Indonesia
NovelToon NovelToon

Mechabest

Mencari Pahlawan Baru

Gedung raksasa yang berdiri megah tepat di pusat Kota Mecha itu bukan cuma sekadar bangunan biasa. Itu adalah Markas Pusat Mechabest—garda terdepan yang bikin kota paling canggih ini tetap aman dari serbuan kota-kota luar yang iri.

Suasana di ruang utama markas hari ini lumayan tegang, tapi juga campur aduk. Beberapa anggota pahlawan senior dan petinggi Mechabest lagi ngumpul melingkari meja hologram.

"Jadi gimana, Pik? Pensiunnya tim senior bikin pertahanan kita agak pincang nih," ucap Prof. Einstein sambil mengelus janggutnya yang putih. Sebagai kepala Mechabest, dia yang paling pusing mikirin masa depan kota.

Teh Caca, sang komandan yang tegas tapi penyayang, langsung menepuk meja. "Kita nggak bisa asal pilih orang. Kriteria kali ini harus bener-bener ketat. Calon Mechabest baru harus kuat fisik, kuat mental, tulus jalanin setiap misi, dan yang paling penting... rela berkorban buat Kota Mecha."

"Tenang aja, Ca. Syarat kayak gitu mah udah wajib," sahut Pasya santai sambil nyender di kursi. Sebagai pemegang Mecha Poison, pembawaannya memang selalu tenang tapi mematikan.

"Iya sih, Bang Pasya benar. Tapi nyari anak muda yang tulus zaman sekarang tuh susah-susah gampang tahu," tipal Clairine, pengguna Mecha Water yang paling muda di sana.

Opik, sang ahli analisis, cuma tersenyum tipis. Jari-jarinya menari lincah di atas layar touchscreen transparan. "Gua udah antisipasi itu. Data seluruh remaja di Kota Mecha udah gua crawl. Sekarang tinggal penyaringan tahap akhir."

Opik menekan satu tombol merah. BZZZT!

Dari atap gedung Mechabest, puluhan drone pengintai berukuran mikroskopis meluncur ke udara, menyebar ke seluruh penjuru kota. Tujuan utama mereka: mengawasi sekolah-sekolah menengah di Kota Mecha dan merekam pergerakan para siswa secara real-time.

"Drone udah jalan. Sekarang kita cuma tinggal tunggu datanya masuk," kata Opik sambil nyeruput kopinya.

Sementara itu di Sekolah Menengah Kota Mecha, suasana kelas sama sekali jauh dari kata 'heroik'.

Di pojokan kelas, Yasing lagi adu panco sama temen sekelasnya sambil teriak-teriak heboh. "Gak bisa! Gua gak boleh kalah! Daya tahan gua tuh setingkat badak!" serunya dengan muka merah padam.

Di sampingnya, Maul cuma duduk tegap sambil benerin kerah bajunya, sok cool banget padahal dari tadi merhatiin cermin kecil. Tapi begitu Yasing mementalkan meja gara-gara terlalu antusias, muka Maul langsung berubah datar dan makin ditekuk. "Sing, bisa diem gak? Kesel gua lama-lama. Gua lagi gak bisa diajak becanda ya."

Gak jauh dari mereka, Alifian lagi sibuk menceramahi anak-anak cewek tentang 'Strategi Memilih Jajanan Kantin Sesuai Nutrisi'. "Kalian tuh harusnya beli siomay bagian tahu sama telornya aja, minyaknya dikit! Percaya sama gua!" oceh Alifian berapi-api. Tapi pas ditanya kenapa dia sendiri malah makan kerupuk kaleng, Alifian cuma nyengir. "Ah, teorinya kan gitu, prakteknya mah bebas!"

Sementara Sahla? Dia malah rebahan di mejanya, tapi matanya lirik kiri-kiri sambil nggosip sama temen sebelahnya. "Eh, kalian tahu gak? Katanya anak kelas sebelah semalem ditembak sama ksatria kegelapan tapi ditolak gara-gara kurang canggih. Beneran, gua gak bohong!" bisik Sahla antusias, padahal cerita itu cuma karangan halunya doang biar gak bosen pas pelajaran.

