“Mbak Saniya saja. Aku gak mau! Aku ini cantik, seorang sarjana magister, memiliki karir cemerlang, fisik sempurna, masa mau dijodohkan sama duda 2 anak, mana pernah gagal menikah sebanyak dua kali dengan wanita sama, yang benar saja, Pa?!” tolak gadis berwajah oval, lirikan mata tajam, kulit putih gading.
Sang ibu menimpali. Demi menyelamatkan putri bungsunya dari perjodohan dengan seorang pria menurut mereka tidak baik, dia tega menyodorkan putri lainnya yakni, si sulung.
“Umur Saniya sudah 26 tahun, dan sampai sekarang dia belum juga menikah. Mumpung pria tersebut seorang duda, maka pantas dengannya yang cacat, gak punya kaki kanan,” katanya acuh tak acuh.
“Ami!” sang kepala keluarga menurunkan nada suaranya, pertanda tak suka dengan pemilihan kalimat wanita berumur 52 tahun yang duduk di seberangnya. “Saniya juga putrimu, terlahir dari rahimmu. Bisa-bisanya kamu begitu enteng menyebut kekurangannya?”
“Aku bicara fakta, Mas! Sudah berapa kali kita mencoba menjodohkan Saniya, tetapi selalu ditolak karena dia cacat, berakhir gak laku-laku,” ibu dari tiga orang anak itu tak terima ditegur.
Wanita yang tengah dibicarakan ada diantara mereka. Duduk tenang pada sofa tunggal ruang keluarga. Ia diam, sorot mata seperti biasa — teduh.
“Jika Saniya yang maju dengan kondisi dia tidak sempurna, itu akan jauh lebih sulit. Yarash Wilman bukan pemuda lajang, dia memiliki anak perempuan beranjak remaja dan seorang batita, tolong kamu pikirkan dampak terburuknya, Ami,” ia berharap wanita telah membersamainya selama puluhan tahun mau mengerti.
Amira tetap pada pendiriannya. “Cukup, Mas! Dia cuma gak punya satu kaki, bukannya lumpuh. Dari dulu selalu Saniya yang kamu pikirkan, utamakan, sementara Fauzia dirimu abaikan, dinomorduakan.”
Tiba-tiba sebuah suara lembut namun tegas menyela, menghentikan perdebatan akan berbuntut panjang apabila tidak cepat dicegah.
“Saniya bersedia menikah dengan Yarash Wilman. Tolong atur bagaimana baiknya, aku nurut.” Tangan berkulit halus, jemari lentik, menarik kruk disandarkan pada tepi sofa.
Dibalik rok panjang bagian bawah mengembang, kaki kanannya tak lagi sempurna, diamputasi bagian lutut ke bawah. Ia hanya memakai sebelah sandal rumahan.
“Selamat malam semuanya.” Kepalanya menunduk sampai rambut coklatnya terayun menutupi sepasang mata hazel yang diwarisi dari sang ayah keturunan Turki.
Saniya Syamira, menggerakkan kruk bagian atas dijepit ketiak agar langkah kaki seimbang meski terlihat timpang.
Putri kedua dari tiga bersaudara itu berjalan menuju lift hunian mewah keluarga Hadi. Tak terlihat ekspresi kecewa maupun sedih, sebaliknya … dia bersikap tenang, padahal baru saja menerima perjodohan dengan sosok asing. Belum pernah ditemuinya.
“Sudah puas kamu Amira? Terus menerus menyakiti hatinya. Di mana naluri keibuanmu?” cecar pria paruh baya bernama Gustav Hadi.
Amira bergeming, bahkan tidak berkedip. Maniknya kering, raut wajah tetap tenang, seolah tak merasa bersalah setelah kalimat sarkasme tajamnya tadi.
“Karena dia kita kehilangan Yuga Hadi. Seandainya saja Saniya tak bersikeras memaksa menyusul ke rumah sakit, putra pertamaku masih hidup hingga kini. Dia pasti menjadi sosok pria hebat, kebanggaan keluarga Hadi,” ujarnya datar.
