Indonesia
NovelToon NovelToon

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Aku mati, lalu?

Bau formalin sudah begitu melekat pada pakaian Amelia Kusumawardhani sampai dia terkadang merasa dirinya sendiri mungkin perlu diawetkan. Selama hampir sepuluh tahun bekerja sebagai dokter forensik, seharusnya dia sudah terbiasa dengan aroma itu, tetapi entah kenapa hari ini baunya terasa lebih menyebalkan dari biasanya.

Amelia berdiri di sisi meja autopsi dengan masker menutupi hidung dan mulut. Tatapannya berpindah dari luka pada dada korban ke hasil pemeriksaan awal yang tergeletak di samping meja. Sarung tangan yang membungkus tangannya sudah penuh noda darah, tetapi gerakannya tetap terukur ketika ia kembali memeriksa bagian tubuh yang belum selesai diperiksa.

Usia mayat itu sekitar lima puluh tahun, beberapa bekas luka lama melintang di dada dan lengan, sementara luka yang lebih baru terlihat jelas di sisi tubuhnya. Amelia memperhatikan pola luka tersebut beberapa saat sebelum kembali memeriksa hasil pemeriksaan awal. Ada beberapa hal yang tidak cocok dengan kematian alami.

"Mel, hasil toksikologinya udah keluar," kata seorang rekannya dari belakang sambil menyerahkan sebuah berkas.

"Kadar sianidanya tinggi, berarti dia bunuh diri ya?" Lanjut rekannya.

Amelia menerima berkas tersebut dan melirik hasil pemeriksaan sekilas. "Tinggi bukan berarti otomatis dia bunuh diri."

Rekannya mengerutkan dahi. "Memangnya bukan?"

Amelia menggeser pandangan ke tubuh di meja, "Kalau menurutmu dia bunuh diri, coba jelaskan luka-luka di tubuhnya."

Rekannya terdiam.

"Jangan terlalu cepet ngambil kesimpulan," lanjut Amelia datar. "Dan kalau lu mau membuat kesimpulan cuma dari satu hasil pemeriksaan doang, lebih baik lu pulang deh sekarang."

"Ya.. santai aja kali, kan gue cuma berpendapat. Kenapa sih ada masalah lu?" rekannya menatap sinis.

Amelia menghela napas, "Gue udah kerja dari pagi, belum makan, tiga gelas kopi gue udah dingin semua, terus sekarang harus ngurus mayat yang bahkan setelah mati masih bikin orang repot. Menurut lu gue harus senyum?"

Rekannya melirik mayat di meja.

"Jadi benar dia bos mafia?"

"Katanya sih gitu."

"Lu gak takut?"

Amelia mengangkat alis. "Dia sudah mati."

"Gak salah sih."

Amelia kembali menunduk. Pria yang terbaring di hadapannya memang bukan orang biasa. Dari berkas yang diterimanya, pria itu merupakan salah satu pemimpin organisasi kriminal yang cukup besar. Polisi menduga kematiannya berkaitan dengan perebutan kekuasaan di dalam organisasinya.

Bagi Amelia, status korban tidak terlalu penting.

Mau korban seorang mafia, pejabat, pengusaha, atau orang paling baik sedunia, di atas meja autopsi status mereka tidak lagi berarti apa-apa.

Mereka hanya menjadi mayat.

Dan mayat adalah pasien paling jujur yang pernah dia tangani. Mereka tidak bisa berbohong, bahkan ketika pemilik tubuhnya sudah tidak mampu membela diri.

"Mel."

"Hm?"

"Kalau pekerjaan seberat ini, kenapa masih mau bertahan?"

Tangan Amelia berhenti sesaat. Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya panjang, dan dia tidak begitu ingin menjelaskannya, singkatnya mungkin karena dia sudah terlalu lelah menghadapi manusia hidup.

"Karena gajinya lumayan," jawab Amelia akhirnya.

Rekannya tertawa kecil. "Gue kira jawabannya bakal lebih menyentuh. ternyata jawabannya kapitalis banget ahahaaha."

"Diem. Lu juga pasti gitu kan? ngaku aja deh."

Dia kembali bekerja. Namun baru beberapa menit berlalu, pintu ruang autopsi terbuka. Amelia tidak langsung menoleh. Dia mengira salah satu petugas masuk untuk mengambil sesuatu, langkah kaki terdengar mendekat.

Amelia akhirnya mengangkat kepala.

Seorang pria berdiri beberapa meter darinya. Jas hitam, sarung tangan hitam, dan tidak ada tanda pengenal yang tergantung di lehernya.

"Permisi pak? Anda siapa? orang yang berkepentingan dilarang masuk kesini." tanya Amelia.

Pria itu tidak menjawab, tangannya bergerak ke balik jas.

