Byur!
Air kotor dari ember pel tumpah, membasahi sepatu kanvas usang milik Ye Chen.
"Dasar sampah tidak berguna! Mengepel lantai saja kau tidak becus. Untuk apa keluarga Su memberi makan anjing sepertimu selama tiga tahun?!"
Suara melengking Zhao Mei, ibu mertuanya, bergema tajam di ruang tamu vila keluarga Su yang mewah. Wanita paruh baya itu menatap Ye Chen dengan rasa jijik yang mendarah daging, seolah menatap serangga yang merayap di lantai marmernya.
Ye Chen menunduk, menyembunyikan kilatan di matanya. Ia buru-buru mengambil kain lap dan membersihkan genangan air. "Maaf, Ibu. Saya akan mengepelnya lagi."
"Tutup mulutmu! Jangan panggil aku Ibu!" Zhao Mei mendengus kasar, melipat lengannya di dada. "Hari ini Grup Su sedang menghadapi krisis keuangan. Perusahaan butuh suntikan dana lima puluh juta yuan hari ini juga atau kita akan bangkrut! Apa yang bisa kau lakukan, hah? Kau hanya bisa menyapu, memasak, dan mencuci pakaian dalam kami! Berbeda jauh dengan Tuan Muda Wang Hao yang bersedia memberikan dana itu tanpa berkedip."
Tepat saat nama itu disebut, pintu depan terbuka.
Seorang pria muda dengan setelan jas desainer seharga ratusan ribu yuan berjalan masuk dengan senyum arogan. Di belakangnya, masuk pula Su Yuhan, istri Ye Chen.
Su Yuhan memiliki kecantikan yang bisa menjatuhkan sebuah kota—kulitnya seputih pualam, wajahnya dipahat sempurna, namun selalu memancarkan aura sedingin es. Hari ini, keangkuhan es itu tampak retak. Wajahnya pucat dan kelelahan, memancarkan keputusasaan yang mendalam.
"Bibi Zhao, kau terlalu memujiku," ucap Wang Hao berbasa-basi, meski matanya menatap Ye Chen dengan tatapan merendahkan, layaknya melihat seekor kecoak.
"Oh, Tuan Muda Wang! Silakan duduk, silakan!" Zhao Mei langsung berubah ramah. Wajahnya yang tadi bengis kini dipenuhi senyum lebar yang menjilat.
Wang Hao duduk santai di sofa kulit mahal, lalu menatap Su Yuhan yang berdiri diam di dekat pintu.
"Yuhan, tawaranku masih berlaku. Aku akan menyuntikkan lima puluh juta yuan ke perusahaanmu hari ini juga. Syaratnya hanya satu..." Wang Hao menyeringai, lalu menunjuk ke arah Ye Chen yang memegang gagang pel. "...ceraikan sampah ini besok pagi, dan jadilah istriku."
Wajah Ye Chen mengeras. Jemarinya mencengkeram gagang pel hingga buku-buku jarinya memutih. Tiga tahun dia dihina, dia bisa menahannya. Tapi mencoba merampas istrinya secara terang-terangan di depannya? Itu melewati batas.
"Tuan Muda Wang, tolong jaga ucapanmu. Yuhan adalah istriku yang sah!" sahut Ye Chen, suaranya berat dan tegas.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Ye Chen. Kepalanya terpelanting ke samping, meninggalkan jejak merah berbentuk lima jari di wajahnya.
Zhao Mei berdiri di depannya dengan dada naik turun, matanya melotot tajam. "Beraninya kau membentak Tuan Muda Wang?! Kau pikir kau siapa? Kau hanya menantu benalu yang kami pungut dari jalanan! Yuhan, cepat tanda tangani surat cerai ini. Ibu sudah menyiapkannya!"
Zhao Mei melempar sebuah dokumen ke atas meja.
Su Yuhan menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah. Dia menatap Ye Chen dengan tatapan rumit—campuran antara kasihan, marah, dan putus asa.
"Ye Chen... maafkan aku," suara Yuhan bergetar pelan. "Tapi Grup Kosmetik Su adalah peninggalan kakek. Itu jerih payahnya seumur hidup. Aku... aku tidak bisa membiarkannya hancur."