Jika sudah menyinggung kejadian 18 belas tahun lalu, Gustav menjadi lemah, perasaannya langsung melankolis mengingat putra sulungnya tewas ditempat kejadian dalam keadaan mengenaskan akibat kecelakaan mobil.
Waktu itu cuaca sedang buruk. Gustav dirawat dirumah sakit pasca operasi usus buntu. Amira dan si bungsu Fauzia menemani, sementara Saniya tinggal di rumah.
Saniya sangat dekat dengan ayahnya, dia tengah mengalami penurunan daya tahan tubuh, suhu badannya panas, terus saja merengek minta diantarkan ke rumah sakit ingin bertemu ayahnya. Yuga Hadi tidak tega melihat adiknya sedih seraya menahan sakit.
Pada saat itu usia Yuga sudah 11 tahun, dia berinisiatif menggendong Saniya yang masih berumur 8 tahun, lalu meminta sopir mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Ditengah perjalanan, akibat hujan deras disertai petir serta angin kencang, sang sopir kehilangan konsentrasi, mobil yang dikemudikannya menabrak pembatas jalan hingga terguling dua kali.
Kecelakaan maut tersebut merenggut dua nyawa sekaligus — Yuga Hadi, dan sopir.
Saniya terjebak, terlindungi dalam pelukan kakaknya, tetapi harus kehilangan salah satu kaki yang terjepit bodi mobil.
“Sebaiknya kita tidur,” katanya lesu sambil mengusir bayang-bayang mengerikan yang hingga kini masih terus menghantuinya.
“Tidak, sebelum kamu menghubungi pihak Yarash. Beri kabar ke mereka jika Saniya setuju, dan pinta sesegera mungkin datang melamar. Hatiku selalu sakit bila menatap wajahnya yang mirip Yuga,” Amira telah memutuskan, enggan memikirkan perasaan putri keduanya.
Fauzia Serla duduk anggun, kaki kanannya bertumpu di atas lutut kiri. Sorot matanya berkilat dengan sudut bibir tertarik samar. ‘Cepatlah kamu menikah, Mbak. Supaya dia bisa sesegera mungkin kumiliki.’
Pria telah berumur 54 tahun, beruban, kulit mulai dihiasi bercak gelap akibat akumulasi paparan sinar matahari, mengambil ponsel tergeletak di atas meja.
Gustav menghubungi ayahnya Yarash Wilman, mengkonfirmasi bahwa putrinya bersedia menikah dengan duda beranak dua.
“Apa kata mereka?” tanya Amira, terlihat tak sabaran.
“Besok malam mereka bertamu kemari,” jawabnya singkat, tidak terlihat kegembiraan pada nada suara maupun ekspresi.
Fauzia dan ibunya langsung sumringah, mereka menyambut antusias, dan berencana akan melakukan persiapan sebaik mungkin.
***
Keesokan harinya menjelang malam — hunian mewah berlantai tiga, pada meja makan besar dengan dua belas kursi, terhidang menu lezat hasil olahan chef keluarga Hadi.
Terdapat perbedaan dari malam-malam sebelumnya yang terkesan dingin, terlebih bila Saniya ikut makan bersama keluarganya.
Malam ini, kuntum bunga mawar merah segar, menguarkan aroma manis nan lembut, tertata rapi dalam vas yang diletakkan di atas meja makan, pot-pot pajangan sudut rumah lantai satu.
Sang nyonya dan tuan rumah sudah berpakaian rapi, siap menyambut tamu penting dari keluarga kelas atas dan cukup disegani.
Sementara di lantai dua, pada kamar dekat dengan balkon belakang — sosok anggun sedang mematut diri di depan cermin rias.
