Indonesia
NovelToon NovelToon

The Light We Found

Chapter 1

Gemericik air di pagi hari terdengar begitu jelas dari sebuah rumah kontrakan kecil yang sederhana. Rumah itu hanya dihuni oleh seorang gadis manis yang perlahan tumbuh dewasa bersama waktu. Langkah kaki yang masih basah keluar dari kamar mandi dengan tergesa. Seperti biasa, ia kembali mengulur waktu hingga jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.

"Astaga..."

Dengan terburu-buru Tirta mengusap setiap tetes air di tubuhnya menggunakan handuk putih, lalu melemparkannya begitu saja ke atas kasur. Tangannya segera meraih kemeja putih yang sudah tergantung rapi di lemari kayu di sudut kamar.

Rambutnya yang masih basah dibiarkan tergerai saat ia berjalan menuju dapur. Air di panci ternyata sudah mendidih. Dengan cekatan ia menuangkannya ke dalam gelas berisi susu bubuk.

Hari ini ia kembali melewatkan sarapan. Setidaknya segelas susu hangat itu cukup untuk menahan lapar sampai jam makan siang.

"Besok aku benar-benar harus bangun lebih pagi. Nggak boleh begini terus."

Ia bergumam pelan sambil meniup permukaan susu yang masih mengepulkan uap panas. Kalimat itu hampir selalu ia ucapkan setiap pagi... dan hampir selalu gagal ia tepati keesokan harinya.

Sembari menunggu susunya sedikit dingin, Tirta kembali ke kamar untuk mengambil hair dryer. Suara mesin pengering memenuhi ruangan kecil itu, mengibaskan rambut hitam panjangnya agar kemeja yang baru dikenakan tidak ikut basah.

Tirta Adira adalah gadis sederhana yang tinggal sendirian di sebuah kontrakan yang letaknya tak jauh dari tempatnya bekerja. Ia bukan seseorang yang pandai mengutarakan semua isi kepalanya. Namun, ia selalu mampu menemukan kebahagiaan dari hal-hal kecil.

Senyumnya mudah merekah, bahkan karena hal yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain. Mata cokelatnya yang hangat berpadu dengan rambut hitam legam yang panjang, membuat wajahnya selalu terlihat teduh.

Namanya memang sering disalahartikan sebagai nama laki-laki. Namun Tirta tidak pernah mempermasalahkannya. Baginya, nama itu adalah doa dari sang ayah agar putrinya tumbuh setangguh air yang tak pernah berhenti mengalir. Dan doa itu seolah benar adanya. Di balik senyumnya yang lembut, Tirta adalah perempuan yang pantang menyerah dan penuh ambisi.

Drrtt...

Suara ponselnya bergetar di atas meja. Nama Jordan muncul di layar.

Senyum Tirta langsung mengembang. Sambil tetap mengeringkan rambut, ia meraih ponselnya dan menekan tombol hijau.

"Halo, sayang... Selamat pagi."

Mereka bahkan tidak sedang melakukan panggilan video, tetapi senyum di wajah Tirta tetap selebar itu.

"Kenapa kamu tidak meneleponku?" suara Jordan terdengar kesal. "Bukannya aku sudah bilang, bangunin aku pagi ini?"

Jantung Tirta langsung mencelos.

Sial... dia lupa lagi.

"Maaf, sayang. Aku bangun kesiangan, jadi tidak sempat menelepon."

"Kamu bilang kesiangan, tapi masih sempat mengeringkan rambut?" Jordan terkekeh sinis. "Ya sudah. Terus aja terlambat. Biar aku nggak pernah mengandalkan kamu lagi. Nggak berguna."

Tut.

Sambungan telepon terputus begitu saja.

Hair dryer di tangan Tirta perlahan berhenti. Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

"Bersabarlah..." bisiknya lirih. "Ingat semua kenangan yang sudah kalian lewati. Bertahanlah sedikit lebih lama."

Kalimat itu lebih terdengar seperti permohonan kepada dirinya sendiri.

Tanpa sadar, air mata mengalir membasahi pipinya, merusak riasan tipis yang baru saja selesai ia pakai.

