Indonesia
NovelToon NovelToon

Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Chapter 1 Dunia yang Terlalu Damai

Angin musim dingin berembus membawa serpihan debu hitam yang berputar-putar di udara. Langit kelabu menggantung rendah, seolah hendak runtuh menimpa bumi yang telah lama kehilangan harapan.

Di kejauhan, bangunan-bangunan beton yang patah berdiri seperti nisan raksasa. Jalan raya dipenuhi kendaraan berkarat, sementara tanaman liar merambat menelan sisa-sisa peradaban yang dahulu begitu megah.

Seorang wanita muda berjalan tertatih di antara reruntuhan.

Punggungnya dibebani ransel lusuh. Jaket tebal yang dikenakannya telah robek di beberapa bagian, memperlihatkan perban kusam yang membalut lengannya. Sepasang sepatu botnya dipenuhi lumpur dan bercak darah yang bahkan hujan asam beberapa hari lalu gagal membersihkannya.

Namanya... sudah lama tidak penting.

Di dunia ini, nama tidak membuat seseorang bertahan hidup. Makanan, air, dan keberuntungan jauh lebih berharga.

Wanita itu berhenti di depan sebuah bangunan minimarket yang telah ambruk separuh. Ia mengangkat senter kecil, menyapu rak-rak yang telah kosong selama bertahun-tahun.

"Kalau beruntung... mungkin masih ada makanan kaleng yang tertinggal." Suaranya terdengar serak.

Sudah dua hari ia hanya bertahan dengan akar liar yang direbus. Perutnya melilit, tetapi ekspresinya tetap tenang. Rasa lapar sudah menjadi teman lamanya.

Ia lalu melangkah perlahan, menghindari lantai yang rapuh.

Krek...

Suara pecahan kaca terdengar pelan, membuat tubuhnya seketika membeku.

Bukan karena takut terluka. Melainkan karena suara sekecil itu bisa mengundang sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Beberapa detik berlalu.

Sunyi.

Ia mengembuskan napas pelan. "Lumayan..."

Tangannya meraih sebuah kaleng penyok yang tersembunyi di balik rak. Belum sempat ia tersenyum, suara raungan menggema dari luar bangunan.

GRRAAAH!

Mata wanita itu langsung menyipit. "Bukan manusia..."

Tanpa membuang waktu, ia memasukkan kaleng itu ke dalam tas lalu berlari menuju pintu belakang.

Ledakan keras mengguncang bangunan, membuat debu berjatuhan dari langit-langit.

Seekor makhluk berukuran hampir dua meter menerobos masuk. Tubuhnya dipenuhi luka membusuk, sementara tulang-tulang tajam mencuat dari punggungnya.

Makhluk itu mengendus udara, hidungnya mencium bau manusia.

Wanita itu berlari melewati lorong sempit tanpa sekali pun menoleh. Napasnya mulai memburu dan kakinya terasa berat. Tubuhnya sudah terlalu lama dipaksa bertahan.

Ia melompat melewati puing-puing, memanjat pagar besi, lalu menjatuhkan dirinya ke gang sempit di belakang bangunan.

Makhluk itu masih mengejar.

"Dasar keras kepala..." Ia mengeluarkan sebilah pisau pendek.

Bukan untuk melawan. Melainkan untuk berjaga jika nanti tidak ada pilihan lain.

Dunia sudah mengajarinya satu hal. Tidak semua pertarungan harus dimenangkan.

Yang penting... hidup.

Namun nasib hari itu rupanya tidak berpihak kepadanya. Saat hendak berbelok, tanah di bawah kakinya amblas. Retakan besar yang tertutup debu runtuh begitu saja.

Tubuhnya terjatuh bersama bongkahan beton menuju ruang bawah tanah yang gelap.

Brak!

Benturan keras membuat pandangannya berkunang-kunang. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.

Ia mencoba bangkit tapi tidak bisa. Kakinya tertimpa lempengan beton. Darah perlahan mengalir dari pelipisnya. Di atas sana, suara raungan makhluk itu semakin dekat.

Wanita itu tertawa lirih saat perasaan kebas pada kakinya menjalar hingga ke pinggul dan membuat bahu dan punggungnya terasa linu.

"Jadi... berakhir seperti ini?"

