"Ampun Yang Mulia, hiks... Hamba mohon biarkan anak ini hidup!!" Pinta seorang Ratu yang begitu putus asanya.
Entah karena apa, Yang Mulia Raja begitu ingin menyingkirkannya. Bahkan anak yang ada dalam kandungannya pun tak lepas dari amukan kebencian Sang Raja.
"Apa yang kalian tunggu? Cepat bunuh wanita ini!" Titahnya pada para pengawal, yang saat ini benar-benar dilema harus berbuat apa.
Walau bagaimana pun rasa kasian mereka pada Sang Ratu, mereka juga harus tetap menuruti perintah Raja, meski pun itu tak memiliki rasa kemanusiaan sedikit pun.
Dan tanpa basa-basi, seseorang muncul dari belakang Sang Raja yang kemudian mengayunkan bilah pedang keleher Sang Ratu.
Srakkk
Darah pun bercucuran ke lantai yang membuat Sang Ratu kesakitan. Namun tak cukup menghunus leher Sang Ratu, pria angkuh itu pun menusuk perut yang tinggal hitungan hari untuk melahirankan seorang anak, yang entah itu Putri mungil atau Pangeran Kecil.
Sungguh kejamnya orang-orang ini terutama Sang Raja, yang kini malah tersenyum puas melihat nasib pilu Sang Ratu.
Aarrghhh!
Pekik Sang Ratu yang sangat terluka melihat betapa kejamnya lelaki yang ia cintai selama ini. Padahal dulu, dengan tangannya sendiri, ia rela membunuh banyak penentang demi kedaulatan tahta Sang Raja.
Namun inilah kenyataannya, kebaikan di balas dengan air tuba.
Akan tetapi, apa yang disaksikan sang Ratu di lorong hitam yang hampa itu hanyalah potongan ingatan dari kehidupan sebelumnya, karena kesadarannya masih utuh dan jiwanya belum sepenuhnya lenyap.
Namun, Sang Ratu, yang menyaksikan berbagai hal begitu nyata dan menyakitkan, justru karena keserakahannya sendiri terbawa ke ambang kesengsaraan. Bahkan, ia menyaksikan Kerajaan Nether runtuh dalam kehancuran yang dahsyat.
Entah apa yang di lihatnya ini hanya sebatas mimpi panjang yang melelahkan, atau kenyataan yang sudah terjadi. Namun, Sang Ratu terus berharap seseorang segera mambawanya keluar dari permainan nasib yang begitu kejam itu.
Ditengah pelariannya, seseorang yang begitu cantik dengan pakaian serba putih dan rambut hitam panjang yang tergerai, menarik lengannya.
Kini, Sang Ratu tidak lagi berada di lorong hitam yang terus memperlihatkan kepingan ingatan dan masa depan yang begitu kelam, seakan dirinya berpindah dimensi ke dunia lain.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang, Davira?" ujar sang wanita cantik itu pada dirinya.
Davira Bellova Osta, merupakan Ratu kerajaan Nether saat ini yang dinikahi berdasarkan sebuah janji untuk membantu Liam Navo Osta, Sang Raja saat ini.
Tentunya, Davira tidak mengerti akan maksud dari wanita ini. Memangnya, apa yang harus di lakukan oleh dirinya?.
"Apa maksudmu?" Tanya Davira.
"Apa yang kau lihat barusan adalah kehidupanmu sebelum dan juga akhir dari dunia!" Jelas sang wanita yang menyentak kesadaran Davira.
Sang Pahlawan yang seharusnya menyelamatkan dunia, telah gugur lebih dulu.
Bukankah jika Davira kembali hidup, ia harus mencegah kematian dari Sang Pahlawan untuk menyelamatkan semua orang, terutama dirinya sendiri! Begitulah pikir Davira.
Namun sebelum ia menyatakan jawabannya, sang wanita tersenyum lekat pada Davira seakan tau apa yang kini di putuskan oleh Davira.
"Baiklah, aku mengerti! Ingat semua tekadmu ini, demi menghentikan kehancuran dunia! Wahai anak yang diberkati... Kembalilah hidup dengan memikul beban untuk menjaga keselamatan sang pahlawan!" Ucap sang wanita.
