Indonesia
NovelToon NovelToon

Aku Kembali

Bab 1 Menikah

"Ibu tidak mau ya, kalau pernikahanmu diadakan secara mewah, Ron! Ingat, Ruhi mbakmu itu belum menikah. Dan satu lagi, Ibu tidak setuju kalau uangmu dipakai pesta demi Nina, wanita yatim piatu tak punya asal-usul itu!"

Rukmini menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi jati tua. Raut kebencian tampak jelas dari guratan wajahnya yang mengeras.

"Betul kata Ibu," timpal Ruhi, kakak perempuan Roni, sembari mengecat kuku jarinya tanpa memandang sang adik. "Kau tahu sendiri kan, Mbak tidak mau kau langkahi begitu saja? Lagipula, kalaupun kau nekat menikah, tidak perlu ada pesta-pesta segala. Apalagi cuma untuk Nina, gadis miskin dari desa terpencil di perbatasan hutan itu."

Roni mengembuskan napas kasar. Dadanya terasa sesak berhimpitan dengan rasa kecewa. "Aku akan bicara baik-baik dengan Nina dulu, Bu. Bagaimana pun dia calon istriku. Lagi pula, uang yang aku kumpulkan selama ini sebagian besar juga hasil kerja keras Nina saat di desa."

Rukmini berdecih sinis. "Ibu tidak butuh pendapat gadis kampungan itu! Kau harus menurut pada ibumu. Daripada uangmu habis untuk pesta tak berguna, lebih baik disimpan untuk pernikahan mbakmu nanti!"

Tak sanggup lagi menahan amarah yang mulai memuncak, Roni memilih bangkit dan melangkah keluar rumah tanpa membalas perkataan ibunya.

"Eh, mau ke mana kau, Ron?! Orang tua belum selesai bicara, malah main pergi! Pasti ini gara-gara pengaruh wanita miskin itu!" teriak Ruhi melengking, yang makin membakar kebencian di hati Rukmini.

Roni adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Si bungsu sudah lama menikah serta hidup terpisah bersama pasangan. Ruhi yang belum berumah tangga, menjadikan kehadirannya dan Rukmini bak benalu toxic yang selalu mendikte hidup Roni.

Mengendarai sepeda motornya, Roni membelah jalanan kota menuju desa perbatasan. Jalan setapak berbatu dan pepohonan rimbun menyambut kedatangannya. Rumah Nina terletak sangat terisolasi, bersisian langsung dengan kerapatan hutan belakang desa.

Sesampainya di sana, Roni menyampaikan keputusan keluarganya. Tentu saja, ia memilah kata-kata agar hinaan dari ibu dan kakaknya tidak sampai melukai hati wanita pujaan hatinya itu.

Nina yang duduk di hadapannya menyimak dengan tenang. Wajah ayunya sama sekali tak memancarkan kemarahan. Ia tersenyum lembut, lalu mengusap punggung tangan Roni. "Tidak apa-apa, Mas. Ikuti saja keinginan Ibumu."

"Kamu yakin tidak apa-apa kalau kita hanya akad sederhana, Nin?" tanya Roni, menyuarakan rasa bersalahnya.

"Sama sekali tidak apa-apa, Mas. Yang terpenting bagi Nina adalah pernikahan kita sah secara agama dan hukum, serta mendapat ridho dari Ibunda. Aku tidak ingin rumah tangga kita mengawali langkah dengan ketidak ikhlasan orang tua."

Hati Roni kian terenyuh. Kelembutan dan ketulusan Nina selalu berhasil meluluhkan jiwanya. Ia tak pernah habis pikir mengapa ibu dan kakaknya begitu membenci Nina, hanya karena sekat kasta dan status sosial semata.

"Baiklah, Nin. Mas janji akan membahagiakanmu," ucap Roni sembari mengusap lembut jemari Nina sebelum berpamitan.

Sepeda motor Roni perlahan membelah jalan setapak meninggalkan halaman. Nina berdiri memandangi kepergian calon suaminya dengan tatapan sendu.

"Sudah pulang Roni nya, Nak?" suara serak Nek Nilam menyentak melamunnya Nina. Sang nenek baru saja kembali dari tepi sungai membawa tempat cuci baju.

