Rasa panas menyengat di dadanya, disertai bau tengik debu tanah kering yang menusuk hidung.
Lian membuka mata perlahan, menatap langit-langit gua batu yang temaram oleh pendar samar batu kristal.
Pikirannya langsung bergolak hebat.
'Tunggu, bukankah aku baru saja jantungan di atas meja kantor gara-gara lembur tiga hari berturut-turut?'
Memori kehidupan sebelumnya berputar cepat di kepala.
Dia tewas akibat eksploitasi tanpa henti di sebuah perusahaan gelap, mati konyol demi tumpukan laporan keuangan yang bahkan bukan miliknya.
Sebuah cambuk kulit mendadak meledak tepat di samping tubuhnya, menghantam permukaan tanah dengan bunyi keras.
"Bangun, dasar sampah penambang!"
Seorang pria bertubuh kekar dengan seragam sekte berwarna kelam berdiri garang, memegang cambuk berlumur darah.
Darah dan jelutung Qi terhampar kotor di sepanjang lantai gua yang menjadi tempat kerja para penambang miskin ini.
Pria itu adalah mandor tambang dari Sekte Tambang Spiritual, faksi kelas bawah di wilayah Mortal Domain.
Lian merangkak bangun sambil mengusap pelipisnya yang berdarah.
Seketika, sekumpulan ingatan baru merembes masuk ke dalam otaknya.
Tubuh muda ini bernama Lian Feng, seorang pemuda miskin tanpa latar belakang yang dijual ke wilayah tambang untuk memeras batu spiritual.
'Luar biasa, mati di perusahaan gelap, sekarang malah terlempar ke peternakan energi manusia.'
Lian meringgis pelan dalam batinnya.
"Lian Feng! Mana kuota sepuluh batu spiritual tingkat rendah milikmu untuk hari ini?"
Mandor itu berteriak keras, melangkah mendekat dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa tamak.
Para penambang di sekitar mereka hanya bisa menunduk ketakutan, tidak ada yang berani pasang badan.
Hukum rimba purba berlaku sepenuhnya di tempat ini, di mana praktisi kuat memeras praktisi lemah tanpa ampun.
"A... anu, Mandor Wang," ucap Lian dengan nada bergetar, berpura-pura panik. "Batu spiritual di lorong barat sangat sulit digali."
"Alasan!"
Cambuk di tangan Mandor Wang melayang cepat, mengincar wajah Lian tanpa ragu.
Gara-gara refleks tubuh yang buruk, Lian hanya sempat bergeser beberapa sentimeter ke samping.
Ujung cambuk itu merobek bahunya, menciptakan luka bakar energi spiritual yang terasa amat pedih.
'Sialan, orang tua ini benar-benar tidak menganggap nyawa manusia ada harganya.'
Arogansi sumpah suci dan kehormatan sekte yang sering diagungkan di dunia kultivasi ternyata hanyalah penjara berbalut kehormatan.
Mandor Wang mengangkat kakinya, siap menginjak dada Lian yang masih terbaring di tanah kasar.
"Kalau hari ini kau tidak menyerahkan sepuluh batu spiritual, aku akan memotong sebelah tanganmu sebagai peringatan!"
Keringat dingin bercucuran di dahi Lian saat dia mengkalkulasi peluang bertahan hidupnya yang nyaris nol.
Tepat sebelum telapak kaki berbatu itu mendarat di dadanya, sebuah jendela transparan kebiruan mendadak muncul di ruang pandangnya.
[Sistem Sovereign Duplication Telah Aktif!]
[Mendeteksi Kebutuhan Penguasa: Mengaktifkan Paket Starter!]
[Fitur Omni-Adaptation Dibuka!]
[Hadiah Pertama:Slot Klon Vektor #01 Diberikan!]
Lian menahan napasnya, menatap barisan teks yang melayang di udara.
'Pusat Duplikasi Agung? Jadi ini modal utamaku di dunia baru ini?'
Mandor Wang menghentikan kakinya sejenak, mengernyit heran melihat Lian yang malah tersenyum tipis di tanah.
"Bocah gila, apa yang kau tertawakan?"
Lian tidak menjawab, fokus utamanya tertuju penuh pada panel sistem di dalam pikirannya.
Melalui kalkulasi dingin dan perhitungan tanpa kompromi, dia langsung memahami mekanisme dasar sistem tersebut.
