Indonesia
NovelToon NovelToon

Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Chapter 1: Rumah Tangga Azka dan Visha

Secangkir kopi hangat diletakkan dengan hati-hati di atas meja kaca. Uapnya terlihat mengepul pelan, menyatu dengan aroma udara yang masih penuh hawa mengantuk. Meskipun begitu, Visha melangkah menuju dapur, tangannya dengan cekatan memecahkan telur, mengaduk bersama irisan bawang, tak lupa sedikit garam.

Suara mendesis dari wajan menyambut, seakan tahu bahwa aktivitas ini sudah sering dilakukan oleh Visha sebagai seorang istri.

Meracik sarapan sederhana, membuatkan kopi, mengawali hari dengan perhatian yang terasa hangat. Sebuah bentuk kasih sayang meski tak pernah diminta, tapi selalu ia berikan untuk laki-laki yang kini masih berada di dalam kamar mandi.

Sudah hampir tiga tahun Visha melakukannya. Sejak ia menikah dengan Azka, pegawai kontraktor yang pindah tugas ke kota kecil di daerah, mengharuskan mereka pindah dari ibu kota.

Walaupun awalnya sulit melakukan penyesuaian, kehidupan Azka dan Visha cukup berbahagia karena mereka saling mencintai satu sama lain.

“Azka, cepat mandinya! Nanti terlambat lho. Kamu ini kebiasaan sekali kalau mandi, selalu lama,” teriak Visha dari balik pintu sambil memeriksa kelengkapan pakaian kerja suaminya.

Beberapa menit berlalu, suara pintu kamar mandi terbuka pelan. Azka muncul dengan langkah tergesa. Tubuhnya hanya dibalut handuk abu-abu melingkar di pinggang, sementara tetes-tetes air masih menuruni ujung rambut yang basah.

Pandangan mata langsung tertuju pada sosok Visha di sisi ranjang dengan tubuh membungkuk sedikit, merapikan seragam kerja yang tadi ia masih letakkan sembarangan. Gerak-geriknya tenang, seperti tak terusik oleh kemunculan Azka, tapi kehadirannya membuat udara di kamar terasa sedikit lebih padat.

“Visha, kamu lupa ya? Hari ini kan jum’at. Harusnya aku pakai kemeja batik,” ucap Azka sambil melepaskan handuk lalu mengusap rambut.

“Astaga, aku lupa. Sebentar ya,” jawab Visha terlihat sedikit panik.

Ia berjalan menuju lemari, membuka pintu yang berderit pelan, lalu menggeser sejumlah gantungan pakaian dengan ujung jarinya. Setelah beberapa detik menimbang, ia menarik keluar dua kemeja batik, masing-masing dengan motif dan warna berbeda. Tangannya terhenti sejenak, memikirkan sesuatu, seperti sedang memilih bukan sekadar pakaian, tapi kesan yang ingin ditinggalkan hari ini.

“Kamu mau pakai warna biru atau coklat?,” ujarnya setelah tidak bisa memutuskan sendiri.

“Yang mana saja lah,” sahut Azka sembari mengenakan celana panjang hitam yang sudah disiapkan Visha tadi.

Visha melihat ke arah dua kemeja batik itu, berpikir sebelum memilih, “Coklat deh,” pilihnya.

Menunggu Azka mengenakan kaos dalam, Visha lalu memberikan kemeja batik terpilih itu. Setelah Azka memakainya, Visha membantu mengancingkan kancing kemeja dengan setengah tergesa.

“Oh ya, untuk besok, kamu sudah tentukan tempatnya dimana? Kita harus segera booking lho, takut full karena weekend,” tanya Azka membahas tentang perayaan anniversary pernikahan mereka yang ketiga.

Mendadak sikap Visha berubah menjadi manja menggemaskan.

“Iya nih, aku masih bingung. Menurut kamu lebih bagus di Cemara Resto atau Dharmawangsa Dining ya?” tanyanya sambil merapikan kemeja yang sudah terkancing semua.

“Dharmawangsa Dining boleh tuh. Kalau Cemara Resto sepertinya agak kurang deh,” jawab Azka.

Visha terlihat berpikir sejenak.

“Ya sudah kalau gitu, di sana saja,” ucap Visha singkat.

***

Di dalam sebuah ruang rapat, sejumlah pegawai berkumpul. Perhatian mereka tertuju pada layar besar yang ada di depan. Seorang pria berkemeja batik coklat terlihat sedang memberi penjelasan. Ia adalah Azka yang sedang memimpin rapat.

Azka bekerja sebagai project manager di sebuah perusahaan kontraktor. Tugasnya melakukan penetapan kebijakan, aturan, pengawasan dan evaluasi terhadap progres dari setiap proyek yang dijalankan oleh perusahaan.

Begitu rapat dinyatakan usai, Azka segera bangkit dari kursi. Tanpa banyak bicara, ia melangkah cepat keluar ruangan, seakan oksigen di dalam sana terlalu berat untuk ditinggali barang sedetik lebih lama.

“Azka, tunggu,” sahut Noval, teman dekat sekaligus asistennya di kantor.

Mereka kini jalan beriringan di sebuah koridor. Noval membahas tentang ketegasan Azka yang memberikan evaluasi cukup keras ke divisi quality control.

“Tega ya kamu, pak. Kejam sekali, haha,” ucap Noval sambil menepuk bahunya.

“Saya hanya jalankan tanggung jawab, saya juga sudah memberikan kesempatan beberapa kali, tapi mereka seperti menyepelekan,” respon Azka.

Langkahnya terhenti, lalu berkata, “Jangan salahkan kalau saya ambil tindakan tegas”.

Noval memberi dukungan, “Iya, iya. Kamu benar pak”.