"Ini bukan pertama kalinya..." gumamnya sambil mengusap air mata dengan cepat. "Jadi berhenti cengeng."

Ia menarik napas panjang, merapikan barang-barang yang berserakan, lalu berlari kecil menuju dapur. Segelas susu hangat diteguk hingga habis, disusul sepotong roti yang langsung digigit sambil mengenakan jaket.

Helm dikenakan. Motor dinyalakan.

Begitu keluar dari halaman kontrakan, Tirta kembali mengenakan topeng paling sempurnanya.

Senyum.

...********...

"Selamat pagi semuanya, apa kabar kalian hari ini?" sapa Tirta dengan senyuman hangat begitu memasuki ruangan. Sapaan itu langsung disambut oleh rekan-rekan kerjanya yang sudah lebih dulu datang.

"Pagi, Ta. Sebelum nanya kabar kami, coba tanya dulu kabar dirimu sendiri. Hari ini semuanya bakal berjalan lancar atau nggak?" ujar seorang gadis berambut sebahu dengan tatapan yang seolah mengintimidasi.

Dia adalah Lala Maharani, pemilik lidah setajam silet sekaligus sahabat terdekat Tirta.

"Jangan ganggu aku kalau cuma mau protes. Aku nggak punya waktu," balas Tirta santai sambil menyalakan komputer di mejanya.

Lala mendengus pelan.

"Tirta, aku benar-benar nggak ngerti sama kamu. Pria itu sudah kehilangan rasa cintanya sejak dia lebih memilih percaya sama teman-temannya daripada sama kamu. Dia—"

"Kak Tirta, Pak Hardi minta kakak membawa laporan kemarin ke ruangannya." Ucapan Lala terpotong oleh seorang anak magang yang baru saja datang. Tirta menoleh lalu mengangguk kecil.

"Baik, aku ke sana sekarang."

Ia berdiri sambil membawa map di tangannya.

"Selamat bekerja, Nona Lala."

Godaan itu berhasil membuat Tirta kabur dari ceramah panjang sahabatnya. Lala hanya bisa mengembuskan napas panjang.

"Sampai kapan aku harus repot begini? Menyebalkan."

Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi lalu mulai menyalakan komputer.

"Kak Lala, rencana kita selanjutnya apa?" tanya anak magang yang berdiri di samping mejanya.

"Nanti saja. Tunggu gadis keras kepala itu selesai sama laporannya."

...******...

Setelah menyelesaikan laporan yang diminta Pak Hardi, Tirta berniat mengajak Lala makan siang seperti biasanya.

Namun, saat mencari ke meja sahabatnya, kursi itu kosong.

"Aneh..."

Sembari menghubungi nomor Lala, Tirta melangkah menuju kantin kantor.

Blar!

Suara letusan balon membuat Tirta refleks memejamkan mata. Potongan-potongan kertas warna-warni berhamburan dan jatuh di atas kepalanya.

"Selamat ulang tahun, Tirta!"

Sorakan memenuhi kantin.

Tirta terdiam beberapa detik sambil memegangi dadanya yang masih berdebar karena terkejut.

Di hadapannya, Lala berdiri sambil membawa sebuah kue cokelat. Di belakangnya, seluruh rekan satu divisi tersenyum lebar.

"Ya ampun..." Tirta tertawa kecil. "Terima kasih banyak." Hari ini ia bahkan lupa bahwa dirinya sedang berulang tahun.

"Pantas saja aku nggak bisa menghubungimu," ucap Tirta sambil menyenggol pelan bahu Lala.

"Ternyata kalian lagi menyiapkan semua ini."

Lala terkekeh puas.

"Ayo, cepat buat permohonan."

Viona yang berdiri di sampingnya ikut mengangguk.

"Iya, sebelum lilinnya habis."

Tirta menatap nyala lilin kecil di atas kue itu. Perlahan ia memejamkan mata, mengucapkan doa dalam hati, lalu meniup lilin tersebut.

Sorakan dan tepuk tangan kembali memenuhi kantin.

Setelah itu mereka duduk bersama sambil menikmati makan siang yang sudah diambil masing-masing.