“Maaf, aku mengingkari janji kita. Memilih melepaskan hubungan tak pernah mendapatkan restu kedua orang tuamu.” Dilepasnya cincin bertahtakan batu permata kecil yang terpasang pada jari manis tangan kiri.
Saniya menyimpan cincin pemberian sang kekasih setahun lalu ke dalam kotak beludru, lalu menyimpannya di laci meja rias.
Dipandangnya sedikit lama bekas memutih membentuk ring cincin pada jemari. Bibirnya terkatup, sementara hati berkecamuk.
“Ini yang terbaik, setidaknya aku bisa sedikit menebus rasa bersalah kepada Mama. Akibat sifat kekanak-kanakanku dulu, bang Yuga meninggal dunia.” Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskan cepat.
Saniya mengambil kaki palsu telah dipasangi flat shoes hitam pasangan kaki kirinya.
Ia tersenyum hambar sambil memandangi kaki buatan manusia, menggantikan ciptaan Tuhan.
Tok!
Tok!
“Mbak, calon suamimu sudah menunggu di bawah. Buruan keluar!”
.
.
Bersambung.
Seruan Zia terdengar sampai ke telinga Saniya. Kamarnya tidak kedap suara.
Dia duduk pada kursi meja rias, lalu memasang kaki palsu, dan memastikan benar-benar nyaman, barulah berdiri.
Tanpa memperdulikan apakah penampilan sudah layak atau belum bertemu calon suaminya, Saniya berjalan mantap.
Ketika pintu kamar dibuka dari dalam, Saniya langsung ditatap lekat oleh adiknya.
Zia menelisik penampilan kakaknya dari ujung rambut hingga kaki tertutup flat shoes polos. “Kamu mau ketemu sama calon suami, Mbak. Masa pakai gaun bekasku, mana riasan wajah seperti orang mau pergi ke minimarket. Sini aku benerin.” Zia mencengkram sedikit kuat lengan kakaknya sampai Saniya nyaris kehilangan keseimbangan.
Saniya menarik tangannya, lalu mundur sedikit. “Gak semua orang memiliki pendapat yang sama perihal standar kecantikan para wanita. Gaun ini memang dari kamu, dan paling bagus dengan model kekinian daripada pemberianmu lainnya. Jadi, biarkan saja.”
Saniya menyunggingkan senyum tipis, dia sudah sangat biasa memakai pakaian bekas adiknya yang kebetulan memiliki tubuh nyaris sama. Ia berbalik badan hendak berjalan menuju lift.
“Kamu sengaja kan, Mbak?”
Wajahnya tertoleh ke samping kanan, tidak benar-benar menatap Fauzia. “Kamu tenang saja, Zia. Aku pasti menikah dengannya. Sesudahnya, silahkan goda Fahmi Basya, pria yang kamu inginkan bukan karena cinta melainkan obsesi.”
Seketika tubuh berbalut gaun ketat selutut memamerkan bentuk badan ideal, menegang, namun hanya sebentar. “Aku gak akan bersikap munafik. Ya … memang benar diriku menyukai pria yang sayangnya tertarik padamu.”
Saniya Syamira enggan menanggapi, langkah kakinya mantap menjejak lantai marmer. Ia masuk ke dalam lift, dan membiarkan adiknya masih berdiri dengan tatapan menghujam tertuju padanya.
Kotak lift transparan turun ke lantai bawah, tepat di ruang santai yang mana penghuni rumah sedang bercengkrama dengan para tamunya.
Di antara dua pasangan paruh baya, duduk seorang pria berkulit sawo matang, gaya rambut pompadour – bagian depan bervolume disisir ke belakang, dan sisi samping dicukur pendek.
Ting!
Perhatian lima pasang mata tertuju pada pintu lift baru saja terbuka. Tiga diantara mereka memandangi wanita mengenakan dress panjang sebetis perpaduan warna oranye dan pink lembut.
Ada yang menarik sampai mereka menatap lebih lama pada kaki kanan sedikit lebih besar dari bagian kiri, dan terlihat dipaksakan ketika melangkah.
