Lampu kristal restoran bintang lima itu memantulkan kilau kemewahan yang menyilaukan.
Reno berdiri tegak dengan nampan berisi botol anggur mahal di tangannya. Uniform pelayan yang menempel di tubuhnya terasa agak sesak di bagian bahu.
'Hadeh... tinggal delapan jam lagi masa pengasingan gue kelar, malah harus melayani keluarga nenek sihir ini,' batin Reno menahan napas panjang.
Di meja utama, keluarga Pramudya sedang tertawa lebar mengelilingi Brandon Pratama.
" Brandon, kamu memang calon menantu idaman Tante! Restoran sejuta per malam ini bisa disewa penuh cuma buat kita," puji Maya dengan nada dibuat-buat.
Brandon tersenyum jumawa sambil memamerkan jam tangan mewahnya. "Ah, Tante Maya biasa aja. Bagi keluarga Pratama, uang segini cuma recehan."
Reno melangkah mendekati meja untuk menuangkan anggur ke gelas Maya.
Secara sengaja, siku Maya bergerak menghantam siku Reno dengan keras.
Brakkkk!
Botol anggur terlepas dari genggaman Reno dan langsung tumpah membasahi celana serta sepatu kulit buaya milik Brandon.
"Aduh! Kamu punya mata gak sih, pelayan tidak berguna?!" jerit Maya pura-pura kaget.
"Gila ya lo! Sepatuku ini harganya lima puluh juta!" bentak Brandon sambil berdiri kasar.
"Maaf, tadi tangan Tante Maya sengaja menyenggol—"
Plak!
Maya menampar pipi Reno sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Masih berani lo fitnah saya?! Dasar menantu sampah! Sudah numpang hidup, bikin malu keluarga lagi!" amuk Maya.
Deggg...
Arus energi bergolak hebat di dalam dada Reno saat emosinya terpancing.
'Sialan! Sutra Naga Kuno saya hampir bocor! Tahan Reno... kurang dari sehari lagi kekuatan penuhmu balik!' ringis Reno dalam hati.
Darah di dalam tubuhnya mendidih, merembeskan hawa dingin tipis yang membuat suhu udara di sekitar meja mendadak drop beberapa derajat. Kekuatan batin yang ia tekan selama tiga tahun bergetar hebat melintasi urat nadinya.
Alya yang duduk di samping ibunya langsung berdiri. "Mama, stop! Tadi Alya lihat sendiri Mama yang nyenggol lengan Mas Reno!"
"Kamu diam, Alya! Kamu mau belain suami kere yang cuma bisa nyusahin ini?!" bentak Hendra, ayah Alya, ikut mengebrak meja.
Brandon tersenyum licik melihat kekacauan di depannya. Dia sengaja maju satu langkah lalu menginjak sepatu kets kumal milik Reno dengan sepatu kulitnya yang basah.
"Heh, sampah. Sepatu ku rusak gara-gara kamu," bisik Brandon penuh nada ancaman.
Reno menatap mata Brandon dengan pandangan dingin. "Lepasin kaki mu."
"Wah, berani ngatur saya?" Brandon tertawa meremehkan. "Dengar ya. Perusahaan ayah Alya sekarang lagi butuh suntikan dana lima puluh miliar dari keluarga saya."
Brandon menunjuk ke lantai dengan ujung jarinya.
"Berlutut sekarang. Bersihin sepatu gue pakai lidah lo, atau besok pagi perusahaan ayah mertua lo ini gue bikin bangkrut total!" ancam Brandon tajam.
Alya tampak pucat pasi. "Brandon, tolong jangan bawa-bawa bisnis Papa..."
"Tergantung suami miskinmu ini, Alya. Mau berlutut atau mau lihat keluarga kamu hancur?" sahut Brandon tertawa puas.
'Anjing nih orang. Kalau bukan karena aturan latihan batin, udah saya patahin lehernya detik ini juga,' umpat Reno dalam batinnya.