"Kalau kau mau mengambil mayatnya, tunggu sebentar. saya belum selesai." Amelia mengerutkan dahinya.

Pria itu mengeluarkan pistol.

"... siala-" Itu saja yang sempat keluar dari mulutnya.

Bang!

Rasa panas meledak di dadanya. Tubuh Amelia tersentak sebelum kehilangan kekuatan. Alat bedah yang berada di tangannya jatuh lebih dahulu, disusul tubuhnya yang ambruk ke lantai.

Suara rekannya terdengar samar.

"MEL!"

Namun Amelia sudah tidak mampu menjawab. Penglihatannya perlahan mengabur. Suara-suara di sekitarnya menjauh seperti berada di dasar air. Tubuhnya terasa ringan, kemudian mati rasa.

'Jadi begini rasanya mati?'

Amelia menatap langit-langit yang perlahan menghilang dari pandangannya. Dia tidak merasa takut, tidak menangis, tidak menyesal. Malah ada sedikit rasa lega.

'Akhirnya.'

Selama bertahun-tahun dia bekerja sampai tubuhnya hampir tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Bahkan ketika sedang tidak bekerja, kepalanya tetap dipenuhi laporan, pemeriksaan, hasil laboratorium, dan mayat yang menunggu diperiksa.

Belum lagi keluarganya. Ayahnya? Sampah. Ibunya? Satu-satunya orang yang dia sayangi, tetapi terlalu sibuk untuk benar-benar berada di sisinya. Pekerjaannya? Amelia menyukainya, tetapi kalau seseorang bertanya apakah dia akan memilih pekerjaan yang sama untuk kehidupan kedua? Tidak, lebih baik mati. Dia ingin hidup tenang, baca novel, nonton anime, buat kerajinan tangan yang tidak berguna tetapi lucu.

Itu saja.

'Setidaknya...' pikir Amelia ketika kesadarannya semakin menipis, 'sudah selesai.'

Sudut bibirnya hampir terangkat.

'Akhirnya gue bakal menuju surga.'

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Amelia merasa sangat bahagia. Tidak ada bos, tidak ada lembur, tidak ada ayah brengsek, tidak ada laporan autopsi, tidak ada mayat. Ia bahkan ingin memberikan salam terakhir kepada seluruh manusia yang pernah membuat hidupnya sengsara.

'Salam jari tengah untuk kalian semua!'

Kesadarannya semakin gelap.

Tubuhnya semakin terasa ringan. Dan tepat sebelum semuanya benar-benar menghilang, sebuah pikiran terakhir muncul di kepalanya.

'AKHIRNYA SURGA!'

"...Culga!!"

'hm? kok suara anak kecil?'

Hal pertama yang Amelia rasakan ketika membuka mata adalah bau debu.

Dia mengerjapkan mata beberapa kali. Langit-langit tua terbentang di atas kepalanya. Catnya sudah mengelupas di beberapa tempat. Sarang laba-laba memenuhi sudut ruangan. Cahaya matahari masuk melalui jendela kecil yang kacanya bahkan tidak lagi utuh.

Dia memandang sekeliling, lantai kayu yang kusam, dinding yang retak, sebuah meja kecil yang salah satu kakinya patah. Banyak anak-anak, mereka duduk atau berbaring di atas kasur-kasur tipis yang tampaknya sudah dipakai bertahun-tahun. Pakaian mereka lusuh dan beberapa di antaranya kebesaran.

Amelia perlahan duduk.

Rambutnya jatuh ke depan wajah. Dia menatap rambut miliknya yang sangat berbeda. Bukan rambut hitam panjang yang biasa dia lihat di cermin, melainkan rambut putih, selain itu dia merasakan tangannya pun terlihat jauh lebih kecil.

Amelia mengangkat kedua tangannya di depan wajah.

Jari-jari mungil, kulit yang sedikit kusam. Tidak ada bekas luka kecil di tangannya akibat bertahun-tahun bekerja.

"...."

'Apa-apaan ini'

Dia menatap sekeliling sekali lagi.

'Surga?'

'Ini?'

Amelia menelan ludah.

'Surga apanya? Kalau ini surga, standar surga ternyata rendah sekali. Sebenarnya sebanyak apa dosa gue sampai dapat surga se level ini?'

Seorang anak perempuan yang duduk tidak jauh darinya tiba-tiba mendekat, anak perempuan itu tampak berusia sekitar 8 atau 9 tahun. Wajahnya tampak khawatir.

"Eve, kamu kenapa?" tanyanya pelan.

Amelia menoleh.

'Eve? Siapa Eve?'

Anak perempuan itu menyentuh dahinya dengan tangan kecil.

"Kamu sakit?"

