Indonesia
NovelToon NovelToon

Dari Benci Menjadi Bucin

Episode 1.Pertemuan yang Tak Menyenangkan

Matahari pagi menyelinap masuk lewat celah jendela kelas sebelah, membawa cahaya keemasan yang seharusnya membuat suasana pagi terasa hangat dan menyenangkan. Namun bagi Anisa, pagi itu justru terasa berat dan penuh ketegangan. Napasnya sedikit tertahan saat melangkah masuk ke dalam kelas XI-2, tempat di mana ia akan menghabiskan waktu belajarnya untuk satu tahun ke depan. Suara riuh rendah tawa dan obrolan teman-teman sekelas menyambut kedatangannya, membuat suasana kelas terasa ramai dan hidup. Anisa menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu melangkah menuju bangku kosong di barisan tengah yang tampak masih sepi. Ia meletakkan tas punggungnya dengan perlahan di atas meja, lalu duduk sambil menyisir rambut hitam panjangnya ke belakang, berharap hari itu akan berjalan tenang tanpa gangguan apa pun. Namun, harapan itu seketika hancur berantakan begitu sosok seseorang melintas di hadapannya dengan langkah yang tegap dan penuh wibawa.

Itu adalah Kenzo.

Lelaki itu melangkah masuk seolah seluruh ruangan adalah miliknya. Bahu yang bidang, tatapan mata yang tajam dan dingin menyapu seluruh penjuru kelas, dengan raut wajah yang terlihat kaku seakan tak pernah tersenyum sedikit pun. Seragam sekolah yang dikenakannya tampak sangat rapi, kancing kemeja tertutup rapat hingga ke leher, lengan digulung rapi hingga sedikit melewati siku, dan ikat pinggang yang terpasang tegak sesuai aturan yang berlaku. Langkah kakinya terdengar tegas menyentuh lantai keramik, seketika membuat suara riuh di dalam kelas perlahan mereda. Beberapa siswi yang melihatnya saling berbisik sambil menahan senyum, namun Anisa sama sekali tak ikut terpukau oleh penampilan ataupun ketampanannya. Justru, ada perasaan tak suka yang langsung menyelinap di hatinya sejak pertama kali mata mereka saling bertatapan sesaat sebelumnya. Terutama saat Kenzo berhenti tepat di sebelah mejanya, menatap lurus ke arahnya dengan tatapan yang terasa menilai dan sedikit merendahkan.

"Pindah," ucap Kenzo tiba-tiba. Suaranya terdengar rendah namun tegas, seakan itu adalah sebuah perintah yang tak boleh dibantah sama sekali.

Anisa mengernyitkan dahi, merasa heran sekaligus kesal mendengar permintaan sepihak itu. Ia menatap balik tajam ke arah lelaki itu, tak mau kalah. "Maksudmu? Ini kan bangku kosong. Aku duluan yang duduk di sini," jawab Anisa dengan nada suara yang tenang namun penuh keberanian, sama sekali tak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

Kenzo mendengus pelan, lalu menunjuk sebuah pita kecil bertuliskan nama yang masih tertempel di sisi samping meja sebelahnya. "Bangku sebelahku sudah ada pemiliknya. Dan aku tidak suka duduk berdampingan dengan orang yang datang seenaknya tanpa memperhatikan aturan," ujarnya dengan nada dingin dan penuh penekanan, seakan menegaskan bahwa Anisa-lah yang salah dalam hal ini. Padahal pita nama itu sangat kecil dan nyaris tak terlihat, sehingga wajar saja jika Anisa tak menyadarinya.

Rasa kesal mulai merambat naik ke dada Anisa. Bagaimana bisa lelaki yang baru pertama kali ia temui sudah berbicara dengan nada setinggi itu seakan-akan ia adalah kepala sekolah atau penguasa di kelas ini? Padahal belum tentu dia lebih tahu segala hal dibanding dirinya. Anisa berdiri perlahan, menatap lurus ke dalam mata Kenzo tanpa berpaling sedikit pun. "Kalau begitu, tunjukkan sejak tadi saja dengan baik-baik. Bukan langsung menyuruh pindah seakan aku ini pelesir. Belajar bicara yang sopan sedikitlah," balasnya tajam, membuat beberapa siswa yang berada tak jauh dari sana menahan napas dan saling berpandangan satu sama lain. Tak ada yang menyangka ada siswi yang berani menantang Kenzo sedemikian rupa sejak hari pertama masuk sekolah.