Ujung jari Reno mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Hawa membunuh bertiup samar dari balik matanya, membuat Brandon mendadak merinding tanpa alasan.
"Reno, berlutut! Jangan sampai kamu hancurkan masa depan keluarga kami!" perintah Hendra membentak.
"Iya! Berlutut cepat! Dasar pembawa sial!" tambah Maya.
Sebelum Reno mengambil tindakan, Maya menarik tas mewahnya dan mengeluarkan selembar amplop cokelat tebal.
Sret!
Maya melemparkan berkas di dalam amplop itu tepat ke dada Alya.
"Gak usah nunggu esok hari! Ini surat perjanjian cerai!" seru Maya dengan suara melengking.
Alya menatap berkas di pangkuannya dengan mata berkaca-kaca. "Ma... apa-apaan ini?"
"Tanda tangani surat itu besok pagi jam delapan tepat!" tegas Maya tanpa belas kasihan. "Kamu harus cerai dari si miskin ini dan nikah sama Brandon!"
Brandon tersenyum penuh kemenangan sambil melipat kedua tangannya di dada. "Gimana, Reno? Lo cuma punya waktu sampai besok pagi sebelum istri kamu resmi jadi milikku."
Reno menatap senyum penuh kemenangan Brandon tanpa mengedipkan mata sedikit pun.
"kau pikir uang lima puluh miliar bisa bikin kamu menguasai segalanya?" sahut Reno dengan suara berat yang terkesan sangat tenang.
"Lah, jelas bisalah! Di kota ini, uang adalah hukum!" balaskan Brandon sambil tertawa mengejek.
Alya memegang lengan Reno dengan gemetar, matanya meneteskan air mata. "Mas... kita pulang aja, yuk? Tolong jangan dilawan lagi..."
Reno membelai lembut jemari istrinya, lalu melepas genggaman itu secara perlahan. "Kamu tenang aja, Alya. Mulai esok hari, gak akan ada lagi yang bisa menindas kamu."
"Halah! Banyak gaya kau, pembawa sial! Cepat pergi dari sini sebelum mukamu ku remukkan!" amuk Maya sambil menunjuk pintu keluar restoran.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Reno memutar badannya dan melangkah keluar menuju jalanan.
Gerimis tipis mulai mengguyur aspal malam kota yang dingin.
*Ckiieeeekkkk!*
*Brakkk!*
Suara derit ban beradu keras dengan aspal tiba-tiba memecah kesunyian malam di depan restoran mewah itu.
Belasan mobil kembar jenis Rolls-Royce Phantom berwarna hitam pekat mendadak berhenti serentak. Barisan armada mewah itu langsung memblokir seluruh akses jalan utama.
Puluhan pria berjas hitam dengan postur tegap dan emblem naga emas di dada melompat keluar dari dalam mobil. Mereka memegang payung hitam, berbaris rapi membentuk koridor kehormatan di tengah rintik hujan.
Brandon, Maya, dan Hendra yang menyusul keluar restoran mendadak melotot ketakutan.
"Waduh! Ada apa ini?! Siapa rombongan pejabat kaya yang datang?!" seru Hendra dengan suara bergetar.
"Gila... itu Rolls-Royce seri khusus! Harganya bisa ratusan miliar per unit!" bisik Brandon kaget, wajah sombongnya mendadak pucat.
Dari dalam mobil paling depan, sesosok pria berbadan tegap dengan luka parut di pipi melangkah keluar. Pria itu adalah Bagas, eksekutor puncak organisasi rahasia tertinggi.
Bagas melangkah cepat menembus gerimis, mengabaikan tatapan syok puluhan pasang mata pengunjung restoran.
*Brak!*
Tanpa ragu, Bagas berlutut dengan satu kaki tepat di atas aspal basah di hadapan Reno.
"Misi tiga tahun telah berakhir, Tuan Muda! Seluruh jaringan Grup Naga Hitam siap melayani Anda kembali!" seru Bagas dengan suara lantang yang menggelegar.