Dia bisa menciptakan pasukan klon tak terbatas yang masing-masing memiliki bakat fisik, sihir, atau kemampuan intelijen yang terpisah.
Menariknya, melalui fitur Omni-Adaptation, seluruh kemampuan dari klon tersebut akan terserap secara instan ke tubuh aslinya.
'Artinya, aku tidak perlu bertarung di garis depan dan mempertaruhkan nyawaku seperti orang bodoh.'
"Jawab aku, dasar sampah!"
Mandor Wang yang merasa dilecehkan melayangkan pukulan tinju yang dilapisi energi Qi ke arah kepala Lian.
Pukulan itu membawa angin kencang yang sanggup memecahkan tengkorak manusia biasa.
Dalam situasi krusial ini, pikiran Lian bekerja sangat cepat untuk merajut muslihat pertama.
Dia langsung menekan tombol konfirmasi pada sistem di dalam pikirannya.
[Inisialisasi Bayangan Dimulai...]
[Menciptakan Klon #03: "Baihu" - Spesialis Informasi & Pembunuhan!]
Sebuah gelombang energi tak kasat mata mengalir mendadak di balik kedalaman gua tambang yang gelap.
Jauh di dalam bayangan lorong yang tidak terjangkau cahaya, sebuah wujud manusia tercipta dengan sempurna dalam hitungan detik.
Proses sinkronisasi jiwa terjadi secara seketika.
Seluruh teknik gerak cepat, pemahaman belati, serta insting pembunuh milik Baihu mengalir deras masuk ke dalam tubuh Lian.
Otot-otot tubuh Lian yang semula lemah mendadak menegang, menyerap kekuatan baru tersebut secara halus tanpa memicu aura mencolok.
Saat tinju Mandor Wang tinggal berjarak dua inci dari dadanya, Lian tidak melancarkan serangan balasan secara ceroboh.
Dia tahu betul bahwa membunuh mandor ini di tengah kerumunan hanya akan memicu amarah dari Grand Elder Gu Yan.
Menampilkan kekuatan secara terbuka di saat statusnya masih berupa penambang lemah adalah tindakan paling bodoh.
Lian sengaja membiarkan sisa dorongan angin pukulan itu menghantam dadanya secara terukur.
Tubuhnya terlempar dua meter ke belakang, menghantam tumpukan batu dengan suara gemertak yang cukup keras.
"Khuk!"
Darah segar disemburkan oleh Lian dari mulutnya, menciptakan adegan tragis yang terlihat sangat meyakinkan.
Mandor Wang tertawa puas melihat tubuh Lian yang terbaring lemas tidak berdaya di tanah.
"Tahu rasa kau, bocah insolent!"
Pria bertubuh kekar itu memutar badannya, menatap para penambang lain yang makin gemetar ketakutan.
"Kalian semua lihat itu? Siapa pun yang mencoba membangkang perintahku, nasibnya akan sama seperti bocah ini!"
Para penambang segera bekerja dua kali lebih cepat, menggali dinding batu dengan cangkul mereka yang tumpul.
Lian terbaring memejamkan mata di atas tanah dingin, membiarkan orang-orang menganggapnya telah pingsan atau nyaris tewas.
Di balik matanya yang terpejam, kesadarannya sedang terhubung langsung dengan Klon #03 yang kini berdiri tegak di lorong gelap.
'Baihu, bagaimana kondisimu?'
Melalui tautan batin, suara tenang dan penuh tipu daya milik Baihu merespons seketika.
"Semua fungsi berjalan sempurna, Tuan. Tubuh ini siap menjalankan perintah Anda."
Lian tersenyum dingin di dalam batinnya saat dia menyusun papan catur dimensi untuk pertama kalinya.
'Bagus. Jangan sentuh Mandor Wang secara langsung hari ini.'
"Apa rencana Anda selanjutnya, Tuan?"
'Amati rute pengiriman batu spiritual malam ini, lalu cari tahu di mana Grand Elder Gu Yan menyimpan dokumen transaksi gelapnya.'
Lian menghentikan tautan komunikasi tersebut, membiarkan energi otaknya beristirahat sejenak.
Dunia kultivasi ini mungkin menganggap para penambang kecil sebagai bidak tanpa wajah yang bisa dibuang kapan saja.
Namun mereka tidak pernah tahu bahwa seorang mantan ahli strategi dari dunia modern kini sedang memegang kendali atas benang bayangan.