Lucu sekali. Ia berhasil bertahan dari wabah. Selamat dari kelaparan. Lolos dari perampok. Bahkan melewati musim dingin yang menewaskan ribuan orang.

Tetapi akhirnya mati karena lantai tua yang runtuh. Tak lama kemudian, makhluk itu melompat turun.

Sepasang mata merah menatapnya tanpa belas kasihan.

Wanita itu menggenggam pisaunya. "Kalau memang harus mati..."

"...setidaknya jangan mati sambil menangis."

Makhluk itu menerkam dan dunia berubah gelap.

.

.

.

Hangat, perasaan pertama yang ia rasakan justru kehangatan. Tidak ada bau darah, tidak ada suara sirene. Tidak ada hujan asam yang menetes di atas kulitnya.

Yang terdengar hanyalah suara ayam berkokok, burung-burung berkicau dan angin yang menggesek dedaunan.

Wanita itu mengernyit. "Surga?"

Pelan-pelan ia membuka mata, sebuah atap kayu dan dinding yang terbuat dari anyaman bambu yang pertama kali menyapa penglihatannya.

Sinar matahari masuk melalui celah jendela kecil.

Ia terdiam cukup lama. Lalu tanpa sadar mengulurkan tangan menyentuh lantai.

Kayu yang bersih dan kering. Tidak ada pecahan kaca, atau pun debu hitam. Tidak juga ada bau mayat.

Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Sudah berapa tahun ia tidak melihat langit yang benar-benar cerah?

Belum sempat pikirannya tenang, rasa nyeri tajam menyerbu kepalanya. Fragmen-fragmen ingatan yang bukan miliknya mengalir deras.

Seorang gadis desa yatim piatu, yang dijual oleh pamannya demi melunasi utang. Hari ini adalah hari ia akan diserahkan kepada keluarga lain untuk dijadikan menantu.

Bukan karena dicintai.

Melainkan karena keluarga itu membutuhkan seorang perempuan yang bisa bekerja di ladang. Semakin banyak kenangan yang masuk, semakin pucat wajahnya.

Ia... telah menempati tubuh orang lain.

Pintu rumah mendadak terbuka. Seorang perempuan paruh baya masuk sambil membawa semangkuk bubur encer.

Tatapannya datar. "Kau sudah bangun?" tanyanya dengan nada yang begitu ketus.

Wanita itu tidak menjawab.

"Bagus. Jangan pura-pura sakit. Keluarga Han sudah membayar mahal untukmu."

Dibayar...?

Perempuan itu meletakkan mangkuk di meja. "Sore nanti mereka datang menjemput. Setelah itu, hidup atau matimu bukan urusanku."

Tanpa menunggu jawaban, perempuan itu keluar begitu saja. Membuat ruangan kembali sunyi.

Wanita itu memandangi bubur di atas meja. Bubur itu begitu encer hingga butiran nasinya bisa dihitung.

Namun tanpa sadar, matanya memerah. Saat jemarinya menyentuh wadah bubur itu, sensasi suhu yang hangat menyambutnya. Uap tipis masih mengepul di atas bubur itu, membuatnya semakin yakin itu bukan mimpi.

Di dunia asalnya, semangkuk makanan hangat seperti itu bisa diperebutkan hingga saling membunuh.

Ia lalu mengambil mangkuk itu dengan kedua tangan. Menghirup aromanya perlahan.

"Luar biasa..." Air matanya jatuh setetes.

Bukan karena sedih. Melainkan karena rasa syukur yang bahkan sulit dijelaskan.

"Masih ada nasi, masih ada kayu bakar, masih ada matahari." Ia menoleh ke luar jendela.

Hamparan sawah memang tampak kering dan tidak terurus. Rumah-rumah penduduk juga reyot dan orang-orang berpakaian lusuh.

Namun di matanya... Tempat ini begitu damai.

Tidak ada monster. Tidak ada asap perang. Tidak ada mayat bergelimpangan di pinggir jalan. Tidak ada suara ledakan yang mengiringi pagi.

Ia tersenyum kecil untuk pertama kalinya setelah entah berapa tahun. "Mungkin...aku benar-benar sudah mati. Tapi jika ini kehidupan keduaku...aku tidak akan menyia-nyiakannya."

