"Maid?!"
Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berteriak setelah diterima bekerja.
"S-saya... j-j-jadi maid...?" tanyanya lagi dengan dahi berkeringat.
Seorang pria di depannya yang merupakan pemilik kafe menjawab, "Itu benar."
Moiro kembali memastikan, suaranya terbata-bata, "T-tapi... K-kenapa harus jadi maid...?"
"Karena jika dilihat lebih detail, kamu memiliki potensi menjadi seorang maid. Rambutmu yang berwarna pink alami seolah memberikan kesan ramah bagi pelanggan. Bukankah itu bagus?"
"Tapi... S-saya ini kan cowok..."
"Kalau itu masih bisa diakali. Kamu tenang saja."
Setelah pria itu berkata demikian sambil tersenyum, di belakangnya datang maid-maid yang cantik dan imut. Mereka berkumpul dengan membawa beberapa perlengkapan seperti baju maid, sisir, makeup, bando maid, hingga bantalan dada.
Bantalan dada? Hmm... Menarik.
Pria itu kembali berkata, "Para seniormu bisa langsung membantumu."
Moiro membatu seketika, duduk bergeming. Ujung bibirnya tersungging kaku, mulutnya bergetar, alisnya terangkat ringan. Beberapa detik berlalu, dan tak satu pun kata berhasil keluar dari mulutnya.
Ia tak menduga kalau dirinya akan diterima bekerja dan dijadikan maid.
Awalnya ia mengira dirinya akan menjadi penjaga kasir, atau mungkin pelayan normal alias waiters restoran ini. Tapi ternyata tidak—malah jadi maid! Kocak emang.
Padahal, niat awalnya bekerja paruh waktu di sini untuk melunasi utang orang tuanya yang bisa dibilang cukup banyak, tapi mungkin, kini dia akan berhutang jati diri pada dirinya sendiri untuk menahan malu.
Semoga jati dirinya gak hilang.
...---...
Seorang maid kini berdiri di belakangnya.
Ia memegang pundak Moiro sambil tersenyum, lalu membawanya keluar dari ruangan bos menuju tempat ganti pakaian.
Moiro menolak dan berusaha melawan. Namun semakin ia menolak, semakin banyak maid yang membawanya.
Moiro tak bisa melawan lagi, hingga ia didorong mendekat masuk ke dalam ruang ganti.
Moiro mengangkat satu tangannya cepat, lalu para maid sontak berhenti mendorongnya.
"Aku... bisa ganti baju sendiri kok," ucapnya dengan nada bergetar sambil menoleh, wajahnya membiru sedikit takut.
Ia mengambil pakaian kerjanya dari salah satu maid, dan segera masuk ke ruang ganti.
Di dalam, ia menatap cermin besar, sambil mengangkat baju maid di tangannya, mencocokkan dengan dirinya, "Apa aku... betulan harus kayak gini?!"
Ia membuang napas panjang. Wajahnya mulai memerah saat kembali menatap cermin, namun sorot matanya tajam, meski sedikit kaku.
.........
Selang beberapa waktu, ia keluar dengan pakaian maidnya.
Wajahnya memerah. Muka berpaling, sedikit menunduk ke kiri. Telunjuk kanannya menggaruk pelan pipi kanan. Sedangkan tangan kiri mendorong celemeknya yang putih khas maid ke bawah.
Ia terlihat cukup imut.
Maid-maid itu terkejut melihat Moiro.
Moiro melirik para maid, canggung, lalu berkata dengan malu, "Jangan tatap aku kayak gitu..."
Para maid terdiam. Wajah mereka memerah dengan cepat.
BOM!
Darah mimisan menyembur bersamaan dari hidung mereka.
Moiro membelalak, sontak berteriak dalam hatinya, "ADA APA INIII?!"
"Aaaahh, imut bangeet~!"
"Aku pengen meluk diaaa!"
"Gak kuat."