Amelia masih menatapnya tanpa suara. Kemudian matanya turun lagi ke tubuh mungilnya sendiri. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Satu pertanyaan muncul di kepalanya.

'Kenapa tubuhku jadi kecil?'

Dunia Setelah Kematian

Amelia menatap kedua tangannya cukup lama sampai anak perempuan di depannya kembali menggoyangkan bahunya.

"Eve?" panggil anak itu pelan sambil memiringkan kepala. "Kamu dengar aku?"

"Hah?" Amelia berkedip.

Suara yang keluar membuat tenggorokannya terasa tercekat. Dia langsung menutup mulut dengan kedua tangan. Suara tadi jelas bukan suaranya. Tidak ada serak khas perempuan dewasa yang ia kenal, yang terdengar sekarang adalah suara seorang anak perempuan.

Amelia menurunkan tangannya perlahan.

"Ciapa Epe?" tanyanya dengan suara yang bahkan membuat dirinya sendiri merasa asing.

Anak perempuan itu semakin bingung. "Kamu."

"Aku?"

"Iya," jawab anak itu.

Amelia menatapnya beberapa detik. Kemudian dia menoleh ke kiri dan kanan, seolah berharap seseorang akan muncul dan mengatakan bahwa semua ini hanyalah sebuah lelucon. Anak-anak lain di ruangan itu mulai memperhatikan mereka. Beberapa hanya melirik sebentar sebelum kembali melakukan kegiatan masing-masing, tetapi dua anak laki-laki di sudut ruangan bahkan mulai berbisik-bisik.

"Eve aneh," salah satu dari mereka berkata pelan.

"Dia jatuh dari tangga kemarin," sahut anak lainnya. "Mungkin kepalanya rusak."

Amelia mendengar semuanya, suara anak itu cukup keras untuk telinganya yang sedikit sensitif. Dia mengangkat tangan kecil itu dan menyentuh bagian belakang kepalanya. Tidak ada benjolan yang terasa, hanya rambut lembut yang sangat halus. Ketika jarinya bergerak ke pelipis, dia menemukan sebuah luka kecil yang sudah mengering.

Amelia menarik napas.

'Oke, gue harus tenang.' pikirnya dalam hati.

Dia tahu kebingungan setelah Trauma kepala memang bisa menyebabkan disorientasi dan kehilangan ingatan. Namun tidak ada penjelasan medis yang masuk akal untuk situasinya sekarang. Tubuhnya menyusut, rambutnya berubah warna, suaranya berubah.

Dan yang paling tidak masuk akal, seharusnya dia sudah mati. Amelia masih ingat dengan jelas rasa panas di dadanya. Peluru menembus tubuhnya. Dia bahkan sempat merasakan tubuhnya kehilangan kekuatan sebelum jatuh ke lantai.

Sebagai dokter forensik, dia tahu apa yang terjadi setelah itu. Jika peluru mengenai jantung atau pembuluh besar, seseorang bisa kehilangan kesadaran dengan cepat. Jika tidak, tetap ada kemungkinan kematian akibat perdarahan hebat. Yang jelas, dia tidak mungkin bangun kembali sebagai anak kecil.

"Apa acu Cudah mati?" gumam Amelia.

Anak perempuan di depannya mengerutkan kening. "Eve bilang apa?"

"Tidak apa-apa." Amelia mengusap wajahnya.

Dia tidak akan menyimpulkan sesuatu sebelum mendapatkan informasi yang cukup, itu aturan paling dasar dalam pekerjaannya, jangan membuat kesimpulan berdasarkan asumsi. Dia menarik napas dalam-dalam lalu memandang anak perempuan di depannya.

"kamu Ciapa?"

Anak itu terdiam.

"Namamu ciapa?" Amelia mengulangi pertanyaannya dengan lebih pelan.

"Lily." anak perempuan itu mengerutkan keningnya, ia tampak ragu menjawab pertanyaan itu.

"Lily," ulang Amelia.

"Dan namaku Epe?"

Lily mengangguk perlahan.

Amelia memijat pelipisnya. "Belapa umulku?"

"Em-empat."

"Empat.." Amelia hampir tertawa.

'Empat tahun, Bagus. Mati sebagai perempuan dewasa, lalu bangun sebagai balita berusia empat tahun. Benar-benar akhir hidup yang sangat masuk akal,' pikirnya.

Amelia menatap sekeliling lagi. Kali ini dia memerhatikan ruangan itu dengan lebih teliti. Tempat ini jelas bukan rumah sakit. Tidak ada alat medis, tidak ada monitor, tidak ada bau antiseptik. Hanya kasur tipis, lemari kayu tua, beberapa pakaian yang digantung di paku dinding, dan anak-anak yang tampaknya tinggal di sini.

