Indonesia
NovelToon NovelToon

Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Tenggelam

Sena adalah seorang wanita berusia 25 tahun dengan rekam jejak asmara yang menyedihkan. Panggil saja dia sang pejuang jomblo akut. Bukan karena dia enggan membuka hati, melainkan karena takdir cinta selalu menolaknya secara konsisten. Secara penampilan, Sena sama sekali tidak buruk rupa, tetapi juga tidak secantik dewi dia benar-benar tipe orang yang penampilannya tergolong biasa saja di tengah keramaian. Namun, urusan percaya diri, Sena juaranya. Dia tak pernah ragu mendekati pria manapun yang menarik perhatiannya. Sayangnya, entah sihir apa yang menempel pada dirinya, setiap kali Sena menyatakan perasaan atau sekadar PDKT, pria-pria itu selalu berakhir menolaknya dengan seribu satu alasan absurd.

Malam ini, di tengah gumpalan rasa tragis atas status jomblonya, Sena berdiri di depan sebuah gerbang vila mewah bergaya modern yang tampak megah bagaikan istana. Malam ini adalah pesta ulang tahun sahabat karibnya sejak SMA, Bella. Jika Sena adalah simbol rakyat jelata yang serba pas-pasan, maka Bella adalah definisi nyata dari anak sultan yang uang jajannya tidak habis tujuh turunan.

Melangkah masuk ke area taman vila yang sudah dihiasi lampu-lampu gantung nan estetik, suara musik dentuman bas langsung menyambut indra pendengarannya. Dari kejauhan, Bella yang mengenakan gaun malam glamor berwarna merah menyala langsung melambaikan tangan dengan kehebohan tingkat tinggi begitu melihat kehadiran Sena.

"Sena! Akhirnya datang juga elo! Gue pikir elo tenggelam di rawa-rawa gara-gara galau ditolak sama cowok kafe kemarin!" seru Bella setengah berteriak seraya berlari kecil memeluk Sena, menyebarkan aroma parfum mahal yang menusuk hidung.

Sena mendengus kasar, melepaskan pelukan sahabatnya itu dengan wajah cemberut. "Bisa tidak mulut mahalmu itu dikondisikan sedikit? Lagian cowok kafe itu yang rugi menolak wanita sepotensial gue! Dia cuma belum sadar aja kalau gue ini investasi masa depan!"

Bella tertawa membahana, sama sekali tidak ada anggun-anggunnya meski mengenakan gaun seharga puluhan juta. "Investasi bodong iya! Lagian elo nekat banget deketin cowok yang jelas-jelas udah punya tunangan. Rasional dikit napah, Na! Muka elo standar begini tapi selera elo setinggi langit ketujuh."

"Heh! Muka standar gini tapi hati gue seluas samudera ya!Lagian salah dia sendiri senyumnya manis banget waktu nawarin kopi. Ya gue pikir dia ngode!" balas Sena tak mau kalah, memutar bola matanya malas.

"Ngode dari mananya, bambang! Itu namanya pelayanan pelanggan!" Bella menepuk jidatnya sendiri. "Dahlah, daripada elo halusinasi terus, mending sekarang elo makan sepuasnya di sana. Gue udah sewa tiga koki bintang lima khusus buat malam ini. Makan yang banyak biar rasa penolakan itu tertimbun makanan."

"Nah, kalau ini baru namanya sahabat sultan yang berfaedah," sahut Sena seraya menyeringai lebar, mengabaikan fakta bahwa dirinya baru saja diejek habis-habisan.

Acara puncak pun dimulai. Dentuman musik berubah menjadi lagu-lagu pop energik yang memicu semua tamu undangan untuk berkumpul di tepi kolam renang yang luas dan diterangi lampu bawah air yang berkilauan. Bella menarik tangan Sena untuk ikut menari di barisan paling depan. Sena yang pada dasarnya tidak tahu malu, mulai menggerakkan tubuhnya asal-asalan, menari penuh penghayatan mengiringi irama musik.

