Indonesia
NovelToon NovelToon

Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Episode 1

Bab 1

Perempuan Berkebaya Itu

Pukul 03.17 dini hari.

Narendra terbangun dengan napas tersentak.

Punggungnya terangkat dari kasur, otot perutnya masih menegang, sementara jantungnya menghantam tulang rusuk seperti baru dipaksa berlari. Kamar tidur di rumah Pondok Indah itu gelap dan dingin. Pendingin udara menyala tanpa suara, tetapi keringat membuat kausnya melekat di dada.

Selama beberapa detik, Narendra hanya menatap lurus ke depan.

Bayangan perempuan itu belum pergi.

Di dalam mimpinya, perempuan itu berdiri membelakanginya dalam balutan kebaya kutubaru berwarna gading. Sebuah selendang batik tersampir di bahunya. Ketika jemari ramping itu menarik salah satu ujung selendang, kain tersebut meluncur turun perlahan, memperlihatkan garis leher yang bersih dan sepotong kulit di bawah telinga.

Lalu perempuan itu menoleh.

Hanya sepasang mata yang sempat dilihat Narendra sebelum tubuhnya kehilangan kendali. Napasnya memburu. Telapak tangannya panas. Punggungnya menegang dalam kenikmatan yang terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

Sekarang, rasa lengket dan basah di balik celana tidurnya memberi bukti yang tak bisa dibantah.

Mimpi basah.

Narendra menutup mata, lalu mengumpat pelan.

Ini kali kedua dalam satu minggu.

Perempuan yang sama. Kebaya yang sama. Reaksi memalukan yang sama.

Ia menyingkap selimut. Seprai abu-abu di bawah pinggangnya ikut lembap. Artinya, bukan hanya celana yang harus diganti. Seprai itu juga.

Lagi.

Pria tiga puluh lima tahun yang memimpin ribuan karyawan, menandatangani akuisisi bernilai triliunan rupiah, dan tak pernah terlihat kehilangan ketenangan di ruang rapat, kini duduk di tepi kasur sambil menatap noda mani seperti remaja yang baru mengenali tubuhnya sendiri.

Rahangnya mengeras.

Lebih buruk lagi, saat garis leher perempuan dalam mimpinya terlintas kembali, panas langsung berkumpul di bagian bawah tubuhnya.

Narendra membeku.

Ereksi itu datang cepat dan penuh, tanpa memberinya kesempatan untuk menyangkal. Ia mencengkeram tepi kasur. Urat di punggung tangannya menonjol, sedangkan napas yang baru mulai teratur kembali berat.

"Tidak masuk akal."

Suara seraknya tenggelam di kamar yang sepi.

Ia bangkit terlalu cepat. Lantai marmer yang dingin menyentuh telapak kakinya, tetapi hawa dingin itu sama sekali tidak menolong. Saat melewati cermin tinggi di dekat lemari, ia melihat wajah sendiri yang memerah sampai ke telinga.

Kemudian hidungnya terasa panas.

Narendra mengusap bagian bawah hidung dengan punggung tangan. Setitik merah menempel di kulitnya.

Mimisan.

"Sial."

Ia langsung masuk ke kamar mandi, membuka keran pancuran sampai ke suhu paling rendah, lalu berdiri di bawahnya tanpa sempat melepaskan kaus. Air dingin menghantam kepala, bahu, dan dadanya. Kain tipis yang basah menempel lebih erat pada kulit, tetapi Narendra tidak peduli.

Ia menengadah, membiarkan air mengalir melewati wajah. Kedua telapak tangannya bertumpu pada dinding batu alam.

Satu menit.

Dua menit.

Tubuhnya masih keras.

Di balik suara air, tawa kecil seorang perempuan seolah terdengar lagi. Bukan dari mimpi. Suara itu berasal dari satu minggu lalu, di Kafe Kopi & Co, Senopati.

Hari itu Narendra baru menyelesaikan pertemuan akuisisi di lantai dua. Fikri berjalan beberapa langkah di belakangnya sambil membacakan perubahan jadwal. Narendra tidak benar-benar mendengarkan. Pandangannya telah jatuh ke balik dinding kaca yang membatasi tangga dan area duduk lantai satu.

