Indonesia
NovelToon NovelToon

One Piece : Sistem In The Shinobi World

Bab 1: Terbangun di Pulau Tak Dikenal

Hawa asin lautan dan bau pasir basah menjadi hal pertama yang menyapa kesadaran Rian. Rasa nyeri yang menusuk di kepala membuatnya meringis, memaksa matanya terbuka perlahan melawan sengatan terik matahari yang berada tepat di atas kepala.

Ia terbatuk pendek, memuntahkan sedikit air asin sebelum akhirnya berhasil duduk.

Di depannya, membentang lautan biru tanpa tepi. Di belakangnya, dinding tebing batu yang ditumbuhi pepohonan lebat menjorok ke arah pantai berpasir putih. Tidak ada jejak kaki selain bekas tubuhnya sendiri. Tidak ada pelabuhan, tidak ada dermaga, dan tidak ada tanda-tanda kapal melintas di garis cakrawala.

Rian menyapu wajahnya yang basah dengan telapak tangan, mencoba mengingat apa yang terjadi. Mengingat kehidupan lamanya di dunia modern—bunyi klakson, gemerlap kota, dan momen terakhir sebelum kesadarannya terputus secara mendadak—membuat otaknya terasa berdenyut.

"Ini... bukan kamar saya," bisiknya pelan, suaranya parau.

Ia berdiri dengan kaki gemetar, memeriksa kondisi fisiknya. Pakaian kasual yang ia kenakan kini koyak di beberapa bagian dan basah kuyup oleh air laut. Tubuhnya terasa lemah, kelaparan, dan mengalami dehidrasi ringan.

Saat Rian melangkah mendekati tepi hutan untuk mencari peneduh, sebuah suara berdenting datar menggema langsung di dalam kepalanya, diikuti oleh hamparan layar semi-transparan berwarna biru muda yang mengapung di udara.

[ONE PIECE REPUTATION SYSTEM: ACTIVATED]

[Pengguna terdeteksi dalam kondisi hidup. Mengakuisisi data lingkungan...] [Lokasi: Pulau Terpencil (Status: Belum Teridentifikasi)] [Status Awal Diberikan.]

Rian menghentikan langkahnya, menatap layar lunak itu dengan mata membelalak. Sebagai seorang penggemar anime dan fiksi fantasi, konsep antarmuka semacam ini sama sekali tidak asing baginya. Namun, membaca nama sistem yang tertera di panel utama membuatnya mengernyit heran.

"One Piece Reputation System?" gumamnya. "Bukan Chakra... bukan Shinobi... tapi One Piece?"

Sebelum Rian sempat merenungkan maksud dari nama sistem tersebut, panel layar berubah, menampilkan antarmuka utama yang sangat rinci.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

STATUS

Nama: Rian Usia: 20 Level: 1

Reputation: 0 Influence: 0

Strength: 8 (Rata-rata manusia dewasa: 10) Speed: 7 Vitality: 8 Stamina: 6 Intelligence: 14

System Point: 100 SP

Skill: -

Character: -

Achievement: -

Territory: -

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

"Statistik fisikku bahkan di bawah rata-rata orang normal," kata Rian seraya memijat pelipisnya. Ia tidak terkejut, mengingat gaya hidupnya di dunia sebelumnya jauh dari kata atletis.

Layar di depannya kembali bergeser menampilkan instruksi sederhana dari sistem.

[Mekanisme Utama Sistem:]

Reputation (Reputasi): Diperoleh melalui tindakan yang memengaruhi dunia di sekitar Host, baik melalui pembangunan faksi, penaklukan wilayah, kekalahan musuh, maupun pengaruh politik. Reputasi akan membuka tingkat perekrutan karakter (Character Recruitment) dan memperluas tingkatan Shop.

System Point (SP): Diperoleh dari peningkatan Reputasi, pencapaian Achievement, atau konversi sumber daya tertentu. Digunakan untuk membeli kemampuan, barang, dan fasilitas di Shop.

"Jadi, kunci utamanya adalah reputasi," Rian menganalisis informasi tersebut dengan tenang. "Tapi untuk mendapatkan reputasi, aku harus berinteraksi dengan dunia luar. Dan untuk berinteraksi dengan dunia luar, aku harus selamat di pulau ini terlebih dahulu."