Untuk mengalihkan arah pembicaraan mulai terasa canggung, Noval mengganti topik lain. Ia menyinggung terkait olahraga futsal, kegiatan rutin yang biasa mereka lakukan setiap hari sabtu sore.

Matanya sedikit berbinar saat bercerita, seolah kenangan akan tawa, peluh, dan sorak di lapangan itu lebih menyenangkan untuk dibicarakan daripada apapun.

“Besok kamu jadinya beneran tidak bisa ikut futsal ya pak?” kata Noval.

“Iya, kan saya sudah bilang ke kamu. Saya besok mau rayakan ulang tahun pernikahan,” ungkap Azka.

Kini mereka sudah berada di depan ruangannya.

“Ya sudah, saya masuk dulu. Kamu segera selesaikan laporan hasil rapat tadi, biar saya juga bisa teruskan ke direksi,” lanjut Azka membuka pintu, lalu masuk ke dalam.

Noval bersiaga seperti tentara, “Siap pak, laksanakan!,” ucapnya sambil memberi hormat.

***

Malam Minggu turun dengan gemerlap lampu rumah yang memantul di kaca jendela.

Visha berdiri di depan cermin, memandang dirinya mengenakan gaun membalut tubuh dengan sempurna, anggun, lembut, dan mempesona. Riasan di wajah bukan sekadar polesan, melainkan sentuhan seni yang menghadirkan kesan elegan tanpa berlebihan. Setiap garis dan warna berpadu dengan harmoni memikat.

Tak jauh darinya, Azka sedang merapikan kemeja putih, dilapisi jas biru gelap membuat sosoknya tampak semakin tegap. Sekilas ia menoleh ke arah Visha, tanpa sadar tersenyum, sebuah kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan.

Mereka saling bertatapan sejenak. Tak ada kata, hanya sorot mata saling mengakui. Malam ini, mereka tampak seperti sepasang cerita yang ditulis dengan penuh kehati-hatian.

“Kamu cantik sekali malam ini,” ucap Azka kepada istrinya.

Menanggapi pujian itu, Visha juga membalas, “Makasih ya, kamu juga terlihat sangat tampan, membuat aku semakin jatuh cinta,” kata Visha setengah malu-malu.

Azka melangkah pelan mendekatinya, sorot mata tak lepas dari wajah Visha yang masih dibingkai senyum. Tanpa banyak kata, ia mengangkat tangan, menyentuh lembut sisi wajah perempuan itu.

Dalam jeda yang singkat namun penuh makna, ia menunduk dan menyentuhkan bibirnya yang kemudian terasa hangat, tenang, dan penuh rasa. Sebuah ciuman tak buru-buru, seperti waktu pun sengaja melambat untuk memberi ruang pada momen itu hidup lebih lama.

“Ayo, kita berangkat sekarang,” tutup Azka.

Mereka berdua keluar dari kamar sambil bergandengan tangan.

***

Mobil yang dikendarai oleh Azka telah masuk ke halaman Dharmawangsa Dining. Salah satu restoran lokal yang cukup terkenal di sana. Tempat para pejabat, petinggi dan orang-orang kaya mengadakan pertemuan, perayaan atau hanya sekedar makan malam.

Begitu kendaraan berhenti di depan lobi yang diterangi cahaya temaram, Azka segera membuka pintu dan melangkah keluar. Suasana malam menyambut dengan kelembutan khas kota kecil yang belum sepenuhnya tidur.

Tak lama, Visha pun menyusul, menurunkan kaki perlahan dari mobil. Gaun bergerak anggun mengikuti setiap langkah. Di samping, Azka mengulurkan tangan, dan tanpa ragu Visha meraihnya. Bersama-sama, mereka berjalan memasuki restoran, seakan malam itu telah bersiap menjadi latar dari kisah mereka yang sedang berlanjut.

“Terima kasih ya,” kata Azka kepada seorang petugas valet.

Ketika mereka berdua beranjak masuk ke dalam restoran. Seorang hostess cantik membukakan pintu lalu menyambut mereka untuk dilayani.

“Maaf kak, bisa dibantu apakah sebelumnya sudah reservasi?” tanyanya dengan lembut.

Azka menoleh ka arah Visha yang memang dari awal mengurusi soal bookingan di restoran tersebut.

“Sudah, reservasi atas nama Visha Aurelia,” jawab Visha.

“Baik, tunggu ya kak. Silakan masuk dulu, biar saya tanyakan ke resepsionis sebentar,” ujarnya lagi sambil mengarahkan tangan mempersilahkan masuk.

Visha menoleh ke sekeliling, menyapu perlahan setiap sudut ruangan. Interior restoran begitu mewah, membuatnya terdiam sejenak dalam kekaguman.

Dinding-dinding berlapis marmer, ornamen elegan yang menghias langit-langit, dan sentuhan warna emas memantul indah dari cahaya lampu kristal. Semua menciptakan suasana megah, seolah ia tengah melangkah ke dalam dunia lain.

Kilau keemasan bukan hanya memantul di ruangan, tapi juga dalam sorot mata, membuat senyum kecil muncul tanpa sadar di wajahnya.

“Kamu suka tempat ini?,” kata Azka melihat istrinya berbinar.

“Iya, sangat suka. Kenapa tidak dari dulu ya kita kesini,” ujar Visha.

Memotong pembicaraan mereka, hostess tadi kembali datang.

“Mari kak, saya bantu antar,” ajaknya.

Mereka mengikuti arahan hostess tersebut hingga tiba ke sebuah meja marmer dengan dua kursi di setiap sisi. Pada bagian tengah sudah menyala lilin-lilin panjang dan besar, membuat suasana menjadi terasa sangat romantis.

Azka kemudian mendekat ke salah satu kursi, memundurkannya ke belakang, mempersilahkan Visha untuk duduk. Setelah itu, ia juga duduk di sisi seberang.

