Indonesia
NovelToon NovelToon

His Royal Vow

##01

Gemerlap ribuan lampu kristal bergaya gothic di dalam Katedral St. George berpadu sempurna dengan pendar pencahayaan LED arsitektural yang modern.

Suasana di dalam bangunan megah berusia ratusan tahun itu terasa amat megah, menghadirkan kontras dramatis antara tradisi kerajaan kuno dan era modernisasi.

Di luar katedral, deretan mobil sport mewah berpendar di bawah paparan sinar matahari sore—mulai dari Bugatti Chiron berlapis krom hingga Aston Martin kustom milik keluarga kerajaan.

Semua disiarkan secara langsung melalui jaringan satelit ultra-HD ke ribuan layar raksasa di seluruh penjuru London, menyaksikan momentum bersejarah dari salah satu dinasti paling berpengaruh di dunia modern.

Namun, di pusat kemewahan itu, tepat di atas altar berlapis marmer putih yang sakral, atmosfer terasa membeku.

...oOo...

“Aku, Duke of Edmund Alistair Blackwood, mengambil engkau, Baxeena Valerio Desmon, menjadi istriku yang sah. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari hari ini dan seterusnya, dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat, untuk saling mencintai dan menghargai, hingga maut memisahkan kita.”

Suara bariton yang berat, dalam, dan teratur itu memantul di dinding-dinding batu katedral.

Edmund Alistair Blackwood berdiri tegak dalam balutan seragam kebesaran Royal Military Officer berwarna hitam pekat dengan aksen emas yang amat presisi.

Tanda-tanda kehormatan militer dan medali keberanian berbaris rapi di dadanya, menegaskan posisinya bukan sekadar putra raja, melainkan seorang perwira tinggi yang ditempah di garis depan pertempuran.

Tatapan matanya yang tajam bak elang menyapu wajah wanita di hadapannya.

Wajah itu datar. Dingin. Tak ada sejengkal pun getaran emosi atau kehangatan di sana.

Di depannya, Baxeena Valerio Desmon berdiri kaku dalam gaun pengantin modern potongan haute couture yang membalut tubuh anggunnya. Kain sutra putih yang menyapu lantai itu dipadukan dengan tiara berlian kuno koleksi keluarga kerajaan, namun kilauannya tak sanggup menghangatkan raut wajah Baxeena yang sekeras es.

Gema janji suci itu disusul oleh gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai yang pecah menyelimuti katedral.

Para bangsawan, pejabat tinggi negara, diplomat asing, hingga jajaran perwira militer bersorak menyambut penyatuan dua keluarga besar tersebut.

Di barisan paling depan, Ratu Lizzeebeeth Blackwood—ibu kandung Edmund sekaligus penguasa yang amat dihormati—bahkan berteriak paling heboh tanpa memedulikan etiket kaku yang biasanya ia agungkan.

Wanita paruh baya yang masih tampak amat anggun itu tampak menyeka air mata bahagianya sebelum langsung memeluk erat besannya, Zephyr Desmon.

Austin Jaxon Valerio-Desmon, ayah Baxeena, turut tersenyum lebar sembari merangkul istrinya dan berjabat tangan hangat dengan jajaran menteri yang menghampirinya.

Bagi istana dan publik internasional, hari ini adalah puncak kebahagiaan.

Sebuah pesta pernikahan termewah di era modern yang baru pertama kali terjadi lagi setelah sekian dekade. Sebuah penyatuan aliansi yang mengunci stabilitas politik dan ekonomi antara Inggris dan keluarga konglomerat besar dari Los Angeles.

Namun bagi wanita yang berdiri di atas altar itu, kebahagiaan tersebut adalah sebuah lelucon yang paling kejam.

Di balik tudung tipis yang menutupi wajah cantiknya, Baxeena mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya memutih.

Wajah dingin yang ia tunjukkan hanyalah topeng tipis untuk menyembunyikan badai kebencian yang berkecamuk di dalam dadanya.

Pria yang baru saja sah menjadi suaminya—pria yang baru saja ia beri sumpah atas nama Tuhan—adalah satu-satunya pria yang paling ia benci di atas bumi ini.

Edmund Alistair Blackwood. Pria yang selama 33 tahun hidup Baxeena menjadi pemicu trauma mendalam yang tak pernah benar-benar sembuh.