"Eh, Nenek. Iya, Mas Roni cuma sebentar," sahut Nina sembari membantu mengangkut wadah dari tangan neneknya.

Nek Nilam memperhatikan raut wajah cucu kesayangannya yang memendam duka. "Padahal Nenek jalan pelan, kok kamu bisa sekaget itu? Apa yang sedang kamu pikirkan, Nduk?"

Nina memaksakan senyum tipis, lalu menceritakan keputusan acara pernikahan mereka yang hanya digelar berupa akad nikah sederhana tanpa resepsi.

"Nenek jangan khawatir, Nina ikhlas kok," bisik Nina lembut sembari menggenggam jemari keriput neneknya.

Bukan karena tak ada pesta yang membuat hatinya mencelos, melainkan impian kecil yang telah mereka susun bersama dari tabungan sederhana semasa Nina bekerja di perkebunan dulu, kini harus terkubur dalam-dalam demi mengalah pada ego calon mertuanya.

_______

Sebulan kemudian, hari bahagia yang dinanti tiba. Tidak ada terop megah atau alunan gamelan. Rumah kayu sederhana milik Nek Nilam hanya diramaikan oleh tetangga dekat yang membantu memasak di dapur.

Nina tampak begitu anggun dalam balutan kebaya putih tulang dan kain batik cokelat tua. Rambutnya disanggul rapi menyingkap leher jenjangnya yang halus.

"Kamu cantik sekali hari ini, Nin," puji seorang sahabatnya yang ikut membantu merias.

"Terima kasih ya," balas Nina tersenyum tipis menatap bayangannya di cermin.

Tepat pukul sembilan pagi, sebuah mobil hitam berhenti di depan halaman. Kehadiran rombongan pengantin pria menyedot perhatian warga sekitar. Namun, senyum Nek Nilam perlahan memudar ketika melihat siapa yang turun dari mobil tersebut.

Roni datang hanya didampingi beberapa teman dekatnya. Sama sekali tidak terlihat keberadaan Rukmini maupun Ruhi. Ayah Roni sendiri telah lama meninggal dunia.

Saat Nina dituntun keluar kamar, Roni terpaku. Pesona alami Nina menepis segala ketegangan di dadanya. Namun, bisik-bisik kasak-kusuk tetangga yang duduk di pelataran tak ayal menembus rungu mereka.

"Kasihan ya Nina, keluarga suaminya tidak ada satu pun yang sudi datang."

"Iya, apa memang tidak direstui?."

"Seserahannya juga ala kadarnya saja..."

Roni menunduk dalam, rasa malu dan bersalah menghimpit dadanya. Ia telah membujuk ibunya setengah mati tadi pagi, namun Rukmini dan Ruhi justru mengunci pintu kamar dan menolak pergi.

Penghulu memecah kecanggungan. "Sudah siap semuanya? Mari kita mulai."

Prosesi ijab kabul berlangsung khidmat. Dalam satu tarikan napas, Roni mengucapkan janji sucinya. Nina dan Roni kini resmi menjadi sepasang suami istri.

Setelah acara usai dan para tetangga kembali ke rumah masing-masing, teman-teman Roni pun pamit pulang menuju kota. Roni memutuskan untuk menginap di rumah sang istri.

Langkah kaki Roni berderit di atas lantai kayu saat ia memasuki kamar Nina. Tampak Nina sedang duduk melamun di tepi ranjang bambu bertutup sprei hijau yang warnanya telah memudar.

"Mas, maafkan keadaan rumahku ya," bisik Nina pelan, jemarinya saling bertautan canggung.

Roni mendekat dan duduk di samping Nina. Ditatapnya manik mata wanita yang kini sah menjadi istrinya itu. "Kenapa harus minta maaf, sayang? Di mana pun kita berada, asal bersamamu, tempat itu akan selalu terasa hangat."

Pipi Nina merona merah mendengar ucapan manis suaminya. "Mas Roni pinter gombal sekarang. Sudah ah, aku mau membersihkan diri dulu."

Gadis itu tergesa masuk ke kamar mandi belakang. Tak lama kemudian, ia kembali dengan daster rumahan yang sopan. Bergantian, Roni masuk untuk membersihkan diri.