Selesai mendengar pernyataan itu, tiba-tiba saja tubuh Davira terlempar ke sebuah lorong hingga melewati sebuah sungai yang dalam yang membuatnya sulit untuk bernafas.
Ia yang tidak sempat mengatakan sepatah kata pun terlempar di dua dinding dimensi yang membuat tubuhnya terasa begitu sakit, hingga ia kembali di celupkan ke sebuah sungai yang kali ini terasa hangat di dasar namun dingin di permukaan.
Disaat Davira terus berjuang dibalik nasibnya yang tengah dipertaruhkan itu, samar-samar dirinya mendengar sebuah suara yang lembut namun tegas.
"Yang Mulia, bangunlah!"
"Suara siapa itu?" Pikir Davira yang masih berjuang di alam sana.
"Yang Mulia, anda sudah sangat lama tertidur dikursi begini. Jika terus seperti ini, leher anda akan sakit!" Ucap lembut suara itu yang semakin jelas terdengar.
Namun, mata indah Sang Ratu masih tertutup rapat lantaran dirinya masih memperjuangkan takdir yang tengelam di kolam aneh itu.
Davira hanya bisa mendengar panggilan dari seorang wanita yang dengan sabar dan penuh perhatian memanggilnya dengan sapaan yang telah lama dirindukan.
"Yang Mulia!" Ujar wanita itu sekali lagi yang membuat Sang Ratu tersentak dari alam mimpi yang begitu menyiksa batinnya.
"Hufff... Ha.. Ha.. Ha.." Suara nafas Sang Ratu terengah-engah yang membuat si wanita yang dari tadi memangil Sang Ratu ketakutan.
Bukan tanpa alasan sang wanita ini ketakutan, lantar pamor Sang Ratu saat ini adalah tiran yang dengan teganya membunuh keluarganya sendiri demi kepentingan Sang Raja. Begitulah fakta yang di ketahui masyarakat luas.
Sang Ratu yang dengan nafas tersegel itu menatap keheranan ke arah wanita yang dari tadi memanggilnya, ternyata wanita yang menggunakan pakaian Pelayan itu adalah bawahannya sendiri.
Neola Juliane, seorang budak yang di bebaskan oleh Sang Ratu dan di jadikan pelayan pribadi. Namun, siapa sangkan, dirinya benar-benar dengan tulus melayani dan setia pada Sang Ratu.
Bahkan dalam mimpi yang di lihat oleh Davira tadi, Neola mati demi melindunginya dari Sang Raja kejam nan bodoh yang akan menghancurkan kerajaan.
"Ma–maaf atas kelancangan hamba Ratu!" Ucap lirih Neola yang pasrah bila dirinya dihukum lantaran menganggu tidur siang Sang Ratu.
Namun, bukannya mendapakan hukuman. Davira justru memeluk haru Sang Pelayan yang telah dirindukannya selama mimpi itu berlangsung.
Seketika, Davira menangis dalam pelukannya sembari berkata, "Terimaksih, hiks.. Terimakasih Neola!!"
Ucapnya yang membuat pelayan kecilnya ini sedikit kebingungan akan apa yang terjadi pada majikan yang bahkan tak pernah mengucapkan terimakasih apa lagi sampai menangis begini.
Namun, ia juga tidak memiliki wewenang untuk menanyakan perkara itu. Dirinya hanyalah seorang budak yang di bebaskan dan mendapat belas kasihan untuk bertahan hidup di Kerajaan ini.
Bahkan ia bersyukur bisa membalas budinya dengan melayani Ratu kejam di mata publik ini.
"Maaf atas kelancangan hamba membangunkan anda, Yang Mulia. Tapi, sekarang sudah waktunya makan malam! Dan Yang Mulia Raja meminta hamba untuk memanggil Anda, agar turut serta makan malam bersamanya kali ini!" Ucap Noela sambil tersenyum hangat.
"Eh!" tiba-tiba Davira mengingat sesuatu.
"Ratu pasti senang akhirnya Yang Mulia Raja memperhatikannya." Noela yang tau betapa Ratu selama ini ingin menghabiskan waktunya bersama Sang Raja yang sibuk akan mengurus pemerintahannya.