Di luar rumah, roda kereta kayu mulai terdengar mendekat. Seseorang datang untuk menjemput "menantu" yang telah dibelinya.

Sementara wanita itu, yang baru saja kehilangan dunia lamanya, perlahan mengepalkan tangan.

Kali ini...

Ia tidak akan sekadar bertahan hidup. Ia telah membangun tekad, akan hidup dengan layak. Tanpa menyisakan satu hal pun yang akan membuat dirinya menyesal.

Chapter 2 Menantu yang dibeli

Derit roda kereta kayu memecah kesunyian pagi.

Lian Yue, nama pemilik tubuh itu, duduk diam di sudut kereta yang sempit. Kedua tangannya bertumpu di atas lutut, sementara tatapannya mengikuti pemandangan yang perlahan berganti.

Jalan tanah yang bergelombang, lalu petak-petak sawah yang mengering. Rumah-rumah beratap jerami yang tampak rapuh diterpa angin. Beberapa anak kecil berlarian tanpa alas kaki. Pakaian mereka dipenuhi tambalan, namun tawa mereka terdengar begitu lepas.

Pemandangan sederhana itu membuat dada Lian Yue terasa hangat. Di dunia asalnya, suara tawa anak-anak telah lama menghilang. Yang terdengar setiap hari hanyalah sirene darurat, letusan senjata, dan jeritan orang-orang yang kehilangan keluarga.

"Hei." Suara pria tua yang mengendalikan kereta kuda membuyarkan lamunannya.

"Kau menyesal?"

Lian Yue mengangkat kepala. Pria itu menatapnya sekilas sebelum kembali mengayunkan cambuk ke udara.

"Menjadi menantu keluarga Han." Lian Yue menggeleng pelan. "Apa gunanya menyesal?"

Pria tua itu terkekeh. "Benar juga."

"Hidup orang miskin memang tidak punya banyak pilihan."

Tak lama kemudian ia kembali bersuara. "Keluarga Han memang miskin. Rumah mereka paling ujung desa. Ladangnya juga yang paling tandus. Tapi mereka bukan orang jahat. Mereka hanya terlalu sial."

Lian Yue tidak menjawab. Ingatan pemilik tubuh sebelumnya perlahan muncul. Keluarga Han terdiri dari empat orang. Han Zheng. Putra sulung, berusia sekitar dua puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi dan tegap karena terbiasa bekerja di ladang dan berburu di pegunungan.

Konon, ia sudah beberapa kali menolak menikah. Bukan karena sombong. Melainkan karena keluarganya terlalu miskin hingga tak ada gadis yang bersedia datang.

Ibunya, Nyonya Han, harus meminjam uang ke sana-sini agar dapat "membeli" seorang menantu. Sedangkan ayahnya menderita cedera kaki akibat tertimpa pohon saat menebang kayu beberapa tahun lalu.

Sejak itu, beban keluarga hampir seluruhnya berada di pundak Han Zheng.

Lian Yue memejamkan mata. Mereka miskin. Sangat miskin. Namun tetap berusaha hidup bersama.

Baginya, itu sudah lebih dari cukup. Kereta kuda berhenti di depan sebuah gerbang kayu sederhana.

Pria tua itu turun lebih dulu. "Kita sudah sampai."

Lian Yue ikut turun. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, ia memperhatikan halaman rumah itu.

Pagar bambunya hampir roboh, atap rumah tampak bocor di beberapa bagian, kayu bakarnya tinggal sedikit, sebuah sumur tua berada di sudut halaman dan di dekat kandang, hanya ada dua ekor ayam kurus yang sibuk mematuk tanah.

Sangat miskin.

Tetapi... Halamannya bersih, tidak ada sampah berserakan. Peralatan pertanian juga disusun rapi.

Lian Yue langsung menarik kesimpulan. "Penghuninya rajin."

Rumah miskin yang bersih jauh lebih menjanjikan daripada rumah kaya yang malas.

Pintu rumah terbuka. Seorang wanita paruh baya keluar dengan wajah gugup.

"Itu... menantuku?" Tatapan wanita itu dipenuhi rasa canggung. Seolah takut gadis yang baru dibeli itu akan kabur.

