperti mendapat dukungan penuh, pria muda telah melepas kaos penuh keringat maju dua langkah dari tempatnya, berujar lantang sambil mengacungkan jari tangan.
“Betul itu ….”
“Aku setuju ….”
Teriakan warga sahut-menyahut, perdebatan tak terelakkan kerumunan terbagi menjadi dua kubu tak imbang, sebagian lebih banyak condong pada keinginan baru digaungkan.
“Pak Lurah ….”
Bersambung
Haii … pemirsa, saya kembali dengan kisah anak wedoknya Sulastri. Cerita ini berlatar sekitar tahun 70an. Mungkin akan banyak istilah pertanian di dalam cerita, mohon koreksi jika ada yang tak sesuai, sebab author hanya mengandalkan riset google.
Selamat membaca dan jangan lupa dukungannya lewat like, komen, dan kasih bintang 5.
Matur nuwun dan salam hangat
Anna.
“Pak lurah, sebagai pimpinan desa Sampean harus bisa menjadi penengah. Pertanian desa kita sudah terlalu lama dikuasai mereka yang mengandalkan warisan turun-temurun, tapi nihil dalam pengalaman. Jika terus dibiarkan begini, anak-cucu kita hanya akan kebagian cerita tentang makmurnya desa, tak lagi bisa menikmati hasil bumi kita.” Sambil berkaca-kaca petani tua menyampaikan aspirasi, beberapa orang langsung mengangguk setuju.
Pak lurah telah menjabat lebih dari sepuluh tahun lamanya, menelan ludah kasar. Dapuk kepemimpinannya juga didapat hasil turun temurun dari sang bapak.
Laki-laki dengan peci hitam, perut buncit dan kumis tipis itu berdiri ragu, menoleh sekilas pada Anne yang masih tetap tenang di tempatnya.
“Pripun iki, Nduk ketua. Penduduk desa sepertinya—”
“Biar saya yang berbicara pada mereka,” sergah Anne.
Ia kemudian maju selangkah, sorot mata tajam menyapu wajah-wajah kepanasan berakhir pada pemuda memakai caping dengan wajah tertutup kain hitam.
“Beri saya waktu satu minggu untuk menyelesaikan masalah ini, jika gagal—”
“Apa ibu ketua benar-benar mau membuat kami kelaparan?! Padi-padi kami tentu sudah mati semua kalau menunggu selama itu!” Salah seorang penduduk kembali memotong, dadanya sampai naik turun menahan hawa panas kian menyengat kepala.
Anne berjalan lebih mendekat, menyatu dengan kerumunan warga yang seketika menyingkir memberi jalan. Senyum manis terbit di sudut bibirnya saat pandangannya beradu dengan mata elang pemuda terus berusaha memprovokasi penduduk desa.
Tangan lembut meski sering membantu mengangkat karung-karung goni menepuk pelan pundak petani paling tua, intonasi bicaranya tetap tenang.
“Pak de, Aku ini bukan turunannya Bandung Bondowoso yang bisa mewujudkan keinginan orang yang dicintainya hanya dalam satu malam. Butuh waktu untuk bisa mengetahui sampai mencari solusi perihal menguningnya daun-daun padi kita.” Di usapnya pundak terdapat bekas gagang cangkul, manik tegas berbulu lentik alami menatap satu persatu wajah lelah penduduk desa.
“Kalian semua tak perlu risau, aku pasti bertanggung jawab, tak kan gentar apalagi lari dari masalah ini. Yang perlu kalian lakukan hanya menunggu sejenak, sampai aku dan para aparat desa mengetahui penyebab utamanya. Jika nanti ditemukan hama di pertanian kita, aku akan memberikan bantuan pestisida. Tapi …,” Anne menjeda ucapannya, suara terdengar mendayu, namun penuh perhitungan itu, mengunci langkah pemuda diam-diam ingin menjauh dari kerumunan.
“Tapi, jika masalah ini timbul akibat kelalaian kalian dalam menggunakan pestisida atau bahkan ada perbuatan curang di dalamnya, aku tak segan-segan menarik hak penggarapan ladang serta sawah, dan memberi hukuman setimpal sebagaimana perbuatan yang telah dilakukan.”