"Tanpa makeup aja udah imut. Apalagi kalo pake... Ngh!" >//<
*Ada yang pingsan juga.
Mereka mulai tumbang berjatuhan.
Melihat para maid yang kerasukan membuat Moiro bergetar, seolah baru saja menyaksikan pembantaian masal.
Ia menatap dengan raut wajah yang shock, lalu menjerit dalam hatinya, "I-INI PADA KENAPA DAAH?!"
Ya karena kau lah.
Satu per satu maid mulai kembali bangkit.
Mereka langsung berdiri dengan cepat, lalu perlahan mendekati Moiro dengan mata bersinar, wajah memerah, dan sedikit air liur membasahi bibir mereka—mirip hewan buas yang siap menyantap mangsa.
Lah, berarti Moiro bakal jadi santapan mereka, dong?
"A-Aku bakal make up-in kamu!"
"Bantalan dada udah siap di tangankuu~!"
"Ma-mau kusisir rambutmu...?"
"AKU MAU MELUK DIA!"
Para maid mulai mendekat dengan gerakan cepat dan liar.
Beneran hewan buas ini mah!
Moiro berlari menjauhi mereka dengan cepat karena takut.
Tetapi para maid tak tinggal diam. Mereka segera berlari mengikuti Moiro, berusaha menangkapnya.
Moiro yang berlari dengan ekspresi ketakutan menjadi semakin takut saat melihat ke belakang, "WAAA! KALIAN JANGAN NGEJAR AKUU! NYEREMIN BET WOOOII!"
Emangnya Moiro seimut apa sih sampe mereka kayak gitu? Aduh, pengen liat juga kan jadinya.
Moiro tertangkap, dan sekarang...
Ia telah didandani dan malah jadi semakin imut.
Moiro duduk diam di depan meja rias, menatap cermin yang ada di hadapannya.
Ia menatap datar ke cermin, melihat dirinya yang kini benar-benar terlihat seperti seorang perempuan.
Wih, jadi pengen liat.
Moiro menggerutu, mengutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya malah jadi imut setelah didandani—padahal ia adalah seorang laki-laki!
"Kenapa...? Bisa-bisanya jadi kayak gini..." suaranya bergetar.
"Aaarghh! Kok aku jadi imut gini sih?! Mana keliatan cocok pula!" serunya sambil mendongak. Tangannya mengacak-acak rambut.
Moiro terdiam. Ia membatu setelah mengacak rambut yang sudah dengan susah payah dirapikan oleh salah seorang maid.
Tubuhnya bergetar. Ia menurunkan tangannya perlahan, lalu memalingkan wajahnya menatap ke arah para maid dengan kaku. Pupilnya mengecil, merasa takut jika ia akan dimarahi oleh mereka.
Hayolo.
Begitu matanya menatap para maid, entah kenapa ia merasa kecewa. Tatapannya kembali datar.
Ia melihat para maid sudah terbujur kaku, darah mimisan masih mengucur dari hidung mereka. Anehnya, wajah mereka justru terlihat bahagia dengan senyuman khas yang terpampang jelas di bibir mereka.
Moiro tersentak sadar. Dengan cepat, ia memalingkan wajahnya ke cermin dan segera mencari sisir untuk kembali merapikan rambutnya.
Setelah disisir, ia merasa lebih lega.
Ia kembali menatap para maid yang masih tergeletak, lalu menghela napas panjang, "Kayaknya bakal susah kalo kerja bareng para senior..."
...***...
Moiro kini kembali berada di ruangan bos.
"Saya... sudah pakai seragamnya," ucap Moiro yang sedikit menunduk di depan pemilik kafe.
Pria itu menyilangkan jari-jarinya, menutup mata, lalu tersenyum miring, "Sudah kuduga..."
Matanya terbuka cepat, menatap lurus pada Moiro, "Kamu cocok kalau jadi maid."
Beh, emang cocok sih.
Moiro mulai membungkukkan badannya rendah. Tubuhnya sedikit gemetar.
