Malam di dunia asalnya tak pernah sejernih ini. Di sana, di antara derak beton kota dan kepulan asap pabrik yang tak pernah tidur, langit hanyalah kanvas kelabu yang mati.
Namun, di tempat ini—di atas hamparan rumput basah yang memantulkan pendar biru keemasan—langit malam Jagaddhita adalah sebuah samudera bintang yang bernapas.
Bhaskara meregangkan jemarinya, merasakan sensasi dingin embun yang meresap ke kulit telapak tangannya.
Otaknya masih berdenyut nyeri, menyisa memori samar tentang kilatan cahaya liar, suara jeritan mekanis, dan sensasi tersedot ke dalam pusaran tanpa dasar sebelum ia terlempar ke atas tanah asing ini. Ia mendongak, menatap nun jauh di horison tengah benua.
Di sana, berdiri sebuah siluet menara kristal raksasa yang tampak retak di ribuan bagian. Kristal itu—yang kemudian ia ketahui sebagai Prisma Kirana—memancarkan urat-urat cahaya tipis yang meredup, seolah-olah tengah menghembuskan napas terakhirnya.
Dari celah-celah retakan kristal itu, kepekatan hitam merayap keluar pelan-pelan seperti tinta jahat yang mencemari air jernih. Kelam Abadi.
Tiba-tiba, udara di sekitar dada Bhaskara bergetar hebat. Merekah aroma wangi bunga kantil bercampur tanah basah sehabis hujan lebat, memotong keheningan malam.
Atmosfer di depannya membiaskan cahaya, terlipat secara ajaib hingga membentuk lembaran bening serupa ukiran prasasti emas yang melayang anggun di udara.
Tidak ada suara robotik. Tidak ada kotak piksel neon seperti gim konsol yang kerap ia mainkan di dunia asalnya. Hanya ada pendar tulisan bersulur puitis, terukir dalam bahasa kuno yang anehnya dapat dibaca oleh pikirannya.
> 《Cahaya tidak memilih yang terkuat. Cahaya memilih yang layak.》
> [SUBJEK: BHASKARA — PENGEMBARA DARI DUNIA SEBERANG]
> Peran: Sang Penjaga Cahaya Terakhir
> Tingkat Resonansi: Bara (Awal Pembangkitan)
> Kapasitas Batin: 100 / 100 Prana
> [STATUS SIMPUL TAKDIR: 0 / 5]
> 🔥 Putri Anala (Kerajaan Agnivara): 🤍 Asing
> 💧 Putri Nirmala (Kerajaan Tirtamaya): 🤍 Asing
> 🌿 Putri Sekar (Kerajaan Aranyani): 🤍 Asing
> 🌪️ Putri Samira (Kerajaan Bayusena): 🤍 Asing
> ⚡ Putri Vajra (Kerajaan Vajragiri): 🤍 Asing
Bhaskara mengepalkan tangannya rapat-rapat, menghembuskan napas panjang hingga berhembus kabut tipis dari mulutnya. "Pengembara dari dunia seberang..." bisiknya lirih.
Ia bukan seorang pahlawan. Di dunianya yang lama, ia hanyalah seorang pria biasa yang berjuang bertahan hidup di tengah kerasnya takdir.
Namun, keberadaan Prasasti Gaib di depannya membuktikan bahwa nasib tidak melemparkannya ke Benua Jagaddhita tanpa alasan. Sesuatu yang sangat besar, sebuah tragedi kuno yang belum sepenuhnya ia pahami, telah memilihnya untuk berdiri di barisan paling depan.
Lontar emas di udaranya bergetar sekali lagi. Tulisan berkedip, berganti bentuk membentuk baris-baris instruksi baru yang memancarkan pendar merah keemasan hangat—seperti bara api yang siap meletup.
> 《Misi Pertama: Takdir Negeri Api》
> Prisma retak dan Sang Penjaga telah terbangun. Namun, Bara pertama tidak akan menyala di tempat yang aman. Putri Anala berada dalam genggaman marabahaya di Pegunungan Pawaka. Selamatkan Sang Putri sebelum matahari ketiga terbenam, atau cahaya Agnivara akan padam selamanya.
> 《Prisma mengamati pilihanmu.》
"Selamatkan Putri Anala..." gumam Bhaskara sambil membaca bait demi bait petunjuk itu.
