Aroma biji kopi sangrai merayap pelan menembus udara pagi yang dingin.
Nio duduk menyendiri di sudut meja kayu yang mulai memudar catnya.
Dua jarinya bergerak pelan, mengetuk permukaan meja mengikuti irama detak jarum jam dinding.
'Sialan, kenapa pagi ini udara dingin sekali sampai menusuk ke tulang?' batin Nio sambil menggosok kedua telapak tangannya.
Seangkasa keheningan menyelimuti kedai kecil yang terletak di lantai dasar bangunan tua tersebut.
Kedai itu berada tepat di bawah tempat tinggal Nio yang super berantakan dan dipenuhi kabel.
Pria tua bertubuh sedikit bungkuk melangkah mendekat membawa secangkir kopi hitam panas.
Kael meletakkan cangkir tebal itu tepat di hadapan Nio tanpa suara.
"Minum selagi panas, Nak," kata Kael lirih sambil mengusap celemek kainnya.
"Terima kasih banyak, Pak Kael," jawab Nio singkat lalu meraih cangkir itu.
Pria tua itu tidak pernah bertanya dari mana Nio berasal atau ke mana Nio akan pergi.
Kael bahkan tidak pernah mempermasalahkan nama asli, gender, atau setumpuk rahasia kelam milik Nio.
Bagi Kael, Nio hanyalah seorang pelanggan setia yang selalu menghabiskan kopi hitam tanpa gula.
'Untung saja Pak Kael bukan tipe orang tua yang suka kepo mencampuri urusan orang,' gumam Nio dalam hati.
Kehangatan cairan hitam itu perlahan mengalir basah melewati kerongkongan Nio.
Di luar jendela kedai, lalu lintas kota mulai bising oleh deru mesin kendaraan.
Melihat keramaian yang begitu riuh mendadak membuat kepala Nio terasa pening dan agak mual.
Tangan kanan Nio bergerak refleks, masuk ke dalam saku jaket abu-abunya.
Jemari Nio menyentuh dan meraba tekstur selembar kertas kosong di dalam sana.
Kertas polos tanpa coretan tinta itu menjadi penenang utama saat rasa cemas menyerang kepalanya.
'Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata,' batin Nio pusing.
Nio tidak pernah tahu siapa dirinya yang sebenarnya sebelum terbangun di kota ini beberapa tahun lalu.
Setiap kali mencoba mengingat masa lalu, kepala Nio mendadak berdenyut hebat bagai dihantam palu.
"Ada masalah lagi dengan pekerjaanmu di atas?" tanya Kael memecah lamunan Nio.
"Hanya pekerjaan biasa, Pak," sahut Nio pelan. "Banyak berkas rusak yang harus dirapikan."
"Jangan terlalu sering mengurung diri di depan monitor," pesan Kael dengan raut khawatir. "Mata tua saya saja pusing kalau melihat garis-garis hijau di komputermu."
'Kalau Pak Kael tahu apa yang sebenarnya saya lakukan, beliau bisa serangan jantung,' bisik Nio dalam batinnya.
Nio merogoh beberapa keping uang logam lalu meletakkannya di atas meja kayu.
"Saya naik ke atas dulu, Pak Kael," pamit Nio seraya berdiri tegak.
Nio melangkah keluar dari kedai dan menaiki tangga besi berkarat menuju lantai dua.
Pintu kayu tebal bernomor dua ratus empat itu dibukanya menggunakan kunci manual.
Seketika bau khas logam dan udara pengap menyambut kedatangan Nio.
Hanya pendar biru dari layar monitor yang menerangi jemari Nio saat dia melangkah mendekat.
Tempat ini adalah laboratorium rahasia bagi seorang pakar data mati.
Nio menduduki kursi berputar di depan tiga layar monitor besar.
Jemari Nio mulai menari liar di atas tombol papan ketik dengan cepat.
Nio bekerja membedah jejak digital dan memulihkan data yang hancur.
Selalu ada residu data yang tertinggal di dalam sirkuit maupun memori tersembunyi.
Nio adalah sosok nirnama yang memanfaatkan residu tersebut untuk bertahan hidup.