“Silakan kak, ini menunya. Apakah mau langsung pesan atau mau lihat-lihat dulu?,” tanya si hostess.

Lagi-lagi Azka melirik ke arah Visha yang lebih paham soal pesan makanan dan minuman.

“Langsung saja,” jawab Visha cepat.

“Baik kak, boleh saya catat pesanannya,” respon hostess sambil mengeluarkan sebuah tab.

***

Azka dan Visha melangkah masuk ke dalam rumah, diiringi cahaya lampu teras menyambut hangat. Pintu tertutup perlahan di belakang, mengurung keheningan malam tenang bersama mereka.

Di wajah keduanya masih terlukis senyum bukan sekadar basa-basi, melainkan pantulan dari kebahagiaan yang sulit disembunyikan. Perayaan anniversary mereka berjalan nyaris sempurna, seperti harapkan. Tak ada kejutan besar, tapi justru dalam kesederhanaan itulah keduanya merasa utuh.

Langkah mereka pelan, seperti tak ingin waktu cepat berlalu. Di antara tawa kecil dan sisa aroma parfum yang belum pudar, mereka tahu momen ini akan dikenang.

Masih berada di ruang tamu, Visha tiba-tiba menarik tangan Azka.

“Makasih ya. Ini menjadi malam terindah untuk aku,” ucapnya dilanjutkan dengan mencium bibir Azka.

Namun di tengah keheningan mesra, Azka mendadak teringat sesuatu. Sebuah janji kecil sempat tenggelam dalam riuhnya perayaan malam itu.

Ia menghela nafas pelan, menoleh sejenak ke arah Visha, lalu merogoh saku jasnya. Ingatan kembali jelas bahwa ia telah berjanji pada kedua orangtuanya untuk menelepon setelah makan malam. Bukan permintaan besar, hanya bentuk perhatian sederhana dari rumah yang tak pernah benar-benar jauh, meski jarak memisahkan.

“Ya ampun, aku hampir saja lupa. Sebentar, kita telepon mereka ya,” ujarnya kini sudah memegang handphone di tangan.

Azka menatap Visha sejenak, lalu dengan nada lembut mengisyaratkan, “Kita duduk di sana dulu deh.”

Ia mengarahkan istrinya ke sofa di ruang tengah, tempat yang selalu menjadi ruang nyaman mereka berbagi cerita.

Namun baru saja Visha menurunkan tubuh ke dudukan empuk, sesuatu di wajahnya berubah. Tatapan hangat meredup, berganti dengan sorot mata dingin dan penuh tanya. Sudut bibir yang tadi tersenyum perlahan menghilang, berganti raut menunjukkan keraguan.

Azka menangkap perubahan itu. Seketika, atmosfer di antara mereka ikut bergeser, seakan keselarasan semula tenang kini menyimpan sesuatu yang tak terucap.

“Maaf aku baru telepon, aku baru pulang nih, sama Visha,” kata Azka mengawali obrolan video call bersama orangtuanya.

Azka mengarahkan kamera ke arah Visha.

“Halo, Pa, Ma,” sapa Visha sambil memberikan senyum palsu.

“Hai, selamat ya untuk ulang tahun pernikahan kalian,” ucap orangtua Azka kompak memberikan selamat.

Benar saja, hal yang ditakutkan Visha akhirnya terjadi.

“Jadi gimana, Azka? Kamu sudah lakukan yang mama bilang? Kata temen mama mujarab lho, sudah banyak bukti berhasilnya,” tanya Mama.

Suasana mulai berubah drastis. Tak ada lagi tawa kecil, bahkan kata-kata pun menjadi takut untuk melangkah keluar dari bibir.

Azka menyadari. Ia bisa merasakan situasi menjadi lebih kaku, seperti dinding perlahan menjauhkan mereka satu sama lain. Dengan nada dibuat ringan dan senyum sedikit dipaksakan, ia mencoba mencairkan suasana.

“Iya ma, sudah kok, mudah-mudahan bisa segera ya,” jawab Azka yang sebenarnya berbohong.

“Aamiin ya Allah, Aamiin ya rabbal alamin. Mama selalu bantu doa untuk kalian supaya bisa segera dapat momongan,” ujar Mama.

Tidak mau kalah, Papa juga ikut mendoakan.

“Papa juga doakan kalian. Papa benar-benar sudah tidak sabar ingin menggendong cucu,” ungkap Papa.

Usai video call berakhir, layar handphone menghitam, begitu pula sorot mata Visha. Senyumnya menghilang, digantikan rasa sendu berat tak tersampaikan. Azka meletakkan handphone di meja, pelan tanpa suara, lalu menyandarkan tubuh ke sandaran sofa melihat Visha yang kini melamun dengan tatapan kosong.

Suasana tadi yang dipenuhi tawa dan obrolan hangat kini terasa sunyi. Kebahagiaan yang sempat menyelimuti hati selama perayaan, seakan menguap begitu saja, terbawa oleh satu kalimat sederhana dari seberang layar.

Tiga tahun pernikahan, mereka masih berdua. Tak ada suara tangis bayi ataupun langkah kecil merangkak berjalan di lorong rumah. Visha mencoba tersenyum, tapi terasa lelah. Di balik matanya, ada keresahan belum terjawab. Semakin ia mencoba menepis, makin jelas luka itu menampakkan diri.

Azka berusaha untuk menghibur istrinya.

“Kamu tidak perlu sedih, percaya saja jika Allah punya rencana. Ini pasti yang terbaik untuk kita,” ujarnya sambil mengusap kepala Visha.

“Iya tapi mau sampai kapan?” tanya Visha.

Diam sebentar, Azka coba mengarahkan obrolan dengan candaan.

“Daripada kamu seperti ini, bagaimana kalau kita ikhtiar malam ini?” kata Azka menggoda.