Ia tersenyum tipis, sebuah senyum getir penuh kewaspadaan. Dari sedikit pengetahuan yang ia tangkap sejak tersadar di dunia ini, Agnivara adalah benteng pertahanan terkuat Jagaddhita, sebuah kerajaan yang dihuni oleh para ksatria tangguh penempa pusaka dan dikelilingi benteng magma yang tak tertembus.
Jika seorang putri dari kerajaan semegah itu berada dalam bahaya, musuhnya tentulah bukan sekadar monster liar yang berkeliaran di dalam hutan. Petunjuk ini terlalu sederhana untuk sebuah ancaman yang nyata.
Sistem di depannya tidak pernah berbohong, tetapi entitas gaib ini juga tidak pernah murah hati untuk memberikan seluruh kebenaran di awal.
Ada intrik yang tersembunyi, ada racun di dalam cawan emas, dan ada pengkhianatan yang mungkin tengah mengintai sang putri dari balik dinding istananya sendiri.
Bhaskara berdiri tegak. Ia merapikan pakaian kain tebal berhias sulaman melati yang melekat di tubuhnya—pakaian khas Jagaddhita yang entah bagaimana sudah terpasang saat ia terbangun.
Ia menyentuh dada kirinya, merasakan kehangatan samar yang berdenyut selaras dengan detak jantungnya. Inti Prisma di dalam tubuhnya telah memercikkan Bara pertama.
Di kejauhan, di balik barisan puncak pegunungan yang menjulang tinggi di sebelah timur, langit malam bersemburat warna merah keemasan yang mencekam.
Asap tebal membumbung tinggi melintasi rembulan, menandakan bahwa sang raksasa api—Pegunungan Pawaka—sedang tidak tenang.
"Aku tidak tahu mengapa aku yang dipanggil ke dunia ini," ujar Bhaskara pada kegelapan malam, melangkah maju menerobos tingginya rumput liar menuju arah timur.
"Tetapi jika cahaya ini memang membutuhkan seorang penjaga, maka aku tidak akan membiarkan malam menguasai bumi ini tanpa perlawanan."
Di bawah naungan langit Jagaddhita yang terluka, langkah pertama sang pengembara resmi dimulai. Simpul takdir yang terputus selama berabad-abad, kini perlahan-lahan mulai bergerak menanti untuk dipertautkan kembali.
Di balik nyala bara, gemuruh ombak, bisikan angin, rimbunnya bumi, dan gelegar petir, lima putri pewaris telah menunggu tanpa pernah mengetahui bahwa takdir mereka terikat pada seorang pemuda asing dari dunia lain.
Sementara itu, di kedalaman kegelapan, sesuatu yang telah lama tertidur mulai membuka mata. Ia tidak takut pada pedang, tidak gentar pada sihir, bahkan tidak gentar pada para raja. Yang ditakutinya hanya satu...
Cahaya yang kembali bersinar.
Dan ketika lembaran emas Sistem Kirana memancarkan pesan pertamanya, roda takdir akhirnya berputar.
《Misi Utama Dimulai.》
Temukan Putri Api.
Rangkai kembali Simpul Kirana.
Selamatkan Jagaddhita.
Sejak saat itu, setiap langkah Bhaskara bukan lagi sekadar perjalanan, melainkan awal dari legenda yang kelak akan dikenang sebagai kisah tentang enam negeri, lima putri, dan seorang Penjaga Cahaya yang menantang takdir itu sendiri.
...****************...
"Langkahi dulu mayatku, Paman!"
Geram Putri Anala memecah kesunyian malam di dalam Bait Pawaka, ruang ritual paling suci yang tertanam di jantung Kerajaan Agnivara.
Udara di dalam ruangan itu begitu pekat dan panas, seolah-olah dinding-dinding batu vulkanik di sekeliling mereka siap meleleh menjadi lahar.
Gadis bermata merah menyala bagai akik mulia itu berdiri tegar di tengah lingkaran pilar. Gaun perang merah keemasannya berkibar diterpa angin panas.
Di genggaman tangannya, sebuah pedang berukir Burung Garuda Merah terkepal erat, menyemburkan lidah-lidah api murni yang meletup gelisah.
Di hadapannya, Pangeran Dahana—paman kandung Anala sekaligus wali kerajaan—melangkah maju dengan senyum yang dingin. Belasan prajurit berzirah baja merah mengurung sang putri dengan tombak teracung.