Ia menutup layar sistem dan menatap ke dalam hutan yang lebat. Perutnya berbunyi keras, mengingatkan kebutuhan paling mendasar saat ini: air bersih dan makanan.

Rian memungut sebatang kayu keras yang terdampar di pantai sebagai senjata darurat. Ia mulai melangkah masuk ke dalam hutan, menjaga pandangannya tetap waspada. Suara deburan ombak perlahan digantikan oleh cicitan burung asing dan gesekan dedaunan yang ditiup angin.

Vegetasi di pulau ini sangat lebat. Pohon-pohon berukuran raksasa dengan akar menonjol menciptakan jalur yang sulit dilalui. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit menanjak, telinga Rian menangkap suara gemericik air.

Rasa dahaga memaksanya mempercepat langkah. Di balik rimbunnya semak belukar, ia menemukan aliran sungai kecil yang jernih memotong bebatuan tebing. Tanpa ragu, Rian mendekat dan meminum air dingin tersebut menggunakan tangannya yang ditangkupkan.

"Segar..." ia menghela napas lega, merasakan staminanya sedikit pulih.

Namun, sebelum ia sempat beristirahat di pinggir sungai, suara semak-semak di seberang sungai berkresek hebat. Rian bersiap, menggenggam kayu di tangannya erat-erat.

Dari balik semak, muncul seekor babi hutan berukuran cukup besar. Matanya merah dan memiliki sepasang taring melengkung yang tajam. Binatang itu mengendus udara sebelum pandangannya terkunci pada Rian.

[Peringatan: Potensi Ancam Terdeteksi - Babi Hutan Liar]

Rian menyadari kondisi fisiknya yang buruk. Dengan Strength dan Speed di bawah rata-rata manusia biasa, bertarung secara terbuka dengan babi hutan sebesar itu adalah tindakan konyol.

Babi hutan itu menggaruk tanah dengan kaki depannya, mempersiapkan dorongan untuk menyundul.

Rian membuka menu Shop sistem secara cepat di dalam pikirannya.

[SYSTEM SHOP - CATEGORY: SKILL (BASIC)]

Rokushiki: Soru (Basic) - Cost: 100 SP

Rokushiki: Kami-e (Basic) - Cost: 100 SP

Basic Swordsmanship - Cost: 80 SP

Basic Martial Arts - Cost: 50 SP

"Satu-satunya modal awal cuma 100 SP..." Rian berpikir cepat. Babi hutan itu mulai melaju kencang menerjang sungai kecil menuju ke arahnya.

Mengambil Swordsmanship tanpa pedang yang memadai tidak berguna. Soru membutuhkan kekuatan fisik yang besar untuk menghentakkan kaki ke tanah, yang mana staminanya saat ini sangat terbatas.

"Beli Rokushiki: Kami-e (Basic)!" perintah Rian dalam hati.

[Membeli Skill: Rokushiki: Kami-e (Basic)... Berhasil.] [Sisa System Point: 0 SP]

Seketika, sebuah pemahaman intuitif mengalir ke dalam otot dan saraf tubuh Rian. Ia merasakan bagaimana cara melemaskan tubuh seperti kertas yang meliuk mengikuti pola aliran udara.

Babi hutan itu melompat dengan taring terarah tepat ke dada Rian.

Rian tidak mencoba menahan atau melompat menjauh. Pada detik terakhir, ia mengendurkan seluruh persendiannya. Tubuhnya tertekuk secara alami ke arah samping saat dorongan angin dari laju babi hutan mendesaknya, membuat taring tajam itu meleset hanya beberapa milimeter dari pakaiannya.

Babi hutan itu menghantam batang pohon besar di belakang Rian dengan keras hingga kebingungan.

Menggunakan sisa tenaganya dan kayu berujung runcing di tangannya, Rian memanfaat momentum tersebut untuk memukul bagian belakang kepala binatang yang sedang linglung itu sekuat tenaga. Kayu itu patah, namun benturan keras cukup untuk membuat babi hutan itu pingsan tergeletak di tanah.

