Indonesia
NovelToon NovelToon

SEMUA SALAH BUNDA

YOVANA

​Suara deru mesin jahit terdengar dari ruang depan sejak matahari baru merambat naik.

​Bunda sudah duduk di sana, membelakangi pintu kamar Yovana. Kain biru muda terbentang di atas meja kayu. Tangannya begitu cekatan menuntun bahan mengikuti pola kapur yang digambar semalam. Sesekali pedal dihentikan hanya untuk memastikan kerapian jahitan.

​Rumah mereka tidak besar. Hanya ada dua kamar tidur, ruang depan yang merangkap tempat kerja Bunda, dapur sempit di belakang, dan sebuah teras kecil yang menghadap ke gang.

​Yovana keluar dari kamar sambil menguncir rambutnya asal-asalan. Ia masih mengenakan kaos oblong dan celana kain panjang

​"Sudah bangun, Yov?" tanya Bunda tanpa mengalihkan pandangan dari jarum mesin jahit.

​"Sudah, Bun."

​"Kalau mau sarapan, masih ada nasi di tudung saji."

​Yovana berjalan ke dapur. Udara pagi masih agak dingin saat ia membuka tudung saji. Di sana tersisa piring berisi sisa lauk semalam.

​"Telurnya masih ada, Bun?" panggilnya dari balik dinding dapur.

​"Ada satu. Makan saja."

​"Yovana ambil, ya."

​Bunda hanya mengangguk pelan dari ruang depan.

​Yovana mengambil piring dan duduk sendirian di meja makan kayu. Ia mengunyah pelan. Tidak ada suara selain denting sendok yang beradu dengan piring dan ketukan ritmis mesin jahit Bunda.

​Dulu, rumah ini tidak sehening ini.

​Dulu, Yovana adalah tipe anak yang tak bisa diam. Ada saja yang diceritakannya—mulai dari kejadian konyol di sekolah, ulah teman-temannya, guru yang ia sebal, hingga jajanan pasar yang ia beli sepulang sekolah.

​Sekarang, kebiasaan itu hilang.

​Sejak berhenti sekolah, waktunya lebih banyak habis di kafe tempatnya bekerja. Usianya baru tujuh belas tahun, tetapi Yovana sudah terbiasa memendam semuanya sendirian.

​"Berangkat jam berapa nanti?" tanya Bunda, memecah hening.

​"Jam sepuluh."

​"Jangan lupa makan siang di tempat kerja."

​"Iya, Bun."

​Mesin jahit itu berhenti sejenak. Bunda menoleh ke arah dapur.

​"Kalau mau pulang lebih malam, kabari Bunda dulu."

​Yovana menghentikan sendoknya. "Biasanya juga pulang malam, kan?"

​"Bunda tahu. Maksud Bunda... kalau ada acara atau pulang lebih malam dari biasanya."

​Yovana tersenyum tipis—senyum formalitas agar Bunda tidak khawatir. "Iya, nanti Yovana kabari."

​Bunda kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya.

​Yovana menghabiskan sarapannya, mencuci piring bekas pakai, lalu masuk kembali ke kamar. Di depan cermin kusam di sudut ruangan, ia merapikan rambutnya dan mengenakan seragam kerja: kemeja putih polos dan rok berwarna hitam jahitan Bunda.

​Ia menatap bayangannya sendiri di cermin selama beberapa detik.

​Wajahnya tampak biasa saja. Tidak ada raut sedih, tidak ada raut takut. Setidaknya, itulah topeng yang selalu berhasil ia pakai setiap kali keluar dari rumah.

​Yovana menyampirkan tasnya di bahu lalu berjalan ke pintu depan.

​"Bun."

​"Hm?"

​"Berangkat dulu."

​Bunda menoleh sebentar, matanya menunjukkan rasa lelah yang sama. "Hati-hati di jalan."

​"Iya."

​Saat meraih gagang pintu, Yovana sempat melirik Bunda yang kembali menunduk menatap kain. Ada banyak kata yang sebenarnya berdesakan di tenggorokannya. Ingin ia tanyakan, ingin ia luapkan. Namun seperti biasa, semua kata itu tertahan dan lenyap begitu saja.