Dia tidak akan pernah menjadi bidak dalam permainan siapapun lagi.
Saat kegelapan mulai menyelimuti seluruh area gua tambang, sebuah bayangan hitam bergerak keluar dari dalam lorong tanpa memicu suara sedikit pun.
Sementara itu, di dalam bilik mewahnya yang terpisah dari lokasi tambang, Grand Elder Gu Yan sedang menghitung tumpukan batu spiritual hasil perasan hari ini.
Tiba-tiba, lilin di atas meja kerja sang tetua padam secara mendadak gara-gara hembusan angin dingin yang tidak biasa.
Grand Elder Gu Yan mendongak kaget, mengusap leher belakangnya yang mendadak merinding tajam.
"Siapa di luar?" bentaknya kasar sambil mencengkeram gagang pedang di pinggangnya.
Tidak ada jawaban yang terdengar, hanya suara jangkrik dan deru angin malam yang berembus pelan melintasi lorong batu.
Pria tua itu mendengus kencang, melepaskan cengkeramannya sambil menyapu pandangan curiga ke sekeliling ruangan.
'Cuma angin rupanya, heh, aku terlalu paranoid gara-gara memikirkan target batu spiritual bulan ini.'
Sementara itu, jauh di sudut tergelap lorong tambang yang sepi, Lian berdiri santai menyandarkan punggungnya ke dinding gua.
Di hadapannya, sesosok pemuda berpakaian serba hitam baru saja mewujud secara sempurna dari balik pendar energi kebiruan.
Pemuda itu membungkuk dalam, menampilkan senyum tipis yang sarat akan muslihat dan kecerdikan.
"Salam, Tuan Utama," panggil Baihu dengan nada tenang dan penuh penghormatan.
Lian mengamati klon pertamanya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan cermat.
"Berdirilah, Baihu, tidak perlu formalitas berlebihan saat kita hanya berdua di tempat kotor ini," respons Lian santai.
"Baik, Tuan Utama, kehendak Anda adalah hukum mutlak bagi hamba," sahut Baihu seraya menegakkan kembali posisinya.
[Sovereign Duplication: Sinkronisasi Jiwa Selesai!]
[Omni-Adaptation Aktif: Menyerap Atribut Klon #03!]
Seketika, gelombang hangat mengalir deras melintasi setiap pembuluh darah di dalam tubuh Lian.
Pikirannya mendadak terisi oleh ribuan memori taktik, teknik penyusupan, hingga refleks pembunuhan tingkat tinggi.
Sensasi ini terasa begitu nyata, membuat persepsi Lian terhadap lingkungan sekitar meningkat tajam hingga sepuluh kali lipat.
Dia bahkan sanggup mendengar detak jantung penambang yang sedang tertidur lelap di lorong seberang.
'Luar biasa, tanpa perlu membuang waktu bertapa puluhan tahun, aku langsung menguasai seluruh pengalaman tempur miliknya secara instan.'
Lian mengepalkan jemarinya perlahan, merasakan kelincahan fisik baru yang kini mengalir bebas di dalam tubuhnya.
"Bagaimana rasanya menyerap kemampuan dasar milik hamba, Tuan?"
Baihu bertanya seraya mengamati perubahan binar mata Lian yang kini tampak jauh lebih tajam dan dingin.
"Sangat efisien," jawab Lian singkat sambil menyunggingkan senyum tipis. "Tubuhku terasa seperti sudah berlatih teknik pembunuhan selama puluhan tahun."
"Tentu saja, seluruh kekuatan dan pengetahuan hamba adalah milik Anda sepenuhnya, tanpa ada pengurangan sedikit pun."
"A... anu, Tuan, apakah Anda bermaksud membiarkan orang tua di bilik itu tetap bernapas malam ini?"
Baihu melirik ke arah bilik Grand Elder Gu Yan dengan tatapan mata yang dipenuhi niat membunuh yang dingin.
Lian menggelengkan kepala pelan, langsung menolak opsi emosional tersebut.
"Jangan terburu-buru, membunuh Gu Yan sekarang hanya akan mendatangkan pemeriksaan langsung dari para tetua Sekte Utama."
"Ta-tapi Tuan, orang tua itu sudah berani melukai tubuh Anda dengan cambuknya kemarin," potong Baihu dengan nada yang tidak rela.