Sempat tidak paham, Visha langsung merespon dengan geli setelah menyadari maksud suaminya. “Ah kamu ini,” kata Visha sambil memukul pelan dan tersenyum malu.

Chapter 2: Azka Mengalami Konfabulasi

Beberapa hari setelah perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang hangat, rutinitas kembali mengambil alih hidup Azka. Tak ada lagi cahaya lilin di atas meja makan atau denting gelas bersulang dalam kemeriahan. Sekarang saatnya ia kembali dengan berkas-berkas, surat menyurat dan terkadang aroma debu di lapangan.

Pagi itu, matahari belum tinggi saat Azka tiba di lokasi proyek pembangunan mess milik PT. KCI. Ia mengenakan rompi keselamatan dan helm putih, langkahnya mantap menyusuri area yang masih dipenuhi tumpukan material dan rangka besi belum sempurna.

Sebagai kepala proyek, ia tak sekadar memeriksa laporan tapi juga menelusuri detail dengan ketelitian sangat detail.

Setelah selesai melakukan peninjauan menyeluruh di area pembangunan mess, Azka bersama beberapa anggota tim berjalan menuruni tangga beton yang masih kasar, dikelilingi suara benturan besi dan gema langkah kaki.

Langit siang mendung dengan pikiran mulai melayang, bukan pada laporan proyek, tapi pada hal lain. Langkahnya menjadi goyah.

Hanya sedetik kehilangan fokus, sepatu kerjanya terpeleset di permukaan licin tak ia perhatikan. Azka terhuyung dan sebelum sempat ada yang meraih, ia jatuh menghantam anak tangga, lalu terguling hingga ke lantai dasar.

Tubuhnya terdiam, tak bergerak. Helm pengaman yang ia kenakan sedikit miring, namun benturan itu tetap cukup keras menghantam bagian belakang kepalanya.

Beberapa orang berteriak panik. Tapi Azka tak mendengar apa-apa. Pandangan gelap, kesadaran menghilang. Ia pingsan, tertelan senyap yang datang tiba-tiba.

***

Di dalam ruangan rumah sakit diselimuti aroma antiseptik dan suara mesin pemantau yang berdetak pelan, tubuh Azka terbaring lemah di atas ranjang. Kepala dililit perban tebal, menyembunyikan luka belum pulih, menyisakan wajah pucat nyaris tak bergerak.

Lampu putih di langit-langit memantulkan cahaya dingin ke kulit, kontras dengan tangan Visha yang terasa hangat menggenggam tangan suaminya erat-erat. Ia duduk di sisi ranjang, membungkuk bertumpu pada ranjang pasien, sementara air mata jatuh tanpa suara membasahi pipi.

Tak banyak kata ia ucapkan, hanya tatapan penuh cinta memohon agar Azka terbangun. Sesekali ia mengusap tangan itu dengan ibu jari, berharap dengan sentuhan lembut, ia bisa memanggil pulang jiwa yang mungkin tengah mengembara entah ke mana.

“Azka, bangunlah,” ucapnya lirih.

Dokter menyatakan bahwa Azka sekarang sedang mengalami koma. Meskipun masa kritis sudah lewat, tapi dokter tidak bisa menjanjikan kapan Azka bisa sadar.

“Untuk sementara, kita hanya bisa menunggu,” kata Dokter menutup penjelasan.

Setelah diberitahu terkait kabar kecelakaan, orangtua Azka juga datang. Mereka memberikan dukungan untuk Visha agar kuat menghadapi musibah ini.

Orang-orang dari perusahaan tempatnya bekerja, mulai dari atasan, rekan satu divisi hingga bawahan sempat datang menjenguk.

Tiga minggu telah berlalu, namun Azka masih terbaring diam, tertutup dalam dunia sunyi tak bisa dijangkau siapapun. Mesin-mesin di sekitar terus berdetak dengan irama monoton, satu-satunya tanda bahwa ia masih hidup bertahan di tubuh itu.

Di sisi ranjang, Visha tak pernah benar-benar pergi. Wajahnya tampak pucat, tubuh jauh lebih kurus dari biasa. Lingkaran gelap di bawah mata menjadi saksi malam-malam panjang tanpa tidur, hari-hari dilewati dengan makanan yang hanya disentuh sekadarnya.

Namun meski lelah menggerogoti fisik dan mental, ia tetap bertahan, menggenggam tangan Azka dengan keyakinan telah mengirim kekuatan yang tak bisa diucapkan.

Saat ini, orangtua Azka tidak lagi ada karena mereka pergi umroh yang kebetulan memang telah dijadwalkan sejak lama. Mereka memutuskan tetap pergi karena juga berniat untuk mendoakan kesembuhan Azka dari sana.

Visha sendirian tanpa ditemani siapapun, baik itu keluarga, saudara ataupun orangtuanya karena hubungan mereka tidak begitu baik. Visha merupakan anak broken home. Orangtuanya berpisah sejak ia masih kecil. Visha kemudian dibesarkan oleh neneknya yang kini telah wafat.

Sekarang Visha hanya bisa berbincang dengan Azka meski tidak pernah merespon. Namun, hal itu terus dilakukan oleh Visha karena dokter menyarankan agar Azka sering diajak berbicara supaya mendapat rangsangan.

***

Setelah memasuki minggu ke empat Azka mengalami koma. Di dalam ruangan yang sunyi, suara mesin monitor berdetak pelan. Azka masih terbaring di ranjang rumah sakit.

Tapi kemudian, matanya perlahan terbuka.

Cahaya putih menyilaukan pandangan. Nafasnya berat, ia bingung, masih belum mengetahui tentang apa yang telah terjadi. Ia mencoba menggerakkan tangan. Terasa sulit meski ia berusaha dengan sekuat tenaga.

