Indonesia
NovelToon NovelToon

Kenapa Aku Dibedakan

Di Balik Kepulangan

"Tuk... tuk... tuk..."

Suara langkah kaki bersepatu hak tinggi menggema di sepanjang ruangan, berpadu dengan gesekan roda koper yang bergulir perlahan di lantai. Irama keduanya terdengar semakin jelas, menandakan seseorang tengah berjalan mendekat.

Mendengar suara itu, seorang wanita yang semula duduk santai sambil membolak-balik halaman majalah segera menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan majalah di atas meja, lalu bangkit berdiri. Dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, ia mengarahkan pandangannya ke sumber suara yang kini semakin dekat, seolah menanti sosok yang akan segera muncul di hadapannya.

"Aku pulang," ucap Nisrina Afrasya lirih sambil menundukkan kepala.

Ia berdiri tepat di hadapan seorang wanita anggun yang mengenakan gaun berwarna hijau toska. Wanita itu masih duduk tenang di sofa. Majalah yang sedari tadi dibacanya kini telah diletakkan di atas meja, sementara tatapannya tertuju lekat kepada Nisrina.

Sebelum keheningan itu berlangsung lebih lama, seorang pria bernama Faeyza Afrasya segera menghampiri adik perempuannya. Senyum hangat menghiasi wajahnya.

"Kamu pulang, Nisrina?" ucapnya penuh haru.

Meski terkejut karena sang adik pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu, rasa bahagia yang memenuhi hatinya jauh lebih besar. Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan di luar kota, akhirnya ia bisa melihat Nisrina kembali.

"Apa kamu sudah menyelesaikan kuliahmu?" tanya Faeyza sambil memeluk Nisrina erat.

"Kenapa tidak memberi tahu Kakak? Kalau saja kamu mengabariku, Kakak pasti sudah menjemputmu di bandara."

Nisrina tidak langsung menjawab pertanyaan kakaknya. Ia hanya membalas dengan senyum tipis yang terasa begitu kaku. Tatapannya seolah menyimpan banyak hal yang belum sanggup diungkapkan. Di hadapannya, Faeyza masih menatap penuh harap, meyakini bahwa adiknya akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan yang telah lama dinantikan keluarga.

Tak lama kemudian, Mahendra Afrasya melangkah mendekat. Pria paruh baya itu merentangkan kedua tangannya, lalu memeluk putrinya dengan hangat.

"Alhamdulillah... akhirnya kamu selesai juga, Nak. Ayah sudah menunggu momen ini begitu lama," ucapnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Sorot matanya memancarkan rasa bangga sekaligus haru.

Suasana hangat itu kemudian disambut suara seorang wanita yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Om dan Tante juga ikut senang, Nisrina. Akhirnya kamu lulus juga," ujar Keysha Afrasya, adik kandung Mahendra, dengan senyum lebar. "Kami semua sudah menunggu hampir lima tahun sampai kamu menyelesaikan S2. Padahal adikmu yang mulai kuliah tiga tahun setelahmu saja sudah lebih dulu lulus."

Ucapan itu diakhiri dengan tawa kecil, menandakan bahwa kalimat tersebut hanyalah sebuah candaan. Namun, entah mengapa, senyum di wajah Nisrina justru semakin memudar. Ia hanya menundukkan kepala, seolah ada beban berat yang tengah disembunyikannya dari seluruh keluarganya.

"Iya, Nisrina. Tante juga ikut bahagia karena akhirnya kamu berhasil menyelesaikan pendidikanmu," timpal Rahma Alia, istri Keysha, dengan senyum hangat.

Ucapan itu semakin mencairkan suasana. Tawa dan obrolan ringan memenuhi ruang keluarga kediaman keluarga Afrasya. Semua orang larut dalam kebahagiaan, menyambut kepulangan Nisrina setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan.

Namun, tidak semua orang merasakan kebahagiaan yang sama.

Di sudut ruangan, wanita anggun bergaun hijau toska yang sejak tadi hanya diam memperhatikan mereka perlahan mengepalkan tangan di atas pangkuannya. Rahangnya mengeras, sementara tatapan matanya tertuju tajam kepada Nisrina. Wajah cantiknya tetap terlihat tenang, tetapi sorot matanya menyiratkan kemarahan yang berusaha ia sembunyikan.

"Membuat kesal saja..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar oleh siapa pun.

Tatapannya tak pernah lepas dari Nisrina.

"Jangan lupa tujuanmu pulang ke rumah ini," ucapnya dingin.