Empat sahabat dengan kelakuan ajaib itu sama sekali gak sadar... kalau di luar jendela kelas mereka, ada drone kecil transparan yang lagi merekam semua tingkah konyol mereka.

Singkat cerita, Yasing, Maul, Alif, dan Sahla berjalan bareng pulang sekolah menuju rumah mereka masing-masing. Tanpa sepengetahuan mereka, sebuah drone transparan mengawasi setiap langkah mereka dari jauh.

Ketika mereka sampai di dekat tempat penyeberangan, mereka melihat seorang nenek yang membawa banyak barang bawaan dan tampaknya kesulitan untuk menyeberang. Yasing yang matanya jeli langsung berbisik ke Maul buat nolongin nenek itu. Tanpa pikir panjang, yang lain pun langsung mengiyakan.

Sahla yang biasanya mageran tiba-tiba cekatan membawakan barang bawaan si nenek, Alif dengan gaya sok dewasanya menuntun si nenek pelan-pelan, sementara Yasing dan Maul berdiri paling depan di jalan raya sambil melambaikan tangan menghentikan kendaraan yang lewat.

Namun, dari kejauhan ada satu motor yang ngebut dan kelihatan enggak mau mengalah. Kelihatan jelas kalau pemotor itu nekad mau menerobos.

Melihat ancaman itu, Maul langsung pasang muka amat serius. Kesabarannya hilang seketika. Dengan sigap, Maul pasang kuda-kuda dan menghentikan pengendara motor yang melaju kencang itu hanya menggunakan kedua tangannya! BRAK! Bagian belakang motor itu sampai terangkat ke udara karena tertahan paksa.

Sang pengemudi motor seketika pucat pasi dan ketakutan melihat aksi ekstrem Maul.

Yasing yang emosinya ikut terpancing langsung maju dan ngomelin pemotor itu, "Woy Pak! Liat enggak ada orang mau nyebrang?! Buka matanya dong, bahaya tau!"

Pengendara motor yang masih gemetaran itu cuma bisa mengangguk-angguk pasrah. "I-iya dek, maaf, maaf banget... saya lagi buru-buru..." ucapnya gagap sambil buru-buru memutar balik motornya dan pergi dengan kapok.

Alif yang menuntun si nenek langsung berdeham sok keren. "Makanya Pak, kalau berkendara itu harus mengutamakan keselamatan pejalan kaki! Kan saya udah sering bilang di teori kesopanan lalu lintas!" celetuk Alif, padahal tadi dia cuma berdiri santai di samping nenek.

"Udah-udah, Alif, ngomong doang kamu," sahut Sahla sambil merapikan tas nenek. Lalu dengan gaya khasnya yang suka bual, Sahla berbisik ke nenek itu, "Nenek tenang aja, dua temen saya yang di depan tadi sebenarnya mantan atlet angkat beban tingkat galaksi, jadi motor mah lewat!"

Nenek itu cuma tertawa kecil dan mengelus dada lega. "Terima kasih banyak ya, anak-anak baik. Kalian mulia sekali mau bantu nenek," ucap nenek itu tulus.

Setelah memastikan si nenek sampai di seberang jalan dengan aman, keempat sahabat itu saling melempar tos dan melanjutkan perjalanan pulang sambil tertawa-tawa.

Sementara itu, jauh di atas udara, drone pengintai merekam seluruh kejadian tersebut. Sinyal rekaman itu langsung terkirim ke markas pusat Mechabest.

Di ruang utama Mechabest, Opik menatap layar monitor dengan senyum lebar. "Ca, Pasya, lihat ini. Sensor ketulusan dan keberanian mereka tembus skor maksimal. Kita udah nemu calonnya."

Teh Caca dan Pasya tersenyum puas melihat rekaman aksi Yasing, Maul, Alif, dan Sahla.

"Luar biasa," ujar Teh Caca bangga. "Siapkan agen. Kirim mereka ke rumah anak-anak itu sekarang!"