'Panti asuhan?' dalam hati Amelia.

Dia menunduk melihat pakaiannya sendiri. Sebuah gaun sederhana berwarna kusam dengan beberapa bagian yang sudah dijahit ulang. Ukurannya pas untuk tubuh kecil ini, tetapi kainnya terasa kasar di kulit.

"Lily." Amelia memegang ujung lengan bajunya.

"Iya?" lily menjawab dengan suara pelan.

"Ini di mana?"

Pertanyaan itu membuat Lily semakin bingung.

"Panti."

"Panti apa?"

Lily menyebut sebuah nama, Amelia tidak mengenalinya.

Dia mengulanginya dalam hati beberapa kali, tetapi tidak ada satu pun ingatan yang muncul. Nama tempat itu terasa asing.

"Cekalang tahun belapa?"

"Kenapa kamu tanya begitu?" Lily menatapnya seperti baru saja ditanya sesuatu yang sangat bodoh.

"Jawab caja." Amelia menatap lily dengan tajam.

"Dua belas tiga puluh."

"Dua belac tiga puluh apa?" Amelia mengernyit.

Lily tertawa kecil. "Tahun dua belas tiga puluh."

"Pasti eve tidak mengerti ya." lanjut Lily, lalu ia tertawa kecil melihat anak kecil yang beberapa tahun di bawahnya itu.

"Selibu dua latus tiga puluh?"

Lily mengangguk.

Amelia perlahan menarik napas. Otaknya yang terbiasa menganalisis sebab-akibat mendadak kehilangan semua kemampuan untuk bekerja secara normal.

'Seribu dua ratus tiga puluh? seharusnya sekarang itu tahun 2026' pikirnya dalam hati.

Dia ingin mengatakan bahwa Lily sedang bercanda, tetapi wajah anak itu terlalu polos. Anak-anak lain juga tidak menunjukkan reaksi aneh. Tidak ada seorang pun yang tertawa karena lelucon.

Amelia menutup wajah dengan kedua tangan.

"Gue mati benelan," gumamnya lagi.

Lily menatapnya bingung. "Apa?"

"Tidak apa-apa." Amelia menurunkan tangannya.

'Setidaknya gue harus berpikir jernih, oke ayo kita susun kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan pertama, gue ngalamin gangguan kesadaran akibat trauma. Kemungkinan kedua, gue lagi mimpii. Kemungkinan ketiga.... gue transmigrasi. Tapi, gak mungkin yakali tiba-tiba aja jadi kayak cerita novel kan?'

Amelia langsung menolak kemungkinan ketiga. Tidak masuk akal. Tetapi kemudian dia melihat tangannya lagi, Jari-jarinya sangat kecil, lalu dia mencubit pipinya sendiri.

"Cakit," gumamnya.

Lily buru-buru memegang tangannya. "Jangan dicubit!"

Amelia mengusap pipinya, kalau mimpi, seharusnya tidak sesakit ini. Dia memandang Lily dengan tatapan kosong.

"Lily."

"Iya?"

"Ada cermin?"

"Di sana." Lily menunjuk ke sudut ruangan.

Amelia langsung turun dari kasur. Bahkan kakinya terlalu pendek untuk menyentuh lantai dengan sekali gerak. Dia hampir kehilangan keseimbangan ketika mencoba berdiri. Tubuhnya terasa ringan dan asing. Langkah pertama yang biasanya mudah dilakukan sekarang membuatnya harus berhati-hati.

"Eve, kamu mau apa?" Lily mengikuti di belakang.

"Celmin, " jawab Amelia singkat

"Buat apa?"

"Memactikan acu macih punya wajah."

Lily mengerutkan kening, tetapi tidak bertanya lagi. Cermin yang dimaksud ternyata hanyalah potongan kaca yang dipasang pada papan kayu. Permukaannya penuh noda dan retakan, tetapi masih cukup jelas untuk memperlihatkan pantulan.

Amelia berhenti di depannya.

Rambut putih sebahu jatuh berantakan di sekitar wajah kecilnya. Warnanya bukan putih keabu-abuan seperti rambut orang tua, melainkan putih pucat dengan sedikit semburat kebiruan ketika terkena cahaya matahari. Kulitnya pucat, nyaris tanpa warna, sementara sepasang mata merah tua menatap lurus ke arahnya.

Tangannya perlahan terangkat dan menyentuh pipi sendiri, anak di dalam cermin melakukan hal yang sama.

Amelia menggeser wajah ke kiri, pantulan itu ikut bergerak. Dia mendekat sampai wajahnya hampir menyentuh permukaan kaca. Jarinya berpindah ke bawah mata, kemudian menyusuri hidung dan pipi, seolah sedang memeriksa seseorang yang baru pertama kali dilihatnya.