'Mencari jejak orang lain memang jauh lebih mudah daripada mencari jejak diri sendiri,' keluh Nio dalam hati.
Layar monitor utama mendadak berkedip merah secara tidak wajar.
Sebuah grafik anomali muncul, menunjukkan pembersihan data skala besar di area kota.
Pola pembersihan data ini terasa sangat tidak biasa dan terstruktur rapi.
Data identitas milik seseorang tampak tereliminasi bertahap dalam hitungan detik.
'Bagaimana bisa ada sistem yang menghapus data identitas sebersih ini?' pikir Nio dengan keringat dingin.
Kejadian ini tidak memiliki preseden sama sekali dalam seluruh sejarah pekerjaan Nio.
Tiba-tiba, suara ketukan kencang terdengar dari balik pintu depan ruangannya.
Nio terperanjat kaget hingga hampir menjatuhkan papan ketik dari atas meja.
'Sialan, siapa lagi yang bertamu pagi-pagi begini dan menggedor seperti mau merobohkan pintu?' umpat Nio.
Diambilnya sebilah pisau lipat kecil di samping monitor sebagai langkah pencegahan.
Langkah kaki Nio berjalan sangat pelan tanpa suara menuju arah pintu.
"Tol-tolong... buka pintunya!" teriak suara wanita dari balik pintu dengan nada bergetar hebat.
Nio memutar gagang pintu secara perlahan.
"Siapa Anda?" tanya Nio dengan nada dingin dan tegas.
Seorang wanita muda berambut acak-acakan langsung menerobos masuk ke dalam ruangan.
"A-apa benar Anda pakar data yang bisa menemukan hal yang hilang?" tanya wanita itu tersengal-sengal.
"Aa... anu, bisakah Anda keluar dan mengetuk pintu seperti manusia normal?" tegur Nio dengan muka masam.
"Tidak ada waktu untuk sopan santun!" jerit wanita itu panik.
Nio mundur satu langkah sambil memegang pisau lipat di balik saku jaketnya.
"Nama saya Nora!" seru wanita itu dengan mata sembap penuh air mata. "Dan adik saya, Milo, mendadak hilang tanpa jejak!"
"Kalau adikmu hilang, melaporlah ke kantor polisi, bukan menyusup ke tempat ini," tanggap Nio acuh tak acuh.
"Aku sudah ke sana!" jerit Nora frustrasi. "Tapi polisi menganggapku gila! Mereka bilang aku tidak pernah punya adik bernama Milo!"
Nora merogoh ponsel dari tasnya dengan tangan yang gemetaran parah.
Disodorkannya layar ponsel itu tepat ke hadapan wajah Nio.
"Lihat ini! Foto-fotonya, nomor kontak, bahkan obrolan kami mendadak berubah jadi berkas rusak!" tangis Nora pecah.
Layar ponsel Nora menampilkan berkas rusak dengan pola kode anomali yang persis sama seperti di monitor Nio.
Seseorang tidak hanya menculik Milo secara fisik, tetapi menghapus seluruh bukti bahwa Milo pernah ada.
'Pola pembersihan ini sama persis dengan grafik anomali di komputetku!' jerit batin Nio kaget.
"Tolong saya..." bisik Nora pasrah sambil merintih pelan di hadapan Nio. "Semua orang mulai melupakan Milo... seolah dia tidak pernah ada."
Nio melangkah cepat menuju meja komputernya dan mengetik nama Milo Paramita.
Layar monitor berkedip sebelum menampilkan tulisan merah tebal: DATA NOT FOUND / ERASED.
"Sistem kependudukan kota pun sudah bersih dari namanya," gumam Nio kaku.
Nio terdiam kaku sambil meraba selembar kertas kosong di dalam saku jaketnya.
Di layar monitor utama, sebuah jendela pesan misteri mendadak terbuka sendiri secara otomatis.
Layar berubah menjadi hitam pekat dengan satu baris kalimat berwarna putih pucat.
"Identitas adalah penderitaan. Mengapa kamu mencari apa yang seharusnya tidak ada?"