Saniya tidak merasa kerdil, sudah sangat biasa dipandangi sedemikian rupa. Dia bukan pribadi yang suka bersembunyi dikarenakan malu menghadapi dunia.
“Selamat malam Tante, Om, dan ….” Pandangannya beralih ke pria duduk sendirian. 'Dia terlihat masih muda, padahal katanya sudah memiliki seorang putri beranjak remaja.'
Sang pria mengangkat wajah, dan netra mereka langsung bertumbukan saling menilai dalam diam.
“Saya Yarash Wilman,” ucapnya tenang dengan suara dalam. Enggan mengulurkan tangan.
“Malam mas Yarash,” sapa Saniya percaya diri seraya sedikit menundukkan kepala lalu berdiri tegak lagi.
Amira beranjak, dia berdiri di sisi sang putri, bertutur ramah. “Ini Saniya, kakaknya Fauzia Serla.”
Penekanan pada kata kakak, sudah menjelaskan jika dalam perjodohan harus berurutan, tidak boleh melangkahi.
Wanita seumuran Amira, mengamati penampilan calon menantunya. ‘Gadis ini memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sikapnya sopan, tutur kata tegas meski tidak menghilangkan kelembutan.’
“Duduk sini, Nak!” Sisi sofa ditepuk pelan, berharap gadis masih berdiri bersedia memenuhi permintaannya.
“Terima kasih, Tante.” Angguk Saniya. Terlebih dahulu merapikan dress bagian lutut belakang agar ketika duduk tidak tersingkap.
Saniya duduk di samping wanita paruh baya masih terlihat cantik meski kulit wajah tidak lagi kenyal seperti saat umur 30 tahunan.
“Perkenalkan, saya Fitria, mamanya Yarash. Dan ini, suami saya … Darius Wilman.” Jari jempolnya teracung ke belakang menunjuk pria berperawakan tinggi, badan tidak gemuk maupun kurus.
Tangan kanan pada bagian punggung dihiasi keriput samar, terulur mengajak kenalan. Papa Darius bersikap sopan, hangat.
Saniya sambut sopan, menempelkan pada kening. Rambut pirang alami dibiarkan tergerai, sontak menutupi wajahnya. Kemudian dia juga menyalami punggung tangan mama Fitria.
Perkenalkan singkat berlanjut ke pembahasan serius. Dua keluarga tengah bercerita tentang amanah dari sosok yang sudah meninggal dunia.
Perjodohan tersebut sudah dibicarakan, disepakati sebelum Saniya lahir.
Demi mempererat hubungan persahabatan bak saudara, kakeknya Saniya dan opa nya Yarash, sepakat menjodohkan cucu mereka tanpa memilih harus siapa, asal keturunan asli.
“Saya perlu berbicara denganmu. Berdua,” sela suara sedikit berat. Yarash pun beranjak, berdiri menunggu reaksi wanita memiliki ketenangan patut diacungi jempol.
“Mari ikut saya, Mas.” Saniya berjalan mendahului, lalu menggeser pintu kaca penghubung dengan taman hijau terdapat kolam ikan koi dan air mancur.
Sepasang insan baru saja berkenalan, duduk di bangku besi taman bercahayakan temaram dari sorot lampu pilar penyangga lantai atas.
Keduanya masih sama-sama terdiam, sampai Yarash Wilman memulai pembicaraan langsung pada intinya.
“Saya memiliki dua orang anak. Si sulung remaja berumur 13 tahun, saat ini kelas satu SMP, namanya Tatiana Wilman. Sementara satu lagi seorang putra berusia 3 tahun 9 bulan — Arden Wilman. Mereka menentang keras perjodohan ini, serta enggan menerima sosok baru,” ungkapnya jujur.