"Itu hanya luka fisik kecil yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga penyamaran," balas Lian tenang, matanya memancarkan kalkulasi dingin.
"Ka-kalau Sekte Utama turun tangan terlalu cepat, statusku sebagai penambang akan terganggu sebelum panggung utama benar-benar siap."
"Setiap tindakan harus memiliki rasio untung-rugi yang jelas, kita sama sekali tidak bergerak atas dasar dendam picisan."
"Pemikiran yang sangat bijaksana dan tajam, Tuan," sahut Baihu cepat, mengangguk penuh penghormatan.
"Lalu, apa perintah pertama Anda untuk hamba malam ini?"
"Tugasmu sangat simpel namun menjadi kunci dari seluruh rencana awal kita," tegas Lian sambil menyilangkan tangan di dada.
"Keluar dari wilayah tambang ini sekarang, lalu bangun jaringan informasi pertamamu di pasar lelang kota terdekat."
"Gunakan nama 'Paviliun Bayangan', cari tahu seluruh kelemahan para pejabat Kekaisaran Jiulong dan Sekte Api Ilahi."
Baihu tersenyum makin lebar, merasa sangat cocok dengan tugas manipulatif yang diserahkan kepadanya.
"Setiap orang memiliki harga," ujar Baihu dengan nada penuh percaya diri.
"Tugas hamba hanya menemukan berapa banyak batu spiritual yang dibutuhkan untuk membeli kesetiaan atau rahasia tergelap mereka."
"Bagus, pergilah sekarang sebelum fajar menyingsing dan mengganggu pergerakan rahasiamu," perintah Lian tegas.
"Hamba pamit, Tuan Utama, percayakan catur bayangan di kota kepada hamba," janji Baihu dengan tegas.
Baihu membungkuk sekali lagi, lalu tubuhnya memudar secara halus menyatu dengan bayangan dinding gua yang gelap.
Eksekusi nir-bercak milik klon spesialis informasi dan pembunuhan itu memang sangat sempurna tanpa menyisakan jejak sedikit pun.
Lian berjalan kembali ke sudut tempat tidurnya yang kumuh, lalu berbaring di atas tumpukan jerami kering yang keras.
Dia sengaja mempertahankan luka bekas cambukan di bahunya agar tidak memicu kecurigaan dari Mandor Wang besok pagi.
'Peran sebagai murid lemah harus tetap kujalani dengan sempurna sampai seluruh bidakku tersebar merata di papan catur dimensi.'
'Akan sangat konyol jika aku yang menjadi target utama hanya karena bertindak ceroboh di awal permainan ini.'
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah tebing atap gua tambang.
Mandor Wang berjalan menelusuri lorong sambil mengayunkan cambuk kulitnya ke udara hingga menimbulkan bunyi pecutan keras.
"Bangun, dasar sampah-sampah pemalas! Waktu kerja hari ini sudah dimulai!"
Para penambang terbangun dari tidur lelap mereka dengan tubuh gemetar, buru-buru mengambil cangkul tua yang sudah berkarat.
Lian ikut berdiri perlahan sambil meringis pelan, memegang bahunya yang masih ternoda oleh bekas darah kering.
Mandor Wang menghentikan langkah kakinya tepat di depan Lian, menatap pemuda itu dengan pandangan meremehkan.
"Bocah, kau ternyata masih bernapas rupanya?"
"A-ampun, Mandor Wang, hamba masih sanggup bekerja menggali batu hari ini," kata Lian sambil menundukkan kepala dalam-dalam.
"Bagus kalau begitu, kuota batu spiritual milikmu hari ini kunaikkan menjadi lima belas buah!"
Mandor Wang tertawa terbahak-bahak, merasa sangat puas berhasil menindas praktisi muda yang tidak berdaya ini.
'Siklus eksploitasi yang benar-benar mirip dengan perusahaan gelap tempatku mati akibat overwork dulu.'
Lian membatin dingin saat dia berjalan melangkah menuju lorong tambang paling dalam sambil membawa cangkul besi.
'Tertawalah sepuasmu selagi bisa, karena tempat ini akan segera menjadi makam untuk seluruh hierarki busuk milikmu.'
Beberapa jam kemudian, suasana riuh terlihat jelas di Pasar Lelang Kota Jiulong yang berjarak belasan mil dari lokasi tambang.
