Indonesia
NovelToon NovelToon

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Episode 1

Bab 1

Pasien Bermasker Itu

"Silakan turunkan celananya, Pak. Sampai lutut."

Pria di depan Keisha tidak bergerak.

Pendingin ruangan poli urologi RSUD Bandung berdengung pelan. Bau antiseptik menempel di udara, bercampur aroma gel ultrasonografi yang baru saja Keisha tuang ke wadah kecil. Di samping ranjang periksa, sepasang sarung tangan lateks membungkus jemarinya yang ramping.

Seharusnya tak ada yang aneh.

Keisha sudah menangani belasan pasien sejak siang. Ia terlalu lelah untuk mempermasalahkan seorang laki-laki dewasa yang mendadak kaku hanya karena diminta membuka celana.

"Pak?" Keisha mengangkat wajah dari kartu pasien. "Celananya diturunkan. Saya perlu memeriksa bagian bawah."

Pria itu akhirnya menatapnya.

Sebagian besar wajahnya tertutup masker hitam. Yang terlihat hanya sepasang mata gelap, alis tegas, dan garis tulang hidung yang membuat masker medis di wajahnya tampak seperti penyamaran, bukan perlindungan kesehatan. Kemeja hitamnya digulung sampai siku. Urat di punggung tangannya menonjol saat ia meletakkan sebuah amplop hasil pemeriksaan di meja.

"Bagian bawah yang mana?" tanyanya.

Suaranya rendah. Tenang, tetapi dinginnya membuat ujung tengkuk Keisha meremang.

Keisha menahan napas. Pasien gugup biasanya mengulur waktu dengan bertanya. Ada yang pura-pura batuk, ada yang mendadak ingin ke toilet, bahkan ada yang mengajak bicara soal cuaca. Laki-laki ini rupanya memilih menatap dokter seperti sedang menginterogasi tersangka.

Ia menunjuk ranjang periksa dengan dagu.

"Area genital. Berdasarkan catatan ini, ada keluhan nyeri dan iritasi sebelum tindakan sirkumsisi. Saya harus memastikan tidak ada infeksi atau pembengkakan. Setelah itu baru dokter penanggung jawab menentukan jadwal tindakan."

Mata pria itu menyipit.

"Sirkumsisi?"

"Sunat dewasa," jelas Keisha, tetap profesional. "Tenang saja. Bukan Anda satu-satunya pasien dewasa yang datang untuk itu."

Sunyi jatuh selama dua detik.

Lalu pria itu bertanya, "Anda yakin saya datang untuk disunat?"

Keisha melirik kartu di tangannya. Baris keluhan utama tampak jelas. Nyeri, kemerahan, kesulitan menarik kulup. Tidak mungkin ia salah baca.

"Saya tidak membuat diagnosis dari firasat, Pak."

"Tapi Anda mulai memeriksa tanpa menanyakan nama saya."

Sindiran itu tepat mengenai titik yang tidak ingin disentuh Keisha.

Ia memang belum melakukan verifikasi dua identitas. Sejak pagi sistem antrean sempat bermasalah, printer label macet, dan dua dokter senior dipanggil untuk operasi darurat. Suster Ningrum menyelipkan kartu pasien berikutnya ke tangannya sambil berlari ke ruang tindakan. Keisha hanya sempat melihat nomor antrean sebelum laki-laki bermasker ini masuk.

Kesalahan kecil, pikirnya. Bisa diperbaiki sekarang.

Namun sorot mata pria itu membuat sisi keras kepala Keisha bangun lebih cepat daripada kewarasannya.

"Kalau Bapak masih sempat berdebat, berarti rasa sakitnya belum terlalu parah." Ia menarik tirai di sekeliling ranjang periksa. "Silakan. Saya tidak akan melihat sebelum Anda siap."

"Anda selalu memerintah pasien seperti ini?"

"Hanya pasien yang susah diajak bekerja sama."

Ada sesuatu berkilat di mata gelap itu. Bukan malu. Bukan pula takut. Lebih mirip peringatan.

Keisha berbalik membelakanginya dan menata lampu pemeriksaan. Bunyi logam sabuk yang terlepas terdengar dari belakang. Disusul gesekan ritsleting yang diturunkan perlahan.

Tangannya berhenti di atas gagang lampu.

Astaghfirullah.

Kenapa suara ritsleting bisa terdengar sekeras itu?