"...Actaga, " gumamya.

Amelia mundur satu langkah. Kakinya hampir tersandung ujung kasur, membuatnya buru-buru berpegangan pada papan tempat cermin terpasang. Dia masih menatap pantulannya beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan. Wajah asing itu tidak akan memberinya jawaban apa pun.

'Untuk tau sebenarnya apa yang terjadi, gue harus mastiin ini ada di mana.' Pandangannya kemudian berhenti pada jendela.

Jendela itu sedikit rendah sangat rendah bahkan dia bisa menjangkau kacanya dengan mudah. Cahaya matahari masuk melalui kaca yang buram. Dari sana dia bisa melihat halaman kecil dengan rumput yang tidak terawat dan beberapa pakaian anak-anak yang dijemur di tali. Tidak ada gedung tinggi, tidak ada mobil, tidak ada suara mesin dari jalan raya. Amelia menempelkan telapak tangannya pada kaca jendela.

"Ini di mana cebenalna?"

"Elarion." Lily yang berdiri di belakangnya tampak berpikir sebentar, seolah pertanyaan Amelia terlalu mudah untuk dipahami kenapa sampai harus ditanyakan.

"...Apa?" Tangan Amelia yang sejak tadi menempel di kaca langsung berhenti.

"Elarion," ulang Lily. "Kita di Elarion."

Amelia perlahan menoleh, dia tahu nama itu. Amelia mengerutkan kening, mencoba mengingat dari mana dia pernah mendengar nama tempat tersebut. Beberapa detik kemudian, sebuah ingatan samar muncul di kepalanya. Dia pernah membaca nama itu. Bukan sekali saja, tapi berkali kali, dia sangat menyukai novel itu, bahkan masuk top 3 novel favorit nya sepanjang masa. Elarion adalah nama sebuah kerajaan dalam novel fantasi berjudul The Rose and Crown.

"Kamu bilang Elalion?" Amelia menatap Lily.

"Iya."

"Kelajaan Elalion?"

"Iya. Memangnya kenapa?" Lily mengangguk polos.

"Tidak apa-apa." Amelia kembali menghadap jendela, dadanya terasa sedikit sesak.

'Tidak mungkin. Tidak masuk akal, mungkin hanya kebetulan.. tapi melihat penampilan ku.. dan orang orang disini juga keliatan aneh.. '

Nama seperti Elarion juga bukan sesuatu yang mustahil muncul di tempat lain. Amelia sudah membaca cukup banyak novel fantasi untuk tahu bahwa nama-nama semacam itu sering kali terdengar mirip satu sama lain.

Dia tidak akan langsung mengambil kesimpulan hanya karena satu nama. Karena, Itu bukan cara berpikirnya.

Lily tampaknya tidak terlalu peduli. Dia kembali duduk di kasurnya dan mulai memainkan ujung selimut.

Untuk saat ini Eve memutuskan tidak akan membuat teori aneh sebelum memiliki bukti. Amelia mengalihkan pandangan dari jendela dan kembali memperhatikan ruangan. Kalau begitu, masalah yang lebih penting adalah mencari tahu siapa dirinya sekarang.

"Lily." panggil Amelia

"Hm?"

"Epe biacana tinggal di cini?" tanyanya.

"Iya."

"cudah lama?" tanyanya lagi.

"Dari bayi." Lily mengangguk

"Bayi?" Amelia mengerutkan keningnya.

"Iya. Kata pengurus, Eve ditemukan di depan panti waktu masih bayi."

Amelia terdiam.

'Ditemukan di depan panti?Yang berarti anak ini tidak punya keluarga, namanya Eve? tapi kemungkinan itu cuma panggilan doang,' Pikirnya.

Namun sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari lorong. Lily langsung menoleh ke pintu. Amelia ikut melihat ke arah yang sama. Seorang perempuan paruh baya masuk sambil membawa nampan makanan.

"Eve, kamu sudah bangun?"

Amelia tidak langsung menjawab. Perempuan itu mendekat dan menyentuh dahinya, terasa asing. Ia tidak pernah mendapat perhatian seperti ini.

"Demammu sudah turun. Syukurlah."

"Demam?" tanya nya.

"Iya. Kamu jatuh dari tangga kemarin dan sempat tidak sadarkan diri."

Amelia mengingat luka kecil di pelipisnya.

'Jadi tubuh ini memang baru saja mengalami kecelakaan.'

Dia menatap perempuan itu.

"Belapa lama acu tidak sadar?" Amelia menatap perempuan itu lekat-lekat.

"Semalaman."

Perempuan itu tertawa kecil, entah kenapa Eve yang dia kenal sedikit terasa berbeda dari biasanya, kemudian menaruh nampan di atas meja.

