Cup... cup.... cup
~Terdengar ciuman yang memburu~
"Ah ... sayang, kau berjanji kan walaupun kau menikah dengan gadis dingin itu, kau tetap akan menjadi kekasihku!"
"Berjanjilah sayang!"
Suara Kiara terdengar memburu, ciuman yang terdengar menggeja itu sungguh menyayat hati Akila.
"Tentu saja sayang, gadis dingin dan arogan itu benar-benar membuatku kesal! Dia sama sekali tidak mengenal pria, dia selalu menghindari aku ketika aku akan menyentuhnya!"
"Untung saja ada kau yang menemani aku dan mengeluarkan hasratku yang tidak terlampiaskan ini."
"Lagipula aku hanya kasihan padanya! Bayangkan, siapa yang mau dengan gadis dingin dan arogan seperti dia? Tidak ada! Aku satu-satunya yang mau menerimanya hanya karena aku kasihan melihatnya tidak diinginkan siapapun!"
Geram Kevin dimana dia tidak menyadari jika semua ucapannya di dengar oleh Akila.
Akila merasa kesakitan walau tidak ada luka di tubuhnya, hatinya terlalu sakit sampai terasa sangat perih sekarang ini.
Dia menutup mulutnya agar dia tidak mengeluarkan suara yang membuat mereka berhenti berbicara.
"Oh sayang, jangan terlalu dipikirkan! Fokus kepadaku saja, aku juga sudah muak dengan sikap dinginnya, dia mengira dunia ini adalah miliknya."
"Aku penasaran bagaimana jika dia tahu kita berselingkuh di belakangnya, dan bahkan sudah melakukan ini sejak kalian pertama menjadi kekasih?"
"HA HA HA!"
"Aku ingin melihat wajahnya memerah dan menangis ..."
Bisik Kiara sudah menggoda Kevin sejak hari jadi pertama Kevin dan Akila, Kiara nampaknya sangat menikmati hal ini, di depan banyak orang termasuk di depan Kevin, Kiara selalu memanggil Akila dengan sebutan "Kakak" dengan manis, padahal di belakang dia adalah ular berbisa yang siap mematuk.
"Sudah sayang, jangan membahas dia lagi, mari kita fokus kepada diri kita sendiri malam ini, aku sangat merindukanmu."
Bisik Kevin dengan nafas berat dimana dia sudah melucuti pakaiannya dan pakaian Kiara, mereka sudah bergumul di atas ranjang dimana saat itu Akila melangkah ke depan menghadap ranjang yang luas.
Dia menatap dengan kedua matanya bagaimana kedua sampah ini bergumul berdua dan terlihat sangat menggelikan.
Mata yang sangat kosong dan air mata yang menunjukkan luka yang sangat hebat, untuk sesaat dia tidak mampu mengatakan apa yang hendak ia katakan.
Mulutnya membisu karena rasa sakit itu.
Sedangkan Kevin dan Kiara, Kiara berada di bawah tubuh Kevin dimana dia adalah orang pertama yang melihat Akila, matanya membulat sesaat namun dia kemudian tersenyum puas.
Dia semakin memeluk Kevin di depan Akila yang menatap mereka dengan tatapan yang kosong.
Kevin yang sedikit kebingungan melihat Kiara mencoba melihat ke belakang dan dia syok berat saat melihat Akila ada disana menatap ke arah mereka.
"A... Akila, aku bisa jelaskan, semua ini hanyalah salah paham."
Kevin nampak buru-buru mengenakan pakaiannya dan mencoba mendekati Akila, namun saat itu Akila menjauh dan tersenyum pahit.
"Betapa kotornya kalian berdua! Aku merasa jijik karena aku benar-benar naif menerima pernikahan ini karena kupikir kau tulus padaku!"
"Dan kau Kiara... selama ini kau pura-pura manis memanggilku Kakak di depan orang lain, tapi kau tega melakukan ini di belakangku!"
"Tapi inilah balasan kalian, pengkhianatan yang begitu kejam!"
Dengan isakan tangis yang gemetaran, Akila mengepal tangannya, dia tidak ingin menangis di saat seperti ini namun air matanya tidak mau berhenti.
"Akila, dengarkanlah penjelasanku dulu!"
Ucap Kevin mendekat dan langsung memegang pundak Akila, saat itu Akila segera menghempaskan tangan Kevin dan langsung menamparnya dengan kuat.
"Jangan sentuh aku, aku merasa jijik!"
"Ini sudah berakhir, kalian membuatku ingin muntah karena merasa mual dengan perilaku kalian berdua!"
Teriak Akila membuat Kevin dan Kiara sangat terkejut, seorang Akila yang sangat dingin dan tidak pernah membantah dan berlaku kasar sekarang ini menampar lelaki yang pernah sangat ia cintai.
Kevin yang merasa Akila tidak berhak melakukan itu langsung mendorong dan membentak gadis malang itu.
"BRENGSEK! BERANI SEKALI KAU MENAMPARKU!"
"Dengar ya Akila, jika pernikahan kita batal, kaulah yang akan rugi, Ibu tirimu akan menyiksamu dan Ayahmu akan membuangmu."
"Bagus juga kau tahu perselingkuhan ini, agar aku tidak perlu lagi bersembunyi, aku tahu kau tidak akan bisa menolak pernikahan ini, karena hanya dengankulah kau bisa melanjutkan hidup!"