Rian terduduk di tanah, napasnya memburu keras. Keringat dingin mengucur di dahinya. Kami-e tingkat dasar tadi menguras stamina fisiknya yang memang sudah rendah.

Denting sistem kembali berbunyi.

[ACHIEVEMENT UNLOCKED: First Survival]

Bertahan hidup dari ancaman pertama di dunia baru.

Reward: +50 System Point, +1 Basic Hunting Knife.

Sebuah pisau berburu dengan sarung kulit muncul mengapung di udara sebelum jatuh ke pangkuan Rian.

Rian mengambil pisau tersebut, merasakan bobotnya yang pas di tangan. Ia menatap babi hutan yang pingsan, lalu memandang ke arah langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan.

Ia telah mendapatkan sumber air, makanan, senjata dasar, dan kemampuan bertahan hidup pertama dari dunia One Piece. Namun, misteri terbesar masih belum terpecahkan: Di bagian dunia mana pulau ini berada, dan siapa yang menguasai lautan di sekitarnya?

Rian menyarungkan pisaunya, bersiap untuk membuat perlindungan sementara sebelum malam benar-benar jatuh.

Bab 2: Jejak Desa Kabut dan Perahu yang Datang

Rian mengusap permukaan plat logam pelindung dahi Kirigakure yang dingin di telapak tangannya. Goresan mendalam pada garis gelombang tersebut mengindikasikan bahwa pemilik jasad ini—atau bahkan seluruh kru kapal—mungkin adalah para pelarian (nukenin) atau pedagang gelap yang berusaha melarikan diri dari wilayah Negara Air.

Ia memfokuskan pikirannya pada antarmuka sistem yang baru saja terbuka.

Layar semi-transparan membentang di pandangannya, menampilkan fitur baru: World Map (Basic Region).

Peta tersebut digambar dengan garis-garis neon biru yang cukup detail. Pulau terpencil tempat Rian berada ditampilkan sebagai titik berkedip keci di bagian tengah. Di sebelah barat daya, berjarak sekitar dua belas hingga lima belas mil laut, terhampar gugusan pulau yang jauh lebih besar dengan label samar: Kepulauan Pinggiran Negara Air (Mizu no Kuni).

"Dua belas mil laut..." Rian bergumam seraya mengamati skala jarak di peta. "Tanpa kapal yang layak, memotong lautan lepas sejauh itu sama saja dengan bunuh diri."

Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada bangkai kapal kayu di depannya. Lambung utamanya memang telah hancur dihantam karang, namun bagian geladak belakang masih relatif utuh karena tertahan posisi bebatuan tinggi.

Rian memanjat puing-puing kayu dengan berhati-hati, menjaga pijakannya agar tidak tergelincir ke celah karang yang tajam.

Di dalam kabin kapten yang sudah miring dan tergenang air laut setinggi mata kaki, Rian mulai menggeledah sisa-sisa barang yang tidak terbawa arus. Sebagian besar peti kayu telah pecah dan isinya tersapu laut, tetapi di balik sebuah lemari kayu tebal yang robek, ia menemukan sebuah kotak besi terkunci.

Rian menggunakan pisau berburu (Basic Hunting Knife) di tangan kanannya, menyisipkan bilah baja itu ke celah engsel kotak yang sudah berkarat akibat air asin, lalu menekan gagangnya sekuat tenaga.

Klek!

Engsel yang lapuk itu patah. Di dalam kotak besi tersebut terdapat beberapa benda yang masih selamat dari genangan air:

Sebuah kompas pelaut sederhana bermaterial kuningan.

Gulungan tali tambang serat rami sepanjang kira-kira delapan meter.

Sebuah kapak besi kecil yang sedikit berkarat di bagian matanya, namun masih kokoh.

Buntalan kain lilin kedap air yang membungkus sebuah buku catatan bertuliskan tinta hitam.

Rian mengambil seluruh barang tersebut dan memasukkannya ke dalam kalkulasi logisnya. Buku catatan itu menarik perhatian utamanya; ia membuka lipatan kain lilin dan memeriksa lembaran-lembaran kertas tebal di dalamnya.