​Ia pun melangkah keluar.

​Kafe tempat Yovana bekerja berjarak sekitar dua puluh menit perjalanan dengan sepeda motor. Begitu memasuki jam makan siang, tempat itu mulai dipenuhi pengunjung.

​Yovana menggantung tasnya di loker karyawan dan mengikat celemeknya kencang-kencang.

​"Telat dua menit," bisik Rani, teman kerjanya, saat Yovana keluar dari ruang belakang.

​"Jalanan agak macet tadi," jawab Yovana beralasan.

​"Alasan klasik," kekeh Rani sambil mengangsurkan nampan. "Meja nomor tiga minta tambah air putih, ya."

​"Siap."

​Pekerjaan di kafe selalu berhasil menyita perhatian Yovana. Ia mengantar pesanan, membersihkan meja, menyapa pelanggan, dan membantu di bagian bar.

​Secara fisik, pekerjaan ini menguras tenaga. Kakinya sering pegal dan punggungnya terasa kaku menjelang malam. Namun Yovana menyukainya.

​Sebab, saat sibuk bekerja, otaknya tidak punya waktu untuk berpikir.

​Di kafe ini, tidak ada yang bertanya tentang masa lalunya.

Tidak ada yang bertanya kenapa ia tidak melanjutkan sekolah.

Dan yang paling penting, tidak ada yang memaksanya menjelaskan rahasia yang bahkan belum sanggup ia terima sendiri.

​Menjelang sore, seorang pelanggan pria memanggilnya.

​"Mbak."

​Yovana menghampiri meja tersebut dengan senyum ramah. "Iya, Mas? Ada yang bisa dibantu?"

​"Pesanan saya belum keluar dari tadi."

​"Boleh saya lihat nota pemesanannya, Mas? Baik, tunggu sebentar ya, saya cek ke dapur."

​Yovana berjalan cepat ke area dapur untuk memastikan pesanan yang tertunda. Setelah menyelesaikan masalah itu dan meminta maaf kepada pelanggan, ia kembali berjalan menuju meja kasir.

​Namun, langkahnya terhenti saat melewati dinding kaca besar di bagian depan kafe.

​Di luar, di seberang jalan, berdiri seorang pria berjaket gelap yang sedang menelepon.

​Yovana terpaku.

​Tiba-tiba, dadanya terasa sangat sesak.

​Pria itu sama sekali tidak melakukan apa pun. Ia hanya berdiri membelakangi jalan sambil berbicara di ponselnya. Tetapi gestur tubuhnya—cara pria itu berdiri dan menyandarkan bahunya—memukul memori lama di kepala Yovana.

​Sensasi dingin menjalar cepat ke ujung jari-jarinya.

​Yovana memalingkan wajah dengan cepat dan berpura-pura sibuk menata gelas.

​"Yov?" Rani menepuk bahunya pelan dari samping. "Kamu kenapa? Muka kamu pucat banget."

​Yovana menarik napas pendek-pendek. "Enggak apa-apa."

​"Serius? Mau istirahat dulu di belakang?"

​"Enggak usah, Ran. Cuma agak kaget aja tadi. Aku mau bersihin meja lima dulu, ya."

​Rani menatapnya curiga, tetapi akhirnya membiarkan Yovana pergi.

​Di ruang belakang, saat mengumpulkan gelas-gelas kotor, Yovana mendapati tangannya gemetaran. Ia memejamkan mata erat-erat sambil menyandarkan badan ke dinding semen.

​Cuma kebetulan, bisiknya dalam hati. Kamu cuma cape.

​Ia terus mengulang kalimat itu hingga rasa gemetarnya mereda.

​Jarum jam menunjuk angka sembilan malam saat Yovana tiba di rumah.

​Lampu ruang depan masih menyala terang. Mesin jahit Bunda sudah tenang, tetapi potongan kain dan gulungan benang masih berserakan di atas meja.

​"Kok belum tidur, Bun?" tanya Yovana sambil melepas sepatu di ambang pintu.