Pria itu bingung, lalu bertanya kepada Moiro, "Kenapa kamu membungkuk begitu?"
Moiro menjawab, suaranya sedikit kaku, "Se-sebelumnya... saya.. mau minta maaf."
Pria itu bingung mengapa Moiro meminta maaf. Ia menunggu jawaban darinya.
Moiro mengangkat badannya, kepalanya masih sedikit menunduk, "S-saya... Saya merasa tidak nyaman kalau seperti ini."
Pria itu mengangkat alisnya, bingung, "Loh...? Kenapa begitu—"
Brak!
Pintu terbuka kencang.
Dari asal suara, terlihat seorang maid yang membungkuk dengan napas terengah.
Kepalanya diangkat, darah mimisan masih terlihat di bawah hidungnya. Ia menatap pada pemilik kafe itu sambil berseru, "Pak Bos... Anak baru itu hilang!"
Keheningan menggantung sejenak.
"Eh?" maid itu terdiam ketika melihat bosnya yang sedang bersama si Anak Baru.
"Tenang. Dia masih di sini," balas si Bos, terdengar santai.
Maid itu menatap Moiro.
Moiro membalasnya dengan senyuman canggung.
Maid itu tersenyum. Matanya menutup perlahan. Kedua tangannya saling menggenggam di depan dadanya, "Oalaah... Ternyata dia masih di sini toh? Haaa~"
Perlahan, ia terkulai di depan pintu. Tangannya masih saling menggenggam. Matanya tertutup. Wajahnya tersenyum penuh kebahagiaan, meski darah mimisan masih membekas.
Gak ngalangin pintu itu?
Moiro dan pria itu menatap heran.
Tak lama berselang, maid yang lain juga berdatangan.
"Ah?! Hikari! Kamu kenapa?!"
"D-dia kayaknya p-pingsan..."
"Kenapa bisa begini~?"
Para maid segera mencari alasan temannya pingsan di depan pintu.
Akhirnya, mereka menemukan jawabannya—Moiro.
Mereka menatapnya.
Moiro kembali membalas dengan senyuman canggung. Ia melambaikan tangannya pelan.
Alhasil, semua maid terbaring berjejer rapi dengan pose yang sama—tangan menggenggam di dada, tersenyum bahagia, dan bekas mimisan yang mengering di bawah hidung.
Moiro dan pria itu menatap mereka datar. Rasanya seperti melihat pemakaman masal korban perang yang mati bahagia. Sungguh kontras.
Moiro menghela napas, "Ini salah satu alasannya..."
Ia melirik bosnya, berharap dia memahami situasi saat ini.
Pria itu terlihat memegangi dagu. Tatapannya serius, "Begitu, ya...? Aku paham."
Moiro menjadi senang, dan berharap bosnya bisa memberikan jalan keluar, "Syukurlah. Semoga profesiku diganti jadi lebih baik!"
Pria itu menatap lurus ke arah Moiro. Jempol kanannya diacungkan padanya, "Kamu memang cocok menjadi maid!"
Moiro membatu. Hancur sudah harapannya untuk bebas dari profesi maid.
Kasian Moiro.
Moiro menunduk. Matanya tertutup perlahan, "Kayaknya dah gak ada harapan..."
"Baiklah, Pak bos... Saya akan—" Moiro membelalak begitu melihat bosnya mimisan di salah satu hidungnya, "AAA! BOS, HIDUNGMU!"
Pria itu heran. Dia pun mengambil cermin kecil.
Begitu melihat pantulannya, dengan tenang dia menyumbat hidungnya dengan tisu.
"Aduh, Bos. Kenapa bisa gitu...?" tanyanya dalam hati dengan ekspresi yang masih kaget. Tatapannya kosong. Rasanya, jiwanya baru saja keluar sebentar dari dalam tubuhnya.
Pria itu keheranan, kemudian menatap Moiro lalu dengan santai bertanya, "Hmm? Kok bisa gini ya? Kamu tau kenapa?"