Kalimat itu sontak membuat senyum di wajah Nisrina menghilang. Jemarinya yang semula menggenggam gagang koper perlahan mengencang. Ia memahami betul makna di balik ucapan wanita itu, sementara anggota keluarga yang lain masih larut dalam kebahagiaan, sama sekali tidak menyadari perubahan suasana yang tiba-tiba terasa begitu menyesakkan.

Nisrina menelan ludahnya dengan susah payah. Dadanya terasa sesak saat menatap wajah dingin sang adik.

"Aku mohon... jangan lakukan ini, Haselyn," pintanya lirih. Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.

Haselyn Afrasya menatapnya tanpa sedikit pun menunjukkan belas kasihan.

"Ingat janjimu padaku," ucapnya datar. "Janjimu saat aku bersusah payah membawamu pulang."

Mendengar kalimat itu, kepala Nisrina semakin tertunduk. Jemarinya saling menggenggam erat, berusaha meredam gemetar yang tak mampu ia sembunyikan.

"Maafkan Kakak, Haselyn..." bisiknya penuh penyesalan.

Keheningan yang menyelimuti ruangan justru terasa semakin mencekam. Nisrina tahu, kemarahan yang selama ini dipendam Haselyn mungkin sudah berada di ambang batas. Dan kali ini, ia tak yakin sang adik masih memiliki alasan untuk memaafkannya.

"Jangan bilang kau mengabaikan peringatanku, Kak!" bentak Haselyn. Nada suaranya tajam, dipenuhi amarah yang selama ini ia pendam.

"Maaf..." Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibir Nisrina. Suaranya lirih, hampir tenggelam oleh keheningan yang mencekam.

Haselyn melangkah mendekat dengan langkah tenang, tetapi setiap pijakannya terasa begitu menekan. Sorot matanya tak sedikit pun melembut.

Melihat sang adik terus mendekat, Nisrina secara refleks melangkah mundur. Napasnya memburu, tubuhnya bergetar hebat. Rasa takut menguasai dirinya.

Plak!

Suara tamparan menggema di seluruh ruangan.

Kepala Nisrina terhuyung ke samping. Perlahan ia mengangkat tangan, memegang pipinya yang terasa panas. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi kedua pipinya.

"Haselyn!" seru beberapa anggota keluarga besar Afrasya hampir bersamaan. Wajah mereka dipenuhi keterkejutan. Tak seorang pun menyangka Haselyn benar-benar menampar Nisrina yang bahkan baru saja menginjakkan kaki di rumah itu.

Faezya melangkah cepat menghampiri Haselyn dan Nisrina. Tanpa ragu, ia menarik lengan Haselyn dengan keras hingga gadis itu menoleh. Jemarinya mencengkeram pergelangan tangan sang adik erat, seolah berusaha menahan amarah yang mulai meluap.

"Berani sekali kamu bersikap kurang ajar pada kakakmu!" bentak Faezya. Sorot matanya penuh kemarahan dan kekecewaan. Ia sama sekali tak menyangka Haselyn tega mengangkat tangan kepada Nisrina.

Namun, Haselyn membalas tatapan itu tanpa sedikit pun gentar. Wajahnya tetap dingin, rahangnya mengeras, seakan tamparan yang baru saja ia layangkan bukanlah sesuatu yang patut disesali.

"Aku hanya menamparnya, Kak," balasnya tajam. "Kalau Kakak tahu apa yang dilakukan adik kesayangan Kakak selama ini di luar negeri, aku yakin Kakak akan melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar menamparnya."

Ucapan Haselyn seketika membungkam seluruh ruangan.

Tak ada lagi suara yang terdengar selain embusan napas yang terasa begitu berat. Seluruh tatapan keluarga besar Afrasya beralih kepada Nisrina. Wajah-wajah yang semula dipenuhi keterkejutan kini berubah menjadi penuh tanda tanya.

Apa sebenarnya yang telah dilakukan Nisrina selama berada di luar negeri?

Hingga Haselyn, yang selama ini begitu menjaga sikap dan menahan emosi, tega melayangkan tamparan di hadapan seluruh keluarga.

Tak seorang pun berani menyela. Mereka hanya saling bertukar pandang, menunggu penjelasan yang entah akan membawa kenyataan seperti apa.

Sementara itu, Nisrina tetap menundukkan kepala. Jemarinya mengepal pelan di balik tubuhnya, bibirnya bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, tak satu pun kata berhasil keluar. Ia memilih diam, membiarkan setiap tatapan penuh prasangka menghujam dirinya tanpa perlawanan.