​"Nungguin kamu pulang," jawab Bunda pelan dari arah dapur.

​"Kan Yovana sudah bilang bakal pulang malam."

​"Bunda cuma mau memastikan kamu sampai rumah dengan selamat."

​Yovana menyandarkan tasnya di kursi. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

​Bunda keluar dari dapur membawa piring berisi nasi dan lauk hangat, lalu meletakkannya di meja makan.

​"Makan dulu. Seharian kerja, jangan cuma diisi air dingin."

​Yovana menatap piring itu. Kehangatan sederhana yang selalu disiapkan Bunda kerap membuat dadanya makin nyeri. "Terima kasih, Bun."

​Mereka duduk berhadapan dalam diam.

​Di luar, suara klakson kendaraan sesekali melintas. Televisi tetangga terdengar samar-samar. Namun di dalam rumah ini, ada keheningan tebal yang tak kasatmata.

​Yovana menatap wajah Bunda yang mulai digaris kerutan tipis.

​"Bun..." panggilnya lirih.

​Bunda mendongak. "Iya?"

​Keberanian itu sempat muncul sekejap, tetapi langsung runtuh begitu melihat binar lelah di mata ibunya. Yovana menunduk kembali, mengaduk nasinya.

​"Enggak jadi, Bun."

​Bunda mengernyitkan dahi. "Kenapa, Yov? Ada masalah di tempat kerja?"

​"Enggak ada. Cuma mau tanya benang biru muda tadi beli di mana, kelihatan bagus."

​Bunda tersenyum tipis, sadar bahwa anak gadisnya baru saja mengalihkan pembicaraan. Namun seperti biasa, Bunda memilih tidak mendesak. "Di toko langganan biasa."

​Malam makin larut. Usai membersihkan diri dan mencuci piring, Yovana masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.

​Ia meletakkan tas di atas kursi belajar yang tak lagi dipakai, lalu duduk di tepi tempat tidur. Pandangannya menatap kosong pada lantai semen di bawahnya.

​Dari luar kamar, terdengar suara ritmis mesin jahit Bunda kembali menyala. Rupanya Bunda melanjutkan pekerjaannya untuk mengejar target besok pagi.

​Yovana memejamkan mata dan merebahkan badannya.

​Suara tak-tek-tak-tek dari mesin jahit itu... dulu adalah suara paling menenangkan bagi Yovana kecil. Suara yang menandakan bahwa ia aman di rumah, bahwa ada Bunda yang menjaganya.

​Namun kini, suara yang sama justru terasa menghimpit dadanya hingga sesak.

​Ia menarik selimut tinggi-tinggi, ​Ada satu rahasia besar dari masa lalunya yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Tidak kepada Rani, tidak kepada teman-temannya di masa sekolah dulu, dan terutama... tidak kepada Bunda.

​Yovana sudah bertahun-tahun meyakinkan dirinya sendiri bahwa rahasia kelam itu akan terkubur aman bersama dirinya selamanya.

​Ia hanya tidak tahu bahwa rahasia yang paling keras kita sembunyikan, terkadang selalu menemukan celah untuk berjalan pulang.

YOVANA

​Pagi itu Yovana terbangun lebih cepat dari biasanya.

​Ia duduk melamun di tepi tempat tidur sambil menatap jam dinding. Baru pukul enam lewat sedikit. Dari luar, samar-samar terdengar suara Bunda menyapu halaman.

​Yovana mengusap wajahnya, lalu berdiri dan membuka pintu kamar. Di halaman depan, Bunda sedang mengumpulkan daun-daun kering yang berguguran dari pohon tetangga.

​"Bun," sapa Yovana pelan.

​Bunda menoleh, menghentikan sapunya sejenak. "Lho, sudah bangun, Yov?"

​"Sudah."

​"Masih pagi. Kalau masih capek, tidur lagi saja. Hari ini kan masuk siang."

​Yovana menggeleng. "Enggak ngantuk lagi, Bun."

​Ia berjalan ke sudut teras dan mengambil sapu lidi yang satu lagi.

​"Biar Yovana bantu."