"Kau terlalu muda dan naif, Anala," ujar Dahana, suaranya tenang, tapi penuh racun. "Prisma Kirana telah retak, dunia di luar sana sedang membusuk oleh Kelam Abadi. Seharusnya kau mempersiapkan pasukan untuk menguasai benua, bukan menghamburkan energi Agni hanya untuk mengirim bantuan ke Tirtamaya dan Aranyani! Fragmen Bara terlalu berharga berada di tangan gadis pemimpi sepertimu!"
"Agnivara adalah bagian dari Jagaddhita!" sergah Anala. "Jika Tirtamaya jatuh dan Aranyani hancur, api kita juga akan padam!"
"Tahan dia!" perintah Dahana tanpa memedulikan ucapan keponakannya. "Jangan bunuh dia, cukup lumpuhkan dan ambil Fragmen Bara dari dadanya!"
Para prajurit bergerak maju serempak. Anala memacu Prana-nya, bersiap menerjang kepungan prajurit terbaik kerajaannya sendiri dalam pertarungan yang sia-sia.
Namun, sebelum bilah-bilah senjata itu bersentuhan, sebuah ledakan energi asing berdenyar dari arah jendela kaca patri di bagian atas bangsal.
PRANG!
Pecahan kaca berwarna merah berserakan di lantai batu. Dari balik kepulan asap debu vulkanik yang menerobos masuk, sebuah sosok pria asing mendarat dengan mantap di tengah-tengah arena.
Pendar cahaya emas tipis berputar di sekeliling tubuhnya, membiaskan energi netral yang sangat asing bagi siapapun di Jagaddhita.
Beberapa menit sebelum ledakan itu terjadi, Bhaskara sebenarnya masih merayap di lorong rahasia di bawah tebing vulkanik.
Jalan setapak menuju Bait Pawaka itu ia temukan bukan karena keberuntungan, melainkan berkat pendar prasasti gaib yang membimbing setiap langkahnya sejak ia menembus gerbang luar Agnivara yang tak terjaga.
> 《Cahaya tidak memilih yang terkuat. Cahaya memilih yang layak.》
> [EVALUASI LOKASI: BANGSAL UTAMA BAIT PAWAKA]
> 🔥 Tingkat Konsentrasi Energi Agni: 85% (Terdistorsi)
> ⚠️ Status Bahaya: Tinggi
> [UPDATE MISI]
> Ancamannya tidak mengenakan zirah perang, melainkan jubah sutra sang penjaga. Langkah sang putri telah dikunci di dalam Bait Pawaka oleh darahnya sendiri.
> 《Prisma mengamati pilihanmu.》
Bhaskara sempat berhenti sejenak di balik pilar luar, mengunyah kata demi kata yang terpampang di lontar emas melayang itu.
"Darahnya sendiri... jubah sutra sang penjaga," gumamnya pelan.
Dugaannya terbukti sempurna. Pangeran Dahana mengisolasi Putri Anala melalui kudeta senyap. Tanpa bantuan dari luar, sang putri akan dilumpuhkan sebelum matahari terbit, dan Fragmen Bara akan jatuh ke tangan yang salah.
Prasasti gaib itu meredup, menyisakan kehangatan samar di balik telapak tangan kanan Bhaskara. Ia mengepalkan tangan, merasakan energi Bara mengalir tipis di pembuluh darahnya. Ia tidak punya jurus pedang yang hebat atau ketahanan fisik setebal Raksasa Batu.
Namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki siapa pun di sini: petunjuk takdir yang nyata.
Mengumpulkan seluruh keberaniannya, Bhaskara memanjat pilar terluar dan melompati jendela kaca patri tepat di saat pertempuran akan pecah.
"Siapa kau?!" teriak Dahana kaget, refleks menarik diri beberapa langkah ke belakang. "Penyusup! Dari mana datangnya bangsat ini?!"
Bhaskara bangkit berdiri, menyapu debu di pakaian kain tebal berhias sulaman melati yang melekat di tubuhnya. Ia mengabaikan bentakan Dahana dan perlahan memutar tubuhnya membelakangi barisan musuh.
Di hadapannya, Putri Anala membelalakkan mata. Gadis itu menatap punggung pria asing berambut gelap yang kini berdiri tepat di depannya—menghalangi jalan para prajurit yang hendak menerjangnya.
Di atas kepala Putri Anala, sebuah indikator gaib yang hanya bisa dilihat oleh mata Bhaskara tampak melayang redup:
> [PUTRI ANALA]
> Tingkat Hubungan: 🤍 Asing
> Tingkat Kepercayaan (Trust): 0% (Sangat Curiga)
"Kau... siapa?" bisik Anala terpana, kewaspadaannya justru makin memuncak.
