Indonesia
NovelToon NovelToon

ANAK PEMBALAS DENDAM

PENGKHIANATAN

Malam itu langit tertutup awan kelabu tebal, tak ada secercah bintang pun yang menampakkan cahayanya. Angin berdesir pelan namun dingin di sela-sela pepohonan rindang yang mengelilingi rumah megah itu — sebuah bangunan besar yang berdiri sendirian di atas bukit, jauh dari suara dan hiruk-pikuk kehidupan warga. Keheningan menyelimuti tempat itu begitu lama, seakan alam pun ikut menahan napas, menyadari bahwa sesuatu yang buruk sebentar lagi akan terjadi.

Namun ketenangan itu pecah seketika.

"Brengsek! Apa yang membuatmu menjadi pengkhianat seperti sekarang ini, hah?" teriak lelaki paruh baya itu dengan suara parau namun penuh amarah. Tangannya dan kakinya terikat erat dengan tali kasar yang melukai kulitnya, tubuhnya terjatuh dan tertatih di atas lantai marmer yang dingin dan licin. Kemeja mahalnya kini kusut, kotor, dan berlumuran debu; wajahnya memerah bukan hanya karena kemarahan, melainkan karena rasa sakit yang perlahan menjalar di sekujur tubuhnya.

Suara bentakannya bergema keras di setiap sudut ruangan yang luas itu, memantul dari dinding-dinding berhias lukisan mahal hingga ke langit-langit yang tinggi. Sayangnya, tidak ada satu pun warga yang dapat mendengarnya — rumah itu berdiri terpencil, jauh dari pemukiman mana pun, seakan dibangun sengaja agar rahasia-rahasia di dalamnya tidak pernah bocor ke luar.

Hening sejenak. Hanya terdengar suara napas berat lelaki itu.

Tiba-tiba — BRAK! — sebuah pukulan keras mendarat tepat di pipi lelaki itu. Kepalanya terhempas ke samping dengan kuat, darah segar segera menetes dari sudut bibirnya yang pecah, jatuh dan membasahi lantai putih bersih di bawahnya. Matanya menyipit karena perih, namun ia tetap menatap tajam ke arah orang yang baru saja memukulnya.

"Sebaiknya kau diam saja," ujar orang itu, suaranya datar, dingin, dan tanpa belas kasih sedikit pun. "Kau tahu kan sendiri — selama belasan tahun ini kau memerintah kami dengan aturanmu sendiri, mengatur segalanya sesuka hatimu. Dan aku sudah muak. Sudah sangat muak. Jadi kami memutuskan sendiri: jika kami mampu berkuasa dan mengurus semuanya sendiri, mengapa kami harus tetap tunduk dan patuh padamu?"

Saat itu juga, dari samping, terdengar suara isak tangis. Sang istri — yang juga terikat erat di samping suaminya, tak berdaya — mulai menangis dengan bahu yang berguncang hebat. Wajahnya yang cantik pucat pasi, matanya sembab karena ketakutan, air mata mengalir deras membasahi pipinya yang dingin.

"Biarkan kami bebas," mohonnya dengan suara gemetar hingga hampir tidak terdengar jelas. "Kami berjanji — tidak akan ikut campur urusan kalian lagi, tidak akan pernah bertanya atau mencari tahu apa yang kalian lakukan. Kami akan pergi jauh sekali, menjauh selamanya dari tempat ini, dan tidak akan pernah mengusik hidup kalian sedikit pun. Tolong... lepaskan kami..."

Di sudut ruangan, di bawah cahaya lampu yang agak redup, ada seseorang yang sedari tadi hanya diam. Ia duduk tenang di sofa besar yang empuk, seakan semua yang terjadi di depannya hanyalah tontonan biasa yang tidak menyentuh hatinya sedikit pun. Perlahan ia berdiri — langkahnya pelan, tenang, namun setiap gerakannya terasa penuh ancaman. Di balik punggungnya, ia mengeluarkan sebilah pisau panjang yang berkilau tajam terkena cahaya lampu. Tanpa terburu-buru, ia berjalan mendekati wanita yang sedang menangis itu.

Wajahnya datar, dingin, tanpa emosi — seakan ia bukan manusia yang punya hati.

