Malam itu, hembusan angin dingin kota Jakarta tak mampu meredam kehangatan dari secangkir teh di meja makan. Namun, kehangatan itu sama sekali tidak menyentuh hati Kirana Aruni. Sejak ayahnya menyunting Nova beberapa tahun lalu, rumah ini terasa kian asing. Pria yang dulu menjadi pelindungnya seolah menjelma menjadi sosok 'ayah tiri' yang dingin lebih sigap merangkul Dona, anak tirinya, ketimbang melihat perjuangan darah dagingnya sendiri.
Hari ini, pengumuman seleksi universitas keluar. Dona dengan bangga memamerkan kelulusannya di salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta, sebuah pencapaian yang dirayakan sang ayah dengan jamuan dan hadiah mahal. Padahal, secara finansial, sang ayah sangat mampu membiayai Aruni untuk berkuliah di Universitas Airlangga (UNAIR), kampus impian yang berhasil ia tembus lewat jalur prestasi. Namun, tanggung jawab itu dilupakannya begitu saja. Sang ayah secara halus melepas tangan, membiarkan Aruni membanting tulang sendirian lewat berbagai pekerjaan paruh waktu.
Aruni tak menangis. Ia sudah terbiasa. Baginya, jalan berliku bukan alasan untuk berhenti melangkah.
Nova berjalan mendekati Aruni dengan wajah yang dipaksakan ramah. Ia meletakkan selembar kertas berisi alamat sebuah hotel megah di kawasan pusat Jakarta.
"Nah Runi, aku mendapatkan informasi pekerjaan ini dari kerabatku loh, jadi jangan pernah kau menyia-nyiakan kesempatan ini!" ujar Nova, menyunggingkan senyum hangat yang menyembunyikan niat terselubung untuk mengusir Aruni dari kehidupan mereka selamanya.
Aruni menerima kertas itu dengan mata berbinar, murni tanpa prasangka.
"Terimakasih Tante, aku pasti akan mengambil pekerjaan ini. Kebetulan aku masih membutuhkan biaya untuk masuk ke Universitas Airlangga," ujar Aruni tulus sambil melemparkan senyum cantiknya. Di dalam hatinya, harapan kembali membumbung tinggi, uang pendaftaran kampus impiannya akan segera terkumpul.
Melihat Aruni berjalan menjauh menuju kamarnya untuk bersiap-siap, Dona segera mendekati ibunya. Ia menyenggol lengan Nova sambil berbisik halus, intonasinya sangat pelan agar tak terdengar oleh ayah mereka yang sedang membaca koran di ruang tamu.
"Mom, si wanita bodoh itu mudah sekali masuk perangkap kita. Mommy sudah atur semua rencana awal kita?" tanya Dona memastikan, matanya berkilat penuh kedengkian.
Nova menatap punggung Aruni yang menghilang di balik pintu, lalu mengukir seringai licik di wajahnya.
"Kau tenang saja sayang, semuanya sudah diatur. Si wanita menyebalkan itu akan secepatnya angkat kaki dari sini," bisik Nova berapi-api. "Mommy sudah atur semuanya dan di sana ada pelayan Desi yang akan memandu si Aruni sialan itu untuk masuk dalam jebakan kita!"
Gadis polos itu sama sekali tidak tahu, bahwa pekerjaan pelayan di hotel megah malam ini bukan sekadar jalan menuju mimpi kuliahnya, melainkan pintu masuk menuju masalah besar yang akan mengubah seluruh garis hidupnya.
Malam puncak itu pun akhirnya tiba.
Di dalam ruang ganti karyawan, Aruni merapikan penampilannya di depan cermin. Ia mengenakan seragam pelayan berupa atasan merah maroon dengan logo hotel terpatri rapi di saku depan, dipadu rok hitam selutut. Rambut panjangnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjang dan paras cantiknya yang alami. Meski tanpa riasan tebal, pesona Aruni memancar begitu kuat, paras yang justru menjadi sumber kedengkian utama bagi Dona.