Bhaskara melirik gadis itu dengan sudut matanya. Ia menyunggingkan senyum tipis—senyum yang penuh ketenangan di tengah kepungan belasan senjata berapi.
"Namaku Bhaskara," ujar pria itu pelan, suaranya terdengar jernih menembus deru gemuruh lahar di luar bangsal. "Dan aku di sini untuk memastikan takdirmu tidak berhenti di ruangan berdebu ini, Putri."
“Serahkan kepalamu atau serahkan Fragmen Bara itu, Pria Asing!”
Teriakan Pangeran Dahana menggema, memantul keras di dinding-dinding batu Bait Pawaka. Udara di dalam ruangan seketika menebal, terdistorsi oleh hawa membakar dari belasan bilah senjata prajurit yang mulai terselimuti lidah api merah.
Bhaskara tidak bergeming. Meski peluh dingin mulai membasahi pelipisnya akibat tekanan Prana lawan yang begitu pekat, matanya tetap tenang melirik ke arah Putri Anala.
> [STATUS HUBUNGAN: PUTRI ANALA]
> Tingkat Kepercayaan (Trust): 5% (Sedikit Bingung)
> Catatan: Sang Putri ragu apakah kau sekutu atau pengacau baru.
"Kau dengar ancamannya, Putri?" bisik Bhaskara tanpa berpaling dari barisan musuh. "Mereka menginginkan kepala atau kristalmu. Tapi kurasa, kau tidak berniat memberikan keduanya malam ini."
Anala mengeratkan genggamannya pada hulu pedang Garuda Merah. "Siapa pun kau, pria asing... jika kau bermaksud menghentikan Paman Dahana, berdirilah di sampingku, bukan di depanku. Aku bukan wanita lemah yang perlu dilindungi!"
"Aku tahu," jawab Bhaskara mantap. "Aku di sini bukan untuk menjadi perisaimu, melainkan untuk menjadi matamu."
Syuut!
Dua prajurit berzirah merah menerjang maju sekaligus. Pedang api mereka membelah udara, mengincar leher Bhaskara dan pinggang Anala secara bersamaan.
Di mata orang biasa, gerakan itu terlalu cepat untuk dihindari. Namun di pandangan Bhaskara, sebuah garis pendar emas tipis tiba-tiba terukir melayang di udara—sebuah arahan tak kasatmata dari Prasasti Gaib.
> 《Prisma mengamati pilihanmu.》
> Celah di lutut kiri prajurit pertama. Titik buta prajurit kedua ada pada tebasan susulan.
"Mundur setengah langkah, tebas lutut kirinya!" seru Bhaskara memberi aba-aba cepat.
Anala merespons tanpa ragu. Mengikuti naluri dan instruksi mendadak dari Bhaskara, ia merendahkan tubuhnya setengah langkah. Pedang Garudanya menyambar bawah, memutus aliran energi pada zirah lutut prajurit pertama hingga lawan ambruk tersungkur.
Di saat bersamaan, Bhaskara memanfaatkan kebingungan prajurit kedua. Ia tidak menggunakan pedang, melainkan memusatkan seluruh Prana tingkat Bara miliknya ke telapak tangan kanan. Sebuah Pendar Kirana meletup tipis, menghantam dada zirah sang prajurit hingga terdorong mundur beberapa meter.
Brak!
Suasana bangsal mendadak hening. Pangeran Dahana membelalakkan mata tidak percaya melihat dua prajurit terbaiknya dirubuhkan dalam hitungan detik oleh kombinasi spontan dua orang yang baru saja bertemu.
Dada Anala naik turun, napasnya terengah halus. Ia menatap Bhaskara dengan binar mata yang berbeda. Pancaran kecurigaan di manik merahnya perlahan surut, berganti dengan kejutan yang mendalam.
> [STATUS HUBUNGAN: PUTRI ANALA]
> Tingkat Kepercayaan (Trust): 20% (Terpukau & Mulai Percaya)
> Notifikasi: Resonansi awal berhasil. Serangan kombinasi pertama memicu riak kecil pada Fragmen Bara.
"Bagaimana kau bisa melihat celah gerakan mereka?" bisik Anala, matanya tak lepas dari sosok Bhaskara.
"Sudah kubilang," ujar Bhaskara sambil mengepalkan tangannya yang masih memancarkan asap tipis sisa energi Bara. "Aku adalah matamu. Dan jika kita ingin keluar hidup-hidup dari tempat ini untuk menyatukan Jagaddhita, kita harus menjatuhkan pamanmu ini sekarang juga."