Di sudut atap bangunan tertinggi yang teduh, Baihu berdiri memperhatikan keramaian kota sambil menguraikan bisikan bayangan orang-orang.
Dia menarik sebuah gulungan kertas kosong dari balik jubah hitamnya, mulai mencatat seluruh informasi penting yang didengarnya.
"Dengar-dengar, Puteri Feng Qingxue dari Kekaisaran Jiulong sedang mencari pengawal pribadi baru dari kalangan rakyat biasa."
"Sekte Api Ilahi juga akan membuka pendaftaran murid dalam bulan depan, persaingannya pasti sangat berdarah-darah."
Tiba-tiba, seorang pemuda berpakaian lusuh berjalan cepat di gang sempit bawah atap sambil memeluk erat sebuah cincin batu tua.
Pemuda itu tidak lain adalah Ye Chen, sang "protagonis asli" yang baru saja mendapatkan artefak warisan kakek tua dari pasar gelap.
"Hehe, dengan cincin rahasia ini, seluruh orang yang pernah meremehkanku akan berlutut di bawah kakiku!" gumam Ye Chen penuh percaya diri.
Baihu memicingkan matanya dari atas atap, mengamati aura keberuntungan unik yang memancar kuat dari tubuh pemuda tersebut.
Tautan batin antara klon dan tubuh utama mendadak terhubung kembali secara otomatis melalui jaringan sistem Sovereign Duplication.
'Lian: Baihu, bagaimana perkembangan informasi di kota saat ini?'
'Baihu: Tuan Utama, hamba baru saja menemukan seorang pemuda sangat aneh yang sangat cocok dijadikan sebagai umpan bernyawa.'
'Lian: Ceritakan secara singkat, apa yang membuat pemuda itu menarik perhatianmu?'
'Baihu: Dia membawa artefak kuno berisi jiwa pelindung, perilakunya sangat impulsif, emosional, dan sok pahlawan.'
'Lian: Sangat bagus, perhatikan gerak-geriknya dari jauh dan letakkan dia di posisi depan agar seluruh perhatian sekte tertuju padanya.'
'Baihu: Hamba mengerti, Tuan.'
Sementara itu, kembali ke dalam lorong tambang batu spiritual yang sangat gelap dan lembap.
Lian sedang mengayunkan cangkul besinya ke dinding batu, berpura-pura kelelahan di hadapan para penambang lain di sekitarnya.
Namun, penglihatan sistem di dalam matanya mendadak memercikkan barisan tulisan merah yang memancarkan tanda bahaya.
[Peringatan Sistem!]
[Mendeteksi Pergerakan Energi Asing di Lorong Utama Tambang!]
[Pasukan Pembunuh Rahasia Milik Puteri Feng Qingxue Sedang Mendekati Lokasi Ini!]
Lian menghentikan ayunan cangkulnya seketika, matanya memicing menatap kegelapan lorong tambang yang berasap tipis.
'Putri utama Kekaisaran Jiulong mengirim pasukan pembunuh rahasia ke tempat kotor ini?'
'Apakah tujuan mereka adalah memburu dokumen rahasia milik Gu Yan, atau ada artefak purba lain yang terkubur di bawah tanah ini?'
Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa makin mendekat dari balik kegelapan lorong tambang.
Lian memiringkan kepalanya sedikit, meremas cangkul besinya seraya membaca perubahan sinyal merah di pandangan mata visual sistemnya.
'Pasukan pembunuh rahasia milik Putri Feng Qingxue rupanya benar-benar sudah menyusup ke lorong utama.'
'Menarik, membiarkan mereka bentrok langsung dengan pengawal Gu Yan akan membuat kekacauan ini makin sempurna.'
Lian melirik ke arah Mandor Wang yang sedang berkacak pinggang di ujung lorong sambil terus mengawasi para penambang dengan mata melotot.
"Oi, bocah tengik! Kenapa melamun saja di sana?" teriakan kasar Mandor Wang menggelegar menembus dinding batu.
"A-ampun, Mandor Wang, hamba sedang mencoba memecahkan celah batu yang sangat keras ini," sahut Lian dengan suara gemetar yang dibuat-buat.
Mandor Wang melangkah mendekat seraya mengayunkan pecut kulitnya hingga menimbulkan bunyi hentakan nyaring di udara.
"Alasan saja! Kalau sebelum makan siang kuota lima belas batu milikmu belum terkumpul, kulit punggungmu akan kupukuli sampai terkelupas!"
