Indonesia
NovelToon NovelToon

Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Bab 1

​Brak!

​Pintu kaca ruangan itu ditutup rapat dari luar.

​Aditya Pratama hanya bisa berdiri kaku di depan meja kayu besar berpoles gilap itu.

​"Maaf, Dit, keputusan dari manajerial pusat sudah tidak bisa diganggu gugat."

​Laki-laki paruh baya berkacamata tebal di hadapannya menghela nafas pelan.

​"Perusahaan sedang melakukan efisiensi besar-besaran, dan nama kamu ada di daftar teratas."

​"Tapi, Pak Frans, saya sudah bekerja lembur setiap hari selama tiga tahun terakhir ini," sahut Adit dengan suara yang sedikit bergetar.

​"Saya tahu, Dit, saya sangat paham kerja keras kamu."

​Pak Frans mengusap wajahnya yang tampak lelah.

​"Tapi ini bukan keputusan saya pribadi, ini perintah jajaran direksi."

​"Tolong berikan saya waktu satu bulan lagi, Pak, saya butuh uang ini untuk membayar sewa kontrakan."

​"Tidak bisa, Dit, surat PHK kamu sudah ditandatangani hari ini."

​Pak Frans menyodorkan selembar kertas putih ke atas meja.

​"Kamu bisa mengambil sisa pesangon kamu di bagian keuangan sore ini."

​Adit menatap kertas di hadapannya dengan pandangan kabur.

​Dunia seolah runtuh tepat di atas kepalanya saat itu juga.

​Kedua orang tuanya telah meninggal dunia sejak dia masih duduk di bangku SMA.

​Pekerjaan ini adalah satu-satunya pegangan hidup yang dia miliki di kota metropolitan yang kejam ini.

​Dengan jemari gemetar, Adit mengambil kertas itu dan melangkah keluar dari ruangan.

​Langkah kakinya terasa amat berat menyusuri lorong kantor yang dingin.

​Beberapa rekan kerjanya hanya menatapnya dengan tatapan kasihan tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun.

​Adit membereskan barang-barang di atas mejanya ke dalam sebuah kardus bekas.

​Kring! Kring!

​Ponsel di saku celananya berdering nyaring.

​Nama Siska tertera di layar ponsel pintarnya.

​Adit mengusap dadanya yang terasa sesak, mencoba mengulas senyum tipis.

​"Halo, Siska, kamu sudah jalan ke cafe?" tanya Adit mencoba menahan getaran suaranya.

​"Adit, kita perlu bicara sekarang, aku sudah tunggu di cafe depan kantor kamu," jawab suara wanita di ujung telepon.

​"Iya, ini aku baru saja mau turun ke bawah."

​"Cepat ya, aku tidak punya banyak waktu."

​Tut... tut... tut...

​Panggilan ditutup secara sepihak sebelum Adit sempat membalas ucapan kekasihnya.

​Adit menghela nafas panjang lalu berjalan menuju lift membawa kardus barangnya.

​Lima menit kemudian, Adit sudah berada di dalam cafe ber AC yang cukup ramai.

​Seorang gadis berparas cantik dengan pakaian modis duduk di sudut ruangan sambil menatap layar ponselnya.

​"Siska," panggil Adit pelan sambil mendudukkan diri di kursi kayu di hadapan gadis itu.

​Siska melirik kardus bekas yang ditaruh Adit di samping kursi.

​"Kamu beneran di PHK hari ini, Dit?" tanya Siska tanpa basa-basi.

​Adit menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​"Iya, Sis, hari ini hari terakhir aku kerja di kantor."

​"Astaga, Dit, kenapa bisa sih?" suara Siska terdengar sangat kecewa.

​"Perusahaan lagi pengurangan karyawan, aku salah satu yang terkena dampaknya."

​"Lalu bagaimana dengan rencana kita?"

​"Rencana yang mana?" Adit menatap mata Siska dengan penuh kebingungan.

​"Rencana kita buat menikah tahun depan, Dit!" Siska menaikkan nada bicaranya.