Pangeran Dahana menggeram murka, menghentakkan tongkat sutranya ke lantai batu hingga menyemburkan gelombang api ke udara. "Penyusup keparat! Jangan harap kalian berdua bisa keluar dari Gunung Pawaka hidup-hidup!"
...****************...
“Tahan mereka! Jangan biarkan orang asing itu membawa Anala pergi!”
Seruan Pangeran Dahana menggelegar, memicu belasan prajurit berzirah merah menerjang maju serempak. Bilah-bilah pedang yang diselimuti kobaran api berdesing membelah udara, menutup setiap celah pelarian dan mengepung Bhaskara serta Anala dari segala penjuru.
Bhaskara tak memiliki pedang. Namun, ketika jemarinya menyentuh pergelangan tangan Anala, Prasasti Gaib memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan.
Kilatan itu memenuhi pandangannya, dan sesaat kemudian, segala sesuatu di sekelilingnya seakan berhenti. Bilah pedang yang tengah mengayun membeku di udara, bara api menggantung tanpa bergerak, sementara hanya Bhaskara yang masih mampu bernapas dan menyadari bahwa waktu telah terhenti.
> 《Prisma mengamati pilihanmu.》
> [ANALISIS LINGKUNGAN: BAIT PAWAKA]
> Poin Lemah Struktur: Pilar penyangga ketiga di sisi barat terhubung dengan saluran lahar cair di bawah benteng.
> Instruksi: Hantamkan energi Bara ke celah lantai pada koordinat sudut kiri.
"Anala! Hantam lantai di sebelah kirimu dengan pedangmu sekarang!" teriak Bhaskara memberi aba-aba tegas.
Anala terkejut, tapi suara Bhaskara yang terdengar yakin membuatnya bertindak refleks. Ia mengayunkan pedang Garuda Merahnya, menancapkan bilah berapi itu tepat ke celah retakan lantai batu yang ditunjuk Bhaskara.
BOOM!
Tekanan api yang terkumpul di bawah bangsal terpicu seketika. Lantai batu Bait Pawaka terbelah hebat. Gelembung lahar dingin dan ledakan asap sulfur tebal membumbung tinggi, menghempaskan barisan prajurit Dahana dan membutakan pandangan mereka.
"Sekarang! Lari!"
Bhaskara menarik tangan Anala, menerobos kepulan asap tebal menuju celah jendela kaca patri yang tadi ia gunakan untuk masuk.
"Tunggu! Itu jurang tebing vulkanik!" seru Anala menahan langkahnya saat melihat kegelapan dan sungai lahar membara puluhan meter di bawah mereka. "Kita terjebak!"
"Percaya padaku!" tegas Bhaskara. Ia melirik indikator gaib di atas kepala Anala yang melompat naik:
> [PUTRI ANALA]
> Tingkat Kepercayaan (Trust): 15% (Ragu tapi Tak Punya Pilihan)
Di pandangan Bhaskara, Lontar Emas kembali menunjukkan sebuah garis lintasan berpendar yang membentang dari ambang jendela menuju jembatan batu gantung yang membeku di sebelah luar tebing.
Tanpa ragu, Bhaskara menggenggam erat jemari Anala dan melompat bebas ke dalam kegelapan malam.
"Bhaskara!" Anala menjerit pelan, angin panas menerpa wajah mereka.
TAP!
Keduanya mendarat keras di atas struktur jembatan batu gantung yang tersembunyi di balik pekatnya asap vulkanik—tepat di titik yang diprediksikan oleh Sistem. Tanpa membuang waktu, Bhaskara memusatkan energi Bara di telapak tangannya dan memukul tali pancang utama jembatan tersebut.
KREAK... PRANG!
Jembatan kayu dan rantai besi itu putus, bergoyang hebat dan jatuh menempel di tebing seberang, memutus akses utama prajurit Dahana yang baru saja menyusul ke ambang jendela.
Di balik pekatnya asap dan gemuruh Gunung Pawaka, Bhaskara dan Anala terengah-engah di atas tanah tebing luar. Mereka berhasil lolos dari kepungan istana, meninggalkan Pangeran Dahana yang raung kemarahannya terdengar ditelan angin malam.
Anala melepaskan genggaman tangannya pelan-pelan. Ia menatap Bhaskara dengan napas naik-turun, manik merahnya berbinar penuh rasa tak percaya.
