Indonesia
NovelToon NovelToon

Suamiku Anak Mami

BAB 1: DMAM

NOVEL BARU ✨

Halo, para pembaca tersayang.

Novel ini lahir dari perenungan sederhana tentang arti sebuah kedewasaan dan kehormatan diri. Di zaman sekarang, kita sering kali silau oleh kilau harta dan penampilan luar, hingga lupa bertanya: Apakah sosok yang berdiri di depan kita adalah seorang nakhoda yang siap mengarungi badai, atau sekadar anak kecil yang bersembunyi di balik ketiak orang tuanya?

Lewat kisah Aisyah dan Dimas, saya ingin mengajak kalian menyelami perjuangan seorang wanita sederhana yang mencoba berani berkata "tidak" demi mempertahankan kehormatan dan hatinya. Menikahi seorang pria berarti menyerahkan masa depan, dan seorang 'Anak Mami' yang tak pernah belajar berdiri di atas kakinya sendiri hanya akan menyisakan luka dan derita.

Semoga kisah ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi penguatan bagi setiap wanita di luar sana untuk selalu menghargai dirinya sendiri.

Selamat membaca dan selamat menyelami perjuangan Aisyah!

✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨

BAB 1: MAMI, MAMI, DAN MAMI

Aroma kapur tulis, kertas ujian yang sedikit lembap, serta riuh rendah tawa anak-anak SD mengisi seluruh sudut koridor Sekolah Dasar Negeri 04 Pagi.

Di dalam salah satu ruang kelas yang berada paling ujung, seorang gadis berhijab kain merah muda sibuk menata tumpukan buku latihan matematika.

Aisyah, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu, menyapu peluh tipis di dahinya menggunakan saputangan sederhana. Senyumnya melengkung tulus saat seorang murid kecil menghampirinya sambil membawa sebuah mangga arumanis yang agak memar.

"Bu Guru Aisyah! Ini buat Bu Guru. Kata Ibu di rumah, makasih ya kemarin udah ngajarin Rangga perkalian sampai bisa," ucap anak laki-laki itu sambil menyerahkan buah mangga tersebut dengan kedua tangan kecilnya.

Aisyah berlutut sejenak agar pandangan mata mereka sejajar. Jemarinya yang halus merapikan kerah seragam Rangga yang sedikit terlipat. "MasyaAllah, terima kasih banyak ya, Rangga. Sampaikan salam Ibu ke Ibu kamu di rumah. Dan ingat, besok kita belajar pembagian, jadi di rumah dibaca lagi bukunya, ya?"

"Siap, Bu Guru!" Rangga hormat dengan gaya jenaka sebelum berlari kencang menyusuri koridor, dan menyatu dengan kebisingan jam pulang sekolah.

Aisyah berdiri kembali, lalu mengelus mangga di tangannya. Kebahagiaan bagi Aisyah sederhana. Sebagai seorang anak yatim yang tumbuh besar bersama ibunya yang sudah sepuh dan hidup dari gaji guru honorer yang sering terlambat cair, kehangatan-kehangatan kecil seperti inilah yang membuat napasnya terasa lapang.

Teman-teman sejawatnya kerap bertanya, kapan Aisyah akan menyusul menikah seperti gadis seusianya. Namun, Aisyah selalu menjawabnya dengan senyuman tenang. Bagi Aisyah, jodoh adalah takdir yang tak perlu dikejar hingga hilang akal.

Tap tap tap!!!

Suara langkah sepatu berhak tinggi membuyarkan lamunannya. Bu Maya, rekan sesama guru, bersandar di pintu kelas sambil memegang kipas angin lipat.

"Syah, kamu belum pulang? Sudah jam dua siang, loh," tegur Bu Maya.

"Bentar lagi, Bu Maya. Mau ngerapihin rekap nilai kelas empat dulu sebentar. Biar besok tinggal bagi tugas."

Bu Maya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu ini ya, gajinya nggak seberapa tapi rajinnya melebihi guru PNS. Eh, ngomong-ngomong, gimana sama acara lamaran besok? Ibu denger keluarga calon suami kamu mau datang?"