Keisha menelan ludah, lalu mengingatkan diri sendiri bahwa ia dokter. Tubuh manusia adalah anatomi. Kulit, pembuluh darah, jaringan lunak. Tidak ada yang patut membuat wajahnya panas.

"Sudah," kata pria itu.

Keisha berbalik.

Kemeja hitam itu masih rapi di tubuhnya. Celana panjangnya telah turun sampai paha, memperlihatkan pinggang sempit dan garis otot perut yang masuk ke balik boxer hitam. Ia belum menurunkannya sampai lutut seperti yang diminta, tetapi pemandangan itu sudah cukup membuat otak Keisha kehilangan semua istilah medis selama satu detik penuh.

Pria itu tinggi. Terlalu tinggi untuk ranjang periksa yang tersedia. Bahunya lebar, perutnya keras, dan tubuhnya tak menunjukkan tanda seseorang yang menghabiskan hidup di balik meja. Di bawah kain boxer yang ketat, tonjolan maskulin itu tampak berat dan terlalu nyata untuk diabaikan.

Tatapan Keisha membeku sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya.

"Ada masalah, Dokter?"

Suara rendah itu menariknya kembali ke bumi.

"T-tidak." Keisha buru-buru menatap kartu pasien. "Turunkan sedikit lagi."

Alis pria itu terangkat.

"Sedikit lagi?"

Panas merambat dari leher Keisha sampai telinganya. Ia mengangkat dagu, berusaha menyelamatkan sisa wibawa di balik jas putih yang sudah kusut.

"Saya harus melihat seluruh area yang dikeluhkan. Kalau masih tertutup, bagaimana saya memeriksanya?"

"Saya juga ingin tahu bagaimana Anda akan memeriksa keluhan yang tidak saya miliki."

"Bapak belum diperiksa. Jangan menyimpulkan sendiri."

Pria itu mengembuskan napas melalui hidung. Kedua tangannya berhenti pada pinggang boxer. Ia tidak menariknya turun. Sebaliknya, ia menatap Keisha seolah sedang memberinya kesempatan terakhir untuk menyadari kebodohannya sendiri.

Keisha salah mengartikan diam itu sebagai ketakutan.

Nada suaranya melunak sedikit. "Tidak akan lama. Saya hanya melakukan inspeksi visual dan palpasi ringan. Kalau nyeri, bilang."

Ia mengambil wadah gel.

Setetes cairan bening jatuh ke sarung tangannya.

Mata pria itu mengikuti tetesan tersebut, lalu kembali menatap wajah Keisha. "Gel itu untuk apa?"

"Membantu pemeriksaan supaya tidak menimbulkan gesekan berlebihan."

"Anda berniat menyentuh saya dengan itu?"

"Pak, ini poli urologi." Keisha menghela napas, meski dadanya mulai berdebar tidak karuan. "Saya tidak mungkin memeriksa dari jarak dua meter."

Pria itu tertawa pendek.

Bukan tawa ramah. Bunyi itu lebih mirip seseorang yang baru menemukan hal paling tidak masuk akal dalam hidupnya dan belum memutuskan apakah harus marah atau menghancurkannya.

Keisha menarik bangku kecil mendekat. Roda bangku berdecit di atas lantai. Kini wajahnya sejajar dengan pinggang pria itu.

Jarak yang tadi terasa aman lenyap.

Aroma bersih dari tubuh laki-laki itu menembus bau antiseptik. Ada wangi sabun, sedikit aroma kayu, dan panas tubuh yang terasa bahkan sebelum ujung sarung tangan Keisha menyentuh kulitnya.

Ia mengulurkan tangan.

Jemari pria itu menutup pergelangan tangannya lebih dulu.

Gerakannya cepat, terukur, dan begitu kuat hingga Keisha tak sempat menarik napas. Gel dingin di sarung tangannya hampir tumpah. Telapak tangan pria itu panas, kontras dengan kulitnya yang mendadak dingin.

"Sebelum Anda lanjut," katanya pelan, "sebutkan nama pasien di kartu itu."

Keisha berkedip.

"Data pasien bersifat rahasia."

"Kalau itu data saya, seharusnya Anda bisa menyebutkannya kepada saya."

"Saya sedang menjaga privasi."

"Atau menutupi bahwa Anda tidak tahu siapa yang berdiri di depan Anda?"