"Jadi..." Lala mengangkat sebelah alisnya. "Minta apa kali ini?"

Tirta mengunyah makanannya sebentar sebelum menjawab.

"Semoga semua rencanaku tahun ini dan tahun depan dilancarkan."

Lala mengangguk pelan.

"Dan semoga kamu segera dapat pria yang lebih baik dari si Jojon itu."

Tirta langsung mendelik.

"Namanya Jordan! Jangan seenaknya mengubah nama orang."

Melihat sahabatnya masih membela sang kekasih, Lala pura-pura ingin muntah.

"Ih... bucin."

Lalu ekspresinya berubah serius.

"Terserah siapa namanya. Dia lupa lagi, ya, kalau hari ini ulang tahunmu? Padahal setiap ulang tahunnya dia, kamu selalu rela begadang buat ngucapin tepat jam dua belas malam. Masa dia lupa lagi?" Tirta menggeleng pelan.

"Dia nggak seperti itu."

Baru saja kalimat itu selesai, ponselnya bergetar.

Nama Jordan muncul di layar.

Senyum Tirta langsung mengembang.

"Lihat."

Ia memperlihatkan isi pesan itu kepada Lala dengan wajah berbinar.

"Dia ngajak aku makan malam. Pasti dia lagi nyiapin kejutan."

Lala ikut melihat layar ponsel itu, lalu mengembuskan napas pelan.

Dalam hati, ia sungguh berharap kali ini Jordan benar-benar berubah.

Dan jika ternyata tidak...

Semoga suatu hari nanti, sahabatnya itu dipertemukan dengan seseorang yang benar-benar tahu bagaimana cara mencintainya.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

Chapter 2

Sore harinya, tepat pukul lima, Tirta melangkah dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahnya. Jordan sudah mengirim pesan untuk bertemu dengannya. Dari isi pesannya, terlihat bahwa pria itu sudah tidak marah lagi. Tadi pagi pun Tirta sempat mengirim beberapa makanan sebagai permintaan maaf.

"Hari ini apa yang sedang dia persiapkan untukku? Apa sesuatu seperti lamaran atau bahkan pernikahan? Ah! Tapi aku belum siap untuk itu. Sudahlah, Tirta, jangan berpikir yang aneh-aneh lagi. Dia pasti akan kesal kalau aku terlambat."

Tirta segera menghentikan khayalannya yang mulai melambung terlalu jauh. Tanpa membuang waktu, ia mengendarai motornya menuju kafe yang lokasinya sudah dikirimkan oleh sang kekasih.

Gadis itu memang sudah bersiap sejak dari kantor. Pakaiannya telah ia ganti dengan yang lebih bagus, lengkap dengan parfum yang semerbak menguar. Ia begitu bersemangat hingga senyum itu tak kunjung luntur dari wajahnya.

Sesampainya di depan kafe, motornya diparkirkan dengan rapi. Tirta turun, lalu melepaskan helm dan jaketnya. Dari luar, ia bisa melihat Jordan sedang duduk sambil menatap layar ponselnya.

Dengan menarik napas pelan, Tirta berjalan masuk. Namun, senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar ketika segerombolan orang datang menghampiri Jordan.

Mereka terlihat saling menyapa. Jordan pun tampak begitu senang bertemu dengan teman-temannya.

Tirta yang masih bingung memilih maju atau mundur hanya bisa terdiam. Ia takut harus mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar. Lebih baik tidak tahu apa pun daripada harus kembali melukai hatinya sendiri.

Dengan mantap, gadis itu berbalik. Ia memutuskan akan keluar lebih dulu dan masuk lagi setelah teman-teman Jordan pergi.

Namun, obrolan mereka yang terdengar begitu keras tetap berhasil masuk ke telinganya.

"Kamu sungguhan sama pacarmu itu, Jordan?" tanya seorang gadis. Dari nada suaranya terdengar jelas ia sedang menggoda sekaligus meledek.

"Apa maksud pertanyaanmu, Elisa? Tentu saja teman kita ini serius sama hubungannya. Iya, kan, Jordan?" sahut salah satu teman pria mereka.

