Indonesia
NovelToon NovelToon

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

episode 1

"Apa? Menikah?!"

"Iya, Tuan. Tuan Besar sudah memutuskan untuk menjemput Tuan agar kembali ke rumah utama. Hari pernikahan Tuan juga sudah ditentukan. Malam ini juga Tuan diminta pulang. Kalau tidak..."

"Kalau tidak apa?"

"Perusahaan akan sengaja dibiarkan tumbang. Satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah Tuan harus menikahi putri dari keluarga Wijaya."

Vio mengepalkan kedua tangannya.

"Aku akan memikirkannya lagi. Aku pulang besok saja. Aku bisa pulang sendiri."

"Baik, Tuan."

Setelah pria itu pergi, Vio hanya bisa mengembuskan napas panjang. Kepalanya terasa penuh oleh berbagai pikiran. Paksaan dari kedua orang tuanya membuat hatinya benar-benar kacau.

"Kamu yakin, Bro, mau pulang?" tanya Reno.

Vio menggeleng pelan.

"Aku juga nggak tahu. Oh ya, aku duluan. Aku mau ke rumah Zilia."

Reno menepuk pelan bahu sahabatnya.

"Semoga kalian berdua menemukan jalan keluarnya. Jangan sampai hubunganmu sama Zilia hancur. Dia gadis baik, jangan sampai kamu sia-siakan."

Vio tersenyum tipis.

"Tenang. Aku nggak akan membiarkan siapa pun menghancurkan hubunganku dengan Zilia."

"Semangat, Bro. Sana pergi."

Vio langsung melajukan motornya menuju rumah Zilia.

Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu rumah.

Tok... tok... tok...

Pintu pun terbuka, memperlihatkan sosok Ibu Retno.

"Nak Vio, ada apa malam-malam ke sini?"

"Zilia belum tidur, kan, Bu?"

Ibu Retno menggeleng.

"Belum pulang. Tadi dia pergi sama Edo dan Rara. Memangnya ada perlu apa?"

"Nggak ada apa-apa, Bu. Cuma mau ketemu."

"Itu, mereka sudah pulang."

Ibu Retno menunjuk ke arah ujung jalan saat melihat Zilia berjalan pulang bersama kedua temannya.

"Zil, itu ada Vio."

Zilia menoleh. Senyum tipis langsung menghiasi wajahnya.

"Kalian dari mana?" tanya Vio.

"Dari belanja buat acara terakhir sama anak-anak kampus. Memangnya kamu ada perlu apa ke rumah?"

"Ra, Do, Bu... aku mau ngajak Zilia keluar sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan."

"Ciee... jangan-jangan mau ngelamar, nih," goda Rara sambil tertawa.

"Apaan sih, Ra."

"Ehem... kita dukung kok," sahut Edo sambil mengangkat kedua jempolnya.

"Boleh, kan, Bu?" tanya Vio kepada Ibu Retno.

"Boleh. Tapi jangan pulang terlalu malam."

"Iya, Bu."

Tak lama kemudian, Vio mengajak Zilia pergi.

Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Tidak ada obrolan seperti biasanya. Zilia memilih menikmati angin malam, sementara Vio sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri. Ancaman dari kedua orang tuanya terus terngiang di kepalanya.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah danau kecil yang tak jauh dari desa.

Zilia turun dari motor dan memandang sekeliling. Suasana malam itu cukup ramai. Banyak pasangan muda duduk di tepi danau sambil mengobrol dan menikmati semilir angin.

"Kita duduk di sana, yuk," ajak Vio.

Zilia mengangguk.

Mereka pun duduk berdampingan di tepi danau. Tanpa sadar, Vio meraih tangan Zilia dan menggenggamnya erat.

"Zil... kamu nggak keberatan, kan, kalau aku pulang ke kota? Aku diminta kembali ke rumah untuk menggantikan Papaku kerja."

Vio menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Aku janji, setelah semua urusan selesai, aku akan kembali. Aku akan menjemputmu, melamarmu, lalu menikahimu."

Zilia terdiam.

Ia ingin meminta Vio tetap tinggal, tetapi ia sadar dirinya tidak punya hak untuk menahan seseorang yang sedang memenuhi panggilan orang tuanya.

Vio kembali berkata pelan,

"Aku akan terus menghubungimu. Kalau ada waktu libur, aku pasti akan datang menemui kamu."