Keisha membuka mulut. Tak ada jawaban yang keluar.

Pria itu melepaskan pergelangan tangannya. Bekas panas dari jemarinya tertinggal seperti gelang tak kasatmata.

Pada saat bersamaan, tirai tersibak keras.

"Dok Keisha!"

Suster Ningrum masuk dengan napas terengah. Wajahnya pucat. Di tangan kanannya ada kartu pasien lain, sementara tangan kirinya menggenggam lembar antrean yang terlipat.

Pandangan sang suster jatuh pada Keisha yang duduk di bangku, sarung tangan berlumur gel terangkat di udara. Lalu pada pria bermasker dengan celana terbuka sampai paha.

Mulutnya menganga.

"Ya Allah," bisiknya.

Keisha bangkit terlalu cepat hingga bangkunya terjungkal. "Ada apa?"

"K-kartunya tertukar, Dok." Suster Ningrum mengangkat kedua kartu dengan tangan gemetar. "Pasien untuk pemeriksaan pra-sirkumsisi masih di luar. Yang ini pasien kontrol batu ginjal. Nomor antreannya berdekatan, lalu sistem mencetak ulang dua label sekaligus. Saya... saya memberikan kartu yang salah."

Tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan.

Keisha menatap kartu di tangannya. Menatap kartu yang dibawa Ningrum. Menatap amplop hasil pemeriksaan yang sejak tadi diletakkan pria itu di atas meja.

Di sudut amplop tercetak jelas: CT saluran kemih dan hasil urinalisis.

Batu ginjal.

Bukan sirkumsisi.

Jantung Keisha seolah jatuh menembus lantai.

Pria itu menutup ritsleting celananya perlahan. Sekali lagi, bunyinya terdengar kejam di ruangan yang sunyi.

"Jadi," ucapnya setelah memasang sabuk, "saya datang untuk membahas batu ginjal, lalu dokter Anda meminta saya membuka celana dan hampir menyentuh alat kelamin saya dengan gel."

Suster Ningrum menunduk dalam-dalam. "Maaf, Pak. Ini kesalahan alur kami. Saya akan melapor kepada kepala ruangan dan membuat laporan insiden."

Keisha memejamkan mata satu detik.

Ia bisa menyalahkan sistem. Bisa menyalahkan kartu yang tertukar, jadwal yang kacau, atau Suster Ningrum yang tergesa. Namun satu kalimat pria itu terus berputar di kepalanya.

Anda mulai memeriksa tanpa menanyakan nama saya.

Itu kesalahannya.

Keisha melepas sarung tangan, membuangnya ke tempat limbah medis, lalu berdiri tegak. Wajahnya panas, tetapi ia memaksa matanya bertahan pada tatapan laki-laki itu.

"Saya minta maaf. Kartunya memang salah, tapi saya juga lalai melakukan verifikasi identitas sebelum pemeriksaan. Saya akan menulis laporan insiden dan mengikuti evaluasi rumah sakit."

Mata pria itu turun sekilas ke wajahnya yang memerah. "Hanya itu?"

Keisha menggigit bagian dalam pipinya. "Apa Bapak mengalami cedera?"

"Harga diri saya baru saja dibaringkan di ranjang periksa."

Suster Ningrum terbatuk, buru-buru menutup mulut.

Keisha ingin menghilang ke dalam lemari instrumen. Sayangnya, harga dirinya sendiri menolak mati dengan tenang.

"Saya belum menyentuh bagian itu," balasnya. "Secara objektif, tidak ada tindakan invasif yang terjadi."

"Anda kecewa?"

"Bukan begitu maksud saya!"

Untuk pertama kalinya, mata pria itu benar-benar menunjukkan senyum. Hanya matanya. Masker hitam itu masih menutupi ekspresi lain, membuat ejekannya terasa lebih berbahaya.

Keisha menarik napas panjang. "Kalau memang saya salah, saya yang akan bertanggung jawab. Saya tidak akan lari."

"Bertanggung jawab?"

"Ya. Komplain, laporan, evaluasi, apa pun prosedurnya."

Ia mengucapkannya terlalu cepat. Terlalu mantap. Seakan kata bertanggung jawab bisa menambal semua lubang yang baru saja terbuka di lantai profesionalismenya.

Pria itu mengambil ponsel dari saku.

Keisha mengernyit. "Bapak mau menelepon bagian pengaduan?"