Ia semakin mendekat, menghampiri pria muda sejak awal berbicara lantang dengan raut menantang. Air muka semula tenang mengeras seketika, sorot mata tajam, menusuk tepat di netra bergetar si pria muda.
“Bersiap-siaplah menimbun sandang pangan untuk anak istrimu, mana tau aku menepati janjiku, menarik hak penggarapan sawah sepetak mu,” lirihnya seraya meninggalkan kerumunan yang kembali mulai berkasak-kusuk.
Sementara itu pemuda sedari tadi bersembunyi di balik caping dan kain hitam, membuka topengnya, duduk bersandar pada pohon besar persimpangan jalan. Begitu Anne merangsek dalam kerumunan, ia gegas menjauh, meninggalkan halaman balai desa.
Dahinya mengernyit menghalau panas menyengat kulit, caping lebar digunakan untuk kipasan. Dari bibir sedikit memble terbit senyum tipis, membayangkan wajah ayu dengan sorot mata tegas, gestur anggun tak di buat-buat, membuatnya nyaris mabuk kepayang.
Argono seorang pemuda pendatang di desa Lembah Bukit. Kecakapannya lewat tutur kata dan wajah tampan menawan, selalu menarik perhatian penduduk desa, meski Argono sering menyembunyikan diri di balik kain hitam dan caping lebar, namun suara khas bariton dan pembawaannya yang misterius memudahkan penduduk mengenalinya.
“Dia benar-benar cantik jika di lihat dari dekat. Pantas saja bune dan mak’de tak mengizinkan aku berlama-lama menatapnya,” gumamnya sambil meraih ranting kering, mematahkan dengan jari, pikiran terus melayang hingga tak sadar sebuah dokar telah berhenti di depannya.
“Kowe arep dadi wong gendeng, Le? Guya-guyu turut pinggir dalan,” seru kusir dokar, seorang pria Jawa berwajah tua, kumis tebal bertengger di atas bibir hitamnya. (kamu mau jadi orang gila, Le? Cengengesan di pinggir jalan)
Argono mendengus kesal, telapak penuh ranting kering ia usapkan pada batang kayu pohon beringin tua, lalu berganti mengusap celana hitam berbahan kain sebelum loncat ke atas dokar, mengambil botol air minum terselip di belakang bangku kusir.
“Ndak ngenak-ngenak’i wong menghayal ae, Mak de iki.” Ia lalu meneguk habis air dalam botol plastik, mengusap mulut dengan punggung tangan seraya menyandarkan kepala di tiang penyangga atap dokar. “Pancen tak akoni, gadis itu ayu alami, sayang—”
(mengganggu orang menghayal saja, pakde ini)
(Memang aku akui, gadis itu cantik alami, sayang)
“Ojo silau sama wajah ayu, Le. Eling tujuan awal kita datang ke desa ini,” sergah si kusir tua, wajah bengisnya menatap lurus jalanan berkerikil tajam. “Kowe harus bisa merebut hakmu yang sudah diambil perempuan itu dan ibunya.”
Argono menegakkan punggung, matanya berkilat, sudut bibir tersungging tipis. “Kalau kita bisa dapat keduanya, kenapa harus satu-satu. Mak’de sendiri ‘kan yang bilang, asal kita punya uang, tubuh wanita manapun bisa kita rasakan.”
Si pria tua tertawa pelan, dalam hati merasa bangga sebab bocah sedari kecil ia didik tumbuh menjadi pribadi yang diinginkannya, dan sebentar lagi akan membawanya pada tujuan utama—merebut kembali kekuasaan.
Di tempat yang berbeda, raungan pickup yang di kendarai Anne membelah jalanan desa, asap hitam mengepul, menyapa kawanan sapi yang menarik gerobak pengangkut hasil panenan. Berjejer di pinggir jalan, menunggu jatah timbang muatan.
Gadis berparas ayu itu menyapa sekilas para petani rata-rata pemilik kebun tembakau dan kopi, komoditas yang juga Anne tekuni selain padi. Tangan lentik tak terdapat kapalan meski sering membantu pekerjaan berat, mengambil satu genggam biji kopi baru selesai di timbang, menimang sejenak di telapak tangan seraya menghirup aroma alami nya.