​"Aku akan cari kerjaan baru secepatnya, Sis, kamu tenang saja."

​"Cari kerjaan baru kamu bilang?" Siska tertawa sinis.

​"Di zaman sekarang cari kerjaan itu susah, Dit, kamu mau kasih aku makan apa?"

​"Aku punya sedikit simpanan dari pesangon, kita masih bisa bertahan sebentar."

​"Aku tidak mau hidup susah sama kamu, Dit!"

​Siska menyilangkan kedua tangannya di dada dengan tatapan dingin.

​"Kita putus saja."

​Kalimat singkat itu meluncur begitu saja dari bibir merah Siska.

​Jantung Adit rasanya berhenti berdetak seketika.

​"Kamu bercanda kan, Sis? Kita sudah jalan tiga tahun."

​"Aku tidak bercanda, Dit, aku butuh kepastian dan masa depan yang jelas."

​"Tapi aku pasti bakal bangkit lagi, Sis, tolong kasih aku kesempatan."

​"Kesempatan apa lagi?" Siska berdiri dari kursinya sambil merapikan tas mewahnya.

​"Lagipula kamu itu sudah yatim piatu, tidak punya tabungan banyak, sekarang malah jadi pengangguran."

​"Siska, tolong jangan bicara seperti itu..."

​"Realistis saja, Dit, jangan temui aku lagi mulai hari ini."

​Siska membalikkan badannya dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

​Adit duduk terpaku di kursinya, memandangi sosok wanita yang sangat dicintainya itu menjauh dan menghilang di balik pintu kaca cafe.

​Dalam kurun waktu kurang dari dua jam, dia telah kehilangan pekerjaan dan wanita yang ingin dinikahinya.

​Tes... tes...

​Setetes air mata jatuh menembus permukaan meja kayu cafe yang dingin.

​Adit mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kuku-kuku jarinya memutih.

​"Kenapa hidupku harus serendah ini?" bisiknya pada diri sendiri.

​"Kenapa takdir selalu tidak adil padaku?"

​Malam harinya, Adit duduk sendirian di dalam kamar kontrakan sempitnya yang berantakan.

​Semua barang-barangnya sudah dimasukkan ke dalam dua buah tas pakaian besar.

​Uang pesangon di rekeningnya hanya tersisa beberapa juta rupiah setelah dipotong tunggakan sewa dan utang harian.

​Dia tidak mungkin bisa bertahan hidup di Jakarta dengan sisa uang sekecil ini tanpa pekerjaan tetap.

​Adit memandangi sebuah foto lama yang terpajang di dinding kamar.

​Di dalam foto itu, kedua orang tuanya tersenyum lebar sambil merangkul Adit kecil di depan sebuah rumah panggung kayu.

​Di belakang rumah itu terhampar tanah perkebunan dan area kosong yang sangat luas di kampung halamannya.

​"Ibu... Bapak..." suara Adit terdengar serak.

​"Adit gagal di kota."

​Tanah warisan di Desa Sukamaju adalah satu-satunya harta peninggalan orang tuanya yang belum pernah dijual.

​Tanah itu sangat luas, mencakup beberapa hektar ladang dan bekas area peternakan tua yang sudah lama terbengkalai.

​"Mungkin sudah waktunya aku pulang," gumam Adit pelan.

​"Aku akan mengolah tanah warisan Bapak dan Ibu di desa."

​"Daripada aku mati kelaparan di kota orang tanpa tujuan."

​Adit mengusap air matanya dan menarik nafas dalam-dalam.

​Tekadnya sudah bulat untuk meninggalkan segala kenangan buruk di kota ini besok pagi.

​Dia tidak tahu apa yang akan menunggunya di kampung halaman nanti.

​Apakah tanah tua itu bisa menyelamatkan hidupnya, atau justru membawa kegagalan baru yang lebih menyakitkan.

​Adit mematikan lampu kamar dan memejamkan matanya di atas kasur tipis.

​Kegelapan malam itu menyelimuti tubuh pemuda yang telah kehilangan segalanya tersebut.