Tepat di sebelahnya, Visha juga baru terbangun dari tidur karena merasakan gerakan Azka. Ia terlihat sangat lelah, tapi langsung berdiri saat melihat Azka sadar. Air mata menetes dengan begitu deras. Ia memegang pipi Azka, membelai penuh kasih sayang.

“Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Azka. Tunggu sebentar ya,” ucap Visha lembut.

Dengan langkah tergesa, ia keluar dari ruang perawatan. Suara sepatu menyentuh lantai koridor memantul di antara dinding putih rumah sakit. Pandangan segera melihat ke arah kanan dan kiri, mencari sosok berseragam putih, perawat, dokter, siapapun yang bisa memberi bantuan medis.

Dengan nafas memburu, ditambah rasa sesak di dada oleh kegelisahan yang tiba-tiba muncul. Tapi juga meyakini ada sesuatu hal baik datang, ia bisa merasakannya.

“Suster, suami saya sudah sadar,” ucapnya kepada seorang suster yang kebetulan lewat.

Ia kemudian masuk ke dalam ruangan. Suster itu memeriksa kondisi Azka sebentar, lalu pergi lagi.

“Sebentar ya, saya panggil dokter dulu,” jelasnya.

“Iya, Sus,” jawab Visha singkat.

Ia kembali mendekat ke Azka. Ia merasa sangat bersyukur karena suaminya telah sadar. Visha duduk di dekatnya, kembali mengelus rambut di atas kuping Azka.

Tapi sebuah pertanyaan singkat dari Azka membuat Visha merasa seakan dunia bergetar keras.

“Kamu siapa ya?” tanyanya pelan dengan suara serak.

Mendengar ucapan itu, jantung Visha seperti berhenti berdetak. Ia menatap Azka dengan pandangan aneh. Wajah Azka polos tidak mengetahui apa yang dirasakan oleh Visha.

Namun satu hal, Visha menyadari bahwa Azka melihatnya seperti orang asing.

Tak berapa lama, dokter segera datang sehingga situasi canggung tadi berlangsung singkat. Dokter langsung memeriksa keadaan Azka.

Visha belum memberitahu dokter tentang kondisi Azka yang tidak mengenalinya. Ia masih merasa shock dengan kenyataan ini.

Namun, pertanyaan Azka selanjutnya semakin membuat Visha tersentak.

“Dok, istri saya dimana ya?” tanyanya pelan.

Tentu saja dokter dan suster yang berada di situ langsung menatap ke arah Visha. Mereka mulai mencurigai bahwa ada kejanggalan dengan kondisi Azka.

“Bukankah ini istri bapak?” sambil mengarahkan tangan ke Visha.

“Bapak sangat beruntung lho, punya istri baik sekali. Hampir sebulan, dia tidak pernah meninggalkan bapak,” sambungnya.

Azka melihat ke arah Visha. Ia mencoba mengenali wajah Visha, tapi ia tidak bisa mengingat.

“Tapi dia bukan istri saya, dok,” jawab Azka lagi.

Tak mampu lagi membendung gejolak di dada, Visha akhirnya runtuh. Air mata yang selama ini ia tahan dengan sekuat hati kini mengalir deras, pecah dalam isakan tak tertahan.

Tubuhnya bergetar pelan, bahu naik turun seiring dengan tangis yang menyeruak keluar, begitu dalam, terasa patah. Suara tersedu, lirih, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menggetarkan ruang perawatan.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan, seperti ingin menyembunyikan kesedihan terlalu lama dipendam. Tapi malam itu, di tengah suasana ruangan rumah sakit yang dingin, Visha tak bisa lagi berpura-pura kuat.

“Dok, suami saya kenapa?” ucapnya setelah berhasil mengendalikan diri.

“Sebentar ya bu, saya coba periksa lagi,” ungkap dokter dengan nada menenangkan.

Dokter kemudian memberikan sejumlah pertanyaan sederhana mengenai Azka. Tapi ternyata Azka berhasil menjawabnya dengan tepat dan mudah.

Dapat disimpulkan kalau Azka tidak mengalami amnesia atau hilang ingatan. Dokter kembali berusaha untuk mencari jawaban.

“Lalu, siapakah wanita yang ada di samping saya ini. Apakah bapak mengenalnya?,” tanya Dokter menunjuk Visha.

“Tidak, saya tidak kenal dia,” kata Azka singkat.

Visha menatap wajah pucat itu dengan mata yang basah, hatinya mencengkeram harapan yang makin lama, terasa rapuh.

Dadanya masih sesak, ketika kata-kata tertahan tak sanggup lagi dibungkam, ia pun bersuara pecah dengan berlinang air mata.

“Azka, ini aku Visha. Istri kamu. Masa kamu lupa?,” ujar Visha sambil menangis.

Ia mendekat, menggenggam tangan suaminya yang masih diam tak banyak bergerak. Jemari gemetar, seakan ingin menyampaikan seluruh rindu dan duka lewat sentuhan itu.

Tapi kemudian Azka mengerutkan dahi. Menutup matanya dengan keras.

“Aduh, kepala saya sakit, Dok. Aduh.. sakit,” keluh Azka.

Dokter segera memerintahkan suster untuk mengambil tindakan yang diperlukan.

***

Hari telah berganti, waktu berjalan perlahan seiring cahaya matahari menyusup malu-malu di balik tirai jendela rumah sakit.

Di dalam ruangan, keheningan tak lagi mencekam, tapi masih menyisakan jeda sunyi, seperti seseorang yang baru saja terbangun dari mimpi panjang dan tidak tahu dimana istrinya.

Azka duduk bersandar di ranjang, mata menatap kosong ke depan sementara pikiran masih berusaha menyusun potongan-potongan memori yang hilang. Beberapa jam terakhir dipenuhi penjelasan dari dokter, perawat serta perempuan bernama Visha, mengaku sebagai istrinya.