"Maaf, Nyonya," ucapnya rendah, hampir berbisik, begitu tenang seakan sedang menyampaikan salam bukan ancaman kematian. "Tapi ada satu hal yang harus kau pahami: mayat adalah penyimpan rahasia terbaik di dunia ini. Karena mulut yang sudah tertutup selamanya tidak akan pernah bisa membocorkan apa pun kepada siapa pun."

Tanpa menunggu jawaban, tanpa ragu sedikit pun — ia langsung menusukkan pisau tajam itu ke dada wanita itu. Sekali. Dua kali. Berkali-kali lagi, dengan gerakan cepat, mantap, dan kejam. Darah segar membasahi pakaiannya, menetes ke lantai.

Wanita itu tersentak hebat, tubuhnya menegang sejenak, lalu perlahan melemas sepenuhnya. Ia tewas dengan mulut sedikit terbuka dan mata melotot lebar — seakan hingga napas terakhirnya pun, ia masih tidak percaya bahwa orang-orang yang selama ini mereka percayai dan perlakukan baik, tega melakukan hal sekejam ini kepada mereka.

"TIDAK! BAJINGAN KALIAN SEMUA!" teriak suaminya sekuat tenaga, suaranya pecah oleh campuran kemarahan yang meluap-luap dan kesedihan yang menghancurkan hati. Matanya menyala penuh amarah, air mata pun akhirnya jatuh di pipi lelaki yang dulu gagah dan berwibawa ini. "Akan kupastikan kalian menerima pembalasan yang setimpal! Akhir yang sama persis dengan apa yang kalian lakukan hari ini! Ingatlah kata-kataku!"

Pembunuh itu menoleh perlahan. Sebuah senyum tipis, sinis, dan mengerikan terukir di sudut bibirnya.

"Tidak usah berjanji begitu. Kau pun akan segera menyusul istrimu ke tempat yang sama. Anggap saja aku sedang berbuat baik — agar kalian tetap bersama selamanya, tidak terpisahkan lagi. Di akhirat." Ia tertawa pendek, kasar, dan dingin — suara yang membuat bulu kuduk berdiri. "Hahaha!"

Lalu ia berbalik — dan melakukan hal yang sama kepada lelaki itu. Pisau yang masih berlumuran darah itu turun lagi, berulang kali menembus dada lelaki yang dulu mereka hormati dan panggil Tuan. Tak lama kemudian, tubuh lelaki itu pun terkulai diam. Suami istri itu tewas berdampingan — persis seperti yang dikatakan orang jahat itu.

Salah satu rekan mereka yang sedari tadi hanya menyaksikan, melangkah maju dengan wajah tampak cemas dan gelisah. "Lalu bagaimana selanjutnya? Jangan sampai hal ini terendus publik. Semua rencana kita akan sia-sia kalau polisi mulai menyelidiki dengan serius."

Orang yang memegang pisau itu mengelap darah di tangannya dengan ujung kain, begitu tenang seakan tidak ada yang terjadi. "Tenang saja. Lepas semua ikatan mereka agar tidak terlihat mencurigakan. Lalu — bakar rumah ini sampai rata dengan tanah, tidak ada yang boleh tersisa. Buat semua orang percaya bahwa ini hanyalah kecelakaan kompor gas biasa yang menimpa keluarga baik hati. Dan hubungi teman kita yang bertugas di kepolisian — pastikan ia mengurus segalanya agar penyelidikan ini tidak berlanjut lebih jauh."

Mereka pun segera bergerak, melaksanakan perintah itu tanpa menunda sedetik pun. Cahaya api mulai tumbuh besar, menerangi malam yang gelap itu dengan warna merah yang mengerikan.

️ Keesokan Harinya

Langit masih mendung. Asap hitam tebal perlahan mengepul naik dari sisa puing-puing rumah yang dulu megah dan penuh kehidupan itu. Warga desa berkerumun di kejauhan, dipisahkan oleh garis polisi dan petugas yang berdiri tegak menjaga tempat kejadian. Wajah semua orang tampak sedih, terkejut, dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

"Kasihan sekali mereka..." gumam seorang warga tua sambil menggelengkan kepala pelan. "Padahal mereka keluarga yang sangat baik, tidak pernah sombong, dan selalu siap membantu tetangga yang kesulitan tanpa mengharapkan balasan apa pun."