Bab 2

​Brumm!

​Suara mesin bus antarkota terdengar menderu nyaring di sepanjang jalan beraspal yang mulai berlubang.

​Adit menyandarkan kepalanya pada kaca jendela bus yang terasa dingin dan bergetar.

​Di luar sana, pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta sudah sepenuhnya berganti menjadi deretan pohon kelapa dan sawah hijau yang membentang luas.

​Adit merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet kulitnya yang sudah kusam.

​Di dalamnya hanya tersisa beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah.

​"Sisa lima ratus ribu," gumam Adit pelan pada dirinya sendiri.

​"Ini benar-benar taruhan terakhirku di kampung."

​Bus berhenti tepat di depan sebuah gapura kayu besar bertuliskan 'Selamat Datang di Desa Sukamaju'.

​Adit turun dari bus sambil memanggul dua tas pakaian besar di kedua bahunya.

​Udara segar khas pedesaan langsung menyapa indra penciumannya.

​Suara jangkrik dan tiupan angin sore menyambut kepulangan pemuda yang baru saja hancur di kota itu.

​Adit menyusuri jalan setapak berkerikil menuju ke area ujung desa.

​Di sana, sebuah rumah panggung kayu tua berdiri agak terpencil di dekat kaki bukit.

​Kondisi rumah itu tampak sangat tidak terawat dengan atap seng yang sudah berkarat dan cat dinding yang mengelupas.

​Namun, di belakang rumah tersebut, terhampar tanah yang sangat luas.

​Tanah berhektar-hektar itu dipenuhi semak belukar liar dan rumput tinggi yang tidak terurus.

​"Akhirnya aku sampai juga," bisik Adit sambil meletakkan tasnya di atas tanah kering.

​"Adit? Itu kamu, Dit?"

​Sebuah suara serak memanggil dari arah samping rumah.

​Seorang pria paruh baya berbadan tegap dengan topi caping tua berjalan mendekati Adit.

​"Bang Jarwo?" mata Adit membelalak kaget.

​Pria itu adalah Bang Jarwo, kerabat jauh sekaligus orang yang dulu pernah membantu almarhum ayahnya mengurus ladang.

​"Ya Allah, Adit! Beneran kamu ini!"

​Bang Jarwo langsung memeluk Adit dengan erat sambil menepuk-nepuk punggung pemuda itu.

​"Kapan kamu sampai, Dit? Kenapa tidak kasih kabar ke pamanmu ini dulu?"

​Adit tersenyum tipis sambil mengusap tengkuknya.

​"Baru saja sampai, Bang. Saya naik bus ekonomi dari Jakarta."

​"Ayo masuk dulu, ayo! Rumah ini memang agak berdebu, tapi masih kokoh buat ditempati."

​Bang Jarwo membantu membawakan salah satu tas Adit masuk ke dalam rumah panggung.

​Di dalam rumah, aroma kayu tua dan debu terasa sangat pekat.

​Adit duduk di atas kursi kayu panjang sementara Bang Jarwo mengambilkan segelas air putih hangat.

​"Diminum dulu, Dit," ucap Bang Jarwo menyodorkan gelas.

​"Terima kasih, Bang." Adit meneguk air itu hingga tersisa separuh.

​Bang Jarwo duduk di hadapan Adit sambil memperhatikannya dari atas sampai bawah.

​"Pakaianmu rapi, tapi mukamu lesu sekali, Dit. Ada masalah apa di kota?"

​Adit menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa malu yang membakar dadanya.

​"Saya... saya sudah di-PHK dari kantor, Bang."

​"Astagfirullah," Bang Jarwo mengelus dadanya kaget.

​"Terus pacarmu si Siska itu bagaimana?"

​"Dia minta putus begitu tahu saya kehilangan pekerjaan."

​Bang Jarwo menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan.

​"Perempuan zaman sekarang memang banyak yang tidak mau diajak berjuang dari bawah."

​"Sudahlah, Dit, tidak usah terlalu dipikirkan. Yang lalu biarlah berlalu."