"Ratu!" pekik seorang Pelayan yang berlari menghampirinya.
Pelayan itu dengan tergesa-gesa membawa kabar bahwa seorang wanita muda akan segera menghampirinya. Melihat gelagat terkejut dan was-was dari si Pelayan, Davira paham siapa yang akan berkunjung kali ini.
Dengan segera Davira pun meminta Pelayan setianya, Neola untuk membantunya ganti baju dan bersiap-siap menyambut pelakor yang datang.
Idette Zelmira Felix, putri dari Count Felix. Dia adalah wanita yang saat ini telah berhasil memikat hati Sang Raja. Bahkan hal ini pun telah menjadi rahasia publik.
Banyak masyarakat yang tidak mengetahui apa-apa akan wanita muda yang menjadi pusat pergaulan kalangan bangsawan di Ibukota Kerajaan saat ini.
Menilai, bahwa wanita yang terlihat angung di balik gaun mewah yang bersikap lemah lembut seperti sorang Saintess itu, lebih cocok dan pantas menjadi panutan tertinggi di Kerajaan ini dari pada Sang Ratu kejam bak tiran Kerajaan Osta yang sering diolok-olok oleh masyarakatnya sendiri.
Dan itulah alasan Sang Raja mengijinkan Idette tinggal di istana meski, belum menikahi wanita itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️
“Nona Idette!” sapa Sang Ratu, melirik wanita muda itu dari ujung kepala hingga kaki. Pakaian yang dikenakannya begitu tak senonoh—lebih pantas dikenakan seorang wanita penghibur daripada seorang wanita yang hendak menghadap Ratu.
"Salam Yang Mulia, maaf atas kelancangan hamba yang masuk tanpa izin begini. Namun, hamba hanya ingin berbagi teh yang baru datang dari Negara Orda. Teh ini sangat enak dan baik untuk kesehatan, sepertinya yang mulai tau jika hamba beberapa hari ini tidak enak badan," Ucapnya lembut sembari menuangkan teh ke cangkir Davira.
Seperti biasa, wanita angkuh yang mengandalkan rasa suka Sang Raja itu masuk ke dalam ruangan Ratu tanpa izin, dengan dalih membawa beberapa cemilan dan teh untuk dinikmati bersama Ratu.
Tentunya Davira tau bahwa, tujuan wanita ini datang, hanya untuk menyombongkan dirinya dengan pernyataan bahwa Sang Raja lebih peduli padanya dari pada Davira sendiri, yang saat ini adalah Ratu Kerajaan Nether, Ratu yang bahkan telah mempertaruhkan segalanya demi Sang Raja.
Namun, terlepas dari semua itu, tatapan penuh permusuhan dan benci terlihat jelas di ekspresi Davira. Dan tatapan itu disalah artikan oleh Idette sebagai bentuk kecemburuan.
"Ah.. Aku hanyalah wanita simpanan Yang Mulia Raja yang tidak bernilai dimatamu. Tapi Yang Mulia Ratu, sebagai sesama wanita yang mencintai pria yang sama, walaupun Yang Mulia Raja lebih menyukaiku dibanding dirimu! Bukankah lebih baik kau mengizinkan kami untuk bersama demi kebahagiaan Sang Raja juga," Ucapnya tanpa tau malu.
Alasan kenapa Sang Raja tidak menikahi Idette hingga saat ini adalah, karena pertentangan dari para pejabat yang juga ingin menyodorkan Putri mereka dengan dalih persetujuan dari Ratu yang berperan penting dalam mengurusi masalah kenegaraan hingga saat ini.
Davira mengernyitkan alisnya, tidak percaya bahwa anak seorang count bisa begitu tidak tahu malu. Namun, yang lebih aneh lagi adalah bagaimana dia bisa begitu dipuja oleh khalayak ramai. Apakah karena nama besar ayahnya atau kecantikannya yang mempesona?
Melihat Davira yang hanya diam sembari menatap tegas kearahnya, membuat Idette kepanasan tanpa alasan. Dan lagi-lagi, ia coba memanas-manasi Davira.
"Maaf Yang Mulia Ratu, jika perkataan saya telah menyingung perasaan Anda. Tapi, bagaimana pun saya hanya berusaha menghilangkan kekhawatiran Yang Mulia Raja saat ini. Terutama masyarakat juga setuju akan pernikahan kami!" Ucapnya lagi.