Seorang perempuan duduk di dekat jendela.

Kebaya kutubaru yang dikenakannya tidak berkilau, tidak dipenuhi payet, dan jelas bukan jenis pakaian yang biasa dipakai sosialita untuk menarik kamera. Warnanya gading lembut, dengan bordir bunga kecil di bagian dada dan pergelangan tangan. Selendang batik terlipat rapi di bahunya.

Sederhana.

Namun cahaya sore menyentuh sisi wajahnya hingga kulitnya terlihat hangat. Ia sedang memegang cangkir kopi dengan kedua tangan. Ketika seseorang di depannya mengatakan sesuatu, ia tertawa sambil sedikit menunduk.

Pada detik itu, langkah Narendra berhenti.

"Ada yang tertinggal, Pak?" tanya Fikri.

"Tidak."

Jawabannya keluar terlambat.

Perempuan di bawah mengangkat wajah. Entah karena merasa diperhatikan atau hanya kebetulan, pandangannya bergerak ke arah tangga.

Mata mereka nyaris bertemu.

Narendra meneruskan langkah lebih dulu. Ia tidak tahu namanya, tidak tahu pekerjaannya, bahkan tidak bisa memastikan warna matanya. Namun sejak sore itu, tubuhnya menyimpan perempuan tersebut jauh lebih baik daripada ingatannya.

Malam pertama, ia bermimpi menyentuh selendang perempuan itu.

Malam ini, dalam mimpinya, ia mencium lehernya.

Air pancuran masih mengalir ketika Narendra membuka mata. Tubuhnya akhirnya mulai melunak, tetapi kegelisahan di dadanya justru membesar.

Selama tiga puluh lima tahun, ia tidak pernah mengalami hal seperti ini.

Semasa remaja, teman-temannya pernah menyelipkan majalah dewasa ke dalam tas sekolahnya. Narendra membuangnya tanpa rasa ingin tahu. Saat kuliah, perempuan-perempuan cantik datang dengan berbagai alasan, dari meminjam catatan sampai menunggu di depan apartemen. Tidak satu pun membuat darahnya bergerak lebih cepat.

Pemeriksaan oleh spesialis urologi tidak menemukan kelainan. Pemeriksaan hormon normal. Konsultasi dengan psikolog juga berakhir pada kesimpulan yang sama: tubuhnya sehat, hanya tidak merespons rangsangan yang biasanya bekerja pada laki-laki lain.

Keluarganya mengira pernikahan akan memperbaiki keadaan.

Pada usia dua puluh tujuh tahun, ia menikahi Vania Sasongko demi perjodohan bisnis dua keluarga. Dua tahun mereka tinggal di bawah atap yang sama, tetapi Narendra tidak pernah menyentuhnya sebagai istri.

Malam terakhir sebelum perceraian, Vania berdiri di depan pintu kamar kerjanya dengan mata merah.

"Dua tahun, Mas Narendra. Bahkan sekali pun kamu tidak pernah menginginkanku."

Narendra diam.

"Atau memang kamu tidak bisa?"

Kalimat itu tidak berhenti di dalam rumah. Setelah perceraian, bisik-bisik tentang pewaris Grup Adiwangsa yang lemah syahwat berpindah dari satu meja makan ke meja makan lain. Ada yang menyebutnya mandul. Ada yang menyebut pernikahannya gagal karena ia bukan laki-laki seutuhnya.

Narendra tidak pernah merasa perlu membantah.

Nama besar Adiwangsa membuat orang tetap tersenyum di hadapannya. Jabatan CEO membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum mengucapkan gosip tersebut dengan suara keras. Selama perusahaan berjalan dan keluarga tidak memaksanya menikah lagi, ia bisa hidup seolah rumor itu tidak ada.

Sampai seorang perempuan berkebaya muncul di balik kaca sebuah kafe.

Narendra mematikan pancuran. Tetes air jatuh dari rambutnya ke ujung dagu. Di cermin yang mulai berembun, wajahnya terlihat asing. Mata merah, rahang kaku, darah tipis di bawah hidung, dan kaus basah yang membungkus dada.