Zilia menatap pria di sampingnya.

"Aku memang nggak punya hak melarangmu pulang. Apalagi ini menyangkut orang tuamu. Yang bisa kulakukan hanya mendukung keputusanmu."

Mendengar jawaban itu, Vio langsung memeluk Zilia erat.

"Terima kasih... Aku janji tidak akan mengecewakanmu."

Zilia perlahan melepaskan pelukan itu. Wajahnya memerah karena malu.

"Aku mau pesan makanan dulu, ya."

"Nggak usah. Aku tadi sudah makan bareng Edo sama Rara. Kamu saja yang makan. Aku cukup pesan minuman."

"Ya sudah."

Vio pun berjalan menuju kios makanan yang berada di pinggir danau.

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Obrolan mereka mengalir hingga malam semakin larut.

Mengingat janjinya kepada Ibu Retno untuk tidak mengantar Zilia pulang terlalu malam, Vio akhirnya mengajak gadis itu kembali ke rumah.

Menulis

Keesokan paginya, matahari baru saja menampakkan sinarnya. Udara desa masih terasa sejuk ketika Vio telah bersiap dengan sebuah tas ransel yang disampirkan di bahunya.

Ia berdiri beberapa saat di depan tempat tinggalnya. Tatapannya menyapu setiap sudut tempat yang selama ini menjadi saksi kehidupannya bersama teman-teman dan juga kisah cintanya dengan Zilia.

"Hari ini semuanya berubah," gumamnya lirih.

Vio lalu menghidupkan motor dan melaju menuju rumah Zilia.

Tak lama kemudian, ia tiba di depan rumah sederhana itu. Begitu motornya berhenti, Ibu Retno yang sedang menyapu halaman menoleh.

"Nak Vio?"

Vio tersenyum sopan.

"Selamat pagi, Bu."

"Pagi juga. Masuk dulu, Nak."

"Iya, Bu."

Vio melangkah masuk. Zilia yang baru keluar dari dapur langsung menghentikan langkahnya ketika melihat pria yang dicintainya sudah berdiri di ruang tamu.

"Kamu jadi berangkat hari ini?" tanya Zilia pelan.

Vio mengangguk.

"Iya. Aku sengaja datang buat pamit."

Suasana seketika menjadi hening.

Ibu Retno mempersilakan Vio duduk, lalu menuangkan segelas teh hangat.

"Nak Vio, Ibu titip Zilia kalau nanti sudah waktunya. Kalau memang berjodoh, datanglah baik-baik bersama keluargamu."

Vio menerima gelas itu dengan kedua tangannya.

"Iya, Bu. Itu juga yang saya inginkan. Saya mohon doa Ibu supaya semua urusan saya dipermudah."

Ibu Retno mengangguk sambil tersenyum.

"Ibu doakan yang terbaik."

Vio kemudian berdiri dan menyalami Ibu Retno dengan penuh hormat.

"Terima kasih selama ini sudah menerima saya dengan baik."

"Jaga diri baik-baik di kota."

"Iya, Bu."

Setelah berpamitan dengan Ibu Retno, Vio mengalihkan pandangannya kepada Zilia.

"Aku boleh ngomong sebentar?"

Zilia mengangguk lalu mengikuti Vio keluar rumah.

Mereka berdiri di bawah pohon mangga yang tumbuh di halaman.

Vio menggenggam kedua tangan Zilia.

"Aku berangkat."

"Hati-hati."

"Aku akan sering menghubungimu."

"Aku tunggu."

Vio tersenyum tipis.

"Kalau nanti aku lama membalas pesanmu, bukan berarti aku melupakanmu. Mungkin aku sedang sibuk atau memang tidak diberi kesempatan."

Zilia mengangguk pelan.

"Aku percaya sama kamu."

"Jangan pernah percaya omongan orang sebelum mendengarnya langsung dariku."

Ucapan itu membuat hati Zilia sedikit bergetar.

"Memangnya akan ada apa?"

Vio menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Nggak ada. Aku cuma nggak mau ada kesalahpahaman di antara kita."

Zilia mengangguk, meski hatinya mulai dipenuhi firasat yang sulit dijelaskan.

Vio mengusap lembut puncak kepala gadis itu.

"Tunggu aku."