> [STATUS HUBUNGAN: PUTRI ANALA]
> Tingkat Kepercayaan (Trust): 💛 25% (Mulai Percaya)
> Notifikasi: Keberhasilan meloloskan diri memicu respon positif pertama. Fragmen Bara bergetar lembut.
Bhaskara membuang napas legah, membiarkan tubuhnya bersandar sejenak pada dinding tebing batu yang hangat. Ia tersenyum puas—langkah awalnya di dunia ini terbukti tidak sia-sia.
Di sudut pandangnya, pendar Lontar Emas mengambang lembut, mengonfirmasi keberhasilan misinya di tengah pekatnya asap vulkanik:
> 《Misi Selesai: Langkah Pertama di Atas Bara》
> Putri Api berhasil ditarik dari bayang-bayang pengkhianatan.
> [HADIAH REKONSILIASI]
> 🔥 Status Fragmen Agni: Terhubung (Resonansi Awal)
> ✨ Kapasitas Batin Bhaskara: +50 Prana (Tingkat Bara Menguat)
> 🔓 Jurus Terbuka: Ajian Kirana Agni (Lapisan Perisai Cahaya Berapi)
Rasa hangat yang pekat mengalir dari dada kirinya, menjalar hingga ke ujung jemari tangan Bhaskara. Untuk pertama kalinya sejak terlempar ke Benua Jagaddhita, ia merasakan energi Prana di dalam tubuhnya bergetar selaras dengan elemen dunia ini.
Anala, yang berdiri beberapa langkah di depannya, memperhatikan perubahan ekspresi pria asing itu dengan alis berkerut tipis.
Senyum tenang Bhaskara di tengah situasi genting seperti ini terasa ganjil, tetapi entah mengapa justru memberikan rasa aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Mengapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Anala pelan, menurunkan pedang Garudanya walau jemarinya masih enggan melepas hulu senjata. "Kerajaanku baru saja dikuasai oleh pengkhianat, aku yang seorang putri menjadi buronan di tanah kelahiranku sendiri, dan kau... kau tersenyum seolah baru saja memenangkan pertempuran!"
Bhaskara menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap Putri Api itu, membiarkan mata mereka saling bertaut di bawah pendar merah Gunung Pawaka.
"Aku tersenyum karena kau masih bernapas, Putri," ujar Bhaskara lembut, suaranya terdengar begitu mantap menembus deru angin malam. "Selama sang putri masih berdiri, api Agnivara belum benar-benar padam. Dan ini baru permulaan."
Anala terpaku sejenak. Kata-kata sederhana itu meresap ke dalam dadanya, menyalakan kembali kebanggaan dan tekad yang sempat goyah akibat pengkhianatan pamannya.
> [STATUS HUBUNGAN: PUTRI ANALA]
> Tingkat Kepercayaan (Trust): 💚 35% (Percaya)
> Catatan: Sang Putri kini memandangmu sebagai sekutunya yang paling berharga.
Tiba-tiba, Lontar Emas mengambang kembali di hadapan Bhaskara. Pendar cahayanya memercikkan warna merah keemasan yang makin pekat dan hangat.
《Cahaya tidak memilih yang terkuat. Cahaya memilih yang layak.》
《Misi Lanjutan: Api yang Belum Padam》
Menyelamatkan Putri hanyalah percikan awal. Takhta Agnivara masih ternoda, dan Fragmen Bara belum sepenuhnya bersatu dengan jiwanya.
[TARGET UTAMA]
Bantu Putri Anala membongkar kebohongan Pangeran Dahana di hadapan para Senopati.
Rebut kembali Kota Kerajaan Agnivara.
Capai Tingkat Hubungan: ✨ Simpul Kirana bersama Putri Anala.
《Prisma mengamati pilihanmu.》
Bhaskara membaca prasasti tersebut dengan alis berkerut. Sistem ini mengerti bahwa sebuah ikatan tidak bisa dipaksa, dan sebuah negeri tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam keadaan hancur.
"Bhaskara?" panggil Anala, heran melihat Bhaskara yang tampak melamun menatap udara kosong. "Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku sedang memikirkan bagaimana caranya kita merebut kembali kerajaanmu," jawab Bhaskara sambil menatap Anala.
Anala menatap Bhaskara dengan binar mata yang kian dalam. Senyum tipis—untuk pertama kalinya malam ini—terukir di bibir sang Putri Api.
"Kau pria asing yang sangat nekat, Bhaskara,"
...****************...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!