Wajah Aisyah merona sedikit, namun ada gurat keraguan yang menyelip di antara binar matanya. "Iya, Bu. InsyaAllah besok malam keluarga Mas Dimas datang ke rumah. Mohon doanya ya, Bu."

"Aamiin. Tapi Syah..." Bu Maya melangkah mendekat dan mengecilkan volume suaranya. "Kamu yakin sama Dimas? Maaf ya, bukannya Ibu mau campur tangan. Tapi sewaktu kita ketemu di acara nikahan anak Kepala Sekolah bulan lalu, Ibu kok ngerasa ada yang aneh ya sama gaya calon kamu itu?"

Aisyah menata buku terakhir ke dalam tas kainnya. "Aneh gimana, Bu?"

"Ya itu... dari urusan piring makan, ambil minum, sampai pilih tempat duduk, semuanya harus ditunjukkin sama ibunya. Umurnya kan udah mau tiga puluh tahun, Syah. Apa dia beneran udah siap jadi kepala keluarga?"

Aisyah terdiam sejenak. Kalimat Bu Maya persis seperti bisikan keraguan yang selama ini berusaha ia tepuk keluar dari dadanya. Namun, mengingat pesan almarhum ayahnya bahwa menolak iktikad baik seseorang tanpa alasan syar'i adalah hal yang kurang bijak, Aisyah pun mencoba tersenyum positif.

"Mas Dimas anak tunggal, Bu. Mungkin karena tinggal berdua aja sama Tante Rosma sejak almarhum ayahnya meninggal, jadi mereka memang sangat dekat. InsyaAllah, setelah menikah nanti kan Mas Dimas akan belajar memimpin."

"Ya sudahlah kalau kamu sudah mantap," desah Bu Maya sambil menepuk bahu Aisyah. "Cuma pesan Ibu satu, Hati-hati. Menikah sama lelaki mandiri itu menyatukan dua kepala, tapi menikah sama anak mami itu artinya kamu harus siap hidup di bawah bayang-bayang ibunya."

**

Sore harinya, Aisyah menumpang angkutan kota menuju rumahnya di pinggiran Jakarta. Rumah kayu beratap seng yang bersih itu dikelilingi tanaman hias sederhana milik ibunya, Bu Rahmi.

Begitu Aisyah menggeser pintu kayu, aroma masakan gulai nangka langsung menyambut indra penciumannya.

"Assalamu’alaikum, Ibu," panggil Aisyah sambil mengulurkan tangan mencium telapak tangan ibunya yang keriput.

"Wa’alaikumussalam, Nak. Cepat mandi, bersih-bersih. Tadi Nak Dimas telepon, katanya sore ini mau mampir sebentar. Mau ngomongin persiapannya besok malam."

Bu Rahmi tersenyum hangat, meski kerutan di matanya tak bisa menyembunyikan rasa lelah usai mengupas bawang seharian untuk katering kecil-kecilan.

Belum sempat Aisyah melangkah ke kamar mandi, suara derung mesin mobil meraung tebal di depan gang rumah mereka. Sebuah mobil sedan warna putih metallic mentereng masuk perlahan, hingga membuat anak-anak kompleks berhenti bermain kelereng.

Tak lama kemudian, suara ketukan pintu berbunyi, disusul suara langkah kaki yang mantap. Tapi, bukan hanya satu pasang kaki.

"Aisyah! Mana kamu?" suara wanita setengah baya yang nyaring melengking memenuhi ruang tamu yang sempit.

Aisyah bergegas keluar dari kamar. Di sana sudah berdiri Tante Rosma dengan pakaian gamis sutra berwarna kuning emas mencolok, lengkap dengan perhiasan emas yang berjejer di kedua pergelangan tangannya.

Di belakangnya, berdiri Dimas, pria tinggi bertubuh agak tegap, mengenakan kemeja bermerek mahal, namun pandangannya sibuk tertuju pada layar ponsel pintar di tangannya.

"Eh, Tante... Mas Dimas. Mari masuk, Tante. Ibu, ada Tante Rosma datang," panggil Aisyah ramah, seraya menggeser kursi kayu agar tamunya duduk.

Tante Rosma melirik kursi kayu tua itu dengan pandangan menilai, lalu mengibaskan selendangnya sebelum duduk dengan amat hati-hati, seolah takut bajunya ternoda.