Kedatangan Agen & Trial Mechabest

Suasana sore di Kota Mecha terasa tenang, tapi bagi Yasing, Maul, Alif, dan Sahla, sore itu berubah menjadi hari paling membingungkan sekaligus mengejutkan dalam hidup mereka.

Di rumah Yasing, cowok antusias itu lagi asyik main game sambil teriak-teriak sendiri di kamarnya. Tiba-tiba, ibunya memanggil dari lantai bawah dengan suara panik. Saat Yasing turun, dia mendapati seorang pria berjas hitam rapi dengan kacamata canggih berlogo lingkaran emas—logo khas organisasi Mechabest—sedang duduk anggun di ruang tamu.

Agen itu berdiri, menatap Yasing datar, lalu mengeluarkan sebuah dokumen berhologram.

"Selamat sore, Yasing. Saya agen dari organisasi Mechabest. Berdasarkan hasil analisis dan pemantauan khusus, kamu telah terpilih mengikuti trial untuk menjadi Mechabest pada tanggal 12 Mei mendatang. Harap hadir di kantor pusat Mechabest tepat pukul delapan pagi."

Yasing melongo. Matanya membelalak sampai hampir keluar. "Hah?! Gimana, Pak? Saya? Mechabest?! Beneran nih?! BUKAN PRANK KAN?!" teriak Yasing heboh sampai mengguncang bahu agen tersebut. Sang agen hanya mengangguk tenang sebelum pamit pergi begitu saja, meninggalkan Yasing yang melompat-lompat girang di ruang tamunya.

Kejadian serupa terjadi di rumah ketiga sahabatnya. Di rumah Maul, sang agen menyampaikan kalimat yang persis sama: "Kamu telah terpilih mengikuti trial untuk menjadi Mechabest..." Maul yang biasanya sok cool langsung terdiam kaku, pura-pura tidak kaget padahal dadanya berdebar kencang setengah mati.

Di rumah Alif, sang agen bahkan belum selesai bicara tapi Alif sudah menceramahi agen tersebut tentang teori cybernetic dan betapa cocoknya dia jadi pahlawan super. Sementara di rumah Sahla, cewek itu sempat mengira sang agen adalah penagih paket salah alamat, sebelum akhirnya berteriak histeris begitu mendengar kata 'Mechabest'.

Satu hal yang tidak mereka sadari: sang agen sama sekali tidak menyebutkan nama teman-teman mereka. Jadi, keempatnya sama sekali tidak tahu kalau mereka berempat sama-sama direkrut secara bersamaan!

Hari yang ditentukan pun tiba.

Pagi itu, area pusat Kota Mecha tampak sangat megah. Gedung Pusat Mechabest menjulang tinggi menembus awan, dipenuhi panel surya mengkilap dan lintasan flying-car di sekelilingnya.

Sebuah mobil sedan hitam berhenti di area drop-off depan gedung. Yasing melangkah keluar dari mobil ayahnya dengan dada dibusungkan, merasa menjadi satu-satunya anak paling beruntung di seluruh Kota Mecha.

"Makasih ya, Yah! Anakmu ini sebentar lagi bakal jadi pahlawan terhebat!" pamit Yasing dengan rasa percaya diri membumbung tinggi.

Namun, baru tiga langkah berjalan menuju pintu kaca otomatis, mata Yasing menagkap tiga sosok yang sangat familiar sedang berdiri canggung di dekat tiang megah.

"Lho... Maul? Alif? Sahla?!" jerit Yasing kaget, suaranya sampai menggelegar di pelataran gedung.

Mendengar teriakan itu, Maul yang sedang berdiri sok gagah langsung menoleh. Alif dan Sahla pun ikut berbalik.

"Yasing?! Kok lu ada di sini?!" sahut Sahla heboh, matanya membelalak lebar. "Jangan bilang lu mau nyolong kabel di gedung Mechabest ya?!"

"Enak aja! Gua diundang trial Mechabest tahu!" balas Yasing tak mau kalah, menghampiri mereka dengan langkah lebar. "Lah, kalian sendiri ngapain pada ngumpul di sini?"