“Wajar bagi anak-anak kalau mereka menolak. Lebih banyak ketakutan daripada pikiran positif tentang orang asing yang tiba-tiba mau memasuki dunia mereka. Berbagi tempat tinggal, bisa jadi saya nanti dianggap pengganggu.” Sudut bibir Saniya tertarik, ia tersenyum tipis.
Sang pria menoleh, memandangi wanita bisa begitu tenang menghadapi hal yang mungkin bila orang lain akan panik, cemas, namun bagi Saniya seakan hal biasa menghadapi banyak karakter manusia dalam kesehariannya.
Bola mata hazel apabila terpapar intensitas sinar lampu kuning kemerahan, maka akan berwarna keemasan, berbinar sampai sudut matanya menyipit. “Saya guru bahasa isyarat SLB B: Bertugas mendidik siswa istimewa dengan hambatan pendengaran/wicara (tunarungu). Terbiasa berinteraksi dengan mereka yang memiliki beragam sifat, serta sikap sukar diprediksi.”
“Sudah berapa lama kamu menjadi guru anak-anak berkebutuhan khusus?” suaranya terselip nada terkejut, tidak lebih.
“Kurang lebih empat tahun. Mereka dunia saya, semisal nanti mas Yarash tetap berniat menikahi saya, tolong jangan pinta diri ini berhenti mengajar. Hanya itu pinta saya,” Saniya langsung berterus-terang.
“Mengapa kamu bersedia menikah dengan seorang duda, sementara mungkin dirimu memiliki pilihan lain?” tanyanya ingin mengorek informasi.
Saniya mengangkat kedua bahunya, menjawab santai, seakan hanya pertanyaan sambil lalu. “Mungkin memang sudah jalannya takdir. Sama seperti mas Yarash, kenapa memilih bercerai dua kali dengan wanita yang sama, padahal bisa jadi ada jalan lain selain perpisahan, benar bukan?”
Pertanyaan Saniya enggan dijawab. Yarash malah mengatakan hal lainnya. “Jika tentang materi, segala kebutuhanmu, saya penuhi. Namun soal cinta … saya tidak bisa menjanjikan apapun. Apakah kamu masih bersedia menikah dengan pria yang mungkin tidak akan pernah memandangmu dengan binar kasih sayang?”
.
.
Bersambung.
‘Bukan cuma kamu saja yang mungkin tidak bisa memberikan cinta, akupun sama,’ batinnya berbisik, lalu Saniya memandangi bagaimana interaksi kedua orang tuanya bersama ayah dan ibunya Yarash.
“Asal mas Yarash Wilman bisa berpura-pura menerimaku di depan anak-anak, dan kita dapat bekerja sama demi mewujudkan gambaran keluarga harmonis, yang mungkin menjadi salah satu alasan penting pertimbangan kamu menerima perjodohan ini, saya bersedia Mas nikahi,” ungkap Saniya, tutur katanya tak menunjukkan emosi apapun.
Yaras terdiam, duduknya menyamping berhadapan dengan Saniya, tetapi tatapan mata memandangi air terjatuh dari ketinggian tembok disulap menyerupai tebing air terjun.
“Tebakanmu benar. Saya sedang mengusahakan memberi keluarga utuh di hunian yang ditinggali dua anak haus kasih Ibu. Terlebih Ardan, dia mulai kritis membandingkan kehidupannya dengan karakter kartun sering ditontonnya.”
“Ardan, sepertinya dia tipikal anak yang suka menjadikan satu kata beranak pinak sampai banyak,” canda Saniya. Enggan bertanya lebih jauh tentang peran ibu kandung kedua anaknya Yarash.
“Saya akui iya. Nanti kamu pasti sering pusing dibuatnya. Jika jawaban tidak memuaskan rasa ingin tahunya, bersiaplah diteror sampai rasanya mau menyerah,” suara Yarash berubah ramah dengan sorot mata menghangat.
‘Dia sosok Ayah yang baik, mengenal baik kepribadian buah hatinya.’ Saniya melirik pria masih melihat kolam ikan koi.