"Aduh Aisyah, panas banget ya daerah sini. AC kamu mati atau gimana?" celetuk Tante Rosma sambil mengipas-ngipaskan tangannya yang berhias cincin permata besar.

"Maaf Tante, rumah kami memang cuma pakai kipas angin dinding," jawab Aisyah lembut.

Dimas menghempaskan dirinya di sebelah ibunya tanpa mengucapkan salam, sementara tangannya masih menari di atas layar ponsel. "Mami, ini game nya keliru deh. Dimas mati terus. Mami beliin top up diamond yang jutaan itu dong, yang kemarin Dimas bilang."

Aisyah terpaku melihat seorang pria berusia dua puluh delapan tahun berbicara seperti anak SD yang meminta mainan di depan calon istrinya dan calon ibu mertuanya.

Lalu beralih menatap tante Rosma yang mengelus kepala Dimas dengan penuh kasih sayang, dan mengabaikan fakta bahwa ada orang lain di ruangan itu. "Iya, nanti Mami transferin sepuluh juta ya sayang. Jangan cemberut gitu ah, muka anak ganteng Mami jadi jelek nanti."

"Asyik! Makasih Mami," jawab Dimas sambil tersenyum puas, lalu mencium pipi ibunya sekilas.

Ibu Rahmi baru keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi dua gelas teh hangat dan piring berisi pisang goreng. "Silakan diminum, Bu Rosma, Nak Dimas. Maaf cuma ada sajian seadanya."

Tante Rosma hanya melirik gelas teh itu tanpa menyentuhnya sama sekali. "Iya, Bu Rahmi. Gini ya, saya datang ke sini sengaja menggejot si Dimas. Soalnya untuk urusan lamaran besok malam, saya nggak mau ada salah paham."

Aisyah ikut duduk di samping ibunya. "Maksud Tante gimana?"

"Begini, Aisyah. Saya sudah booking katering dari restoran langganan saya. Makanan dari kampung sini kan takutnya kurang higienis ya, secara perut keluarga besar kami sensitif. Jadi kamu sama Ibu tidak perlu repot-repot masak apa-apa. Biar Mami yang urus semuanya!" ujar Tante Rosma penuh kebanggaan.

"Tapi Bu Rosma," potong Bu Rahmi perlahan. "Saya sudah beli bahan-bahan masakan dari kemarin. Kami mau menyambut keluarga besar Bu Rosma dengan olahan tangan kami sendiri, sebagai bentuk rasa hormat—"

"Gak usah, Bu Rahmi!" potong Tante Rosma sambil mengibaskan tangannya. "Gak perlu dipaksain. Nanti kalau sakit perut kan malah berabe. Semuanya sudah beres, ada mami yang kerjakan. Lagian Dimas ini kan anak tunggal saya, penerus keluarga. Jadi standar acaranya harus tinggi."

Aisyah menatap Dimas yang masih asyik bermain game lalu bertanya, "Mas Dimas... gimana menurut Mas? Apa nggak sebaiknya masakan Ibu Aisyah tetap dihidangkan sebagai pendamping? Ibu udah repot-repot persiapin..."

Dimas bahkan tidak mengangkat wajahnya dari layar ponsel dan menjawab, "Kamu gak usah pikirin, ada Mami aku yang akan urus. Mami kan lebih tau mana yang bagus mana yang enggak. Lagian makanan katering Mami pasti lebih enak lah, Syah."

Kata-kata itu terucap begitu ringan dari mulut Dimas. Tanpa rasa bersalah dan tanpa empati pada raut wajah Bu Rahmi yang seketika layu. Aisyah meremas pinggiran roknya. Dadanya terasa sesak oleh kombinasi antara rasa terkejut dan kekecewaan yang tertahan.

Bersambung...

BAB 2: DMAM

Drett drettt!!

Tiba-tiba ponsel Dimas berdering. Pria itu menggerutu kesal karena permainan game-nya tiba-tiba terhenti.

"Ck! Bikin kalah aja!" Dimas mengangkat teleponnya dengan nada kasar. "Apaan sih, Bro? Apa? iPhone 15 Pro Max gue kena tumpahan kopi? Yah, kok bisa sih?!"