Dia kembali menatap cermin.
"YA GAK TAU LAH!" jawab Moiro dalam hati.
Ia tersentak, lalu menggeleng pelan, "Eh?! Gak boleh gini sama bos walau cuma dalam hati. Maaf, Pak Bos..."
Parah kau ini.
Setelah beberapa saat menatap cermin, pria itu kemudian mengangkat bahunya, "Terserahlah."
Ia kembali menatap Moiro.
"By the way, mulai besok kamu udah bisa kerja," lanjutnya sambil kembali mengacungkan jempol.
Setetes darah kembali muncul dari lubang satunya.
"B-Bos, lubang satunya...!" seru Moiro panik.
Pria itu memeriksanya lagi, lalu menyumbatnya juga, "Eh. Maaf, maaf. Mungkin tekanan darahku lagi naik."
Mendengar itu darinya hanya membuat Moiro tersenyum tipis—senyum yang jelas dipaksakan.
Ia membungkuk sebentar lalu keluar ruangan, melewati para maid yang masih terbaring bahagia.
Begitu pintu di belakangnya ditutup, dahinya membiru dan berkeringat dingin, "Kok rada aneh, ya...? Jadi takut gini."
Satu tangannya memegang perut dan satunya menutup mulut, ekspresinya berubah mual, "Pengen muntah..."
Kini, sudah sore menjelang malam, atau sebutan lainnya ialah senja, dan Moiro sedang berjalan pulang dari kafe menuju rumahnya.
Di perjalanan, ia menghela napas panjang, "Kupikir aku bakal jadi pramusaji biasa atau yang lain..."
"Ternyata malah jadi maid! Aku gak nyangka kalo bakal jadi maid!" serunya sambil mendongak, alisnya mengernyit, kedua tangannya diangkat setinggi bahu, lalu jari-jarinya digerakkan acak seperti tentakel.
Matanya melirik datar ke kanan atas, seolah melihat awan khayalannya sendiri, "Dan juga..."
Ia mengingat ucapan bosnya sesaat sebelum pulang dari kafe tempatnya diterima kerja.
...----------------...
"Oh iya. Nanti sepulang ini, kamu latihan membuat suaramu terdengar lebih feminin ya. Diubah sedikit pasti akan bagus," ucap bosnya santai, terlihat profesional.
Bosnya melanjutkan, sambil mengacungkan jempolnya, "Pasti akan semakin cocok denganmu, dan para pelanggan juga pasti akan menyukainya."
Punggung tangannya menutupi sisi mulut di samping lalu berbisik, "Bahkan bisa saja mereka tak sadar kalau kamu sebenarnya laki-laki."
...----------------...
Mengingat itu, Moiro kembali mengernyit tanpa ia sadari. Dahinya membiru, sedikit merasa mual, "'Cocok' apanya...?"
Ia memegang kepalanya seperti orang stres berat, mengacak-acak rambutnya dengan kasar, lalu mendongak dengan tatapan melotot, "Gimana kalo aku kehilangan jati diriii?!"
Ia menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, "Mustahil, aku dah gak bisa nolak..."
Matanya melotot, menembus telapak tangannya, "YAKALI AKU HARUS JADI MAID?!"
"KENAPA HARUS KAYAK GINI SIH?!" teriaknya sambil kembali memegang kepala dan mengacak rambut.
Sambil berteriak tak karuan, ia mengangkat kedua tangannya tinggi, lalu digerakkannya cepat.
Memutar bahunya seperti atlet renang, sambil berteriak lagi.
Berlari dengan menggunakan tangan—teriak lagi.
Berguling-guling—teriak lagi.
Berdiri. Tatapannya datar.
Ekspresinya berubah stres. Memegang kepalanya sambil berteriak lagi.
Ia menggoyangkan kepalanya seperti pemusik rock dan... berteriak lagi. Satu tangannya diangkat membentuk pose khas penyanyi rock. Kini tampaknya sedikit lebih normal.