“Panenan siapa biji kopi ini, Ran?” tanya nya pada Rani—putri tunggal Dasim, yang ikut bekerja di lapak milik keluarga Van Beek, bertugas menjadi juru timbang di sela-sela menyelesaikan sekolah jenjang SMA.
“Milik pakde memakai baju batik itu,” tunjuk Rani pada lelaki tua berjalan tergopoh-gopoh menghampiri pemilik lapak.
Anne menoleh cepat, senyum ramah terulas di wajah ayunya. “Teng kebon tasek katah tunggale mboten, Pakde niki kopine?” (Di ladang masih banyak lainnya tidak, Pakde ini biji kopinya)
“Masih ada beberapa pohon, Nduk ayu, belum mateng sempurna mau di panen,” jawab si petani.
Anne mengangguk, tangan masih menggenggam biji kopi sesekali dihirupnya. “Nanti kalau sudah siap panen, jemur yang kering, saya jualkan ke kota. Iki kualitas unggulan, bisa laku mahal kalo ketemu juragan kaya pas pasaran kliwon.”
Ia kemudian menoleh ke arah Rani, memberi perintah sembari berjalan meninggalkan lapak miliknya, kopi di tangan telah di kembalikan ke karungnya. “Tambahkan lima perak untuk 1 kati kopi milik, Pakde ini, Ran.”
“Baik, Mbak.” Gadis tak banyak bicara itu kembali menghitung uang telah disiapkan untuk petani kopi.
Wajah si petani sumringah seketika, sampai tak sadar sang juragan muda telah pergi dari tempatnya.
“Lah dalah, durung kober matur suwun wes ngilang ndoro ayu ne,” ucapnya, tangan penuh keriput mengusap wajah lelah yang langsung hilang begitu mendengar gemerincing uang logam dalam kantong kain perca yang diulurkan Rani. (Aduh, belum sempat bilang terima kasih sudah menghilang juragan cantik nya)
“Dari dulu genduk ayu opo pernah mau menunggu tiap kali habis memberi sedekah. Pasti langsung pergi,” sahut petani lain.
“Podo persis sama ibune,” timpal yang lainnya.
Sementara itu di belakang lapak tempat mobil pickup warisan sang papa terparkir, Anne baru saja akan membuka pintu kemudi saat punggungnya di lempar pentil jambu biji.
“Mobil butut mu itu sudah waktu nya masuk rongsokan, ditimbang campur besi tua sekalian pemiliknya,” seru suara berat pemuda berkulit pucat.
Bersambung
1 kati kurang lebih 600 gram
Di tahun ini satuan kilogram sudah ada dan umum, tapi di desa sebagian masih menggunakan kati, terlebih desa-desa terpencil. (Mohon koreksi jika kurang tepat, Author hanya mengandalkan riset google🙏)
Le \= Tole→panggilan untuk anak laki-laki.
Nduk \= genduk→panggilan untuk anak perempuan.
Mak’de \= Pakde
“Mobil butut mu itu sudah waktu nya masuk rongsokan, ditimbang campur besi tua sekalian pemiliknya,” seru suara berat pemuda berkulit pucat.
Anne memutar bola mata malas, napas berat berhembus dari bibir merah alaminya.
“Jangan membuat gara-gara, Hans! Kepalaku sedang pusing tujuh keliling,” geramnya, tanpa menoleh sudah tau pasti siapa pemilik suara berat yang sedari kecil gemar menjahilinya.
Hans Williams, putra tunggal Williams sahabat karib Petter Van Beek. Ayahnya asli orang Belanda sedang sang ibu keturunan Indo-Belanda, wajahnya kental Eropa dengan kulit pucat dan sepasang mata beriris biru muda.
Pemuda baru kembali dari mengenyam pendidikan di negeri kincir angin itu memang tak pernah absen membuat kesal Anne—sahabat masa kecilnya. Hari-hari nyaris ia habiskan untuk mengikuti kemanapun Anne pergi, berdalih ingin mengetahui jalanan serta seluk-beluk desa.