Sebaliknya, Alistair hanya menatap balik Baxeena dengan sorot mata yang sulit dibaca. Tidak ada ekspresi kemenangan, tidak ada benci yang menyala, hanya tatapan datar yang begitu tenang, seolah pria itu sengaja membangun dinding tak tertembus di antara mereka berdua.

...°...

Pikiran Alistair melayang kembali ke beberapa minggu yang lalu, di dalam ruang kerja pribadi Ratu Lizzeebeeth yang berada di sayap barat istana. Ruangan bertembok kayu mahoni itu dipenuhi monitor hologram yang menampilkan data-data geopolitik dan pemetaan wilayah militer.

Saat itu, Alistair baru saja meletakkan helm taktisnya setelah menyelesaikan simulasi latihan tempur. Sang ibu menatapnya tegas dari balik meja kerjanya.

"Kau adalah putraku satu-satunya, Alistair," tegas Ratu Lizzeebeeth saat itu, suaranya tenang namun bernada perintah yang tidak bisa dibantah. "Kerajaan ini bukan hanya butuh seorang jenderal di medan perang, tapi butuh seorang Ratu untuk berdiri di samping calon penguasanya. Posisi pewaris tahta memerlukan stabilitas. Kau sudah terlalu lama hidup menyendiri di markas militer. Kerajaan ini butuh aliansi baru, dan kau butuh seorang istri."

Alistair saat itu hanya berdiri bersedekah tangan, membiarkan garis rahangnya mengeras. Sebagai seorang perwira tinggi dan calon raja, dia telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk kewajiban negara.

Setelah kegagalan dan kerumitan masa lalunya, dia tak lagi peduli pada konsep cinta atau kebahagiaan personal. Bagi Alistair, pernikahan tak lebih dari sebuah misi taktis lainnya.

"Lakukan apa yang menurut Ibu terbaik untuk kerajaan," jawab Alistair dingin saat itu. "Serahkan nama siapapun wanita itu pada saya. Saya akan menandatangani dokumen pernikahannya, asalkan dia paham bahwa tugas utama saya adalah untuk kerajaan dan militer. Saya tidak punya waktu untuk drama romansa."

Atas persetujuan dingin dari Alistair itulah, Ratu Lizzeebeeth bergerak cepat. Sang Ratu memilih wanita yang menurutnya paling sempurna untuk membendung opini publik sekaligus mengikat aliansi ekonomi terbesar: putri dari Kenalan lamanya di Los Angeles.

...°°...

Di sisi lain altar, pikiran Baxeena pun berlari mundur ke ingatan seminggu yang lalu di mansion mewahnya di Beverly Hills, Los Angeles.

Ingatan itu masih terasa menyengat. Selama seminggu penuh, Mansion nya berubah menjadi neraka teror emosional dari kedua orang tuanya.

Di usianya yang telah menginjak 33 tahun, Baxeena adalah seorang wanita karier yang amat mandiri, sukses, dan memiliki segalanya—kecuali seorang pasangan.

Dia menolak mentah-mentah setiap pria yang mencoba mendekatinya, hingga membiarkan dua adik laki-lakinya melangkahinya ke altar pernikahan lebih dulu.

Bagi Baxeena, pintu hatinya telah terkunci rapat sejak satu dekade lalu.

Namun, puncaknya terjadi pada suatu malam yang dramatis. Ibunya, Zephyr Desmon, menangis histeris di ruang keluarga, memegang sebotol obat dan mengancam akan mengakhiri hidupnya jika Baxeena terus menolak untuk menikah.

Ibunya merasa gagal sebagai seorang ibu di mata lingkaran sosial kelas atas karena putri sulungnya terus membujang dan memendam rasa pahit.

"Ibu tidak minta banyak, Baxeena!" tangis Zephyr malam itu dengan suara terputus-putus, sementara ayahnya, AJ, hanya bisa menatap pasrah. "Ibu hanya ingin melihatmu memiliki pasangan! Apakah kau mau melihat Mommy mati mendadak karena menanggung malu dan rasa cemas memikirkan masa depanmu?!"

Baxeena yang tidak tega melihat keputusasaan sang Ibu akhirnya runtuh. Rasa sayangnya pada sang ibu mengalahkan keteguhan sikapnya selama ini. Dengan napas berat dan hati yang terasa kebas, Baxeena mengalah.