Di bagian bawah pesan tersebut, tertera sebuah simbol huruf tunggal berwarna merah darah: ZERO.
'Zero... siapa sosok di balik nama ini?' batin Nio ketakutan.
"Nio... apa itu?" tanya Nora berbisik pelan sambil menunjuk ke layar monitor.
"Seseorang sedang bermain-main dengan kita," jawab Nio dengan suara bergetar.
Nio menyadari bahwa kasus yang dibawa Nora ini baru saja menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang sangat besar.
Bukan hanya nyawa Milo yang terancam, melainkan rahasia masa lalu Nio sendiri yang tersimpan di tangan Zero.
Penyelidikan yang mempertaruhkan eksistensi dan jati diri Nio kini resmi dimulai.
Layar monitor hitam itu masih memancarkan simbol merah darah yang seolah menatap tajam ke arah Nio.
Nora tersengal-sengal di sebelah meja, jemarinya mencengkeram tepi kemeja Nio dengan sisa tenaga yang dia miliki.
'Sialan, cewek ini malah makin nempel saat situasinya makin tidak masuk akal,' batin Nio sambil melirik tangan Nora yang gemetaran.
Nio menepis pelan cengkraman jemari Nora lalu menggeser kursi berputarnya mendekati papan ketik.
"Duduk di kursi kayu sana dan berhenti meremas baju orang," tegur Nio dengan nada dingin yang tak terbantahkan.
Nora terhenyak kaku, matanya yang basah menatap Nio dengan kepasrahan total.
"Ta-tapi... pesan di layarmu itu... dia tahu kita sedang membicarakan Milo, kan?" bisik Nora dengan vokal bergetar.
"Belum tentu," sahut Nio cepat, jemarinya mulai menekan kombinasi tombol untuk melacak asal sinyal pesan tersebut. "Bisa jadi ini cuma pesan otomatis untuk menakut-nakuti orang bodoh."
"Aku bukan orang bodoh!" seru Nora menaikkan intonasi suaranya.
"Kalau begitu bertindaklah rasional dan berhenti menjerit di telingaku," potong Nio tanpa menoleh sedikit pun.
Nora menelan ludah secara kasar, tubuhnya mendadak melunak dan dia akhirnya menurut untuk duduk di kursi kayu.
Keangkuhan Nora yang sebelumnya sempat terlihat kini lenyap sepenuhnya, berganti menjadi kepatuhan mutlak di bawah kendali tegas Nio.
'Bagus, setidaknya sekarang dia bisa diam dan tidak menambah beban kepalaku,' batin Nio lega.
Sistem komputer Nio mendadak memunculkan bunyi peringatan melengking kencang.
Sinyal pengirim pesan misterius itu mendadak hilang, terhapus bersih tanpa menyisakan jalur IP address satu pun.
"Sialan, pelakunya bergerak sangat cepat," umpat Nio pelan sambil mengetuk jemarinya di atas meja.
Nio memutar kursinya menghadap Nora secara penuh.
"Sekarang ceritakan semuanya secara runtut dari awal," perintah Nio dengan pandangan tajam. "Jangan ada satu detail pun yang kamu sembunyikan jika masih ingin adiknya ketemu."
Nora mengangguk cepat, kedua tangannya saling bertaut rapat di atas pangkuan.
"Pagi ini aku ingin memanggil Milo untuk sarapan," ujar Nora mengawali ceritanya dengan terbata-bata. "Tapi kamarnya kosong melompong, seolah-olah tidak pernah ada yang menempatinya."
"Mungkin adikmu cuma pergi keluyuran pagi-pagi tanpa pamit?" cetus Nio bersikap skeptis.
"Tidak! Semua pakaiannya di lemari hilang, tempat tidurnya berubah jadi kasur tua berdebu!" jerit Nora emosional.
Nio meraba tekstur selembar kertas kosong di dalam saku jaketnya untuk menenangkan gejolak cemas yang mendadak muncul.
Kertas polos tanpa garis itu selalu menjadi jangkar emosi Nio saat realitas di sekitarnya terasa mulai retak.
'Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata,' gumam Nio dalam batinnya memecah ketegangan.