"Kau tidak diinginkan siapapun Akila, tidak ada yang mau dengan gadis dingin dan arogan sepertimu! Aku satu-satunya yang mau menerimamu hanya karena kasihan!"
"Jadi jaga sikapmu itu!"
Bisik Kevin menyeringai tajam, dia membuat Akila menatap nanar dan tidak menyangka bisa melihat wajah asli Kevin Edmund.
Lelaki yang ia kira sangat baik dan penuh perhatian selama ini ternyata hanyalah sebuah topeng.
Akila menunduk sebentar, dia menatap ke arah Kiara yang tersenyum seolah menang, lalu dia kembali menatap ke arah Kevin dengan mata bulat berwarna hazel, air mata membuat mata itu terlihat sangat indah, seperti mutiara langka.
"Aku sangat mempercayaimu, aku menerima pernikahan ini karena kupikir kau tulus, hatiku yang sakit ini bahkan tidak berharga untukmu."
"Bahkan kau ingin mengontrolku dengan kata-katamu, kau melemparkan kesalahan kepadaku untuk menutupi kesalahanmu."
"Memang aku akan disiksa oleh Ibu tiriku, aku akan dibuang oleh Ayahku karena aku tidak akan berguna lagi jika membatalkan pernikahan ini."
"Tapi kau tahu Kevin? Aku sangat senang... aku bahkan akan memilih mati jika memang dipaksa harus bersama denganmu!"
"Semuanya sudah berakhir, lanjutkanlah kesenangan kalian, hinalah aku sesuka kalian karena seperti katamu, kalian tidak lagi perlu bersembunyi!"
Seru Akila berpura-pura tegar, walau tubuhnya sudah gemetaran, hatinya hancur lebur dan harapannya seolah runtuh berkeping-keping.
Ucapan Akila membuat Kevin terdiam, dia tidak menyangka gadis dingin yang selalu menjaga jarak itu menangis begitu menyedihkan di hadapannya, dan bahkan memilih mati jika harus bersama dengannya.
Akila segera pergi dari ruangan yang membuatnya sesak, dia ingin berteriak namun suaranya seolah habis tak tersisa.
Dia termenung di lorong hotel, dia merasa seluruh dunia menjadi hancur.
Mimpi indahnya yang ingin bebas dari rumahnya yang seperti neraka, mimpi indah yang ingin menjadi istri Kevin Edmund hancur lebur dimakan api.
Yang membuatnya semakin kesakitan adalah dengan fakta bahwa semua kenangan indah dan manis bersama Kevin adalah sebuah kebohongan dan penuh pengkhianatan.
Kejadian ini benar-benar mematahkan hati dan merusak harapannya, dia tidak tahu lagi apa yang akan ia lakukan kedepannya.
Saat ia melangkah tanpa arah, dia merasa tidak akan bisa pulang, jika Ibu tirinya tahu maka dia akan dimaki habis-habisan.
"Bahkan disaat seperti ini tidak ada tempat untukku pulang, apa yang harus aku lakukan?"
Keluhnya menangis pilu, dia tidak tahu kemana ia harus pergi.
Dia masuk ke dalam lift secara sembarangan yang sudah berisi beberapa orang, dia mengikuti kemana orang itu pergi, dan ternyata mereka pergi ke bar paling elit di kota, disana tersedia minuman dan orang-orang elit di kota ini biasanya berkumpul di bar itu untuk sekedar berbincang dengan teman-temannya.
Akila terdiam ketika dia masuk ke dalam ruangan itu, nampaknya tidak ada yang memperdulikannya karena semua orang yang di ruangan ini memiliki urusan dan kesibukan masing-masing.
Akila memilih duduk di pojok yang menunjukkan pemandangan kota yang megah.
Malam itu, entah apa yang merasukinya, mungkin karena putus asa dia memesan sampanye yang memiliki kadar alkohol tinggi, padahal dia belum pernah minum alkohol sebelumnya.
Satu gelas, dua gelas, tiga gelas ia habiskan tanpa sadar. Kepalanya mulai terasa berputar, pandangannya kabur, namun rasa sakit di hatinya masih terlalu nyata. Di sudut bar yang sunyi, gadis itu mulai terisak pelan, tubuhnya linglung karena alkohol yang baru pertama kali ia rasakan. Beberapa pria hidung belang mulai meliriknya dengan tatapan bernafsu, namun Akila terlalu mabuk untuk menyadari bahaya yang mengintai.
Dengan tubuh yang oleng dan pandangan yang mulai gelap, Akila mencoba berdiri. Ia ingin pergi, ingin keluar dari tempat ini, tapi kakinya lemas dan tidak bertenaga. Tanpa sadar, ia berjalan keluar dari bar, melewati lobi hotel, dan melangkah ke area parkir bawah tanah yang sepi. Udara malam yang panas dan pengap menyambutnya.
Dengan langkah sempoyongan, Akila masuk ke sebuah mobil hitam yang sedang terbuka pintunya—ia mengira itu adalah taksi. Padahal itu adalah mobil mewah milik seseorang yang sangat berbahaya.
William Hartawan baru saja selesai berpamitan dengan rekan bisnisnya di restoran hotel. Wajahnya yang tegas dan dingin menunjukkan bahwa ia bukanlah orang biasa. Sebagai mafia kejam yang menguasai dunia bawah tanah, William terbiasa dengan segala macam situasi berbahaya. Namun malam ini, ia tidak menyangka akan menemukan kejutan di dalam mobilnya sendiri.
