Indonesia
NovelToon NovelToon

Falling In Love With My Ex Wife

ketukan palu hakim

Suasana ruang sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan terasa hening, hanya terdengar suara dengungan kipas angin langit-langit yang berputar pelan, dan detak jam dinding yang seolah menghitung detik-detik berakhirnya sebuah ikatan yang sempat diharapkan abadi.

Di kursi penggugat, Seraphina Anastasya meremas ujung blouse krem yang ia pakai, jemarinya dingin meski keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

Di seberang meja, Dikta Rey Ibrahim duduk tegak, tatapannya kosong menatap lantai ubin putih yang mengkilap, seolah tak sanggup menatap wajah perempuan yang selama dua tahun ini sah menjadi istrinya namun tak pernah benar-benar menjadi pendamping hidupnya.

Hakim yang duduk di kursi kehormatan menatap keduanya dengan pandangan penuh pengertian namun tegas.

Setelah mendengar seluruh keterangan, saksi, serta upaya perdamaian yang tak kunjung membuahkan hasil selama berbulan-bulan, ia menarik napas panjang.

Krak!

Satu ketukan palu yang tegas namun tak berlebihan menggema di seluruh ruangan.

"Demi Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sidang ini memutuskan sah perceraian antara Saudara Dikta Rey Ibrahim dan Saudari Seraphina Anastasya. Ikatan pernikahan yang telah berlangsung selama dua tahun ini putus karena talak satu suami, terhitung mulai hari ini, detik ini juga," ucap hakim dengan suara yang tenang namun pasti.

Seraphina merasakan lututnya melemas.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, bukan karena tangis kehilangan cinta yang mendalam tapi karena sejak awal mereka berdua tahu, pernikahan itu hanyalah persetujuan orang tua yang memaksakan dua hati yang tak saling mengisi, melainkan rasa lega yang bercampur sedih.

Dua tahun yang penuh kekosongan, tinggal dalam satu atap namun bagaikan orang asing yang berbagi jalan, hingga akhirnya usai. Cinta suami yang tak pernah dia dapatkan karena dihati Dikta telah dihuni oleh nama perempuan lain.

Dikta mengangkat wajahnya perlahan.

Matanya bertemu dengan mata Seraphina sejenak.

Tak ada amarah, tak ada dendam. Hanya ada rasa bersalah yang mendalam di hati laki-laki itu karena tak bisa memberikan apa yang pantas diterima oleh perempuan sebaik Seraphina.

Ia bangkit berdiri, lalu membungkuk sedikit dengan sopan.

"Maafkan aku, Seraphina. Aku tak pernah bisa menjadi suami yang kau butuhkan," ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan emosi.

Seraphina mengusap air matanya, mencoba tersenyum walau terasa getir. "Aku juga minta maaf, Dikta. Mungkin memang takdir kita hanya sampai di sini. Semoga kelak kau berbahagia bersama Delara dan aku pun bisa menemukan jalan bahagiaku sendiri."

Dan entah kenapa ketika Sera mengucapkan kalimat tersebut, ada rasa tak rela dihati Dikta.

Dibelakang Dikta, ibu mertua terus saja menangis tak rela jika menantu sebaik Sera kini bukan lagi bagian keluarga mereka.

"Sera... Mama minta maaf jika selama mama jadi mertua kamu, mama pernah buat salah... " tangis Gina pecah sudah.

"Mama jangan ngomong gitu... Mama adalah mama mertua yang paling baik yang pernah Sera miliki... Mama mengajarkan banyak hal pada Sera yang selama ini tak pernah merasakan kasih seorang ibu.. Sera yang harusnya minta maaf jika selama Sera jadi menantu, Sera banyak kurangnya... Maafkan Sera ma, pa... Adel... Maafkan kakak ya..." ucap Sera kepada keluarga Dikta.

Adel, adik perempuan Dikta yang berusia 15 tahun itu terus saja menangis tersedu-sedu. Dia bahkan sengaja izin bolos sekolah hanya karena ingin melihat langsung proses ketuk palu Sera dan Dikta.

"Kak Sera adalah kakak yang baik... Cuma laki-laki b*go yang telah menyia-nyiakan kakak... Adel berdoa, kelak kakak dapat laki-laki yang baik, yang cintanya besar untuk kak Sera dan tak pernah selingkuh sama ondel-ondel Kemayoran" kalimat sindiran cukup membuat Dikta memandang tajam kepada adiknya.

Sera hanya bisa meringis.

Bukan rahasia umum di keluarga Ibrahim jika putra sulung mereka masih menjalin hubungan dengan kekasihnya meski dirinya sudah menikah.

bersambung....

bukan akhir

Angin sore berhembus pelan menyapa wajah Seraphina saat ia melangkah keluar dari gerbang Pengadilan Agama Jakarta Selatan.

Sepucuk surat keputusan perceraian itu digenggamnya erat di dalam tas, bukan sebagai tanda kekalahan, melainkan bukti bahwa ia telah berani melangkah melepaskan apa yang tak pernah menjadi milik hatinya sepenuhnya.