​"Enggak usah, tinggal sedikit kok. Nanti kamu capek sebelum kerja."

​"Masih lama jam berangkatnya, Bun."

​Bunda akhirnya membiarkan Yovana menyapu area teras depan, sementara ia membersihkan bagian samping dekat selokan.

​Momen seperti ini bukan hal baru. Sejak Yovana masih SD, ia sudah terbiasa melihat Bunda mengurus rumah sendirian. Tanpa mengeluh, tanpa banyak menuntut.

​Kehidupan mereka berubah drastis sejak ayah Yovana pergi.

​Dulu, saat masih kecil, Yovana tidak paham kenapa ayahnya tidak pernah pulang. Bunda hanya bilang kalau Ayah sedang bekerja jauh di luar kota. Namun bertahun-tahun kemudian, barulah Yovana mengerti bahwa ayahnya tidak akan pernah kembali lagi. Ayahnya telah menikah lagi secara diam-diam dan membangun keluarga baru di tanah perantauan.

​Yovana kecil yang belum paham arti pengkhianatan hanya bisa melihat satu hal: sejak hari itu, Bunda sering menangis sendirian mengira Yovana sudah tidur.

​Sejak saat itulah Yovana belajar untuk tidak pernah banyak meminta. Ia tidak mau menambah beban di pundak ibunya. Kebiasaan untuk memendam semuanya sendiri akhirnya terbawa sampai ia dewasa.

​"Yov."

​Suara Bunda menghentikan lamunan Yovana.

​"Iya, Bun?"

​"Kamu... benar-benar enggak mau ikut ujian paket terus kuliah atau kerja yang lain?" tanya Bunda hati-hati.

​Tangan Yovana yang memegang gagang sapu. Pertanyaan itu bukan pertama kali terdengar, tetapi selalu berhasil membuat dadanya tidak nyaman.

​"Enggak, Bun. Yovana sudah nyaman kerja di kafe."

​Bunda menghela napas pendek. "Umur kamu baru tujuh belas tahun, Yov. Masa depan kamu masih panjang."

​"Aku tahu."

​"Kalau suatu hari kamu berubah pikiran dan mau sekolah lagi, bilang sama Bunda, ya."

​Yovana tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. "Memangnya Bunda punya uang buat biayain?"

​Mendengar itu, Bunda menghentikan sapunya dan menatap Yovana lurus-lurus. Nada suaranya berubah tegas. "Jangan pernah ngomong gitu lagi."

​"Kan emang kenyataannya begitu, Bun. Biaya sekolah atau kuliah mahal."

​"Soal biaya itu urusan Bunda. Selagi Bunda masih sanggup jahit, Bunda cari uangnya."

​Yovana terdiam. Tenggorokannya terasa tersumbat. Rasa bersalah langsung menyenggol hatinya. Ia tahu betul Bunda rela melakukan apa saja untuknya—bahkan mengorbankan kesehatannya sendiri. Dan alasan itulah yang membuat Yovana tidak pernah tega menceritakan penderitaannya.

​"Yovana cuma enggak mau Bunda makin capek," cicit Yovana pelan.

​Tatapan Bunda melunak. Ia melangkah mendekati Yovana dan menepuk bahu anaknya lembut.

​"Bunda cape kerja itu biasa, Yov. Tapi Bunda enggak pernah cape berjuang buat kamu."

​Kalimat sederhana itu menusuk tepat di dada Yovana. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap mata ibunya.

​"Sudah, yuk masuk. Kita sarapan," ajak Bunda tenang, lalu berjalan duluan ke dalam.

​Yovana berdiri terpaku beberapa saat di teras, memegangi dadanya yang terasa makin sesak.

​Siang harinya, suasana kafe cukup sibuk. Yovana bergerak lincah mengantar pesanan dari meja ke meja. Saat kembali ke area kasir, ia melihat Rani sedang mengelap meja bar.

​"Yov," panggil Rani.

​"Iya?"

​"Semalam kamu pulang jam berapa?"

​"Sembilan lewat dikit. Kenapa?"