Buku itu adalah jurnal pelayaran. Meskipun beberapa bagian halaman depan sudah mengembang dan tintanya kabur terkena kelembapan, lembaran-lembaran terakhir masih bisa dibaca dengan cukup jelas.

...Hari ke-14: Patroli Pasukan Khusus Kiri (Oin-nin) semakin ketat di sekitar pelabuhan barat. Perintah dari Mizukage Keempat makin tidak masuk akal. Siapa pun yang dicurigai memiliki garis keturunan khusus (Kekkei Genkai) langsung dieksekusi tanpa pengadilan... Kami tidak punya pilihan selain berlayar ke arah timur menuju lautan lepas...

Rian menahan napas sejenak setelah membaca paragraf tersebut.

"Mizukage Keempat... Yagura," bisik Rian.

Informasi ini memberikan gambaran timeline yang sangat krusial. Dunia Naruto saat ini sedang berada dalam era pemerintahan Yagura Karatachi—masa-masa paling kelam dalam sejarah Kirigakure yang dikenal sebagai era Desa Kabut Berdarah (Chigiri no Sato). Era di mana perang saudara, pembantaian pemilik Kekkei Genkai, dan kontrol penuh dari balik layar oleh Uchiha Obito sedang berlangsung.

Ini adalah periode yang sangat berbahaya, namun di saat yang sama menyimpan kekosongan kekuasaan dan kekacauan politik yang besar di wilayah lautan Negara Air.

Denting sistem berbunyi pelan di kepalanya.

[SISTEM NOTIFIKASI: Pengetahuan Lingkungan Diperbarui]

Timeline Terkonfirmasi: Era Desa Kabut Berdarah (Mizu no Kuni).

Tingkat Bahaya Wilayah: Tinggi.

Rian menutup jurnal tersebut dan membungkusnya kembali dengan kain lilin. Ia membawa kapak besi kecil, kompas, tali rami, serta koin Ryo dan pelindung dahi ke tepi pantai yang kering.

Dengan tambahan kapak besi kecil ini, ia sekarang bisa menebang pohon-pohon berukuran sedang di pulau untuk membuat rakit atau memperkuat tempat perlindungan sementaranya.

Rian memeriksa panel statusnya untuk memastikan seluruh barang bawaannya tercatat secara akurat.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

SYSTEM STATUS

Nama: Rian Usia: 20 Level: 1

Strength: 8 Speed: 7 Vitality: 8 Stamina: 7 Intelligence: 14

System Point: 150 SP Reputation: 0

Skills:

Rokushiki: Kami-e (Basic)

Characters: -

Inventory:

Basic Hunting Knife (1)

Kapak Besi Kecil (1)

Kompas Kuningan (1)

Tali Tambang Rami (8 meter)

Pelindung Dahi Kirigakure Tergores (1)

Jurnal Pelayaran Kuno (1)

Uang Tunai: 12.000 Ryo

Sisa Daging Babi Hutan Panggang

Achievement:

First Survival

World Discovery

Organization: - Territory: -

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Dengan total 150 SP yang dimilikinya saat ini, Rian mulai mempertimbangkan langkah selanjutnya. Ia membuka menu Shop untuk memeriksa opsi yang tersedia.

[SYSTEM SHOP - CATEGORY: SKILL / ITEM]

Navigation (Basic) - Cost: 100 SP (Memberikan pemahaman dasar membaca arah angin, arus laut, dan pemetaan bintang.)

Rokushiki: Geppo (Basic) - Cost: 150 SP (Membutuhkan Strength minimal 12 - Status tidak memenuhi)

Kenbunshoku Haki / Observation Haki (Basic) - Cost: 150 SP (Meningkatkan persepsi indra untuk merasakan keberadaan dan ancaman di sekitar.)

Blueprint: Small Fishing Raft - Cost: 50 SP

Rian mengamati opsi tersebut secara mendalam. Geppo belum bisa dibeli karena batasan atribut fisiknya yang masih lemah (Strength 8). Kenbunshoku Haki seharga 150 SP sangat menggiurkan untuk meningkatkan kewaspadaan, namun jika ia menghabiskan seluruh SP-nya sekarang, ia tidak akan memiliki cadangan poin sama sekali jika terjadi keadaan darurat.