Ia pun masuk ke dalam mobil dan betapa terkejutnya dia saat melihat ada wanita di dalam mobilnya yang sedang duduk dan terlihat resah.
"Kau..." tunjuk William dengan tatapan tajam.
" Maaf Tuan,sepertinya aku mabuk..." meski penglihatannya tidak jelas Akila bisa melihat kalau laki-laki di depannya bukan Supir nya.
"...."
"Maaf aku salah masuk mobil" ucap terbata Akila dengan duduk tak tenang karena merasa panas pada tubuhnya, Akila malah menyibak bajunya karena merasa gerah.
"Are you oke?" tanya William dengan nada datar namun matanya menyipit curiga.
"Di sini panas, a-aku gerah" ucap Akila yang mulai kehilangan kesadarannya.
Tanpa sadar Akila membuka bajunya di depan William membuat William juga ikut merasa gerah.
"Shittt, biar ku antar pulang" geram William saat Akila sudah melepas pakaiannya, dia pun mulai menjalankan mobilnya.
"Panasnya~" ucap Akila.
"Kau tidak hanya mabuk tapi memakan obat perangsang" ucap William yang paham apa yang sedang dirasakan Akila.
"Aku gak tahan lagi" ucap Akila sambil mendekatkan tubuhnya pada William, entah kenapa rasanya dia ingin disentuh.
"Shitt apa yang ka..mphhtt"
Akila mencium bibir William tanpa minta izin, sebagai laki-laki normal William merasa terangsang yang berakhir William menghentikan mobilnya di depan sebuah hotel yang tepat dia lewati, William menutup tubuh Akila dengan jasnya, lalu William menggendong Akila keluar dari mobil dan masuk ke dalam hotel tersebut.
Dari dalam mobil sampai sekarang di dalam kamar, Akila merasa nyaman dalam gendongan William, bahkan ciumannya pun tak terlepas, untung saja tengah malam jadi tak banyak orang melihat.
Ceklek
"Kau sangat tak sabaran, jangan sampai kau menyesal setelah ini" ucap William saat masuk ke dalam kamar, lalu William membaringkan Akila di atas ranjang.
Karena William juga sudah terpancing, apa lagi ini baru pertama kalinya dia merasakan sentuhan wanita, alhasil William pun ikut membuka seluruh bajunya lalu mengukung Akila di atas ranjang.
"Hmmpptt" kali ini William yang lebih bersemangat sampai Akila kewalahan mengimbanginya, tapi karena tak sadar Akila juga membalas perbuatan William.
Mereka pun menikmati malam itu berdua, William dengan kesadaran penuhnya dan Akila yang tak sadar apa yang sudah dia lakukan.
Awalnya William sangat terkejut saat menyadari Akila masih virgin tapi karena sudah diliputi hasrat William tak memikirkan hal tersebut, biar itu menjadi urusan nanti pikirnya.
Bersambung...
"Aaaahhh!"
Teriakan terdengar nyaring di sebuah ruangan hotel mewah, dimana teriakan itu segera dia tahan dengan menekan tangannya ke mulut, dia tidak akan percaya apa yang terjadi, dan apa yang ia lihat sekarang ini di sisinya.
Bagaimana tidak, dia melihat seorang lelaki tanpa pakaian tertidur di sampingnya.
Dia segera menutup mulutnya dan matanya membulat, jantungnya berdegup sangat kencang seolah dia tidak percaya ini adalah kenyataan.
Dia terdiam dan nafasnya seolah tertahan dimana dia benar-benar tidak percaya apa yang sedang terjadi dengannya sekarang ini.
"Ini pasti mimpi buruk, bukan kenyataan. Oh, Akila, bagaimana bisa kau melakukan hal ini?!" bisik Akila dengan nada geram pada dirinya sendiri.
Sambil berusaha mengatur nafas dan mengendalikan emosinya, dia melihat lelaki di sisinya yang ternyata tidak terganggu oleh teriakan yang baru saja keluar dari mulutnya. Akila merasa panik, bingung, dan kecewa pada diri sendiri.
Tidak mampu menahan perasaan malu yang menyesakkan, dia mencoba mengumpulkan pakaiannya yang tercecer di atas ranjang dan segera mengenakannya.
Akila merasa seperti wanita yang nakal, jauh dari prinsip yang selama ini dipegang teguh olehnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Aku bahkan tidak ingat apa-apa." keluhnya pelan sambil mencoba mengingat-ingat kejadian yang membawanya ke situasi ini.
Air mata malu mulai menetes, menandakan runtuhnya harga diri seorang Akila.
Dalam hatinya, dia bersumpah akan mencari jawaban atas semua hal aneh ini. Namun, untuk saat ini, dia harus meninggalkan lelaki yang masih tertidur pulas di atas ranjang luas itu, tidak ada niatan sedikitpun dari Akila untuk melihat wajah lelaki itu, yang bisa dilihat oleh Akila hanyalah tubuhnya yang berada di dalam selimut.
Lelaki itu tertidur dengan menoleh ke sisi yang lain sehingga wajahnya tidak jelas di mata Akila.
Dengan gemetar, Akila segera meraih tasnya yang tergeletak di lantai dekat ranjang. Tangannya bergetar hebat saat ia mengancingkan bajunya yang kusut. Ia tidak berani menoleh lagi ke arah ranjang, tidak berani melihat pria asing yang telah merenggut keperawanannya semalam—meskipun ia sendiri tidak ingat apapun.