"Yuhan, kau tidak perlu melakukan ini. Aku bisa mencari jalan keluar. Beri aku waktu," kata Ye Chen, melangkah maju dan mencoba memegang tangan istrinya untuk menenangkannya.
"Singkirkan tangan kotormu dari calon istriku!"
Wang Hao melompat berdiri, mengayunkan kakinya dan menendang perut Ye Chen dengan keras.
Brak!
Tubuh kurus Ye Chen terpental ke belakang. Kepalanya membentur ujung meja marmer dengan suara retakan yang mengerikan. Darah segar seketika menyembur dari pelipisnya, menetes deras ke lantai.
"Ye Chen!" Su Yuhan menjerit panik, instingnya membuatnya ingin berlari mendekat, namun tangannya ditahan kuat-kuat oleh Zhao Mei.
"Biarkan saja sampah itu mati! Jangan kotori tanganmu!" desis ibu mertuanya.
Pandangan Ye Chen mengabur. Rasa sakit yang luar biasa menusuk tengkoraknya. Darah hangat mengalir dari kepalanya, turun ke leher, membasahi dadanya, dan meresap ke dalam sebuah liontin giok hitam kusam yang selalu ia kalungkan sejak kecil.
Pada detik darahnya menyentuh permukaan giok, ukiran naga di atasnya menyala.
Sebuah cahaya keemasan yang hanya bisa dilihat oleh Ye Chen melesat dari giok itu, menembus tepat ke tengah alisnya. Panas yang membara meledak di dadanya, menyebar bagai lava ke seluruh pembuluh darah dan meridian tubuhnya.
Di dalam kesadarannya yang gelap gulita, sebuah suara kuno yang penuh keagungan bergema, menggetarkan jiwanya.
"Aku adalah Penguasa Tabib Naga Kuno. Pewarisku, kau memiliki darah suci Keluarga Ye namun hidup bergelimang hinaan. Keturunanku tidak boleh merangkak layaknya anjing! Hari ini, aku mewariskan padamu Kitab Medis Kehidupan dan Kematian serta Teknik Bela Diri Penakluk Naga. Bangkitlah... dan buatlah langit serta bumi berlutut di bawah kakimu!"
Dalam sekejap, ledakan informasi menyapu otak Ye Chen. Jutaan resep pil dewa, teknik akupunktur magis yang mampu membangkitkan orang mati, hingga seni bela diri tingkat tinggi terukir secara permanen dalam ingatannya.
Seiring dengan itu, energi spiritual merayap ke luka di kepalanya. Pendarahannya berhenti seketika, dan daging yang robek menyatu kembali dalam hitungan detik.
Di ruang tamu, Wang Hao tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Pria arogan itu tertawa keras sambil mencoba memeluk pinggang Su Yuhan. "Yuhan, biarkan saja anjing itu pingsan di situ. Mari kita rayakan kesepakatan ki—"
"Singkirkan tanganmu darinya."
Sebuah suara dingin, seberat gunung dan sedingin gletser, membekukan seisi ruangan.
Semua orang menoleh. Ye Chen perlahan berdiri. Postur tubuhnya yang biasanya membungkuk kini tegak lurus bagai pedang takhta yang baru dicabut dari sarungnya. Tatapan matanya yang dulunya redup dan patuh, kini setajam elang pemangsa, memancarkan aura intimidasi yang membuat napas siapa pun tercekat.
"K-kau belum mati?" Wang Hao terkejut melihat Ye Chen berdiri tegak tanpa setetes pun darah baru yang mengalir, namun segera mendengus remeh. "Dasar kecoak. Berani kau menatapku seperti itu—"
Sebelum Wang Hao menyelesaikan kalimatnya, bayangan Ye Chen berkedip. Terlalu cepat untuk diikuti mata telanjang.
Brak!
Wang Hao tiba-tiba sudah terkapar di lantai. Kaki kanan Ye Chen menginjak dada pria arogan itu dengan kekuatan mengerikan.
Krek!
Suara dua tulang rusuk yang patah bergema di ruang tamu yang mendadak sunyi senyap. Wang Hao menjerit histeris, wajahnya memerah karena kehabisan napas di bawah tekanan kaki Ye Chen.
"Sekali lagi kau menyentuh istriku, aku akan mencabut nyawamu," bisik Ye Chen. Suaranya datar, namun membekukan sumsum tulang.