"Lalu apa yang kamu lakukan setelah melihat kamar adikmu kosong?" cecar Nio kembali pada mode interogasi.
"Aku mengambil ponsel untuk meneleponnya," jawab Nora sambil menyodorkan ponsel pintar miliknya ke meja Nio. "Tapi nama Milo di daftar kontak mendadak terhapus saat mataku menatap layar secara langsung."
Nio meraih ponsel tersebut dan meneliti setiap folder penyimpanan internalnya.
Seluruh file foto yang sebelumnya disodorkan Nora kini telah berubah nama menjadi deretan kode anomali yang tidak bisa dibuka.
Saat Nio mencoba melakukan proses rekonstruksi data sederhana, sirkuit ponsel tersebut mendadak panas dan layarnya berkedip mati.
"Ponselmu baru saja mengalami pembersihan residu digital secara paksa dari jarak jauh," jelas Nio seraya meletakkan ponsel mati itu ke meja.
"A-apa artinya itu?" tanya Nora dengan mata melebar penuh rasa panik.
"Artinya musuhmu bukan manusia biasa yang cuma membawa pisau atau pistol," sahut Nio datar. "Dia adalah peretas tingkat tinggi yang mampu memanipulasi jaringan data kota dalam hitungan detik."
Nora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tangisnya kembali pecah meratapi nasib sang adik.
"Lalu aku harus bagaimana?" rintih Nora pasrah. "Polisi menganggapku gila dan dokumen kependudukannya di balai kota juga mendadak jadi kertas kosong biasa!"
Kalimat terakhir Nora membuat gerakan tangan Nio terhenti seketika.
"Kertas kosong biasa?" ulang Nio dengan nada menuntut. "Maksudmu dokumen fisik terbuat dari kertas juga ikut berubah?"
"Iya! Akta kelahirannya yang aku simpan di lemari besi berubah jadi lembaran putih polos tanpa tinta!" teriak Nora histeris.
'Bentar, ini sudah di luar nalar hukum teknologi,' batin Nio dengan pelipis meneteskan keringat dingin. 'Bagaimana bisa pembersihan data digital berdampak langsung pada tinta kertas fisik di dunia nyata?'
Nio meraba kertas kosong di sakunya dengan genggaman yang makin erat.
Pikiran Nio mendadak melayang pada kemungkinan terburuk yang selama ini selalu dia hindari.
'Jangan-jangan... kertas kosong di sakuku ini dulunya juga berisi data penting tentang identitas asliku yang terhapus?' pikir Nio kaget.
"Bisa kamu tunjukkan padaku di mana akta kelahiran kosong itu sekarang?" tanya Nio mencoba tetap tenang.
"Ada di rumahku... aku meninggalkannya di atas meja tamu karena panik melarikan diri ke sini," jawab Nora penuh penyesalan.
Nio berdiri tegak dari kursi berputarnya dan menyambar jaket abu-abu yang tergantung di sandaran.
"Rapikan pakaianmu dan berhentilah menangis," kata Nio tegas sambil mengunci pisau lipat di sakunya. "Kita berangkat ke rumahmu sekarang juga sebelum pelakunya membersihkan sisa bukti fisik di sana."
Nora mendongak kaget, menatap Nio dengan pandangan tidak percaya.
"Ka-kamu mau membantuku?" tanya Nora ragu.
"Aku tidak membantumu secara gratis," tanggap Nio dingin. "Aku cuma butuh kepastian apakah pelaku bernama Zero ini ada hubungannya dengan ingatan masa laluku yang hilang atau tidak."
"Terima kasih... terima kasih banyak, Nio," bisik Nora dengan nada tunduk dan penuh rasa hormat.
Nio berjalan mendahului Nora menuju pintu keluar laboratoriumnya yang pengap.
Saat Nio membuka pintu kayu bernomor dua ratus empat tersebut, sosok Kael berdiri di luar sambil memegang nampan kayu.
Pria tua bertubuh bungkuk itu menatap Nio dan Nora secara bergantian dengan pandangan hangat.