Bagi Dona, tidak cukup rasanya merebut kasih sayang penuh dari Pak Marwan, ayah kandung Aruni. Rasa dendam Dona makin membara saat tahu kekasihnya sendiri ternyata menyukai Aruni secara diam-diam. Hal itulah yang membuat Dona mantap ingin menyingkirkan Aruni selamanya.
*
*
Setibanya di hotel bintang lima yang megah itu, Aruni disambut hangat oleh Desi, sesama pelayan freelance. Tanpa Aruni sadari, ramahnya senyuman Desi hanyalah topeng dari sosok kaki tangan yang dibayar oleh ibu tirinya.
Dua jam sebelum acara dimulai, Aruni menyerap setiap instruksi dari karyawan senior dengan cepat. Pengalamannya membanting tulang di berbagai pekerjaan paruh waktu membuatnya begitu sigap. Para senior mengangguk puas melihat kinerjanya yang cekatan.
Namun, dari sudut ruangan, Desi menatapnya dengan pandangan dingin.
‘Cih, tersenyumlah mumpung bisa. Sebentar lagi hidupmu akan hancur, Aruni!’ batin Desi berseringai sinis.
Dua jam berlalu begitu cepatnya. Aula utama hotel kini dipenuhi para tamu elit yang menghadiri pesta ulang tahun Tuan Fernando Ganendra, Pendiri sekaligus Direktur Utama Ganendra Group. Akibat kecelakaan tragis tiga tahun lalu, Tuan Fernando harus menghabiskan harinya di atas kursi roda. Di sampingnya, tampak Nyonya Amanda, yakni adik kandungnya yang setia mendampingi, meski di balik kebaikannya tersimpan niat terselubung untuk menguasai aset keluarga.
Tiba-tiba, suasana ruangan menjadi riuh rendah saat sang pewaris utama melangkah masuk. Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group yang baru, hadir didampingi asisten pribadinya, Harry. Wajah Edgar tampak tegas, tampan, namun amat dingin dan tak tersentuh.
Melihat putra tunggalnya yang sudah memasuki usia kepala tiga tapi tak kunjung membawa pasangan, kekesalan Tuan Fernando pun menyulut seketika.
"Hey putraku, kau sampai kapan menyiksaku seperti ini? Kau ingin aku mati tanpa menimang cucu darimu, hah? Dasar bocah sialan... Kau sangat keras kepala, persis seperti mendiang ibumu!" omel Tuan Fernando dengan nada tertahan namun penuh ketegasan.
Edgar hanya menghela nafas tipis. Telinganya sudah kebal mendengarkan omelan sang ayah yang diulang hampir di setiap kesempatan.
Melihat situasi tersebut, Desi bergerak cepat. Di area bar counter, ia menuangkan minuman alkohol berkelas ke dalam gelas-gelas kaca, lalu menata tray yang siap diantar. Ia memanggil Aruni dengan nada manis.
"Nah Runi, nanti kau berikan minuman ini kepada Tuan yang memakai tuxedo hitam itu, tepatnya di samping pria tua yang memakai kursi roda ya!" instruksi Desi.
"Baik, Mbak Desi. Terima kasih," jawab Aruni mengangguk patuh. Ia tak ingin mengecewakan siapa pun di hari pertamanya bekerja.
Dengan nampan di tangan dan langkah yang sedikit dipercepat namun tetap anggun, Aruni mendekati area VIP tempat Edgar dan ayahnya berdiri. Sosok Desi ini memang benar-benar licik,ia pun mengerjakan dua pekerjaan busuk sekaligus atas instruksi dari seseorang yang ingin menjatuhkan Edgar.
"Permisi Tuan, ini minuman untuk Anda," ujar Aruni lembut sembari menyodorkan nampan berisi gelas kaca tersebut.
Sebelum Edgar sempat menyentuh gelasnya, David, paman Edgar sekaligus suami dari Amanda dengan sigap merogoh nampan dan mengambil salah satu gelas. Selama ini David dikenal sebagai sosok paman yang hangat dan penyayang, membuat Edgar tak pernah menyimpan kecurigaan padanya.