Elisa hanya tertawa, seolah benar-benar meremehkan.

"Oh, ayolah. Aku tidak bilang apa-apa, kok. Aku cuma bertanya. Soalnya selama ini Jordan tidak pernah membawa pacarnya ke tempat tongkrongan. Jadi aku pikir dia cuma main-main saja."

Kelakarnya langsung disambut tawa teman-teman yang lain.

"Aku tidak bermaksud menghina, tapi apa yang dibilang gadis cantik ini benar. Kalau memang mau putus, ya putus saja secepatnya. Pacarmu itu jelek, hitam lagi. Aku rasa kamu juga tidak dapat apa-apa kalau terus pacaran sama dia." Ucapan itu disambut tawa yang semakin keras.

Jordan yang dianggap sebagai kekasihnya hanya diam sambil melengos. Hatinya memang terusik, tetapi rasa tidak enak untuk menegur teman-temannya jauh lebih besar.

"Benar. Mending sama Elisa, kan? Sudah cantik, putih, seksi lagi."

"Jangan-jangan karena Jordan belum pernah tidur sama dia, bro?"

"Bisa jadi. Soalnya yang kudengar semua mantannya sudah pernah dia tiduri. Tinggal si itik buruk rupa ini saja yang belum."

Tirta memejamkan matanya rapat. Air mata yang hampir jatuh segera ia seka sebelum benar-benar mengalir.

"Nona, ada yang bisa kami bantu?"

Suara seorang pelayan membuat Tirta tersadar. Pelayan itu tampak bingung karena sejak tadi gadis itu hanya berdiri di depan pintu tanpa berniat mencari tempat duduk.

Mendengar suara pelayan itu, Jordan menoleh dan menatap punggung kekasihnya. Ia langsung mengenali siapa gadis yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Tanpa pikir panjang, Jordan menyela obrolan teman-temannya dan berjalan menghampiri Tirta.

Sayangnya, gadis itu sudah lebih dulu melangkah keluar dengan rasa kecewa yang selama ini terus ia telan.

Rasanya ia muak. Ia ingin berhenti. Namun, sayangnya ia masih belum menyerah, seolah masih menunggu pria yang dulu pernah mencintainya dengan begitu besar untuk kembali.

Jordan mengejar Tirta dan mencekal pergelangan tangannya agar gadis itu berhenti.

"Sayang, kenapa tidak jadi makan malam denganku?" tanyanya sambil menatap kedua mata Tirta yang sudah memerah.

Ia tidak buta. Namun, tetap saja bertanya seolah tidak tahu apa-apa.

Apa pria itu bodoh? Atau memang pura-pura bodoh?

Ah, tapi sayangnya bukan Jordan yang bodoh. Melainkan dirinya yang masih memilih diam dalam keadaan seperti ini.

"Aku ingin pulang saja. Aku sudah lelah."

Tirta melepaskan tangan besar yang menggenggam pergelangannya. Jordan mengernyitkan dahi melihat sikap itu.

"Kamu marah karena perkataan teman-temanku? Oh, ayolah. Mereka cuma bercanda." Ujarnya sambil terkekeh pelan. Tirta tersenyum. Tatapannya sudah benar-benar menyerah. Bahkan rasanya, amarah itu sudah tidak lagi ada di dalam hatinya.

Dan mungkin... perasaan cinta itu pun sebenarnya sudah ikut menghilang.

"Oh...."

"Hanya itu? Kamu tidak marah? Ini tidak seperti dirimu." Jordan menatapnya heran.

"Kamu tahu hari ini hari apa?" tanya Tirta sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat.

"Ada apa dengan hari ini? Hari anniversary kita? Sepertinya bukan."

"Lalu kenapa kamu mengajakku makan malam?"

"Karena tadi pagi aku marah padamu. Aku ingin minta maaf."

Jawaban itu justru membuat Tirta tertawa cukup keras. Air matanya ikut jatuh bersama tawanya.

"Sayang, kamu kenapa? Tidak seperti biasanya. Apa ada masalah di kantor?"