Setelah memastikan semua pakaiannya sudah rapi, Akila melangkah pelan menuju pintu. Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya terikat rantai. Ia membuka pintu dengan hati-hati, takut jika pria itu terbangun. Namun syukurlah, pria itu tetap tertidur lelap.
Akila keluar dari kamar hotel dengan langkah tergesa-gesa. Lorong hotel yang mewah dan sunyi terasa seperti labirin yang tak berujung. Ia terus berjalan, hampir berlari, hingga akhirnya mencapai lobi hotel. Tanpa menatap siapa pun, ia melesat keluar dan berjalan cepat di sepanjang trotoar.
Matahari pagi menyengat kulitnya, namun Akila tidak merasakan apa-apa selain kebekuan di dadanya. Ponselnya bergetar di dalam tas, tetapi ia mengabaikannya. Beberapa kali ia mendengar deringan yang tak kunjung berhenti, tapi ia tidak punya kekuatan untuk menjawab.
Akhirnya, ponselnya berdering lagi untuk kesekian kalinya. Dengan napas berat, Akila mengeluarkan ponselnya dan melihat layar.
Nona Wijaya 👑
Akila terdiam. Namanya saja sudah cukup membuat perutnya mual. Namun tangannya bergerak otomatis, menerima panggilan itu.
"Halo, Kakak!" Suara manis Kiara terdengar dari seberang sana, penuh dengan nada ceria yang membuat Akila ingin muntah. "Kakak di mana? Dari tadi aku telepon gak diangkat!"
Akila menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi yang mendidih. Suara gadis yang baru semalam ia lihat bergumul dengan tunangannya sendiri itu terdengar begitu riang, seolah tidak ada yang terjadi.
"Aku... lagi di luar," jawab Akila singkat, suaranya serak dan lemah.
"Wah, untung banget! Aku lagi butuh teman nih, Kakak!" Kiara tertawa kecil, terdengar begitu manis dan polos. "Aku mau ke mal, mau belanja baju baru. Ayah kasih uang banyak nih, katanya buat persiapan pernikahan Kakak sama Kevin!"
Mendengar nama Kevin, jantung Akila terasa tertusuk. Air matanya kembali menggenang, namun ia menahannya. Kiara tahu persis apa yang terjadi semalam, ia melihatnya langsung, dan kini ia bertingkah seolah semua itu tidak pernah terjadi. Seolah ia adalah adik yang baik dan perhatian.
"Kakak temani aku yah! Aku janji gak bakal lama, cuma sebentar kok," bujuk Kiara dengan nada merajuk yang dulu selalu membuat Akila luluh. Tapi sekarang, Akila hanya merasakan jijik yang mendalam.
Sebenarnya Akila ingin menolak, ingin membentak, ingin meneriaki Kiara dan mengatakan bahwa ia tahu semua kebusukannya. Tapi ia ingat ancaman Kevin. Ibu tirinya yang kejam, ayahnya yang dingin. Jika ia melawan, mereka akan membuangnya. Mereka akan menyiksanya. Ia tidak punya tempat berpulang.
"Iya... aku datang," jawab Akila akhirnya, suaranya lirih dan hampa.
"Yess! Aku jemput ya Kakak! Cuma lima belas menit lagi!" Kiara berseru gembira, lalu menutup telepon tanpa memberi kesempatan Akila untuk menjawab.
Akila menutup ponselnya dengan tangan gemetar. Ia terdiam di tengah trotoar, menatap langit yang terik namun hatinya terasa sangat dingin. Dalam benaknya, ia berkata pada dirinya sendiri, "Aku harus bertahan. Aku tidak punya pilihan. Suatu saat... suatu saat nanti, mereka semua akan membayar."
Lima belas menit kemudian, sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti di hadapannya. Kiara menurunkan kaca samping, memperlihatkan wajah cantiknya yang tersenyum lebar. Seperti biasa, Kiara tampak sempurna dengan riasan tebal dan pakaian modis yang membuatnya terlihat seperti bintang film.
"Ayo Kakak, naik!" seru Kiara riang.
Akila naik ke kursi penumpang dengan wajah datar. Begitu ia duduk, Kiara langsung menggeber mobilnya, melaju kencang di jalanan kota yang mulai padat.
"Kakak kok diam saja sih? Ada masalah?" tanya Kiara pura-pura perhatian, namun matanya tetap tertuju pada jalan. "Oh iya, semalam Kakak pergi ke mana sih? Aku pulang duluan soalnya Kevin bilang Kakak udah pergi."
Akila mengepal tangannya di pangkuan. Dia masih berpura-pura. Dia masih bermain sandiwara. Kiara tahu persis bahwa Akila melihat mereka, tapi ia bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
"Tidak apa-apa," jawab Akila singkat, suaranya dingin.
"Ah, Kakak tuh kaku banget sih!" Kiara tertawa sambil sesekali melirik Akila dengan pandangan penuh kemenangan. "Aku cuma sayang sama Kakak, jangan marah-marah gitu dong! Lagipula... sebentar lagi Kakak bakal nikah sama Kevin, kan? Aku senang banget Kakak akhirnya dapat jodoh!"
Akila terdiam. Ia mendengar nada sarkasme di balik kata-kata Kiara. Gadis itu dengan sengaja menyakiti hatinya, menikmati setiap detik penderitaan yang ia lihat di wajah Akila.