Gak sih. Masih keliatan aneh.
Saat Moiro masih berkelakuan aneh—seperti orang gila—ada seorang gadis lewat di depannya.
"A-Asahi?" tanya gadis itu. Matanya mengerjap heran, "Kamu... Asahi, kan?"
^^^Ilustrasi dari AI.^^^
Kok tiba-tiba dikasih foto?! Author...? MAKASIH BANYAK!
Moiro segera berubah menjadi lebih dingin. Ia berdiri tegak, menatap datar padanya, "Sano, ya?"
Lah?! Langsung berubah?!
Mika Sano, itulah nama gadis itu. Dia adalah salah satu teman sekelas Moiro di sekolah menengah atas, yang juga kebetulan posisi bangkunya dekat dengannya, jadi dia cukup mengenal Moiro.
Mika mengangguk singkat, "Benar. Kenapa kamu ada di sini senja-senja begini?"
Moiro sedikit tersentak, namun tak terlihat bereaksi. Ia cukup bingung karena tiba-tiba ditanya begitu saat pikirannya masih terasa pusing karena hal-hal tak jelas yang terjadi di kafe sebelumnya.
Matanya melirik ke samping, berusaha mencari alasan, "Aku... pulang dari toserba."
Boong bet dah ni bocah.
"Toserba?" tanyanya bingung.
Ia memiringkan tubuhnya sedikit ke samping, menatap ke tangan Moiro, "Tapi aku gak ngeliat kamu bawa barang."
Moiro membatu, wajahnya masih serius, "Ah, sial...! Aku keliru ngasih jawaban!"
Makanya jangan boong.
Moiro mengangkat kedua tangannya dan melipatnya di depan dada. Pandangannya dipalingkan, "Yaa.. sebenarnya gak ada yang kuinginkan di sana. Jadi aku pulang gak bawa apa-apa."
Mika mengerjap, lalu kembali menegakkan badannya, "Be-begitu, yaa...?"
Moiro kembali menatapnya, "Kalau kau, kenapa ada di sini?"
Mika sedikit memiringkan kepalanya, jari telunjuknya menyentuh dagu bagian samping, "'Kenapa ada di sini'? Rumahku kan di dekat sini."
"Kamu lupa ya, Asahi?" lanjutnya sambil tersenyum. Kedua tangannya dilipat di belakang tubuhnya.
Moiro kembali membatu, "Haa... Aku gak tau...!"
Bloon bet.
Moiro memalingkan pandangannya lagi, "Benarkah? Sepertinya aku lupa. Maaf."
Mika tersenyum manis, menahan taw kecilnya, "Gak perlu minta maaf."
Dia menepuk tangannya sekali, lalu berkata, "Oh, iya! Mumpung kamu lagi di sini, mau mampir bentar gak?"
Dia melanjutkan sambil memiringkan kepala dan tangannya yang masih rapat, "Mungkin kamu lapar atau—"
"Tidak perlu," sahut Moiro cepat. Tangannya diarahkan pada Mika seolah berkata stop, "Aku langsung pulang aja."
Mika terdiam sebentar, lalu menurunkan tangannya perlahan, "Be-begitu, ya...? Baiklah kalo gitu..."
Moiro mengangguk singkat, lalu berjalan menuju rumahnya.
"Hati-hati di jalan!" seru Mika sambil melambai tinggi.
Moiro tak menoleh, namun ia mengangkat satu tangannya untuk membalas lambaian Mika tanpa berbalik.
Sok keren bet.
.........
Saat Moiro sudah mulai jauh dari tempat Mika, ekspresinya langsung berubah menjadi cemas sedikit takut, "Siapapun gak boleh tau kalo aku kerja paruh waktu jadi maid! Betul, harus kurahasiakan!"