"Meminta maaf, katamu?" Tirta tertawa lagi. "Lucu sekali kata itu keluar dari bibirmu. Lalu besok kamu akan melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih buruk, lalu meminta maaf lagi. Bukankah meminta maaf itu memang hal yang paling mudah diucapkan?"

Jordan memegang kedua pundak gadis di depannya. Tirta sesekali mengusap air matanya, tetapi tawanya masih terdengar.

"Sayang, kamu marah? Aku tidak bisa membaca setiap perasaanmu kalau kamu tidak mengatakannya dengan jujur." Jordan membelai pipi Tirta. Namun, gadis itu langsung menepis kedua tangan pria tersebut.

"Marah?" Tirta menatap Jordan dengan sorot mata yang tegas. "Apa aku masih pantas marah?"

Jordan terdiam.

"Aku tidak peduli kamu ingat atau tidak hari ini hari apa. Tapi dengarkan aku baik-baik." Tirta menarik napas pelan. "Kesabaranku juga ada batasnya dalam sebuah hubungan. Selama dua puluh satu tahun hidupku, aku tidak pernah merendahkan diriku serendah ini."

Ia menatap Jordan tanpa berkedip.

"Jadi... ini adalah kesempatan terakhir yang bisa aku berikan."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Tirta langsung menaiki motornya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.

Sementara Jordan masih berdiri mematung. Untuk pertama kalinya, ia melihat tatapan mata Tirta yang benar-benar kosong.

Tatapan yang tidak lagi dipenuhi amarah.

Tatapan yang hanya menyisakan kehampaan.

Saat Jordan hendak mengejar, Elisa tiba-tiba datang dan meraih lengannya, menghentikan langkah pria itu.

"Pacarmu itu terlalu serius menanggapi candaan tadi. Biarkan saja. Nanti juga baik sendiri." Ucapnya dengan suara manja sambil bergelayut di lengan Jordan. Jordan langsung menepis tangan gadis itu dan menatapnya tajam.

"Sepertinya kamu lupa. Perlu aku ingatkan lagi kalau aku sudah punya pacar?" Tanpa menunggu jawaban, Jordan berbalik dan kembali masuk ke dalam kafe, tempat teman-temannya masih menunggu.

Sementara itu, Tirta sempat melihat melalui kaca spion bagaimana gadis cantik itu bergelayut manja di lengan pria yang masih ia sebut sebagai kekasihnya.

Senyum tipis kembali terukir di wajahnya.

Senyum yang terasa begitu pahit.

Betapa bodohnya dirinya selama ini.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

Chapter 3

Semalaman gadis itu menangis dalam pelukan Lala. Sahabatnya itu memang sudah sangat tahu bahwa Tirta akan sangat kecewa. Sudah berkali-kali Lala bertengkar dengan Tirta hanya untuk menjelaskan betapa bodohnya gadis itu yang terus mempertahankan hubungan tersebut. Namun, saat mendengar semua pengakuan yang keluar dari mulut sahabatnya, hati Lala justru ikut terasa sesak.

Andai bisa, ia ingin Jordan kembali peduli seperti saat mereka baru menjalin hubungan.

Selama tiga tahun, Tirta menjalani hubungan yang begitu manis di tahun pertama, tetapi berubah menjadi sangat menyesakkan di tahun-tahun berikutnya, saat pria itu mulai bergaul dengan orang-orang yang tak memiliki empati.

Pagi ini, dengan mata yang masih sembab, Tirta duduk termenung menatap sarapan yang sudah disiapkan oleh Lala. Gadis itu memutuskan untuk menginap beberapa hari dengan alasan tidak ingin meninggalkan Tirta sendirian di kontrakan.

Tirta bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan semua perasaannya. Jadi, jika ia sudah bercerita dengan sangat detail, itu berarti kepercayaannya kepada orang tersebut begitu besar.

"Makanlah. Kita berangkat bersama nanti." Lala mendorong sepiring nasi beserta lauk yang telah ia siapkan ke hadapan Tirta. Tirta menarik piring itu dan mulai menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Ia memiliki penyakit asam lambung. Jika tidak sarapan, meski hanya sedikit, perutnya pasti akan kembali terasa sakit.