Alif membenarkan posisi kacamatanya, lalu tersenyum jumawa. "Heh, asal kalian tahu, kemarin ada agen rahasia datang ke rumah gua. Gua terpilih buat ikut trial pahlawan Mechabest! Lu pada pasti cuma mau nonton gua kan?"

"Dih! Pede amat lu, Alif! Gua juga diundang trial kali!" timpal Maul. Meskipun mukanya berusaha ditahan agar tetap cool, bibirnya cemberut karena merasa gengsinya tersaing. "Gua kira cuma gua doang anak terpilih di kota ini."

"Lah?! Sumpah demi apa kalian bertiga juga diundang?!" Sahla menutup mulutnya, tak percaya. "Gua kira agen kemarin itu bohong! Katanya gua terpilih, kok malah kalian bertiga ikut-ikutan sih? Gua padahal udah siap-siap mau ganti nama panggung jadi Sahla the Hero!"

Mereka berempat saling pandang. Rasa tidak percaya, bingung, sekaligus gembira bercampur aduk. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau empat sahabat yang kelakuannya sering bikin rusuh sekolah ini malah dipanggil barengan ke tempat paling bergengsi di Kota Mecha.

KLIK.

Pintu kaca raksasa di depan mereka terbuka secara otomatis. Asupan udara dingin beraroma teknologi segar menyapa wajah mereka. Di balik pintu, seorang wanita berpenampilan tegas, mengenakan jaket taktis berlogo Mechabest, berdiri sambil bersedekap dada.

"Selamat datang para calon Mechabest baru," ucap wanita itu dengan nada bersahabat namun berwibawa. "Perkenalkan nama gue Caca, kalian boleh manggil gue Teh Caca."

Yasing, Maul, Alif, dan Sahla langsung berdiri tegap bagaikan tentara baris-berbaris.

"Teh Caca..." bisik Alif pelan, terkagum-kagum melihat aura sang komandan.

"Gue yang bakal memandu kalian selama proses seleksi awal ini," lanjut Teh Caca sambil tersenyum tipis. "Jangan tegang gitu. Ikut gue sekarang, kita pergi ke ruangan trial."

Tanpa membuang waktu, Teh Caca berbalik dan berjalan memimpin jalan. Keempat sahabat itu mengekor di belakang dengan langkah berdebar-debar. Sepanjang lorong, mereka disuguhi pemandangan teknologi tingkat tinggi: robot-robot pembersih melayang, layar hologram berisi peta pertahanan kota, hingga beberapa jendela kaca tebal yang memperlihatkan lab laboratorium penelitian.

"Wah, gila... keren banget tempatnya," gumam Yasing berbinar-binar. Tangannya gatal ingin menyentuh semua tombol hologram di dinding.

"Sing, tangannya jaga ya. Nanti kalau lu pencet tombol kehancuran otomatis gimana? Kan repot gua harus menyelamatkan lu," celetuk Alif sok tahu.

"Mana ada tombol kayak gitu di lorong, Alif! Lu ngomong doang dipelihara," semprot Maul pelan, tetap menjaga pandangannya lurus ke depan agar terlihat keren di mata Teh Caca.

Sahla mendekat ke arah Yasing dan berbisik pelan, "Eh Sing, lu tau gak? Katanya kalau gagal di trial ini, kita bakal dijadiin bahan bakar mesin robot Mechabest lho. Gua denger dari gosip sepupu temennya tetangga gua!"

"Hah?! Beneran lu?!" Yasing langsung pucat seketika.

"Ngawur lu, Sahla! Jangan bikin hoaks di markas pahlawan!" sergah Maul cepat sebelum Yasing benar-benar panik.

Teh Caca yang berjalan di depan hanya terkekeh pelan mendengar perdebatan ajaib empat remaja di belakangnya. Dalam hati, sang komandan makin yakin kalau pilihan Opik dan Pasya tidak salah—anak-anak ini memang punya dinamika yang unik.

Mereka akhirnya sampai di depan sebuah pintu besi berukuran raksasa dengan tulisan melayang berpendar biru: SIMULATION & TRIAL ROOM 01.

BZZZZT!