"Mau pergi keluar, Nio?" tanya Kael lembut tanpa menanyakan alasan atau urusan mereka.
"Ada urusan sebentar di luar, Pak Kael," jawab Nio melunakkan nada suaranya.
"Bawa roti hangat ini untuk ganjal perutmu di jalan," ujar Kael seraya menyerahkan bungkusan kertas cokelat.
"Terima kasih banyak, Pak Kael," ucap Nio menerima bungkusan itu.
Bagi Nio, presensi Kael di lantai dasar adalah satu-satunya hal nyata yang membuatnya merasa tetap memijak bumi di tengah keasingan kota.
Nio dan Nora melangkah turun meniti tangga besi berkarat menuju jalan raya yang masih riuh oleh kendaraan.
Udara dingin kota menyambut wajah mereka saat melangkah keluar dari gang samping bangunan tua Kael.
Nora berjalan cepat memimpin jalan di samping Nio, wajahnya masih tampak pucat meski tatapan matanya mulai menunjukkan keberanian.
"Rumahku tidak jauh dari sini, cuma butuh waktu sepuluh menit jalan kaki melewati lorong pertokoan," kata Nora memberi petunjuk.
Nio hanya mengangguk pelan tanpa menghentikan langkah kakinya yang konstan.
Namun, baru melangkah beberapa puluh meter menelusuri lorong pertokoan yang senyap, Nio merasakan sebuah firasat aneh.
Langkah kaki Nio mendadak terhenti di depan sebuah toko kelontong yang tutup.
"Ada apa, Nio?" tanya Nora ikut berhenti dan menoleh bingung.
"Jangan bergerak dan tetap di belakang badan saya," bisik Nio dengan intonasi rendah.
Di sudut lorong yang remang-remang, sebuah bayangan amorf tampak berdiri diam mengawasi pergerakan mereka.
Pendar merah redup dari sebuah layar perangkat genggam terlihat menyala di kegelapan tempat bayangan itu berdiri.
Seketika itu juga, lampu-lampu jalanan di sepanjang lorong pertokoan mendadak mati secara bersamaan.
Keheningan pekat yang menekan dan terasa dingin langsung menyelimuti atmosfer di sekitar mereka.
Suara ketukan pesan masuk terdengar bersamaan dari ponsel Nio dan Nora secara otomatis.
Nio merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, membaca satu kalimat singkat yang muncul di layar:
"Langkah pertama untuk menghapus eksistensi adalah memadamkan cahayanya."
Nio mendongak cepat, tetapi bayangan amorf di ujung lorong itu telah lenyap tanpa menyisakan jejak sama sekali.
Kegelapan di lorong pertokoan itu menekan dada, menyisakan keheningan pekat yang menusuk hingga ke tulang.
Nora gemetaran hebat di balik punggung Nio, jemarinya meremas kain jaket abu-abu Nio seperti anak kecil yang ketakutan.
'Sialan, jika cewek ini makin panik di kegelapan, kita bisa jadi sasaran empuk di lorong ini,' batin Nio gusar.
Nio mencengkeram pergelangan tangan Nora secara lambat namun terukur, memaksa Nora untuk berdiri tegak di sampingnya.
"Kendalikan dirimu dan ikuti langkahku tanpa bersuara," cetus Nio pendek, vokalnya terdengar dingin dan menguasai keadaan.
Nora meringgis pasrah, mengangguk cepat sambil menundukkan kepalanya, tunduk total pada instruksi Nio.
Mereka memutar arah dan kembali berjalan cepat menembus kegelapan menuju bangunan tua milik Kael.
Pintu kedai kopi Kael menyambut mereka dengan pendar lampu kuning yang hangat dan menenangkan.
Kael yang sedang mengelap cangkir di balik konter menatap mereka berdua dengan alis terangkat heran.
"Lho, Nio? Baru keluar sebentar kok sudah kembali lagi sambil ngos-ngosan begitu?" tanya Kael heran.
"Ada gangguan listrik di lorong depan, Pak Kael," jawab Nio beralasan, mengabaikan fakta teror yang baru saja terjadi.