"Ayo makan dulu."

Amelia melihat makanan yang disediakan, rasanya dia seperti ingin melempar makanan itu, tampilannya sangat tidak menggugah selera.

"Apa aku halus maam ini?"

Wajah dari Halaman Buku

Wanita itu sempat memperhatikan Amelia yang menatap mangkuk bubur dengan ekspresi tidak percaya.

"Tentu saja harus dimakan. Kamu belum makan sejak kemarin," katanya sambil menarik kursi di dekat meja.

Amelia masih menatap bubur encer itu beberapa saat sebelum akhirnya ia mendekat dan duduk kembalu ke kasurnya, kemudian ia mengambil sendok. Tangannya terasa aneh ketika menggenggam benda kecil tersebut. Dia terbiasa menggunakan tangannya untuk pekerjaan yang jauh lebih rumit, tetapi sekarang gerakan sederhana seperti menyendok makanan saja terasa sedikit menyusahkan. Perbedaan ukuran tubuh benar-benar membuat semuanya berbeda.

'Kayaknya gue harus beradaptasi lagi dengan tubuh sial*n ini!'

Dia memasukkan sesendok bubur ke mulut.

'Hambar.. ini ada masako nya gak sih? boro-boro masako garam aja seperti nya bakal mahal deh.'

Amelia menelan dengan susah payah, kemudian menatap mangkuk di depannya dengan wajah datar.

Sedangkan Lily yang sejak tadi duduk di kasur langsung menahan tawa. Wanita itu hanya tersenyum kecil sebelum mengingatkan Amelia untuk makan perlahan. Amelia akhirnya menurut. Perutnya memang lebih membutuhkan makanan daripada pendapatnya tentang rasa makanan.

Beberapa suapan kemudian, rasa lapar membuatnya berhenti mengeluh. Dia bahkan mulai menyadari bahwa tubuh kecil ini ternyata jauh lebih mudah merasa lapar daripada tubuhnya yang dulu.

"Eve, kamu jangan keluar bermain dulu setelah makan," kata wanita itu.

Amelia mengangkat wajah. "kenapa?"

"Hari ini ada tamu," jawab wanita itu.

"Tamu ciapa?"

"Seorang bangsawan ternama."

Tangan Amelia berhenti di atas mangkuk.

Perempuan itu kemudian menjelaskan bahwa keluarga bangsawan tersebut datang untuk melihat anak-anak di panti. Mereka sedang mencari seorang anak untuk diasuh dan dibawa tinggal bersama keluarga mereka.

Amelia mendengarkan tanpa menyela. Istilah memilih anak terasa sedikit aneh di telinganya, tetapi dia menahannya untuk tidak berkomentar. Dia hanya mengaduk bubur yang sudah hampir habis sambil memikirkan kemungkinan yang ada.

'Jadi ada kemungkinan salah satu anak di panti akan dibawa pergi hari ini.'

Amelia tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk. Namun setidaknya, informasi tersebut memberinya alasan untuk tetap berada di tempat ini dan mengamati keadaan. Dia masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya, dan satu-satunya cara untuk memahami semuanya adalah mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.

Sebenarnya, Amelia tidak terlalu memikirkan soal bangsawan yang akan datang. Baginya, selama orang itu tidak mengganggunya, tidak ada alasan untuk merasa tertarik. Dia bahkan belum memahami keadaan dirinya sendiri, jadi memikirkan orang asing yang kebetulan datang ke panti terasa seperti membuang tenaga. Di zaman yang bahkan dia tidak tahu kapan, informasi lebih penting dibanding apapun.

Dia kembali menyuapkan bubur ke mulutnya.

Lily yang sejak tadi duduk di atas kasur tampak tidak setenang sebelumnya. Anak itu beberapa kali melirik ke arah pintu, kemudian buru-buru mengalihkan pandangan setiap kali mendengar suara langkah dari lorong.

Amelia memperhatikannya sebentar.

"Kamu kenapa?" tanyanya.

Lily meremas ujung selimut di tangannya. Setelah beberapa saat, dia menjawab pelan bahwa dia takut dengan bangsawan yang akan datang.

Amelia mengangkat alis.

"Tatut?"

Lily mengangguk. Menurutnya, orang-orang dari kalangan bangsawan terkenal kejam. Dia pernah mendengar cerita tentang anak-anak yang dibawa ke rumah bangsawan, tetapi tidak pernah kembali ke panti. Ada pula yang mengatakan bahwa bangsawan bisa menghukum pelayan hanya karena kesalahan kecil. Menurut cerita Lily, biasanya anak panti yang di bawa oleh bangsawan hanya akan menjadi pelayan, atau sebuah mainan untuk mereka.