"Baik!" seru Baxeena malam itu, suaranya bergetar menahan amarah dan kekecewaan pada keadaan.

"Aku akan menikah! Siapapun pria yang mommy dan Daddy pilihkan, aku akan terima! Aku tidak peduli siapa dia, apa latar belakangnya, asalkan satu syaratnya: dia pria yang bertanggung jawab dan tidak akan menuntutku dengan urusan anak!"

Saat itu, Zephyr menyeka air matanya dan menatap Baxeena dengan binar lega yang mencurigakan. "Bagaimana kalau... dia seorang duda beranak satu?"

Baxeena tertawa sumbang kala itu. "Terserah. Justru bagus jika dia sudah punya anak. Aku berniat tidak akan pernah hamil atau melahirkan anak dari pria manapun di dunia ini. Posisiku sebagai ibu tiri tidak akan mengubah apa-apa."

Baxeena mengira, pria duda beranak satu yang dijodohkan dengannya hanyalah seorang bangsawan atau pebisnis kaku pilihan ibunya. Karena kesibukan berkas aliansi dan persiapan gaun yang sangat cepat, Baxeena bahkan tidak sempat mengecek berkas identitas lengkap sang calon suami—ia menyerahkan segalanya pada keluarga.

...°°°...

Sampai akhirnya, pintu katedral terbuka sore ini.

Saat melangkah di sepanjang lorong gereja menuju altar, pandangan Baxeena jatuh pada pria berseragam militer hitam yang berdiri menunggunya di ujung sana.

Detik itu juga, seluruh dunianya seolah runtuh dan berputar hebat.

Pria itu bukan orang asing. Pria itu bukan sekadar bangsawan kaku.

Pria yang berdiri di sana—duda beranak satu yang kini sah menjadi suaminya—adalah Edmund Alistair Blackwood.

Pria yang satu dekade lalu menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping. Pria yang meninggalkan luka trauma mendalam di jiwanya dan membuat Baxeena membenci seluruh konsep cinta selama hidupnya.

"Pangeran Edmund, Anda dipersilakan mencium mempelai wanita."

Suara Uskup Agung memecahkan lamunan penderitaan Baxeena.

Sorak pembawa acara dan tepuk tangan para tamu semakin membahana.

Alistair melangkah satu tapak lebih dekat. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap menutupi bayangan Baxeena dari sorotan kamera depan. Tangan Alistair yang berbalut sarung tangan putih militer terangkat, menyentuh tepi tudung transparan Baxeena, lalu menyingkapnya perlahan ke belakang.

Mata mereka beradu secara langsung tanpa penghalang.

Di dalam jarak sejengkal itu, Baxeena bisa merasakan aura ketegasan dan aroma parfum kayu cendana bercampur leather khas milik Alistair—aroma yang dahulu sangat ia kenal, namun kini terasa amat meracuni jiwanya.

Baxeena menatap tepat ke dalam manik mata Alistair dengan kilatan kebencian yang terang-terangan, sebuah pesan tanpa kata yang menegaskan bahwa ia tidak akan pernah memaafkan pria ini.

Alistair tidak menunjukkan keterkejutan. Wajahnya tetap datar, seolah sudah memprediksi reaksi tersebut. Dengan gerakan yang amat terkontrol dan formal demi menjaga reputasi kerajaan di depan ribuan kamera, Alistair merundukkan kepalanya sedikit.

Bukan di bibir.

Alistair hanya mendaratkan sebuah kecupan singkat, dingin, dan formal di kening Baxeena.

Kecupan itu tidak terasa seperti simbol kasih sayang, melainkan sebuah stempel perikatan perang dingin yang baru saja resmi dimulai di dalam istana Kerajaan Inggris.

...ΩΩΩΩ...

Happy reading, Jangan lupa tinggalkan jejak komentarnya 🌷Yang Pernah baca Cerita Daddy AJ di novel Not Our Time pasti nggak Asing sama "Ratu Inggris Lizzeebeeth" 🫶🏻

##02

Pintu kayu mahoni berukir lambang dinasti Blackwood tertutup rapat dengan dentum berat yang bergema dingin di sepanjang koridor sayap barat Istana Buckingham.