Hanya dengan mengingat satu garis leher, tubuh yang selama ini ia anggap mati bisa bangun secepat itu.

Kenapa hanya dia?

Narendra meraih handuk, mengusap wajah, lalu menekan hidungnya sampai darah berhenti. Ia mengganti pakaian, mencabut seprai dari kasur dengan gerakan kasar, dan memasukkannya ke keranjang cucian.

Pukul 03.49, ia masih belum bisa tidur.

Narendra duduk di kursi dekat jendela dengan segelas air dingin. Di luar, halaman belakang tampak hitam. Daun pohon kenanga bergerak pelan diterpa angin, sementara layar ponsel di tangannya terus menyala.

Ia membuka pesan dari Fikri yang masuk sebelum tengah malam.

Pak, undangan Pameran Wastra Nusantara untuk Sabtu sudah saya teruskan ke surel. Panitia meminta konfirmasi kehadiran sebelum Rabu siang.

Di bawah pesan itu ada lampiran undangan digital. Narendra membukanya tanpa niat, lalu berhenti saat membaca daftar acara.

Pameran kebaya dan wastra kontemporer.

Peragaan koleksi desainer muda.

Sesi temu perajin.

Tatapannya tertahan pada satu kata.

Kebaya.

Jempolnya menggantung di atas layar.

Selama satu minggu, ia telah mencoba menyebut pertemuan di kafe itu kebetulan. Mimpi pertama hanya reaksi tubuh yang terlambat. Mimpi kedua sekadar pengulangan karena pikirannya terlalu terganggu.

Namun seprai basah di keranjang cucian, rasa nyeri yang tersisa di tubuhnya, dan bekas mimisan di punggung tangannya tidak bisa dijelaskan sebagai kebetulan.

Ia harus memastikan satu hal.

Apakah tubuhnya akhirnya bisa merespons seorang perempuan?

Atau tubuhnya memang hanya merespons perempuan itu?

Narendra menekan nama Fikri dan memilih panggilan. Telepon baru berdering dua kali ketika suara mengantuk namun sigap terdengar dari seberang.

"Selamat dini hari, Pak. Ada yang perlu saya siapkan?"

"Jadwal hari Sabtu."

Terdengar suara seprai bergesek, seolah Fikri langsung duduk. "Pukul sembilan ada rapat dengan tim energi, lalu undangan Pameran Wastra pukul sebelas. Saya belum mengonfirmasi karena biasanya Pak Nara tidak menghadiri acara seperti itu."

Narendra kembali melihat kata kebaya di layar.

"Pindahkan rapatnya."

Fikri terdiam sesaat. "Ke hari Jumat, Pak?"

"Ya. Konfirmasi undangannya."

"Baik, Pak. Apakah ada agenda khusus di pameran? Supaya saya bisa menghubungi panitia."

Narendra memikirkan wajah yang tersiram cahaya sore, selendang yang jatuh di dalam mimpinya, lalu panas memalukan yang kembali bergerak di bawah kulit.

"Tidak perlu."

"Siap, Pak."

Panggilan berakhir.

Narendra meletakkan ponsel di atas meja, tetapi beberapa detik kemudian layarnya menyala lagi.

Pesan baru dari Fikri muncul.

Kehadiran untuk Pameran Wastra Nusantara sudah saya konfirmasi. Sabtu, pukul 11.00.

Narendra membaca pesan itu dua kali.

Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ia tidak memikirkan rumor Vania, tuntutan keluarga, atau nama baik yang melekat di belakang namanya. Pikirannya hanya dipenuhi satu hal yang lebih sederhana sekaligus jauh lebih berbahaya.

Ia ingin melihat perempuan berkebaya itu lagi.

Narendra belum tahu, pada jam yang sama, perempuan yang membuatnya mengalami mimpi basah untuk pertama kali sedang tidur di sebuah kamar sempit di Bekasi, tanpa tahu bahwa keluarganya akan segera memaksanya ke sudut yang tak lagi bisa ia toleransi.

Episode 2

Bab 2

Katanya Aku Terlalu Pemilih

"Dua kali dalam seminggu?"

dr. Yudha menurunkan kacamatanya, seolah perlu memastikan pria yang duduk di depannya benar-benar Narendra Adiwangsa.