Idette menyungging senyum licik, berusaha memancing amarah Davira, Dulu Davira termakan emosi, lalu berteriak-teriak keras. Saat itu, beberapa bangsawan termasuk Yang Mulia Raja sedang melintas di koridor, membuat Idette menang, dan membuat Davira kehilangan kendali di depan mereka.
Namun, sayangnya, saat ini situasi akan berbeda atau bahkan justru berbalik, Davira yang telah mengetahui trik konyol Idette ini di kehidupan yang telah berlalu.
Melihat sikap Davira yang acuh tak acuh itu pun membuat Idette semakin naik pitam. Pikirnya, ada apa dengan Davira kali ini, bukankah jika sudah di panasi begini ia akan meledak seperti biasanya.
Jika terus seperti ini, rencananya untuk memikat dan memperlihatkan betapa buruknya sifat Davira saat ini gagal total.
Setelah terdiam sesaat, Davira mengembuskan napas panjang. Kelelahan dan frustrasi akibat kematian yang pernah merenggut hidupnya masih membekas begitu dalam, membuatnya tak sanggup lagi berlama-lama. Ia pun meminta Idette untuk keluar.
"Baiklah, kau keluarlah dan segera bersiap-siap untuk makan malam. Bukankah yang mulia mengundangmu juga, di acara malam ini?" Ucap Davira yang membuat Idette tercengang.
Pikir Idetta, kenapa Ratu tidak marah meski tau kalau dirinya juga diundang untuk ikut serta pada makan malam antara Raja dan Ratu, setelah sekian lama?.
"Apakah Yang mulia Ratu punya rencana jahat kali ini? Hahhh, aku harus waspada!" Pikir Idette yang malah menuduh sikap tenang Sang Ratu.
Setelahnya, dengan perasaan gaduh Idette pun memilih untuk keluar dari ruangan Ratu yang ternyata ada Raja dan para bangsawan lain berdiri di depan ruangan tersebut.
Tentunya, Idette tidak melewati kesempatan yang telah disediakan oleh Yang Mulia Raja. Kemudian ia pun mengarang cerita bohong dengan memasang wajah sedih bahwa dirinya diusir oleh Sang Ratu meski ia hanya membawa beberapa cemilan dan teh yang telah di pesan Raja beberapa hari lalu.
Davira pun mengabaikan semua perkataan Idette yang justru membuatnya berpikir, kenapa saat dulu ia bisa begitu terganggu atas lolongan anjing disiang bolong begini.
Sungguh ia sia-sia marah dan mengamuk kala itu.
"Hufff... Aku sungguh konyol telah memberi perasaanku pada bajingan ini. Ini benar-benar lucu, kenapa aku bisa sebodoh dan segila itu pada bajingan yang tampak seperti monyet hutan itu!" Pikir Davira yang lagi-lagi menyesali rasa sukanya di kala itu.
Davira yang hanyut dalam perasaan sesalnya, tiba-tiba teringat akan kenangan betapa dulunya Davira mendewakan cinta dari Liam.
Namun, perasaan yang indah dulu itu, kini terasa hampa. Bahkan Davira sadar bahwa selama ini Liam selalu mengacuhkan dirinya, seketika kenangan masa lalu itu membuat dada Davira sesak.
"Huff, mari lupakan itu semua, saatnya permainan dimulai!" ucap Davira dalam hati, ia berusaha tegar akan apa yang telah terjadi kedepannya nanti.
Kemudian Davira memutuskan untuk menyusun rencana, dengan ingatan dari alam masa lalu.
Bagaimana pun caranya, kali ini hidup Davira tidak boleh berakhir tragis seperti kehidupan yang lalu. Terutama kali ini, ia harus menyelamatkan buah hati yang telah lama ia tunggu namun dibunuh oleh tangan-tangan penuh dosa.
Dendam kehilangan itu harus dibayar dengan tuntas mulai dari sekarang. Mata ganti mata.
*****
Beberapa Saat Kemudian... Menjelang acara makan malam.
"Yang Mulai, sudah selesai!" Ucap Neola yang selesai mendandani Davira.