Wajah Kenzo sedikit berubah tegang. Sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum miring yang justru terasa lebih menakutkan daripada saat ia diam saja. "Kamu pikir siapa dirimu? Baru masuk saja sudah berani menantang? Aku ini ketua kelas di sini, dan aku memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai tertib," ucap Kenzo dengan nada yang semakin dingin, seakan tak terbiasa diperlakukan demikian oleh siapa pun.

"Ketua kelas saja baru saja terpilih atau ditunjuk, sudah berlagak seperti penguasa mutlak. Aturan dibuat untuk memudahkan semua orang, bukan untuk dipergunakan guna menindas atau menyuruh-nyuruh sesuka hati," balas Anisa tak mau kalah. Ia pun tak bergeming meskipun merasakan suasana di sekitarnya mulai terasa menegang. "Jika memang bangku itu sudah ada pemiliknya, sampaikanlah dengan cara yang pantas. Bukan dengan nada memerintah seakan aku pelayanmu."

Pertemuan pertama mereka di pagi itu pun berakhir dengan ketegangan yang melanda seisi kelas. Kenzo akhirnya memilih untuk diam dan duduk di bangku lain yang masih kosong, namun tatapan matanya yang tajam terus mengarah ke Anisa sesekali seakan menyimpan rasa tak suka yang mendalam. Begitu juga sebaliknya, di dalam hati Anisa pun merasa tak akan pernah bisa akur dengan lelaki yang sombong, kaku, dan terlalu menganggap dirinya benar seperti Kenzo. Di dalam hatinya, Anisa bertekad: sejak hari itu, ia akan selalu bersiap untuk menentang setiap perkataan maupun perbuatan Kenzo yang menurutnya berlebihan dan tidak pantas. Dan sepertinya, hal itu pun dirasakan hal yang sama oleh Kenzo. Sejak pertemuan yang penuh pertengkaran itu, keduanya saling menyimpan rasa tak suka satu sama lain, seakan tak ada jalan lain selain terus berselisih setiap kali mata mereka saling berpapasan. Pertemuan pertama itu benar-benar menjadi awal yang tak menyenangkan bagi mereka berdua.

 

BERSAMBUNG....

Episode 2.Satu Kelas, Satu Masalah

Suasana pagi itu di dalam kelas XI-2 terasa masih menyisakan ketegangan sisa pertemuan kemarin. Matahari pagi bersinar terang menembus jendela kaca, menyinari ruangan yang kini mulai dipenuhi siswa satu per satu. Namun bagi Anisa, cahaya hangat itu seolah tak mampu menyentuh hatinya yang masih terasa panas mengingat kejadian kemarin. Setiap kali bayangan wajah Kenzo terlintas di benaknya, rasa kesal kembali membuncah—lelaki itu dengan nada bicaranya yang tinggi, tatapan yang menilai, dan sikap seakan dialah penguasa mutlak di kelas ini. "Sombong sekali dia," gumam Anisa pelan pada dirinya sendiri sambil menata buku pelajaran di atas meja, berusaha melupakan rasa tak nyaman itu. Sayangnya, takdir seakan mendengar keluhannya dan justru memberikan kenyataan yang tak diinginkannya sama sekali.

Pintu kelas terbuka lebar, dan langkah tegap yang dikenalnya itu terdengar kembali. Kenzo melangkah masuk dengan raut wajah yang tetap kaku, seragam rapi tanpa selembar pun berantakan, tatapan matanya menyapu seisi kelas sejenak sebelum berhenti tepat di satu titik—meja tempat Anisa duduk. Kali ini tatapan itu terasa lebih tajam, seakan ada ujung jarum yang menusuk pelan. Anisa menegakkan bahu, menatap balik tanpa rasa takut, menolak untuk terlihat ciut sekalipun. Ia tak akan membiarkan siapa pun, termasuk lelaki itu, membuatnya merasa salah padahal ia tidak bersalah.