"Aku akan menunggu."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Vio berbalik melangkah pergi. Berkali-kali ia menoleh ke belakang. Sementara Zilia tetap berdiri di tempatnya, melambaikan tangan hingga motor Vio menghilang di tikungan jalan.

Perjalanan menuju kota memakan waktu beberapa jam.

Semakin dekat dengan pusat kota, ekspresi Vio semakin datar. Senyum yang tadi ia tunjukkan kepada Zilia lenyap begitu saja, berganti tatapan dingin.

Tak lama kemudian, mobil yang menjemputnya memasuki sebuah kawasan elite. Gerbang besi raksasa terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah mansion megah yang berdiri di atas lahan luas.

Beberapa pelayan sudah berbaris rapi di halaman.

"Selamat datang, Tuan Muda."

Vio bahkan tidak melirik mereka. Langkahnya terus menuju pintu utama.

Baru saja memasuki ruang tamu yang megah, seorang pria paruh baya dengan jas hitam berdiri menunggunya.

Dialah Armand Mahendra, ayah Vio sekaligus pemilik Mahendra Group.

"Akhirnya kamu pulang juga," ucap Armand dengan suara tenang.

Vio berhenti beberapa langkah di hadapannya.

"Bukankah itu yang Papa inginkan?"

Armand tersenyum tipis.

"Seharusnya kamu menyambut kepulanganmu dengan lebih baik."

Vio menatap ayahnya tanpa sedikit pun rasa hangat.

"Aku pulang bukan karena ingin. Aku pulang karena dipaksa."

Senyum di wajah Armand perlahan menghilang.

"Kamu masih keras kepala."

"Bukan keras kepala. Aku hanya sadar kalau kepulanganku bukan karena Papa merindukan anak sendiri."

Vio menatap lurus kedua mata ayahnya.

"Aku hanyalah bidak yang ingin Papa tukarkan demi kepentingan bisnis."

Ruangan yang luas itu mendadak sunyi.

Para pelayan saling menundukkan kepala. Tak seorang pun berani mengangkat wajah.

Armand menghela napas panjang.

"Kamu akan mengerti suatu hari nanti."

Vio tersenyum sinis.

"Tidak. Yang aku mengerti hanya satu... di rumah ini, perasaan tidak pernah lebih penting daripada keuntungan."

Setelah mengatakan itu, Vio melangkah melewati ayahnya tanpa meminta izin sedikit pun.

Tatapan Armand mengikuti kepergian putranya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menyadari bahwa jarak antara dirinya dan Vio bukan lagi sekadar perbedaan pendapat, melainkan telah berubah menjadi tembok yang sangat sulit untuk dihancurkan.

Episode 2

Keesokan paginya, Vio sudah mengenakan setelan jas hitam yang dijahit khusus untuknya. Penampilannya begitu rapi dan berwibawa. Berbeda jauh dengan sosok Vio yang selama ini hidup sederhana di desa.

Sebuah mobil mewah telah menunggu di depan mansion.

"Tuan Muda, mobil sudah siap," ujar sopir sembari membukakan pintu.

Vio hanya mengangguk singkat sebelum masuk ke dalam mobil.

Tak lama kemudian, kendaraan itu berhenti di depan gedung pencakar langit milik Mahendra Group. Bangunan megah dengan puluhan lantai itu menjadi pusat bisnis keluarga Mahendra selama puluhan tahun.

Begitu Vio turun, seluruh karyawan yang kebetulan berada di lobi langsung menoleh.

"Itu Tuan Muda Mahendra, ya?"

"Ganteng banget."

"Kudengar beliau baru pulang dari luar kota."

"Bukannya katanya beliau yang bakal menggantikan posisi Pak Armand?"

"Iya. Bahkan kabarnya, beliau juga sudah dijodohkan."

"Berarti sebentar lagi kita punya nyonya baru."

"Enak banget ya, wanita yang bakal jadi istrinya. Jadi istri pewaris Mahendra Group."

Bisik-bisik itu terus terdengar, tetapi Vio sama sekali tidak memedulikannya. Langkahnya tetap tenang memasuki lift khusus menuju lantai paling atas.

Sesampainya di ruang direktur utama, Armand sudah menunggu bersama beberapa petinggi perusahaan.

"Hari ini kamu mulai belajar menjalankan perusahaan. Aku ingin kamu memahami semua lini bisnis Mahendra Group."