“Wah… apa aku benar-benar secantik ini?” gumam Davira tak percaya, menyadari betapa dirinya tampak jauh lebih memesona dalam balutan pakaian cerah, layaknya para nona muda di pesta.
Sekarang, Davira benar-benar sadar. Kenapa selama ini ia tidak pernah tampil berlebihan dengan pakaian berwarna cerah seperti sekarang, malah dulunya ia sering memakai gaun sederhana yang berwarna gelap pekat, makin membuatnya dirinya tampil seperti seorang penyihir jahat.
Yah, tidak salah juga kalau dia dijuluki Ratu mengerikan dengan penampilan yang mencolok dan raut wajah yang selalu suram.
"Baiklah Davira! Mari lakukan rencana kita dengan sukses!" Seru Davira menyemangati dirinya sendiri.
Davira yang menghadiri makan malam kali ini bukanlah datang karna rasa suka, melainkan untuk melanjutkan rencananya agar terbebas dari dua benalu yang berencana merenggut nyawanya.
Rencana besar Davira kali ini adalah bercerai dengan suami bodohnya.
"Karena kalian berdua tidak tahu malu, biar aku perlihatkan cara membuang sampah-sampah di tempatnya, dengan baik!" Seru batin Davira dengan penuh percaya diri. Karena Davira yang sekarang bukanlah Davira yang dulu, yang polos, bucin, dan mudah di bodoh-bodohi.
Davira yang telah melihat berapa banyak tipu muslihat dari orang-orang di sekitarnya dalam mimpinya itu, menjadikan dirinya sebagai orang yang bisa mengunakan kembali tipu muslihat itu sebagai memanipulasi bagi lawannya.
Dengan kepintaran dan ketangkasan Davira yang menyukseskan tahta Liam selama ini, maka tentunya mudah bagi dirinya untuk meninggalkan Liam dalam jurang penyesalan.
Davira benar-benar tidak sabar untuk membalaskan rasa sakit terpendam yang selama ini ia kubur. Dan kini, tidak ada lagi alasan baginya untuk bertahan dalam pernikahan yang disepakati di atas kertas belaka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️
Ruang Makan Istana.
"Salam Yang Mulia!" Tutur Davira.
Semua mata langsung tertuju padanya. Para bangsawan yang biasanya meremehkan kini terdiam, lidah mereka kelu melihat penampilan baru sang Ratu.
Bisik-bisik kecil menyusuri meja panjang penuh hidangan, mengalir di antara para tamu yang terperangah.
"Apakah ini benar, Ratu Davira?"
"Ia terlihat begitu berbeda… lebih bercahaya."
Bahkan sang raja, yang selama ini gemar mengabaikan kehadirannya, tak bisa menahan diri untuk menatap lama.
Dengan senyum tipis yang sarat arti, Davira duduk di kursinya, gerakannya anggun ditambah senyum menggoda. Ia tahu, sejak malam ini, tak seorang pun di ruangan itu akan memandangnya dengan cara yang sama lagi.
Deg
Deg
Deg
Suara jantung Davira, menahan amarah amarah, ada rasa ingin segera membunuh laki-laki yang dengan santai dan teganya membunuh buah hatinya sendiri, meski saat itu Davira belum sempat melihat janinnya sendiri.
Melihat wajah suram dengan tatapan ingin membunuh itu, entah kenapa terasa begitu menakutkan di mata Liam sendiri. Ada rasa terkejut yang menyelinap di matanya, campuran antara takjub dan resah, seolah-olah istrinya yang lama telah tiada dan digantikan oleh sosok asing yang lebih kuat, lebih memesona, dan lebih berbahaya. Sorot mata Davira tampak berbeda dari biasanya—penuh permusuhan.
Namun, Liam berusaha mengalihkan pikirannya dengan fakta bahwa Davira yang sangat amat mencintainya tidak mungkin seperti itu.
Seketika, Davira yang menyadari tatapan dari Liam kembali tersenyum hangat seperti tidak ada yang berubah.
Davira sengaja duduk tepat, di depan sang Raja yang membuat Idette kesal lantaran mata Liam saat ini terus menyoroti penampilan tak biasa dari Davira.