Pintu besi itu bergeser ke atas. Ruangan di baliknya luar biasa luas, hampir seluas stadion sepak bola, namun dinding dan lantainya terbuat dari matriks kubus digital berwarna abu-abu gelap. Di bagian atas ruangan terdapat ruang observasi berlapis kaca tebal, di mana tampak Opik, Pasya, Clairine, dan Prof. Einstein sedang mengamati mereka dari jauh.

"Okey, dengar semuanya," suara Teh Caca menggelegar, menarik perhatian keempatnya. "Ruangan ini adalah arena simulasi interaktif. Di sini, kita bakal menguji apakah mental, fisik, dan kerja sama kalian layak untuk menerima Mechabest Watch—jam perubah khusus yang bakal jadi senjata utama kalian."

Teh Caca berjalan ke sebuah konsol di samping pintu dan memasukkan kode akses.

"Di trial ini, kalian enggak dipersenjatai apa-apa. Kalian cuma butuh otak, ketahanan fisik, dan kekompakan tim buat menyelesaikan tantangan yang bakal muncul di ruangan ini. Paham?"

"Paham, Teh!" jawab Yasing paling keras, semangatnya langsung terbakar kembali. "Bagi saya mah gampang! Mau musuh kayak gimana juga pasti saya hantam!"

"Sombongnya mulai..." gumam Maul sambil menggeleng-gelengkan kepala, walau dia sendiri mulai memasang kuda-kuda kokoh.

Alif menaikkan lengan bajunya, bergaya seolah-olah siap bertarung. "Tenang Teh Caca, saya sudah mempelajari secara teoritis seratus delapan puluh jurus bertahan hidup dari serangan simulasi!"

"Tapi prakteknya nanti lu paling belakang kan, Lif?" sindir Sahla tajam.

"Sssht! Jangan buka kartu dong, Sahla!" bisik Alif panik.

Teh Caca menekan tombol konfirmasi di layar. BEEP!

Seketika, seluruh lampu utama ruangan padam. Lantai matriks digital di bawah kaki mereka mulai bercahaya merah terang. Suara sirine peringatan bergema mendengung di seluruh penjuru ruangan.

[SISTEM SIMULASI DIAKTIFKAN. TINGKAT KESULITAN: UJI KELAYAKAN MECHABEST.]

Suara komputer bergaung dingin. Di tengah ruangan, matriks piksel merah mulai menumpuk dan membentuk empat sosok robot latihan berukuran tiga meter dengan lengan meriam dan cakar baja yang tampak sangat tajam.

"Selamat berjuang, calon pahlawan," ujar Teh Caca sambil mundur keluar ruangan. Pintu besi raksasa di belakangnya langsung tertutup rapat dan terkunci.

"Waduh... itu robotnya beneran?!" pekik Sahla yang refleks bersembunyi di balik tubuh bongsor Maul. "Bentuknya kok serem banget sih?! Katanya cuma tes biasa!"

Robot simulasi pertama melangkah maju, memancarkan garis laser merah dari matanya yang mengunci posisi Yasing. ROAAAR! Suara raungan sintetis menggema keras.

Yasing bukannya takut, justru malah menyeringai lebar. Matanya menyala penuh gairah persaingan. "Mantap! Ini baru namanya trial! Gua duluan yang habisin robot itu!"

"Jangan asal terjang, Yasing! Lihat polanya dulu!" teriak Maul memperingatkan, langsung bergerak maju menyamai posisi Yasing untuk pasang badan.

"Gua racik strateginya dari belakang!" seru Alif sambil mundur lima langkah ke belakang, padahal dia cuma bingung mau berbuat apa.

"Gua bagian menyemangati aja ya guys! Semangat Yasing! Semangat Maul!" tambah Sahla sambil ikutan mundur bersama Alif, gaya mager khasnya langsung kumat di saat kritis.

Di atas ruang observasi, Pasya yang memperhatikan lewat layar monitor tersenyum tipis sambil menyesap minumannya. "Kacau juga kombinasi bocah-bocah ini. Kita lihat aja, sejauh mana kebaikan hati dan keberanian mereka bisa nyatu pas situasi terjepit."