'Sikap arogan yang sangat tipikal dari bidak kelas rendah yang merasa punya sedikit kekuasaan.'
Lian membatin dingin seraya menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan kilatan mata kalkulatifnya yang penuh perhitungan tanpa kompromi.
'Sifat tamak dan emosional orang ini adalah celah paling mudah untuk merajut muslihat pertama kita.'
Melalui saluran batin Sovereign Duplication, komunikasi jarak jauh antara Lian dan Klon #03 mendadak terhubung kembali.
'Lian: Baihu, bagaimana situasi dokumen transaksi gelap milik Gu Yan yang kumatikan jalurnya semalam?'
'Baihu: Sudah berada di tangan hamba, Tuan Utama. Dokumen ini berisi catatan penggelapan seribu batu spiritual kualifikasi tinggi milik Sekte Utama.'
'Lian: Bagus sekali. Jatuhkan gulungan itu tepat di dalam kantong jubah cadangan milik Mandor Wang tanpa memicu kecurigaan.'
'Baihu: Serahkan pada hamba, Tuan. Bisikan bayangan hamba akan memastikan barang bukti itu berpindah tempat tanpa celah.'
Di lorong luar yang remang-remang, sesosok bayangan tipis melintas amat cepat menembus ruang istirahat sang mandor.
Sebuah gulungan kain sutra berstempel merah rahasia milik Grand Elder Gu Yan terselip mulus ke dalam lipatan kantong jubah mandi Mandor Wang.
Eksekusi nir-bercak milik klon spesialis informasi itu bekerja begitu rapi, tanpa menyisakan jejak fluktuasi energi sedikit pun.
Kembali ke area penggalian utama, Lian sengaja mengayunkan cangkulnya hingga menghantam bagian atas tumpukan keranjang batu milik Mandor Wang.
PRANG!
Keranjang batu spiritual milik sang mandor terguling miring, menyebarkan bongkahan batu bersinar ke atas tanah kotor.
"Kurang ajar! Bocah buta, apa yang kau lakukan pada keranjang milikku?!" teriak Mandor Wang murka seraya melangkah maju dengan wajah merah padam.
"A-ampun, Mandor! Hamba tidak sengaja, hamba akan merapikannya sekarang juga!" jerit Lian berpura-pura panik setengah mati.
Lian buru-buru berlutut, dengan sengaja menarik jubah luar milik Mandor Wang hingga gulungan sutra rahasia di kantongnya terjatuh ke tanah.
Gulungan bertinta emas itu terguling tepat di dekat kaki beberapa penambang tua yang sedang berkumpul ketakutan.
"Tangan kotormu tidak boleh menyentuh jubahku, sampah!" bentak Mandor Wang seraya menendang dada Lian hingga pemuda itu tersungkur.
Namun, sebelum Mandor Wang sempat mengangkat pecutnya kembali, suara derap langkah sepatu besi terdengar gemuruh dari arah pintu masuk lorong.
Puluhan pengawal berzirah hitam milik Sekte Tambang Spiritual mendadak memblokir seluruh rute melarikan diri di dalam gua.
Di barisan paling depan, Grand Elder Gu Yan berjalan masuk dengan aura membunuh yang sangat pekat dan membakar.
"Tahan seluruh pergerakan di lorong ini! Tidak ada satu pun orang yang boleh keluar!" seru Gu Yan dengan nada menekan yang amat berat.
Seluruh penambang langsung berlutut gemetar di atas tanah, tidak berani mengangkat kepala mereka sedikit pun.
Mandor Wang yang tadinya begitu arogan mendadak pucat pasi, buru-buru membungkuk dalam di hadapan sang tetua agung.
"Sa-salam Grand Elder! Ada gerangan apa Anda turun langsung ke area tambang yang kotor ini?" tanya Mandor Wang dengan suara terbata-bata.
Mata Gu Yan yang tajam menyapu sekeliling ruangan, hingga pandangannya terhenti pada gulungan sutra yang tergeletak terbuka di tanah.
"Batu spiritual kualifikasi tinggi milik Sekte Utama hilang semalam, dan dokumen catatannya ada di bawah kakimu," bisik Gu Yan dingin.
Mandor Wang tersentak kaget, melirik ke bawah dengan mata melotot penuh rasa tidak percaya.