"Ayo kita bersulang Edgar, kita rayakan ulang tahun Ayahmu!" ujar David ceria, mengangkat gelasnya mengajak sang keponakan merayakan momen bahagia itu.
Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun atas minuman yang diulurkan dari nampan Aruni, Edgar meraih gelas tersebut tanpa tahu bahwa tegukan itu akan menyeretnya dan gadis pelayan di hadapannya ke dalam jurang takdir yang tak terbayangkan.
Bersambung...
Setelah mengantarkan minuman ke area VIP, Aruni berjalan menuju area dapur dengan napas sedikit terengah. Kerja keras beberapa jam terakhir mulai menguras tenaganya. Melihat Aruni yang tampak lelah, Desi berjalan menghampiri sembari menyodorkan sebuah botol air mineral.
"Runi, kau minum air mineral ini. Kau terlihat begitu lelah, maaf ya!" ucap Desi, mengukir senyum manis yang menyembunyikan rencana liciknya.
"Eh, terima kasih banyak, Mbak Desi," balas Aruni tulus.
Tanpa sedikit pun rasa curiga, Aruni membuka segel botol tersebut dan meminumnya hingga tersisa setengah. Namun, hanya dalam hitungan detik, pandangannya mendadak mengabur dan kepalanya terasa amat berat.
"Loh, kok aku ngantuk sekali...?" gumam Aruni seraya memegang pelipisnya yang berdenyut.
"Mungkin kamu terlalu kelelahan, Runi. Ayo, sebaiknya kamu aku antar ke kamar istirahat khusus pegawai," ajak Desi sigap, menopang tubuh Aruni yang kian melemas. Aruni hanya bisa mengangguk pasrah.
Desi membawa Aruni naik menggunakan lift menuju lantai 8, bukan lantai bawah tanah tempat istirahat karyawan yang sebenarnya. Sambil menuntun Aruni yang setengah sadar, Desi mengedarkan pandangan mencari sosok suruhan Bu Nova.
Tak lama, seorang pria bertubuh kekar dengan setelan jas hitam dan rambut gondrong yang terikat rapi berjalan menghampiri mereka dari ujung lorong.
"Kau ini lama sekali! Ayo cepat bawa wanita itu ke dalam!" bisik pria itu dengan nada dingin dan terburu-buru.
Desi sempat tertegun sejenak. Seingatnya, Bu Nova berpesan bahwa pria yang menunggu di depan kamar adalah sesosok preman bertato.
‘Aish, mungkin di balik pakaian formal itu tubuhnya dipenuhi tato. Lagipula badannya juga kekar,’ batin Desi menepis ragu.
Tanpa pikir panjang, Desi menyerahkan tubuh Aruni ke dalam dekapan pria bertuksedo itu, lalu bergegas pergi meninggalkan lorong sunyi tersebut.
Pria itu mendorong pintu kamar VIP, lalu menghempaskan tubuh Aruni yang tak berdaya ke atas ranjang besar di tengah ruangan. Sial bagi Aruni karena kamar itu bukanlah kamar pegawai, melainkan kamar type suite tempat Edgar berada.
Di dalam kamar yang remang, Edgar sudah terkulai tak berdaya. Zat afrodisiak dosis tinggi yang tercampur dalam minumannya tadi telah membakar seluruh kesadarannya. Saat tubuh Aruni terlempar dan tidak sengaja menindih tubuh Edgar, sentuhan fisik itu seketika memicu reaksi dahsyat dalam diri Edgar, sebuah pemicu yang selama ini tak pernah berhasil dibangunkan oleh wanita mana pun.
Pria gondrong berjas hitam itu tersenyum menyeringai melihat reaksi Edgar. Tanpa membuang waktu, ia melangkah keluar, mengunci pintu dari luar, lalu meraih ponsel dari saku jasnya.
"Tuan, misi telah selesai. Jangan lupa lunasi sisa pembayarannya!" ucapnya pelan pada orang di balik telepon.