"Apa-apaan dengan pakaiannya itu? Apa dia sengaja tampil memukau untuk menggoda Yang Mulia?" pikir Idette yang cemburu.
Pikir negatif Idette yang terus menatap nanar Davira. Namun, berbeda dengan apa yang di pikirkan oleh Idette, Liam saat ini malah tertarik dengan penampilan baru Davira.
Pikirnya, betapa cantik dan memukaunya Davira saat di baluti pakaian cerah yang digunakan oleh para nona muda.
"Hem, ada apa dengan tatapan kalian? Jangan katakan kalian tidak menyambut kedatanganku!" Sindir Davira.
Liam dan Idette yang menyadari tatapan mereka tidak biasa ke arah Davira mulai mengalihkan perhatian mereka.
"Oh... Lihatlah, betapa kompaknya dua benalu tak tahu malu ini!" Pikir Davira yang menyadari betapa kompak dan cocoknya dua manusia yang tak tau malu ini.
Davira terus menatap lekat ke arah Liam yang membuat Liam salah menafsirkan sorot mata benci itu dengan perasaan penasaran.
"Hem, kenapa menatapku seperti itu, Yang Mulia?" Tanya Davira, dengan wajah polos.
"Aku menatapmu sejak tadi karena kau berpenampilan berbeda dari biasanya!"
"Hoo, Lalu, apakah itu menarik perhatianmu, Yang Mulia?" Goda Davira.
Dan tentunya pernyataan Davira ini sedikit berefek baik untuk Liam mau pun Idette.
"Yah, kau terlihat lebih cantik, seperti seorang gadis," Ucap Liam yang membuat Idette dan Davira terkejut bukan main.
Bukan pula tanpa alasan kenapa Idette dan Davira terkejut mendengar penyataan Liam, lantaran setelah menikah dan berjuang kerasa bersama selama ini, malam inilah pertama kalinya Liam memuji Davira secara langsung.
"Apakah ini trik barunya untuk mencari perhatianku? Haha, tidak buruk juga!" Pikir Liam dengan seutas senyum diujung bibirnya.
Namun, berbeda dengan pikiran Liam, Idette naik darah melihat Davira dipuji begitu oleh sang Raja.
Padahal, Idette lebih dulu hadir disini dari pada Davira. Namun sejak tadi, ia tidak dapat pujian apa pun dari Liam yang menyatakan lebih mencintai dirinya dari pada Davira.
"Davira sialan!! Kini mata Raja malah tertuju padanya!" Celetuk batin Idette penuh kesal.
Sungguh ia tidak terima sikap suka Liam pada Davira meski itu secuil debu. Namun, berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh mereka berdua.
Davira sendiri merasa merinding mendengar pujian dari musuh bebuyutan yang ingin segera ditebasnya ini.
"Haha, Yang Mulia bisa saja! Aku hanya penasaran akan gaun yang di populerkan oleh Nona muda dari keluarga Osmond, beberapa hari lalu!" Ucap Davira yang menyentak kesadaran Idette.
Tak pernah terpikirkan oleh Idette bahwa Davira akan tertarik pada gaun yang sempat dihina olehnya karna di populerkan oleh musuh bebuyutannya di pergaulan sosial.
"Aku tidak menyangka, gaun dengan potongan rendah ini akan cocok untukku!" Lanjut Davira yang menyadari bahwa kini Idette terpancing dan memperlihatkan raut wajah kesal.
Namun, yang lebih mengejutkan lagi, kini batin Davira sedang meronta-ronta lantaran melihat raut wajah yang tak biasa dari Liam sendiri.
"Hmm, sekarang kau tau betapa cantiknya aku bukan!" Ujar batin Davira lantaran Liam tidak bisa mengalihkan pandangan takjubnya.
"A–Apa maksudmu, Yang Mulia Ratu?" Potong Idette pada perkataan Sang Raja.
Tentunya pernyataan Idette ini menyentak kesadaran Liam, bahwa dirinya kini malah teralihkan pada wanita yang sangat di bencinya seperti parasit yang menggerogoti hidupnya.