Pukul sepuluh pagi, ruang wakil direktur RS Medika Jakarta dipenuhi cahaya matahari dan aroma kopi hitam. Narendra duduk tegak di sofa, masih dengan kemeja kerja dan ekspresi yang biasa membuat direksi menahan napas.

Namun ujung telinganya merah.

"Kamu tidak perlu mengulangnya," kata Narendra.

"Aku perlu. Hampir dua puluh tahun kenal kamu, baru hari ini aku dengar kamu mengaku mimpi basah." Yudha menyandarkan tubuh, menahan senyum. "Dan dengan perempuan yang sama."

Narendra menatapnya datar.

"Berkebaya," tambah Yudha.

"Aku bisa pergi sekarang."

"Duduk, Ndra. Aku dokter, ingat?"

"Dokter kandungan."

Senyum Yudha langsung lenyap setengah. "Aku tahu. Makanya semalam aku sudah bicara secara pribadi dengan teman Sp.U dan psikiater yang dulu membaca hasil pemeriksaanmu. Tanpa nama, tanpa membuka identitasmu."

Narendra tidak jadi berdiri.

Yudha mendorong secarik catatan ke meja. Hasil hormon, pemeriksaan pembuluh darah, dan evaluasi fisik bertahun-tahun lalu tetap menunjukkan tidak ada gangguan organik. Respons terhadap perempuan tertentu, mimpi berulang, dan ereksi spontan justru menandakan fungsi tubuhnya bekerja.

"Jadi?" tanya Narendra.

"Jadi ini bukan konsultasi resmi. Kalau mau diagnosis baru, kamu tetap harus diperiksa langsung oleh Sp.U dan psikiater. Tapi dari riwayatmu, kemungkinan besar hambatannya psikologis."

Narendra teringat seprai basah, air dingin, dan darah di punggung tangannya.

"Selama ini tidak pernah ada respons."

"Terhadap siapa pun?"

"Tidak."

"Termasuk Vania?"

Tatapan Narendra berubah dingin. "Kamu sudah tahu jawabannya."

Yudha mengangkat kedua tangan. "Baik. Dua tahun menikah, tidak pernah menyentuhnya. Setelah cerai juga tidak tertarik pada siapa pun. Lalu sekarang ada satu perempuan yang bahkan belum kamu kenal, tapi tubuhmu langsung bereaksi."

Narendra membuang pandang ke jendela.

"Kamu bukan nggak bisa, Ndra." Nada Yudha melunak, meski sudut bibirnya masih bergerak geli. "Kamu cuma terlalu pemilih."

Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi.

Terlalu pemilih.

Selama enam tahun, orang-orang menyebutnya lemah syahwat, mandul, atau terlalu menjaga harga diri untuk mengakui kekurangan. Tak satu pun dari sebutan itu pernah mengusiknya seperti kalimat sederhana Yudha.

Karena jika Yudha benar, berarti tubuhnya tidak rusak.

Tubuhnya hanya menunggu seseorang.

"Jangan langsung senang," lanjut Yudha. "Satu mimpi bukan dasar untuk mengambil kesimpulan besar."

"Dua."

Yudha tertawa keras. "Nah, sekarang kamu sendiri yang mengingatkan jumlahnya."

Narendra meraih cangkir kopi, tetapi tidak meminumnya. "Aku akan melihatnya lagi."

"Kamu tahu dia siapa?"

"Belum."

"Namanya?"

"Belum."

"Statusnya?"

Narendra menatap Yudha. "Belum."

"Luar biasa. CEO Grup Adiwangsa jatuh cinta pada data kosong."

"Aku tidak bilang jatuh cinta."

"Kamu memindahkan rapat hanya untuk datang ke pameran kebaya."

Narendra diam.

Yudha membuka laci, mengambil kartu nama seorang spesialis urologi, lalu meletakkannya di meja. "Simpan. Kalau reaksi itu muncul lagi saat kamu sadar dan berada dekat dengannya, buat janji. Bukan karena aku menganggapmu sakit, tapi supaya kamu tidak membangun kesimpulan hanya dari rasa lega. Kita tetap harus membedakan ketertarikan, kecemasan performa, dan kebiasaan tubuh."