Zhao Mei menjerit histeris, mundur hingga menabrak dinding. Su Yuhan menutup mulutnya tak percaya, matanya terbelalak lebar.
Apakah ini Ye Chen? Apakah ini suami pengecut yang selama tiga tahun tak pernah berani melawan saat ditampar dan dicaci maki? Aura pembunuh macam apa ini?!
"L-lepaskan aku! Beraninya kau, sampah! Keluarga Wang akan membunuhmu!" ancam Wang Hao dengan napas tersengal-sengal, darah merembes dari sudut bibirnya.
Tepat pada detik ketegangan itu memuncak, suara deru mesin mobil yang berat dan berwibawa terdengar dari halaman depan. Bukan hanya satu, tapi beberapa mobil sekaligus.
Lampu depan menembus jendela kaca vila. Empat mobil Rolls-Royce Phantom hitam pekat, masing-masing bernilai puluhan juta yuan, berbaris rapi di depan gerbang.
Pintu-pintu mobil terbuka serentak. Belasan pria berjas hitam dengan earpiece dan postur tegap—ciri khas pengawal elit tingkat tinggi—turun dengan cepat, mengamankan perimeter.
Dari mobil kedua, seorang pria tua berpakaian tradisional Changshan berwarna abu-abu melangkah keluar. Meski usianya sudah senja, langkahnya mantap dan auranya memancarkan otoritas mutlak.
Melihat pria tua itu masuk ke dalam rumah dari balik pintu yang terbuka, mata Wang Hao yang berada di bawah kaki Ye Chen nyaris melompat keluar. Wajahnya yang tadi marah kini berubah menjadi pucat pasi.
Itu adalah Penatua Lin! Kepala Pelayan dari Keluarga Ye di Jingcheng (Ibu Kota)—keluarga terkuat yang menguasai nadi ekonomi seluruh negeri! Bahkan ayah Wang Hao harus bersujud jika bertemu dengan asisten dari pria tua ini.
Apa yang dilakukan tokoh setingkat dewa ini di kota kecil Jiangcheng? Dan mengapa di vila keluarga Su yang nyaris bangkrut?!
Zhao Mei buru-buru merapikan pakaiannya, berniat menyambut dengan wajah menjilat maksimal. "T-Tuan besar, apakah Anda mencari—"
Penatua Lin mengabaikan Zhao Mei seolah wanita itu hanyalah udara kosong. Dia berjalan lurus melewati Su Yuhan, melewati Zhao Mei, dan berhenti tepat di depan Ye Chen yang masih menginjak dada Wang Hao.
Kemudian, di bawah tatapan tak percaya semua orang...
Bruk.
Pria tua dengan status luar biasa itu berlutut dengan satu kaki. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, dengan nada suara yang penuh rasa hormat hingga bergetar.
"Tuan Muda Ye, masa hukuman penyamaran Anda selama tiga tahun telah selesai. Tuan Besar memerintahkan saya untuk menjemput Anda kembali. Keluarga Ye di Ibu Kota... dan seluruh aset keluarga senilai tiga triliun dolar, kini menunggu Anda untuk mewarisinya."
Hening.
Ruang tamu itu sunyi senyap bak kuburan. Waktu seolah berhenti berdetak.
Rahang Zhao Mei jatuh hingga nyaris menyentuh lantai. Su Yuhan mematung bagai tersambar petir. Dan Wang Hao, yang masih berada di bawah sol sepatu Ye Chen, merasa jiwanya baru saja melayang meninggalkan tubuhnya.
Menantu benalu yang selama ini mereka jadikan keset kaki... adalah Tuan Muda Pewaris Tunggal dari keluarga paling berkuasa di seluruh daratan Tiongkok?!
"Tiga... tiga triliun dolar...?"
Suara Zhao Mei terdengar serak dan putus asa, seolah ada yang mencekik lehernya. Kakinya lemas, membuatnya merosot perlahan hingga terduduk di lantai marmer. Matanya menatap pria tua yang berlutut itu, lalu beralih ke Ye Chen dengan tatapan horor yang tak terlukiskan.