Tak lama kemudian, wali kelas masuk dan membuka daftar nama penempatan kursi. Saat nama Kenzo disebut sebagai ketua kelas sekaligus penanggung jawab ketertiban, Anisa menelan ludah. Namun detik berikutnya, napasnya tertahan.

"Anisa, letak kursinya tepat di sebelah Kenzo. Saling melengkapi ya dalam belajar," ujar Bu Guru dengan senyum ramah, tak menyadari badai yang seketika meledak di antara dua anak manusia itu.

Anisa terpaku. Matanya melirik tak percaya ke arah Kenzo, dan tepat saat itu Kenzo pun menoleh padanya. Tatapan mereka bertemu sejenak—saling berisi kekesalan, keterpaksaan, dan seakan sama-sama berkata: "Kenapa harus dia?"

Kenzo berjalan mendekat ke meja baris tengah itu, berhenti tepat di sisi meja sebelah Anisa, lalu meletakkan tasnya dengan gerakan tenang namun terasa berat maknanya. Suara buku yang diletakkan terdengar cukup jelas, seakan menjadi penanda bahwa kenyataan pahit ini tak bisa lagi dihindari.

"Jadi ternyata," ucap Kenzo memecah keheningan, suaranya rendah namun terdengar dingin di telinga Anisa, "kamu memang akan duduk di sebelahku. Sepertinya kemarin pita nama itu belum cukup membuatmu paham aturan di sini."

Anisa berdiri dari duduknya, menatap lurus ke arah mata Kenzo. "Dan sepertinya kamu belum paham satu hal, Kenzo," balasnya tak mau kalah, nada bicaranya tenang namun tajam. "Aku tidak bermaksud melanggar aturan. Tapi kalau aturan itu disampaikan dengan sikap angkuh dan nada memerintah, tentu saja orang akan menolak. Termasuk aku."

Kenzo menyilangkan tangan di dada, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum miring yang penuh penilaian. "Jadi maksudmu, selama kita duduk berdampingan, aku harus mulai melatih kesabaran menghadapi seseorang yang merasa selalu benar seperti kamu?"

"Sebaliknya," sahut Anisa cepat, "aku justru khawatir kamulah yang akan kesulitan bersabar. Karena aku tidak akan diam saja melihat sikapmu yang seakan kamu paling tinggi dan paling berkuasa di sini. Kita satu kelas, Kenzo. Setara. Bukan atasan dan bawahan."

Suasana di sekitar mereka seketika terasa hening. Beberapa teman sekelas yang lewat tak berani bersuara, hanya melirik pelan seakan menyaksikan pertarungan yang baru saja dimulai. Di meja sebelah, ada yang berbisik pelan, "Wah, baru saja duduk sebelah sudah berdebat ya..."

Kenzo terdiam sesaat, menatap wajah Anisa lekat-lekat seakan ingin mencari sesuatu di sana. Namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang berani menatap balik, tak bergeming sedikit pun. Tak ada keraguan, tak ada rasa takut. Justru ketegasan itu yang membuat Kenzo merasa semakin tidak nyaman. Selama ini jarang ada orang yang berani menentang perkataannya, apalagi sejak hari pertama bertemu. Dan gadis di hadapannya ini justru melakukannya dengan sangat tenang.

"Baiklah kalau begitu," ucap Kenzo akhirnya, suaranya terdengar tegas dan berisi ancaman halus. "Kita lihat saja siapa yang akan lebih banyak kesulitan nantinya. Aku berharap kamu tidak akan menjadi masalah baru di sebelah mejaku. Karena kalau sampai kamu melanggar aturan atau mengganggu ketertiban, jangan harap aku akan bersikap lunak hanya karena kamu perempuan."

Anisa tersenyum tipis, senyum yang justru membuat Kenzo merasa semakin tertantang. "Tenang saja. Aku taat aturan selama aturan itu adil. Tapi kalau ada yang merasa jadi penguasa dan memperlakukan orang lain semena-mena... jangan kaget kalau aku akan selalu berdiri di hadapanmu."