Warga lain yang berdiri di sampingnya ikut menimpali dengan suara berat dan sedih. "Benar sekali. Sering sekali mereka mampir ke warungku untuk membeli sesuatu, dan sering kali tidak mau menerima kembalian. Sungguh malang sekali nasib suami-istri itu — orang sebaik mereka berakhir seperti ini."

Namun di tempat yang agak jauh, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan, berdiri seorang lelaki tua yang berpakaian sederhana namun rapi. Di pelukannya dengan sangat hati-hati, ia menggendong seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun — anak laki-laki yang sedang tertidur pulas, tak tahu apa-apa tentang dunia yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya. Wajah anak itu damai, tidak menyadari bahwa hidupnya telah berubah selamanya.

Lelaki tua itu menatap puing-puing rumah di kejauhan dengan mata berkaca-kaca, air mata menahan jatuh. Ia tampak berat hati pergi, namun tahu bahwa tinggal hanya akan membahayakan nyawa anak itu.

"Maafkan saya, Tuan... Maafkan saya," bisiknya pelan dengan suara bergetar. "Saya tidak mampu berbuat lebih banyak saat itu. Saya tidak cukup kuat untuk melindungi kalian berdua. Tapi saya berjanji — akan saya jaga Tuan Muda ini sekuat tenaga saya, akan saya besarkan dengan jujur dan berani. Dan kelak, saat ia sudah cukup dewasa dan kuat... akan saya ceritakan semuanya. Tentang siapa orang tuanya, apa yang terjadi malam ini, dan siapa yang bersalah. Agar ia bisa membalaskan dendam ini dengan cara yang benar."

Ia menarik napas panjang, mencoba menahan kesedihannya, lalu memeluk anak itu lebih erat — seakan mewariskan semua harapan dan janji ke dalam pelukan itu.

Perlahan ia berbalik. Langkahnya pelan namun mantap menjauh dari tempat itu. Tanpa ada yang menyadari keberadaannya — tanpa ada yang tahu — lelaki tua itu pergi membawa satu-satunya harapan yang tersisa dari kebakaran itu. Dan di belakangnya, rumah itu hanya tinggal abu dan kenangan.

KEMBALI BERSAMA

Lima belas tahun telah berlalu. Waktu berjalan terus tanpa berhenti, membawa banyak perubahan di mana-mana — kota yang dulu sepi kini semakin ramai, gedung-gedung baru berdiri tinggi, dan mereka yang dulu tak berdaya kini telah tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan siap melangkah ke dunia yang lebih luas.

Pagi itu, udara di lingkungan kampus terasa segar dan menyenangkan. Matahari bersinar terang, menyinari jalan setapak yang bersih, gedung-gedung bertingkat yang rapi, serta halaman luas yang dipenuhi mahasiswa baru dan mahasiswa lama yang sibuk berjalan ke sana kemari. Suara tawa dan percakapan terdengar di mana-mana, menciptakan suasana yang hidup dan penuh harapan.

Di area parkir yang luas dan tertata rapi, terlihat dua orang pemuda berjalan berdampingan menuju gedung kantin kampus. Keduanya tampak rapi mengenakan pakaian seragam kampus yang baru, namun wajah mereka santai dan penuh keakraban layaknya sahabat yang sudah saling mengenal sejak masa kecil.

Alex — pemuda yang wajahnya tampak tegas namun selalu menyimpan senyum hangat — menoleh ke arah temannya di samping.

"Bil, makasih banyak ya loe udah rela jauh-jauh jemput gue pagi-pagi begini," ucap Alex sambil tersenyum lebar. "Tapi sayang kalau cuma jemput doang, sekalian loe bayarin makan gue di kantin juga ya. Soalnya gue benar-benar gak bawa uang tunai sama sekali. Gue juga belum tahu di kantin kampus ini bisa bayar pakai transfer bank atau mesti pakai uang tunai semua. Jadi loe yang duluan ya, nanti gue ganti begitu sudah kembali ke apartemen."

Billy menggelengkan kepalanya sambil mendengus pelan, meski senyum tak pernah lepas dari bibirnya.