"Kau tenang saja, aku akan langsung transfer!" jawab suara di seberang sana dengan nada puas.
Suara di balik telepon itu tak lain adalah paman Edgar. Dari balik kegelapan lorong hotel, sang paman membatin penuh kemenangan:
‘Akhirnya misiku berhasil. Wanita itu harus bisa membuktikan kalau si pria menyebalkan itu benar-benar mandul atau impoten seperti rumor yang beredar. Jika rencana ini berhasil dan dia tetap tak bisa memberikan keturunan, maka putraku yang akan menggantikan posisi Edgar sebagai pewaris utama Ganendra Group!’
Sementara itu di lantai bawah, suasana pesta mendadak tegang bagi Harry, asisten pribadi Edgar. Beberapa saat lalu, jas milik Harry secara tidak sengaja tersiram wine oleh seorang pelayan, memaksanya harus pergi ke toilet untuk membersihkan diri.
Namun, sekembalinya ke ruangan utama, sosok presdirnya telah lenyap dari pandangannya.
"Tuan Edgar? Di mana beliau...?" gumam Harry panik sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang ramai.
Menyadari ponsel Edgar tidak dapat dihubungi dan tuannya menghilang secara mencurigakan, Harry mulai menyusuri lorong-lorong hotel dengan perasaan cemas yang membuncah, sama sekali tidak menyadari bahwa di lantai 8, takdir tuannya dan gadis pelayan itu sedang bertautan dalam kegelapan
Malam itu, di balik pintu kamar 808 yang tertutup rapat, suasana terasa makin pekat dan panas. Efek obat yang menguasai tubuh Aruni dan Edgar membakar habis seluruh sisa kesadaran mereka, mengikis canggung dan menyisakan gejolak naluri yang tak lagi mampu dibendung.
Dalam remang cahaya kamar suite, Edgar merengkuh tubuh Aruni ke dalam dekapannya. Setiap sentuhan terasa membakar kulit mereka. Aruni, yang tak lagi mampu berpikir jernih akibat pengaruh obat, hanya bisa menahan napas saat Edgar mulai mengecup leher jenjangnya. Bisikan halus dan des4han pasrah lolos dari bibirnya, mempertegas betapa kuatnya pengaruh zat tersebut pada mereka berdua.
Perlahan, pakaian yang mereka kenakan tak lagi menjadi penghalang. Aruni, yang terbuai oleh rasa hangat yang mengaliri seluruh tubuhnya, ikut menuntun jemarinya melepaskan kancing kemeja Edgar satu demi satu. Gelombang gair4h yang melingkupi ruangan itu membuat keduanya semakin tenggelam dalam pusaran yang sama.
Edgar, yang selama ini dikenal dingin dan tak tersentuh oleh wanita mana pun, malam itu benar-benar kehilangan kendali. Sentuhan demi sentuhan Aruni menjadi satu-satunya pemicu yang meruntuhkan pertahanannya. Dalam kungkungan malam yang semakin larut, tumpuan emosi dan hasrat yang membakar membawa mereka pada puncak penyatuan yang intens dan tanpa jarak.
Garis takdir dua insan yang semula tak saling mengenal itu resmi bertautan erat malam itu. Rencana jahat yang dirancang orang lain justru mempertemukan mereka dalam ikatan yang tak terduga.
Hingga akhirnya, ketika tenaga mereka benar-benar terkuras habis dan efek obat perlahan mereda, keheningan kembali menguasai kamar 808. Keduanya pun tumbang dalam lelap karena kelelahan hebat, tertidur berdampingan di atas ranjang tempat tidur dengan napas yang berangsur teratur, tanpa menyadari betapa besarnya perubahan yang akan terjadi pada jalan hidup mereka setelah malam ini berlalu.
Di sudut lorong lain di lantai delapan, sesosok pria berbadan tegap dengan deretan tato yang menyembul dari balik kerah bajunya berdiri gelisah. Sudah hampir satu jam ia bolak-balik menatap jam di pergelangan tangannya, namun sosok pelayan yang berjanji akan menyerahkan Aruni padanya tak kunjung muncul.