​Rani mengamati wajah Yovana. "Gak tahu ya, dari kemarin muka kamu kelihatan beda. Kayak orang yang kepalanya penuh banget. Ada masalah?"

​Yovana terkekeh pelan, berusaha bersikap biasa. "Kamu terlalu matang merhatiin orang, Ran."

​"Ya habisnya kamu aneh. Ditanyain malah ketawa."

​"Aku kan emang dari dulu begini," sahut Yovana santai sambil mengambil nampan bersih.

​Percakapan mereka terpotong saat lonceng pintu kafe berbunyi menandakan kedatangan pelanggan baru. Yovana kembali sibuk melayani mereka.

​Baru menjelang sore, Yovana mendapat kesempatan istirahat sepuluh menit. Ia duduk di ruang belakang yang agak sepi dan membuka ponselnya. Ada satu pesan masuk dari Bunda:

​Pulang jangan kemalaman ya, Yov. Bunda masak sayur lodeh.

​Yovana mengetik balasan singkat: Iya, Bun. Nanti Yovana langsung pulang.

​Setelahi mengoperasikan pesan, jempolnya tanpa sadar membuka aplikasi galeri foto. Yovana mengusap layar ke atas, melintasi foto-foto lama. Ada foto dirinya saat SD, foto Bunda yang sedang tersenyum di depan mesin jahit tua, dan foto rumah mereka sebelum pagar depannya diganti.

​Namun, gerakan jarinya terhenti pada satu foto.

​Foto itu memperlihatkan Yovana kecil yang memegang es krim, berdiri di antara Bunda dan seorang laki-laki dewasa bertopi.

​Napas Yovana mendadak berat. Tangannya gemetaran dan buru-buru mematikan layar ponsel. Ia memejamkan mata erat-erat, mencoba mengusir ingatan yang mulai berputar liar di kepalanya.

​"Yov!" panggil Rani dari balik pintu dapur.

​Yovana tersentak. "Iya, Ran?"

​"Pesanan meja lima sudah siap, nih!"

​Yovana langsung memasukkan ponselnya ke saku celemek dan berdiri. "Oke,

​Ia merapikan rambutnya sebentar, melempar napas panjang, lalu kembali berakting seolah tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi.

​Malam itu Yovana pulang sedikit lebih awal karena pengunjung kafe tidak begitu ramai.

​Saat ia melangkah masuk ke rumah, suara mesin jahit Bunda sudah berderu. Kain-kain katun berbagai warna menumpuk di meja kayu.

​"Kok sudah pulang, Yov? Baru jam delapan," tanya Bunda tanpa menghentikan injakan pedalnya.

​"Kafenya sepi, jadi boleh pulang cepat," jawab Yovana sambil meletakkan tasnya di atas sofa. Ia berjalan mendekati meja jahit. "Pesanan orang, Bun?"

​"Iya, ini seragam pengajian tetangga sebelah. Besok sore harus selesai."

​"Banyak banget?"

​"Ada delapan stel lagi."

​Yovana mengambil kursi kecil dan duduk di samping Bunda. "Yovana bantu, ya?"

​Bunda tertawa kecil. "Membantu apa? Kamu kan enggak bisa jahit."

​"Pegangin kainnya atau rapikan benangnya kan bisa," kata Yovana terkekeh.

​"Ya sudah, tolong potongin sisa-sisa benang di baju yang sudah jadi itu. Guntingnya ada di meja."

​Yovana mengambil gunting kecil dan mulai membersihkan benang-benang yang terurai di pinggiran kain.

​Untuk beberapa saat, hanya ada suara deru mesin jahit dan gunting yang beradu. Suasana di ruangan kecil itu terasa begitu hangat dan tenang. Tidak ada pembicaraan berat, hanya kebersamaan sederhana antara ibu dan anak.

​Yovana menatap Bunda dari samping. Bagi orang lain, kehidupan mereka mungkin membosankan. Tapi bagi Yovana, ketenangan seperti inilah yang paling ingin ia pertahankan.