"Nin, belum tidur?" panggil Nek Nilam pelan dari luar kamar.

Nina melangkah keluar menemuinya. "Belum, Nek. Mas Roni sedang mandi. Nenek kok belum istirahat?"

"Nenek belum ngantuk," sahut Nek Nilam lalu duduk di kursi kayu ruang tamu. Nina menyusul dan menyuguhkan sisa kue hajatan.

"Boleh saya bergabung, Nek?" Roni yang baru selesai mandi menyapa dengan ramah.

"Sini, Nak Roni. Duduklah," sambut sang nenek ramah.

Roni mendaratkan tubuhnya di samping Nina. Raut wajahnya berubah serius. "Nek, sebenarnya ada hal penting yang ingin saya sampaikan terkait rencana kami setelah ini."

Nek Nilam menyimak dengan penuh perhatian.

"Saya berniat memboyong Nina untuk tinggal di kota, bersama Ibu dan kakak saya. Biar bagaimanapun, sebagai anak laki-laki, saya punya tanggung jawab menjaga Ibu," terang Roni penuh harap.

Nek Nilam menatap Nina, menyerahkan keputusan penuh pada cucunya. "Nenek terserah Nina. Bagaimana, Nduk?"

Nina mengangguk perlahan. "Nina ikut kata Mas Roni saja. Nina ingin berbakti pada suami."

Roni bernapas lega. Ia berjanji dalam hati akan memboyong Nina besok pagi. Setelah perbincangan singkat itu, Nek Nilam pamit tidur lebih dulu. Nina dan Roni pun beranjak kembali ke kamar kecil mereka.

Ketika tubuh mereka yang lelah mulai direbahkan di atas tempat tidur...

PRAAAKKK!

"Aaaakh!" Nina menjerit kaget.

Ranjang kayu lapuk itu patah di bagian tengah, membuat Roni dan Nina guling-terguling jatuh ke lantai dalam gulungan selimut.

Keheningan melintas sejenak. Keduanya saling pandang dalam kegelapan remang, sebelum akhirnya...

"Buaaa-hahaha!"

Tawa renyah pecah di antara Roni dan Nina. Kebahagiaan sederhana meleburkan rasa canggung di antara mereka malam itu. Di kamar sebelah, Nek Nilam yang mendengar suara gaduh itu hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum bahagia.

Bab 2

Sebelum berangkat ke rumah Roni, Nek Nilam, dan sepasang suami istri baru itu duduk bersama di kursi kayu.

Mereka menikmati makanan sederhana, penuh kehangatan.

Sinar matahari pagi menerobos celah-celah ventilasi kayu rumah Nek Nilam, membiaskan garis-garis cahaya ke atas meja makan. Sepiring nasi hangat, sambal terasi, dan tumis kangkung sederhana tersaji di tengah keheningan yang menyelimuti sepasang pengantin baru dan sang nenek.

Nina mengunyah makanannya perlahan. Setiap suapan terasa begitu berharga. Kebersamaan bersama wanita tua yang merawatnya sejak kecil ini adalah sesuatu yang akan selalu dirindukannya. Meski hatinya berat untuk melangkah pergi, wejangan sang nenek semalam telah menguatkan tekadnya. Nina berjanji pada diri sendiri untuk sering berkunjung.

Namun, dahi Nina berkerut halus ketika menyadari sang nenek tak henti-hentinya tersenyum simpul sembari menikmati teh hangatnya.

"Nenek kelihatannya bahagia sekali pagi ini?" tanya Nina pelan, meletakkan sendoknya.

Nek Nilam terkekeh pelan, melirik Roni yang duduk di sebelah cucunya. "Gimana tidak bahagia, Nduk? Semalam Nenek mendengar suara gaduh sekali dari kamarmu. Seperti ada benda berat yang roboh."

Uhuk!!

Roni yang baru saja hendak menelan air putih mendadak tersedak hebat. Wajahnya merona merah padam hingga ke telinga. Dengan sigap, Nina menepuk-nepuk pelan punggung suaminya sembari menyodorkan gelas.

"Pelan-pelan, Mas," bisik Nina menahan malu.