Dimas mematikan sambungan telepon dengan wajah yang cemberut. Ia menoleh ke arah Tante Rosma, dan menggoyang-goyangkan lengan baju ibunya bak anak kecil yang merajuk.

"Mami! iPhone Dimas yang dipegang si Rian katanya rusak kena kopi! Pokoknya Dimas gak mau tau, Mami! Aku mau iPhone terbaru hari ini juga! Yang warna Titanium! Sekarang, Mi!" jerit Dimas melengking, sama sekali tidak malu pada Aisyah dan ibunya yang menyaksikan.

Tante Rosma langsung panik melihat anaknya merajuk. "Aduh, sayang... iya, iya! Jangan marah-marah dong, Nanti tensi Mami naik. Ya udah, habis dari sini kita langsung ke iBox ya? Mami beliin dua sekalian buat cadangan."

"Beneran ya, Mi? Sekarang ya?" tanya Dimas, dengan wajah yang berubah cerah tanpa sisa cemberut.

"Iya sayang. Yuk, kita jalan sekarang aja. Biar kamu gak bad mood." Tante Rosma berdiri, sambil membetulkan letak tas mewahnya.

Ia lalu menatap Aisyah dan Bu Rahmi dengan senyum formalitas. "Bu Rahmi, Aisyah, kami pamit dulu ya. Dimas kalau lagi bad mood begini harus cepat dituruti, kasihan kepalanya suka pusing kalau keinginannya tertunda."

"Tapi Tante, pembicaraan mengenai konsep acara besok—"

"Kan Mami sudah bilang tadi, Aisyah," potong Dimas dengan nada sewot. "Kamu gak perlu pikirin, ada mami aku yang akan urus! Kamu tinggal duduk manis, dandan yang cantik, beres kan? Mami, yuk! Nanti tokonya tutup!"

Dimas langsung berbalik membelakangi mereka dan berjalan keluar menuju mobil tanpa mengucapkan permisi pada Bu Rahmi. Tante Rosma menyusul dari belakang sambil sibuk mengelus punggung anak laki-lakinya itu.

Mobil putih itu melaju kencang, meninggalkan debu tipis yang berterbangan di depan rumah kayu tersebut.

Setelah kepergian mereka, Aisyah berdiri terpaku di ambang pintu. Tatapannya kosong menatap jalanan gang yang kembali sepi. Di dalam rumah, ia mendengar suara gesekan piring. Saat berbalik, Aisyah melihat ibunya sedang membereskan pisang goreng yang sama sekali tak tersentuh.

Ibu Rahmi menunduk, dan Aisyah bisa melihat setitik air mata menetes ke atas nampan kayu yang di pegang ibunya itu.

"Ibu..." Aisyah berlari mendekat dan memeluk tubuh renta ibunya dari samping. "Ibu jangan menangis... Aisyah mohon..."

Ibu Rahmi mengusap air matanya dengan ujung kulot kainnya dan mencoba tersenyum meski bibirnya gemetar. "Ibu tidak apa-apa, Nak. Ibu cuma... Ibu cuma kepikiran kamu."

"Aisyah gak apa-apa, Bu."

"Bagaimana mungkin kamu gak apa-apa, Syah?" Bu Rahmi menatap mata anak tunggalnya itu lekat-lekat. "Dimas itu... dia belum dewasa, Nak. Dia bahkan tidak bisa menghargai usaha orang tua kamu. Bagaimana nanti kalau kamu sudah jadi istrinya? Kalau ada masalah di antara kalian, apa dia akan terus berteriak 'Mami, Mami, Mami'?"

Air mata yang ditahan Aisyah akhirnya luruh juga. Kata-kata ibunya menghantam ulu hatinya dengan sangat telak.

"Tadi Aisyah dengar sendiri kan? Mas Dimas bilang apa? 'Mami, aku mau iPhone terbaru hari ini juga.' 'Mami, uang jajan aku habis.' Usia hampir tiga puluh tahun, tapi jiwanya masih anak-anak. Dia tidak tau rasanya cari uang sepeser pun. Semua dipenuhi ibunya," lanjut Bu Rahmi dengan suara yang bergetar.

"Aisyah kira... kalau udah menikah nanti, Mas Dimas bakal berubah, Bu. Aisyah pikir Aisyah bisa bimbing dia perlahan-lahan..." bisik Aisyah.