Namun, di tengah kehebohan dan tawa liar malam itu, petaka yang sebenarnya datang tanpa diundang. Seorang tamu yang tampaknya sudah terlalu mabuk tiba-tiba kehilangan keseimbangan saat berdansa gila-gilaan. Pria itu hilang kendali dan menyenggol bahu Sena dengan dorongan yang sangat keras dari arah samping.

Tubuh Sena limbung seketika. Gravitasi seolah bekerja sepuluh kali lebih cepat saat kakinya menginjak udara kosong di tepi kolam.

"Gilaaa! Hueeee mau nyempluung!" teriak Sena histeris sambil menggapai-gapai udara kosong dengan kedua tangannya.

BYURRR!

Air kolam yang dingin langsung menyergap seluruh tubuhnya. Efek kejutan membuat Sena sempat tersedak air dingin. Setelah berhasil menguasai diri dari rasa kaget, Sena mulai mengerak-gerakkan tangannya untuk berenang kembali ke permukaan. Seharusnya ini hal yang mudah, pikirnya. Kolam renang vila Bella kan kedalamannya paling hanya satu setengah meter!

Perasaan ngga dalam deh! seru Sena dalam hatinya, panik karena kakinya sama sekali tidak bisa menyentuh dasar kolam.

Anehnya, semakin ia mendayung tangannya ke atas, permukaan air justru terasa semakin jauh dan menjauh. Udara di paru-parunya mulai terkuras habis. Kegelapan air terasa mencekam dan jauh lebih dalam daripada kolam renang mana pun yang pernah ia lihat. Di dalam kegelapan air yang kian menghimpit, Sena menyempatkan diri mengomeli sahabatnya habis-habisan di dalam hati. Bella sialan! Kenapa elo bikin kolam renang seluas dan sedalam Samudera Pasifik begini sih?! Awas aja kalau gue selamat, gue kuras kolam renang elo pakai sedotan jus!

Dada Sena terasa begitu sesak, seolah-olah dipress oleh tekanan air yang luar biasa besar. Rasa dingin yang merajam tulang perlahan berubah menjadi rasa kebas. Pandangannya menggelap, kesadarannya terkikis habis, dan kedua matanya terpejam rapat saat kegelapan total menyeretnya ke dalam kesunyian.

"Eugh... hahh!"

Sena mendadak membuka matanya lebar-lebar. Sentakan napasnya berhembus keras saat ia menatap langit-langit di atasnya. Dadanya naik-turun dengan cepat, menghirup pasokan udara secara serakah seolah baru saja lolos dari cengkeraman maut. Rasa sesak luar biasa masih membakar tenggorokannya, membuat Sena terbatuk-batuk beberapa kali.

Ia menyapu pandangan ke sekelilingnya dengan napas yang masih terengah-engah. Kesadarannya masih membatu.

Tempat ini... sama sekali bukan tepi kolam renang vila Bella. Sena tidak lagi berada di luar ruangan yang basah dan bising oleh suara musik party. Saat ini, ia sedang berbaring di atas sebuah tempat tidur berukuran king size yang luar biasa empuk, berbalut sprei sutra berwarna abu-abu gelap yang sangat halus di kulitnya.

Kamar tempatnya berada saat ini memiliki luas yang hampir tidak masuk akal untuk ukuran satu ruangan tidur. Interiornya didominasi oleh warna-warna monokromik yang terkesan dingin, minimalis, namun memancarkan kemewahan yang sangat elegan dan intimidatif. Di sebelah kirinya, terdapat jendela kaca berukuran raksasa yang memperlihatkan pemandangan malam kota dari ketinggian gedung pencakar langit. Lampu gantung kristal yang menggantung elegan di langit-langit menyebarkan cahaya remang-remang yang terkesan misterius.

Sena duduk terhenyak, meraba pakaian yang mengenakan tubuhnya. Bukan gaun santai yang tadi ia pakai ke pesta Bella, melainkan sebuah gaun tidur sutra berwarna putih polos.