Dua tahun yang ia habiskan dalam ikatan yang hampa, sempat membuatnya melupakan cita-cita yang dulu ia ukir begitu indah.

"Ayah... Sera mau jalan-jalan dulu, ayah pulanglah" ucap Sera kepada ayahnya yang menemani di pengadilan.

Herman mengangguk kecil.

Menepuk pelan bahu putrinya dan membiarkan Sera berjalan seorang diri menuju jalan besar.

Hela nafas berat Herman tumpahkan lewat tatapan nanar pada putri tunggalnya.

Rasa bersalah itu masih menghantam dadanya.

"Pak... Kita mau tunggu mbak Sera?" tanya Budi, supir Herman.

"Kita kembali ke rumah Bud... Biarkan Sera sendiri dulu... Dia pasti pulang jika sudah tenang..."

Budi membuka pintu mobil dan membiarkan tuannya duduk di kursi penumpang.

...****************...

Duduk di bangku taman kota, Seraphina merogoh selembar foto lama dari dompetnya. Di sana, ia tersenyum lebar mengenakan seragam almamater universitas, bersama tumpukan buku tebal yang menjadi saksi ambisinya.

Dulu, ia terpaksa menghentikan segala sesuatu saat pernikahan itu diputuskan.

Kata orang, menjadi istri adalah segalanya, sehingga ia menyingkirkan mimpinya ke sudut paling gelap, berharap pernikahan itu akan menjadi pengganti segalanya. Namun kenyataan berkata lain.

"Perceraian ini bukanlah akhir," bisiknya pada angin, seolah meyakinkan dirinya sendiri. "Ini adalah awal bagi aku untuk kembali menjadi diriku sendiri."

Sera tersenyum kecil.

Sesuatu sudah dia putuskan.

Malam hari, di kamarnya yang sederhana penuh hiasan dan ornamen berwarna perpaduan blue ice dan cream, Seraphina membuka kembali berkas-berkas akademik yang sudah berdebu dari lemari di pojok kamarnya.

Ia mengecek jadwal pendaftaran ulang, menghubungi dosen pembimbingnya, dan menyusun rencana belajar yang sempat terputus. Ada rasa takut, apakah ia sudah terlambat? Apakah ia sanggup mengejar ketertinggalan? Namun setiap kali keraguan itu datang, ia teringat ketukan palu hakim tadi siang, bunyi yang membebaskan.

"Ser... Makan dulu.. Sejak siang, kau belum makan... Nanti kau sakit" ucap Herman, ayah Seraphina yang berdiri diambang pintu.

"Nanti yah... Aku lagi susun jadwal. Besok, aku mau ke kampus lagi... Aku mau lanjutin kuliahku yang tertunda" sahut Sera bersemangat tanpa menoleh pada Herman yang masih berdiri didepan pintu.

Herman melangkah masuk kedalam kamar putrinya.

Rasa bersalah menyelimuti ruang hatinya.

Tangan kasarnya membelai kepala putri tunggalnya hingga membuat Sera tersentak.

Wajah Sera terangkat menatap Herman.

Mata pria paruh baya itu nampak berkaca-kaca.

"Ayah minta maaf.... Karena ayah, kau jadi mengorbankan cita-cita mu... Ayah egois karena tak pernah bertanya pendapat mu lebih dulu... Kami hanya berpegang pada janji kami sendiri tanpa memikirkan perasaan kalian.. Maafkan ayah nak... " tangis Herman pecah juga.

Sera tak berucap apa-apa, hanya diam terpaku ditempatnya.

Jujur, ini masih begitu menyakitkan baginya namun terlalu larut dalam penyesalan juga tak ada artinya dan takkan mengubah apapun.

Jalani saja, itu pikirnya.

...****************...

Keesokan harinya, saat ia melangkah masuk kembali ke lorong fakultas yang dulu sering ia lalui, rasanya seperti pulang ke rumah yang sempat ditinggalkan lama.

Beberapa teman lama yang tahu tentang pernikahannya, menyapa dengan pandangan iba, namun Seraphina menyambutnya dengan senyuman yang lebih tegar dari sebelumnya.

"Aku pikir aku sudah kehilangan semuanya," ucapnya pelan saat duduk di perpustakaan, membuka buku yang sama persis dengan yang dulu ia tinggalkan di tengah halaman. "Ternyata aku hanya kehilangan waktu. Dan waktu itu akan kukejar kembali."

Perceraian dengan Dikta Rey Ibrahim memang mengakhiri statusnya sebagai seorang istri, namun hal itu membuka jalan baginya untuk kembali menjadi Seraphina Anastasya yang bercita-cita tinggi.

Ia tahu perjalanan ini tak akan mudah. Ada rasa malu, ada pandangan remeh dan cemooh dari orang-orang, ada kenangan yang sesekali menyelinap.

Namun untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, hatinya terasa ringan. Ia tak lagi hidup dalam bayang-bayang pernikahan yang tak memiliki cinta. Ia tak lagi was-was jika terus membayangkan Dikta bermesraan dengan kekasihnya.