"Simpan dulu," keputusan Rian mantap. "Keunggulan terbesarku saat ini adalah aku tahu peta wilayah dan situasi politik dunia ini, sementara orang lain tidak tahu keberadaanku di pulau ini."

Saat Rian sedang memasukkan kapak dan tali ke dalam buntalan kain untuk dibawa kembali ke perkemahannya di tebing utara, telinganya—yang kini lebih peka terhadap perubahan pergerakan lingkungan akibat penguasaan Kami-e—menangkap suara tak biasa dari arah lautan lepas.

Kepakan layar basah dan derak kayu yang bergesekan dengan air.

Rian dengan cepat bersembunyi di balik rimbunnya semak-semak tebing karang pantai utara, merapatkan tubuhnya ke tanah dan mengintip ke arah laut.

Sebuah perahu kayu kecil bernavigasi tunggal perlahan memasuki celah batu karang di sisi utara pulau, memotong ombak menuju pantai tak jauh dari lokasi bangkai kapal yang baru saja ia selidiki.

Perahu itu berukuran panjang sekitar empat meter, menggunakan layar kain lusuh berwarna abu-abu.

Di atas perahu tersebut, tampak dua orang pria.

Pria pertama berdiri di bagian kemudi, mengenakan celana longgar yang terkoyak di bagian lutut dan rompi kain tanpa lengan. Matanya celingukan menatap sekeliling pantai dengan penuh kewaspadaan. Di pinggangnya terselip sebilah parang pemotong kayu.

Pria kedua duduk di bagian depan, memegang seutas tali layar. Wajahnya kurus, dengan penutup mata kain di mata kirinya. Di punggungnya terikat sebuah kantong kain tebal yang tampak berisi.

"Lihat itu, Jiro!" bisik pria berpenutup mata dengan suara serak namun cukup keras hingga terdengar oleh Rian yang bersembunyi sekitar dua puluh meter di atas tebing karang. "Ada bangkai kapal di atas karang! Kapal pelarian yang dihantam badai dua hari lalu!"

Pria bernama Jiro menutupi matanya dari sengatan matahari, memandang puing-puing kapal yang sedang diselidiki Rian beberapa saat lalu. "Pelan-pelan, Ario. Jangan langsung lompat. Wilayah perairan ini dekat dengan jalur patroli kapal pemburu Kiri. Kalau ada ninja yang selamat dari kapal itu, kita bisa mati konyol."

"Bongkahan kayu sebesar itu dihantam badai sejauh ini? Mana mungkin ada yang selamat," bantah Ario seraya melompati celah perahu begitu bagian bawahnya menyentuh pasir dangkal. "Pasti ada barang berharga atau uang Ryo yang tertinggal di dalam kabin."

Rian menahan napasnya di balik semak-semak. Matanya menilai kedua pria tersebut secara analitis.

Dari cara bergerak, postur tubuh, dan ketiadaan fluktuasi energi yang mencolok di sekitar mereka, kedua orang ini tampak bukan ninja (shinobi), melainkan penjarah pantai atau bajak laut kelas teri yang berkeliaran di perairan perbatasan Negara Air.

Namun bagi Rian, yang kekuatan fisiknya masih di bawah rata-rata manusia dewasa, dua pria dewasa yang bersenjata parang tetap merupakan ancaman nyata jika ia dihadapkan pada pertarungan terbuka.

Namun di saat yang sama, perahu kecil yang mereka bawa adalah tiket utama Rian untuk meninggalkan pulau terpencil ini.

Bab 3: Peluang di Antara Puing

Rian menahan napasnya di balik semak-semak tebing karang, menjaga agar posisinya tetap tak terlihat. Matanya meneliti setiap pergerakan dua pria di pantai utara itu.

Pria bernama Jiro melompat turun dari perahu, memegang seutas tali rami lalu mengikatkannya pada batang kayu terdampar yang tertanam di pasir. Ia berpaling pada temannya yang berpenutup mata.