Vio mengangguk singkat.

"Saya mengerti."

Sejak pagi hingga sore, berbagai divisi memperkenalkan sistem kerja perusahaan kepadanya. Mulai dari keuangan, investasi, ekspor-impor, hingga negosiasi bisnis internasional.

Yang membuat seluruh direksi terkejut, Vio mampu memahami setiap penjelasan hanya dalam sekali paparan.

"Pak Armand, Tuan Muda benar-benar luar biasa," puji Direktur Keuangan.

"Beliau bahkan menemukan kesalahan dalam laporan triwulan hanya dalam waktu beberapa menit."

"Kemampuan analisanya jauh di atas ekspektasi kami."

Armand hanya tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia memang sudah tahu kemampuan putranya.

Sejak kecil, Vio dikenal sebagai anak yang memiliki daya tangkap luar biasa. Apa yang dipelajarinya hampir tidak pernah membutuhkan pengulangan.

Menjelang siang, Vio akhirnya memiliki sedikit waktu luang.

Ia mengunci pintu ruang kerjanya, lalu mengambil ponsel dari saku jasnya.

Nama pertama yang ia cari adalah Zilia.

Tak butuh waktu lama hingga panggilannya diangkat.

"Halo?"

Suara lembut Zilia langsung terdengar dari seberang.

"Lagi ngapain?"

"Lagi bantu Ibu masak. Kamu gimana? Hari pertama kerja?"

Vio tersenyum tipis.

"Lumayan sibuk."

"Capek?"

"Sedikit."

"Jangan lupa makan, ya."

"Iya. Kamu juga jangan terlalu capek."

Percakapan sederhana itu justru membuat hati Vio jauh lebih tenang. Seolah semua tekanan yang ia rasakan sejak kembali ke rumah utama perlahan menghilang hanya karena mendengar suara Zilia.

"Aku kangen."

Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Vio.

Di seberang telepon, Zilia tersipu malu.

"Aku juga."

Senyum Vio semakin lebar.

"Nanti malam aku telepon lagi."

"Iya."

Setelah panggilan berakhir, Vio kembali fokus pada pekerjaannya.

Sore harinya, saat seluruh karyawan mulai bersiap pulang, Armand memasuki ruang kerja putranya.

"Sudah selesai?"

"Masih ada beberapa berkas."

"Tinggalkan dulu."

Vio mengangkat kepalanya.

"Ada apa?"

"Malam ini kita makan malam bersama keluarga Wijaya."

Raut wajah Vio langsung berubah datar.

"Aku tidak tertarik."

"Kamu harus datang."

"Aku sudah bilang, aku tidak ingin menikah."

Armand menatap putranya dengan tegas.

"Hari pernikahan kalian sudah ditentukan. Cepat atau lambat, kamu harus bertemu dengan calon istrimu."

Vio mengepalkan tangannya di balik meja.

Baginya, setiap kata yang diucapkan sang ayah terasa seperti belenggu yang semakin mengikat.

"Kalau aku menolak?"

"Konsekuensinya sudah kamu tahu."

Ruangan kembali hening.

Beberapa detik kemudian, Vio mengembuskan napas panjang.

"Baik. Aku akan datang."

Jawaban itu bukan karena ia menerima perjodohan tersebut, melainkan karena untuk saat ini ia belum memiliki pilihan lain.

Malam pun tiba.

Sebuah restoran mewah yang telah dipesan khusus menjadi tempat pertemuan dua keluarga besar.

Keluarga Mahendra telah lebih dulu tiba.

Tak lama kemudian, pintu ruang VIP terbuka.

Seorang pria paruh baya bersama istrinya melangkah masuk, diikuti seorang wanita muda berparas cantik dengan gaun putih sederhana yang memancarkan aura anggun.

Armand berdiri sambil tersenyum.

"Selamat datang, Pak Wijaya."

Sementara itu, Vio hanya duduk di tempatnya dengan wajah dingin.

Ia sama sekali tidak berniat menatap wanita yang disebut-sebut akan menjadi calon istrinya.

Baginya, perempuan itu bukanlah orang yang ia cintai.

Di dalam hatinya, hanya ada satu nama.

Zilia.

Namun tanpa disadari Vio, wanita dari keluarga Wijaya itu diam-diam memperhatikannya sejak pertama kali memasuki ruangan.