Lian Yue menundukkan kepala sedikit. "Ibu."

Nyonya Han tertegun. Ia tidak menyangka gadis itu akan langsung menyapanya.

Wajahnya yang semula tegang perlahan melunak. "Masuklah... rumah kami memang sederhana."

Lian Yue melangkah masuk. Matanya memindai ruangan kecil itu, hanya ada sebuah meja kayu tua, empat bangku. Dapur sederhana di sudut rumah, tak ada barang mewah.

Namun semuanya bersih. Ia mengangguk pelan. "Bagus." bisiknya pelan dengan senyum kecil. Ucapan itu keluar begitu saja.

Nyonya Han yang tak sengaja mendengarnya, mengira dirinya salah dengar. "Bagus?"

"Ya. Rumah ini nyaman."

Wanita paruh baya itu hampir menitikkan air mata. Mendengar ucapan dari menantu yang dia dapatkan dengan membelinya itu. Seumur hidupnya, tak pernah ada yang memuji rumah mereka.

Saat itulah langkah kaki berat terdengar dari luar. Seorang pria tinggi membawa ikatan kayu bakar memasuki halaman. Keringat membasahi dahinya, lengannya dipenuhi goresan kecil akibat semak belukar. Tatapannya langsung berhenti pada Lian Yue. Keduanya saling diam beberapa saat.

Han Zheng. Lian Yue mengenalinya dari ingatan tubuh ini. Di sisi lain Han Zheng tampak kikuk.

Ia menggaruk belakang kepalanya. "Aku...aku tidak pandai bicara.Tapi selama kau tidak membenciku... aku akan berusaha menjadi suami yang baik."

Ucapan sederhana itu membuat Lian Yue sedikit terkejut. Tidak ada janji muluk, tidak ada rayuan. Hanya kalimat jujur.

Lian Yue tersenyum kecil dan mengangguk pelan. "Itu sudah cukup."

Han Zheng mengembuskan napas lega. Nyonya Han diam-diam tersenyum. Suasana yang semula canggung perlahan mencair.

Menjelang sore, Lian Yue meminta izin berjalan mengelilingi halaman. Ia memperhatikan tanah yang retak-retak, daun-daun sayuran menguning. Bahkan pohon buah di belakang rumah hampir mati.

"Kondisinya cukup parah..." Ia berjongkok. Mengambil segenggam tanah.

Kering dan keras. Hampir tak memiliki kelembapan.

Tiba-tiba...

"Cuit... cuit..." Seekor burung pipit hinggap di pagar bambu.

Lian Yue menoleh. Entah mengapa, suara burung itu terdengar begitu jelas di telinganya.

["Kasihan manusia itu..."]

["Sudah tiga musim ladangnya gagal panen."]

Lian Yue membeku. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Burung itu kembali berkicau.

["Di balik bukit timur masih ada mata air."]

["Tapi manusia bodoh tidak pernah mencarinya."]

Lian Yue perlahan berdiri. Jantungnya berdegup lebih cepat.

"Itu...Aku...mengerti?"

Burung pipit itu memiringkan kepalanya. ["Eh?"]

["Manusia itu mendengarku?"]

Sesaat kemudian, burung itu terbang terbirit-birit sambil terus berkicau panik. ["Gawat! Gawat! Ada manusia yang bisa mengerti bahasa burung!"]

Lian Yue hanya bisa menatap ke arah langit dengan wajah terpaku. Jika yang baru saja ia dengar bukan halusinasi...

Maka kehidupan keduanya di dunia ini mungkin akan jauh lebih luar biasa daripada yang ia bayangkan.

Chapter 3 Rahasia si Burung Pipit

Lian Yue masih berdiri di halaman belakang rumah keluarga Han. Tatapan matanya terpaku pada seekor burung pipit yang baru saja terbang terbirit-birit hingga menghilang di balik rimbunnya pepohonan.

Angin sore berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang mulai menguning. Halaman kecil itu kembali sunyi, seolah tidak pernah terjadi sesuatu.

Namun jantung Lian Yue masih berdegup lebih cepat dari biasanya.

"...Jadi aku benar-benar tidak salah dengar." Ia mengangkat tangan, memijat pelipisnya perlahan.