"Ario, kamu jaga perahu ini," perintah Jiro seraya menunjuk ke arah bangkai kapal kayu di atas karang. "Aku akan naik ke kabin utama untuk memeriksa apa ada peti emas atau koin Ryo yang tertinggal. Kalau melihat bendera patroli Kirigakure di garis cakrawala, langsung tiup peluit."

"Cepatlah, Jiro," balas Ario seraya mendarat di pasir basah. Ia membetulkan posisi kantong kain di punggungnya. "Tempat ini terlalu dekat dengan zona patroli Desa Kabut. Aku tidak mau leherku dipenggal ninja Kiri cuma demi beberapa keping perak."

Jiro tidak menjawab lagi. Ia menyibak semak pantai dan mulai memanjat bebatuan karang licin menuju lambung kapal yang kandas.

Rian, yang mengamati dari jarak sekitar dua puluh meter di atas tebing, mengagumi kebetulan ini. Musuhnya terpisah secara alami.

"Satu orang menjaga perahu, satu orang berada di dalam kabin kapal..." Rian menganalisis situasi di dalam kepalanya. Intelligence bernilai 14 membuatnya mampu berpikir dingin dan terstruktur di bawah tekanan.

Kekuatan fisiknya yang hanya berada di angka 8 membuat pertarungan langsung dua melawan satu sangat berisiko. Namun, memisahkan sasaran dan memanfaat keunggulan kejutan adalah cerita yang berbeda.

Ario berjalan mendekati sebuah batu karang besar di tepi pantai, menyandarkan punggungnya di sana seraya mencabut sebatang rumput kering untuk digigit. Parang pemotong kayu di pinggangnya terkulai begitu saja.

Rian mulai bergerak. Ia memanfaatkan kelenturan tubuh yang dipelajari dari Rokushiki: Kami-e (Basic) untuk mengontrol setiap tumpuan berat badannya. Langkah kakinya menyusuri celah batu karang tanpa menimbulkan gesekan kerikil sedikit pun.

Ia turun dari tebing utara secara memutar, berlindung di balik bayang-bayang batu karang besar tepat di belakang posisi Ario berdiri.

Rian menggenggam erat gagang Basic Hunting Knife di tangan kanannya.

Saat jarak mereka tinggal tiga meter, tumit Rian memijat serpihan cangkang kerang kering di atas pasir.

Krik.

Suara halus itu sudah cukup untuk mengejutkan Ario yang berada dalam kondisi waspada. Pria berpenutup mata itu berbalik seketika, matanya membelalak kaget melihat sosok Rian yang berpakaian koyak berdiri sangat dekat darinya.

"Siapa kamu?!" pekik Ario terperanjat. Tangannya dengan refleks memegang gagang parang di pinggang dan menariknya keluar, mengayunkannya secara melintang ke arah leher Rian.

Tebasan parang itu cepat dan liar, didorong oleh kepanikan.

Di saat kritis tersebut, Rian mengaktifkan Kami-e.

Seketika, persepsi Rian terhadap pergerakan udara di sekitarnya mengajam. Tubuhnya mengendur seperti helai kertas ringan. Saat mata bilah parang yang tajam melaju menuju lehernya, tubuh Rian meliuk ke belakang secara alami, membiarkan tebasan baja itu melintas hanya beberapa milimeter di atas dadanya tanpa menyentuh selembar kain pun.

Ario kehilangan keseimbangan akibat dorongan tebasannya sendiri yang luput menghantam angin.

[Stamina berkurang: 7 → 5]

Mengabaikan rasa lelah mendadak di persendiannya, Rian tidak menyia-nyiakan ruang terbuka tersebut. Ia melangkah maju menembus pertahanan Ario, menghantamkan bagian bawah gagang pisau berburunya yang keras tepat ke arah tulang rahang bawah Ario sekuat tenaga.

Bugh!

Bunyi benturan tumpul bergema. Ario mengerang kesakitan, matanya mendelik saat kesadarannya mendadak gelap. Pria itu ambruk ke atas pasir basah, tak bergerak, dengan parangnya terlepas dari genggaman.