Ujian sejati bagi Yasing, Maul, Alif, dan Sahla untuk menjadi pahlawan pelindung Kota Mecha pun resmi dimulai!

Tantangan Trial Mechabest

Suara dentuman keras menggema di seluruh sudut ruangan simulasi. Sementara Alip dan Sahla sibuk mengambil seribu langkah ke belakang—bersembunyi di balik tiang penyangga yang bahkan tidak cukup lebar untuk menutupi tubuh mereka—dua sahabatnya yang lain malah menunjukkan reaksi yang sangat bertolak belakang.

Yasing dan Maul tidak berlari mundur. Sebaliknya, mata Yasing menyala-nyala penuh gairah bertarung. Maul yang awalnya pasang muka sok cool pun ikut terpancing adrenalinnya.

"Sing! Jangan kasih nafas!" teriak Maul sambil menerjang salah satu robot simulasi.

"emang robot bisa napas?" tanya Yasing sambil bercanda.

Dengan kekuatan fisik maul yang murni tanpa bantuan alat apa pun, Maul mencengkeram lengan baja robot itu, lalu membantingnya ke lantai matriks hingga bergetar hebat.

"Giliran gua!" balas Yasing penuh antusias. Yasing melompat ke udara, memanfaatkan bahu robot lain sebagai pijakan, lalu mendaratkan pukulan bertubi-tubi tepat di bagian panel dada robot tersebut.

BAM! BAM! KRLAK!

Hanya dalam hitungan menit, empat robot simulasi berukuran tiga meter yang tadi terlihat sangat mengintimidasi kini sudah berubah menjadi tumpukan besi tua yang berasap di tengah ruangan. Sisa-sisa kabel bergetar memercikkan arus listrik kecil.

Yasing mendadak menghentikan aksinya. Matanya membelalak menatap tumpukan puing-puing di depannya. Kesadarannya kembali, dan rasa panik mulai merayap.

"Yah! Gimana nih! Robotnya rusak!" seru Yasing panik sambil menepuk jidatnya sendiri. "Wah, kita bisa disuruh ganti rugi nih! Uang jajan gua setahun juga gak bakal cukup!"

Maul yang ikut sadar kalau mereka sudah melangkah terlalu jauh, langsung menengadah ke atas. Dia menatap ke arah kaca tebal ruangan kontrol di mana Teh Caca, Pasya, Opik, dan Prof. Einstein sedang berdiri memperhatikan mereka.

"Teh! Kalo robotnya rusak gimana, Teh?!" teriak Maul dengan suara lantang sambil menunjuk tumpukan besi tua di bawahnya.

Dari dalam ruangan kontrol, Teh Caca menekan tombol mikrofon intercom. Suaranya terdengar santai dan menggema di seluruh arena.

"Udah, biarin aja. Ntar beli baru. Santai aja, Mechabest kaya kok!" balas Teh Caca santai tanpa beban sedikit pun.

Mendengar jawaban itu, raut wajah panik Yasing dan Maul seketika sirna. Senyum lebar kembali terpatri di muka mereka.

"Oke!" kata Yasing dan Maul bersamaan.

Mereka berdua melakukan TOS khas mereka—kombinasi tepukan tangan, adu siku, dan diakhiri dengan gerakan memutar yang kocak—lalu berjalan santai menghampiri Alip dan Sahla yang masih gemetaran di pojokan belakang.

Yasing melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Alip dan Sahla dengan pandangan tidak percaya. "Lu pada ngapain sih! Bukannya ngelawan malah berduaan di belakang!" ucap Yasing enggak nyantai.

Sahla nyengir kuda, membetulkan posisi tasnya dengan canggung. "Takut, hehe," balas Sahla tanpa rasa dosa.

"Haha hehe haha hehe. Huu, beban!" ledek Maul ke Sahla dengan muka datarnya yang menyebalkan.

"Dih! Siapa yang beban?!" semprot Sahla tak terima. "Gua tuh lagi menyusun strategi dari jarak jauh! Lagian kan kalian berdua emang cocoknya jadi tukang pukul!"