Ia tidak mengingat apapun tentang Visha. Meskipun saat ia menggenggam tangan dengan berlinang air mata. Tapi semua bukti yang ditunjukkan padanya terlalu rinci untuk diabaikan. Mulai dari foto-foto, dokumen, bahkan cara Visha menyebut namanya dengan getar khas, entah mengapa terdengar akrab.

“Maaf karena saya tidak bisa mengingat. Tapi saya akan coba untuk menerima, beri saya waktu,” ungkap Azka.

Maka meski hati masih terasa asing terhadap kisah hidup yang diceritakan padanya, Azka hanya bisa mengangguk pelan, berusaha mencerna. Bukan karena ia percaya sepenuhnya, tapi karena di antara kepingan yang hilang, ada sesuatu dalam diri Visha, membuatnya ingin ia ketahui lebih dalam.

Untuk saat ini, Azka harus belajar berjalan karena fungsi saraf terganggu akibat kecelakaan. Ia dibantu oleh Visha yang sebenarnya masih tidak mengerti dengan kondisi Azka.

Ia tak mempermasalahkan jika Azka tidak mengingat tentangnya. Hal tersebut masih wajar karena diakibatkan oleh trauma pasca kecelakaan.

Tapi yang membuat tidak habis pikir, Azka menyebut nama Sesilia sebagai istri dalam ingatan barunya.

Dalam hati Visha kini selalu berkecamuk, “Siapa Sesilia?”.

Apalagi setiap kali Visha membahas tentang masa lalu mereka, Azka mengingat dengan begitu jelas, tapi dalam ingatan tersebut, sosok yang bersamanya bukanlah Visha, melainkan Sesilia.

Hingga pada suatu saat, di tengah sesi terapi, Visha memberanikan diri untuk bertanya kepada Azka.

“Azka, menurut kamu, apa mungkin kamu selingkuh?” kata Visha.

Merespon pertanyaan itu, Azka menjawab dengan santai.

“Saya tidak tahu. Saya hanya bisa mengingat, istri saya bernama Sesilia. Dan kalau seingat saya, saya setia padanya,” pungkas Azka.

Menyadari bahwa ia tak mungkin memaksa ingatan yang belum kembali, Visha perlahan menundukkan kepala. Ada rasa menyesakkan di hati, tapi ia tahu, cinta sejati tidak akan tumbuh dari paksaan.

Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan riak kecewa bergemuruh di jiwa. Lalu, dengan sisa ketegaran yang masih digenggam, ia memilih untuk bersabar.

Jika Azka tak bisa mengingat sekarang, ia akan menunggu. Apabila semua harus dimulai dari awal, maka ia siap menjalani dari titik nol. Karena bagi Visha, kehilangan ingatan tak berarti kehilangan cinta, selama hati masih mampu bertahan, ia akan tetap tinggal.

Meski harus mencintai seseorang yang kini memandangnya seperti orang asing.

***

Di dalam sebuah ruangan beraroma lavender. Visha dan Azka duduk mendengarkan penjelasan dokter.

“Jadi hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Bapak Azka mengalami kondisi mirip dengan konfabulasi. Sebuah ingatan palsu yang masuk lewat celah dengan rekayasa lalu diterima oleh otak sebagai kenyataan,” jelasnya.

“Apakah ingatan suami saya bisa normal lagi, dok?” tanya Visha penuh harap.

Dokter menutup dokumen kesehatan milik Azka, lalu menggelengkan kepala.

“Saya tidak bisa jawab, karena belum ada informasi pasti. Jujur saja, selama tiga puluh tahun saya menjadi dokter, ini pertama kali saya menemui pasien dengan kondisi seperti suami ibu,” jawabnya.

Azka hanya diam, tidak tahu harus bertanya apa. Ia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya.

“Lalu apa yang harus kami lakukan, dok?” tanya Visha.

“Teruslah mengenang masa lalu kalian. Mudah-mudahan dengan begitu akan memunculkan rangsangan ingatan Bapak Azka,” jelas dokter.

Visha menerima saran dokter dengan rasa takut akan kepedihan hati mendengar Azka mengenang masa lalu mereka dengan orang lain.

Chapter 3: Mencari Petunjuk soal Sesilia

Setelah rangkaian perawatan dan terapi yang dilakukan. Dokter akhirnya mengizinkan Azka untuk pulang. Meskipun Azka belum sepenuhnya pulih, dokter menjelaskan bahwa mungkin kondisi Azka bisa lebih cepat membaik jika berada di rumah. Terutama untuk kondisi ingatannya.

Setiba di rumah, Visha membantu Azka masuk dengan hati-hati. Ketika berada di dalam, rumah terlihat bersih dan rapi. Ternyata sebelum kepulangan, Visha membersihkan seisi rumah yang sebelumnya tidak terurus karena dibiarkan kosong selama satu bulan.

Azka berdiri di ambang ruang tengah, matanya menyapu perlahan ke setiap sudut rumah terasa sedikit asing namun hangat. Ada sesuatu dalam kesunyian yang membuat langkahnya melambat, seperti tempat ini pernah menjadi bagian penting dari dirinya, tapi kini hanya kenangan samar tertinggal.

Pandangannya tertumbuk pada dinding di sisi kanan. Beberapa bingkai foto berjajar rapi. Ia mendekat, membiarkan mata menelusuri setiap gambar yang tertangkap lensa di masa lalu.

Potret dirinya tersenyum, berdiri di samping seorang perempuan, yaitu Visha. Dalam beberapa foto, mereka tertawa. Dalam foto lain, berpegangan tangan, saling menatap seakan dunia milik berdua.