Tatapannya tidak menunjukkan rasa malu ataupun bahagia.

Sebaliknya, sorot matanya justru menyimpan penolakan yang sama kuatnya.

Seolah-olah... bukan hanya Vio yang dipaksa hadir dalam pertemuan itu.

Suasana ruang VIP dipenuhi nuansa formal. Para pelayan bergantian menyajikan hidangan, sementara kedua keluarga saling berbincang mengenai kerja sama bisnis yang selama ini telah terjalin.

Vio duduk tegak tanpa banyak bicara. Wajahnya tetap datar, seolah kehadirannya di sana hanyalah sebuah kewajiban.

"Vio," panggil Armand.

Vio mengangkat pandangannya.

"Kenalkan. Ini Pak Wijaya, sahabat sekaligus rekan bisnis Papa."

Vio mengangguk sopan.

"Selamat malam, Pak."

Pak Wijaya tersenyum ramah.

"Sudah lama saya ingin bertemu langsung denganmu. Ternyata benar, kamu memang sangat mirip dengan ayahmu ketika masih muda."

"Terima kasih."

Jawaban Vio terdengar singkat.

Armand kembali melanjutkan.

"Dan ini putri kami, Alena."

Barulah Vio mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang duduk di samping Pak Wijaya.

Alena membalas tatapan itu dengan senyum tipis.

"Selamat malam."

"Selamat malam."

Tak lebih dari itu.

Tidak ada tatapan kagum ataupun ketertarikan pada Vio. Karena dihatinya hanya ada Zilia.

Keheningan sesaat membuat suasana terasa canggung.

Melihat keadaan itu, Pak Wijaya terkekeh pelan.

"Sepertinya mereka sama-sama pendiam."

Armand ikut tersenyum.

"Nanti juga terbiasa."

Namun, Vio langsung bangkit.

"Maaf, Tuan Wijaya. Boleh saya bicara sebentar dengan Alena?"

"Tentu saja."

Wijaya mengangguk tanpa curiga.

"Kalian bisa berbincang di taman belakang restoran."

Vio sebenarnya enggan, tetapi demi menghormati kedua orang tua mereka, Vio mencoba menghormatinya.

"Silakan."

Mereka berjalan menuju taman yang berada di belakang restoran.

Begitu berada di tempat yang cukup sepi, Alena menghentikan langkahnya.

"Aku akan bicara terus terang."

Vio memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Silakan." Kata Alena

"Aku tidak ingin menikah denganmu."

Kalimat itu membuat Alena menoleh.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu, raut wajahnya sedikit berubah.

Alena mengembuskan napas lega.

"Aku tidak bisa menolak."

Vio mengernyit.

"Kenapa?"

"Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku."

Vio terdiam.

"Tapi Papaku memaksa karena kerja sama bisnis dengan keluargamu."

"Aku tidak bisa berbuat apa-apa."

Alena memandang Vio.

"Kalau begitu... kamu juga?"

Vio ikut menatap ke arah kolam kecil di depan mereka.

"Aku hanya menikahimu sebagai status."

Alena begitu geram mendengarnya.

Namun, tanpa mereka sadari, dari balik jendela ruang VIP, Armand memperhatikan keduanya.

Melihat Vio dan Alena berjabat tangan sambil berbincang cukup lama, Armand tersenyum puas.

"Lihat, Pak Wijaya."

"Ada apa?"

"Sepertinya mereka mulai akrab."

Pak Wijaya ikut tersenyum lega.

"Kalau begitu, saya rasa keputusan kita sudah tepat."

Kedua ayah itu sama sekali tidak menyadari bahwa di balik senyum kedua anak mereka, telah lahir sebuah kesepakatan rahasia.

Kesepakatan yang suatu hari nanti bisa menghancurkan rencana besar kedua keluarga.

Episode 3

Sejak malam pertemuan itu, Vio diam-diam berusaha mencari berbagai cara untuk membatalkan pernikahan. Vio beberapa kali kembali membujuk Armand agar membatalkan keputusan tersebut. Ia bahkan dengan jujur mengaku telah memiliki wanita yang dicintainya.

"Papa, aku tidak mencintai Alena. Jangan paksa aku menikah."

Namun, Armand tetap bergeming.