Ia tidak menjawab.

Ponsel terangkat. Kamera mengarah lurus ke dada Keisha.

Klik.

Keisha refleks menutupi dadanya, lalu sadar yang dipotret bukan tubuhnya, melainkan kartu identitas yang tergantung pada tali biru di lehernya.

Nama lengkap. Nomor induk pegawai. Unit kerja.

Semuanya masuk ke layar ponsel pria itu.

"Hei, Anda tidak boleh memotret identitas tenaga medis sembarangan!"

Pria itu menurunkan ponsel dan memeriksa hasil fotonya dengan tenang. "Keisha Kusumo."

Cara ia menyebut nama itu membuat kulit di tengkuk Keisha menegang.

"Hapus fotonya."

"Bukankah Anda bilang tidak akan lari?"

"Saya tidak lari. Tapi ada prosedur untuk mengajukan komplain."

"Bagus." Ia memasukkan ponsel kembali ke saku. "Saya suka prosedur."

Suster Ningrum melangkah ke samping, membuka jalan. Pria bermasker itu berjalan menuju pintu, berhenti tepat di hadapan Keisha, lalu menunduk sedikit. Jarak mereka menyusut sampai Keisha kembali mencium aroma kayu yang tenang dari tubuhnya.

Tatapan gelap itu menahan matanya.

"Tunggu tanggung jawabmu, Dokter Keisha."

Episode 2

Bab 2

Rumah yang Retak

Tiga lembar tagihan tergeletak di atas meja makan yang retak.

Keisha memandang angka paling bawah sampai matanya perih. Biaya perawat, susu enteral, popok dewasa, fisioterapi pasif, dan obat yang tidak seluruhnya ditanggung BPJS. Di samping total itu ada catatan cicilan bulan lalu yang belum lunas.

Ponselnya bergetar.

Ia refleks menegang, takut melihat surat panggilan dari bagian pengaduan rumah sakit. Namun layar hanya menampilkan pengingat pembayaran kamar rawat Mama.

Entah mengapa itu terasa lebih menakutkan.

Sore telah turun di perumahan lama Bekasi. Dari jendela rumah tempat ia dibesarkan, terdengar pedagang bakso memukul mangkuk dan suara anak-anak bermain sepeda di gang. Dulu Mama selalu muncul dari dapur saat mendengar suara itu, memasukkan uang ke telapak tangan Keisha, lalu menyuruhnya membeli dua porsi.

Sekarang dapur itu dingin.

Keisha menyelipkan tagihan ke dalam map bersama akta lama Griya Anindita yang baru diambilnya dari lemari. Bingkai foto di atas meja ikut menarik pandangannya. Anindita berdiri di depan toko furnitur pertamanya, mengenakan blus sederhana dan senyum selebar papan nama buatan tangan.

AnHome belum menjadi jaringan toko saat foto itu diambil. Hanya kios sempit, dua tukang, dan seorang perempuan yang menolak menyerah.

"Mama membangun semuanya dari nol," gumam Keisha. "Jadi aku juga tidak akan menyerah."

Ia memasukkan foto itu ke dalam tas, mengunci rumah, lalu bergegas mengejar perjalanan kembali ke Bandung. Malam sudah pekat ketika ia tiba di bangsal perawatan jangka panjang RSUD Bandung.

Anindita terbaring di ranjang dekat jendela.

Tubuh yang dulu selalu bergerak itu kini diam di bawah selimut putih. Selang makanan masuk melalui hidung. Monitor sederhana di samping ranjang menunjukkan irama stabil, sementara pelembap membuat bibirnya tidak pecah. Empat tahun berlalu sejak kecelakaan yang merenggut kesadarannya, tetapi Keisha masih berharap mata itu akan terbuka setiap kali ia masuk.

"Assalamualaikum, Mama."

Keisha meletakkan tas, mencuci tangan, lalu memeriksa kulit di tumit dan punggung tangan Anindita. Tidak ada luka tekan baru. Posisi tubuh sudah diubah sesuai jadwal. Ia mengoleskan pelembap pada jemari ibunya perlahan.

"Aku pulang ke rumah tadi." Senyum tipis muncul di bibirnya. "Meja makan kita masih retak. Mama selalu bilang mau menggantinya setelah cabang ketiga untung, tapi sampai punya belasan cabang tetap saja tidak diganti. Pelit sekali."

Tak ada jawaban.