"Iya, iya, gue tahu pasti akan begini nasib gue," jawab Billy dengan nada bercanda yang terdengar seperti mengeluh. "Rasanya kayak jadi pelayan pribadi loe saja. Jemput dari apartemen pagi-pagi, terus harus bayarin makan juga. Sungguh beruntung — atau sial sekali — hari pertama masuk kuliah langsung bertemu lagi dengan loe di kampus yang sama. Padahal dalam hati kecil gue berharap kita terpisah jauh di tempat yang berbeda."

"Dasar tidak tahu berterima kasih!" balas Alex dengan cepat, tidak mau kalah. "Ingat ya, siapa yang dulu sering merusak barang di apartemen gue? Dan siapa pula yang tiap kali datang ke klub milik orang tua gue selalu minta diskon besar-besaran sampai hampir tidak membayar? Sekarang baru dimintai tolong sedikit saja sudah banyak alasan dan keluhan."

Mereka berdua tertawa bersama dengan akrab. Persahabatan yang sudah terjalin begitu lama membuat tegur sapa mereka santai dan penuh canda. Belum jauh berjalan, terdengar suara seseorang berteriak dari belakang sambil berlari cepat menyusul mereka.

"Woi! Tungguin gue dulu! Kalian berdua jalan saja begitu tanpa memberi kabar mau berangkat bareng!" seru Rey sambil mengayunkan tangannya, berlari dengan napas sedikit terengah hingga akhirnya berdiri di samping Alex dan Billy.

Billy menatapnya sambil tersenyum sinis. "Elo Rey, sungguh takdir yang aneh ya. Bagaimana mungkin kita bertiga kembali berada di kampus yang sama lagi? Padahal jujur saja, gue sudah berdoa sungguh-sungguh agar kita tidak bertemu di satu tempat yang sama."

"Dasar doa konyol!" seru Rey sambil menepuk bahu Billy pelan. "Masa doa loe begitu? Harusnya loe bersyukur sekali bahwa kita bertiga bisa berkumpul kembali seperti dulu. Ingat kan? Orang tua kita bertiga adalah rekan bisnis yang saling mempercayai selama bertahun-tahun. Maka kita pun seharusnya menjaga persahabatan ini erat seperti mereka menjaga kerja sama mereka. Benar bukan, Lex?"

Alex tersenyum lebar mendengar ucapan itu. "Benar sekali kata Rey. Sudahlah, jangan banyak berdebat di sini. Ayo kita segera ke kantin, perut gue sudah terasa lapar sekali sejak tadi pagi. Setelah selesai makan, kita langsung masuk ruang kelas untuk mengikuti pengarahan pertama. Ayo cepat berjalan, Bil, Rey — jangan sampai terlambat di hari pertama."

Mendengar ajakan itu, ketiga pemuda itu pun melangkah bersama menuju gedung kantin kampus yang luas dan ramai dipenuhi mahasiswa.

Sesampainya di kantin, mereka bertiga segera mengantre dan memesan makanan serta minuman untuk sarapan. Setelah selesai membayar dan mengambil pesanan, mereka membawa nampan masing-masing menuju meja yang terletak di sudut paling ujung ruangan — tempat yang agak sepi, nyaman, dan cocok untuk duduk bercerita dengan tenang tanpa banyak diganggu orang lain.

Saat mulai makan dengan lahapnya, Alex meletakkan sendoknya sejenak dan menatap Rey di seberang meja.

"Rey, gue dengar kabar kalau ayah loe mengadakan pesta besar malam minggu ini, benar tidak?" tanya Alex sambil kembali menyuap nasi ke mulutnya.

Rey mengangguk pelan dengan wajah yang tampak kurang antusias. "Loe tahu dari mana saja, Lex? Memang benar begitu. Tapi sejujurnya gue malas sekali harus ikut acara seperti itu. Sudah bisa ditebak — tamu-tamunya pasti orang-orang kaya, pejabat, rekan bisnis orang tua, dan semua orang yang hanya berbicara soal keuntungan dan kesepakatan sepanjang malam. Membosankan sekali rasanya harus berdiri di antara mereka tanpa tahu harus berkata apa."