"Terima kasih, Lala." Ucapannya lirih sambil menunduk. Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ditahan.

"Makanlah. Jangan menangis di depan nasi. Nenekku bilang nanti nasinya merasa kamu tidak bersyukur atas rezeki yang diberikan." Lala mencoba menghiburnya, meski suaranya sendiri terdengar tercekat.

Setelah selesai makan, Tirta keluar lebih dulu. Ia akan memanaskan motornya sambil menunggu Lala yang masih memasukkan beberapa berkas dan keperluan lainnya ke dalam tas.

Ceklek!

Tirta terkejut ketika melihat sebuah buket bunga berada tepat di depan wajahnya. Seorang pria sedang memegang buket itu. Jordan perlahan menurunkan bunga tersebut lalu menyodorkannya kepada Tirta yang masih terpaku.

"Selamat ulang tahun, Sayang. Aku baru sadar kalau kemarin hari ulang tahunmu. Aku benar-benar minta maaf karena melupakannya. Untuk hadiahnya akan aku berikan nanti malam." Pria itu tersenyum, berharap kekasihnya sudah tidak marah lagi.

"Sayang, kesempatan yang kamu berikan kemarin tidak akan aku sia-siakan. Aku tahu selama ini aku benar-benar sudah mengecewakanmu. Aku tidak menghargaimu sebagaimana mestinya, dan aku sungguh minta maaf." Jordan menggenggam tangan Tirta yang masih memilih diam.

"Kamu bisa memaafkanku, kan? Apa kamu masih marah?" Ia berusaha mengajak Tirta berbicara.

Padahal tanpa ia sadari, semakin Tirta memaklumi semua kesalahannya dan tidak lagi menunjukkan amarah, semakin hilang pula perasaan yang selama ini ia pertahankan.

"Hm... terima kasih."

Hanya itu yang mampu Tirta ucapkan dengan senyum yang dipaksakan.

Lala yang melihat semuanya mulai naik pitam. Rasanya ia ingin menghajar wajah pria yang merasa dirinya begitu sempurna itu.

Gadis itu hanya bersandar di dinding, ingin melihat sejauh mana sahabatnya masih akan bersikap baik kepada Jordan.

"Aku tahu kamu masih marah. Tapi kali ini percayalah padaku. Aku akan membuktikan kalau aku benar-benar mengakui kesalahanku. Malam ini datanglah ke tempat tongkronganku. Aku akan memperkenalkanmu kepada mereka sekaligus memberi pelajaran atas ucapan mereka kemarin."

Jordan memohon dengan sungguh-sungguh.

Tirta terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala.

"Jam berapa? Aku akan datang."

Entah mengapa, hatinya sama sekali tidak menerima semua kata maaf yang keluar dari mulut pria itu.

"Nanti jam delapan malam, di Blok A. Aku jemput kamu, ya."

"Tidak usah. Aku akan datang sendiri. Kita bertemu di sana saja. Aku harus ke kantor, sudah terlambat. Ayo, Lala." Panggilnya kepada sahabatnya yang sejak tadi menatap Jordan dengan tatapan tajam.

"Ckckck... sudah miskin, tidak tahu diri lagi." Lala menyenggol bahu Jordan saat melewatinya. Jordan hanya mendecak kesal. Gadis itu memang tidak pernah menyukainya, bahkan setiap hari ucapannya semakin pedas.

...****************...

Tepat pukul tujuh malam, Tirta sudah bersiap dengan pakaian kasual. Malam ini ia mengenakan celana jeans biru, tanktop sebagai dalaman, dan kemeja putih sebagai outer.

Lala duduk di atas kasur sambil memakan sepiring buah.

"Yakin mau pergi sendiri? Aku bisa ikut." Tanya Lala, masih merasa khawatir Jordan akan bertindak sesuka hati.

"Aku bisa sendiri. Nanti aku kabari." Jawab Tirta sambil meraih tas selempangnya dan mengambil kunci motor.

"Kamu sudah siap dengan apa pun yang akan terjadi nanti setelah memberinya kesempatan lagi?" Lala memastikan sahabatnya benar-benar memahami konsekuensi dari keputusan itu.