Kecewa

Melihat ketegangan yang semakin memuncak, Mahendra segera melangkah maju ke tengah-tengah kedua putrinya. Dengan suara yang tetap tenang, ia berusaha meredakan amarah yang mulai menguasai keadaan.

"Sudahlah, Nak," ucapnya lembut. "Ayah tahu kamu sangat kecewa pada kakakmu."

Mahendra menghela napas panjang sebelum kembali berbicara.

"Selama bertahun-tahun, kamulah yang menanggung seluruh biaya hidup dan pendidikan Nisrina di luar negeri. Padahal saat itu kamu juga masih menyelesaikan kuliahmu sendiri. Ayah mengerti kalau semua itu menjadi beban yang tidak ringan bagimu."

Tak seorang pun menyela.

Semua anggota keluarga mengetahui kenyataan itu.

Sejak Nisrina melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri, Haselyn-lah yang tanpa banyak bicara mengirimkan biaya hidup, uang kuliah, hingga memenuhi berbagai kebutuhan sang kakak. Di usianya yang masih muda, ia harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja demi memastikan Nisrina tidak kekurangan apa pun.

Ironisnya, Haselyn mampu menyelesaikan pendidikannya lebih cepat, sementara Nisrina justru terus menunda kepulangannya. Itulah yang membuat luka di hati Haselyn semakin dalam, hingga kesabarannya perlahan berubah menjadi kemarahan yang selama ini ia pendam.

"Mungkin kamu masih kecewa karena Kak Nisrina baru bisa menyelesaikan kuliahnya sekarang," ujar Mahendra dengan nada menenangkan. "Sementara kamu sudah lulus sejak tiga tahun yang lalu. Tapi, lihatlah... sekarang kakakmu juga sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya. Bukankah itu yang seharusnya kita syukuri?"

Ucapan itu membuat Haselyn mematung sesaat.

Tatapannya perlahan beralih kepada sang ayah. Ada kekecewaan yang begitu jelas tergambar di kedua matanya, seolah ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Jadi... Ayah pikir selama ini aku marah karena uang?" tanyanya lirih. Namun, semakin lama suaranya semakin meninggi, dipenuhi rasa kecewa. "Ayah mengira aku menghitung setiap rupiah yang sudah aku keluarkan untuk keluarga ini?"

Haselyn menggeleng pelan sambil terkekeh hambar.

"Kalau memang aku orang yang perhitungan, aku sudah berhenti membantu keluarga ini sejak lama."

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.

Selama bertahun-tahun, Haselyn memikul beban sebagai tulang punggung keluarga tanpa pernah sekalipun mengeluh. Ia bekerja sambil kuliah, memenuhi kebutuhan rumah, membiayai pendidikan Nisrina, bahkan sering kali mengorbankan keinginannya sendiri demi memastikan keluarganya tidak kekurangan.

Bukan uang yang selama ini membuat hatinya sesak.

Yang paling menyakitkan adalah ketika seluruh pengorbanannya dianggap sebagai kewajiban, sementara kesalahan yang dilakukan Nisrina seolah selalu menemukan alasan untuk dimaklumi.

"Ayah tahu..." ujar Mahendra pelan, berusaha tetap tenang. "Selama lima tahun terakhir keluarga ini memang banyak bergantung padamu. Ayah juga sadar, beban itu seharusnya berada di pundak anak sulung, terlebih anak laki-laki. Namun, keadaan memaksa semuanya jatuh kepadamu karena hanya kamu yang memiliki kemampuan ekonomi paling baik di antara saudara-saudaramu."

Haselyn hanya tersenyum tipis.

Namun, senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kehangatan. Justru terasa begitu sinis.

Terdengar sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya, tawa yang sarat akan rasa kecewa.

"Lucu sekali..." gumamnya.

Perlahan ia mengalihkan pandangannya ke arah Nisrina yang sejak tadi hanya membisu dengan kepala tertunduk, seolah tak memiliki keberanian untuk menatap siapa pun.

"Siapa yang bilang kalau dia..." Haselyn menggantung ucapannya sejenak, membiarkan rasa penasaran memenuhi ruangan.

"...sudah menyelesaikan program magisternya?"

Kalimat itu menghantam seluruh anggota keluarga seperti petir di siang bolong.

"Apa?" Mahendra spontan berdiri. Kedua matanya membelalak menatap putri bungsunya.

"Haselyn..." suaranya berubah berat. "Apa maksud ucapanmu itu?"