"Udah, udah, enggak usah dihiraukan," timpal Alif dengan gaya sok bijak, membenarkan posisi kacamatanya yang sama sekali tidak miring. "Teori gua terbukti kan? Kalau dua pemukul di depan fokus, yang di belakang cukup memberikan dukungan moral."

"Dukungan moral gundulmu!" gerutu Yasing sambil menjitak jidatt Alip.

BZZZZT!

Suara pintu geser di ujung arena memotong perdebatan mereka. Suara Teh Caca kembali terdengar dari pengeras suara.

"Kerja bagus untuk tahap pertama. Sekarang, kalian disuruh lanjut ke ruangan berikutnya oleh Teh Caca," ujar suara dari intercom. "Jangan senang dulu, ujian sebenarnya baru dimulai."

Keempat sahabat itu saling pandang, lalu melangkah menuju pintu yang baru saja terbuka. Mereka memasuki ruangan kedua yang ukurannya tidak kalah luas. Namun, bedanya, ruangan ini tidak berisi robot-robot seram, melainkan deretan halang rintang yang sangat rumit dan tinggi.

Ada tiang-tiang berputar, jaring rantai raksasa, papan pijakan melayang yang terus bergerak, hingga lintasan besi sempit yang berada di atas kolam busa bertekanan tinggi.

"Wah, ini mah..." Yasing mengamati lintasan itu dengan mata berbinar. "Kayak Ninja Warrior yang di TV-TV, Ul!" ucap Yasing semangat.

Maul menatap lintasan besi padat di depannya dengan pandangan horor. "Yang di TV mah pake udara, balon. Lah ini besi, woyy!" balas Maul sambil menunjuk tiang besi tebal yang berputar dengan kecepatan tinggi.

"Okey, aturan untuk tes kali ini sederhana," suara Teh Caca kembali bergaung dari pengeras suara. "Ini adalah tes kecepatan dan kelincahan. Kalian harus melewati berbagai rintangan kayak di Ninja Warrior ini sampai ke garis akhir. Waktu kalian dimulai dari... SEKARANG!"

BEEEP!

Tanpa menunggu instruksi dua kali, mereka berempat langsung melompat ke area rintangan. Dan dari sinilah momen-momen kocak mulai terjadi.

Alif dan Sahla, yang di tes pertama sama sekali tidak berguna, justru menunjukkan taringnya di tes kali ini.

Alip yang bertubuh jangkung dengan kaki panjangnya bisa melangkahi papan pijakan melayang dengan sangat mudah. Dia cukup melangkah dua kali di saat orang lain harus melompat tiga kali. Sementara Sahla, dengan tubuhnya yang kecil, lincah, dan gerakan refleksnya yang cepat, meluncur melintasi tiang-tiang berputar bagaikan belut.

"Daaaag! Gua duluan ya, para beban!" teriak Sahla sambil melompati rintangan jaring dengan sangat santai, lalu mendarat mulus di seberang.

"Teori aerodinamika tubuh jangkung memang tidak pernah bohong!" seru Alip penuh percaya diri. Tanpa hambatan berarti, Alip menyusul Sahla dan sampai di garis akhir hanya dalam hitungan detik.

Sementara itu di belakang... kondisi Yasing dan Maul benar-benar memprihatinkan.

Yasing dengan gaya bertarungnya yang selalu memaksakan kehendak, mencoba menerobos tiang besi berputar bukannya menghindarinya. PAK! PAK! BUK! Besi-besi itu berkali-kali menghantam dada dan lengannya. Tapi bukannya mundur, Yasing malah makin emosi dan menabrakkan dirinya sampai tiang itu berhenti paksa.

Maul yang tubuhnya paling bongsor juga tidak mau kalah ekstrem. Bukannya melompati pijakan melayang dengan elegan, Maul menyeruduk semua rintangan besi di depannya bagaikan badak mengamuk. Besi-besi rintangan itu penyok, tapi tubuh Maul juga babak belur.

Setelah perjuangan yang dipenuhi suara dentuman dan rintihan kesakitan, Yasing dan Maul akhirnya berhasil menyentuh garis akhir. Keduanya langsung ambruk terlentang di lantai matriks sambil memegangi pinggang dan bahu mereka.