Narendra mengambil kartu itu. "Kamu pikir aku cemas?"

"Kamu datang tanpa rombongan perusahaan, memilih lift samping, dan meminta sekretarisku mengosongkan jadwal satu jam. Untuk ukuranmu, itu sudah mendekati panik."

Narendra menyelipkan kartu tersebut ke dompet. Setidaknya Yudha tidak menawarkan obat, tidak memandangnya dengan iba, dan tidak menyuruhnya menikah lagi seperti dokter pilihan keluarganya dulu.

Itu cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit lebih lapang.

Yudha bersiul pelan. "Setidaknya cari tahu dulu dia sudah menikah atau belum. Jangan sampai tubuhmu akhirnya bangun, lalu kamu malah dipukul suaminya."

Ponsel Narendra bergetar. Fikri mengirimkan jadwal Pameran Wastra Nusantara, denah pintu masuk, dan daftar tenant yang berjumlah puluhan.

Narendra membalas singkat.

Cari daftar sanggar kebaya yang hadir. Jangan hubungi panitia atas namaku.

Balasan datang kurang dari satu menit.

Siap, Pak.

Saat Narendra berdiri, Yudha masih menggeleng-geleng.

"Kalau ketemu, jangan langsung tanya kenapa dia bisa bikin kamu mimpi basah."

Narendra mengambil jasnya. "Aku menyesal datang ke sini."

"Tapi kamu lebih lega."

Langkah Narendra berhenti sepersekian detik di depan pintu.

Ia tidak membantah.

***

Pada petang yang sama, Sekar pulang ke Bekasi dengan bahu pegal dan ujung jari yang masih menyisakan bekas tusukan jarum.

Perjalanan dari Jakarta terasa lebih panjang dari biasanya. Begitu membuka pintu rumah, ia mencium gorengan dan teh melati dari ruang tamu.

"Sekar, sini dulu. Mbak bikinin teh."

Sekar menghentikan langkah.

Yuni duduk di sofa sambil mengusap perutnya yang mulai membesar. Di meja ada secangkir teh hangat dan pisang goreng. Kakak iparnya itu bahkan menarik bantal agar Sekar bisa duduk lebih nyaman.

Terlalu ramah.

"Tumben," kata Sekar.

"Tumben apanya? Kita kan keluarga." Yuni mendorong piring ke arahnya. "Makan dulu. Kamu pasti capek jahit baju seharian."

Sekar duduk tanpa menyentuh teh. "Ada apa, Mbak?"

"Kok curiga banget? Mbak cuma perhatian." Yuni tersenyum, lalu matanya menyapu wajah Sekar. "Kamu itu cantik, tanganmu juga terampil. Sayang kalau sampai umur segini belum ada yang serius."

Sekar hampir tertawa. Ia baru dua puluh lima tahun, tetapi di mulut Yuni terdengar seperti sudah terlambat satu dekade.

"Aku masih kerja."

"Jahit kebaya bisa setelah nikah. Malah kalau suamimu mapan, kamu nggak perlu capek jadi tukang jahit terus."

Jari Sekar yang memegang tali tas mengencang.

Sanggar Kebaya Laksmi bukan kios permak. Sebuah kebaya bisa membutuhkan puluhan jam untuk pola, jahitan tangan, bordir, dan pemasangan payet. Namun menjelaskan itu kepada Yuni sama melelahkannya dengan menyulam di atas kain yang sudah robek.

"Mbak punya saudara jauh," lanjut Yuni. "Namanya Pak Herman. Umurnya tiga puluhan, punya dealer motor, rumah sendiri. Mapan."

"Lalu?"

"Besok sore ketemu saja. Kopi-kopi sebentar."

"Aku tidak minta dikenalkan."

Yuni menghela napas seolah Sekar anak kecil yang sulit diatur. "Makanya jangan terlalu pemilih. Orang seperti Pak Herman saja belum tentu mau kalau kamu banyak syarat."

Kalimat itu membuat Sekar teringat pada semua lamaran kerja, pesanan mendadak, serta malam-malam ketika ia menjahit sampai jari kebas demi membantu cicilan rumah ini.