Dengan langkah tenang, senyum jahil tersungging di bibir, Hans menghampiri gadis ayu memasang wajah galak ke arahnya. Kaki terbungkus sepatu boot mahal, menendang tanah merah menempel pada ban mobil.
“Kapan kau itu tak pusing tujuh keliling?” balas Hans, tangan panjangnya dengan ringan menjitak pelan dahi Anne. “Maka nya berteman itu jangan hanya dengan wereng dan tikus sawah, sekali waktu berkumpul juga dengan manusia.”
“Ck, aku sedang tak ada waktu meladeni ocehanmu,” decak Anne sambil menepis tangan Hans yang menggantung di pucuk kepalanya.
“Apa ada masalah?” tanya Hans, bisa menangkap jelas wajah muram sang sahabat bukan disebabkan oleh ulahnya.
“Beberapa hektar sawah yang berada di pinggir desa tiba-tiba menguning daunnya—”
“Penyebabnya,” potong Hans.
“Belum tahu pasti, pakde Broto sedang memeriksa dan aku …,” Anne menjeda ucapannya, menatap malas sang sahabat sudah duduk lebih dulu di kursi penumpang. “Pergilah, Hans. Aku benar–benar sedang pusing hari ini.”
“Aku tau, tapi juga ingin tau penyebab daun padi memilih menguning sebelum waktunya itu,” sahut Hans, satu tangan mengganjal kepala bersandar pada jok terbungkus bahan kulit imitasi.
Anne menggeleng pasrah, malas berdebat, memilih tancap gas menuju pinggir desa bagian utara, berbatasan dengan desa kelahirannya—Joglo Punjer.
Di pematang sawah telah layu daunnya, Broto berkacak pinggang, sesekali menghisap kretek terselip diantara telunjuk dan jari tengahnya. Beberapa petani duduk berjejer, membiarkan terik membakar kulit terlindung baju panjang dan caping anyaman bambu.
“Bagaimana ini pak Jagabaya, sudah lewat tengah hari belum juga ada kepastian penyebab padi-padi ini menguning,” seru salah seorang petani, ia yang pertama kali membawa kabar rusaknya tanaman padi, namanya Sugi.
“Betul. Tadi saja di balai desa bilangnya mau tanggung jawab, tapi tak juga kunjung datang sampai tenggorokan kami kering kerontang, kehausan.” Pria muda sedari di balai desa menggebu-gebu menyampaikan protes ikut menimpali.
Sambil bersungut-sungut, ia mengambil kendi air, meneguk hingga menetes di sepanjang leher dan dada dibiarkan terbuka. “Iki lah alasan kita itu perlu milih pimpinan dari masyarakat biasa, yang ndak mengandalkan harta warisan turun temurun. Jelas paham kebutuhan wong cilik, karena terbiasa hidup susah, pas-pas’an. Kalo turunane wong sugeh karena warisan … yo begini, nyepelekne.”
Broto enggan menimpali, memilih diam, memperhatikan hamparan sawah tak sesegar saat dia mengecek kemarin lusa. Pria paruh baya diangkat sebagai kamituwo atau jagabaya yang bertugas untuk pembangunan irigasi, jalan, juga keamanan desa atau biasa disebut juga kaur pembangunan itu dulu nya adalah orang kepercayaan Petter Van Beek, telah berkutat di dunia pertanian puluhan tahun lamanya.
Alis tebal pria cukup disegani itu mengerut, tatapan tajam pada padi-padi yang bergerak tersapu angin. Ia sudah mengamati puluhan kali, namun tak juga menemukan penyebabnya, tak ada tanda-tanda wereng atau hama lainnya seolah ada kesengajaan dalam rusaknya hamparan sawah milik penduduk desa.
“Kamituwo, ojo gur ita-itu karo ngeses. Pikirno nasib masyarakatmu!” celetuk petani pemilik lahan paling parah kerusakannya. (Kamituwo, jangan hanya kesana-kemari sambil merokok. Pikirkan nasib masyarakatmu!)