Azka diam. Tak satupun momen dalam gambar itu bisa ia kenali, namun ada yang aneh. Sesuatu di dalam ingatannya terbesit sekilas. Entah kenangan atau hanya ingatan kosong dari sesuatu yang dulu pernah berarti. Tapi cukup untuk membuat ia terpaku, menatap lebih lama dari yang direncanakan.

“Kamu juga tidak ingat foto ini? Foto pernikahan kita,” tanya Visha menunjuk salah satu bingkai foto yang paling besar terpajang di dinding rumah.

“Aku sebenarnya ingat, tapi,” jawab Azka pelan.

Ia merasa tidak enak dengan Visha jika melanjutkan kalimatnya yang ingin mengucapkan nama Sesilia.

“Azka, coba kamu lihat dengan jelas. Siapa yang ada di foto pernikahan ini? Siapa? Itu aku! Visha Aurelia! Aku, istri kamu!” ucapnya dengan bibir bergetar menahan tangis.

Suasana yang semula hanya dihiasi percakapan ringan, mendadak mengeras seperti angin beku, berubah dingin tanpa peringatan. Kata-kata terakhir diucap menggantung, menggema lebih nyaring dari seharusnya.

Visha tersadar, sorot mata Azka menajam, raut wajahnya juga ikut tegang. Visha tahu, sudah melewati batas.

Ia menutup mata, menarik napas perlahan, mencoba meredam gelombang emosi sempat meluap. Suaranya yang barusan meninggi kini tenggelam dalam penyesalan. Ia menunduk, lalu berkata pelan, nyaris seperti bisikan mengaku salah.

“Maaf, aku tadi tidak bisa menahan diri,” ujarnya lalu kembali menarik nafas panjang.

“Iya, tidak apa-apa,” jawab Azka yang sebenarnya masih takut.

***

Malam harinya. Lampu-lampu rumah menyala dengan sangat terang. Tapi suasana terasa sendu. Meskipun ada dua manusia yang tinggal di dalam, hanya suara detak jam dinding terdengar pelan.

Visha duduk di ruang tengah. Televisi menyala tapi tidak mengeluarkan suara apapun karena volume dimatikan. Ia melamun, tatapan kosong.

Tak berapa lama, Azka keluar dari dalam kamar. Ia kemudian menghampiri istrinya.

“Visha, sementara ini aku tidur di sofa ya. Kamu yang di kamar,” kata Azka.

Memahami maksud suaminya itu, Visha menyetujui.

“Oke,” jawabnya datar.

Visha beranjak dari duduk, masuk ke dalam kamar.

Tapi ternyata Visha kemudian keluar lagi membawa bantal, guling dan selimut.

Ia meletakkannya di atas sofa, merapikan, kini sofa itu terlihat seperti kasur kecil.

Dalam diam, ia kembali masuk ke kamar, mengambil sesuatu lalu keluar lagi menuju dapur, membawa segelas air putih.

Visha memberikan beberapa butir obat.

“Minum dulu obatnya,” kata Visha sambil menyodorkan segelas air.

Dengan perasaan canggung, Azka meminumnya.

“Makasih ya,” ucap Azka.

“Iya, aku masuk dulu,” ujar Visha yang kemudian langsung balik badan menuju kamar.

***

Suara gemericik air dari arah dapur membelah keheningan pagi. Kran menyala, mengalir deras, nyaris seperti air terjun yang menghantam besi pencuci piring.

Azka terbangun dengan dahi berkeringat, tubuhnya sedikit menggeliat dari tempat tidur. Napas memburu, pandangan buram oleh sisa-sisa mimpi yang belum sepenuhnya terlupa. Dalam kekacauan pikiran masih setengah sadar, ia berjalan sempoyongan menuju dapur.

Ketika ia melihat sosok wanita sedang berdiri di dapur, ia refleks menyapanya, “Sesilia?”.

Sontak saja, suara kran air itu berhenti. Visha balik badan dengan wajah cukup kesal.

“Aku Visha, bukan Sesilia,” jawabnya sambil membawa omelet, makanan favorit Azka untuk sarapan.

Dengan gerakan tenang namun sedikit lelah, Visha meletakkan piring berisi omelet hangat di atas meja makan. Asapnya masih mengepul tipis, membawa aroma telur dan rempah yang menggoda selera makan Azka. Sebuah rutinitas sederhana, namun tak pernah kehilangan makna, meski di pagi yang sendu seperti ini.

Setelah itu, tangannya merogoh ke saku celana. Ia mengeluarkan handphone milik Azka, sekilas menatap layar yang menyala. Ada sejumlah pesan masuk dan panggilan tak terjawab.

“Tolong buka ini, aku tahu kode pinnya, tapi aku rasa tidak etis kalau aku buka tanpa sepengetahuan kamu,” ujarnya.

Meraih handphone tersebut, Azka kemudian menekan kode pin untuk membuka kunci handphonenya.

Setelah terbuka, Azka kembali memberikannya kepada Visha.

“Aku izin periksa ya,” ucap Visha.

“Iya,” jawab Azka singkat.

Visha berputar, duduk di ujung sofa.

“Makan dulu omeletnya, mumpung masih hangat. Habis ini aku ambilkan air minum,” ujar Visha.

Menurut, Azka makan omelet itu. Suapan pertama, ia langsung teringat bahwa memang rasanya persis seperti masakan istrinya. Sejenak ia berpikir kalau istrinya adalah benar Visha.

Tapi sayang karena ingatan Azka berkata lain sehingga ia masih belum bisa menerima.

Sedangkan Visha masih sibuk memeriksa handphone milik Azka. Dia mencari petunjuk mengenai wanita bernama Sesilia.

Tapi sayang karena Visha tidak berhasil menemukan petunjuk apapun.

“Gimana? Apakah kamu menemukan sesuatu?,” tanya Azka yang telah menghabiskan omeletnya.