Pertemuan itu pun berakhir dengan keheningan yang penuh ketegangan. Kenzo duduk di kursinya dengan wajah tegang, membuka buku pelajaran tanpa menoleh lagi ke arah Anisa. Begitu juga Anisa, duduk kembali dengan perasaan yang campur aduk—antara kesal, kesabarannya yang mulai diuji, dan satu kenyataan pahit yang kini harus ia terima:

Mulai hari ini, mereka tidak hanya satu kelas. Mereka juga duduk berdampingan, setiap hari, dari pagi hingga bel pulang berbunyi. Bagi Anisa, keberadaan Kenzo di sebelahnya bukan sekadar teman sebangku. Melainkan satu masalah besar yang harus ia hadapi setiap hari. Dan sepertinya, perang pendapat di antara mereka baru saja dimulai.

 BERSAMBUNG...

Episode 3.Kata "Benci" Terucap Lagi

Jam pelajaran berlangsung dengan suasana yang penuh ketegangan tak kasatmata. Di sepanjang waktu itu, Anisa berusaha sebaik mungkin untuk fokus pada penjelasan guru di depan, berusaha mengabaikan keberadaan sosok di sebelahnya yang terasa begitu mengganggu meski tak bersuara. Namun, setiap gerakan kecil Kenzo—saat ia menegakkan punggung, membalik halaman buku dengan bunyi yang terdengar sengaja, atau sekadar melirik ke samping dengan tatapan yang terasa menilai—selalu berhasil membuat emosi Anisa perlahan naik mendidih. Kenzo seakan berusaha menampakkan betapa sempurnanya dirinya, seakan ingin terus-menerus mengingatkan Anisa siapa yang memegang kendali di kelas ini.

Bel istirahat akhirnya berbunyi. Siswa-siswi lain segera berhamburan keluar kelas atau berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil sambil tertawa riang. Hanya Anisa dan Kenzo yang masih tetap di tempatnya, duduk berdiri tegak dengan jarak yang nyaris tak berjarak, namun terasa begitu jauh dan dingin. Anisa merapikan buku-bukunya dengan gerakan yang sedikit kasar, tak mampu lagi menahan kekesalan yang memuncak di dadanya. Setiap kali ia bergerak, bahunya nyaris menyentuh bahu Kenzo, dan setiap kali itu pula, Kenzo akan menggeser kursinya sedikit sambil mendengus pelan—seakan keberadaan Anisa saja sudah cukup untuk mencemari ruang di sebelahnya. Gerakan kecil yang terkesan meremehkan itu akhirnya menjadi tetesan air yang membuat gelas itu meluap.

"Bisakah kamu tidak bersikap seakan keberadaanku ini sampah?" ucap Anisa tiba-tiba memecah keheningan. Suaranya terdengar bergetar, bukan karena takut, melainkan karena menahan amarah yang sudah lama tertahan sejak pagi tadi. Ia berbalik menghadap Kenzo, menatap tajam sepasang mata yang selama ini terasa begitu dingin padanya. "Aku tahu kamu ketua kelas, tahu kamu merasa paling patuh aturan. Tapi bisakah kamu tidak terlalu berlebihan? Sikapmu yang terus-menerus seakan aku adalah beban atau kesalahan terbesar dalam hidupmu itu sungguh tidak sopan!"

Kenzo pun berdiri perlahan, menatap balik dengan tatapan yang tak kalah tajam. Ia melipat kedua tangannya di dada, menyudutkan Anisa dengan kehadirannya yang terasa mendominasi. "Lantas kamu sendiri bagaimana?" balasnya dengan nada rendah namun penuh ketajaman. "Kamu terus-menerus menantang setiap perkataanku, mempertanyakan segala hal yang sudah menjadi ketertiban di sini. Kamu datang seakan-akan semua aturan yang ada salah, dan kamulah yang paling benar. Apakah kamu sadar betapa menyebalkannya sikap seperti itu?"