Di balik pintu itu, kamar pengantin seluas ratusan meter persegi membisu. Ruangan yang dirancang bagai tempat peraduan surgawi—berhiaskan kelopak mawar putih, pencahayaan temaram dari lampu gantung kristal yang dibiarkan redup, serta wewangian lavender dan kayu cendana—seketika terasa kaku, dingin, dan mencekam bagai makam megah yang kehilangan nyawa.

Baxeena berdiri membelakangi pintu, masih terbalut gaun sutra putihnya yang amat berat. Ia melepaskan tiara berlian dari kepalanya dengan gerakan kasar, melempar mahkota berharga jutaan poundsterling itu ke atas meja rias hingga menimbulkan bunyi benturan keras yang memecah kesunyian.

Napasnya memburu, dadanya kempas-kempis menahan sesak yang membakar tenggorokannya sejak ia menginjakkan kaki di altar tadi sore.

Setiap helai udara di istana ini terasa begitu beracun, meremas jantungnya hingga rasanya tak bersisa.

Di sudut lain ruangan, Alistair berdiri di dekat jendela tinggi yang menghadap langsung ke arah taman istana yang gulita. Ia telah menanggalkan jas kebesaran militernya, menyisakan kemeja putih berserat halus yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan garis leher dan rahangnya yang kokoh.

Pria itu memegang sebuah gelas kristal berisi whisky amber, namun ia sama sekali tidak meminumnya. Ia hanya menatap pantulan Baxeena melalui kaca jendela yang memantulkan bayangan kelam.

Keheningan yang membunuh itu bertahan selama beberapa menit, begitu pekat hingga suara jarum jam dinding berdetak bak pemicu bom waktu.

"Kenapa kau tidak menolaknya?"

Suara itu akhirnya pecah.

Bukan suara bernada tinggi, melainkan sebuah vokal bariton yang teramat dalam, teratur, dan begitu dingin.

Suara Alistair tidak memiliki guncangan emosi sedikit pun; itu adalah jenis suara seorang panglima yang terbiasa memberi perintah di tengah kecamuk perang, atau seorang pria yang telah terbiasa membunuh seluruh perasaan di dalam dirinya sendiri.

Suara dingin Alistair malam itu bahkan terasa jauh lebih membeku, lebih asing, dan lebih menusuk daripada suara Baxeena yang sarat akan amarah.

Ia membalikkan badan perlahan, menatap Baxeena dengan manik mata hazel-nya yang legam.

"Kutanya sekali lagi... kenapa kau setuju dengan perjodohan ini, Baxeena?"

Tiba-tiba Baxeena tertawa sumbang.

Tawa yang pecah menjadi lelehan air mata yang dengan cepat ia hapus secara kasar di pipinya. Ia memutar tubuhnya, menatap pria yang berdiri beberapa langkah darinya dengan tatapan yang penuh dengan nyala api kebencian yang terpendam selama satu dekade.

"Kau pikir aku punya pilihan? Hm?" Suara Baxeena bergetar, naik satu nada, sarat akan sarkasme yang menyakitkan.

"Katakan padaku, Alistair! Apa aku punya pilihan?! Ibuku mengancam akan membunuh dirinya sendiri di depanku! Dia menaruh botol racun di meja hanya karena aku berusia tiga puluh tiga tahun dan tidak ingin menikah! Dia memohon padaku seolah aku adalah anak paling tidak berbakti di dunia ini! Jadi katakan padaku, wahai Yang Mulia Pangeran yang Agung... pilihan mana yang kau maksud?!"

Alistair tidak bergeming. Ia melangkah mendekat, langkah-nya di atas karpet beludru tebal begitu konstan dan tak tergesa. Tatapannya terkunci rapat pada manik mata Baxeena yang berkaca-kaca.

"Tapi kau bisa menolaknya, Xeena," kata Alistair serius. Suaranya masih berada di frekuensi yang sama—rendah, tenang, namun menghujam tepat di pusat dada Baxeena. "Kau selalu punya cara untuk lari jika kau mau. Kau bisa menolaknya tepat sebelum dokumen aliansi itu ditandatangani. Kau selalu bisa."

"Bagaimana dengan dirimu?!" potong Baxeena cepat, menyilangkan tangannya di dada dengan pertahanan penuh. Wajah cantiknya memerah menahan ledakan emosi. "Itu artinya kau tahu siapa calon istrimu dari awal? Kau tahu bahwa wanita dari Los Angeles itu adalah aku?! Kau sama sekali tidak terkejut saat aku berjalan ke altar!"