Tak hanya Mahendra, seluruh keluarga kini memandang Haselyn dan Nisrina secara bergantian. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, tetapi kali ini bukan karena amarah.

Melainkan karena sebuah kebenaran yang perlahan mulai terkuak.

Mahendra perlahan mengalihkan pandangannya kepada Nisrina. Tatapannya dipenuhi kebingungan sekaligus harapan bahwa semua ucapan Haselyn hanyalah kesalahpahaman.

"Nisrina..." panggilnya pelan. "Kamu sudah menyelesaikan program S2-mu, bukan?"

Ruangan kembali sunyi.

Semua mata tertuju pada Nisrina, menunggu jawaban yang selama ini mereka yakini pasti akan menghapus keraguan.

Namun, Nisrina tetap membisu.

Bahu gadis itu bergetar pelan. Air mata kembali mengalir tanpa mampu ia bendung. Bibirnya berulang kali terbuka, tetapi tak satu pun kata berhasil keluar.

Keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan.

Haselyn mengembuskan napas panjang sembari menyunggingkan senyum getir.

"Lihat?" ucapnya lirih, tetapi cukup jelas untuk didengar semua orang. "Tanyakan saja pada putri kesayangan Ayah itu."

Ia melirik sekilas ke arah Nisrina sebelum berbalik menuju sofa. Langkahnya tenang, namun menyimpan amarah yang telah lama dipendam. Setelah duduk, Haselyn menyandarkan tubuhnya sambil menatap satu per satu anggota keluarganya dengan sorot mata yang dingin.

"Jadi..." katanya pelan.

"Apakah dia masih akan tetap menjadi anak kebanggaan keluarga ini?"

Haselyn tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai luka daripada kebahagiaan.

"Anak yang selama ini selalu kalian banggakan... yang selalu kalian puji... dan yang tanpa henti kalian jadikan alasan untuk membandingkanku."

Kalimat itu menggantung di udara, membuat suasana terasa semakin menyesakkan. Tak ada satu pun anggota keluarga yang mampu segera membantahnya. Mereka hanya terdiam, sementara tatapan mereka perlahan kembali tertuju kepada Nisrina, menunggu kebenaran yang selama ini disembunyikannya.

"Nisrina..." suara Mahendra terdengar lebih berat dari sebelumnya. Ada harapan yang masih ia genggam, meski perlahan mulai terkikis oleh keraguan.

"Kamu sudah menyelesaikan kuliahmu... bukan?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Tak ada jawaban.

Nisrina justru menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan sang ayah. Tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah. Air matanya mengalir tanpa henti, membasahi pipi yang masih memerah akibat tamparan Haselyn.

"Maafkan Nisrina, Ayah..." lirihnya di sela-sela sesenggukan.

Hanya itu yang mampu ia ucapkan.

Mahendra mematung.

Dadanya mendadak terasa sesak. Ia menatap putri yang selama ini paling ia banggakan dengan sorot mata yang dipenuhi ketidakpercayaan.

"Jadi..." suaranya bergetar. "Apa yang dikatakan adikmu benar?"

"Kamu... belum menyelesaikan program S2-mu, meskipun sudah lima tahun berada di luar negeri?"

Nisrina semakin menundukkan kepalanya. Tangisnya kian pecah, tetapi ia tetap tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Diamnya menjadi pengakuan yang tak terbantahkan.

Mahardika perlahan memejamkan mata. Napasnya terasa berat, sementara hatinya seolah diremas oleh kenyataan yang baru saja terbongkar.

Selama lima tahun, ia percaya putrinya sedang berjuang mengejar gelar magister. Selama lima tahun pula seluruh keluarga terus mendukung dan mendoakannya, tanpa pernah menyangka bahwa kenyataan yang mereka yakini ternyata hanyalah harapan yang tak pernah benar-benar terwujud.

Tanpa sadar, pandangannya beralih kepada Haselyn.

Putri bungsunya itu mampu menyelesaikan pendidikan magister hanya dalam waktu satu tahun enam bulan. Di tengah kesibukan bekerja dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu, Haselyn tetap bertahan hingga berhasil meraih gelarnya.

Sementara Nisrina...

Lima tahun berlalu, tetapi garis akhir itu tak kunjung berhasil ia capai.

Perbandingan itu terasa begitu menyakitkan, bukan karena Mahendra ingin membandingkan kedua putrinya, melainkan karena ia baru menyadari betapa besar pengorbanan Haselyn selama ini, dan betapa lama keluarga hidup dalam keyakinan yang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.