Rian berlutut cepat, mengambil parang jatuh milik Ario dan menyimpannya di dekat kakinya. Napasnya sedikit memburu. Penggunaan Kami-e secara mendadak terbukti sangat menguras stamina fisiknya yang terbatas.

"Ario?! Suara apa itu?!"

Teriakan Jiro terdengar dari balik dinding kayu bangkai kapal di atas karang. Langkah kaki terburu-buru bergedebuk di atas papan kayu, menandakan Jiro sedang berlari turun dari kabin utama.

Rian bertindak cepat. Daripada bersembunyi kembali, ia berdiri tegak di samping tubuh Ario yang pingsan.

Tangan kirinya merogoh saku pakaian dan mengeluarkan pelindung dahi Kirigakure tergores (hitai-ate) yang baru saja ditemukannya. Rian memegang plat logam tersebut di depan dadanya sedemikian rupa sehingga ukiran tiga garis gelombang khas Desa Kabut memantulkan sinar matahari langsung ke arah Jiro yang baru saja muncul dari celah lambung kapal.

Jiro melompat turun ke pantai dengan parang terangkat, namun langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap dua hal: temannya yang tergeletak tak berdaya, dan kilatan plat logam ninja di tangan pemuda di depannya.

Wajah Jiro seketika pucat pasi. Warna darah seolah terdesak keluar dari kulitnya.

"Pelindung dahi... Kirigakure?!" bisik Jiro dengan suara bergetar hebat. Lututnya gemetar hingga parang di tangannya terancam terlepas.

Di era Desa Kabut Berdarah, reputasi ninja Kirigakure di mata masyarakat sipil dan penjarah laut adalah sosok pembantai dingin tanpa ampun. Bagi seorang penjarah biasa seperti Jiro, bertemu dengan survivor bertopeng dingin yang memegang simbol Kiri adalah vonis mati.

Rian memanfaatkan keunggulan psikologis ini sepenuhnya. Dengan skor Intelligence 14, ia mengatur intonasi suaranya menjadi dingin, datar, dan tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.

"Satu langkah lagi," kata Rian pelan namun tajam, "dan kepalamu akan berpisah dari tubuhmu seperti temanku di bawah ini."

Jiro langsung menjatuhkan parangnya ke pasir dan berlutut mengangkat kedua tangannya ke udara.

"A-Ampon, Ninja-sama! Ampun!" ratap Jiro dengan tubuh gemetaran. "Kami cuma penjarah kecil dari wilayah pesisir! Kami tidak tahu pulau ini adalah tempat persembunyian atau wilayah operasi Anda! Tolong jangan bunuh saya!"

Rian melangkah mendekat dengan tenang, menjaga pisau berburunya tetap mengarah ke leher Jiro.

"Jawab pertanyaanku dengan jujur jika ingin tetap bernapas," ujar Rian dingin. "Dari mana asal perahu itu dan di mana pelabuhan pemukiman terdekat dari pulau ini?"

Jiro menelan ludah dengan susah payah, tidak berani menatap mata Rian. "Pe-perahu itu milik kami... Kami berlayar dari Pulau Ren, sekitar sepuluh mil laut ke arah barat daya! Di sana ada pelabuhan bebas tempat para pedagang, nelayan, dan penjahat kecil berburu barang bekas! Itu pemukiman terdekat dari gugusan pulau ini!"

"Pulau Ren..." Rian mencatat nama tersebut di dalam memorinya. Informasi ini sangat cocok dengan gambaran titik kepulauan yang tampak di peta sistemnya.

"Apakah ada pasukan patroli Kirigakure yang berjaga di Pulau Ren?" tanya Rian lagi.

"Ti-tidak ada secara resmi, Ninja-sama!" jawab Jiro cepat. "Pulau Ren terlalu kecil untuk ditempati markas Kiri, tapi kadang-kadang ada Nukenin (ninja pelarian) atau pemburu hadiah yang singgah di sana."

Rian mengangguk pelan. Informasi tersebut cukup baginya untuk menyusun rencana berikutnya.

Ia tidak membunuh Jiro maupun Ario. Selain karena tidak ada alasan praktis untuk melakukannya, mengeksekusi dua orang yang sudah menyerah tidak memberikan keuntungan apa pun bagi situasinya saat ini.