"Kakak tahu gak, aku udah lihat gaun pengantin yang bagus banget di mal nanti," lanjut Kiara dengan semangat palsu. "Kalau Kakak beli, pasti Kevin bakal terpesona!"
Mendengar nama Kevin, hati Akila seperti diremas-remas. Ia ingin berteriak, ingin membanting pintu mobil dan pergi. Namun ia hanya bisa diam, menahan semua sakit yang ia rasakan.
Dan di saat itulah ponsel Kiara berdering. Kiara melirik layar dan matanya berbinar. Tanpa ragu, ia mengangkat panggilan itu dengan speaker.
"Sayang!" sapa Kiara manis.
"Kiara, kamu di mana?" Suara Kevin terdengar dari seberang sana. Akila langsung menegang, darahnya mendidih. Kevin berbicara dengan Kiara begitu mesra, seolah Akila tidak ada di sebelah Kiara.
"Di jalan, mau ke mal bareng... Kakak," ucap Kiara dengan nada menggoda, menekankan kata 'Kakak' seolah sedang mempermainkan Akila.
"Wah, hati-hati kalau sama si gadis dingin itu," kekeh Kevin dengan nada meremehkan. "Jangan sampai kebawa-bawa sikap dinginnya, sayang."
Akila menggigit bibirnya sampai hampir berdarah. Tangannya yang sudah mengepal kini semakin erat, hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Ia mendengar mereka berdua bercanda di depannya, mengolok-olok dirinya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Sudahlah sayang, aku lagi nyetir ini. Nanti kita lanjutin lagi ya?" kata Kiara dengan suara cadel yang membuat Akila mual.
"Oke, hati-hati, sayangku," jawab Kevin, lalu menutup telepon.
Kiara meletakkan ponselnya di pangkuan, kemudian melirik Akila dengan senyum puas. "Maaf ya Kakak, tadi Kevin telepon. Dia tuh selalu perhatian banget sama aku," ucapnya dengan nada angkuh.
Akila tidak menjawab. Ia menatap ke luar jendela, menyaksikan gedung-gedung tinggi yang melintas dengan cepat. Di dalam hatinya, amarah dan kepedihan bertempur hebat. Ia tahu Kiara dan Kevin sengaja menyakitinya, sengaja mempermalukannya. Dan ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak punya tempat untuk berlindung.
"Kakak kenapa sih? Kok diem aja terus?" Kiara mulai kesal karena tidak mendapat reaksi yang diinginkannya. "Aku kan udah baik banget ngajak Kakak belanja. Seharusnya Kakak berterima kasih."
Akila masih diam. Ia memejamkan matanya, berusaha mengendalikan emosi yang siap meledak.
"Biasanya orang yang dikasihani tuh harus bersyukur, tahu!" lanjut Kiara dengan nada sinis. "Kakak ini anak angkat, Kakak. Ingat itu! Tanpa keluarga Wijaya, Kakak cuma sampah jalanan!"
Kalimat itu seperti pukulan telak di wajah Akila. Ia membuka matanya, menatap Kiara dengan tatapan kosong yang dingin. Namun Kiara hanya tertawa, menikmati setiap kata-katanya yang menusuk.
"Ah, lihat deh muka Kakak sekarang," cibir Kiara sambil tertawa. "Kayak orang mau nangis. Lucu banget sih!"
Kiara kembali tertawa, dan saat itulah—karena matanya tidak fokus ke jalan karena sibuk menatap Akila dan telponannya yang masih tertempel di tangan—ia tidak melihat mobil truk besar yang datang dari persimpangan.
"KIARA!" teriak Akila.
Namun sudah terlambat.
BRAK!
Terdengar bunyi benturan yang mengerikan. Tubuh Kiara terhempas ke depan, airbag mengembang menampar wajahnya. Akila juga terlempar ke samping, kepalanya membentur kaca jendela dengan keras.
Mobil putih itu berputar beberapa kali di tengah jalan, menabrak pembatas jalan sebelum akhirnya berhenti dengan kondisi ringsek di bagian depan. Kaca-kaca pecah berserakan di mana-mana. Asap mengepul dari kap mesin yang hancur.
Di dalam mobil, Kiara terguling lemas di kursi pengemudi, darah mengalir dari pelipisnya. Ponselnya terlempar ke lantai mobil, layarnya masih menampilkan nama 'Kevin'—panggilan yang baru saja ia tutup beberapa detik yang lalu.
Akila terbaring di kursi penumpang, tubuhnya terasa sakit di sekujur bagian. Darah mengalir dari lukanya di kepala, membasahi rambut hitamnya yang panjang. Ia mencoba membuka mata, tetapi pandangannya mulai kabur.
Terdengar suara klakson mobil di kejauhan, suara orang-orang yang berteriak dan berlarian menuju lokasi kecelakaan. Namun bagi Akila, semua suara itu seperti terdengar dari jauh, semakin menjauh...
Sebelum ia kehilangan kesadarannya, satu nama terakhir terlintas di benaknya.
Kevin...
Dan kemudian semuanya menjadi gelap.
---
Bersambung
Di sebuah rumah sakit.
Seorang gadis membuka matanya, tubuhnya terasa begitu sakit.
Ingatan kembali berputar di dalam otaknya.
Tangannya terulur menatap sebuah gelang yang melilit pergelangan tangannya. Ada gelang yang tampak dirajut melalui tangan seseorang.