“Belum,” jawab Visha singkat.

***

Dengan nafas berat dan sorot mata yang redup, Visha menyerah. Sudah cukup ia menyusuri jejak demi jejak di dalam handphone itu.

Mulai dari menggeser layar, membuka pesan, menelusuri riwayat panggilan, semua terasa seperti menelusuri lorong semakin gelap dan dingin, tanpa ujung kejelasan. Kalaupun berhasil menemukan sesuatu, ia meyakini bahwa itu hanya akan memperburuk keadaan.

Tak ada petunjuk, hanya tanda tanya yang semakin membuat hatinya lelah.

Dengan pelan, Visha menutup layar handphone dan menggenggamnya sejenak. Lalu, ia berjalan mendekati dan meletakkan kembali gadget itu di meja makan, tempat Azka sedang duduk.

“Tidak ada yang aneh, tapi tetap saja aku merasa ada kejanggalan, entah apa,” ujar Visha lagi, kemudian mengambilkan Azka minum air putih.

Azka mengambil handphone dengan raut wajah datar, nyaris tanpa ekspresi. Namun di balik sikap tenangnya, ada kegelisahan yang perlahan muncul.

Dengan ibu jari sedikit gemetar, ia membuka daftar kontak, matanya melihat cepat deretan nama yang tersimpan rapi. Satu per satu ia telusuri, berharap tidak menemui apapun, namun tetap mencari.

Lalu ia beralih ke riwayat pesan. Layar digulir perlahan, menampilkan potongan percakapan dari masa lalu. Tatapannya menjadi lebih tajam, seakan berharap setiap percakapan bisa menjawab kebingungan.

Tapi sayang karena nama Sesilia tidak juga muncul. Di dalam benaknya, muncul satu pertanyaan meski tak sanggup ia katakan, apa yang sedang ia cari.

“Kalau menurut kamu sendiri. Sesilia itu siapa?” tanya Azka.

“Mana aku tahu, Azka. Justru ini jadi pertanyaan besar untuk kita kan? Kamu harusnya jelaskan itu ke aku. Siapa Sesilia?,” jawab Visha dengan nada kembali meninggi.

Visha berupaya untuk mengendalikan emosinya.

“Mantan? Setahuku, kamu tidak punya nama mantan namanya Sesilia. Cinta monyet mu? Mungkin kamu waktu kecil pernah punya crush, tapi belum kesampaian? Sekarang kamu jadi ingat tentang dia?” lanjutnya.

Seketika, suasana menjadi lebih tegang dari sebelumnya. Kata-kata yang semula mengalir kini tertahan di tenggorokan, tercekat atas sesuatu yang sulit diungkapkan.

Pikiran mulai dipenuhi kemungkinan, tak ingin diketahui, namun terlalu nyata untuk diabaikan. Opsi terburuk perlahan menjelma dalam bentuk pertanyaan tajam, rapuh dan berbahaya.

Dengan suara tertahan dan sorot mata yang mencoba tetap tenang, Azka akhirnya bertanya.

“Menurut kamu, apakah mungkin aku selingkuh?,” tanyanya.

Beranjak dari duduknya, Visha mengaku tidak bisa menjawab.

“Jujur, aku tidak tahu”.

“Sudahlah, kita lanjut lagi nanti. Lebih baik sekarang kamu bangun, aku mau bereskan ini. Kamu tidak mau Papa sama Mama tahu kan kalau kita pisah ranjang. Mereka sudah di jalan menuju ke sini,” ujar Visha.

***

Hanya dalam beberapa menit, Visha berhasil membuat suasana rumah menjadi jauh berbeda.

Sejumlah hidangan telah disiapkan olehnya untuk menyambut orang tua Azka. Kemampuan ini ia dapatkan dari sang nenek yang memang selalu mengajari Visha untuk menjadi perempuan seutuhnya.

Di ruang tengah juga tersaji makanan ringan terutama kacang-kacangan dalam toples. Visha menyediakannya karena tahu orangtua Azka suka ngemil.

Yang ditunggu pun akhirnya tiba.

“Assalamu’alaikum,” teriak Mama Azka begitu masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka.

Azka dan Visha menyambut dengan kompak menjawab salam tersebut.

“Alhamdulillah, kamu sudah sehat, nak,” ucap Mama Azka sambil memeluknya erat-erat.

Lanjut bergantian Papa Azka juga ingin memeluk.

“Iya ma, pa, alhamdulillah. Mama, papa gimana kabarnya? Lancar umrohnya?,” tanya Azka.

“Lancar dong,” jawab Mama Azka yang masih terlihat sumringah.

Mereka kemudian masuk ke dalam rumah.

“Wah, Visha, kamu tahu saja kesukaanku,” ucap Papa Azka ketika melihat kacang dalam toples di ruang tengah.

“Iya pa, tapi makan nasi dulu ya, aku sudah masak untuk kalian,” ujar Visha sambil berjalan ke arah meja makan.

Azka kembali berpikir tentang sikap orang tuanya kepada Visha, begitu juga sebaliknya. Sungguh tidak ada alasan bagi Azka untuk mengingkari kalau Visha adalah istrinya.

Mereka kini sedang menyantap hidangan yang disiapkan oleh Visha.

“Makasih ya Visha, kamu sudah menjaga anak mama dengan baik,” ucap Mama Azka mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada sang menantu.

“Iya ma, kan Azka juga suami aku. Sudah menjadi tanggung jawab aku untuk merawat dia,” jawab Visha.

Kalimat yang diucapkan Visha sekilas terdengar biasa. Tapi mengingat kondisi Azka tidak mengingat Visha, tentu saja bukan hal mudah untuk diucapkan.

Azka pun hanya bisa mengikuti permainan berpura-pura ini agar menjaga perasaan orang tuanya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!