Menggunakan tali rami sepanjang delapan meter yang ada di Inventory-nya, Rian memerintahkan Jiro untuk mengikat kakinya sendiri sebelum Rian mengikat tangan pria itu dan menyandarkannya di batu karang bersama Ario yang belum sadarkan diri. Ikatan tersebut dibuat cukup kuat untuk menahan mereka selama beberapa jam, namun cukup longgar agar mereka bisa membebaskan diri setelah Rian pergi jauh.

Rian kemudian menggeledah perahu kayu milik kedua penjarah tersebut. Di dalam perahu, ia menemukan:

1 buah kantong kulit berisi air bersih (sekitar 2 liter).

3 potong roti gandum kering yang masih layak makan.

1 buah parang biasa (Parang milik Jiro).

Ia memindahkan seluruh perbekalan tersebut beserta parang milik Ario ke dalam perahu.

Denting berdenting nyaring terdengar di dalam kepala Rian.

[ACHIEVEMENT UNLOCKED: Tactical Advantage]

Mengalahkan dan mengintimidasi musuh bersenjata tanpa mengalami luka menggunakan strategi dan kemampuan dasar.

Reward: +50 System Point.

[SISTEM NOTIFIKASI: Perekrutan Aset Terkonfirmasi]

Memperoleh Sarana Transportasi Laut: Perahu Layar Kayu Kecil (1).

Rian tersenyum tipis seraya membuka panel statusnya untuk memastikan seluruh data terbarui secara konsisten.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

SYSTEM STATUS

Nama: Rian Usia: 20 Level: 1

Strength: 8 Speed: 7 Vitality: 8 Stamina: 5 (Tercetus akibat penggunaan Kami-e) Intelligence: 14

System Point: 200 SP (150 + 50) Reputation: 0

Skills:

Rokushiki: Kami-e (Basic)

Characters: -

Inventory:

Basic Hunting Knife (1)

Kapak Besi Kecil (1)

Kompas Kuningan (1)

Tali Tambang Rami (Sisa 3 meter)

Pelindung Dahi Kirigakure Tergores (1)

Jurnal Pelayaran Kuno (1)

Parang Biasa (2)

Kantong Air Kulit (2 Liter)

Roti Gandum Kering (3)

Uang Tunai: 12.000 Ryo

Perahu Layar Kayu Kecil (1)

Achievement:

First Survival

World Discovery

Tactical Advantage

Organization: - Territory: -

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Dengan total 200 SP di tangannya, Rian kini memiliki cukup poin untuk membeli kemampuan navigasi dasar dari Shop demi memastikan perjalanannya melintasi lautan tidak tersesat.

Ia membuka menu Shop kategori Skill.

[SYSTEM SHOP - CATEGORY: SKILL]

Navigation (Basic) - Cost: 100 SP

"Beli Navigation (Basic)," perintah Rian tegas.

[Membeli Skill: Navigation (Basic)... Berhasil.] [Sisa System Point: 100 SP]

Seketika, gelombang informasi mendalam membanjiri pikiran Rian. Pengetahuan tentang cara membaca arus laut, memperkirakan kecepatan angin melalui kibaran layar, membaca kompas kuningan secara presisi, serta memanfaatkan sudut matahari untuk menentukan arah berlayar meresap sempurna ke dalam ingatannya.

Rian memotong tali pengikat perahu di pantai utara, lalu mendorong perahu kayu kecil itu ke air dangkal.

Ia memakan satu potong roti gandum kering dan meminum sedikit air untuk memulihkan staminanya yang tergerus, kemudian memanjat naik ke atas perahu.

Dengan menaikkan layar abu-abu lusuh dan memegang kemudi kayu di bagian belakang, Rian mengarahkan perahunya membelah gelombang pantai utara pulau terpencil tersebut, menuju lautan lepas ke arah barat daya—menuju Pulau Ren.

Pulau kecil tempat ia pertama kali terbangun perlahan mengecil di garis cakrawala di belakangnya. Perjalanannya untuk membangun reputasi di dunia Shinobi baru saja dimulai.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!