Hanya satu kata pujian untuk gelang itu.
Indah!
Akila Georgina namanya, usianya 24 tahun. Ia memiliki paras yang cantik.
Akila duduk dari posisinya, tubuhnya terasa begitu sakit.
Baru saja duduk, tampak matanya bertemu langsung dengan sosok pria yang ia sebut dengan 'Daddy' itu.
"Akuilah bahwa kau adalah pengemudi mobil malam itu." Ucapnya membuat Akila terkejut.
Ben Mason nama pria itu. Dia bukan Ayah biologis dari Akila, tapi dia adalah sosok pria yang mengadopsi Akila dari sebuah panti asuhan.
Dengan kata lain ia dibesarkan hanya untuk menggantikan apapun yang terjadi pada Anak pertama milik Ben dan juga Mathilda.
Kiara Mason, Putri pertama dan tunggal milik Ben dan Mathilda, adik tiri Akila yang hanya terpaut satu tahun darinya.
Akila dibesarkan di Keluarga itu sejak lama juga hanya menjadi pengganti dan semuanya tak akan pernah berubah atas takdir yang Akila jalani.
Akila hanya akan jadi tameng atas semua yang Kiara lakukan.
"Apa Daddy tahu bahwa malam itu aku sudah mengatakan pada Kiara agar aku saja yang mengemudi, tapi dia memaksa walaupun matanya tidak fokus ke jalan karena sibuk main handphone dan cekikikan dengan kekasih gelapnya." Ucap Akila.
"Apa kau sedang mencari pembelaan? Bukankah itu takdir dari hidupmu? Kau terlahir untuk menjadi yang kedua bagi Kiara, apapun yang terjadi kau harus mengatakan bahwa kau yang mengemudi hingga kecelakaan itu terjadi." Ucap Ben.
Akila turun dari ranjang itu, ia mendekati Ben.
"Mau kemana kau?" Tanya Ben.
"Apa aku bisa menolak untuk tidak mengatakan bahwa bukan aku yang mengemudi? Tidak kan? Aku akan pergi dan mengakui kesalahan yang Kiara lakukan. Aku akan meminta maaf pada korban dan..."
"Korban dalam kecelakaan itu sudah meninggal." Singkat Ben membuat langkah Akila terhenti.
Akila menelan ludahnya susah payah, bukan karena ia takut tapi ia lebih terkejut mendengar kabar itu.
Seketika itu juga, ingatan Akila kembali ke malam kecelakaan. Saat mobil berhenti dengan ringsek dan asap mengepul dari kap mesin yang hancur. Saat itu, Akila sempat terbangun sejenak sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya.
---
Flashback - Malam Kecelakaan
Akila membuka matanya dengan susah payah. Kepalanya terasa sangat sakit, darah mengalir dari pelipisnya. Di kursi pengemudi, Kiara terguling lemas dengan wajah berlumuran darah. Ponsel Kiara terlempar di lantai mobil, layarnya masih menampilkan nama 'Kevin'—panggilan yang baru saja ia tutup beberapa detik sebelum kecelakaan terjadi. Akila ingat betul bagaimana Kiara sibuk cekikikan dan berbicara mesra dengan Kevin di telepon, matanya sama sekali tidak fokus ke jalan.
Akila mencoba menjangkau Kiara, tapi tubuhnya terasa sangat lemah.
Dengan susah payah, Akila membuka pintu mobil yang ringsek. Ia jatuh tersungkur di aspal yang kasar, tetapi ia memaksakan diri untuk bangkit. Di kejauhan, ia melihat mobil lain yang juga terlibat dalam kecelakaan—sebuah mobil hitam mewah yang kini terbalik di sisi jalan.
Dengan langkah sempoyongan, Akila berjalan mendekati mobil itu. Ia melihat seorang wanita paruh baya terjepit di kursi penumpang, darah mengalir dari kepalanya. Tanpa berpikir panjang, Akila berusaha membuka pintu mobil yang penyok.
"Nona... tolong..." bisik wanita itu dengan suara lemah.
"Tahan sebentar, aku akan membantu Nona keluar," ucap Akila dengan napas tersengal-sengal.
Dengan sekuat tenaga, Akila menarik pintu mobil hingga akhirnya terbuka. Ia meraih tangan wanita itu dan perlahan membantunya keluar dari mobil. Keduanya jatuh terduduk di aspal, tubuh mereka sama-sama berlumuran darah.
Wanita itu menatap Akila dengan tatapan yang hangat, meski wajahnya penuh luka. "Kau... gadis yang baik," bisiknya. "Kau menolongku padahal kau sendiri terluka."
Akila hanya bisa tersenyum pahit. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan."
"Namaku Natalie," ucap wanita itu dengan suara gemetar. "Natalie Hartawan. Kau?"
"Akila... Akila Georgina."
Natalie mengulurkan tangannya yang gemetar, mencoba meraih sesuatu dari sakunya. Sebuah gelang rajut berwarna biru muda dengan manik-manik kecil di ujungnya. "Simpanlah ini," bisik Natalie. "Aku suka merajut. Gelang ini... aku buat untuk seseorang yang istimewa. Tapi kau... kau pantas memilikinya."
Akila menatap gelang itu dengan mata berkaca-kaca. "Tapi Nona Natalie, ini terlalu berharga..."