Hanya bunyi monitor yang teratur.

Keisha menunduk dan menempelkan kening ke punggung tangan Anindita. "Tapi aku lebih suka meja itu tetap di sana. Jadi Mama harus bangun dan memarahiku karena belum membuangnya."

Pintu kamar terbuka sebelum ia sempat mengusap matanya.

Herman Sucipto masuk lebih dulu. Kemejanya rapi, jam tangannya mengilap. Della mengikuti di belakang dengan tas bermerek di lengan dan sebuket bunga yang masih terbungkus plastik minimarket.

"Icha." Nada Herman terdengar seolah ia ayah yang datang karena khawatir. "Kenapa tidak bilang kamu ke Bekasi?"

Keisha berdiri di sisi ranjang. "Saya hanya mengambil dokumen Mama."

Tatapan Herman langsung turun ke tasnya. "Dokumen apa?"

"Bukan urusan Pak Herman."

Senyum di wajah laki-laki itu menipis.

Della meletakkan bunga di atas kabinet tanpa mencari vas. "Kami datang untuk melihat keadaan Bu Anin. Mas Herman tidak tidur nyenyak memikirkan biaya rumah sakit."

Keisha menatap tas mewah Della, lalu bunga murah yang mulai layu di ujungnya.

"Kalau benar memikirkan Mama, Tante bisa mulai dengan tidak menaruh bunga berbungkus plastik di dekat alat medis."

Wajah Della mengeras. Ia menarik bunga itu lagi.

Herman mengeluarkan map cokelat. "Cukup. Kita perlu bicara sebagai keluarga."

"Keluarga tidak membicarakan pasien seolah dia sudah tidak ada di ruangan."

"Anin tidak bisa mendengar kita."

Keisha menggenggam pagar ranjang sampai buku-buku jarinya memutih. "Dokter bilang pasien dengan gangguan kesadaran mungkin masih merespons suara yang dikenal. Jadi jaga ucapan Pak Herman di depan Mama."

Herman membuka map dan menyodorkan beberapa lembar formulir. Judulnya membuat dada Keisha sesak: permohonan pulang atas permintaan keluarga dan pembatasan perawatan lanjutan.

Tanda tangan wali masih kosong.

"Apa ini?"

"Keputusan yang masuk akal." Herman melipat tangan di dada. "Empat tahun, Icha. Dokter tidak pernah menjanjikan Anin akan bangun. BPJS hanya menanggung bagian tertentu, sementara kamu terus memilih terapi tambahan, perawat khusus, dan obat yang mahal."

"Terapi itu mencegah kontraktur. Perawat khusus mencegah luka tekan dan infeksi. Susu enteral menjaga nutrisinya. Itu bukan pemborosan."

Della menghela napas panjang. "Sayang, semua anak ingin berbakti. Tapi ada saatnya kamu harus ikhlas. Jangan habiskan masa depanmu untuk tubuh yang hanya bernapas."

Keisha bergerak satu langkah.

"Jangan sebut Mama tubuh."

Suara itu keluar begitu tenang hingga Della mundur tanpa sadar.

Herman mengetuk formulir dengan telunjuk. "Jangan emosional. Griya Anindita juga sedang kesulitan. Arus kas turun, beberapa proyek gagal. Perusahaan tidak bisa terus menjadi mesin uang untuk biaya pengobatan."

"Aneh." Keisha mengeluarkan salinan laporan dari tasnya. "Penjualan tidak turun sebanyak itu, tetapi penarikan dana operasional naik tiga kali lipat. Ada pembayaran ke pemasok yang tidak pernah dipakai Mama. Ada juga renovasi rumah atas nama orang lain."

Mata Della bergerak cepat ke arah Herman.

Keisha menangkapnya.

"Uang perusahaan ke mana, Pak Herman?"

"Kamu dokter, bukan auditor."

"Saya anak pendirinya."

"Anak angkat," potong Della.

Dua kata itu jatuh lebih dingin daripada udara bangsal.

Keisha sudah tahu sejak empat tahun lalu bahwa Anindita menemukannya sebagai bayi dan membesarkannya tanpa ikatan darah. Fakta itu tidak pernah mengurangi satu malam pun ketika Mama menemaninya demam, satu rupiah pun yang dikeluarkan untuk sekolahnya, atau satu pelukan pun yang menyelamatkannya dari rasa takut.