"Tunggu dulu... ini di mana? Gue di rumah sakit? Tapi kok rumah sakitnya kayak penthouse miliarder begini?" gumam Sena linglung, memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri.

Transmigrasi apes

Sena mengusap-usap kasur empuk yang menopangnya. Permukaan kasur itu terasa sangat halus dan kenyal, jauh berbeda dengan kasur kapuk atau kasur busa biasa.

"Sumpah, empuk banget ini kasur... Apa ini kamar vila mewahnya Si Bella, ya?" gumam Sena seraya tersenyum tipis. "Tanggung jawab juga tuh anak, nggak membiarkan gue mati konyol di kolam renang."

Namun, setelah mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang begitu sunyi dan bernuansa dingin, Sena menyipitkan mata. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sahabatnya itu di sini.

"Tapi mana nih anak? Kok kaga ada dianya? Apa dia masih asyik party di bawah kali, ya?"

Sena memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer dingin. Ia berjalan melintasi ruangan besar itu menuju pintu keluar. Namun, saat baru melangkah beberapa meter, pandangannya secara tidak sengaja menangkap sebuah cermin berukuran setinggi badan yang berdiri di sudut ruangan.

Sena mendadak menghentikan langkahnya. Ia mundur satu langkah, menatap bayangan yang ada di dalam cermin itu dengan kening berkerut.

"Eits... Siapa nih? Cantik bener," celoteh Sena pelan, mengamati sosok wanita bergaun tidur putih yang terpantul di sana. "Gue paling malas deh ngelihat cewek yang lebih cantik dari gue. Kek hati gue iri gitu..."

Dengan acuh tak acuh, Sena kembali melanjutkan langkahnya. Namun, baru dua langkah berjalan, matanya melirik cermin itu lagi. Sosok wanita cantik di cermin itu ikut melangkah!

Sena berhenti. Sosok itu juga berhenti.

Sena mundur satu langkah lagi ke belakang. Sosok cantik itu ikut mundur satu langkah. Sena mengangkat tangan kanannya. Sosok itu ikut mengangkat tangan kanan. Sena menempelkan telunjuk ke hidung. Sosok itu menempelkan telunjuk ke hidung dengan gerakan yang persis sama.

"Eh... kok dia ngikutin gue?" Sena mengusap dadanya yang mendadak berdebar. "Ini cermin, kah? Jangan-jangan setan vila Bella?!"

Sena mendekati cermin itu perlahan, lalu menyentuh permukaan kaca yang dingin. Sosok wanita dengan kulit seputih porselen, mata beriris abu-abu jernih, dan rambut panjang bergelombang berwarna cokelat gelap itu membalas tatapannya. Wajah itu sangat sempurna, bagaikan ditiupkan keindahan tanpa cela.

Sena meraba pipinya sendiri. Pipi di cermin ikut teraba. Ia meraba lengan bajunya. Sosok di cermin melakukan hal serupa.

"Anjiiiir! Gue ini?!" pusing Sena seraya membelalakkan mata lebar-lebar. Mulutnya melongo sempurna sampai-sampai ia mengacak-acak rambut mewahnya sendiri demi memastikan ini nyata. "Kok bisa?! Apa air kolam tadi air ajaib?! Kenapa muka gue yang standar pabrikan ini mendadak berubah jadi limited edition?!"

Namun, di tengah rasa syok dan keputusasaan atas perubahan fisiknya, tiba-tiba kepalanya berdengung hebat. Rasa sakit yang tajam seperti ditusuk ribuan jarum menyerang otaknya tanpa ampun.

"Akhh!" Sena memegangi kepalanya, berlutut di atas lantai marmer seraya meringis menahan nyeri yang luar biasa.

Berbagai memori asing, informasi, dan alur cerita yang sangat familar tiba-tiba berhamburan masuk ke dalam ingatannya bagaikan air bah. Kilasan-kilasan teks novel thriller yang pernah ia baca sampai larut malam mendadak terputar otomatis di kepalanya.

Setelah beberapa detik menahan sakit, rasa nyeri itu menghilang secepat datangnya. Sena masih berlutut di lantai, matanya kedip-kedip menatap kosong ke arah lantai.