Alistair menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan, hanya menyisakan jarak beberapa meter di antara mereka. Ia meletakkan gelas kristalnya di atas meja konsol dengan ketukan pelan.

"Ya. Aku tahu siapa calon istriku," jawab Alistair tanpa keraguan.

Garis wajahnya yang tegas tak menunjukkan penyesalan sedikit pun. "Dan aku mengira... kau akan menolaknya, Xeena. Aku mengira begitu Mommy mu menyebut namaku, kau akan langsung menghancurkan seluruh rencana ini dan pergi."

Kalimat itu bagai petir yang menyambar Baxeena tepat di ulu hati.

Matanya membelalak, ketidakpercayaan merayapi seluruh paras cantiknya. Sebuah kenyataan pahit baru saja terungkap: pria ini tahu. Pria ini tahu dan membiarkan jebakan ini membelit mereka berdua.

"Kau... kau tahu?!" jerit Baxeena lirih, suaranya tercekat oleh rasa perih yang begitu membakar. "Mommy tidak pernah menyebut namamu! Mommy ku hanya bilang kau adalah seorang duda beranak satu dari Inggris! Pengacara keluarga yang mengurus semua dokumennya! Kalau saja... kalau saja aku tahu mempelai prianya adalah dirimu sebelum aku naik ke altar..."

Baxeena jeda sejenak, napasnya tersengal, dadanya terasa naik turun saat kalimat paling kejam dalam hidupnya lolos dari bibirnya:

"...Aku lebih baik bunuh diri!"

Deg.

Udara di dalam kamar pengantin itu seketika tersedot habis. Kata-kata Baxeena menggantung di udara bagai bilah pisau yang tajam dan beracun.

Untuk pertama kalinya malam itu, topeng es di wajah Alistair pecah. Manik matanya berguncang hebat, sebuah kedipan tak rata terlihat di kelopak matanya saat kalimat "bunuh diri" itu menghantam kesadarannya.

Pertahanan dingin yang dibangun sang perwira militer itu retak dalam sekeping detik yang menyiksa.

"Bunuh diri?" suara Alistair bergetar tipis, sangat tipis, namun di dalam keheningan kamar itu, getaran itu terdengar begitu kentara dan menyedihkan. "Segitu bencinya dirimu padaku, Xeena? Kau... belum memaafkanku?"

"Tidak!" Baxeena berteriak, melangkah satu tapak ke depan dengan jari telunjuk yang mengarah tepat ke dada Alistair. Air matanya kini menetes bebas, membasahi riasan wajahnya yang sempurna.

"Tidak akan pernah, Alistair! Sampai aku mati, sampai napas terakhirku habis, aku tidak akan pernah memaafkan apa yang kau lakukan sepuluh tahun lalu! Kau menghancurkan hatiku, kau menumpahkan seluruh kepercayaanku, dan kau membuatku merasa bagai wanita paling bodoh di dunia ini!"

Alistair memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik.

Dibalik matanya yang terpejam, bayangan masa lalu—malam terkutuk di mana ia terbangun dalam jebakan kesalahpahaman yang merusak segalanya—berputar bagai mimpi buruk yang tak pernah selesai.

Saat ia membuka matanya kembali, tatapannya dipenuhi oleh keputusasaan yang tertahan di balik ketegaran seorang calon raja.

"Aku sudah membayar kesalahan itu setiap hari dalam hidupku, Xeena," bisik Alistair, suara beratnya kini merendah, sarat akan duka yang tak terkatakan. "Aku membesarkan putriku sendirian. Aku mengasingkan diriku di medan perang. Aku tidak pernah menyentuh wanita lain sejak hari itu. Apakah Empat Belas tahun penderitaanku masih tidak cukup untuk membayar satu malam kesalahpahaman itu?"

"Kesalahpahaman?!" Baxeena tertawa kencang, tawa penuh kepahitan yang bergema pilu. "Kau menyebut anak yang lahir dari rahim wanita lain sebagai 'kesalahpahaman'?! Pria manis yang berjanji akan menjemputku ke Los Angeles ternyata tidur dengan wanita lain dan membuatnya hamil di saat aku menunggumu di sana! Dan kau menyebutnya kesalahpahaman?!"