Di bawah kaki Ye Chen, tubuh Wang Hao gemetar hebat bagaikan daun kering yang diterpa badai. Bau pesing perlahan menguar di udara. Tuan Muda dari Keluarga Wang yang arogan itu baru saja mengompol di celananya!
Sebagai anggota keluarga kaya raya, Wang Hao sangat mengenal siapa Penatua Lin. Pria tua itu adalah tangan kanan Kepala Keluarga Ye di Ibu Kota. Jika Penatua Lin memanggil Ye Chen "Tuan Muda Ye", maka tidak ada keraguan lagi. Pria yang baru saja ia tendang dan hina sebagai "sampah" ini adalah naga sejati yang sedang menyamar!
"T-Tuan Muda Ye... s-saya tidak tahu... saya buta... tolong, ampuni nyawa anjing ini!" Wang Hao merintih, air mata dan ingus bercampur di wajahnya. Rasa sakit dari tulang rusuknya yang patah seolah menguap, digantikan oleh teror absolut.
Ye Chen tidak memedulikan rengekan Wang Hao. Ia menatap Penatua Lin dengan ekspresi datar yang menyimpan badai.
"Berdirilah, Penatua Lin," ucap Ye Chen dingin.
Pria tua itu berdiri, menundukkan pandangannya dengan penuh hormat. "Tuan Muda, mobil sudah disiapkan. Jet pribadi Keluarga Ye sedang menunggu di bandara Jiangcheng. Tuan Besar sangat merindukan Anda."
Mendengar kata-kata itu, bibir Ye Chen melengkung membentuk senyum sinis yang mengiris hati.
"Merindukanku?" Suara Ye Chen terdengar rendah, namun menggema di ruangan itu. "Tiga tahun lalu, saat wanita gila yang menjadi ibu tiriku itu meracuni makananku, menyewa pembunuh bayaran, dan mengusirku dari Ibu Kota di tengah badai salju... di mana Keluarga Ye? Di mana kakek saat aku harus mengais sisa makanan di jalanan agar tidak mati kelaparan?!"
Tubuh Penatua Lin bergetar. "Tuan Muda, Tuan Besar saat itu sedang koma. Beliau tidak tahu menahu soal tindakan Nyonya Besar. Sekarang setelah beliau sadar, beliau langsung mencari Anda ke seluruh negeri."
"Lalu kenapa baru sekarang?" Ye Chen menyela tajam. "Apakah karena putra kesayangan wanita itu, adik tiriku yang bodoh itu, terbukti tidak mampu mengurus bisnis, sehingga kalian kembali mencariku?"
Penatua Lin terdiam. Wajahnya yang keriput menampakkan rasa bersalah yang mendalam. Ia tahu, penderitaan yang dialami pewaris sah ini selama tiga tahun terakhir tidak bisa dihapus hanya dengan beberapa patah kata.
"Kembalilah, Penatua Lin. Katakan pada Kakek, aku, Ye Chen, belum mati. Tapi aku tidak akan kembali ke Ibu Kota hanya untuk menjadi pion kalian lagi. Saat aku kembali nanti, aku akan kembali dengan kekuatanku sendiri, dan aku akan membuat wanita gila itu membayar setiap tetes darah yang ia tumpahkan dariku!"
Aura Ye Chen meledak. Tekanan tak kasat mata dari Teknik Bela Diri Penakluk Naga yang baru saja bangkit di tubuhnya membuat belasan pengawal elit di luar tersentak mundur satu langkah.
Penatua Lin terkesiap. Ia menatap Ye Chen dengan mata terbelalak. Aura ini... ini adalah tekanan dari seorang Master Bela Diri! Bagaimana mungkin Tuan Muda yang dulunya lemah kini memiliki kekuatan mengerikan ini?
Sadar bahwa ia tidak bisa memaksa sang Naga, Penatua Lin menghela napas panjang. Ia merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam pekat dengan ukiran naga emas yang melingkar.
Itu adalah Kartu Hitam Naga Tertinggi.
"Jika Anda bersikeras, Tuan Muda, saya tidak akan memaksa," ucap Penatua Lin dengan nada pasrah. "Tapi tolong terimalah ini. Ini adalah kartu akses tak terbatas dari Bank Global yang terhubung langsung dengan perbendaharaan pribadi Tuan Besar. Tidak ada limit di dalamnya. Anggap saja... sebagai sedikit kompensasi dari Tuan Besar untuk tiga tahun penderitaan Anda."