Ternyata di mata keluarganya, ia tetap perempuan yang seharusnya bersyukur jika ada laki-laki mau mengambilnya.

"Mamah tahu?" tanyanya.

"Tahu. Malah Mamah senang. Pak Herman keluarga baik-baik." Yuni mencondongkan tubuh. "Besok ketemu, ya. Sekali saja, buat Mbak."

Sekar menatap senyum manis di wajah kakak iparnya.

Ia tidak percaya satu kata pun.

Yuni tidak pernah membuatkan teh tanpa meminta sesuatu. Jika hari ini sampai menyediakan pisang goreng dan bantal, pasti ada harga yang ingin ditagih.

Sekar akhirnya mengangkat cangkir, tetapi tidak meminumnya.

Kali ini apa lagi maunya?

Episode 3

Bab 3

Kamar Ini untuk Keponakanmu

"Pak Herman itu sudah punya rumah sendiri."

Yuni belum menyerah.

Malam semakin larut, tetapi teh di meja sudah dingin dan pisang goreng hanya menyisakan minyak di piring. Sekar duduk berhadapan dengan kakak iparnya, menunggu alasan sebenarnya keluar.

Bu Warni baru selesai salat Isya ketika masuk ke ruang tamu. Melihat mereka, ia langsung duduk di sebelah Yuni.

"Bagus kalau kalian sudah bicara," katanya.

Sekar menatap ibunya. "Mamah juga yang mengatur pertemuan ini?"

"Bukan mengatur. Mamah memikirkan masa depanmu."

"Aku masih punya masa depan meski tidak bertemu Pak Herman."

Yuni mendecakkan lidah. "Kamu ini udah umur segini masih milih-milih. Orang kayak Pak Herman saja belum tentu mau. Dia mapan, punya dealer motor, kenal banyak orang."

"Kalau begitu biarkan dia cari perempuan yang sesuai."

"Sekali ketemu nggak rugi, Sekar," sela Bu Warni. "Jangan keras kepala."

Sekar memandang dua perempuan di depannya. Yuni mengusap perut sambil bersandar nyaman. Ibunya menatap Sekar dengan sorot yang selalu muncul setiap kali uang belanja kurang atau cicilan jatuh tempo.

"Di mana?" tanya Sekar akhirnya.

Wajah Yuni langsung cerah. "Besok sore. Kopi & Co di Senopati. Jam tiga."

Kafe di Senopati untuk perkenalan yang katanya sederhana. Sekar tidak perlu melihat daftar harga untuk tahu satu gelas kopi di sana bisa sama dengan makan siangnya selama tiga hari.

"Kenapa harus di sana?"

"Pak Herman sering meeting di daerah situ. Masa calon istri nggak bisa menyesuaikan?"

Calon istri.

Mereka bahkan belum pernah bertemu, tetapi Yuni sudah menyerahkan hidup Sekar dalam satu sebutan.

Sekar menarik napas. "Baik. Aku datang."

Yuni tersenyum puas. Bu Warni mengangguk seolah baru memenangkan perdebatan.

"Nah, begitu dong. Setelah nikah juga kamu masih bisa jahit-jahit sedikit," kata Yuni. "Pak Herman cuma bilang istrinya sebaiknya fokus urus rumah dan ibunya. Kerjaanmu sekarang juga tukang jahit doang, bukan kantor yang susah ditinggal."

Sekar menunduk melihat jari telunjuknya. Bekas tusukan jarum tampak merah di sisi kuku.

Tiga tahun belajar pola, mengenali jatuh kain, membongkar jahitan yang meleset satu milimeter, dan menyelesaikan bordir sampai subuh diringkas menjadi tukang jahit doang.

Ia tidak menjawab.

Yuni mengira diamnya berarti menyerah. "Bagus kalau pertemuannya lancar. Soalnya nanti kalau anak Mbak lahir, kita juga perlu atur kamar."

Sekar mengangkat wajah. "Atur kamar apa?"

Tangan Yuni kembali mengusap perut. "Kata dokter kemungkinan laki-laki. Anak laki-laki butuh kamar sendiri."