Alistair tidak merespons pancingan amarah itu. Ia tahu, makin banyak ia menjelaskan, makin tajam luka itu menggores Baxeena. Luka yang telah membusuk selama bertahun-tahun itu tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata-kata malam ini.

Baxeena menyeka air matanya secara kasar dengan punggung tangannya. Ia menghela napas panjang, mencoba menarik sisa-sisa harga dirinya yang tersisa. Wajahnya kembali membeku, dingin dan penuh dengan tembok benteng pertahanan yang tak tertembus.

"Sudahlah," usik Baxeena dingin, memalingkan wajahnya dari Alistair. "Segalanya sudah terjadi. Aku sudah terikat dalam pernikahan tak berguna ini demi Mommy ku. Tapi jangan pernah berpikir kau bisa menyentuhku atau bersikap seolah kita adalah sepasang suami istri. Pernikahan ini hanya di atas kertas."

Alistair menatap punggung Baxeena yang bergetar menahan tangis. "Lalu apa rencanamu? Tinggal di istana ini sebagai patung bernyawa yang membenciku setiap detik?"

"Bukan hanya kau yang membenciku di tempat terkutuk ini," potong Baxeena pelan, namun nadanya begitu menusuk. Ia memutar kepalanya sedikit, menatap Alistair dari sudut matanya dengan senyum sinis yang menyakitkan.

"Putrimu..." lanjut Baxeena. "...dia bahkan mengunciku di kamar rias tadi, tepat setelah aku selesai dandan sebelum naik ke altar."

Alis Alistair bertaut seketika. Raut wajahnya berubah serius, garis-garis ketegangan terpancar jelas di dahi dan rahangnya. "Apa maksudmu? kamar dikunci?"

"Kau tidak tahu, kan?" Baxeena melipat tangannya, menatap Alistair dengan pandangan meremehkan. "Tentu saja kau tidak tahu. Panglima perang yang hebat sepertimu mana mungkin tahu apa yang terjadi di balik tembok istanamu sendiri. Gadis berusia tiga belas tahun itu sengaja memutar kunci dari luar dan membuang kuncinya, membuat para pelayan harus mendobrak pintu agar aku tidak terlambat ke altar."

Alistair mengepalkan tangannya di samping tubuh. Hatinya mencelos. Ia tahu betapa keras dan protektifnya sang putri, namun ia tak menyangka putrinya akan bertindak sejauh itu di hari pernikahan resminya.

"Tentu saja dia melakukan itu," bisik Baxeena, suaranya kini kembali datar, hampa, dan penuh kepasrahan yang menyedihkan. "Mungkin di dalam otak kecilnya yang malang, dia merasa aku adalah wanita jahat yang datang untuk merebut posisi yang harusnya milik ibu kandungnya. Posisi wanita yang pernah tidur denganmu itu."

Baxeena melangkah menuju sofa besar di sudut ruangan, melempar gaun bagian bawahnya yang mengembang agar ia bisa duduk dengan bebas. Ia menatap Alistair tepat di manik matanya, menyunggingkan senyum paling dingin yang pernah Alistair lihat seumur hidupnya.

"Bagaimana, Alistair? Kau puas dengan mahakarya pernikahan yang kau dan ibumu ciptakan ini?"

##03

Fajar menyingsing di atas cakrawala Kota London dengan pendar keemasan yang dingin, menyusup perlahan melalui celah-celah tirai beludru tebal di kamar pengantin Istana Buckingham.

Cahaya pagi itu jatuh lembut di atas sprei sutra yang masih teratur kaku, membiaskan debu-debu halus yang menari dalam keheningan yang amat pekat.

Di atas sofa kulit di sudut ruangan, Baxeena meringkuk dengan gaun pengantin yang telah lusuh dan kusut, tertidur dalam lelah emosional yang melahap seluruh sisa tenaganya semalaman.

Sebuah bayangan tinggi menjulang menghalangi terpaan sinar matahari yang hinggap di wajah Baxeena.

"Xeena, bangun."

Suara itu datang bagai ketukan datar yang dingin, tidak memiliki ritme kehangatan, namun cukup kuat untuk mengusik lelapnya.

"Kita harus ada di meja makan sebelum seluruh keluarga berkumpul."