Setelah sisa air tertelan, Roni tertawa kecil yang disusul oleh tawa canggung Nina. Nek Nilam memandangi sepasang sejoli itu dengan kerutan heran di dahinya. Di pikiran sang nenek, guncangan hebat semalam tentu diidentikkan dengan malam pengantin baru. Padahal, kenyataannya jauh dari kata romantis.

Mengingat kejadian semalam, Nina tak tahan untuk tidak tersenyum dalam hati.

Flashback Semalam

"Gimana ini, Mas? Ranjang ini roboh." bisik Nina panik, memandangi kerangka kayu yang patah terkulai di lantai.

Roni mengusap tengkuknya, lalu terkekeh menenangkan. "Tidak apa-apa. Yang penting kita tidak terluka."

Tanpa banyak mengeluh, Roni melangkah ke sudut kamar. Ia mengambil karpet kain tebal yang terlipat rapi, mengibaskannya, lalu menggelarnya di atas lantai papan. Dengan cekatan, ia menyusun dua bantal dan membentangkan selimut tipis, menyulap sudut kamar menjadi tempat peraduan darurat.

Nina tertegun memperhatikan kesigapan suaminya. Sikap tenang dan ketulusan Roni dalam menerima keterbatasan membuat rasa kagum di hatinya makin membuncah.

"Selesai! Ayo tidur, kasihan kamu pasti lelah," ajak Roni sembari menepuk-nepuk karpet yang sudah siap.

"Mas, apa Mas Roni tidak keberatan tidur di lantai? Dingin sekali," tanya Nina sungkan, menatap pria kota yang terbiasa hidup nyaman itu.

Roni tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih tangan Nina, menariknya lembut hingga wanita itu ikut berbaring di sampingnya, lalu menyelimuti tubuh mereka berdua. "Sudah malam, ayo tidur. Ada Mas di sini, tidak akan dingin."

Malam itu, di atas lantai papan yang keras dan dingin, Nina menemukan kehangatan yang tak pernah ia bayangkan. Kehadiran Roni di sisinya sudah lebih dari cukup untuk membuat tidur nyenyaknya tak terganggu.

Flashback Selesai

"Ranjang Nina roboh, Nek. Semalam itu suara dipan yang patah karena tidak kuat menahan beban kami berdua," jelas Nina dengan kekehan geli.

Nek Nilam terbelalak kaget. Rasa sungkan mendadak memenuhi dadanya. "Duh, maafkan Nenek ya, Nak Roni. Dipan kayu itu memang sudah sangat tua, peninggalan almarhum kakeknya Nina."

Roni menyenggol lengan Nina pelan dengan senyum. "Tidak apa-apa, Nek. Tidur kami tetap nyenyak. Malah terasa lebih bersatu dengan alam," kelakar Roni yang membuat suasana meja makan pecah oleh tawa hangat.

Keceriaan di meja makan tak mampu membendung mendung yang bergelayut di hati Nina saat waktu keberangkatan tiba. Tas pakaian sederhana milik Nina telah rapi di bagasi mobil.

Di ambang pintu, Nina memeluk Nek Nilam dengan derai air mata yang tak sanggup lagi ditahannya. "Nek, Nina pamit dulu. Jaga kesehatan ya, Nek. Nina janji bakal sering pulang melihat Nenek." suaranya parau, tercekik rasa sedih.

Nek Nilam merengkuh tubuh cucunya erat-erat. Ditepuk-tepuknya punggung Nina dengan jemarinya yang keriput. "Iya, Nduk. Taati suamimu. Ingat, ridho suamimu adalah surgamu sekarang. Semoga pernikahan kalian dilimpahi kebahagiaan."

Dengan berat langkah, Nina memasuki mobil. Sepanjang roda kendaraan berputar meninggalkan halaman, matanya tak lepas memandangi sosok Nek Nilam yang berdiri mematung di ambang pintu, kian lama kian mengecil hingga hilang di balik belokan jalan hutan.

Sepeninggal mobil Roni, Nek Nilam menutup pintu kayu rumahnya rapat-rapat. Dalam kesunyian rumah tua itu, tangis wanita renta itu akhirnya pecah. Ia terduduk di balik pintu, terisak pelan meratapi sepinya hari-hari yang harus ia jalani tanpa senyum cucu kesayangannya lagi.