"Aduh... encok gua..." keluh Yasing sambil meringis kesakitan.

Maul yang duduk di sampingnya sambil mengelus siku yang memar berusaha tetap pasang muka sok kuat, walau matanya berkaca-kaca menahan sakit.

"Lebay lu, Sing. Baru gitu doang," ucap Maul sok tangguh, padahal napasnya terengah-engah bagaikan habis dikejar serigala.

Yasing menoleh cepat dengan muka tidak terima. "Lebay matamu! Badan lu gede, badan gua kecil, Ul-Ul! Lu mah enak jalurnya udah lu hancurin setengah, gua yang di belakang lu ketimpa sisa besinya!"

"Lah, siapa suruh lu ngintil di belakang gua!" balas Maul tidak mau kalah.

Alip dan Sahla yang sudah berdiri nyaman di garis akhir sejak tadi cuma bisa menatap dua temannya itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aduh, aduh... yang tadi sok jagoan waktu lawan robot, sekarang malah tepar gara-gara tiang besi," ledek Sahla sambil berkacak pinggang, menatap Yasing dan Maul dari atas dengan senyum mengejek.

"Itulah akibatnya kalau cuma mengandalkan otot tanpa perhitungan matematis kecepatan sudut berputar," pamer Alip sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya, bergaya seolah dia adalah ilmuwan paling jenius di dunia.

"Diem lu, Lip! Lu tadi cuma hoki gara-gara kaki lu panjang kayak jangkrik!" semprot Yasing sambil mencoba berdiri walau kakinya masih agak gemetaran.

Di ruang observasi, Teh Caca, Pasya, Opik, dan Prof. Einstein hanya bisa tertawa melihat kelakuan empat remaja itu melalui layar monitor.

"Keren, keren" ujar Pasya sambil tersenyum tipis. "Yasing sama Maul punya daya tahan fisik sama kekuatan serangan yang masif banget. Tapi Alip sama Sahla punya kelincahan alami yang tinggi. Mereka saling melengkapi."

Opik mengetikkan beberapa baris kode di papan ketiknya, lalu mengangguk puas. "Data analisis fisik selesai. Kelincahan Sahla cocok untuk Mecha Speed, jangkauan dan mobilitas Alip pas untuk Mecha Fly, kekuatan murni Yasing ideal sebagai Mecha Damage, dan daya tahan ekstrem Maul sempurna untuk Mecha Tank."

Prof. Einstein tersenyum lebar, mengelus janggut putihnya dengan bangga. "Proses seleksi telah selesai. Mereka tidak hanya lolos uji fisik dan mental, tapi dinamika persahabatan mereka akan menjadi fondasi terkuat untuk Kota Mecha."

Teh Caca menekan tombol mikrofon sekali lagi, suaranya kembali terdengar di ruangan tempat empat sahabat itu masih sibuk adu mulut.

"Selamat, kalian berempat!" panggil Teh Caca. "Tes kelayakan telah selesai. Kumpulkan sisa tenaga kalian, dan berjalanlah ke ruangan utama. Ada sesuatu yang sangat spesial yang sudah menunggu kalian di sana."

Mendengar kata 'sesuatu yang spesial', Yasing langsung mendongak, rasa sakit di tubuhnya seolah lenyap seketika. "Denger gak?! Sesuatu yang spesial! Pasti jam perubah Mechabest!"

"Wah, beneran nih?!" mata Sahla berbinar-binar. "Gua bakal dapet jam canggih yang bisa bikin gua keren?!"

"Sudah gua duga, teori keberhasilan kita mencapai seratus persen," celetuk Alif sok tenang, walau tangannya langsung gemetaran karena antusias.

Maul berdiri pelan-pelan, membetulkan kerah bajunya agar kembali terlihat rapi dan cool. "Yaudah, tunggu apa lagi? Ayo kita ambil hak kita sebagai pahlawan baru Kota Mecha."

Dengan langkah mantap—meskipun Yasing dan Maul masih agak pincang—keempat sahabat itu berjalan bersama meninggalkan arena tantangan menuju takdir baru yang menanti mereka.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!