Bu Rahmi menggeleng dengan pelan. "Ubah tabiat lelaki yang dibesarkan dengan cara dimanja setengah mati itu tidak mudah, Nak. Kamu bukan cuma menikah dengan Dimas, tapi kamu menikah dengan ketergantungannya pada ibunya. Apakah kamu siap menanggung beban itu seumur hidupmu?"

Pertanyaan itu menggantung tebal di udara malam yang mulai turun. Aisyah tidak bisa menjawabnya. Ia hanya bisa memeluk ibunya lebih erat, sementara di kepala dan hatinya, badai keraguan mulai bertiup amat kencang.

_____

__________

Malam yang ditentukan pun tiba. Rumah Aisyah yang sederhana telah dibersihkan hingga tak ada sebutir debu pun tersisa. Meski Tante Rosma melarang keras Bu Rahmi memasak, Bu Rahmi tetap membuat hidangan penutup berupa kue talam dan es cendol buatan sendiri sebagai wujud penghormatan tuan rumah.

Pukul tujuh malam tepat, sebuah rombongan tiga mobil mewah berhenti di gang sempit. Tetangga sekitar berkerumun, berbisik-bisik kagum melihat deretan mobil mahal yang mendatangi rumah guru honorer tersebut.

Tante Rosma turun paling depan, disusul oleh beberapa kerabat dekatnya. Dan di tengah-tengah mereka, Dimas berjalan dengan santai.

Pria itu tampak gagah mengenakan kemeja batik tulis bernuansa gelap. Namun, ketampanan fisiknya mendadak sirna saat Aisyah melihat matanya yang terus melirik ke bawah, sibuk memeriksa iPhone 15 Pro Max warna Titanium yang baru dibelinya kemarin.

"Selamat datang, Bu Rosma, Nak Dimas, dan keluarga," sapa Bu Rahmi dengan santun di depan pintu.

Mereka semua masuk dan duduk lesehan di atas karpet tebal yang sengaja disewa Aisyah untuk malam ini.

Petugas katering yang disewa Tante Rosma bergerak gesit membawa masuk kotak-kotak makanan mahal dari restoran bintang lima, menaruhnya di sudut ruangan, dan menyisihkan kue talam buatan Bu Rahmi ke pojok yang tersembunyi.

Acara pembuka berjalan formal. Perwakilan keluarga Dimas menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka untuk melamar Aisyah secara resmi. Namun, ketika sesi penyampaian tanggal pernikahan dan mahar dimulai, keretakan karakter itu kembali terlihat jelas.

"Mengenai tanggal pernikahan," ujar Paman dari pihak Dimas, "Kami dari keluarga besar menyarankan bulan depan, tanggal lima belas."

Mendengar penuturan yang cukup mengejutkan itu, Bu Rahmi mengangkat tangannya perlahan. "Maaf, Pak. Kalau bulan depan tanggal lima belas, sepertinya terlalu mendesak untuk kami. Tabungan Aisyah dan persiapan kami belum cukup. Bagaimana kalau tiga bulan lagi?"

Sebelum paman Dimas menjawab, Tante Rosma sudah menyambar duluan. "Aduh Bu Rahmi! Masalah biaya gak usah dipusingkan! Semuanya sudah beres, ada mami yang kerjakan! Saya yang bayar gedung, saya yang bayar katering, saya yang tanggung WO nya! Bu Rahmi tinggal bawa badan aja sama Aisyah!"

Suasana ruangan mendadak canggung. Kata-kata Tante Rosma terkesan dermawan, namun nada bicaranya amat merendahkan kehormatan keluarga tuan rumah.

Aisyah yang duduk menunduk di samping ibunya meremas jemarinya kuat-kuat. Ia lalu memberanikan diri menatap Dimas.

"Mas Dimas," panggil Aisyah. "Ini acara pernikahan kita berdua. Menurut Mas Dimas sendiri bagaimana? Apakah Mas Dimas setuju kalau pernikahan diundur tiga bulan agar kami dari pihak perempuan juga punya kesempatan untuk ikut bersiap dan berkontribusi?"