​"Iya, Bang. Makanya saya memutuskan buat pulang saja ke desa."

​Adit menatap ke arah jendela yang memperlihatkan tanah luas di belakang rumah.

​"Saya berniat mengolah tanah peninggalan Bapak dan Ibu."

​"Saya mau coba berkebun dan beternak di sini."

​Bang Jarwo tampak agak ragu mendengar penuturan Adit.

​"Mengolah tanah seluas ini butuh modal yang tidak sedikit, Dit."

​"Uang pesangon saya sisa sedikit, Bang, tapi saya mau coba dulu semampu saya."

​"Kalau memang itu keputusanmu, Paman pasti bantu."

​Bang Jarwo menepuk bahu Adit pelan.

​"Lagipula di desa ini ada Bang Sopo juga."

​"Bang Sopo? Paman Sopo yang dulu ngurus kandang sapi almarhum Bapak?"

​"Iya, siapa lagi!" Bang Jarwo tertawa kecil.

​"Dia sekarang lagi kerja serabutan di kampung sebelah, tapi kalau kamu panggil, pasti dia mau bantu."

​"Baguslah kalau begitu, Bang."

​Adit mengepalkan tangannya di atas paha.

​"Besok pagi kita langsung bersihkan lahan dan beli bibit tanaman sama ternak."

​"Kamu yakin mau mulai besok, Dit? Kamu belum istirahat."

​"Saya tidak punya waktu buat bersantai lagi, Bang."

​"Setiap hari yang terbuang berarti uang simpanan saya makin menipis."

​Bang Jarwo menatap mata Adit yang penuh tekad dan mengangguk setuju.

​"Baiklah kalau begitu, besok pagi Paman bakal panggil Bang Sopo sekalian."

​"Kita bersihkan rumput-rumput liar di tanah belakang."

​Malam semakin larut di Desa Sukamaju.

​Adit berbaring di atas tempat tidur kayu tua bekas kamar orang tuanya.

​Suara angin malam berembus kencang menerpa dinding papan rumah.

​Adit menatap langit-langit kamar yang penuh dengan jaring laba-laba.

​"Bapak... Ibu..." bisik Adit pelan.

​"Doakan Adit dari atas sana."

​"Adit bakal buktikan kalau Adit bisa sukses di tanah peninggalan kalian."

​Adit memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir rasa cemas yang terus membayangi pikirannya.

​Esok hari adalah awal dari perjuangan barunya di tanah kelahiran yang telah lama dia tinggalkan.

Bab 3

​Ayam jantan berkokok bersahutan di kejauhan saat Adit terbangun.

​Cahaya matahari pagi baru saja mengintip dari balik bukit, menyinari debu-debu yang beterbangan di dalam kamar.

​Adit bangkit dengan perasaan pegal di sekujur tubuhnya akibat perjalanan panjang kemarin.

​Dia segera keluar menuju halaman belakang rumah panggung.

​Di sana, Bang Jarwo sudah berdiri dengan cangkul di bahu dan Bang Sopo yang sedang sibuk mengasah golok.

​"Pagi, Dit! Tidur nyenyak?" sapa Bang Sopo dengan suara berat yang khas.

​"Pagi, Bang Sopo. Wah, sudah semangat sekali nampaknya," jawab Adit sambil mengulas senyum.

​Bang Sopo terkekeh sambil memasukkan goloknya ke dalam sarung kayu.

​"Tentu saja, sudah lama sekali tanah warisan bapakmu ini tidak dijamah manusia."

​"Kalau didiamkan terus, bisa-bisa jadi hutan belantara permanen," timpal Bang Jarwo.

​Mereka bertiga berjalan menuju lahan yang luasnya hampir dua hektar di belakang rumah.

​Ilalang setinggi dada orang dewasa menutupi permukaan tanah yang berbatu dan retak.

​Adit menarik nafas dalam-dalam, menatap area yang akan menjadi tumpuan hidupnya.

​"Kita mulai dari bagian depan sini ya, Bang?" tanya Adit.