"Rumah ini cuma punya tiga kamar."

"Makanya." Yuni tersenyum kecil. "Kamar kamu nanti buat keponakanmu. Kamu kan sebentar lagi menikah. Kalau belum juga, bisa tidur di ruang tengah dulu. Bayi nggak mungkin tidur dekat dapur."

Suara televisi dari rumah tetangga terdengar menembus dinding. Sekar memandang pintu kamarnya di ujung lorong.

Kamar itu sempit. Lemarinya sudah tua, cat di dekat jendela mengelupas, dan meja jahitnya harus dilipat setiap malam agar ia bisa membuka kasur. Namun itulah satu-satunya ruang di rumah ini yang pernah terasa sedikit menjadi miliknya.

Sekarang bahkan ruang itu sudah dijanjikan kepada anak yang belum lahir.

"Mamah setuju?" tanyanya.

Bu Warni merapikan mukena di pangkuan. "Yuni benar. Anak laki-laki butuh tempat. Kamu nanti ikut suami."

"Kalau aku tidak menikah dengan Pak Herman?"

Ibunya menghindari tatapannya. "Ya dipikirkan nanti. Yang penting jangan egois sama keponakan sendiri."

Sekar mengangguk perlahan.

Jadi itu harganya.

Pertemuan dengan Pak Herman bukan perhatian. Mereka perlu mengeluarkannya dari rumah tanpa terlihat sedang mengusir.

"Aku mengerti," ucap Sekar.

Ia bangkit membawa tasnya. Yuni masih sempat mengingatkan agar besok memakai kebaya yang bagus, supaya Pak Herman tidak malu dilihat orang.

Sekar masuk kamar dan mengunci pintu.

Begitu sendirian, punggungnya menempel pada daun pintu. Matanya bergerak dari lemari tua ke meja lipat, lalu ke retakan tipis di langit-langit.

Rumah ini dibeli empat tahun lalu. DP sebesar seratus juta rupiah berasal dari hadiah sebuah lomba desain kecil, komisi yang ia kumpulkan selama tiga tahun, dan pinjaman dari Bu Laksmi yang sudah ia cicil lunas. Setiap bulan, dari gaji delapan juta, lima juta masuk ke rumah ini untuk KPR, listrik, dan belanja.

Nama di sertifikat memang bukan namanya.

Namun tanpa uangnya, rumah ini tidak akan pernah ada.

Sekar membuka mobile banking. Saldo tersisa tidak cukup untuk deposito apartemen mahal, tetapi masih bisa dipakai menyewa kamar kos sederhana. Ia kemudian membuka aplikasi pencarian properti.

Kos putri, Rp2,5 juta.

Apartemen studio, Rp3,5 juta.

Kamar bersama, Rp3 juta.

Sekar menghitung cepat. Ongkos harian ke sanggar, makan, pulsa, dan kebutuhan kain pribadinya sudah menghabiskan hampir dua juta. Jika berhenti menyetor lima juta ke rumah, ia sanggup menyewa tempat aman dan masih menyisihkan sedikit uang. Masalahnya, ia harus membayar uang muka, deposit, serta biaya pindahan sekaligus.

Ia membuka percakapan dengan Bu Laksmi, lalu mengurungkan niat mengetik. Gurunya sudah pernah menolong saat DP rumah ini kurang. Sekar tidak mau kembali meminta sebelum berusaha sendiri.

Sebagai gantinya, ia mengirim pesan pada tiga pemilik kos, menanyakan penghuni lain, akses malam, dan kunci gerbang. Dua hanya membaca. Satu membalas bahwa kamar sudah diambil orang.

Ia menyimpan lima iklan, membaca ulasan keamanan, lalu mengambil meteran kain dari meja. Besok ia tetap akan menemui Pak Herman. Bukan karena berharap mendapatkan suami, melainkan agar Yuni tidak punya alasan menghalangi langkah berikutnya.

Sekar mematikan lampu dan berbaring di kasur sempit.

Cahaya ponsel menerangi wajahnya. Jempolnya berhenti di tombol hubungi pemilik untuk sebuah kamar sewa Rp2,8 juta.

Ia harus pindah secepatnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!