"Anjir..." gumam Sena dengan napas terengah-engah. "Gue... transplantasi? Eh, transparan? Eh, bukan! Apa si namanya... TRANSMIGRASI?!"

Sena langsung melompat berdiri dan berteriak heboh, mengabaikan fakta bahwa ia berada di dalam ruangan asing. "Transmigrasi ke novel sialan itu?! Novel Vex Noir?!"

Rasa takut mendadak merayapi seluruh dinding dadanya. Vex Noir bukanlah nama asli dari karakter tersebut, melainkan julukan pembunuh berantai paling ditakuti di dalam cerita itu. Vex Noir adalah sosok psikopat genius yang teramat kejam. Cara membunuhnya begitu santai, sistematis, dan tanpa empati sedikit pun. Hebatnya lagi, hukum sama sekali tidak pernah berhasil menyentuhnya. Pria itu selalu lolos dari kejaran polisi tanpa menyisakan satu pun bukti, dan yang paling mengerikan: Vex Noir tidak pernah melepaskan target yang sudah ia incar.

Sena perlahan terduduk lemas di atas lantai, menyandarkan punggungnya pada lemari kaca.

"Dan gue... gue jadi Estella Aurora?!" racau Sena dengan suara bergetar. "Gue bukan karakter aman yang cuma lalu lalang! Gue cuma salah satu korban yang dia bunuh di bab-bab awal!"

Sena tersenyum getir, meratapi nasibnya yang jauh lebih tragis daripada ditolak puluhan pria di dunia nyata.

"Bentar..." Sena memegang dagunya, mencoba mengingat bagian dari bab novel yang pernah ia baca. "Di akhir cerita... disebutkan siapa nama asli psikopat sialan itu. Siapa ya... Kalau nggak salah... Lucian Voss deh!"

Sena menepuk jidatnya keras-keras. "Aish! Kalau nih tubuh masih hidup dan bernapas sekarang, berarti gue belum diincar atau... mungkin sedang diincar! Intinya, saat ini gue masih bernyawa!"

Namun, fakta bahwa ia masih bernyawa sama sekali tidak membuat hatinya tenang. Justru rasa panik semakin mencekik lehernya saat memori tentang nasib akhir Estella berputar di benaknya.

"Tapi tetap aja! Nanti yang dibunuh itu gue!" gerutu Sena dengan napas memburu. Ia mulai membayangkan adegan mengerikan dari bab novel tersebut. "Bayangin... Estella nih bakal dibunuh, terus kepalanya dijadikan mainan bola! Tangannya dipotong-potong terus dikasih makan anjing! Nggak banget, gila!"

Sena mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Aish, gimana ini?! Masalahnya tuh psikopat nggak bakal pernah ngelepasin mangsanya dan nggak pernah gagal sekali pun!"

Sultan mah bebas

"Gue pengen banget, tolong lah! Kenapa kalau harus masuk novel, bukan masuk novel romance yang isinya banyak cowok tampan? Atau satu aja deh, satu yang beneran normal dan bukan pembunuh! Pliss... dua puluh lima tahun hidup gue di dunia nyata, gue nggak pernah ngerasain yang namanya punya pacar! Boro-boro dicium, dipegang tangan aja kagak pernah!" omel Sena habis-habisan pada takdirnya yang luar biasa tidak adil.

Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri, meluapkan rasa sesak yang terbendung. "Nasib... nasib! Di dunia nyata selalu ditolak cowok kafe, cowok tetangga, sampai mas-mas jualan boba. Pas dikasih kesempatan transmigrasi, malah dijadiin tumbal psikopat gila!"

Namun, di tengah ratapan dramatisnya, memori ingatan milik Estella kembali mengalir ke dalam otaknya. Sena mengerdipkan mata, memproses informasi baru itu dengan cepat.

"Tunggu dulu..." Sena memegangi dagunya. "Si Estella ini ternyata anak orang kaya raya? Mak bapaknya pengusaha besar yang sekarang lagi menetap di luar negeri, dan dia anak tunggal kaya raya yang masih kuliah di sini? Jadi... gue sekarang anak kuliah lagi?!"