Di dalam mobil, Roni menyadari kepedihan istrinya. Tanpa banyak mengumbar kata, ia menggenggam erat jemari Nina, mengusapnya perlahan sembari mengemudikan kendaraan dengan kecepatan sedang.

"Jangan menangis lagi ya." bisik Roni lembut.

Nina menyapu air matanya dengan ujung lengan baju, mengangguk pasrah meski hatinya dipenuhi kerinduan yang bergolak.

Perjalanan berjam-jam membawa mereka memasuki kawasan perumahan elit di tengah kota. Mata Nina menatap nanar deretan rumah megah berarsitektur modern dengan pagar besi menjulang tinggi. Perbedaan yang begitu mencolok dari desanya memunculkan rasa minder dalam dada Nina. Ia merasa bagaikan kerikil di tengah hamparan permata. Bayangan tentang keluarga Roni yang menolak hadir di pernikahan mereka makin memperberat himpitan di dadanya.

Merasakan genggaman Nina yang mendadak dingin dan gemetar, Roni makin mempererat pegangannya. "Semua akan baik-baik saja. Ada Mas di sampingmu," bisiknya menguatkan.

Mobil berhenti di pelataran rumah dua lantai bergaya minimalis. Roni melangkah mantap menuntun Nina menuju pintu utama, lalu mengetuknya.

"Assalamualaikum," ucap Roni.

Pintu terbuka lebar. Rukmini berdiri di sana dengan senyum mengembang melihat putra kesayangannya. "Roni! Anak Ibu sudah pulang."

Namun, dalam hitungan detik, senyum hangat itu lenyap tanpa sisa begitu manik matanya menangkap sosok Nina yang berdiri canggung di belakang Roni.

Dengan sopan, Nina mengulas senyum terbaiknya dan mengulurkan tangan untuk menyalami sang mertua. "Ibu."

Bukannya menyambut, Rukmini justru menarik kasar lengan Roni masuk ke dalam, membiarkan tangan Nina mengudara tanpa balasan. Hati Nina mencelos, serasa dihantam batu besar.

"Bu, tidak boleh begitu," tegur Roni setengah berbisik, mencoba melepaskan pegangan ibunya sembari melirik Nina dengan raut serba salah.

Rukmini hanya memutar bola matanya malas, melangkah pergi meninggalkan Nina yang berdiri mematung di ambang pintu.

Roni bergegas menghampiri istrinya, mengusap bahu Nina lembut. "Maafkan Ibu ya, dek. Ayo masuk."

Di ruang keluarga, tampak Ruhi sedang berbaring santai di sofa sembari menonton televisi dan mengunyah camilan. Ketika Roni dan Nina melintas, Ruhi hanya melirik dari sudut matanya, lalu mendesis pelan tanpa niat menyapa sedikit pun.

Membawa Nina ke lantai dua, Roni membuka pintu kamarnya yang luas. Ruangan itu tertata rapi dengan pencahayaan yang hangat dan aroma terapi yang menenangkan. Mereka melangkah masuk.

"Kamu suka kamarnya, dek?" tanya Roni saat melihat Nina sibuk menata pakaian dari tas kainnya ke dalam lemari kayu mahoni.

"Suka sekali, Mas. Kamarnya sangat bagus dan bersih," sahut Nina pelan, berusaha mengukir senyum walau hatinya remuk redam.

Roni mendekat, menatap dalam mata Nina. "Mas minta maaf atas sikap Ibu dan Mbak Ruhi tadi, ya. Tolong beri mereka waktu."

"Tidak apa-apa, Mas Roni. Nina mengerti," jawabnya tulus.

Malam harinya, aroma masakan lezat memenuhi ruang makan. Mbok Siti, asisten rumah tangga yang telah lama bekerja di sana, menyiapkan hidangan di atas meja. Tadi sore Nina sempat ingin membantu di dapur, namun Roni melarangnya karena ingin sang istri beristirahat.

Ketika Roni dan Nina turun menyusuri tangga menuju meja makan, Rukmini dan Ruhi sudah duduk menanti.