"Kau cantik, Akila," ucap Natalie, tangannya yang gemetar meraih pipi Akila. "Kau gadis yang baik. Aku harap kau punya takdir yang indah... jauh lebih indah dari hidup yang kau jalani sekarang."
Air mata Akila jatuh membasahi pipinya yang berlumuran darah. Ia merasakan kehangatan yang belum pernah ia dapatkan dari siapapun—dari keluarga angkatnya yang dingin, dari Kevin yang munafik, dari Kiara yang licik. Natalie adalah orang pertama yang benar-benar baik padanya.
"Aku memiliki putra yang tampan," lanjut Natalie, suaranya semakin lemah. "Bagiku, kebahagiaan dia adalah kebahagiaanku. Aku berharap dia punya hidup yang lebih indah, selama ini aku tak bisa membahagiakannya. Namanya William, aku melahirkannya dengan bahagia. Aku merawat dan membesarkan dia, namun takdir mengubah bayi kecilku yang tampan itu..."
Mata Natalie mulai terpejam. Akila memegang tangannya erat-erat. "Nona Natalie! Tahan sebentar! Tolong bertahan!"
"Aku... aku hanya ingin dia bahagia..." bisik Natalie sebelum akhirnya pingsan.
"Aunty itu orang yang baik," gumam Akila malam itu, gelang Natalie masih tergenggam erat di tangannya.
Akila berusaha menahan pusing yang semakin hebat. Di kejauhan, ia mendengar suara sirine ambulans mulai mendekat. Namun tubuhnya sudah tidak kuat lagi. Sebelum ia jatuh pingsan, pandangannya menangkap sosok seorang pria yang berlari ke arah mereka—seorang pria tampan dengan wajah panik yang memanggil nama 'Ibu' berulang kali.
Dan setelah itu, semua menjadi gelap.
---
Akhir Flashback
Akila menunduk, ia menatap pergelangan tangannya yang menyimpan gelang rajutan yang sempat Natalie berikan padanya. Air mata kembali menetes mengingat kebaikan wanita yang bahkan tidak dikenalnya itu.
"Pergilah dan akui kesalahanmu pada Polisi, bahwa kau mengemudi dalam keadaan tidak fokus karena main handphone." Ucap Ben.
Usai mengatakan itu Ben pergi tanpa bertanya bagaimana keadaan Akila yang baru saja terbangun setelah tiga hari dirawat di rumah sakit.
Akila terdiam, ia mencengkram baju di dadanya dengan kuat. Ini bukan tentang pengakuan lagi, Akila hanya tak menduga bahwa Natalie akan meninggal dalam kejadian itu, padahal mereka masih sempat berbicara.
"Aunty itu orang yang baik." Ucap Akila.
Tanpa sadar Akila malah meneteskan air matanya.
Pintu diketuk, Akila menatap dua Polisi masuk ke ruangannya.
"Nona Akila, kami membawa surat laporan dari kantor. Kami akan meminta pernyataan dari anda." Ucap salah satu dari mereka.
Akila mengangguk tanpa menolak saat tangannya dibawa oleh polisi itu.
Mata Akila terpejam saat ia sudah duduk di mobil polisi itu. Tangannya mencengkram pergelangan tangan yang menyimpan gelang rajut itu.
Ucapan Natalie kembali terngiang di telinga Akila, saat malam itu mereka sempat duduk berdekatan sebelum akhirnya Akila pingsan.
"Aku memiliki putra yang tampan, bagiku kebahagiaan dia adalah kebahagiaanku. Aku berharap dia punya hidup yang lebih indah, selama ini aku tak bisa membahagiakannya. Namanya William, aku melahirkannya dengan bahagia. Aku merawat dan membesarkan dia namun takdir mengubah bayi kecilku yang tampan itu."
Bahkan wajah Natalie masih teringat oleh Akila dalam benaknya.
Ada banyak cerita dari Natalie, namun di penghujung kesadarannya Akila tak lagi bisa menahan rasa pusingnya. Ia jatuh pingsan di dekat tubuh Natalie.
Malam itu terlalu gelap dan keadaan sungguh sunyi, Akila tak tahu apa yang terjadi setelahnya hingga Natalie menjadi korban dalam kecelakaan itu.
---
Kantor Polisi
Akila sama sekali tidak memberikan keterangan apapun. Sejak tadi ia hanya diam tanpa berucap apapun walau ia sudah ditanya berulang kali.
Polisi mulai menatap Akila yang tampak diam terus.
"Apa Nona tidak mengingat apapun hingga memilih diam seperti ini? Tapi hasil medis Nona mengatakan bahwa keadaan Nona..."
"Bolehkah aku tahu dimana korban yang meninggal dalam kejadian kecelakaan itu kini dimakamkan?" Tanya Akila akhirnya buka suara.
Tatapan Polisi itu seketika berubah, membuat Akila cukup heran.
Wajahnya sedikit mendekat.
"Apa Nona tahu siapa yang mengalami kecelakaan karena ulah anda yang tidak fokus saat mengemudi?" Tanya nya.
Ah Akila ingin menyangkal bahwa ia tak mengemudi dan bukan ia yang menyebabkan kecelakaan itu tapi ia tak bisa berucap hal itu.
Akila menggeleng pelan. Ia tak tahu siapakah Natalie tapi yang hanya Akila tahu bahwa ia sempat berbicara pada Natalie malam saat kecelakaan itu usai terjadi. Selebihnya ia belum tahu siapa sosok Natalie itu.