Tanpa membuang waktu, Nio menarik tangan Nora naik menaiki tangga besi menuju laboratorium di lantai dua.
Ruangan kerja Nio masih menyimpan senyap yang dingin, hanya pendar biru dari tiga monitor yang menyala redup.
Nio menarik kursi berputar, lalu menunjuk bangku kayu di sudut ruangan dengan pandangan tajam.
"Duduk di sana, jangan sentuh apa pun, dan biarkan aku bekerja," perintah Nio tanpa kompromi.
"A-anu... Nio, apa ponselku yang mati tadi masih bisa diselamatkan?" tanya Nora ragu-ragu, suaranya terdengar cemas.
"Sini ponselmu," sahut Nio seraya mengulurkan tangan.
Nora bergegas menyerahkan ponsel hitam yang layarnya telah legam itu ke telapak tangan Nio.
Nio langsung membuka kotak peralatan di bawah meja, mengambil kabel pemindai khusus dan menjepitkan klem mikro ke jalur daya sirkuit ponsel.
Jemarinya menari di atas papan ketik mekanis, memanggil baris kode tingkat rendah untuk menembus proteksi keras bawaan perangkat.
Layar monitor utama Nio mendadak memercikkan pendar biru terang, menampilkan struktur sektor memori ponsel yang terbaca secara mentah.
"Gila... ini benar-benar tidak masuk akal," gumam Nio sambil menyipitkan mata.
"Ada apa, Nio? Apa data adikku masih ada di dalam sana?" tanya Nora antusias, langsung berdiri dari bangkunya.
"Duduk kembali di tempatmu!" bentak Nio tegas, membuat Nora seketika terhenyak dan merapat kembali ke kursi.
'Cewek ini gampang sekali tersulut harapan palsu, padahal situasi sebenarnya jauh lebih mengerikan dari sekadar data hilang,' batin Nio gelisah.
Nio menunjuk barisan angka heksadesimal di layar monitornya yang bersih dari angka satu dan nol biasa.
"Biasanya, jika seseorang menghapus foto atau berkas, data tersebut hanya ditandai sebagai ruang kosong dan residu informasinya masih tertinggal," jelas Nio. "Tapi di ponselmu, pelakunya tidak cuma menghapus berkas."
"Lalu apa yang dia lakukan pada data Milo?" selidik Nora dari jauh, mencoba menahan getaran di suara nyaringnya.
"Dia membakar jalurnya dari dalam," sahut Nio datar. "Ini adalah metode pembersihan sistematis hingga ke tingkat sirkuit paling dalam, sebuah teknik bernama thermal memory residual overwrite."
Nio menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, membiarkan pikirannya berputar cepat memproses anomali ini.
Teknik ekstrim seperti ini membutuhkan akses langsung ke arsitektur prosesor dan daya pemrosesan berskala sangat besar.
'Zero tidak cuma terobsesi menghapus nama, tapi dia memastikan eksistensi korbannya tereliminasi tanpa preseden sedikit pun,' pikir Nio.
Milo tidak lagi sekadar menghilang; eksistensinya telah tereliminasi dari jaringan digital maupun fisik secara bersamaan. Bagi dunia, dia kini hanyalah sosok nirnama.
Nio meraba tekstur kertas kosong di dalam saku jaketnya untuk menetralkan gelombang cemas yang mulai merambat naik.
Sensasi kasar dari lembaran putih itu membantunya tetap menginjak bumi di tengah anomali gila yang sedang dia hadapi.
'Kertas kosong ini tidak bicara, tetapi dialah satu-satunya hal yang tidak pernah berbohong padaku,' bisik Nio dalam hatinya.
"P-peretas biasa tidak mungkin bisa melakukan hal sesulit itu, kan?" bisik Nora melangkah perlahan mendekati meja kerja Nio.
"Jelas tidak," jawab Nio dingin. "Peretas biasa butuh waktu berhari-hari, sementara Zero melakukannya dalam hitungan detik saat kamu melihat layar ponselmu."
"Lalu bagaimana kita bisa menemukan jejak adikku kalau semuanya sudah terbakar habis?" rintih Nora dengan mata kembali berkaca-kaca.