"Perasaan bisa tumbuh setelah menikah. Tapi kesempatan menyelamatkan perusahaan tidak datang dua kali."

Hari demi hari berlalu.

Berbagai alasan Vio sampaikan. Mulai dari meminta waktu, menunda tanggal pernikahan, hingga terang-terangan menyatakan penolakan.

Namun, semua usaha itu selalu berakhir sia-sia.

Kedua keluarga telah menandatangani berbagai kesepakatan bisnis. Bahkan tanggal, gedung, tamu undangan, hingga kerja sama perusahaan sudah diumumkan kepada para relasi.

Membatalkan pernikahan di saat seperti itu sama saja dengan menghancurkan nama baik dua keluarga besar.

Pada akhirnya, Vio hanya bisa pasrah.

"Aku minta maaf," ucap Vio lirih suatu hari.

 

Sebuah ballroom hotel berbintang lima telah disulap menjadi tempat pernikahan yang begitu megah. Ribuan bunga putih menghiasi setiap sudut ruangan. Para tamu undangan yang berasal dari kalangan pengusaha, pejabat, hingga tokoh penting mulai berdatangan.

Di ruang rias, Alena duduk memandangi dirinya di depan cermin.

Gaun pengantin putih yang begitu indah, wajahnya pun berseri-seri.

Seorang penata rias tersenyum.

"Nona cantik sekali hari ini."

Alena hanya membalas dengan senyum merekah.

Sementara itu, di ruang persiapan pria, Vio berdiri di depan cermin dengan setelan jas hitam yang membuatnya terlihat begitu gagah.

Namun, sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.

Pikirannya justru melayang kepada seorang gadis yang berada ratusan kilometer darinya.

Zilia.

"Maafkan aku..."

Hanya kalimat itu yang mampu ia ucapkan dalam hati.

Musik pernikahan mulai mengalun.

Seluruh tamu berdiri ketika Vio berjalan menuju altar.

Tak lama kemudian, Alena menyusul dengan gaun pengantinnya.

Tatapan mereka bertemu.

Tak ada senyum bahagia dari Vio.

Tak ada sorot mata penuh cinta.

Yang ada hanyalah dipaksa berjalan menuju ikatan suci demi kepentingan keluarga.

Prosesi nikah pun dimulai.

Acara pun mulai, membacakan nasihat pernikahan sebelum akhirnya mempersilakan Vio mengucapkan ijab kabul.

Seluruh ruangan mendadak sunyi.

Semua mata tertuju kepada pewaris Mahendra Group itu.

Vio menundukkan kepala sejenak.

Di dalam benaknya, wajah Zilia kembali terbayang.

Janji yang pernah ia ucapkan di tepi danau.

"Aku akan kembali. Aku akan menjemputmu, melamarmu, lalu menikahimu."

Janji itu kini hancur di depan matanya sendiri.

Armand menatap putranya dengan tajam. Sebuah tatapan yang seolah berkata, jangan membuat masalah. Vio mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Beberapa detik kemudian, ia mengangkat kepalanya. Akhirnya mereka berdua pun telah sah menjadi suami istri.

Tepuk tangan memenuhi ballroom.

Armand dan Pak Wijaya saling berjabat tangan dengan wajah puas.

Bagi mereka, hari itu bukan hanya hari pernikahan dua anak, melainkan hari lahirnya kerja sama besar yang akan memperkuat kedua perusahaan.

Di balik kemeriahan itu, Vio dan Alena hanya saling menatap sesaat. Tak ada pelukan hangat.

Tak ada senyum penuh cinta. Mereka sadar, mulai hari itu status mereka memang telah berubah menjadi suami istri.

Namun, hati Vio masih dimiliki oleh orang lain.

Dan tanpa mereka sadari, di tempat yang jauh, seorang gadis bernama Zilia masih menunggu kepulangan lelaki yang pernah berjanji akan datang untuk melamarnya.

Ia belum tahu bahwa pada hari itu, lelaki yang dicintainya telah resmi menjadi suami perempuan lain.

Di tempat lain...

Pagi itu, wajah Zilia tampak berseri-seri. Selembar surat penerimaan kerja masih ia genggam erat sejak keluar dari perusahaan yang baru saja menerimanya sebagai karyawan.

Sesampainya di rumah, ia langsung mencari Ibu Retno yang sedang menyiram tanaman di halaman.