“Iyo. Ndak kamituwo ne, lurah, ulu-ulu, sampek ketua kelompok tani bisane cuma obral janji, tenang … tenang, tok ndak mik—”
“Kalau kowe punya solusi coba sampaikan, biar semua orang mendengar, manatau terus kowe dipilih jadi ketua menggantikan aku,” sergah Anne, berjalan tanpa alas kaki, mendekat kerumunan tak sebanyak di halaman balai desa.
“Sedari tadi mulutmu itu paling berisik menyampaikan keluhan, berapa banyak kowe dapat sawah garapan?” lanjutnya, bertanya sambil menatap tajam raut yang seketika blingsatan.
“Sudah tak sampaikan saat di halaman balai desa tadi, biarkan kami mencari tau dulu apa penyebabnya baru kami beri solusi. Kalian pikir menyelamatkan sawah menguning tanpa ada gejala terserang hama mudah?!” Ia terpancing amarah, pada dasarnya memang tak suka orang banyak bicara tapi kosong isinya. “Kalau di antara kalian punya solusi silahkan sampaikan, aku siap mendengar, jika yang kalian sampaikan masuk akal, kalian boleh menggantikan posisi ku di kursi kepemimpinan.”
Para petani menunduk, tak berani membuka suara sebab tak tau juga penyebab apalagi solusi untuk sawah mereka. Sepanjang kepemimpinan Anne menggantikan sang papa, baru kali ini pertanian mereka mendapat masalah, menguning daunnya.
“Kenapa podo diam. Tadi saja begitu lantang menyampaikan keluhan, sekarang ciut giliran di tantang.” Anne menunduk, mencabut satu batang padi harusnya dua minggu lagi mulai berisi. “Kalian lihat, tak ada tanda-tanda serangan wereng, hawar atau bahkan tungro. Batang ini sehat, akarnya pun masih begitu kuat dan segar. Hanya ada satu kemungkinan penyebab menguningnya mereka yaitu kesalahan kalian dalam memberikan pestisida.”
Begitu tegas Anne memberikan analisisnya, pengalaman selama ia masih dibawah pengawasan Petter Van Beek serta bekal pendidikan yang didalami saat menimba ilmu di H.B.S (Hoogere Burger School) sekolah menengah atas bergengsi sebelum melanjutkan ke jenjang Universitas ternama di negara asal sang papa—Belanda.
“Kang Dasim,” panggilnya pada ulu-ulu atau juru pengairan.
Yang dipanggil langsung mendekat, menunduk penuh hormat.
“Aliri semua sawah, keringkan dulu, lalu ganti dengan air baru untuk mengurangi sisa bahan kimia dalam tanah. Kerjakan secepat mungkin agar tak keburu meresap pada akar dan membuat kerusakan semakin parah. Aku akan menemui Maria untuk meminta supply pupuk demi mendukung pemulihan,” titahnya dengan suara tegas.
“Baik, Nduk, segera saya kerjakan sekarang juga,” sahut Dasim, tanpa menunggu lama langsung bertindak, bergerak gesit.
Ia kemudian berbalik, menatap tajam para petani masih menunduk. Sudut bibir terangkat tipis saat sudah berhadapan dengan si pria muda.
“Namamu Rusli bukan? Penerima bantuan satu hektar garapan, itu pun tak kau kerjakan sendiri, mengandalkan buruhan orang, memilih bermalas–malasan tenimbang mencangkul galengan.” Sangat tepat sasaran ucapan gadis yang menyibak kain jariknya hingga sebatas lutut, tangan masih memegang padi ia kibaskan tepat di depan wajah Rusli.
“Kowe lihat, penikmat warisan turun-temurun ini bisa menyelesaikan masalah kurang dari satu hari. Terbukti bukan? Otakku isi nya tak hanya janji apalagi omong kosong belaka, tapi kepintaran yang nantinya bisa digunakan membantu mu dan juga penduduk desa.” Dipindahkannya satu batang padi ke telapak Rusli seraya berlalu, tanpa berpamitan.
Di kejauhan Argono memperhatikan dengan senyum tersungging, mata berbinar kagum.
“Pantas ibumu begitu mudah mengakali bapakku, turunannya saja ….”
Bersambung
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!