Ia mengangkat wajah.

"Benar. Mama mengangkat saya. Artinya dia memilih saya." Tatapannya beralih dari Della kepada Herman. "Sedangkan orang-orang yang dipilihnya sebagai pasangan justru sibuk menghitung kapan dia mati."

"Jaga mulutmu!" bentak Herman.

Monitor berdetak lebih cepat satu angka.

Keisha segera memeriksa Anindita, lalu menekan tombol panggil untuk memastikan perawat menilai kondisinya. Setelah yakin tidak ada perubahan berbahaya, ia mengambil formulir dari tangan Herman dan merobeknya menjadi empat bagian.

Sobekan kertas jatuh ke lantai.

"Saya tidak akan menyetujui penghentian perawatan. Jangan bawa surat seperti ini lagi."

"Kamu pikir gajimu cukup?" Herman mendesis. "Cicilanmu sudah menumpuk."

"Saya akan ambil jaga tambahan. Saya bisa menjual motor. Saya bisa pindah kos yang lebih murah."

"Lalu setelah itu? Menjual ginjalmu?"

"Kalau perlu, saya akan cari sepuluh cara lain sebelum membiarkan Pak Herman mencabut satu-satunya kesempatan Mama."

Della menarik lengan Herman. "Mas, percuma bicara dengannya sekarang."

Mereka pergi setelah Herman memungut map kosongnya. Pintu menutup keras, meninggalkan bau parfum Della dan serpihan kertas di lantai.

Keisha baru membiarkan bahunya jatuh setelah langkah mereka menghilang.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini nama Bu Sukma muncul di layar. Keisha menerima panggilan video dan segera melihat wajah perempuan yang sudah seperti ibu kedua baginya.

"Icha, kamu menangis?"

"Tidak." Keisha mengusap pipi. "Cuma alergi sama orang tidak tahu malu."

Bu Sukma mendecakkan lidah. "Herman datang lagi?"

Keisha menceritakan formulir itu, laporan AnHome, dan ancaman biaya. Kalimatnya sempat patah ketika ia menatap Anindita, tetapi Bu Sukma tidak menyela sampai selesai.

"Mama menemukan aku saat tidak ada siapa-siapa yang menginginkanku, Bu," katanya pelan. "Dia memberiku nama, rumah, sekolah, semuanya. Aku tidak akan tanda tangan. Apa pun yang terjadi."

"Jangan tanda tangan apa pun tanpa bicara denganku dan pengacara," jawab Bu Sukma. "Kamu tidak sendirian."

Napas Keisha akhirnya terasa sedikit longgar.

Bu Sukma lalu menyipitkan mata. "Kemarin kamu bilang ada masalah di tempat kerja. Bagaimana komplain pasien itu?"

Bayangan masker hitam, ritsleting celana, dan sepasang mata mengejek muncul sekaligus. Wajah Keisha langsung panas.

"Belum ada surat resmi. Pria aneh itu cuma memotret kartu identitasku dan menyuruhku menunggu tanggung jawab."

"Pria aneh? Tampan?"

"Bu Sukma!"

Tawa kecil terdengar dari ponsel. Untuk sesaat, kamar itu terasa tidak terlalu dingin.

Keisha masih berbicara dengan Bu Sukma ketika pintu terbuka sekali lagi. Herman berdiri di ambang, rupanya kembali hanya untuk mengambil kunci mobil yang tertinggal di kabinet.

Ia menatap serpihan formulir di lantai, lalu tersenyum tanpa kehangatan.

"Kamu boleh keras kepala sekarang," katanya. "Tapi saat uangmu habis, keputusan itu bukan lagi milikmu."

Keisha mematikan pengeras suara. "Tidak ada yang akan menghentikan perawatan Mama."

Herman mengambil kuncinya.

"Kita lihat saja. Karena wali sah-nya saya."

Episode 3

Bab 3

Bunda Ingin Aku Menikahi Vanya

"Kalau kamu tetap menolak menikah, jangan salahkan Bunda kalau jantung Bunda berhenti malam ini."

Arya meletakkan cangkir kopi tanpa suara.

Di seberang meja makan, Ratna menekan telapak tangan ke dada. Wajahnya pucat, napasnya dibuat pendek-pendek, tetapi matanya masih sempat mengintip reaksi putranya melalui sela jemari.

Akting yang kurang rapi.