Gengsi dan keberanian Nora yang tadi sempat muncul kini hancur berkeping-keping, digantikan rasa putus asa yang mendalam.
Nio menatap wanita di depannya dengan pendar mata yang tidak tergoyahkan.
"Setiap pembakaran selalu menyisakan abu," tanggap Nio pelan. "Dan abunya adalah spesialisasi kerjaku di ruangan ini."
Nio mengetikkan deretan perintah baru, mengisolasi memori statis di dalam chip pengontrol daya ponsel Nora yang lolos dari pembersihan total.
Sebuah pola baris kode kecil yang cacat mendadak mengejawantah di sudut kanan layar monitor utama.
"Lihat ini," tunjuk Nio ke baris kode berwarna merah terang.
Nora membungkuk rapat di sebelah bahu Nio, menatap layar dengan kening berkerut bingung.
"Aku tidak paham bahasa komputer, Nio... itu artinya apa?" tanya Nora pasrah.
"Ini adalah tanda tangan digital milik Zero," sahut Nio sambil menatap baris kode itu dengan lekat. "Dia meninggalkan anomali sengaja di dalam sirkuit, sebuah pengunci memori bertuliskan koordinat lokasi."
"Koordinat lokasi? Berarti kita bisa tahu di mana Milo berada sekarang?!" seru Nora hysteris, hampir saja mencengkeram bahu Nio.
Nio menepis jemari Nora sebelum menyentuh kulitnya, menatap wanita itu dengan intimidasi yang kuat.
"Jangan pernah bertindak gegabah atau kamu akan berakhir jadi kertas kosong seperti adikmu," ancam Nio serius.
Nora terdiam seribu bahasa, menelan ludahnya secara kasar dan menunduk penuh kepatuhan.
'Bagus, biar dia tahu posisi dan batasannya di laboratorium ini,' batin Nio penuh kepuasan ego.
Nio menerjemahkan angka-angka koordinat tersebut ke dalam peta digital lokal yang tersimpan di memori komputernya.
Titik merah di peta mendadak berkedip cepat, menunjukkan sebuah alamat di pinggiran kota yang sangat familiar bagi Nio.
Alamat itu adalah area bekas gedung laboratorium penelitian data medis yang terbakar habis sepuluh tahun lalu.
Gedung yang sama di mana Nio terbangun pertama kali tanpa nama, tanpa identitas, dan tanpa ingatan sedikit pun.
Keringat dingin mendadak menetes dari pelipis Nio, membasahi kerah kemeja hitam yang dia kenakan.
'Anomali ini bukan cuma soal adiknya Nora,' jerit batin Nio panik. 'Zero sedang memancingku kembali ke tempat sejarahku dicabut!'
Nio berdiri mendadak dari kursinya hingga roda kursi berderit kencang menghantam dinding kayu.
Nora terkejut dan mundur dua langkah melihat perubahan ekspresi di wajah Nio yang mendadak pucat pasi.
"Ada apa, Nio? Kamu mengenali tempat itu?" tanya Nora penuh selidik dan kebingungan.
"Tempat itu adalah awal dari penyangkalan keberadaanku di dunia ini," jawab Nio pendek seraya mengepalkan tangannya rapat-rapat.
"Maksudmu apa? Aku benar-benar tidak mengerti!" pangkas Nora meminta kejelasan.
"Kamu tidak perlu mengerti," potong Nio tajam. "Yang perlu kamu tahu, Zero tidak sekadar mencabut sejarah Milo dari dada manusia... dia sedang menungguku untuk menyelesaikan karya masa lalunya."
Layar monitor Nio mendadak berkedip merah hebat secara berulang-ulang, menutupi seluruh garis peta digital dengan tulisan tebal yang sama:
"TABULA RASA KEMBALI KE ASALNYA."
Nio meraih jaket dan pisau lipatnya di atas meja, menatap Nora dengan pandangan yang tak teruntuhkan.
"Siapkan dirimu, Nora," ujar Nio dengan vokal yang dalam dan dominan. "Malam ini kita akan mencari tahu siapa yang menyimpan namamu... dan namaku."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!