Sena langsung menepuk jidatnya keras-keras hingga terdengar bunyi plak. "Aish! Capek-capek empat tahun lulus kuliah di dunia nyata, ngerjain skripsi berdarah-darah, eh sekarang malah disuruh kuliah lagi dari awal?! Yang bener aja!"

Namun, kejengkolannya soal kuliah kalah jauh dibanding ancaman maut yang membayangi lehernya. Sena mulai mondar-mandir di atas lantai marmer ruangan mewah itu seraya memutar otak.

"Sekarang gimana caranya biar gue nggak dibunuh? Karena gue tahu alurnya, apa gue emang bisa menghindar begitu aja?" Sena menggigit kuku jarinya. "Kagak bisa! Vex Noir itu kan karakter utama di novel ini, ya pasti berhasillah itu orang! Dia itu jenius yang kejamnya nggak ada obat!"

Sena menyilangkan tangan di dada, mempertimbangkan sebuah opsi. "Apa gue pindah keluar negeri aja ya, nyusul orang tua Estella?"

Ia langsung menggeleng cepat membayangkan adegan di dalam novel yang pernah dibacanya. "Nggak, nggak! Di salah satu plot novelnya, pernah ada musuhnya yang mencoba melarikan diri sampai ke luar negeri. Tapi dengan mudahnya Vex Noir malah sampai duluan di sana daripada korbannya! Orang itu jeniusnya di luar nalar. Bahkan ada scene gila di mana dia dengan tenang duduk bareng detektif buat ngebahas cara menangkap pelaku pembunuhan... padahal dia sendiri yang lagi duduk di sana sambil minum kopi dengan santainya!"

Mengingat betapa licin dan dinginnya Lucian Voss alias Vex Noir, bulu kuduk Sena langsung merinding. Melarikan diri bukan pilihan bijak; pria itu justru akan menikmati proses 'perburuan' tersebut bagaikan permainan.

Sena berhenti melangkah. Pandangannya kembali tertuju pada cermin besar yang memantulkan sosok Estella Aurora—seorang gadis cantik berpenampilan bak dewi dengan kulit seputih porselen, mata beriris abu-abu jernih, dan lekuk tubuh yang sangat memikat.

Sebuah ide gila tiba-tiba terlintas di otak Sena.

"Tunggu... apa gue deketin aja ya tuh psikopat?" gumam Sena pelan. Tangannya meraba dagunya sendiri seraya mengamati pantulan dirinya. "Kalau ganteng, sabi lah! Pesona pemilik tubuh ini juga nggak bisa diragukan sama sekali. Muka begini mah levelnya udah bidadari kayangan. Lumayan lah buat eksperimen..."

Sena menyeringai tipis, lalu mendadak membisu. Matanya berkedip lambat saat menyadari betapa besarnya risiko dari ide gilanya itu.

"Tapi... kalau gagal..." Sena menelan ludahnya yang terasa pahit. "Ya palingan... pala gue melayang."

"Mending sekarang gue nikmati waktu dulu buat berbelanja!" cetus Sena mantap, mendadak melupakan krisis ancaman mati konyolnya.

Ia melangkah keluar dari kamarnya dan menyusuri lorong rumah yang ternyata merupakan sebuah hunian megah berlantai tiga. Setiap sudut rumah ini memancarkan kemewahan kelas atas, mulai dari pilar-pilar marmer yang tinggi menjulang, lampu gantung kristal raksasa, hingga deretan lukisan bernilai fantastis. Menyadari kenyataan bahwa dirinya sekarang adalah seorang anak sultan serba ada, dada Sena langsung membusung otomatis. Rasa songong dan bangga yang tak beralasan perlahan merayapi jiwanya.

Sena menuruni tangga melingkar menuju lantai dasar, lalu melangkah mantap menuju area garasi utama. Begitu pintu otomatis garasi terbuka, matanya melotot lebar hingga rasanya ingin melompat keluar.