Namun, dibenak Davira saat ini malah terfokuskan pada hal lain. Yaitu, pada kenyataan bahwa di Negeri ini, satu-satunya orang yang bisa memotong perkataan Raja adalah Idette, bukan Sang Ratu yaitu, Davira sendiri.
"Kau terlihat cantik dan cocok dengan pakaian itu, benarkan Yang Mulia?" Lanjutnya lagi sembari menyeret Sang Raja untuk memperlihatkan kepeduliannya.
"Benar sayang!" Jawab spontan Sang Raja yang setuju akan perkataan Idette itu.
Namun, pernyataan Sang Raja malah membuat Idette semakin kesal. Kemudian, Idette pun mencari cara untuk mempermalukan Davira yang baru saja dipuji nan dilirik oleh Liam.
"Izinkan aku menuangkan minuman kepadamu dan Ratu, sebagai rasa hormatku yang mulia!" Seru Idette berdiri sembari tersenyum dengan trik kecilnya.
Namun, berbeda dengan harapan Idette. Davira kali ini justru ingin membuat Liam semakin membencinya dengan berbagai sudut pandang.
"Lakukan saja!" Ujar Liam yang tidak mengetahui maksud terselubung Idette.
Kemudian Idette langsung menuangkan minuman ke dua gelas yang ada di sampingnya.
"Silahkan dinikmati, Yang Mulia," Ucap Idette memberikan gelas kaca yang berisi minuman ke Liam.
Tak lupa pula Idette mengelus lembut punggung tangan Liam tuk menggodanya, sembari melempar senyuman malu-malu kucing.
Tentunya, melihat tingkah Idette ini membuat Davira mual yang dikira cemburu oleh Idette lantaran ekspresi wajah Davira yang terlihat tak baik itu.
"Ini untukmu, Ratu!" Ucap Idette sembari memberikan gelas yang telah berisi minuman kepada Davira dengan tatapan penuh kemenangan.
Tapi, sebelum Davira sempat mengambil minuman itu dari tangan Idette gelasnya malah jatuh. Tentunya Davira tau inilah trik yang sedang dimainkan oleh Idette.
"Aghhh, Yang Mulia! Ma-maafkan aku, hiks.." Ucap Idette sembari menangis, membuat Davira keheranan.
"Pikirnya, tidak ada hujan, tidak ada angin. Kok, malah nangis?"
Tentunya ini juga merupakan trik licik dari Idette yang berharap Sang Raja akan memarahi Davira. Dan tentu saja, si bodoh yang telah di butakan oleh rasa cintanya itu terkejut dan berdiri.
"Ratu, apa maksudmu dengan sengaja menjatuhkan minuman itu di tanganku, hiks.." Ujar Idette dengan raut wajah terkejut dan memelas sedih.
"Ratu, kau benar-benar kelewatan! Apakah ini caramu berterimakasih pada orang yang menuangkan minuman, untukmu?!" Bentak Liam tanpa peduli siapa yang salah disini.
"Dengan tindakan kejammu ini, semakin membuatku membencimu, Ratu!!" Tambahnya lagi.
Namun, pernyataan Liam dan akting buruk Idette, sunguh membuat Davira ingin tertawa. Pikirnya, betapa konyolnya pertunjukan yang sedang dimainkan oleh jalang dan anjing ini.
"Ah, ma-maafkan aku Idette. Aku benar-benar tidak sengaja!" Ucapnya lirih.
Namun, entah kenapa, baik itu Liam maupun Idette merasa ada yang aneh pada sikap mengalah dan bersalahnya Davira ini. Bukankah jika Davira yang selama ini mereka kenal, tak mau mengalah dengan begitu mudah.
Mereka juga tidak bisa menjelaskan akan sikap yang tak biasa, yang mereka sendiri tidak menyadarinya dengan benar apa itu.
"Dan Yang Mulia! Sekarang aku sadar, aku tidak mau membuatmu marah lagi!" ucap Davira tiba-tiba.
"Seperti yang kau katakan Idette, aku tidak boleh terlalu egois dengan mengabaikan perasaan Yang Mulia!" Tambahnya yang semakin membuat Idette dan Liam penasaran.
"Setelah aku merenungkannya, aku setuju atas pernikahan kalian berdua!"
"Apa??" Pekik histeris antara Liam dan Idette serempak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!