"A-apa? Ini bukan milik hamba, Tuan! Hamba tidak pernah melihat barang ini sebelumnya!" jerit Mandor Wang dengan tubuh gemetar hebat.
"Dokumen itu berstempel rahasia milikku, dan hanya berada di meja bilik pribadiku!" bentak Gu Yan seraya mengibaskan tangannya kencang.
Gelombang angin bertekanan tinggi menghantam dada Mandor Wang, membuatnya terpental keras menghantam dinding batu gua.
"Pengawal! Geledah seluruh kantong jubah dan tempat tinggal bajingan ini sekarang juga!" perintah Gu Yan murka.
Dua pengawal berzirah langsung memegang kedua tangan Mandor Wang yang meronta-ronta ketakutan.
Dari dalam lipatan jubah pribadinya, pengawal menemukan tiga buah kantong spasial berisi ratusan batu spiritual curian milik sekte.
"Lapor Grand Elder! Barang bukti penyelewengan aset dan dokumen rahasia memang ditemukan di dalam pakaian pribadi Mandor Wang!"
Mendengar laporan tersebut, wajah Mandor Wang berubah menjadi seputih kertas, keringat dingin mengucur deras membasahi seluruh lehernya.
"Tidak! Ini fitnah! Seseorang telah menjebak hamba! Ampuni hamba, Grand Elder!" rintih Mandor Wang memohon-mohon sambil berlutut pasrah di atas tanah kotor.
Lian yang merayap di tanah mengamati pemandangan tersebut dari sudut matanya dengan senyum tipis yang amat tersembunyi.
'Begitu mudah menundukkan orang yang memegang kekuasaan semu di bawah tekanan hierarki yang lebih tinggi.'
'Penaklukan ego seperti ini jauh lebih bersih ketimbang mengotori tanganku sendiri dengan darah.'
Gu Yan menatap Mandor Wang dengan pandangan penuh jijik, sama sekali tidak memberi ruang untuk penjelasan atau negosiasi.
"Menjual aset sekte secara ilegal adalah pengkhianatan tingkat tinggi. Kejahatanmu tidak diampuni!"
Gu Yan mengangkat telapak tangannya, mengumpulkan energi Qi berwarna merah menyala yang sangat panas.
BOOM!
Satu pukulan telapak tangan menghantam dada Mandor Wang hingga organ dalamnya hancur seketika tanpa sempat menjerit lagi.
Tubuh sang mandor rubuh kaku ke tanah, tewas mengenaskan di hadapan puluhan penambang yang menyaksikan kejadian itu dengan napas tertahan.
Gu Yan mengibaskan jubahnya kasar, membalikkan badan seraya menatap dingin ke arah seluruh penambang yang tersisa.
"Siapa pun yang berani mencoba mencuri aset batu spiritual milik sekte, nasibnya akan sama seperti bangkai ini!"
"Bersihkan tempat kotor ini sekarang juga!" seru Gu Yan sebelum melangkah pergi meninggalkan lorong tambang yang penuh kepulan debu.
Para pengawal menyeret mayat Mandor Wang keluar, meninggalkan suasana tambang yang mendadak menjadi sangat hening dan mencekam.
Lian berdiri perlahan seraya membersihkan debu tanah yang menempel pada celananya, menatap tempat jatuhnya sang mandor tanpa emosi.
'Satu ancaman langsung di area tambang berhasil disingkirkan tanpa perlu mengeluarkan aura pertempuran sedikit pun.'
'Hukum rimba purba di tempat ini memang sangat mudah dimanipulasi jika kita memegang benang bayangan dari balik layar.'
Tiba-tiba, suara getaran halus dari dalam jaringan sistem Sovereign Duplication kembali memercikkan pesan darurat.
[Peringatan Sistem!]
[Pasukan Pembunuh Rahasia Putri Feng Qingxue Telah Membuka Segel Terlarang di Kedalaman Lorong #09!]
[Resonansi Energi Artefak Purba Mulai Memicu Reaksi Pada Tubuh Utama!]
Lian memicingkan matanya tajam, merasakan hawa dingin yang sangat asing mendadak merayap naik dari dasar tanah yang dipijaknya.
'Pergerakan mereka jauh lebih cepat dari kalkulasi awal.'
'Apakah artefak terlarang di bawah tanah ini yang sebenarnya menjadi incaran utama Kekaisaran Jiulong?'
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!