*Deggg...*
Jantung Maya dan Hendra seolah berhenti berdetak saat menyaksikan pemandangan janggal di depan mata mereka.
"A-apa-apaan ini?! Kenapa orang kaya itu berlutut sama si menantu miskin?!" jerit Maya panik.
Reno berdiri tegap. Hawa dingin meluap dari dalam dadanya saat tiga tahun penderitaan dan latihan batinnya resmi tuntas detik itu juga.
"Berdirilah, Bagas," perintah Reno singkat.
Bagas segera berdiri tegak, lalu menyodorkan sebuah dompet kulit eksklusif dan ponsel khusus berlogo naga.
"Ini ponsel khusus penguasa dan Kartu Hitam Naga Hitam tanpa batas saldo milik Anda, Tuan Muda," ucap Bagas penuh hormat.
Reno mengambil kartu kredit berukiran naga emas itu dan mengantonginya santai.
'Akhirnya... segel kekuatan batin Sutra Naga Kuno gue terbuka sempurna. Waktunya memberi pelajaran buat para serangga ini,' batin Reno dingin.
"Bagas," panggil Reno.
"Siap, Tuan Muda!" jawab Bagas sigap.
"Periksa seluruh aset milik keluarga Pratama. Ratakan bisnis mereka malam ini juga," perintah Reno tanpa ragu.
"Grup Pratama? Kecil, Tuan Muda. Dalam kurun waktu dua jam, bisnis mereka akan kami buat bangkrut tanpa sisa!" tegas Bagas penuh keyakinan.
Brandon yang berdiri tidak jauh dari sana mendadak gemetar hebat. "kau... kau siapa sebenarnya?! Jangan halusinasi kamu, gila!"
Reno menoleh lambat, menatap Brandon dengan pandangan tajam yang menusuk hingga ke tulang rusuk.
"Kamu bilang tadi uang adalah hukum di kota ini, kan?" tanya Reno dengan nada santai.
"Sialan! Cuma akting kan kau?! Beli figurin mobil aja lo gak sanggup, apalagi mau bangkrutkan keluargaku !" teriak Brandon panik, mencoba menghibur dirinya sendiri.
"Kita buktikan besok pagi," jawab Reno dingin.
Reno lalu berpaling kembali menatap Bagas. "Siapkan juga 'hadiah' paling spesial untuk pesta keluarga mereka."
"Laporan masuk, Tuan Muda," potong Bagas sambil menundukkan kepala. "Brandon Pratama baru saja menyewa balai kota untuk menggelar pesta pertunangan megah besok pagi demi memaksa Nona Alya menandatangani surat cerai."
Reno menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin.
"Bagus sekali," sahut Reno. "Mari kita beri dia kejutan yang tak terlupakan di depan semua orang."
Lampu-lampu gantung kristal di aula utama balai kota memancarkan cahaya megah yang sangat menyilaukan.
Alunan musik klasik bergema lembut di tengah derak tawa ratusan tamu undangan dari kalangan elit kota.
Brandon berdiri tegak di atas panggung utama dengan setelan jas mahal, memegang mikrofon sambil tersenyum penuh percaya diri.
Di sampingnya, Alya berdiri mematung dalam balutan gaun malam. Wajahnya pucat pasi, matanya terus melirik gelisah ke arah pintu masuk.
'Duh, Mas Reno ke mana ya? Jangan-jangan dia beneran pasrah dan melepaskan aku?' batin Alya cemas, meremas jemarinya sendiri.
"Hadirin sekalian, terima kasih sudah hadir di hari bahagia ini!" seru Brandon dengan suara lantang lewat pengeras suara.
Lautan tamu bertepuk tangan riuh mengelilingi panggung.
"Hari ini, saya tidak hanya menyelamatkan bisnis keluarga Pramudya," lanjut Brandon sambil memamerkan jam tangan mewahnya. "Tapi saya juga menyelamatkan Alya dari jeratan mantan suaminya yang cuma pengangguran tak berguna!"