Billy ikut menyahut sambil menyesap minumannya perlahan. "Jangan begitu, Rey. Pahamilah — suatu hari nanti, gue dan Alex pasti akan meneruskan perusahaan milik orang tua masing-masing. Kehidupan kita akan terikat pada urusan bisnis, pertemuan, dan acara resmi seperti itu. Loe justru lebih beruntung — loe bebas memilih jalan hidup tanpa terbayang-bayang beban perusahaan besar yang harus diurus. Sedangkan kami? Mau tidak mau, harus hadir, harus belajar berkenalan, dan menjalin hubungan baik dengan rekan-rekan orang tua kita. Begitulah kenyataannya, bukan, Lex?"

Alex mengangguk setuju dengan mantap. "Benar sekali kata Billy. Jadi Rey, malam minggu ini loe siapkan minuman yang cukup banyak di rumahmu ya. Gue berniat minum sampai puas, mungkin sampai sedikit mabuk. Kepala gue sedang terasa berat dan pening sekali akhir-akhir ini karena banyak hal yang harus diurus sebelum masuk kuliah."

Rey dan Billy saling berpandangan sejenak, lalu Billy menyeringai lebar. "Nah, itu tandanya Alex baru saja putus dengan pacarnya. Hanya orang yang sedang patah hati yang ingin minum sampai mabuk untuk melupakan semuanya. Benar kan, Lex? Kalau sedang sedih ceritakan saja, kami siap mendengarkan."

Alex mendengus kesal namun tetap tersenyum. "Diam saja loe, Bil! Gue tidak mungkin bersedih atau galau karena hal begitu. Pikirkan saja — apa yang tidak bisa gue dapatkan? Gue yang memutuskan hubungan dengannya, bukan sebaliknya. Karena ternyata dia bukan orang yang jujur, terlalu pandai berpura-pura di depan orang lain. Jadi gue akhiri saja sebelum semuanya semakin jauh dan menyakitkan."

Rey tersenyum melihat perdebatan kedua sahabatnya, lalu memotong pembicaraan dengan lembut.

"Sudah, sudah — jangan berdebat terus seperti anak kecil. Kita baru saja berkumpul kembali setelah sekian lama. Menurut gue, setelah selesai makan ini, sebaiknya kita segera mencari papan pengumuman untuk melihat daftar pembagian kelas. Siapa tahu kita terpisah ke ruangan yang berbeda-beda."

Billy langsung tersenyum lebar mendengar usul itu. "Soal itu jangan khawatir — gue sudah mendapat kabar sebelumnya. Kita bertiga ternyata ditempatkan di kelas yang sama, karena jurusan yang kita ambil pun sama. Sebenarnya seharusnya kita dipisah ke kelas yang berbeda, tapi ayah gue adalah salah satu donatur terbesar kampus ini, jadi beliau mengatur agar kita bertiga tetap bersama di satu ruangan."

Alex tersenyum puas mendengarnya. "Bagus sekali kalau begitu. Kalau begitu mari kita langsung menuju ruang kelas bersama. Kita lihat saja nanti seperti apa teman-teman sekelas kita — siapa saja mereka, dan bagaimana suasana perkuliahan yang akan kita jalani bersama. Ayo kita pergi."

Tanpa menunggu lebih lama lagi, ketiga sahabat itu segera menghabiskan makanan mereka, berdiri serentak, dan berjalan beriringan meninggalkan kantin menuju gedung perkuliahan. Langkah mereka tegap, penuh semangat, dan siap menghadapi hari pertama di dunia yang baru.

PERTEMUAN DAN PERSAINGAN

Setibanya di dalam ruang kelas yang luas dan terang, ketiga sahabat itu memilih duduk di barisan paling belakang. Dari sana mereka bisa melihat seluruh ruangan dengan jelas — mengamati wajah-wajah baru yang belum pernah mereka kenal, serta suasana kelas yang masih asing bagi semua orang.

Seperti halnya hari pertama masuk sekolah atau kampus di mana pun, pelajaran belum langsung dimulai. Dosen pengajar belum tampak datang, dan para mahasiswa baru sibuk mengobrol, berkenalan, atau sekadar duduk menunggu sambil memandangi ruangan sekitar. Begitu pula di kelas mereka — ruangan itu penuh dengan suara bisik-bisik dan tawa kecil, namun belum ada yang benar-benar saling mengenal satu sama lain.