Kini, Sera hidup untuk dirinya sendiri, untuk mimpinya, dan untuk masa depan yang kini mulai ia rajut kembali dengan harapan yang baru.

bersambung....

kesunyian

Jika Sera telah bangkit dan kembali merajut mimpinya, berbeda dengan Dikta.

Lima bulan pasca perceraian dengan Sera, Dikta merasakan sesuatu yang hilang dalam dirinya.

Rumah yang dulu dia dan Sera tempati kini terasa lebih luas dari biasanya.

Tidak ada lagi suara deru air saat Seraphina mencuci piring di dapur, tidak ada lagi aroma teh manis hangat yang tergeletak di meja kerja setiap kali ia pulang larut malam, dan tidak ada lagi sosok yang selalu menundukkan pandangannya setiap kali Dikta pulang dengan wajah lelah.

Dikta Rey Ibrahim berdiri di tengah ruang tamu yang sunyi, tangannya meremas secarik kertas salinan putusan pengadilan yang terus dia baca sejak putusan itu ditetapkan.

Dulu, ia mengira perpisahan ini akan memberinya kebebasan.

Bahwa ia akan kembali seperti sedia kala, laki-laki yang bebas pergi ke mana saja, tanpa ikatan yang terasa seperti rantai yang mengikat kedua belah pihak. Bebas menjalin hubungan dengan Delara, namun kenyataan berkata lain. Kebebasan yang ia harapkan justru datang membawa kesepian yang asing.

Hari-hari Dikta berjalan kaku.

Ia kembali tenggelam dalam tumpukan berkas pekerjaan, menambah jam kerjanya hingga larut, berharap lelah dapat menutupi kekosongan yang perlahan merayap di hatinya.

Namun setiap kali ia berhenti sejenak, bayangan wajah Seraphina hadir, bukan dengan amarah, melainkan dengan senyum tipis yang selalu ia berikan walau sering kali tak dibalas.

...****************...

Malam itu, hujan turun deras membasahi Jakarta. Dikta duduk di teras belakang tempat favorit Sera, menatap butiran air yang jatuh ke tanaman hias yang dulu sering disiram oleh Seraphina.

Tiba-tiba ia sadari satu hal, jika selama dua tahun itu, Seraphina tak pernah menuntut apa pun. Ia menerima kenyataan bahwa ia hanya dinikahi karena perjanjian keluarga, ia sabar menanti hati Dikta yang tak kunjung terbuka, dan ia pergi tanpa membawa satu pun kebencian.

"Aku pikir aku yang terperangkap," bisiknya parau pada angin malam. "Ternyata aku yang membelenggu hati perempuan paling tulus yang pernah aku temui."

Dikta sadar, perceraian ini adalah kesalahan terbesarnya sekaligus pelajaran terberatnya.

Ia tidak menyesali keputusan berpisah, karena memaksakan cinta yang tak ada hanya akan menyakiti lebih lama.

Namun ia sangat menyesali caranya memperlakukan Seraphina, yang selama ini mengisi rumah itu dengan kesabaran, sementara ia mengisinya dengan kebisuan dan pengkhianatan.

Dikta melangkah masuk ke dalam kamar dan untuk kesekian kalinya, keheningan menyambutnya lebih dulu. Tidak ada suara yang menanyakan dirinya sudah makan atau belum, mau dibuatkan teh atau coklat hangat. Yang ada hanya kebisuan yang menyambut dirinya.

Dikta duduk di pinggir ranjang.

Matanya terus menatap kosong lemari yang biasa diisi oleh baju-baju Sera.

Rak buku yang biasanya diisi oleh berbagai judul novel favorit Sera atau alat make up yang biasanya tersusun rapi di atas meja rias.

Kamar ini telah kembali seperti sedia kala ketika hanya Dikta saja yang menempati.

"Bahkan tak ada yang kau sisakan Ser..." batinnya.

Dikta meringkuk seperti bayi diatas kasur yang dingin.

Malam-malam terasa jauh lebih panjang dari biasanya.

Dikta sering terbangun dan menyapa ruangan yang gelap gulita. Tangan kanannya terulur ke sisi tempat tidur yang lain, kosong, dingin. Dan di saat itulah penyesalan merayap masuk begitu dalam, menyadarkan Dikta betapa berharganya sosok yang ia tinggalkan. Seraphina tidak pernah menuntut banyak, tidak pernah berisik menuntut perhatian. Ia hanya ada, dengan tulus dan sabar, mengisi ruang itu tanpa pernah meminta balasan. Dan Dikta baru menyadari betapa hangatnya kehadiran perempuan itu, saat ia sudah tidak ada lagi di sisinya.

Kini, Dikta hidup dalam kebebasan yang ia inginkan, namun terpenjara oleh kesepian yang ia ciptakan sendiri. Ia berjalan di antara dinding-dinding rumah yang sama, namun tak lagi merasa pulang.

Karena ternyata, rumah bukanlah sekadar bangunan dan ruangan. Rumah adalah orang yang selalu menyambutmu dengan tulus, yang Dikta biarkan pergi tanpa pernah sekalipun mengucapkan terima kasih, atau memintanya tetap tinggal.

bersambung....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!