"Enak ya, baru datang tinggal duduk manis menyantap makanan," sindir Rukmini tajam begitu Nina menarik kursi di samping Roni. "Jangan mentang-mentang statusnya pengantin baru, lalu merasa bisa bermalas-malasan mengurung diri di kamar!"

"Bu, Roni yang melarang Nina turun tadi. Nina masih lelah perjalanan jauh," bela Roni cepat.

Ruhi meletakkan sendoknya dengan dentang keras. "Kalau sudah memutuskan tinggal di rumah ini, tidak ada alasan capek! Harus tahu diri."

Nina menunduk dalam. "Maafkan Nina, bu. Lain kali Nina yang akan menyiapkan makan malam."

Sisa makan malam berlalu dalam keheningan yang mencekam. Hanya denting alat makan yang terdengar. Begitu makanannya habis, Rukmini dan Ruhi bangkit begitu saja tanpa memindahkan piring kotor mereka.

Dengan cekatan, Nina mengumpulkan piring-piring bekas itu dan membawanya ke dapur. Di sana, Mbok Siti sedang bersiap mencuci.

"Mbok, perkenalkan, saya Nina... istrinya Mas Roni," sapa Nina ramah sembari menyingsingkan lengan bajunya. "Mari Nina bantu cuci piringnya."

Mbok Siti terkejut, bergegas menahan tangan Nina. "Eh, jangan Non Nina! Biar Mbok saja, ini kan memang tugas Mbok."

"Tidak apa-apa, Mbok. Nina sudah terbiasa kerja di dapur. Lagipula, melihat Mbok membuat Nina teringat pada Nenek di desa," tutur Nina lembut, mengulas senyum tulus yang meruntuhkan jarak di antara mereka.

Kedua wanita beda generasi itu pun mulai mengobrol hangat sembari membersihkan sisa makan malam. Kehadiran Nina yang begitu rendah hati membuat Mbok Siti merasa senang sekaligus kagum.

Namun, kehangatan kecil di dapur itu tak bertahan lama. Sebuah bayangan berdiri di ambang pintu dapur. Ruhi bersedekap dada, menatap Nina dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.

Saat Nina berbalik untuk mengambil lap kering, Ruhi mendekat. Dengan nada berbisik yang dingin dan menusuk tulang, ia berucap tepat di samping telinga Nina.

"Lihat saja, gadis kampungan. Aku akan memastikan hidupmu seperti neraka di rumah ini."

Sudut bibir Ruhi terangkat membentuk senyuman iblis, sebelum akhirnya ia berbalik meninggalkan dapur, meninggalkan Nina yang terpaku dalam suasana mencekam.

Bab 3

Beberapa bulan berlalu sejak Nina melangkahkan kaki di rumah megah itu. Namun, waktu tak jua melunakkan hati mertua dan kakak iparnya. Setiap hari selalu ada saja drama dan siksaan psikis yang dirancang rapi oleh Rukmini dan Ruhi untuk menyudutkan Nina.

Pagi itu, aroma bumbu tumisan membumbung di dapur. Nina sibuk membantu Mbok Siti menyiapkan sarapan. Di luar, langkah kaki Rukmini yang tergesa terdengar menuju meja makan, disusul teriakan melengkingnya yang memecah kesunyian pagi.

"Ngapain saja kalian di dapur?! Kenapa sampai jam segini makanan belum juga terhidang?!" bentak Rukmini dengan dada membusung gusar.

Mbok Siti yang panik bergegas keluar membawa mangkuk, menunduk dalam. "Maaf, Bu... Tadi tabung gasnya mendadak habis."

"Alasan melulu! Jangan mentang-mentang sekarang ada kawannya, Mbok jadi ikut-ikutan malas!" celetuk Ruhi yang baru turun dari tangga, melirik Nina dengan tatapan cemooh.

Nina memilih diam, menahan kepalan tangannya di balik celemek. Pagi-pagi sekali Roni sudah berangkat ke pabrik pengolahan kayu tempatnya bekerja karena ada lembur mendadak. Tanpa kehadiran Roni, keberadaan Nina di rumah itu bagaikan mangsa empuk di sarang serigala.

Nina dan Mbok Siti cekatan menyajikan seluruh hidangan di meja. Namun, baru dua langkah Nina berbalik menuju dapur...