Alex yang duduk di tengah-tengah mereka, dengan senyum yang sudah terbiasa ia tampilkan, menyapih seorang gadis yang baru saja duduk di kursi tepat di depannya.

"Hai, cantik. Kenalkan, namaku Alex," ucapnya dengan nada yang terdengar ramah namun penuh percaya diri yang berlebihan.

Rey yang duduk di sebelahnya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu. Baginya, pemandangan seperti itu sudah biasa dilihat sejak mereka masih bersekolah bersama — Alex yang selalu berani menyapa siapa saja, terutama gadis yang menarik perhatiannya.

Sementara itu, Billy yang duduk di sisi lain justru menyandarkan kepalanya di meja dan mencoba memejamkan mata. Ia merasa kepalanya masih pening dan berat — sisa akibat terlalu lama berada di klub milik orang tua mereka semalam, pulang ke rumah tepat saat fajar menyingsing. Tubuhnya lelah dan pikirannya belum sepenuhnya segar, sehingga ia berharap bisa beristirahat sebentar sebelum keadaan menjadi lebih sibuk.

Gadis yang dipanggil itu bernama Lisa. Mendengar sapaan Alex, ia pun perlahan menoleh ke belakang dengan wajah yang ramah dan tersenyum sopan.

"Salam kenal, Alex. Namaku Lisa," jawabnya lembut. "Senang sekali bisa duduk berdekatan. Semoga kita bisa menjadi teman baik selama kuliah bersama, ya."

Alex tersenyum lebar, lalu berkata dengan nada yang terdengar bangga dan sedikit angkuh, "Tenang saja, Lisa. Kamu tidak perlu khawatir soal apa pun di sini. Aku pasti akan menjagamu dari makhluk yang tidak sopan atau mengganggu. Aku akan memastikan tidak ada yang berani menyusahkanmu di kelas ini."

Perkataan Alex yang lantang dan penuh kesombongan itu terdengar jelas oleh sebagian besar mahasiswa yang hadir di ruangan. Beberapa orang merasa tersinggung dan tidak senang dengan cara bicaranya — seakan-akan ia adalah penguasa di tempat itu, dan orang lain di sana adalah orang yang tidak berharga.

Tak lama kemudian, seorang pemuda yang memakai kacamata dan duduk tidak jauh dari sana menoleh dengan wajah tidak puas. Suaranya tenang namun tegas saat ia berbicara kepada Alex.

"Kalau kamu ingin bertingkah seolah-olah kamu penguasa di sini, carilah tempat lain. Ini ruang kelas, tempat kita belajar bersama — bukan tempat untuk berlagak seperti penguasa atau preman," ucap pemuda berkacamata itu dengan berani, tanpa takut sedikit pun.

Mendengar teguran itu, Rey yang sedari tadi hanya diam langsung berdiri dengan cepat. Ia mengangkat kursi lipat tempatnya duduk seakan hendak melemparkannya ke arah pemuda itu. Wajahnya menegang dan matanya menyala penuh kemarahan.

"Kau!" bentak Rey dengan suara keras. "Kalau kau tidak ingin menderita, lebih baik diam saja dan jangan banyak bicara! Kau tidak tahu siapa kami sebenarnya. Lebih baik kau menjadi anak yang tahu diri dan belajar dengan tenang — supaya masa depanmu panjang dan tidak berakhir celaka."

Pemuda berkacamata itu tidak mundur sedikit pun. Ia menatap lurus ke arah Rey dengan pandangan yang teguh dan tidak takut.

"Kenapa aku harus takut pada orang sepertimu?" tanyanya dengan suara yang tetap tenang. "Kau hanya tahu cara mengancam dan menindas orang yang tidak berdaya. Itu bukan tanda kekuatan sejati."

Mendengar jawaban itu, Alex yang sedari tadi menahan amarah akhirnya tidak tahan lagi. Ia berjalan dengan cepat mendekati pemuda itu, mendorong bahunya kuat hingga ia terhimpit ke dinding, lalu mencengkeram kerah bajunya dan mendekapnya erat ke tembok.