Ye Chen terdiam sejenak. Ia melirik Su Yuhan yang masih berdiri mematung di sudut ruangan, wajah cantiknya memucat karena syok. Ye Chen tahu, istrinya sedang membutuhkan dana besar.
Tanpa banyak bicara, Ye Chen menerima kartu itu. "Aku menerimanya. Sekarang, bawa pengawalmu dan tinggalkan tempat ini. Jangan ganggu hidupku sampai aku sendiri yang memutuskan untuk kembali."
"Baik, Tuan Muda." Penatua Lin membungkuk hormat. Sebelum berbalik, ia melirik Wang Hao yang masih berada di bawah kaki Ye Chen. "Apakah Anda ingin saya 'membersihkan' sampah ini, Tuan Muda?"
Kata "membersihkan" dari mulut Penatua Lin setara dengan menghilangkan sebuah keluarga dari peta Tiongkok.
Wang Hao menjerit histeris. "T-TIDAK! Tuan Muda Ye! Tolong! Saya salah! Saya pantas mati! Jangan hancurkan keluarga saya!" Ia mulai bersujud membenturkan kepalanya ke lantai berulang kali hingga berdarah.
Ye Chen menarik kakinya dari dada Wang Hao. Ia mengambil sehelai tisu dari meja, mengelap tangannya dengan jijik, lalu membuangnya ke wajah Wang Hao.
"Menyingkir dari pandanganku. Jika aku melihat wajahmu di dekat istriku lagi, bukan hanya kakimu yang akan kupatahkan, tapi seluruh Keluarga Wang akan kubuat rata dengan tanah."
"T-Terima kasih! Terima kasih, Tuan Muda Ye!" Wang Hao tidak peduli dengan rasa sakitnya. Ia merangkak dengan tangan dan lututnya, menyeret tubuhnya keluar dari pintu secepat yang ia bisa, melarikan diri layaknya anjing yang ketakutan.
Dalam waktu kurang dari satu menit, Penatua Lin beserta iring-iringan Rolls-Royce hitam itu telah menghilang dari halaman vila, seolah badai besar baru saja lewat dan meninggalkan keheningan yang mencekam.
Di ruang tamu, hanya tersisa Ye Chen, Su Yuhan, dan Zhao Mei.
Udara terasa canggung dan berat. Zhao Mei yang masih terduduk di lantai, perlahan mengangkat wajahnya. Bibirnya bergetar hebat saat menatap Ye Chen. Menantu yang setiap hari ia suruh mencuci celana dalamnya... adalah miliarder triliunan dolar?
"Y-Ye Chen..." Zhao Mei menelan ludah, memaksakan sebuah senyuman yang terlihat lebih jelek daripada menangis. "K-kau... kau benar-benar Tuan Muda Ye dari Ibu Kota? K-kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada Ibu? A-aduh, menantuku yang baik, I-Ibu hanya bercanda tadi, k-kau tahu kan Ibu menyayangimu..."
Ye Chen menatap ibu mertuanya dengan tatapan sedingin gletser.
"Menantumu yang baik? Setengah jam yang lalu kau menyuruhku mati dan memaksa istriku menandatangani surat cerai."
Zhao Mei gemetar ketakutan. "I-itu... itu karena..."
"Cukup." Su Yuhan akhirnya bersuara.
Wanita cantik yang menjabat sebagai CEO itu melangkah maju. Matanya yang indah namun selalu dingin itu kini menatap Ye Chen dengan kompleks. Ada keterkejutan, kebingungan, namun juga sedikit kemarahan.
"Ye Chen... siapa kau sebenarnya? Tiga tahun kita menikah... apakah semuanya hanya kebohongan?" Suara Yuhan bergetar, menahan gejolak emosi di dadanya.
Melihat mata istrinya yang berkaca-kaca, tatapan dingin Ye Chen seketika melembut. Aura membunuhnya lenyap tanpa sisa, kembali menjadi Ye Chen yang biasa.
Ia melangkah mendekat dan dengan lembut memegang bahu Yuhan. Kali ini, Yuhan tidak menepisnya.