"Kemana wanita itu membawa korban? Tidak beres ini, sebaiknya aku hubungi kembali Bu Nova!" ujar pria bertato itu cemas.
Tanpa membuang waktu, ia segera menekan tombol panggil di ponselnya.
Di tempat terpisah, ponsel Nova berdering nyaring. Ia tersenyum yakin saat mengangkatnya, menduga sang preman akan mengabarkan bahwa Aruni sudah berhasil dijerat. Namun, raut wajahnya seketika berubah pucat saat mendengar suara di balik telepon.
"Apa?! Kau bilang dia belum menyerahkan Aruni padamu?!" seru Nova dengan suara tertahan, matanya membelalak panik. "Dasar wanita tidak becus! Tunggu di sana, aku akan hubungi Desi sekarang juga!"
Nova mematikan panggilan dengan tangan gemetar. Jantungnya berdegup kencang saat ia menekan nomor Desi. Satu kali, dua kali, hingga panggilan kelima, hanya nada dering panjang yang terdengar.
"Sialan! Kenapa wanita itu tidak mengangkat teleponku?!" umpat Nova berapi-api, frustrasi karena rencananya terancam berantakan.
Sementara itu, jauh di area basement hotel yang remang dan sepi, Desi justru sedang tersenyum lebar. Ia berdiri di samping mobil mewah milik suruhan Tuan David yakni pamannya Edgar.
Dengan jemari yang gemetar karena gembira, Desi sibuk menghitung lembaran uang tunai bernominal besar dari dalam dua amplop tebal di tangannya. Satu amplop dari Nova untuk menjebak Aruni, dan satu amplop lagi dari orang kepercayaan David karena berhasil menyusupkan zat afrodisiak ke dalam minuman Edgar.
"Aduh, nikmatnya... Malam ini aku mendadak kaya raya!" bisik Desi penuh kepuasan, matanya berbinar menatap tumpukan uang di tangannya. Panggilan telepon dari Nova yang terus bergetar di dalam tasnya sama sekali tidak ia hiraukan.
Dalam euforia kemenangan itu, Desi sama sekali tidak menyadari kecerobohannya. Karena keserakahan dan ketergesaannya, ia telah menyerahkan Aruni kepada pria berjas yang salah. Bukannya jatuh ke tangan preman suruhan Nova, Aruni justru dipandu masuk ke dalam ranjang sang Presiden Direktur, menjalin takdir baru yang kelak akan menghancurkan semua rencana licik mereka.
Bersambung...
Keesokan paginya, sinar matahari yang samar-samar telah menembus tirai mewah kamar suite. Aruni perlahan terbangun, namun sensasi pertama yang menghantam kesadarannya adalah rasa pusing yang luar biasa hebat.
"Aarrkkhhh kepalaku...!" ringisnya sambil memegang pelipisnya yang berdenyut, seolah-olah ditusuk oleh ratusan jarum.
Ia memejamkan matanya sejenak, mencoba meredakan pusing. Namun saat penglihatannya mulai jernih dan fokus, matanya membelalak sempurna. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Langit-langit penuh ukiran, lampu kristal, dan dinding berlapis kayu mahal ini jelas bukan kamar tidurnya yang sempit.
Rasa panik mulai menjalar. Pandangannya bergerak ke samping, dan jantungnya serasa berhenti berdetak seketika.
Di sebelahnya, seorang pria asing yang tak ia kenal sedang tertidur pulas. Pria itu bertelanj*ng dada, dan tubuhnya berada di bawah selimut tebal yang sama dengan yang menutupi tubuh Aruni.
"Arrrggghhh.." Aruni hampir menjerit histeris, namun dengan refleks cepat ia langsung membungkam mulutnya sendiri rapat-rapat dengan kedua tangannya. Matanya berair karena ketakutan yang mencekam.
"Apa... apa yang sebenarnya telah terjadi?" bisiknya gemetar.