PYAAARRR!

Mangkuk keramik berisi oseng kangkung yang masih mengepul berasap dihantamkan Rukmini ke lantai papan hingga pecah berkeping-keping.

"Siapa yang memotong kangkung ini?!" sentak Rukmini menunjuk gundukan sayur yang berserakan di tanah.

"Saya, Bu..." sahut Nina pelan, menghentikan langkahnya.

Rukmini maju mendelik tajam. "Apa kau berniat membunuhku, hah?! Lihat potongannya, terlalu panjang dan kasar! Cepat bersihkan! Aku sudah hilang selera!"

Nina menelan ludah, berlutut mengambil serpihan mangkuk dan gundukan kangkung panas itu menggunakan tangannya untuk dibuang ke tempat sampah. Namun, baru saja ia berdiri, bentakan Rukmini kembali menghentikannya.

"Mau kau bawa ke mana kangkung itu?!"

"Mau Nina buang ke belakang, Bu," jawab Nina tulus.

"Enak saja dibuang! Kau pikir beli kangkung tidak pakai uang, hah?!" Rukmini menuding wajah Nina. "Kau yang memasaknya, kau yang harus menghabiskannya!"

Nina terbelalak. "Tapi, Bu, ini sudah jatuh ke lantai kotor dan terkena pecahan beling.."

"Aku tidak peduli! Cepat makan!" bentak Rukmini tanpa belas kasihan.

Dada Nina bergemuruh hebat. Di bawah tatapan mengintimidasi sang mertua dan senyum puas Ruhi yang bersedekap dada, Nina terpaksa berlutut kembali. Dengan jemari gemetar, ia memungut helai demi helai kangkung berdebu itu dan memasukannya ke dalam mulut.

Setetes air mata hangat menetes jatuh menimpa kangkung di tangannya. 'Nenek, Nina rindu Nenek.' bisiknya menjerit dalam hati. Di balik tirai dapur, Mbok Siti menyapu air matanya sendiri, tak kuasa menyaksikan penderitaan gadis berhati emas itu.

**

Malam harinya, siksaan pagi itu membekaskan rasa sakit yang luar biasa. Perut Nina melilit hebat hingga tubuhnya menggigil di atas ranjang.

"Aduh, perutku sakit sekali." keluh Nina meremas jemarinya.

Roni yang baru selesai mandi bergegas mengikis jarak, mengusap dahi istrinya yang membasah oleh keringat dingin. "Kamu kenapa, Dek?"

Nina menggeleng pelan, enggan membeberkan kehinaan yang dialaminya pagi tadi. "Mungkin salah makan, Mas. Oh iya, bolehkah aku bicara sesuatu?"

"Bicara saja dek," sahut Roni sembari menggenggam erat tangan Nina.

"Aku mau kita pindah rumah saja, Mas," bisik Nina menatap manik mata suaminya dengan tatapan memohon.

Roni tertegun. Melihat raut ketakutan di wajah Nina, ia tak perlu bertanya lebih lanjut untuk tahu apa yang terjadi selama ia pergi bekerja. Roni menghela napas berat, dipeluknya sang istri rapat-rapat.

"Bukan Mas tidak mau. Tapi berikan Mas waktu sampai Mbak Ruhi menikah bulan depan. Mas janji, setelah Mbak Ruhi dipersunting orang, kita akan langsung keluar dari rumah ini," bisik Roni.

Mendengar janji suaminya, Nina hanya bisa pasrah mengangguk.

*

Waktu berlalu bagai kedipan mata. Hari yang dinanti Ruhi pun tiba. Pesta pernikahan megah digelar di kediaman Rukmini. Seluruh penjuru rumah disulap menjadi bangsal pengantin berdekorasi serba biru yang mewah.

"Ron, ini seragam untuk acara besok," Ruhi menyodorkan sebuah kantong plastik pada Roni.

Roni merengkuh kantong tersebut, namun dahinya berkerut saat mendapati isinya. "Kok cuma satu stel, Mbak? Untuk Nina mana?"

"Kainnya tidak cukup!" sahut Ruhi acuh tak acuh sembari memoles kukunya. "Yang penting dia pakai baju warna senada saja, tidak usah aneh-aneh!"