"Yuhan, percayalah padaku. Aku adalah Ye Chen, suamimu. Identitasku di masa lalu adalah sesuatu yang sengaja kusembunyikan karena itu hanya akan membawa bahaya bagimu. Tapi aku berjanji, mulai detik ini, tidak ada seorang pun yang boleh menyakitimu."
Ye Chen mengangkat Kartu Hitam Naga Tertinggi di tangannya dan meletakkannya di telapak tangan Yuhan.
"Perusahaanmu butuh lima puluh juta yuan? Ambil ini. Gesek berapapun yang kau butuhkan. Besok pagi, aku berjanji krisis di Grup Su akan selesai."
Su Yuhan menatap kartu hitam pekat bersinar di tangannya, lalu menatap mata suaminya yang penuh keyakinan. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, bahu kokoh pria di depannya ini terasa seperti tempat bernaung yang aman.
Namun, Ye Chen tahu, krisis sebenarnya baru saja dimulai. Kebangkitan Warisan Tabib Naga dan penolakannya untuk kembali ke Ibu Kota pasti akan segera terdengar oleh ibu tirinya.
Sinar matahari pagi menembus jendela vila, menyinari wajah Ye Chen yang sedang duduk bersila di halaman belakang.
Mata Ye Chen terpejam rapat. Ia sedang mengatur napasnya sesuai dengan ritme Teknik Bela Diri Penakluk Naga yang terukir di ingatannya. Udara pagi yang sejuk perlahan tampak berputar di sekeliling tubuhnya, membentuk pusaran angin kecil yang kasat mata.
Tiba-tiba, Ye Chen membuka matanya. Sepasang pupilnya memancarkan kilatan keemasan yang tajam. Ia bangkit berdiri, mengepalkan tinju kanannya, dan meninjunya ke udara kosong di depannya.
Boom!
Suara ledakan udara terdengar keras. Jarak tinjunya masih setengah meter dari sebuah batu pijakan taman yang terbuat dari granit, namun batu seberat lima puluh kilogram itu seketika retak dan hancur berkeping-keping hanya karena tekanan angin dari pukulannya!
Ye Chen menatap tangannya sendiri dengan takjub.
"Hanya dalam satu malam, meridianku telah sepenuhnya terbuka. Kekuatan fisikku setidaknya sepuluh kali lipat dari manusia normal," gumam Ye Chen. Senyum tipis menghiasi bibirnya. "Ibu tiri, kau pasti berpikir racun yang kau berikan tiga tahun lalu telah melumpuhkan fondasiku selamanya. Sayangnya, kau tidak tahu bahwa darah Naga di tubuhku baru saja bangkit!"
Meski kekuatannya meningkat drastis, Ye Chen tahu ini baru permulaan. Untuk mencapai puncak bela diri dan mempraktikkan ilmu dari Kitab Medis Kehidupan dan Kematian, ia membutuhkan banyak herbal berharga untuk memurnikan tubuhnya.
Ia melirik ke arah jendela kamar di lantai dua. Su Yuhan sudah berangkat kerja lebih awal pagi ini.
"Waktunya melihat bagaimana reaksi rubah-rubah tua di Grup Su," kekeh Ye Chen sambil melangkah masuk untuk mandi.
Sementara itu, di Ruang Rapat Eksekutif Grup Kosmetik Su.
Suasananya sangat mencekam. Su Yuhan duduk di kursi direktur utama dengan wajah pucat dan mata berkantung. Semalaman ia tidak bisa tidur, memikirkan kejadian gila di rumahnya dan memandangi Kartu Hitam Naga Tertinggi yang diberikan Ye Chen.
Di sekeliling meja oval yang besar itu, belasan pemegang saham menatapnya dengan tatapan memojokkan. Di sebelah kanan Yuhan, duduk pamannya, Su Jian, beserta sepupunya yang licik, Su Ming.
"Yuhan, waktunya sudah habis," ucap Su Jian dengan nada meremehkan, memecah keheningan. "Pagi ini, Presiden Li dari Bank Jiangcheng akan datang menagih utang lima puluh juta yuan. Bukan hanya itu, kami baru saja mendapat kabar bahwa Tuan Muda Wang Hao membatalkan semua rencana investasinya secara sepihak! Apa yang sebenarnya kau lakukan semalam, hah?!"