Selama bertahun-tahun hidup di dunia yang dipenuhi wabah dan kematian, ia pernah mengalami banyak hal aneh. Orang-orang kehilangan akal karena kelaparan, halusinasi akibat racun, bahkan demam tinggi yang membuat seseorang berbicara sendiri selama berhari-hari.

Karena itu, reaksi pertamanya bukanlah percaya. Ia justru mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun kini... Burung itu telah berbicara dua kali. Dan kedua kalinya, ia masih bisa memahami setiap kata.

Lian Yue menarik napas panjang. "Kalau begitu...aku harus memastikannya sekali lagi."

Tatapannya perlahan beralih ke kandang ayam yang berada tidak jauh dari sumur tua. Dua ekor ayam kurus sedang sibuk mematuk tanah.

Seekor ayam betina sesekali mengibaskan sayapnya, sementara ayam jantan berjalan mondar-mandir dengan dada membusung, seolah dirinya adalah penguasa halaman kecil itu.

Lian Yue mengambil sepotong ranting kering. Kemudian melemparkannya perlahan ke dekat kandang.

Tok.

Kedua ayam itu langsung menoleh bersamaan. ["Hm?"]

["Ada apa?"] Ayam betina memiringkan kepalanya. ["Makanan?"]

Ayam jantan mendekat beberapa langkah.

["Bukan. Cuma kayu."]

[Manusia memang suka melakukan hal yang tidak penting."]

Mata Lian Yue membelalak. Ia benar-benar bisa mendengar mereka, bukan sekadar suara kokok. Melainkan... percakapan.

Dengan rasa penasaran, ia melangkah mendekati kandang. Melihat itu, ayam betina buru-buru mundur.

[Dia datang."]

Ayam jantan ikut mundur. ["Apa kita akan dimasak?"]

["Aku belum bertelur hari ini."] Seru si ayam betina dengan panik.

["Kalau begitu cepat bertelur."] Timpal si ayam jantan.

["Mana bisa dipaksa!"]

Lian Yue spontan menutup mulutnya, sudut bibirnya bergetar menahan tawa. Selama hidupnya, ia tidak pernah membayangkan bahwa percakapan dua ekor ayam bisa terdengar sebodoh ini.

"Aku tidak akan menyembelih kalian." Kalimat itu meluncur tanpa ia sadari.

Suasana mendadak hening. Kedua ayam itu mematung. Empat mata kecil mereka membelalak hampir bersamaan.

["...Eh?"]

["Dia...menjawab?"] Ayam jantan menatap ayam betina dan ayam betina menatap balik.

Lalu keduanya menoleh ke arah Lian Yue lagi. Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Tiba-tiba...

["Lariii!"]

Ayam jantan mengepakkan sayapnya sekuat tenaga. ["Ada manusia yang bisa mendengar kita!"]

Ayam betina ikut berlari berputar-putar di dalam kandang. ["Cepat sembunyi!"]

["Ini pasti manusia siluman!"]

Lian Yue akhirnya tidak sanggup lagi menahan tawanya. Tawa kecil yang sudah bertahun-tahun tidak pernah keluar dari bibirnya.

Di dunia asalnya dulu, ia bahkan lupa bagaimana rasanya tertawa.

Setelah cukup lama, ia mengusap sudut matanya yang sedikit basah. "Tenang. Aku tidak akan memberitahu siapa pun."

Tentu saja kedua ayam itu sudah lebih dulu bersembunyi di sudut kandang. Mereka sama sekali tidak percaya.

Lian Yue hanya menggeleng pelan. "Sepertinya...lebih baik aku berpura-pura tidak bisa mendengar mereka."

Kalau sampai orang lain melihatnya berbicara dengan ayam, bukan tidak mungkin ia akan dianggap kerasukan. Saat itulah suara langkah kaki terdengar dari depan rumah.

"Lian Yue."

Suara Han Zheng memanggil dengan tenang. "Ayah menyuruh kita makan."

Lian Yue segera menenangkan ekspresinya. "Aku datang."

Begitu memasuki rumah, aroma bubur jagung langsung memenuhi hidungnya. Di atas meja kayu tua telah tersaji makan malam.

Semangkuk bubur jagung yang cukup encer, sepiring kecil sayur liar rebus, sedikit acar lobak. Dan semangkuk air hangat.