Roni mengepalkan tangan menahan amarah. Demi menjaga perasaan istrinya, malam itu Roni memutuskan untuk menolak mengenakan seragam keluarga tersebut dan memilih memakai kemeja biasa yang senada dengan gaun pudar milik Nina.

Saat rombongan pengantin pria tiba dalam deretan enam mobil mewah, sorak-sorai tetangga membumbung tinggi. Ruhi resmi dipersunting oleh Herman, seorang pria berpenampilan rapi yang mengklaim bekerja sebagai agen properti sukses.

Sepanjang acara akad dan pesta yang meriah, Nina sama sekali tak diperbolehkan menampakkan diri di ruang tamu. Rukmini menyuruhnya mengurung diri di dapur membantu Mbok Siti mencuci tumpukan piring kotor.

Baru ketika larut malam tiba dan para tamu melangkah pulang, rumah kembali lengang. Nina meluruskan kakinya yang pegal di tepi ranjang saat Roni masuk.

"Maafkan keluarga Mas ya. Semoga suatu hari hati Ibu terbuka," bisik Roni lembut sembari mengusap kepala istrinya. Nina hanya mengulas senyum tipis, lalu memejamkan mata karena kelelahan yang luar biasa.

Keesokan harinya, aroma racikan rempah kembali menyeruak dari dapur. Herman yang baru bangun melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air dingin.

"Ada yang ketinggalan, Mbok?" tanya Nina tanpa menoleh, mengira itu Mbok Siti yang baru saja pamit ke warung.

"Ehem."

Nina terkejut. Ia membalikkan badan dan mendapati Herman, kakak ipar barunya sedang berdiri bersandar di pintu dapur, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang tak biasa.

"Kau, istrinya Roni, ya?" tanya Herman, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang membuat bulu kuduk Nina berdiri.

"Iya, Mas," sahut Nina singkat, bergegas menundukkan pandangannya.

"Cantik juga," gumam Herman pelan sebelum akhirnya berlalu.

Di meja makan, seluruh anggota keluarga berkumpul menyantap sarapan hidangan Nina. Herman menyendokkan lauk ke piringnya, lalu mengunyahnya perlahan.

"Masakan ini enak sekali," puji Herman tiba-tiba.

Ruhi yang sedang mengunyah langsung menghentikan gerakannya, wajahnya ditekuk kesal. "Aku juga bisa memasak yang jauh lebih enak dari itu!"

"Betul kata Ruhi. Anak Ibu ini jago memasak," timpal Rukmini membela anak kesayangannya, meski Mbok Siti di balik tembok dapur hanya bisa menggelengkan kepala mengetahui Ruhi tak pernah menyentuh kompor.

Di tengah keheningan sarapan, Roni mendadak meletakkan sendok dan garpunya. Ia menatap ibu dan kakaknya dengan raut wajah mantap.

"Bu, Mbak. Ada hal penting yang mau Roni sampaikan sebelum Roni berangkat kerja," ujar Roni memecah suasana.

"Ada apa, Ron?" tanya Rukmini acuh.

"Roni dan Nina memutuskan untuk pindah dari rumah ini mulai besok."

PRANG!

Rukmini tersentak kaget. "Apa-apaan kamu, Ron?!"

"Apa maksudmu, Ron?!" seru Ruhi ikut meradang.

"Aku sudah berjanji pada Nina, setelah Mbak Ruhi menikah, kami akan mandiri," tegas Roni tanpa ragu.

"Mau pindah ke mana kamu?! Daripada uangmu habis dibuang-buang untuk bayar kontrakan demi menuruti wanita itu, lebih baik uangnya kamu serahkan pada Ibu!" cecar Rukmini dengan mata mendelik.

Roni menggeleng tenang. "Kami tidak akan menyewa kontrakan, Bu. Kami akan pulang dan menetap di rumah Nek Nilam di desa."

"APA?!" pekik Rukmini dan Ruhi serempak, suara mereka menggelegar memenuhi ruang makan.

Nina yang mendengar pernyataan suaminya pun ikut terhenyak. Roni tak pernah membicarakan rencana kepindahan mereka ke desa Nina.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!