Haselyn Afrasya

Meski terlahir dari rahim yang sama, kehidupan Nisrina dan Haselyn berjalan di dua jalan yang sangat berbeda.

Sejak kecil, Nisrina dikenal sebagai anak yang cerdas, ramah, mudah bergaul, serta patuh kepada orang tua. Ia hampir tak pernah membantah dan selalu sigap membantu siapa pun yang membutuhkan. Tak heran jika namanya selalu menjadi kebanggaan keluarga besar Afrasya.

Sementara itu, Haselyn Afrasya, putri bungsu Mahendra Afrasya dan Mayrah Adisti, tumbuh dengan karakter yang jauh berbeda.

Ia sama cerdasnya dengan kedua kakaknya. Prestasinya pun tak pernah mengecewakan. Namun, Haselyn memiliki prinsip yang begitu kuat. Ia tidak mudah menerima sesuatu hanya karena diminta menurut. Baginya, setiap keputusan harus memiliki alasan yang masuk akal.

Sayangnya, sikap itu justru dianggap sebagai bentuk pembangkangan.

Ia kerap dicap keras kepala, sulit diatur, bahkan terlalu sering membantah orang tua. Setiap kali pendapatnya berbeda dengan anggota keluarga yang lain, Haselyn selalu menjadi pihak yang diminta mengalah. Seolah mempertahankan prinsip adalah sebuah kesalahan.

Lama-kelamaan, perbedaan cara berpikir itu membangun jarak yang semakin lebar antara Haselyn dan keluarganya.

Perbedaan perlakuan itu sudah dirasakan Haselyn sejak usianya masih sebelas tahun.

Kala itu, ia baru saja menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dengan nilai yang membanggakan. Sejak lama ia mengincar sebuah sekolah menengah pertama favorit yang dikenal memiliki kualitas pendidikan terbaik, tenaga pengajar yang kompeten, serta fasilitas lengkap untuk mendukung perkembangan siswanya.

Namun, sekolah impiannya juga dikenal sebagai salah satu sekolah dengan biaya pendidikan yang tidak sedikit.

Meski begitu, Haselyn tetap memberanikan diri menyampaikan keinginannya kepada sang ibu.

"Kenapa aku tidak boleh sekolah di sana, Ma?" tanya Haselyn dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Di usianya yang masih sebelas tahun, ia belum memahami bahwa tidak semua impian dapat diraih hanya dengan kerja keras. Terkadang, ada keadaan yang memaksa seseorang mengubur keinginannya, meski hatinya belum benar-benar rela.

Mayrah Adisti menatap putri bungsunya dengan wajah mengeras. Tatapannya menunjukkan bahwa keputusan itu sudah bulat.

"Sekolah itu biayanya sangat mahal, Haselyn," ucapnya tegas. "Mama tidak sanggup membiayainya. Kamu sekolah di sekolah yang lain saja."

Haselyn menundukkan kepala sesaat. Namun, keinginan yang telah ia pendam selama bertahun-tahun membuatnya belum rela menyerah begitu saja.

"Tapi aku punya tabungan, Ma," katanya pelan. "Uang itu cukup untuk membayar biaya sekolahku selama satu tahun."

Tabungan itu bukanlah uang yang datang begitu saja. Sedikit demi sedikit Haselyn menyisihkan uang pemberian saat ulang tahun, hadiah dari keluarga, hingga uang sakunya. Semua ia kumpulkan dengan satu tujuan: bersekolah di tempat yang selama ini menjadi impiannya.

Sayangnya, penjelasan itu tidak meluluhkan hati Mayrah.

"Kamu pikir sekolah di sana cuma satu tahun?" nada suaranya mulai meninggi. "Masih ada dua tahun berikutnya. Mama harus mencari dari mana sisa biayanya?"

Haselyn menggigit bibir bawahnya.

"Masih ada waktu satu tahun untuk menabung, kan, Ma?" balasnya hati-hati. "Berarti kita masih bisa berusaha bersama."

Bagi Haselyn yang saat itu baru berusia sebelas tahun, pemikirannya terdengar sederhana sekaligus masuk akal. Ia percaya bahwa waktu satu tahun adalah kesempatan yang cukup untuk mempersiapkan biaya pendidikan berikutnya.

Lagi pula, keluarganya bukan hidup dalam kekurangan. Mereka memang bukan keluarga yang bergelimang harta, tetapi juga bukan keluarga yang harus berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di mata Haselyn, impian itu masih mungkin diwujudkan jika semua orang mau berusaha.