"Bu...!" panggil Zilia penuh semangat.

Ibu Retno menoleh.

"Kenapa? Senang sekali kelihatannya."

Zilia mengangkat surat di tangannya.

"Bu, Zilia diterima kerja! Zilia diterima di perusahaan besar di kota!"

Wajah Zilia begitu berbinar. Ia berharap wanita yang selama ini membesarkannya ikut merasakan kebahagiaan yang sama.

Namun, Ibu Retno hanya mengangguk pelan.

"Hm..."

Zilia langsung mengerucutkan bibir.

"Kok cuma 'hm', sih, Bu? Nggak ngucapin selamat atau gimana?"

Alih-alih menjawab, Ibu Retno masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, ia kembali sambil membawa sebuah amplop berwarna cokelat.

"Nah, sekarang baca ini."

Zilia menerima amplop itu dengan wajah bingung.

"Apa ini, Bu?"

"Baca saja. Setelah itu, keputusan ada di tanganmu."

Zilia membuka amplop tersebut. Semakin lama membaca isinya, raut wajahnya berubah.

Senyumnya perlahan menghilang, berganti kekesalan.

"Apa-apaan ini?"

Tangannya mengepal.

"Papa memintaku pulang ke rumah utama? Bahkan... beliau sudah mengurus semua dokumen keberangkatanku ke luar negeri?"

Ibu Retno mengangguk pelan.

"Papa kandungmu ingin kamu melanjutkan kuliah di luar negeri."

"Aku nggak mau!"

Suara Zilia meninggi.

"Percuma aku susah-susah melamar kerja kalau akhirnya harus pergi. Aku ingin tetap di sini. Aku ingin kerja, menghasilkan uang, dan membahagiakan Ibu."

Ibu Retno menatap gadis itu dengan lembut.

"Zilia..."

"Aku juga nggak mau kembali ke rumah itu."

"Bagaimanapun juga, dia tetap ayah kandungmu."

"Tapi selama ini siapa yang membesarkanku? Siapa yang selalu ada saat aku sakit? Siapa yang menemaniku sampai sekarang?" tanya Zilia dengan mata mulai berkaca-kaca.

"Ibu. Lalu kenapa sekarang beliau tiba-tiba ingin mengatur hidupku?"

Ibu Retno menarik napas panjang.

"Mungkin karena beliau baru sadar telah kehilangan banyak waktu bersamamu."

Zilia menggeleng kuat.

"Aku tetap nggak mau."

Suasana menjadi hening.

Beberapa saat kemudian, Ibu Retno kembali berbicara.

"Kalau alasanmu bertahan di sini karena pekerjaan, kesempatan itu bisa datang lagi."

"Bukan cuma itu, Bu."

"Lalu karena apa?"

Zilia menundukkan kepalanya.

"Ada Vio."

Ibu Retno memandangnya lekat.

"Kamu yakin dengan Vio?"

Zilia mengangguk tanpa ragu.

"Dia sudah berjanji akan kembali. Dia akan melamarku setelah semua urusannya selesai."

Mendengar itu, Ibu Retno tersenyum tipis, tetapi tatapannya menyimpan kekhawatiran.

"Janji memang indah didengar, Nak. Tapi hidup sering kali berjalan di luar rencana."

Zilia menggenggam kedua tangannya.

"Aku percaya sama Vio."

Ibu Retno mengusap lembut bahu gadis itu.

"Ibu tidak melarangmu percaya. Tapi sebelum kamu mengambil keputusan, pulanglah dulu menemui ayahmu."

"Buat apa?"

"Dengarkan sendiri apa yang ingin beliau sampaikan. Setelah itu, ambillah keputusan yang benar-benar kamu yakini."

Zilia masih terdiam.

"Ingat, Nak," lanjut Ibu Retno dengan suara tenang, "jangan mengambil keputusan hanya karena perasaan sesaat. Pilihlah jalan yang kelak tidak akan kamu sesali."

Zilia memandangi surat di tangannya. Di satu sisi ada pekerjaan impiannya dan janji Vio yang masih ia pegang erat. Di sisi lain, ada kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup.

Tanpa disadarinya, sebuah pilihan besar telah menunggu di depan. Dan keputusan yang akan ia ambil nanti, perlahan akan membawanya semakin jauh dari lelaki yang hingga saat ini masih ia nantikan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!