Semua mata di ruangan itu tertuju pada Dimas. Pria itu tampak terkejut mendapat pertanyaan mendadak dari Aisyah hingga Ia tergagap sejenak dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Ehh... itu... gimana ya, Syah?" Dimas menoleh patah-patah ke arah ibunya. "Mami... gimana, Mi? Dimas nurut Mami aja deh. Mami yang lebih tau mana tanggal yang hoki kan?"

Aisyah memejamkan matanya sejenak. Lagi-lagi Mami.

"Dimas!" tegur Paman Dimas pelan. "Kamu ini calon suami. Ditanya calon istri kok malah lempar ke Mami?"

"Ya kan emang Mami yang membiayai semuanya, Paman!" balas Dimas tanpa rasa bersalah sama sekali. "Hampir setiap usaha mengandalkan mami. Menyelesaikan masalah diserahkan pada Mami. Lagian Dimas mana tau urusan tanggal-tanggal begini. Dimas kan sibuk!"

"Sibuk apa kamu, Dimas?!" cetus Paman Dimas gusar. "Setiap hari cuma main game, nongkrong, minta uang!"

"Loh! Kok Paman malah pojokin Dimas sih?!" Tante Rosma langsung pasang badan, sambil melebarkan kedua tangannya untuk melindungi Dimas. "Dimas itu anak saya! Jangan ada yang berani bentak-bentak dia! Kalau Dimas mau serahin semuanya ke Saya, ya terserah dia dong! Wong Saya ibunya!"

Pertengkaran kecil terjadi di antara keluarga besar Dimas. Di tengah kegaduhan itu, Dimas bukannya meredakan suasana, ia malah menarik-narik lengan baju Tante Rosma.

"Mami, udah ah! Dimas pusing denger orang berantem!" seru Dimas dengan nada manja yang mengerikan. "Mami, uang jajan aku habis nih gara-gara kemarin beliin teman-teman makan di kafe. Transferin Dimas lima juta dong sekarang, Dimas mau keluar nongkrong aja malas di sini panas!"

Duar!

Kalimat itu bagai petir di siang bolong bagi Aisyah dan Bu Rahmi. Di tengah prosesi lamaran yang sakral, di depan calon mertua dan kerabat, seorang pria dewasa berteriak meminta uang jajan kepada ibunya karena merasa bosan dan pusing.

Namun, bukannya menegur atau menasehati, tante Rosma malah tanpa ragu merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel, dan melakukan transfer saat itu juga. "Sudah, sayang. Mami udah transfer sepuluh juta. Kamu kalau mau pergi nongkrong jalan aja dulu pakai mobil Paman, ya. Nanti Mami yang beresin urusan di sini."

"Okei, Mami! Makasih Mami!" Dimas langsung berdiri, menyambar kunci mobil, dan melangkah keluar begitu saja tanpa pamit kepada Bu Rahmi maupun Aisyah.

Suasana ruangan seketika hening mengerikan. Kerabat dari pihak Dimas menunduk malu atas kelakuan anak tunggal keluarga tersebut. Sementara tante Rosma tersenyum tanpa dosa, seolah-olah apa yang baru saja terjadi adalah hal yang sangat wajar.

"Ya Allah ..."

Bersambung...

BAB 3: DMAM

"Ya Allah..."

Aisyah menarik napas panjang sekali. Napasnya terasa berat, namun ada kejelasan yang sangat mendalam merayapi jiwanya. Rasa ragu yang membayangi hatinya selama berbulan-bulan kini musnah, berganti dengan kesadaran yang sangat benderang.

Ia menatap ibunya. Bu Rahmi pun menatap Aisyah dengan mata yang berkaca-kaca, seakan menyalurkan kekuatan lewat genggaman tangan mereka yang saling bertautan.

Aisyah lalu menegakkan punggungnya. Ia menatap Tante Rosma dan seluruh keluarga besar yang hadir.

"Tante Rosma, Paman, dan seluruh keluarga besar Mas Dimas yang saya hormati," suara Aisyah terdengar begitu tenang, sangat jernih, dan seketika menghentikan seluruh bisik-bisik di ruangan.

"Ya, Aisyah? Kenapa? Kamu mau bilang makasih karena Mami sudah siapkan semuanya?" seru Tante Rosma seraya membetulkan letak selendangnya.