Botol obat jantung di atas meja bahkan belum dibuka. Segelnya masih utuh.

"Kalau benar sesak, kita ke IGD," kata Arya. "Sekarang."

Ratna langsung menurunkan tangan. "Bunda sedang bicara soal pernikahanmu."

"Tadi soal jantung."

"Dua-duanya berhubungan. Kamu tidak menikah, jantung Bunda sakit."

Rumah tua di Bandung Utara itu biasanya sunyi. Malam ini, suara notifikasi WhatsApp berbunyi hampir setiap beberapa detik dari ponsel Ratna. Grup bernama Keluarga Besar sedang ramai. Foto perempuan, biodata anak teman, undangan pertemuan, dan pesan suara para tante memenuhi layar.

Arya baru pulang dari dinas sore tadi. Ia belum sempat tidur, tetapi ibunya sudah memanggilnya ke meja makan dengan alasan darurat keluarga.

Ternyata darurat itu bernama calon istri.

"Usiamu tidak berhenti," lanjut Ratna. "Setiap kali ada yang bertanya, Bunda harus menjawab apa? Anak saya terlalu sibuk pergi dinas sampai lupa membangun rumah tangga?"

"Jawab saja iya."

"Arya."

Nada itu biasanya cukup membuat orang lain menunduk. Arya hanya menyandarkan tubuh ke kursi.

Ratna menggeser sebuah foto ke arahnya. Perempuan dalam foto mengenakan kebaya lembut, tersenyum di sebuah acara keluarga. Wajah yang sudah lama tidak ingin Arya lihat.

Vanya.

"Dia masih menunggumu," kata Ratna. "Kalian saling mengenal sejak kuliah. Keluarganya jelas. Sikapnya halus. Dia juga tahu pekerjaanmu membuatmu sering tidak ada di rumah. Apa lagi yang kurang?"

"Kejujuran."

Jemari Ratna berhenti di atas meja.

"Masalah lama itu sudah selesai."

"Bagi Bunda."

"Vanya bilang dia sudah berubah."

"Orang yang berubah tidak perlu mengumumkannya kepada semua orang."

Ratna menarik napas. Kali ini bukan akting. "Kamu selalu melihat yang buruk darinya."

"Karena dia selalu menunjukkannya saat Bunda tidak melihat."

Hubungan singkat pada masa kuliah itu berakhir sebelum sempat menjadi sesuatu yang serius. Vanya menyukai nama baik, seragam, dan bayangan kehidupan yang ia pikir akan dimiliki bersama Arya. Ketika Arya menolak menjadikan hubungan mereka tontonan, Vanya mulai menciptakan cerita sendiri. Air mata, kecemburuan, pesan yang dipotong, dan kebohongan kecil yang dibungkus kelembutan.

Arya tidak memberi kesempatan kedua kepada kebohongan.

Ponsel Ratna berdering. Nama Eyang Menur muncul di layar.

Ratna segera menjawab panggilan video dan menyandarkan ponsel pada tempat tisu. Wajah seorang perempuan tua tampil di layar, dibingkai kerudung warna gading. Tatapannya masih tajam meski suaranya terdengar lelah.

"Sudah bicara dengan Arya?" tanya Eyang Menur.

"Sudah, Eyang. Dia tetap keras kepala."

"Berikan ponselnya."

Arya menggeser duduk sedikit agar terlihat kamera. "Assalamualaikum, Eyang."

"Waalaikumsalam. Kapan terakhir kali kamu pulang menjenguk Eyang?"

"Tiga minggu lalu."

"Terlalu lama."

"Saya sedang dinas."

"Kamu selalu dinas." Eyang Menur mendengus. "Kalau pekerjaanmu terus dijadikan alasan, nanti istrimu harus dikirim dengan paket ke depan pintu."

Ratna menahan senyum kemenangan.

Arya menatap dua perempuan yang paling sulit ia lawan tanpa melukai perasaan mereka. Di luar rumah, lampu kendaraan melewati jendela lalu lenyap. Ponselnya sendiri bergetar di saku, mungkin pesan pekerjaan yang belum selesai.

"Saya akan menikah kalau menemukan orang yang tepat," katanya.

"Kapan? Setelah rambut Eyang putih semua?"

"Rambut Eyang sudah putih."

"Dasar cucu tidak tahu cara membujuk perempuan."