Amelia mendengarkan sambil tetap makan.

Anak-anak seusia Lily mudah sekali memperbesar cerita yang mereka dengar dari orang lain. Bisa saja satu kejadian kecil berubah menjadi cerita mengerikan setelah diceritakan dari satu anak ke anak lainnya.

Namun Amelia tidak mengatakan itu. Dia hanya mengangguk kecil dan kembali memperhatikan makanannya.

"Kalau begitu jangan dekat-dekat meleka," katanya santai.

"Kamu nggak takut?" Lily menatapnya dengan wajah tidak percaya.

"Belum tentu olangnya jahat." Amelia mengangkat bahu kecilnya.

Jawaban itu membuat Lily terdiam. Baginya tingkah Eve hari ini benar-benar aneh, biasanya Eve juga akan ikut ketakutan seperti dirinya.

"Kamu hari ini aneh."

Amelia sendiri tidak terlalu memikirkan perkataan anak kecil itu. Tidak ada gunanya takut pada seseorang yang bahkan belum pernah dia temui. Lagipula, kalau bangsawan tersebut memang sekejam yang dikatakan Lily, dia akan mengetahuinya sendiri ketika dan melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Amelia menghabiskan suapan terakhirnya dan meletakkan sendok di dalam mangkuk. Wanita paruh baya yang sejak tadi memperhatikannya segera mengambil nampan tersebut. Dia mengangkat mangkuk kosong dan gelas susu yang sudah habis, lalu membawa semuanya keluar dari kamar.

"Eve, istirahat dulu. Jangan terlalu banyak bergerak," pesannya sebelum menutup pintu.

Amelia mengangguk kecil.

Begitu pintu tertutup, ruangan kembali dipenuhi suara anak-anak yang mulai berbicara satu sama lain. Amelia menyandarkan punggungnya pada dinding. Perutnya sudah terasa lebih nyaman.

'Yang penting gue harus cari tahu asal usul anak ini, dan kemungkinan besar Eve mungkin cuma nama panggilan. Dan kalau Eve benar-benar tidak memiliki keluarga, berarti satu-satunya informasi yang bisa gue dapetin tentang Eve hanya dari orang-orang panti ini.' Amelia membuka mata lagi dan melirik Lily.

Anak itu masih memainkan ujung selimut sambil sesekali menatap pintu. Jelas sekali dia benar-benar takut pada bangsawan yang akan datang. Tidak lama setelah perempuan itu meninggalkan kamar, suara lonceng kecil terdengar dari lorong. Disusul suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan beberapa orang dewasa yang mulai memanggil anak-anak dari ruangan lain.

"Semua anak berkumpul di ruang tengah! Cepat, jangan membuat tamu menunggu!"

Suara pengurus panti terdengar beberapa kali. Anak-anak yang sebelumnya bermain mulai berlarian keluar. Beberapa masih membawa mainan seadanya, sementara yang lain hanya mengikuti teman mereka dengan wajah penasaran.

Amelia yang semula duduk di kasur ikut berdiri. Lily segera menghampirinya dan menggenggam tangannya.

"Kita juga harus ke sana."

Ruang tengah panti jauh lebih luas daripada ruangan tempat mereka tidur, tetapi tetap terlihat sempit ketika seluruh anak dikumpulkan di sana. Lantai kayunya sudah tua dan beberapa bagian terlihat menghitam. Dindingnya dipenuhi bekas tambalan, sementara sebuah meja panjang diletakkan di dekat jendela sebagai tempat beberapa pengurus berdiri.

Anak-anak diminta berbaris. Amelia berdiri di samping Lily, menyesuaikan tubuhnya dengan barisan yang semakin rapat. Di depannya ada seorang anak laki-laki yang terus menggigit bibir, sementara di belakangnya terdengar suara beberapa anak berbisik.

"Dia sudah datang?"

"Katanya begitu."

"Jangan lihat matanya."

"Kenapa?"

"Katanya dia kejam."

Bisikan-bisikan itu semakin banyak terdengar.

Lily menggenggam tangan Amelia lebih erat, tangan kecilnya terasa dingin.

Amelia melirik sebentar.

"Jangan tatut."

Kemudian pintu utama terbuka.

Suasana ruang tengah langsung berubah. Beberapa anak yang tadinya berbisik mendadak diam. Seorang anak perempuan di barisan depan mulai menangis bahkan sebelum orang yang mereka tunggu masuk sepenuhnya. Anak laki-laki di sebelahnya mundur beberapa langkah sampai menabrak anak lain.

Dua orang memasuki ruangan.

Yang pertama adalah seorang pria berpakaian serba hitam. Usianya mungkin sekitar tiga puluhan. Tubuhnya tinggi dan tegap, sementara rambut hitamnya ditata rapi tanpa satu helai pun terlihat berantakan. Wajahnya tampan, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan di sana.