Baxeena menggosok matanya perlahan, mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi. "Nghh..., apa sudah pagi?" gumamnya dengan nada manis dan serak khas bangun tidur—sebuah gestur manja yang refleks keluar karena ia mengira tangan halus ibunya yang baru saja membangunkan jiwanya dari lelap.

Namun, hanya dalam sekejap mata, realita menghantamnya bagai godam besi.

Pandangannya langsung fokus pada sosok pria yang berdiri tegap di hadapannya. Alistair berdiri kaku dalam balutan kemeja kasmir abu-abu gelap yang rapi, garis wajahnya sekeras ukiran batu granit.

Kesadaran Baxeena pulih sepenuhnya. Detik itu juga, ekspresi lembut di paras cantiknya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh topeng es yang kaku dan tajam.

Baxeena menegakkan duduknya, merapikan gaun kusutnya dengan gerakan canggung namun berusaha tetap anggun. "Apa sudah pagi? Apa waktunya aku harus mandi?" tanyanya dingin, menyapu bersih sisa nada lembut dalam suaranya tadi.

Alistair mengangguk datar, tanpa ada lipatan emosi di matanya. "Mandi dan kita harus turun. Di meja makan nanti... kumohon bersikap baiklah dengan putriku. Soal dia menguncimu semalam—aku akan meminta penasihat kerajaan untuk mendidiknya."

Langkah Baxeena yang hendak menuju pintu kamar mandi mendadak terhenti. Ia memutar sedikit kepalanya, tidak menatap langsung ke arah Alistair, melainkan menembus cermin besar yang memantulkan bayangan mereka berdua.

"Tidak perlu," jawab Baxeena tajam dan sengit. "Aku bisa mengatasinya."

Alistair menatap siluet istrinya dari belakang. Ada jeda sejenak sebelum pria itu kembali bersuara, masih dengan nada rendahnya yang tenang. "Apa kau akan marah jika melihat wajahnya nanti?"

Baxeena mendengus pelan, sebuah tawa sunyi yang sarat akan cemoohan pada nasibnya sendiri.

"Aku hanya membencimu," sahut Baxeena tanpa keraguan sedikit pun, suaranya menusuk hampa. "Dan aku tidak peduli dengan wajah putrimu. Tidak ada kaitannya dengan kebencianku padamu belasan tahun yang lalu. Menyingkir dariku."

Tanpa menunggu balasan, Baxeena melangkah lebar memasuki kamar mandi, menutup pintu jati yang tebal itu hingga terdengar bunyi klik yang mengunci rapat keberadaannya dari sang suami.

***

Keheningan kembali menguasai kamar luas itu. Namun, di luar dugaan, begitu pintu kamar mandi tertutup rapat, ketegangan pada bahu tegap Alistair perlahan meluruh.

Pria yang dikenal sebagai perwira militer tanpa belas kasihan di garis depan itu menghela napas panjang. Garis-garis kaku di wajahnya mengendur. Dan dari bibir yang biasanya rapat dan tak pernah mengumbar emosi itu, terbit sebuah senyuman.

Bukan senyuman sinis atau dingin, melainkan senyuman yang teramat manis, ringan, dan penuh dengan kehangatan tersembunyi—seolah beban berkuintal-kuintal yang meremukkan pundaknya selama bertahun-tahun mendadak diangkat begitu saja.

Perkataan datar dan dingin dari Baxeena tadi justru menjadi penawar bagi dahaga jiwanya yang telah mati rasa selama belasan tahun. Bagi Alistair, amarah Baxeena adalah bukti bahwa wanita itu masih merasakannya; bahwa kehadiran Alistair masih memberi dampak pada dada wanita itu, betapapun bentuknya adalah kebencian.

"Aku merindukanmu... Amore," bisik Alistair amat pelan pada ruangan hampa.

Kata pamungkas dalam bahasa Italia yang dulu sering ia bisikkan di telinga Baxeena saat mereka masih menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai.

Sambil menunggu Baxeena bersiap, Alistair berjalan menuju jendela besar, menatap hamparan taman istana yang mulai dibasahi embun pagi. Ingatan kepalanya berputar mundur ke beberapa minggu lalu, di dalam ruang kerja tertutup milik ibunya, Ratu Lizzeebeeth.