​Ia ingin hidupnya tetap seperti ini saja. Bunda tetap menjahit, Yovana tetap bekerja di kafe, dan mereka makan malam bersama setiap hari. Tanpa perlu ada yang bertanya soal masa sekolahnya, dan tanpa perlu ada yang membongkar rahasia kelam yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

​"Bun..." panggil Yovana lirih di antara suara mesin jahit.

​"Iya?"

​"Kalau... suatu hari Yovana pergi jauh, Bunda gimana?"

​Injakan kaki Bunda di pedal mesin jahit mendadak berhenti. Jarum jahit tertahan di atas kain. Bunda menoleh dengan dahi berkerut.

​"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?"

​"Enggak apa-apa, cuma nanya aja."

​Bunda menatap mata Yovana cukup lama, lalu menghela napas. "Bunda pasti sedih lah, Yov. Rumah ini cuma ada kita berdua. Tapi kalau pergi kamu buat kebaikan atau masa depan kamu, Bunda bakal berusaha merelakan."

​Yovana tersenyum tipis. "Bunda harus tetap sehat dan bahagia ya, walau nanti Yovana enggak di rumah."

​"Hus, ngomongnya kok kayak mau kemana aja," kata Bunda sambil mengetuk jidat Yovana pelan memakai ujung jarinya. "Sudah, cepat selesaikan potongan benangnya."

​Yovana tertawa pelan, lalu kembali memotong benang kain. Namun begitu Bunda kembali fokus menunduk pada mesin jahitnya, senyum di wajah Yovana perlahan memudar.

​Dada Yovana kembali terasa sesak. Rahasia yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun rasanya semakin hari semakin menekan dari dalam. Ia ingin sekali jujur, tetapi ia terlalu takut membayangkan hancurnya senyum Bunda jika tahu hal mengerikan apa yang pernah terjadi padanya.

​Yovana menghembuskan napas pelan. Ia memilih memendamnya rapat-rapat sekali lagi.

​Ia hanya belum tahu bahwa ada beberapa hal di dunia ini yang tidak bisa disembunyikan selamanya—dan rahasia itu sedang mengintai, siap menghancurkan ketenangan mereka kapan saja.

YOVANA

​Pagi itu Yovana terbangun jauh lebih cepat dari biasanya.

​Ia duduk termenung di tepi tempat tidur dengan mata yang terasa amat berat. Semalaman tidak tidur yang benar-benar nyenyak. Bayangan kejadian semalam terus berputar-putar di kepalanya.

​Dekapan Bunda.

Tangisan hebat itu.

Dan kata-kata maaf dari Bunda yang sebenarnya tak pernah ingin Yovana dengar.

​Yovana menunduk. Air matanya menetes satu per satu membasahi pipinya

​Ia sudah terlalu lelah.

​Bukan cuma karena rahasia itu akhirnya terbongkar, tapi karena beban ini sudah ia pikul sendirian terlalu lama. Bertahun-tahun ia memaksakan diri berpura-pura normal. Berangkat kerja, melempar senyum ke pelanggan, pulang rumah, makan bersama Bunda, lalu mengunci diri di kamar dan menanggung semuanya sendiri.

​Kini, begitu rahasianya terbuka, Yovana merasa tak punya lagi tempat untuk bersembunyi.

​Dengan tangan gemetar, Yovana meraih ponselnya. Ia membuka obrolan dengan Deli, teman kafenya yang lumayan dekat dengannya.

​Jarinya mengetik sebuah pesan:

​Del, maaf ya kalau selama ini aku sering bikin kamu khawatir.

​Ia sempat tertegun beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol kirim.

​Tak butuh waktu lama, balasan dari Deli masuk:

​Yov? Kamu kenapa? Kok omongannya aneh gitu?

​Yovana hanya menatap layar ponsel itu tanpa berniat membalasnya lagi. Ia meletakkan ponselnya pelan-pelan di atas meja.

​Kemudian, ia mengambil selembar kertas dan pulpen. Tangannya beberapa kali berhenti menulis di atas kertas. Air mata yang menetes membuat tulisan tangannya sedikit membayang dan berantakan.