"Sekali lagi kau berbicara sembarangan seperti tadi, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa melangkah ke kampus ini lagi!" ancam Alex dengan mata yang memerah menahan amarah yang meluap-luap. Napasnya terasa berat dan tangannya semakin kuat menekan tubuh pemuda itu.

Suasana di dalam ruangan menjadi hening seketika. Semua orang menahan napas, tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun tiba-tiba, sebuah tangan yang kuat dan kokoh menahan pergelangan tangan Alex yang sedang mencengkeram pemuda itu. Tangan itu menahan dengan kekuatan yang membuat Alex tidak bisa bergerak sedikit pun.

"Lepaskan dia. Tidak ada gunanya membuat keributan di ruang kelas. Kalau kau merasa tidak puas dengan apa yang dikatakannya, temui aku di luar saat jam istirahat nanti," ucap seseorang dengan suara yang tenang namun tegas — suara yang membuat suasana seketika menjadi lebih hening.

Alex menoleh dengan wajah masih penuh kemarahan. "Wah, ternyata ada pahlawan yang tiba-tiba muncul! Hahaha! Siapa kau sebenarnya, sampai berani menentang kami?" ucap Billy yang kini sudah bangun sepenuhnya dari tidurnya, menyeringai sinis sambil menatap pemuda itu. Ternyata perdebatan yang terjadi sedari tadi membuatnya tidak bisa tidur lagi, sehingga ia menyaksikan seluruh kejadian itu dengan penuh perhatian.

Pemuda yang menahan tangan Alex itu berdiri tegak dengan tenang. Wajahnya tidak menunjukkan ketakutan, melainkan ketegasan yang membuat orang lain segan.

"Namaku Joe," ucapnya singkat. "Kalau kalian merasa tidak terima dengan apa yang kukatakan, temui aku di luar nanti siang. Jangan menyelesaikan masalah dengan cara kasar di dalam kelas seperti ini."

"Baiklah! Brengsek!" seru Alex sambil melepaskan cengkeramannya dan menghempaskan tangan Joe dengan kasar. "Aku akan mencarimu nanti siang. Bersiaplah!" Setelah berkata demikian, ia berbalik dan kembali duduk di kursi belakang bersama Rey dan Billy.

Joe lalu menoleh kepada pemuda berkacamata yang tadi hampir terancam. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya lembut.

Niko mengangguk sambil mengatur napasnya. "Aman, terima kasih banyak sudah membantuku. Namaku Niko. Senang sekali bisa mengenal orang sebaik kau."

"Sama-sama. Ceritakan saja kalau kau butuh bantuan apa pun di sini," jawab Joe dengan ramah, lalu ia pun kembali duduk di kursinya di bagian depan ruangan.

Sementara itu, di barisan belakang, Billy tertawa kecil melihat kejadian yang baru saja berlangsung. Ia menepuk bahu Alex pelan sambil tersenyum mengejek.

"Jujur saja, aku hampir tertawa terbahak-bahak," ucap Billy sambil menahan tawanya. "Siapa sangka Alex yang biasanya dihormati semua orang justru dipermalukan di hari pertama masuk kelas. Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya, kawan. Sungguh lucu sekali."

"Diam saja, Bil!" bentak Alex dengan wajah yang masih merah karena kesal. "Tunggu saja nanti siang. Aku pasti akan menyelesaikan masalah ini dengan cara yang pantas. Mereka akan tahu siapa kita sebenarnya."

Rey menepuk punggung bahu Alex dengan tenang. "Jangan khawatir, Lex. Kita bertiga selalu bersama sejak dulu. Kita akan tunjukkan kepada mereka bahwa kita bukan orang yang bisa diinjak-injak begitu saja. Benar bukan, Bil?"

"Tentu saja," sambung Billy dengan senyum yang berubah menjadi senyum yang dingin dan mengancam. "Kita akan memberi pelajaran kepada pemuda bernama Joe itu. Biar ia tahu rasanya menentang kita. Dan biar ia sadar bahwa ia sama sekali bukan lawan yang seimbang bagi kita bertiga."

Mereka bertiga pun duduk kembali di tempat masing-masing, namun bukan menunggu pelajaran dimulai — melainkan menunggu jam istirahat tiba, sambil menyusun rencana di dalam hati untuk memberi pelajaran kepada mereka yang berani menentang mereka.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!