Mayrah mengembuskan napas panjang sebelum berkacak pinggang. Wajahnya mulai memerah menahan emosi.

"Kamu pikir keluarga ini tidak punya kebutuhan lain?" tanyanya dengan nada tinggi. "Uang itu bukan cuma untuk biaya sekolahmu, Haselyn. Kita juga harus makan, membayar tagihan, dan memenuhi kebutuhan rumah."

Ucapan itu membuat dada Haselyn semakin sesak.

Air matanya mulai menggenang hingga akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.

"Tapi..." suaranya bergetar. "Kakak juga sekolah di sekolah yang bagus. Kenapa aku tidak boleh?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Sejak taman kanak-kanak, kedua kakaknya selalu bersekolah di tempat yang dianggap terbaik oleh orang tuanya. Sementara dirinya, berkali-kali diminta menerima sekolah yang berbeda dengan alasan yang tak pernah benar-benar ia pahami.

Mayrah memejamkan mata sejenak, lalu menggeleng pelan.

"Itu berbeda."

"Apa bedanya, Ma?" Haselyn menatap ibunya dengan mata yang memerah. "Bukankah aku juga anak Mama dan Ayah?"

Pertanyaan polos itu membuat suasana mendadak hening.

Namun, alih-alih memberi penjelasan yang menenangkan, emosi Mayrah justru semakin memuncak.

"Jelas berbeda!" bentaknya.

"Kakakmu itu anak yang penurut. Mereka tidak pernah membantah orang tua. Mereka selalu membantu Mama, berbicara dengan sopan, dan mengerti keadaan keluarga."

Mayrah mengangkat telunjuknya ke arah Haselyn.

"Sedangkan kamu..." suaranya terdengar lebih pelan, tetapi justru lebih menusuk. "Sedikit-sedikit membantah. Selalu ingin pendapatmu dituruti. Kamu tidak pernah mau mengalah."

Haselyn terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia merasa bukan sedang ditolak karena impiannya terlalu tinggi, melainkan karena dirinya dianggap tidak pernah cukup baik di mata orang tuanya.

Dan sejak hari itu, sebuah pertanyaan mulai tumbuh di dalam hatinya...

Apa benar aku diperlakukan berbeda hanya karena aku bukan anak yang mereka harapkan?

"Mama tidak adil!" seru Haselyn di sela isak tangisnya.

"Kak Faezya dan Kak Nisrina bisa bersekolah di sekolah terbaik sejak SD. Bahkan sejak taman kanak-kanak mereka selalu mendapat sekolah yang bagus. Kenapa hanya aku yang harus masuk sekolah biasa? Padahal kita bukan keluarga yang kekurangan."

Suara gadis kecil itu bergetar. Bukan karena marah semata, melainkan karena kecewa. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa perlakuan yang diterimanya berbeda dengan kedua kakaknya.

Mayrah menarik napas panjang, berusaha mengakhiri perdebatan yang menurutnya sudah tidak ada gunanya.

"Pokoknya Mama tidak akan mendaftarkanmu ke sekolah itu," katanya tegas. "Keputusan Mama sudah bulat."

"Tapi aku ingin sekolah di sana, Ma!" balas Haselyn. Kali ini suaranya terdengar lebih lantang, dipenuhi tekad yang tak mudah dipatahkan.

Mayrah menatap putrinya tanpa mengubah keputusan.

"Kalau kamu tetap ingin sekolah di sana, silakan saja," ujarnya dingin. "Tapi jangan berharap Mama yang membayar semua biayanya. Cari sendiri uangnya."

Kalimat itu membuat Haselyn terdiam beberapa detik.

Ia mengepalkan kedua tangannya erat hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan.

"Baik," ucapnya lirih, tetapi penuh keyakinan.

"Aku akan membayar sekolahku sendiri."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Haselyn berbalik meninggalkan ibunya. Langkah kecilnya terdengar tergesa, sementara tangis yang sedari tadi ia tahan kembali pecah.

Di balik air matanya, tersimpan sebuah tekad yang tak pernah ia lupakan.

Jika suatu hari nanti ia benar-benar mampu berdiri di atas kakinya sendiri, ia tidak akan lagi menggantungkan impian kepada siapa pun.

Sejak hari itu, Haselyn mulai belajar bahwa terkadang seseorang harus berjuang sendirian untuk mendapatkan kesempatan yang dengan mudah diberikan kepada orang lain.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!