Lembaran kertas bergeser ke hadapan Akila.
"Silahkan Nona membacanya." Ucap Polisi itu.
Akila membuka lembaran itu ada nama Natalie Hartawan yang menjadi satu-satunya korban disana yang dinyatakan meninggal.
"Dia adalah Istri dari seorang pebisnis terkenal. Antonie Hartawan, keduanya mengalami kecelakaan akibat ulah anda yang tidak fokus saat mengemudi karena anda menggunakan handphone. Apa anda punya sanggahan kalau anda..."
"Siapa yang melaporkan aku dan katakan padaku saksi yang membuat laporan ini." Ucap Akila.
Akila masih mengingat ucapan Ben kalau ada saksi yang diwakili untuk memberatkan Akila.
Polisi itu menoleh saat seorang pria mendekat, Akila sampai tak habis pikir ketika melihat tunangannya ada disana.
"Tuan Kevin yang menjadi saksi bahwa anda mengemudi secara ugal-ugalan, bahkan menyatakan bahwa malam itu anda sedang asyik main handphone dan tidak fokus ke jalan. Ada beberapa foto yang diambil saat anda pergi ke Bar." Ucap polisi itu.
Tangan Akila terkepal, ia menyadari bahwa ia memang terlahir untuk diciptakan sebagai sosok pengganti dan tameng bagi Kiara. Bahkan Kevin, tunangannya sendiri, tega menjatuhkannya demi melindungi Kiara—kekasih gelapnya yang juga adik tiri Akila.
Akila membuang tatapannya dari Kevin.
"Nona Akila, apa anda bersedia memberikan keterangan?" Tanya Polisi itu.
Kevin meraih tangan Akila tapi Akila segera menepisnya. Tunangan macam apa yang rela menuduh tunangannya sendiri? Harusnya Kevin ada di pihaknya. Kini Akila hanya seorang diri tanpa ada siapapun yang mau membelanya.
Jadi omong kosong saja jika Akila ingin membela dirinya sendiri.
"Aku menyerahkan diriku, aku tak akan mengelak untuk itu. Aku mengakui semua kejahatanku." Ucap Akila.
Tak ada yang bisa Akila lakukan, memangnya ia punya hak membela diri? Dari sekian banyaknya ulah yang Kiara lakukan, kali ini adalah yang paling buruk.
Akila bersiap berdiri, ia mau pergi saja dan ia sudah sangat rela ditahan namun tangan Kevin menahannya.
"Kita bicara sebentar." Pinta Kevin.
Akila memberikan tatapan muak pada Kevin.
"Buat apa? Kau masih memandangku setelah melihat ini? Aku pembunuh Kevin, kau sendiri yang menjadi saksi atasku. Ada baiknya kita berakhir saja." Ucap Akila membuat Kevin menggeleng.
"Ijinkan aku bicara, sebentar saja Akila." Ucap Kevin.
Lagi-lagi Akila menarik tangannya dari Kevin.
"Tak usah, ini salahku jadi aku harus bertanggung jawab hingga akhir." Ucap Akila.
Tatapan Akila penuh kemuakan menatap wajah Kevin yang berstatus sebagai tunangannya itu.
Polisi hendak membawa Akila namun tempat itu lebih dulu dimasuki oleh beberapa orang. Saat jalan dibuka, sosok pria tampan muncul.
Visualnya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata karena pada dasarnya wajahnya memang sangat tampan sekali.
Aura dingin ada disana, ia duduk lalu matanya mengintimidasi Akila yang kini berdiri dalam diam.
"Aku tidak memperpanjang kasus ini." Singkatnya membuat para Polisi tercengang.
"Tuan William..." salah satu dari Polisi itu hendak melangkah namun tangan William terangkat membuat Polisi itu tidak bisa menyelesaikan ucapannya bahkan langkahnya juga.
William masih menatap Akila hingga tatapan mereka jadi beradu.
"Aku adalah Putra dari Natalie Hartawan, aku benar-benar tidak memperpanjang kasus ini. Bebaskan saja dia." Ucap William menunjuk Akila.
"Tapi Tuan..."
William bangkit berdiri, Polisi itu lebih takut melihat aura mematikan milik William.
Langkah William mendekati Akila, tangannya menepis rambut panjang Akila lalu senyum miring terbit di bibir William.
"Ikutlah denganku Nona Akila Georgina." Ucapnya.
Akila tak takut, ia hanya terdiam mengingat semua sisa ucapan milik Natalie. Benar kata Natalie kalau ia memiliki Putra yang sangat tampan, pada dasarnya William sungguh tampan sekali.
Akila bersiap mengikuti langkah William tapi tangannya ditahan oleh Kevin.
"Aku antar kau pulang Akila, aku akan..."
"Kevin! Kau yang melaporkan aku namun kenapa kau cemas sendiri? Jika pria itu akan balas dendam padaku, maka aku tak akan mempermasalahkannya sama sekali. Bukankah aku yang bertanggung jawab atas segala yang terjadi?!" Tanya Akila.
William yang masih disana mendengar ucapan Akila.
"Jangan pernah pedulikan aku!" Tegas Akila pada Kevin.
Kevin yang mendengar ucapan Akila hanya bisa terdiam, ia tak bohong kalau perasaannya terusik.
Mengapa Akila harus mendengarkan ucapan William? Sudah sangat jelas dimata William hanya ada dendam buat Akila.
---
Bersambung
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!