Dengan tangan bergetar hebat, Aruni menurunkan pandangan dan pelan-pelan menyibak selimut yang menutupi dadanya. Tangisnya pecah tanpa suara saat mendapati dirinya tak mengenakan sehelai benang pun. Bintik-bintik merah di kulitnya dan rasa nyeri yang asing menjadi bukti nyata atas apa yang telah berlalu.
Ia panik luar biasa. Aruni memegang kepalanya erat-erat, memeras ingatan tentang apa yang terjadi semalam. Namun, semakin ia mencoba mengingat, kepalanya justru semakin terasa ingin pecah. Memori terakhirnya hanyalah rasa kantuk luar biasa setelah meminum air pemberian dari Desi.
Tak ingin membuang waktu dalam ketakutan, Aruni bergegas bangkit dari tempat tidur. Saat kakinya menyentuh lantai, rasa sakit menyengat di area intimnya membuat tubuhnya terhuyung. Sambil berjalan tertatih-tatih, ia membungkuk memunguti seragam merah maroon dan pakaiannya yang berserakan menyedihkan di atas karpet.
Dengan menutupi tubuhnya menggunakan pakaian kotor itu, Aruni berlari kecil menuju kamar mandi. Di dalam, ia mengenakan seragamnya dengan jemari yang terus gemetar hebat. Derasnya air mata telah membasahi pipinya tanpa henti.
Setelah pakaiannya terpasang, Aruni keluar dari kamar mandi tanpa berani melirik sedikit pun ke arah tempat tidur, tempat pria yang telah mengambil kesuciannya masih terlelap.
Dengan pandangan yang kabur terhalang air mata dan langkah kaki yang goyah, Aruni berlari panik menuju pintu keluar. Saking terburu-burunya, tubuhnya bahkan hampir saja menabrak pintu kayu besar itu sebelum akhirnya berhasil membukanya dan melarikan diri ke dalam lorong hotel yang dingin
Aruni berlari keluar dari kamar 808 dengan derai air mata yang belum mereda. Langkah kakinya gontai, berusaha menjauh sejauh mungkin dari tempat kelam tersebut.
Tepat di ujung lorong, Harry asisten pribadi Edgar baru saja keluar dari lift. Sepanjang malam ia frustrasi mencari keberadaan tuannya yang mendadak hilang bak ditelan bumi. Upayanya memeriksa ruang kontrol pun sia-sia karena jaringan CCTV hotel mengalami kerusakan fatal, tampaknya sengaja dirusak oleh seseorang yang ingin menjebak Edgar.
Saat melangkah di lorong lantai delapan, mata Harry menangkap sosok wanita berseragam pelayan yang berlari tergesa-gesa menyusuri koridor. Namun, Harry hanya sempat melihat bagian punggung wanita itu sebelum akhirnya sosok tersebut menghilang di balik pintu darurat.
Langkah Harry terhenti saat melihat salah satu pintu kamar suite terbuka sedikit. Tanpa membuang waktu, ia menerobos masuk. Betapa terkejutnya Harry saat mendapati sang atasan terbaring di atas ranjang, hanya berbalut selimut tebal dengan kondisi kamar yang berantakan.
"Tuan... Tuan Edgar...!" panggil Harry panik sambil menepuk pelan bahu pria itu.
Edgar mengerang halus. Perlahan ia membuka mata setelah semalaman suntuk terkuras tenaganya bersama wanita asing tersebut.
"Hari... Akh... Kenapa kepalaku sakit sekali!" keluh Edgar meringis, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut hebat.
"Tuan, apakah Anda semalaman berada di kamar ini? Barusan saya melihat seorang wanita keluar dari kamar ini sambil berlari tergesa-gesa," ujar Harry cemas.
Mendengar kata-kata itu, ingatan Edgar seketika berputar. Memori tentang gair4h hebat dan sentuhan hangat wanita semalam menghantam kesadarannya. Namun, akibat pengaruh zat kimia keras yang membuai akal sehatnya, bayangan wajah wanita itu sangat samar di ingatannya.