Hari itu, Alistair siap menerima takdirnya untuk dijodohkan dengan wanita asing manapun demi stabilitas dinasti. Namun, ketika Ratu Lizzeebeeth meletakkan sebuah berkas berstempel emas di atas meja dan menyebut satu nama yang tak pernah absen dari harapan setiap malam...

"Wanita yang akan kau nikahi adalah putri dari Austin Jaxon Valerio-Desmon... Baxeena Valerio Desmon."

Detik itu, Alistair ingat betul bagaimana jantungnya serasa berhenti berdetak.

Dunianya yang hampa dan kelam seketika dihantam badai rasa sedih, haru, dan kebahagiaan luar biasa yang tak tertahankan.

Selama empat belas tahun ia hidup bagai mayat bernyawa yang menjalankan kewajiban—menanggung duka dari sebuah kesalahan fatal di masa muda yang merenggut satu-satunya wanita yang ia puja.

Apakah ini kesempatanku? batin Alistair kala itu dengan dada yang bergemuruh hebat. Apakah Tuhan akhirnya memberiku ruang untuk menebus seluruh dosa dan luka yang kuberikan di hatinya?

Cinta itu tidak pernah hilang. Hidup itu tidak pernah padam. Di balik seragam militer yang kaku dan pangkat pangeran yang membebani, Alistair tetaplah pria muda yang sama—pria yang hatinya sepenuhnya milik Baxeena Valerio Desmon, pujaannya yang tak pernah tergantikan oleh siapa pun di muka bumi ini.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Suara langkah kaki yang mantap memecahkan lamunan Alistair. Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Baxeena yang telah terbalut gaun pagi bergaya klasik berwarna krem lembut dengan potongan yang menutup hingga batas leher. Rambut panjangnya disanggul rapi secara sederhana, namun memancarkan aura keanggunan seorang wanita LA kelas atas yang tak terbantahkan.

"Aku sudah siap," kata Baxeena singkat, sama sekali tidak menatap mata suaminya.

Alistair mengangguk, kembali memasang topeng datarnya yang sempurna. "Ayo turun. Keluarga sudah menunggu di ruang makan utama."

Mereka berjalan bersisian menyusuri koridor-koridor panjang istana yang megah. Dinding-dinding berukir emas dan deretan lukisan leluhur kerajaan seolah memperhatikan setiap jengkal jarak yang sengaja dibuat Baxeena di antara tubuh mereka. Tak ada tangan yang saling menggenggam, tak ada pandangan mata yang saling bertaut.

Ketika pintu ganda ruang makan kerajaan dibukakan oleh dua orang pengawal berseragam lengkap, bau aroma kopi segar, roti panggang, dan masakan khas kerajaan langsung menyergap indra penciuman.

Di ujung meja kayu mahoni yang sangat panjang, Ratu Lizzeebeeth duduk anggun memegang cangkir porselennya.

Di sisinya, duduk kedua orang tua Baxeena yang tampak tersenyum lega melihat kedatangan pengantin baru tersebut. Namun, di sudut meja yang lain, suasana terasa jauh lebih membeku.

Seorang gadis remaja berusia tiga belas tahun duduk mengacak-acak makanan di piringnya dengan garpu. Ia mengenakan gaun seragam sekolah berasrama yang rapi, namun garis wajahnya memancarkan penolakan yang amat keras. Rambutnya yang gelap dan manik matanya yang tajam adalah cetakan sempurna dari Alistair.

Dia adalah Philippa Violet Blackwood—anak tunggal Alistair.

"Selamat pagi, anak-anakku," sapa Ratu Lizzeebeeth hangat, suaranya bergema memenuhi ruang makan yang megah itu. "Duduklah. Kita baru saja hendak memulai sarapan."

Alistair menarikkan kursi untuk Baxeena dengan gerakan yang amat sopan dan terlatih sebagai seorang ksatria kerajaan. Baxeena duduk tanpa mengucapkan terima kasih, mempertahankan tatapan lurusnya ke depan.

Tepat saat Baxeena mendudukkan dirinya, suara dentingan garpu yang dihantamkan ke piring porselen terdengar amat nyaring.

Putri Katherine menegakkan punggungnya, menatap Baxeena dengan pandangan penuh permusuhan yang menyala-nyala.

"Ayah," suara gadis 13 tahun itu memecah keheningan meja makan, bernada tinggi dan menantang. "Kenapa wanita dari Los Angeles ini harus duduk di meja utama keluarga kita?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!