Matanya berwarna merah tua, waranya lebih pekat daripada mata Eve

Amelia yang semula hanya ingin melihat-lihat langsung membeku.

Jantungnya seakan berhenti satu detik.

Kemudian berdetak begitu keras sampai telinganya sendiri terasa berdenging. Dia mengenal wajah itu, meskipun tidak pernah bertemu secara langsung, ataupun bertemu di dunia nyata. Tapi dia mengenalnya dari halaman novel yang ia baca.

Duke Valois. Kepala keluarga Valois, Lucien Valois.

Salah satu karakter antagonis utama dalam The Rose and Crown. Amelia merasa kepalanya berdenyut. Yang pertama Elarion dan sekarang Duke, kemungkinan yang sejak tadi ia paksa untuk tidak dipikirkan perlahan mulai masuk akal.

Amelia menelan ludah.

"....Tampaknya gue terlalu meremehkan cerita Lily," gumamnya sangat pelan.

Kalau ini benar-benar dunia yang sama dengan novel yang pernah dia baca, maka ada satu masalah besar.

Dia berada tepat di depan salah satu orang paling berbahaya dalam cerita. Dan kalau ingatannya tidak salah, keluarga Valois bukan keluarga yang akan membuat seseorang merasa aman, malah sebaiknya kalau ingin hidup lama sebaiknya menghindari keluarga itu.

Amelia perlahan mundur setengah langkah. Tubuh kecilnya bergerak ke belakang Lily sampai sebagian besar tubuhnya tertutup oleh anak perempuan itu. Lily menoleh bingung, tetapi Amelia hanya memberi isyarat agar diam. Dia tidak peduli kalau tindakannya terlihat aneh. Untuk saat ini, satu hal jauh lebih penting, jangan sampai menarik perhatian Duke Jahat itu.

Kalau dirinya memang berada di dunia novel, maka dia harus menghindari orang-orang yang bisa membunuhnya. Dan pria di depannya adalah salah satu orang yang paling tidak ingin dia dekati.

Duke Valois berdiri beberapa langkah dari barisan anak-anak. Di belakangnya hanya ada seorang pria lain yang mengenakan pakaian formal berwarna gelap. Dari sikap dan posisinya, Amelia menduga dia adalah ajudan sang Duke.

Duke Valois tidak mengatakan apa pun, tetapi tatapannya menyapu seluruh ruangan. Beberapa anak langsung menangis. Seorang anak laki-laki bahkan tidak mampu menahan ketakutannya dan mulai berteriak. Pengurus panti buru-buru menenangkan mereka, tetapi tangisan justru semakin terdengar.

Amelia memperhatikan Duke itu dari balik bahu Lily.

Dia tampak jelas tidak nyaman berada di tengah begitu banyak anak kecil. Tatapannya beberapa kali beralih dari satu anak ke anak lainnya.

'Cari siapasih dengan mata jahat kayak gitu, bikin was was aja!' pikirnya dalam hati.

Sebelum Amelia sempat memikirkan lebih jauh, seorang lelaki tua yang tampaknya merupakan kepala pengurus panti segera maju dengan senyum yang terlalu lebar. Kedua tangannya digosok-gosokkan di depan dada, jelas berusaha menunjukkan sikap seramah mungkin.

"Selamat datang, Yang Mulia Duke Valois yang terhormat," katanya dengan suara bergetar. "Merupakan kehormatan besar bagi kami menerima kunjungan Anda di panti-"

Duke Valois langsung menoleh, ia menatap tajam sang kepala panti. Lelaki tua itu bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Duke Valois melangkah maju dan mencengkeram kerah bajunya.

Tubuh lelaki tua itu tersentak ke depan, beberapa anak langsung menjerit.

"Di mana anak yang kau bilang?"

Suara Duke Valois rendah, tetapi cukup keras untuk membuat seluruh ruangan mendadak diam.

"A-anak yang mana, Yang Mulia?" Wajah lelaki tua itu perlahan menjadi pucat.

"Jangan bermain-main denganku." Cengkeraman di kerahnya semakin kuat.

Amelia yang masih bersembunyi di balik tubuh Lily langsung menahan napas. Dia menatap Duke Valois dari celah kecil di antara tubuh Lily dan anak di sebelahnya.

'Anak yang dia cari?' Jantungnya kembali berdetak tidak beraturan.

Pria itu masih memegang kerah kepala panti dengan wajah dingin. Amelia tidak tahu siapa yang sedang dia cari. Tetapi melihat reaksinya, jelas orang itu cukup penting sampai membuat seorang Duke datang sendiri ke panti asuhan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!