Su Ming, sang sepupu, tertawa sinis. "Benar! Kudengar semalam suamimu yang sampah itu malah memukuli Tuan Muda Wang. Yuhan, kau membiarkan anjing peliharaanmu menggigit dewa kekayaan kita! Kau telah menghancurkan perusahaan kakek!"
Para pemegang saham lainnya mulai berbisik-bisik marah.
"Turun dari jabatan CEO!"
"Benar! Serahkan posisi itu pada Direktur Su Jian. Beliau punya koneksi untuk menyelamatkan kita!"
"Jual saja perusahaan ini sebelum kita semua masuk penjara karena utang!"
Su Yuhan menggigit bibirnya menahan tangis. Selama bertahun-tahun ia memeras keringat membesarkan perusahaan ini, namun pamannya sendiri tak henti-hentinya mencoba menusuknya dari belakang.
Tepat pada saat itu, pintu ruang rapat didorong terbuka.
Seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan setelan jas rapi berjalan masuk, diikuti oleh dua asisten yang membawa koper dokumen. Ia adalah Li Dong, Presiden Bank Jiangcheng.
"Direktur Su Yuhan," ucap Presiden Li tanpa basa-basi, wajahnya sedingin besi. "Tenggat waktu pinjaman Anda sudah jatuh tempo. Lima puluh juta yuan. Jika Anda tidak bisa melunasinya detik ini juga, kami akan membekukan seluruh aset Grup Su dan menyegel gedung ini."
Su Jian langsung berdiri, memasang senyum menjilat. "Presiden Li, keponakan saya ini memang tidak becus. Tapi tenang saja, jika dia mundur hari ini, saya yang akan mengambil alih, dan saya jamin—"
"Aku akan membayarnya sekarang."
Suara dingin Su Yuhan memotong ucapan pamannya. Ia berdiri, tangannya sedikit gemetar saat ia merogoh tasnya.
Su Ming tertawa terbahak-bahak. "Membayar? Pakai apa? Ginjal suamimu? Semua rekening perusahaan sudah kosong, Yuhan!"
Tanpa memedulikan ejekan sepupunya, Su Yuhan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam pekat dan meletakkannya di atas meja marmer.
Plak.
Semua mata tertuju pada meja.
Kartu itu tidak memiliki logo bank komersial mana pun. Warnanya hitam murni dengan ukiran naga melingkar berbahan emas sungguhan, memancarkan kemewahan yang misterius.
"Pfft! Hahahaha!" Su Ming memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. Ia mengambil kartu itu dan melambai-lambaikannya di udara. "Kartu apa ini? Tidak ada logo Visa, tidak ada Mastercard. Apakah ini kartu diskon VIP dari salon rambut langgananmu? Yuhan, apa kau sudah gila?!"
Para pemegang saham ikut tertawa merendahkan. Su Jian menggelengkan kepalanya dengan iba palsu. "Kupikir kau punya rencana, Yuhan. Ternyata kau benar-benar kehilangan akal sehatmu."
Namun, di tengah tawa riuh ruangan itu, tidak ada yang menyadari wajah Presiden Li.
Mata pria paruh baya itu membelalak lebar, menatap lurus ke arah kartu hitam di tangan Su Ming. Wajahnya yang arogan seketika memucat seputih kertas. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahinya.
Itu... tidak mungkin! Itu adalah Kartu Hitam Naga Tertinggi dari Aliansi Bank Global!
Presiden Li mengingat kembali pelatihan khusus yang ia terima saat baru menjabat. Kartu seperti itu hanya ada lima di seluruh dunia! Pemiliknya adalah penguasa ekonomi global yang bisa membuat negara sekelas Tiongkok gemetar hanya dengan satu batuk!
"Berikan kartu itu padaku!"
Presiden Li setengah berteriak. Ia melompat ke depan, merebut kartu itu dari tangan Su Ming dengan kasar. Tangannya gemetar hebat saat meraba ukiran naga emas yang timbul, lalu ia memeriksa cip mikro khusus di belakangnya.
Itu asli!
Bruk!
Lutut Presiden Li tiba-tiba lemas. Ia nyaris berlutut jika asistennya tidak buru-buru menahannya.