Tirta menoleh lalu tersenyum tipis.

"Sepertinya hatiku hanya sedang menunggu dia membuat satu kesalahan lagi. Sudah cukup aku berjalan terlalu jauh meninggalkan diriku sendiri hanya demi pria seperti dia." Tatapannya menerawang jauh.

Setelah berpamitan, Tirta segera pergi menuju tempat yang telah ditentukan.

"Tirta sudah mulai bangkit lagi. Aku harap setelah ini kamu benar-benar mendapatkan seseorang yang lebih baik." Itulah doa yang selalu Lala panjatkan.

Ia akan selalu menemani sahabatnya dalam keadaan apa pun, karena Tirta pun selalu melakukan hal yang sama untuknya. Gadis polos itu tidak akan ia biarkan jatuh ke lubang yang tak berujung.

Sepanjang perjalanan, Tirta memandangi jalanan yang ia lewati.

Ini adalah pertama kalinya Jordan akan memperkenalkannya kepada teman-teman tongkrongannya.

Ia tidak merasa senang.

Ia juga tidak merasa sedih.

Yang ada hanyalah kehampaan.

"Kamu sudah datang, Sayang. Ayo masuk." Jordan ternyata sudah menunggu di depan sebuah restoran yang berada di Blok A. Dari luar, tempat itu terlihat modern, dipenuhi anak-anak muda, dan cukup ramai.

"Ini salah satu restoran milik temanku. Kami sedang merayakan kelulusannya. Ayo, aku kenalkan kamu." Jordan menggenggam tangan Tirta, lalu mengajaknya masuk ke dalam bangunan bernuansa cokelat itu.

Namun, kedatangan Tirta tidak disambut dengan hangat. Sebagian dari mereka hanya memandang tanpa ekspresi, seolah sedang menilai dirinya.

"Guys! Perhatian semuanya!" Jordan bertepuk tangan.

"Perkenalkan, ini Tirta. Pacarku." Kemudian ia menunjuk satu per satu.

"Itu Elisa, Bobbi, Edwin, Gangga, dan masih ada beberapa teman yang belum datang." Seperti biasa, Tirta hanya membalas dengan senyum ramah.

Ia adalah tipe orang yang mudah bergaul dengan siapa pun selama orang tersebut bisa diajak berkomunikasi dengan baik.

Namun entah mengapa, ia merasa teman-teman Jordan bukanlah orang-orang yang bisa ia ajak berbicara dengan nyaman.

"Kamu mau ikut ke belakang? Aku harus membantu Bobbi sebentar." Jordan mengusap pelan pundak Tirta.

"Aku tunggu di sini saja. Kamu pergilah." Jawab Tirta dengan sedikit ragu. "Lagi pula hanya sebentar."

"Kamu yakin?" Tirta mengangguk.

Setelah Jordan pergi, ia duduk di salah satu meja sambil memainkan ponselnya.

Beberapa menit kemudian, Elisa datang dan duduk tepat di hadapannya.

"Hi! Kamu Tirta, ya?"

Elisa menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, lalu berdecak pelan.

"Tidak ada yang spesial darimu. Kok bisa, sih, kamu jadi pacarnya Jordan?"

Ia kembali mengamati Tirta sebelum menyeringai tipis.

"Jangan-jangan kamu menyerahkan tubuhmu? Aku lihat postur badanmu lumayan juga."

"Oh... jadi begini, ya, mulut yang tidak pernah dididik." Jawab Tirta dengan tenang, tetapi setiap katanya terdengar tajam. Sejak awal ia sudah tahu kalau gadis itu menyukai Jordan.

Tatapan matanya saja sudah cukup menunjukkan bagaimana murahnya harga diri seseorang yang terus menggoda kekasih orang lain.

"Tajam juga ucapanmu." Elisa menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kenapa? Apa hatimu mulai bergetar? Khawatir Jordan akan meninggalkanmu... lalu memilih aku?"

Ia sengaja mengucapkan kalimat itu untuk memancing emosi Tirta.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!