Tidak ada lauk. Tidak ada minyak, apalagi daging.

Nyonya Han tersenyum canggung. "Maaf... panen tahun ini buruk. Kami hanya bisa menyiapkan makanan seperti ini."

Lian Yue menggeleng pelan. "Ini sudah lebih dari cukup." Ia mengucapkannya dengan tulus.

Di dunia asalnya, orang-orang bahkan rela saling membunuh hanya demi sepotong roti yang telah berjamur.

Sedangkan di sini... Mereka masih bisa duduk bersama. Makan dalam keadaan hangat. Tanpa rasa takut akan suara ledakan atau serangan monster. Baginya, itu adalah kemewahan.

Han Zheng diam-diam memperhatikan ekspresi istrinya.

Ia sempat khawatir. Gadis yang dibeli keluarganya sebagai menantu itu pasti akan kecewa.

Namun sejak datang, Lian Yue tidak pernah sekalipun mengeluh. Tidak mengernyit melihat rumah reyot. Tidak mencibir makanan sederhana. Bahkan wajahnya terlihat... lega.

Han Zheng tidak mengerti. Bagaimana mungkin seseorang merasa lega hidup di keluarga semiskin mereka?

Usai makan, Tuan Han menghela napas panjang. "Persediaan gandum tinggal cukup untuk beberapa hari. Kalau hujan tidak segera turun...musim ini akan sulit."

Suasana kembali sunyi. Han Zheng berdiri mengambil keranjang bambunya. "Besok pagi aku akan naik gunung. Selain mencari kayu, aku akan memasang beberapa jebakan. Semoga ada kelinci yang lewat."

Lian Yue memperhatikan tangan pria itu. Penuh kapalan. Beberapa luka lama bahkan belum benar-benar sembuh.

Ia tahu tangan seperti itu. Tangan seseorang yang bekerja tanpa mengenal lelah.

Malam semakin larut. Setelah semua orang tertidur, Lian Yue keluar dari rumah.

Udara malam terasa sejuk, langit dipenuhi bintang. Ia mendongak menatap langit cukup lama.

Di dunia asal, langit selalu tertutup asap dan debu. Bahkan cahaya bulan pun hampir tak pernah terlihat. Namun di sini... Bintang-bintang memenuhi langit seperti lautan cahaya.

"Aku hampir lupa...langit ternyata seindah ini."

"Cuit." Suara kecil terdengar dari atas pohon.

Lian Yue menoleh. Burung pipit yang ditemuinya sore tadi kembali datang. Kali ini, burung kecil itu tidak tampak ketakutan.

Ia melompat ke dahan yang lebih rendah sambil memiringkan kepalanya. ["Jadi benar...Kau bisa mendengar bahasa kami."]

Lian Yue mengangguk pelan. "Aku juga baru mengetahuinya hari ini."

Burung itu mengepakkan sayapnya.["Kalau begitu aku akan memberitahumu sesuatu."]

["Di bukit sebelah timur ada mata air. Airnya tidak pernah kering."»

Lian Yue langsung teringat perkataan burung itu sebelumnya. "Tapi tidak ada seorang pun yang menemukannya?"

["Ada."]

["Dulu pernah."]

["Tapi jalan menuju sana tertutup longsor."] Burung itu melanjutkan. ["Yang lebih penting...Di sekitar mata air itu tumbuh rerumputan yang sangat disukai kelinci gunung."]

["Setiap pagi sebelum matahari tinggi, mereka datang mencari makan."]

Lian Yue terdiam. Jika benar... Maka peluang Han Zheng mendapatkan buruan besok akan jauh lebih besar.

Burung pipit itu kembali mengepakkan sayap.

["Aku harus pergi."]

["Selamat malam, manusia aneh."]

Lian Yue terkekeh pelan. "Selamat malam."

Burung itu terbang menghilang di balik cahaya bulan. Lian Yue tetap berdiri di tempatnya, angin malam meniup lembut rambutnya. Sudut bibirnya perlahan terangkat.

Mungkin... Kehidupan keduanya benar-benar baru saja dimulai.

Dan besok pagi. Ia akan mencoba mengubah nasib keluarga Han, dimulai dari satu langkah kecil.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!