"Kenapa tidak kau cegah wanita itu, Harry?! Kau bodoh sekali!" omel Edgar geram, matanya membelalak penuh amarah dan penyesalan.
"Maaf, Tuan! Wanita itu cepat sekali perginya dan saya jauh lebih khawatir dengan kondisi Tuan saat melihat pintu kamar terbuka," bisik Harry menunduk takut.
Edgar mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas kasur.
"Aku... Aku telah menodai wanita itu," gumam Edgar dengan nada suaranya yang bergetar menahan gejolak emosi. "Gara-gara minuman sialan itu! Ya, aku yakin ada yang menaruh obat ke dalam minumanku semalam. Apakah ini perbuatan Papah... atau musuhku?"
Aura dingin seketika memancar dari tubuh Edgar. Sebagai Presiden Direktur Ganendra Group, belakangan ini ia memang sedang menghadapi ancaman besar dari musuh bisnis yang bergerak di dalam bayangan, yang siap melakukan cara kotor apa pun untuk menghancurkan karier dan reputasinya.
*
*
Setibanya di rumah, Aruni melangkah dengan tubuh gemetar, setengah berlari menuju kamarnya yang terletak di bagian belakang, sebuah kamar sempit yang dulunya merupakan gudang. Kamar lamanya yang luas di lantai dua telah direbut secara paksa oleh Dona atas desakan Nova. Demi melihat ayahnya bahagia dan terhindar dari pertengkaran rumah tangga, Aruni memilih mengalah dan menerima semua ketidakadilan itu tanpa protes.
Dari sudut dapur, Bi Sumi, asisten rumah tangga yang sudah puluhan tahun mengabdi di sana menatap langkah gontai Aruni dengan mata berkaca-kaca. Hatinya teriris. Ia sudah menganggap Aruni seperti anaknya sendiri dan kerap kali menangis diam-diam saat melihat nona mudanya diperlakukan seperti asing di rumahnya sendiri.
Pintu kamar terhempas pelan. Aruni langsung menguncinya dari dalam dan menerobos masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan shower, membiarkan kucuran air dingin mengguyur seluruh tubuhnya yang masih terbalut seragam pelayan kotor.
Di bawah guyuran air, pertahanan Aruni runtuh sepenuhnya. Ia terduduk lemas di lantai kamar mandi, meremas dadanya yang terasa dihantam beban yang teramat berat. Air mata dan kucuran shower menyatu membasahi paras cantiknya.
"Kenapa takdir begitu kejam padaku...? Setelah Mamah tiada, semua kebahagiaan itu lenyap..." tangis Aruni tersedu-sedu, suaranya parau tercekik rasa sakit. "Mamah... Aruni kangen Mamah..."
Ia menggosok kulit lengan dan lehernya dengan kasar hingga kemerahan, mencoba menghapus bayangan jejak sentuhan semalam. Rasa jijik dan penyesalan mendalam menguasai pikirannya. Masa depan yang ia susun rapi lewat impiannya berkuliah di Universitas Airlangga kini terasa hancur berantakan dalam sekejap.
Sementara itu, di kamar 808 Hotel Grand Panama suasana hening menyelimuti ruangan. Edgar yang baru saja menyelesaikan sapuan matanya ke sekeliling tempat tidur, ia mendadak terpaku.
Pandangannya tertuju pada bercak merah pekat yang membekas jelas di atas seprai putih bersih tempatnya terbaring.
Edgar tertegun. Sepotong bukti bisu itu menegaskan satu fakta yang menghantam kesadarannya secara telak.
‘Wanita itu... masih gadis...’ batin Edgar gemetar.
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, kemarahan pada dirinya sendiri telah membakar dadanya. Rahangnya mengeras saat rasa bersalah yang teramat sangat menyergap hatinya.
‘Akh! Aku benar-benar gila sudah merenggut kesuciannya! Aku bukan binatang... Siapa pun dia, aku harus mencarinya dan mempertanggungjawabkan perbuatanku!’ tegaskannya dalam hati dengan raut wajah penuh tekad.
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!