Aisyah menggeleng perlahan dengan senyuman tipis yang sangat sopan.

"Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas iktikad baik Tante Rosma dan keluarga yang sudah berkenan hadir di rumah kami yang sederhana ini," ujar Aisyah runtut. "Namun... setelah melihat dan mendengar sendiri apa yang terjadi barusan, juga apa yang terjadi selama ini... Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya."

Tante Rosma mengerutkan keningnya. "Maksud kamu apa?"

"Saya tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan ini. Lamaran ini... saya tolak."

DUARRR!!!

Bagaikan disambar petir, seluruh kerabat yang hadir memekik saking terkejut. Tante Rosma mendelik lebar, wajahnya yang penuh bedak mahal seketika memerah padam.

"Apa kamu bilang?! Kamu nolak lamaran anak saya?!" jerit Tante Rosma histeris. "Kamu cuma guru honorer miskin, Aisyah! Anak saya itu kaya, tampan, punya segalanya! Kamu harusnya bersyukur ada keluarga seperti kami yang mau memungut kamu jadi menantu!"

Mendengar penuturan tante Rosma, Aisyah tidak gentar sedikit pun. Pandangannya tetap lurus dan bermartabat.

"Mas Dimas memang kaya, Tante. Tapi kekayaan itu bukan milik Mas Dimas, melainkan milik Tante Rosma. Mas Dimas adalah seorang laki-laki yang akan menjadi suami dan kepala keluarga. Tapi bagaimana mungkin dia bisa memimpin saya dan anak-anak kami kelak, kalau untuk urusan dirinya sendiri saja ia tak pernah tau bagaimana rasanya bekerja?"

"Dia itu anak tunggal saya! Wajar kalau saya memanjakan dia!" potong Tante Rosma berang.

"Memanjakan dan mematikan kedewasaan itu dua hal yang berbeda, Tante," balas Aisyah tegas. "Seorang laki-laki sejati harus tau cara berdiri di atas kakinya sendiri. Dia harus tau rasa lelahnya mencari nafkah, agar dia bisa menghargai setetes keringat istrinya. Tapi Mas Dimas? Hampir setiap usaha mengandalkan mami. Menyelesaikan masalah diserahkan pada Mami. Ada kemauan harus mami turuti saat itu juga."

Aisyah lalu berdiri dari duduknya, diikuti oleh Bu Rahmi yang menggenggam erat jemari anaknya dengan rasa bangga yang luar biasa.

"Saya memang hanya seorang guru honorer anak yatim dari keluarga menengah ke bawah, Tante," lanjut Aisyah dengan nada yang membikin merinding karena kebersahajaannya. "Saya hidup sederhana, tapi saya diajarkan oleh almarhum Ayah dan Ibu saya tentang arti kehormatan, kemandirian, dan rasa tanggung jawab. Saya mencari pasangan hidup yang siap menjadi nakhoda, bukan seorang anak kecil bertubuh dewasa yang terus berteriak memanggil ibunya setiap kali diterjang ombak kehidupan."

"Kamu... kamu menghina anak saya?!" Tante Rosma berdiri sambil menunjuk muka Aisyah dengan jari yang gemetar.

"Saya tidak menghina, Tante. Saya hanya menyatakan kebenaran yang selama ini Tante tutupi dengan tumpukan uang," jawab Aisyah dingin. "Pernikahan dalam Islam adalah ibadah berat yang menuntut kepemimpinan seorang suami. Dan sampai hari ini, Mas Dimas belum menjadi seorang laki-laki. Dia masih seorang 'anak mami'."

Paman Dimas menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang. "Aisyah benar, Rosma... Kita yang sudah salah merawat Dimas selama ini."

"Diam kamu!" bentak Tante Rosma pada adiknya itu. Ia kemudian menatap Aisyah dengan pandangan yang penuh dendam. "Bagus! Kamu akan menyesal Aisyah! Kamu gak akan pernah menemukan laki-laki sekaya Dimas! Ayo semuanya kita pulang! Tempat ini tidak level buat kita!"