"P-Presiden Li? Anda kenapa?" Su Ming bertanya kebingungan, tawanya terhenti seketika. "Itu pasti kartu mainan murahan, kan?"
"TUTUP MULUTMU, KEPARAT!" Presiden Li meraung marah, air liurnya menyembur ke wajah Su Ming.
Ia kemudian berbalik menatap Su Yuhan. Tubuhnya yang buncit membungkuk sembilan puluh derajat, sangat rendah hingga dahinya nyaris menyentuh meja. Suaranya bergetar penuh rasa hormat dan ketakutan.
"N-Nona Su! S-saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan saya! Saya tidak tahu Anda adalah pemegang Kartu Naga Tertinggi! M-mohon ampuni nyawa anjing saya ini!"
Hening.
Ruang rapat yang tadinya riuh oleh tawa kini sunyi senyap seolah ada seseorang yang memencet tombol mute massal.
Mata Su Jian melotot hingga urat-uratnya menonjol. Mulut Su Ming terbuka lebar hingga bisa dimasukkan telur bebek. Para pemegang saham saling pandang dengan horor.
Apa yang terjadi? Kenapa Presiden Bank yang sangat berkuasa di Kota Jiangcheng ini tiba-tiba membungkuk layaknya pelayan hina di depan Su Yuhan?!
"Presiden Li, apa maksudnya ini?" Su Yuhan sendiri sama terkejutnya. "Di dalam kartu itu... apakah ada lima puluh juta yuan?"
Presiden Li nyaris menangis mendengar pertanyaan itu. Lima puluh juta? Nyonya, kartu di tangan Anda ini limitnya adalah 'Tanpa Batas'! Anda bisa membeli seluruh Kota Jiangcheng beserta bank saya jika Anda mau!
"N-Nona Su bercanda," Presiden Li menelan ludah. "Tentu saja ada! Bahkan, Anda tidak perlu melunasi utang itu hari ini. Bank Jiangcheng bersedia menaikkan pinjaman Anda menjadi lima ratus juta yuan tanpa bunga! Kami akan mentransfernya detik ini juga!"
Presiden Li dengan tergesa-gesa memberi isyarat pada asistennya. Asisten itu segera mengeluarkan mesin EDC khusus VIP, menggesek kartu tersebut, dan meminta Yuhan memasukkan PIN (yang telah Ye Chen beritahukan sebelumnya: tanggal lahir Yuhan).
Ting!
Transaksi Berhasil.
Layar di proyektor ruangan yang terhubung dengan rekening perusahaan tiba-tiba berkedip, menunjukkan notifikasi transfer masuk.
[Saldo Masuk: 50.000.000,00 CNY]
Melihat deretan angka nol di layar, wajah Su Jian dan Su Ming berubah menjadi abu-abu seperti mayat. Semua argumen mereka hancur berkeping-keping.
Su Yuhan mengambil kembali kartu hitamnya. Dadanya bergemuruh hebat. Ye Chen... suamiku yang selalu kusebut pecundang... siapa dia sebenarnya?!
Dengan kepercayaan diri yang kembali utuh, Yuhan menatap sekeliling ruangan dengan aura seorang Ratu Es.
"Paman, sepupu, dan para pemegang saham yang terhormat," suara Yuhan menggema dingin, tanpa celah. "Utang telah dilunasi. Krisis telah berakhir. Sekarang, jika ada di antara kalian yang masih tidak puas dengan kepemimpinanku, pintu keluar ada di sebelah sana. Silakan tinggalkan saham kalian, aku akan membelinya dengan harga pasar sekarang juga."
Tidak ada satu pun yang berani bernapas keras. Su Jian mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja, wajahnya memerah menahan malu dan amarah yang luar biasa.
Di saat yang sama, pintu ruang rapat kembali diketuk pelan. Seorang pria dengan jaket kasual dan senyum santai melangkah masuk.
Itu adalah Ye Chen.
Ia melirik ke arah wajah-wajah pucat para pemegang saham, lalu menatap istrinya dengan lembut. "Yuhan, sudah waktunya makan siang. Aku membawakan bekal untukmu."
Semua mata kini tertuju pada pria yang selama ini menjadi lelucon terbesar di kota Jiangcheng. Namun kali ini, tidak ada satu pun yang berani tertawa.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!