“Kalau boleh tau, berapa umur kamu, Mas?” Kembali Saniya memalingkan muka, memperhatikan sang ibu merangkul lengan Fauzia.
Tidak ada perubahan pada raut wajah berhidung mancung, seolah tangki cintanya sudah dipenuhi keluarga Hadi. Saniya sangat pintar menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hati.
“Jalan 35 tahun,” jawaban pria tersebut langsung membuat sang wanita menatapnya.
Saniya tidak sadar memandang sedikit lama pada wajah beralis tebal, rahang dihiasi bulu-bulu halus sepertinya belum sempat dicukur, bola mata dalam dinaungi bulu mata pendek, dan hidung dengan tulang lurus tinggi, ketika tatapan hendak turun ke bibir, cepat-cepat dia menoleh ke depan.
‘Masih sangat muda, terus umur berapa dia menikah?’ batinnya bertanya, tetapi mulut enggan menyuarakan.
Sesudahnya mereka kembali diam, tak pula saling memandang.
“Sebaiknya kita kembali bergabung dengan para orang tua,” ucap Yarash memecah kebisuan.
“Ya.” Saniya menekan sandaran kursi besi sebagai penopang tubuhnya hendak berdiri. Dia tidak bertanya tentang kelanjutan perjodohan ini, terpenting sudah mengatakan secara gamblang perihal batasan serta keinginan.
Dalam diam sang pria memperhatikan bagaimana wanita baru saja ditemui, dikenalnya terlihat sangat mandiri. ‘Dia bukan tipikal seseorang yang suka menonjolkan kekurangan demi menarik simpati.’
Yarash berjalan dibelakang wanita yang tingginya hanya sepundaknya saja. Lagi-lagi batinnya terkagum-kagum menyaksikan bagaimana Saniya pintar membawa diri.
‘Keluarganya sangat harmonis. Kedua orang tuanya juga menyayangi dia. Pantas saja dirinya memiliki kepercayaan diri patut diacungi jempol, sebab tangki cintanya dipenuhi, tak kekurangan kasih sayang,’ sambil menyaksikan interaksi seorang ibu merangkul pundak kedua putrinya, Yarash pun menyimpulkan dalam hati.
“Lantas, bagaimana dengan amanah mending Opa, Yarash? Apa kamu setuju dengan perjodohan ini?” tanya serius papa Darius.
Yarash yang duduk di sofa tunggal, melirik ke wanita menunggu jawabannya dengan gestur tubuh formal. “Saya menerimanya.”
Mama Fitria gantian mengajukan pertanyaan ke calon menantunya. “Kalau Saniya, setuju tidak?”
Ia melembutkan pancaran matanya, menatap sopan, lalu berkata dengan intonasi terjaga. “Tergantung Om dan Tante, bisa tidak menerima kekurangan saya ini.”
Tangan kiri Saniya mendorong kaki palsu kanan, tubuhnya sedikit membungkuk. Ujung gaun ditarik sampai batas lutut.
“Saya hanya memiliki satu kaki, tetapi bukan berarti tak bisa beraktivitas normal meski tidak secepat orang pada umumnya. Jika Om dan Tante dapat menerima satu kekurangan dibalik banyak kelebihan, saya bersedia menikah dengan mas Yarash Wilman.”
Mama Fitria menoleh ke suaminya yang kebetulan menatapnya. Mereka sama-sama memandangi kaki memakai stocking warna kulit, lalu tatapan mata naik sampai pada wajah tersenyum ramah.
“Kami bisa menerimanya,” jawab mantap pria memakai kemeja batik motif garis geometris.
Mama Fitria mengangguk yakin, setuju dengan keputusan suaminya.
“Terima kasih.” Saniya menurunkan lagi dressnya, lalu menarik kaki kanan agar merapat ke sebelahnya.
“Kamu ingin pesta pernikahan seperti apa, Saniya?” untuk pertama kalinya Yarash memanggil nama sang calon istri.