Tante Rosma menyambar tas mewahnya dan berjalan menghentakkan kaki keluar dari rumah. Kerabat-kerabatnya berjalan menyusul dengan wajah yang tertunduk malu, sambil bergantian mengucapkan permohonan maaf yang tulus kepada Bu Rahmi dan Aisyah sebelum meninggalkan ruangan.

**

Dalam waktu singkat, rumah kayu itu kembali hening. Kotak-kotak katering mahal yang ditinggalkan begitu saja di sudut ruangan tampak seperti monumen kesombongan yang tak berarti.

Aisyah berjalan perlahan menutup pintu depan dan menguncinya rapat-rapat dari dalam. Luapan emosi yang menahan hatinya akhirnya mencair. Ia berbalik dan melihat ibunya berdiri di tengah ruangan sambil merentangkan kedua tangan.

Aisyah langsung berlari ke dalam pelukan ibunya. Tangisnya pecah, bukan karena sedih kehilangan calon suami, melainkan tangis karena pelepasan atas beban berat yang hampir saja meremukkan masa depannya.

"Ibu... maafin Aisyah ya..." bisik Aisyah di ceruk leher ibunya. "Aisyah udah batalin... Aisyah buat Ibu malu di depan kerabat..."

Bu Rahmi mengelus lembut punggung berbalut hijab anaknya, sambil meneteskan air mata kebanggaan. "Tidak, Nak. Kamu tidak membuat Ibu malu sedikit pun. Justru malam ini, Ibu sangat bangga pada kamu. Kamu wanita yang kuat, Syah. Kamu tau harga diri kamu dan kamu tau jalan mana yang diridhoi Allah."

"Aisyah takut... Aisyah takut sempat salah mengambil langkah..."

"Allah menyelamatkanmu sebelum semuanya terlambat, Nak. Laki-laki yang tidak bisa melepaskan tali pusar dari ibunya tidak akan pernah bisa menjadi pelindung bagi istrinya. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang menghormatimu, yang mau berjuang bersama dari nol, bukan yang hanya tau meminta."

Ibu Rahmi menuntun Aisyah duduk di karpet. Ia kemudian mengambil piring berisi kue talam dan dua gelas es cendol yang tadi disingkirkan oleh petugas katering.

"Mari kita makan masakan kita sendiri," ujar Bu Rahmi dengan senyum hangat. "Masakan yang dibuat dengan keringat dan rasa cinta, jauh lebih nikmat daripada makanan mahal yang disajikan dengan keangkuhan."

Aisyah mengambil sepotong kue talam dan mengunyahnya perlahan. Rasa manis gula merah dan gurihnya santan memenuhi rongga mulutnya, memberikan kehangatan yang meresap hingga ke dalam hati. Senyum ceria yang sempat hilang pun kini kembali memancar utuh di wajah cantiknya.

**

Keesokan harinya, matahari terbit dengan sinar yang sangat cerah melingkupi SDN 04 Pagi. Suara riuh anak-anak sekolah menyambut kedatangan Aisyah saat ia melangkahkan kaki melewati gerbang utama.

"Bu Guru Aisyah!" panggil Rangga dan teman-temannya sambil berlarian mendekat dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

"Selamat pagi, anak-anak pintar!" sapa Aisyah dengan suara merdu dan tawa renyah.

Sementara itu di ujung koridor, Bu Maya berdiri memperhatikan Aisyah. Melihat raut wajah Aisyah yang begitu lapang dan cerah tanpa beban, Bu Maya tersenyum lega.

Ia tau, gadis muda itu telah mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, sebuah keputusan untuk memilih kehormatan dan kebahagiaannya sendiri.

Aisyah lalu melangkah masuk ke dalam kelas, meletakkan tas kainnya di atas meja guru, dan membuka buku presensi. Ia memandang ke luar jendela dan menatap langit biru yang membentang luas tanpa batas.

Ia memang seorang guru honorer yatim yang hidup serba sederhana. Tapi harinya penuh dengan ketenangan, hatinya penuh dengan rasa syukur, dan langkah kakinya sepenuhnya milik dirinya sendiri.

Ia tidak ingin terburu-buru menemukan pendamping hidup, karena ia percaya, di waktu yang paling tepat nanti, Allah akan mengirimkan seorang laki-laki sejati, bukan seorang anak mami, yang siap menggandeng tangannya menuju surga.

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!