Setelah berjalan beberapa waktu, kini Moiro telah sampai di depan rumahnya. Ia menatapnya sebentar, lalu bergumam, "Mungkin aku perlu kerja tambahan buat lunasin hutang."
Ia pun menghela napas sebelum akhirnya masuk ke dalam rumahnya.
Rumahnya nampak biasa saja, seperti rumah murah pada umumnya. Bangunan dengan desain standar, ukuran yang cukup untuk ditinggali tiga orang, dan memiliki halaman depan yang cukup luas.
Saat masuk ke dalam rumah, ia menatap sekelilingnya yang nampak kosong dan gelap. Tak ada yang menyambutnya, tak ada kehangatan dari senyuman tulus yang menghampirinya. Ia merasa kesepian, sendirian.
Moiro menyalakan lampu, membuat seisi rumahnya menjadi lebih terang.
Saat itu, ia melihat sebuah foto besar hewan lucu dengan bingkai kayu di samping sakelar lampu, dan Moiro langsung terpikirkan hal yang seharusnya ia lakukan sejak dulu.
"Tunggu, ini foto kan gak kepake? Aku bisa jual sama sekalian beberapa barang yang gak dibutuhin, setidaknya mengurangi jumlah hutang yang ada," gumamnya, "Benar juga. Kenapa aku baru kepikiran?"
Ia meletakkan jari telunjuk dan jempolnya di bawah dagu, berpose keren seolah baru mendapatkan petunjuk yang datang. Matanya terpejam dan tersenyum bangga, terlihat sedikit sombong, "Aku memang jenius."
"Meski baru kepikiran, sih..." matanya kembali terbuka dan melirik ke samping, sedikit kehilangan kepercayaan dirinya, "Itu oon bet. Tapi gak papa."
Tangannya turun perlahan, lalu senyuman tipis muncul di bibirnya, "Aku akan melunasi semua hutang kalian, Ayah, Ibu."
Ia melipat tangannya di depan dada, kepalanya sedikit menunduk, "Meski kalian ngutang gak ngasih tau, tapi aku tetap menyayangi kalian."
Tangannya mulai bertolak pinggang, "Baiklah. Kita lihat, barang apa aja yang gak penting buatku."
Matanya melirik sekitar, menyusuri tiap-tiap jengkal rumahnya, mencari barang yang sekiranya tidak akan terpakai olehnya—barang yang tidak ia butuhkan.
Tapi... yang ia liat justru ruangan yang cukup berantakan. Sudah berapa lama ia tak membereskannya?
Moiro menatap datar. Ia menunduk sambil membuang napas panjang, "Mungkin malam ini aku bakal sedikit beres-beres... Lembur, nih."
Ia mulai tersenyum tipis, lalu berkata pelan, "Daripada ngeluh, mending langsung kerja."
Ia menggenggam tangannya, mengkretekkan jari-jarinya. Matanya menatap tajam, lalu berkata berat, "Baiklah... Harus mulai dari mana, ya?"
Itu... gak pengen berantem kan?!
Di malam itu, Moiro berusaha keras membereskan rumahnya, memisahkan barang yang tak terpakai dan meletakkannya di suatu tempat dekat pintu keluar agar mudah dipindahkan, sampai akhirnya tertidur di atas sofa pada tengah malam karena kelelahan.
...***...
Di pagi harinya, saat matahari mulai terbit, ia akhirnya terbangun dalam keadaan masih mengantuk dan sedikit lelah.
Ia duduk, mengerjap, menguap, lalu menggosok matanya pelan.
Hidungnya bergerak perlahan, mencium aroma tak sedap di sekitarnya.
"Bau apa ini...?" gumamnya pelan karena masih mengantuk.
Ia menoleh ke samping, depan, dan belakang, mencari sumber aroma tak sedap itu. Tangannya menggaruk kepalanya sendiri karena bingung.
Sampai akhirnya ia tersadar sesuatu bahwa...
"Oh, iya..." ucapnya pelan, tatapannya datar, "Kemarin aku gak mandi."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!