"Aku menyampaikan apa yang menurutku adil dan benar!" bantah Anisa tak mau mengalah. Dadanya naik turun menahan emosi. "Bukan berarti aku ingin melawan. Tapi kalau ada yang merasa lebih tinggi dari langit dan memperlakukan orang lain seakan di bawah kakinya... tentu saja aku akan bicara! Aku tidak bisa diam saja melihat kesombongan seperti dirimu!"

"Kamu menyebutku sombong?" Kenzo tersenyum miring, senyum yang sama sekali tak menyiratkan kehangatan, justru semakin membakar kemarahan di dada Anisa. "Itu karena kamu tak terbiasa diatur dan diberi batasan. Kamu hanya ingin bebas melakukan apa saja sesuka hatimu tanpa peduli pada ketertiban orang lain. Kamu ini... sungguh menyebalkan, Anisa."

Kata-kata itu meluncur begitu saja, dan suasana seketika menjadi sunyi senyap. Anisa merasakan hatinya tertusuk perih. Menyebalkan? Demi apa? Ia hanya membela dirinya dan menolak diperlakukan semena-mena. Matanya berkaca-kaca, namun ia tak akan membiarkan air mata itu jatuh di hadapan lelaki sombong seperti Kenzo. Ia menegakkan kepalanya lebih tinggi, menatap lurus ke manik mata Kenzo yang seakan tak memiliki sedikit pun rasa iba.

"Baiklah kalau begitu," ucap Anisa dengan suara yang bergetar namun tegas. "Kalau keberadaanku begitu mengganggumu, kalau menurutmu aku menyebalkan... maka ketahuilah. Aku benci padamu, Kenzo. Sejak pertama kali kita bertemu, hingga saat ini, rasanya semakin kuat saja. Aku sangat membencimu!"

Kenisa terdiam sesaat. Kata itu melayang di udara, berat dan penuh makna. Ia menatap wajah Anisa—mata yang menyala penuh kemarahan, pipi yang merona merah menahan emosi, bibir yang terkatup rapat menyimpan kesungguhan. Sesaat ada perubahan kecil di tatapan mata Kenzo, seakan ada sesuatu yang berkilat dan hilang seketika. Namun secepat itu pula, ia kembali menampilkan wajah dingin dan tak tergoyahkan. Sudut bibirnya terangkat sedikit, namun kali ini tanpa senyum yang biasa ia perlihatkan.

"Bagus," jawab Kenzo singkat dan dingin. "Kalau begitu, kita sependapat. Aku juga benci padamu, Anisa. Lebih dari yang kamu kira."

Kata itu terucap lagi. Saling melempar, saling menegaskan, seakan menjadi janji tak tertulis di antara mereka. Tak ada yang mau mundur, tak ada yang mau mengalah. Kenzo meraih tasnya dengan kasar, lalu berjalan meninggalkan kelas tanpa menoleh lagi ke belakang. Langkah kakinya terdengar berat, seakan membawa kemarahan yang sama besarnya dengan milik Anisa.

Anisa terdiam di tempatnya, membiarkan tubuhnya perlahan terkulai di kursi. Dadanya terasa sesak. Kata "benci" itu begitu mudahnya terucap dari bibir mereka berdua, begitu tegas dan tak terbantahkan. Namun aneh... mengapa hatinya terasa begitu perih mendengar kata itu keluar dari mulut Kenzo? Padahal ia yang pertama kali mengucapkannya. Anisa memeluk kedua lengannya ke dada, menatap punggung Kenzo yang perlahan menghilang di ambang pintu, lalu bergumam lirih pada dirinya sendiri—sekaligus menegaskan kembali agar tak menyesali perkataannya tadi.

Ya. Benci. Memang harus begitu. Semoga rasa ini tak pernah berubah selamanya.

Namun di sudut hati yang paling dalam, entah mengapa... ada rasa tak menentu yang menyelinap pelan, seakan memberitahukan bahwa kata "benci" yang baru saja mereka ucapkan dengan penuh kemarahan itu, kelak mungkin akan menjadi kata yang justru menyatukan mereka dalam kisah yang jauh lebih rumit.

BERSAMBUNG...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!