“Cukup akad dihadiri saksi, wali nikah, petugas kua, dan pak penghulu,” tuturnya pelan.
Jawaban spontanitas tersebut mengejutkan Yarash dan kedua orangtuanya.
“Saniya yakin, Nak? Ini pernikahan pertamamu. Jangan sungkan-sungkan jika menginginkan pesta seperti dalam angan,” mama Fitria menawarkan, memberikan wewenang teruntuk calon menantunya.
“Saya tetap menginginkan pernikahan sederhana. Yang terpenting sah dihadapan Tuhan, serta diakui negara,” pendiriannya tak goyah, tidak pula tergiur oleh tawaran boleh memilih sesuka hati.
Di sebelahnya, tepat pada bagian tengah sofa, terlihat raut puas pada wajah mama Amira.
Fauzia Serla pun demikian, menyambut senang pilihan bodoh sang kakak. ‘Baguslah kamu tau diri, Mbak.’
“Berapa mahar yang kamu inginkan?” Yarash menghormati, dan pada akhirnya setuju dengan keputusan Saniya.
“Sebaik-baiknya mahar yang tidak memberatkan mas Yarash, namun tidak pula merendahkan saya,” jawabannya sekali lagi menggetarkan rasa kagum calon keluarga barunya.
Papa Gustav ikut bersuara setelah lama terdiam, dia ingin protes karena putrinya terlihat sangat pasrah, namun sepasang mata menatap tajam dari sang istri mengurungkan niatnya.
“Kami selaku orang tuanya Saniya, memasrahkan pilihan kepadanya, karena yang nantinya menjalani biduk rumah tangga adalah dia,” hatinya menolak kalimat baru saja terlontar.
Keputusan pun sudah diambil. Tanggal pernikahan ditentukan seberapa cepat pengurusan berkas kedua calon pengantin.
Kemudian para tamu dipersilahkan ke ruang makan, menyantap makan malam bersama keluarga Hadi.
Selama makan malam, Saniya lebih banyak diam. Dia bersuara apabila ditanya, selebihnya menjadi pendengar.
Setelah makan malam, lalu dilanjutkan dengan bercengkrama sebentar, tepat pukul sembilan malam, keluarga Wilman pamit pulang dengan diantar keluarga Hadi sampai teras.
Begitu mobil Alphard hitam keluar dari hunian berhalaman tidak cukup luas, suasana hangat pun ikut pergi, tergantikan kesunyian yang sudah menemani hidup Saniya sedari umurnya 8 tahun.
“Saniya gapapa, Pa.” Dia tepuk sebentar lengan ayahnya yang merangkul pundak.
Mama Amira merangkul pinggang putri bungsunya, mereka berjalan di depan.
“Aku ke kamar dulu ya, Pa? Sudah ngantuk,” dustanya. Memilih menghindar daripada merusak suasana hati ibunya yang pada malam ini sangat ceria.
Gustav Hadi menatap nanar punggung Saniya yang sedang menunggu pintu lift terbuka.
“Maafkan Papa sering membuatmu kecewa, Saniya,” ia bergumam seraya menyeka sudut mata berair.
Mulai malam ini, Saniya mencicil mengemas barang pribadinya ke dalam koper.
***
Enam hari telah berlalu, sampai dimana waktu detik-detik ijab kabul akan dilangsungkan pada ruang santai hunian keluarga Hadi.
Sang pengantin wanita duduk tenang di sebelah calon imamnya. Tak tampak gestur gugup, pelupuk mata berair.
Tangan kanan dijabat pak penghulu diayunkan, dalam satu tarikan napas, Yarash Wilman berhasil melantangkan kabul.
“Sah!”
“Sah!”
“Sah!”
Momen sakral itu direkam, lalu videonya dikirim ke nomor pria yang sedang berada di negeri seberang.
.
.
Bersambung.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!