​"Siap, Dit! Biar aku sama Bang Jarwo yang babat habis semak-semak ini," sahut Bang Sopo antusias.

​Wuk! Wuk!

​Suara sabetan celurit Bang Sopo dan cangkulan Bang Jarwo mulai mendominasi suasana pagi yang tenang.

​Adit tidak tinggal diam, dia ikut mencabuti rumput liar di sekitar bibit tanaman yang sudah mati.

​Keringat mulai bercucuran deras membasahi kemeja usang yang dikenakan Adit.

​Setelah tiga jam bekerja keras, hanya sekitar sepersepuluh bagian lahan yang baru selesai dibersihkan.

​"Wah, capek juga ya," keluh Adit sambil duduk bersandar di pohon jati tua.

​"Memang kalau tanahnya sudah lama terlantar begini, energinya beda, Dit," ujar Bang Jarwo sambil mengelap keringat di dahi.

​Mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati air teh hangat yang dibawa dari rumah.

​"Dit, soal bibit tanaman sama ternak, kamu mau beli apa dulu?" tanya Bang Sopo tiba-tiba.

​"Saya berencana beli bibit cabai dan beberapa ekor kambing etawa," jawab Adit pelan.

​"Cabai itu perawatannya lumayan cerewet, Dit. Kambing etawa juga butuh pakan yang bagus," saran Bang Jarwo.

​Adit terdiam mendengar nasihat itu.

​Dia menyadari bahwa keahliannya di bidang pertanian dan peternakan masih sangat minim.

​"Saya akan coba pelajari sambil jalan, Bang. Saya tidak punya banyak pilihan lain."

​"Tenang saja, kami akan bantu semampu kami," Bang Sopo menepuk bahu Adit dengan tangan yang penuh tanah.

​Siang harinya, Adit pergi ke pasar desa menggunakan motor tua milik Bang Jarwo.

​Dia menggunakan sisa uangnya untuk membeli beberapa bungkus bibit cabai murah dan dua ekor kambing muda yang kurus.

​Saat kembali, dia melihat kondisi lahan yang sudah dibersihkan terlihat kontras dengan bagian lainnya.

​Tanah itu tampak gersang, kering, dan kekurangan unsur hara yang memadai.

​Adit menanam bibit cabai itu satu per satu dengan harapan besar.

​Dia juga menempatkan kedua kambing itu di kandang kayu lapuk yang diperbaiki seadanya oleh Bang Sopo.

​"Semoga ini jadi awal yang baik," bisik Adit sambil menyiram tanaman dengan sisa air.

​Namun, nasib berkata lain.

​Dalam seminggu ke depan, hujan tidak kunjung turun dan matahari bersinar sangat terik.

​Tanaman cabai yang baru tumbuh setinggi jari mulai menguning dan layu satu per satu.

​Kedua kambing itu juga tampak lesu karena pakan rumput di sekitar sana tidak cukup bergizi.

​"Dit, sepertinya tanah ini kurang sehat, bibitnya banyak yang mati," kata Bang Jarwo dengan nada khawatir.

​Adit menatap lahan cabainya yang sudah setengah mati, lalu menatap dua kambingnya yang lemas.

​Dadanya terasa sesak oleh rasa putus asa.

​Uang yang tersisa sudah habis untuk membeli peralatan dan pakan tambahan.

​"Bagaimana ini, Bang?" suara Adit nyaris tidak terdengar.

​"Sabar, Dit. Mungkin memang tanah ini butuh perawatan ekstra," jawab Bang Sopo mencoba menghibur.

​Malam itu, Adit duduk sendirian di depan kandang kambing.

​Dia menatap kegelapan lahan yang kini justru terlihat seperti kuburan harapan baginya.

​Tiba-tiba, sebuah suara berdengung samar terdengar di telinganya.

​[Sistem Perkebunan dan Peternakan telah mendeteksi keputusasaan tuan.]

​[Apakah ingin mengaktifkan sistem pendukung?]

​Adit mematung, matanya terbelalak menatap ruang kosong di depannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!