"Anjaiii!" pekik Sena histeris.

Di dalam garasi yang amat luas dan bersih itu, berjejer rapi jajaran supercar kelas dunia: mulai dari Porsche berwarna abu-metalik, Lamborghini hitam elegan, hingga Ferrari merah membara yang berkilauan diterpa lampu LED.

"Ada plus-minusnya juga ya ternyata masuk ke tubuh ini," racau Sena sambil melangkah mendekati Porsche abu-metalik kesukaannya. "Minusnya siap-siap dipotong-potong sama psikopat, plusnya... wah gila, gue kaya mendadak!"

Sena segera naik ke kursi pengemudi, menggenggam setir berbalut kulit mewah dengan perasaan takjub. Beruntung, memori tubuh Estella membuat jari-jarinya bekerja secara refleks. Ia menekan tombol engine start, menyalakan mesin yang meraung halus namun perkasa, lalu memacu mobil mewahnya keluar dari kediaman keluarga Aurora.

Selama perjalanan, Sena menyusuri jalanan kota dengan mulus. Ingatan Estella membimbing navigasi otaknya dengan sangat baik. Namun, Sena tidak bisa menahan rasa kagumnya saat memandang ke luar jendela. Dunia di dalam novel ini terasa sangat berbeda dari dunia aslinya. Udara terasa lebih segar, jalanan sangat bersih tanpa sampah berserakan, dan arsitektur bangunannya memiliki vibes ala kota-kota Eropa modern yang sangat estetik.

"Wah, vibes-nya luar negeri banget, njir," bisik Sena terkagum-kagum.

Tak butuh waktu lama, Porsche mewah itu terparkir mulus di area parkir khusus VIP sebuah shopping mall megah dan paling eksklusif di pusat kota. Sena keluar dari mobilnya dengan penuh percaya diri, membetulkan gaun mewahnya, lalu melangkah masuk ke dalam mal dengan gaya anggun ala putri bangsawan.

Ia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah Black Card—kartu kredit tanpa batas yang selama ini hanya bisa ia lihat di konten-konten media sosial.

Sena tersenyum miring, menatap kartu hitam mengkilap di genggamannya. "Waktunya berburu, orang kaya baru action!"

Sena langsung menerjang area high-end fashion. Ia melangkah masuk ke boutique merek ternama seperti Chanel, Dior, dan Gucci. Tanpa perlu melihat label harga sama sekali, Sena menunjuk gaun-gaun malam terbaik, pakaian santai berbahan sutra, hingga sepatu high heels berkristal yang terpajang anggun di etalase.

"Mbak, yang ini, ini, sama yang merah di sana bungkus. Ukuran saya ya. Terus tas yang di atas itu keluarkan semua, gue ambil semua warnanya!" perintah Sena santai sambil melambaikan tangan.

Para pelayan toko sampai membungkuk-bungkus hormat, melayani Sena bagaikan ratu. Usai memborong pakaian dan aksesori, Sena berpindah ke toko perhiasan mewah. Ia mencoba deretan kalung berlian, cincin emas murni, hingga jam tangan berhias permata. Tanpa ragu, Sena langsung menggesek Black Card-nya tanpa berkedip sedikit pun.

Puas menguras isi toko fesyen, Sena membawa tumpukan kantong belanjaan mahal itu ke sebuah kafe eksklusif di lantai teratas mal. Ia duduk di kursi balkon yang menghadap langsung ke pemandangan kota, memesan satu set afternoon tea dengan deretan kue-kue cantik dan teh aroma lavender terbaik.

Sena menyenderkan punggungnya di kursi empuk, menyeruput teh mewahnya perlahan sambil menikmati semilir angin.

"Gini ya rasanya jadi orang kaya," gumam Sena puas seraya memandangi deretan kantong belanjaan bermerek yang menumpuk di samping mejanya. "Mau mati di tangan psikopat atau kagak, urusan belakangan. Yang penting hari ini gue udah ngerasain hidup ala sultan!"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!