​Setelah selesai, ia melipat kertas itu rapi-rapi dan memasukkannya ke dalam amplop putih. Di bagian depan, ia menuliskan satu kata dengan tinta hitam:

​Bunda

​Amplop itu ia letakkan begitu saja di atas meja kamar. Yovana lalu kembali duduk terdiam, menatap kosong ke arah pintu.

​Dari luar, terdengar ketukan ringan disusul suara Bunda.

​"Yov?"

​Yovana tidak menyahut.

​"Bunda sudah siapin sarapan, ya. Jangan lupa dimakan."

​Masih hening. Dari balik pintu, Bunda mengira Yovana mungkin sedang berganti pakaian atau sibuk bersiap-siap untuk shift pagi. Sama sekali tidak ada rasa curiga.

​Sekitar pukul delapan, Bunda selesai merapikan dapur. Ia melirik jam dinding yang sudah merambat naik.

​"Yov, ayo makan dulu! Nanti kamu kesiangan," panggil Bunda dari meja makan.

​Tidak ada respons.

​Perasaan Bunda mulai tidak enak. Ia melangkah mendekati pintu kamar Yovana lalu menggetoknya beberapa kali.

​"Yovana? Sudah siap belum?"

​Sepi.

​"Bangun, Nak. Nanti terlambat lho."

​Bunda memutar gagang pintu. Untungnya tidak dikunci.

​"Yov—"

​Pintu terbuka lebar, dan kalimat Bunda terputus seketika.

​Matanya membelalak sempurna. Tubuhnya mendadak kaku melihat kondisi Yovana yang tergeletak tak berdaya di lantai dekat tempat tidur darah menggenang dilantai yang mengucur dari pergelangan tangan yovana .

​"Yovana!"

​Jeritan Bunda pecah seketika. Ia lari menghampiri anaknya, berlutut, dan mengguncang-guncang bahu Yovana.

​"Yov! Yov, bangun, Nak! Buka matanya!"

​Tubuh Bunda gemetaran hebat. Ia mengusap pipi Yovana yang terasa makin dingin, mencoba membangunkan gadis itu, tapi sama sekali tidak ada sahutan.

​"Yov, jangan begini! Buka mata kamu!"

​Kepanikan hebat langsung menguasai Bunda. Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke pintu depan dan berteriak sekuat tenaga.

​"Tolong! Tolongin anak saya! Tolong!"

​Suara histeris itu menggema di sepanjang gang. Tak berapa lama, warga sekitar mulai berdatangan. Ibu RT yang rumahnya pas di sebelah langsung masuk duluan.

​"Ada apa, Bu? Kenapa?!"

​"Tolong... Yovana... anak saya..." Bunda menunjuk ke arah kamar dengan napas terengah-engah dan tangis yang makin menjadi.

​Ibu RT langsung bergegas ke dalam kamar dan memeriksa keadaan Yovana. Panik, ia berteriak ke warga lain di luar, "Panggil ambulans! Cepat telepon ambulans!"

​"Sudah! Sudah ditelepon ke pustu terdekat!" sahut warga dari luar.

​Bunda kembali berlutut di samping Yovana, menggenggam erat tangan anak gadisnya yang terujung dingin.

​"Yov... Nak, jangan tinggalkan Bunda... Bangun, Nak..." tangis Bunda pecah. "Bunda di sini..."

​Beberapa tetangga berusaha memeluk dan menenangkan Bunda, tetapi Bunda terus meraung memanggil nama Yovana.

​Tak lama kemudian, raungan sirene ambulans terdengar makin dekat dan berhenti tepat di depan teras. Dua petugas medis bergegas masuk membawa tandu emergency. Mereka dengan cepat memeriksa nadi dan pernapasan Yovana.

​Bunda berdiri di sudut tembok dengan tubuh gemetar dari kepala sampai kaki.

​"Mas... anak saya masih bisa ditolong, kan?" bisiknya lirih, penuh keputusasaan.

​Petugas tidak menjawab. Mereka fokus memindahkan tubuh Yovana ke atas tandu dan membawanya keluar dengan cepat.

​Bunda berlari mengekor dari belakang. "Yov..."