*Gerrrr...*
Para tamu tertawa mengejek setelah mendengar ucapan Brandon.
Maya yang berdiri di barisan depan panggung tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk bangga. "Betul itu! Brandon memang menantu idaman! Si miskin itu mana layak mendampingi anak saya!"
Alya mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Brandon, cukup! Kamu gak usah menginjak-injak Mas Reno di depan umum!"
"Kamu diam, Alya! Masih aja belain si pembawa sial itu!" potong Hendra dingin dari samping Maya. "Tanda tangani surat cerainya sekarang juga!"
Tepat ketika Brandon hendak menyerahkan pulpen emas ke tangan Alya, pintu ganda aula mendadak terbuka lebar.
*Brakkkk!*
Seorang pria bersetelan kemeja putih rapi tanpa dasi melangkah masuk dengan santai.
Seluruh mata di dalam ruangan langsung tertuju ke arah pintu.
"Waduh! Si sampah itu berani muncul juga?!" jerit Maya kaget setengah mati.
Reno melangkah tenang menyusuri karpet merah, mengabaikan tatapan heran dan sindiran tajam dari para tamu.
"Hadeuh... setelan kemeja biasa gitu pasti hasil nyewa di tempat murah," bisik salah satu pengusaha di barisan depan sambil terkekeh.
'Gak sabar lihat muka serangga-serangga ini berubah pucat pas kejutan dari Bagas sampai,' batin Reno sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Reno! kau ngapain ke sini, hah?!" bentak Brandon kasar sambil turun dari panggung.
"Gue cuma mau menghadiri pesta yang kau buat," jawab Reno santai sambil menghentikan langkahnya tepat di depan Brandon.
Maya menyusul berlari kecil lalu menunjuk muka Reno dengan penuh emosi. "Pengawal! Mana pengawal?! Usir si pengemis ini keluar dari sini!"
Hendra juga ikut maju membusungkan dada. "Reno, kamu gak tahu malu, ya?! Tempat ini disewa miliaran rupiah oleh keluarga Pratama! kau gak pantas menginjakkan kaki di sini!"
Alya memandang Reno dengan mata berkaca-kaca. "Mas Reno... kenapa Mas datang? Mereka bisa mencelakai Mas..."
Reno menatap Alya dengan pandangan lembut. "Aku datang buat jemput kamu, Alya. Pesta murahan ini gak pantas buat kamu."
"Sialan! Berani banget kamubilang pestaku murahan?!" raung Brandon murka.
Brandon menyengir licik lalu mengangkat tangannya ke udara, memberikan sinyal kepada sepuluh pengawal bertubuh kekar di sudut aula.
"Gue tadinya mau lepaskan lo hidup-hidup, Reno," bisik Brandon dengan nada penuh ancaman. "Tapi karena lo sendiri yang cari mati, sekalian aja gue bikin lo cacat di depan semua orang!"
Sepuluh pengawal berotot besar langsung mengepung Reno, memegang tongkat pemukul di tangan mereka.
Para tamu melangkah mundur, siap menyaksikan pembalasan berat terhadap sang mantan menantu.
"Hajar dia sampai berdarah-darah! Biar tahu diri!" teriak Maya memberi komando.
Para pengawal maju serentak, mengayunkan tongkat besi mereka tepat ke arah kepala Reno.
Reno bahkan tidak bergeming atau mengedipkan mata sama sekali. Hawa dingin Sutra Naga Kuno yang sudah pulih sempurna meluap samar dari balik matanya.
*Brakkkkkkk!*
Sebelum ujung tongkat besi itu menyentuh kemeja Reno, pintu utama aula balai kota mendadak didobrak hingga hancur berkeping-keping.
*Dug! Dug! Dug!*
Langkah kaki puluhan orang berseragam rapi bergema hebat, menggetarkan lantai marmer aula.
"Siapa pun yang berani menyentuh Tuan Muda Naga Hitam, habisi tanpa sisa!" deru sebuah suara serak yang sangat menggelegar dari luar pintu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!