Ratna tertawa kecil. Ketegangan di meja sempat melonggar, tetapi foto Vanya masih tergeletak di antara mereka.

Eyang Menur mencondongkan wajah ke kamera. "Eyang tidak memaksamu memilih Vanya. Tapi bawalah seseorang. Perempuan yang kamu pilih sendiri. Kenalkan baik-baik kepada keluarga. Kalau tidak ada, jangan marah kalau Bunda memilihkan."

Itu bukan perintah langsung. Justru lebih berbahaya.

Ratna segera menyambut, "Bunda beri waktu satu bulan. Kalau tidak ada siapa-siapa, kamu temui Vanya."

"Tidak."

"Dua minggu."

"Bunda baru saja menawar waktu ke arah yang salah."

"Karena kamu menjawab terlalu cepat."

Arya menatap ibunya lama. Ratna balas menatap tanpa berkedip. Perempuan itu mungkin tidak benar-benar sakit malam ini, tetapi Arya tahu tekanan dari keluarga besar, pertanyaan yang tak pernah berhenti, dan kekhawatirannya bukan sepenuhnya dibuat-buat.

Masalahnya, menyerah kepada Vanya bukan solusi. Itu hanya mengundang bencana masuk melalui pintu depan.

"Satu bulan," putus Eyang Menur dari layar. "Bawa perempuan pilihanmu. Kalau tidak, dengarkan Bunda."

Panggilan berakhir setelah Arya berjanji akan datang menjenguk. Ratna menyandarkan tubuh dengan puas, lalu menyelipkan foto Vanya kembali ke dalam tas.

"Bunda akan meminta Vanya datang akhir pekan depan."

"Batalkan."

"Bawa calonmu lebih dulu."

Arya berdiri. "Saya lelah."

"Bunda juga lelah menunggumu menikah."

Ia meninggalkan ruang makan sebelum percakapan kembali berputar. Lorong menuju kamarnya gelap, hanya diterangi lampu dinding kekuningan. Langkah Arya tetap tenang sampai pintu tertutup di belakangnya.

Barulah ia mengembuskan napas panjang.

Ponselnya penuh pesan. Ada laporan yang harus dibaca, jadwal dinas berikutnya, dan puluhan pesan di grup keluarga. Salah seorang tante bahkan sudah mengirim desain undangan dengan nama Arya dan Vanya berdampingan.

Ia menghapus gambar itu tanpa membuka penuh.

Ketika hendak mengunci layar, ibu jarinya berhenti pada galeri.

Foto terakhir memenuhi layar.

Sebuah kartu identitas rumah sakit tergantung di dada perempuan berwajah mungil. Keisha Kusumo. RSUD Bandung. Di tepi foto, tampak sedikit jas putih kusut dan jemari yang sedang berusaha menutupi kartu itu.

Arya memperbesar tulisan di bawah namanya.

Kemarin perempuan itu menyuruhnya membuka celana dengan wajah setenang dokter yang meminta pasien membuka mulut. Ia salah, tertangkap, memerah sampai telinga, lalu masih sempat berdebat bahwa harga dirinya tidak benar-benar terluka karena tidak ada tindakan invasif.

Lancang. Ceroboh. Berisik.

Namun saat kesalahannya terbukti, Keisha tidak bersembunyi di belakang suster atau sistem rumah sakit. Ia berdiri tegak dan mengaku lalai.

Kalau memang saya salah, saya yang akan bertanggung jawab.

Sudut bibir Arya bergerak tipis.

Ia membutuhkan seorang perempuan yang cukup meyakinkan untuk membuat Ratna berhenti membawa Vanya ke rumah. Seseorang yang tidak berasal dari lingkaran keluarga, tidak mudah dikendalikan, dan berani membantahnya di depan wajahnya.

Seseorang yang sudah berutang tanggung jawab kepadanya.

Gagasan itu tidak masuk akal.

Justru karena itu, ibunya mungkin akan percaya.

Arya membuka mesin pencari kontak rumah sakit, menemukan nomor pusat RSUD Bandung, lalu menekan tombol panggil.

Kali ini ia tidak berniat mengajukan komplain. Ia membawa permintaan yang jauh lebih gila, cukup gila untuk membuat dokter itu menyesali setiap kata tentang tanggung jawab.

Sebelum sambungan masuk, ia menatap foto Keisha sekali lagi.

"Katanya mau bertanggung jawab, ya?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!