​"Ibu ikut di depan atau di belakang? Tapi harap tenang ya, Bu," ujar petugas sambil menahan bahu Bunda.

​"Bunda ikut di dalam! Bunda mau sama Yovana!"

​Pintu belakang ambulans ditutup rapat. Sirene kembali berbunyi membelah kemacetan jalan raya.

​Di dalam mobil yang melaju kencang itu, Bunda berlutut di samping tempat yovana terbaring Bunda menggenggam jemari Yovana dan menciumnya berulang kali.

​"Yov... jangan pergi dulu, Nak..." Air mata Bunda menetes deras mengaliri pipinya. "Bunda belum selesai minta maaf... Bunda belum sempat perbaiki semuanya buat kamu..."

​Bunda terus mengajak Yovana bicara sepanjang perjalanan. Ia menceritakan sayur lodeh yang belum sempat Yovana cicipi, tentang mesin jahitnya, tentang rencana-rencana kecil mereka—berharap dengan terus mendengar suaranya, Yovana bakal tersadar dan membuka mata.

​Namun Yovana tetap bergeming.

​Rumah sakit pagi itu tampak ramai ,Begitu mobil berhenti, petugas langsung mendorong tandu Yovana dengan cepat menuju ruang gawat darurat.

​Bunda berlari setengah terseok-seok mengikutinya. "Anak saya, Dok..."

​"Ibu tunggu di luar sebentar ya," cegah seorang perawat dengan lembut saat menahan Bunda di ambang pintu.

​Pintu ruang tindakan ditutup rapat.

​Bunda berdiri sendirian di koridor dingin itu. Tangan dan lututnya lemas. Tiap menit terasa begitu lambat dan menyiksa. Ia berjalan bolak-balik tanpa arah, sesekali menyandarkan keningnya ke kaca pintu.

​"Ya Allah... tolong anak saya..." bisiknya berkali-kali dalam doa yang berantakan. "Jangan ambil Yovana..."

​Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepas maskernya.

​Bunda langsung menghambur mendekat. "Dok! Dokter... bagaimana anak saya? Yovana sudah sadar, kan?"

​Dokter itu menghela napas panjang dan menatap Bunda dengan raut wajah yang amat berat. Tatapan itu sudah cukup untuk menghentikan detak jantung Bunda seketika.

​"Kami sudah mengupayakan yang terbaik, Bu... tapi kondisi pasien saat tiba di sini sudah sangat kritis..."

​Bunda menggeleng keras. "Enggak... Dok, jangan becanda. Anak saya cuma pingsan, kan?!"

​"Maafkan kami, Bu. Pasien tidak dapat ditolong lagi."

​Tubuh Bunda langsung lemas. Kakinya kehilangan tumpuan.

​"Enggak... NGGAK! YOVANA!"

​Bunda ambruk ke lantai koridor. Tangisnya pecah menggelegar di lorong rumah sakit, tak peduli pada tatapan orang-orang di sekitarnya. Seorang perawat bergegas berlutut untuk menopang tubuhnya.

​"Gak mungkin... Yovana... Nak..." suara Bunda parau, tertahan oleh sesak yang teramat sangat di dadanya.

​Anak gadisnya yang baru berusia tujuh belas tahun... anak yang kemarin masih duduk menemaninya memotong benang... kini telah pergi untuk selamanya.

​Di saat Bunda mendekap dukanya di rumah sakit, rumah kecil mereka di ujung gang mendadak sunyi.

​Di dalam tas Bunda yang tertinggal di kursi teras, kunci rumah menggantung dingin. Dan jauh di dalam kamar Yovana yang sepi, di atas meja kayu yang agak berdebu, tergeletak sebuah amplop putih yang belum tersentuh siapa pun.

​Ada satu nama tertera di bagian depannya: Bunda.

​Bunda belum tahu apa yang tertulis di dalam kertas itu.

​Ia belum tahu bahwa kepergian Yovana bukanlah akhir dari segalanya—melainkan awal dari sebuah kebenaran pahit yang siap menghantam siapa saja yang telah menghancurkan hidup anak gadisnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!