Sarah mencengkram ujung bajunya erat, saat lagi-lagi ia mendengar suara desahan dari dalam kamar suaminya. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu menunduk, berusaha menahan rasa sakit yang seolah tidak akan pernah sembuh.
Saat air matanya hampir luruh, Sarah langsung mendongak menatap langit-langit rumah mewah itu yang menjulang tinggi. Namun baginya, tempat itu bagaikan neraka di mana penderitaannya tidak pernah berakhir.
Aku harus kuat. Aku mencintai Mas Adrian. Aku tidak sanggup jika harus berpisah dengannya. Memang ini menyakitkan, tapi membayangkan kehilangannya membuatku jauh lebih takut daripada menahan rasa sakit ini. Aku memilih tetap berada di sisinya. Batin Sarah.
Meski sudah berusaha menahan sekuat tenaga, air matanya tetap jatuh juga.
Sarah yang tidak sanggup lagi menahan kesedihan segera menutup mulutnya rapat dan berlari masuk ke kamar.
Ia mengunci pintu, lalu menyandar di sana dengan dada yang sesak, menangis tanpa suara.
"Mas... kenapa kau tega padaku? Kenapa? Aku sudah memberikan segalanya yang kupunya, bahkan seluruh hartaku sudah kualihkan ke atas namamu sesuai keinginamu. Lalu kenapa sekarang kau tega menyakitiku?
Aku mencintaimu, tapi setiap malam kau selalu berbagi ranjang dengan anak kepala pelayan itu. Memang dia lebih muda dariku, mungkin dia lebih menarik, tapi aku yang setia menemanimu dari saat kau tidak memiliki apa-apa hingga kini kau menguasai segalanya. Kenapa kau tega menyakiti aku begini, Mas?"
Sarah menangis sejadi-jadinya. Sudah enam bulan mereka berpisah kamar, dan dalam waktu itu pula Adrian tidak pernah lagi sekalipun menyentuhnya. Adrian kerap berkata:
"Bersyukurlah kubiarkan kau menumpang di rumah ini. Kalau tidak, sudah lama kau kuusir." Tak jarang ia juga melontarkan kata yang paling menyakitkan, "Aku tidak sudi menyentuhmu. Sudah lima tahun kita menikah, tapi kau tidak pernah memberi aku keturunan. Kau hanya membuang-buang waktuku saja."
Selama lima tahun pernikahan mereka, Sarah tidak kunjung hamil, dan Adrian selalu menuduh bahwa dialah penyebabnya, menuduh kalau Sarah mandul.
Hampir setiap malam, Adrian meniduri putri kepala pelayan, membuat hati Sarah semakin hancur dan terpukul.
Ia tahu suaminya berselingkuh, namun tidak ada yang bisa ia lakukan—di rumah itu, karena tidak ada satu pun yang berpihak padanya. Tak jarang ia juga disiksa oleh ibu mertua dan adik iparnya sendiri.
Ia hanya bisa pasrah menjalani hari-hari yang penuh siksaan itu. Adrian bahkan tidak pernah memberinya sepeser pun uang nafkah, namun Sarah tetap bertahan hanya karena satu alasan: cinta. Ia masih mencintai suaminya.
Hanya ada satu orang yang sedikit peduli padanya, yaitu Paman Sean. Meski pria itu dikenal dingin dan tak banyak bicara, tapi dia sering memberikan sapu tangan saat Sarah menangis, atau menawarkan tumpangan bila wanita itu membutuhkannya.
Tapi sayangnya, Sean jarang tinggal di mansion itu, karena ia hampir sering berada di luar negeri untuk mengurus segala urusan bisnisnya.
Sementara itu, ibu mertua, adik ipar, selingkuhan suaminya setiap hari menyiksanya. Mereka bahkan sengaja memecat banyak pelayan hingga hanya menyisakan 3 orang saja: dua orang bibi dan kepala pelayan. Sarah yang menjadi sasaran untuk mengurus serta membersihkan seluruh isi rumah itu.
Ia bagaikan pembantu tanpa upah yang harus bekerja dari pagi hingga malam, namun pekerjaannya tak kunjung usai.
Bagaimana bisa selesai cepat? Mansion itu bukan bangunan kecil, melainkan sangat luas. Belum lagi ia harus melayani segala keperluan suaminya dan anggota keluarga lain, membuatnya kewalahan menanggung beban yang begitu berat. Namun meski begitu, ia masih memilih untuk bertahan hingga saat ini.
Lelah menangis sepanjang malam, akhirnya Sarah terlelap.
Saat fajar menyingsing, ia terbangun dengan tergesa-gesa, tak ingin terlambat menyiapkan segala keperluan rumah tangga.
Kini ia sedang sibuk mengaduk adonan dan menata bahan makanan di dapur, ketika tiba-tiba terdengar suara jeritan melengking dari lantai atas—suara Alena.
"Ibu!!!"
Mendengar teriakan putrinya, Martha yang merupakan kepala pelayan sekaligus ibu kandung Alena langsung berlari menaiki tangga dengan cemas.
"Ada apa, Alena? Kenapa kau berteriak-teriak?"
"Ibu... kalungku! Kalung yang kutaruh di dalam laci meja semalam hilang!" seru Alena dengan nada panik yang dibuat-buat.
"Kau yakin menaruhnya di situ? Coba periksa sekali lagi," tanya Martha mencoba menenangkan.
"Iya, Bu! Aku yakin sekali! Sudah kucari ke sana kemari, sudah tidak ada lagi di sana!" jawab Alena keras kepala.
Martha pun ikut mencari ke seluruh sudut kamar putrinya, namun tak ditemukan barang yang dicari.
Tanpa berpikir panjang dan tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu, ia langsung melangkah turun menuju dapur dengan wajah penuh kecurigaan dan kemarahan.
Begitu melihat Sarah yang sedang sibuk di dapur, ia langsung menudingkan jari kasar ke arah wanita itu.
"Heh Sarah! Apa kau yang mencuri kalung milik putriku?"
Sarah terkejut setengah mati, tangannya yang memegang sendok seketika berhenti bergerak.
"Astaghfirullah... mencuri kalung? Tidak mungkin, Bu. Saya sama sekali tidak tahu apa-apa soal kalung itu," jawabnya dengan suara takut.
"Jangan berani-berani kau berbohong padaku! Kau kan sudah tidak punya sepeser pun uang, sampai tidak sanggup belanja kebutuhan sendiri! Pasti karena itu kau berani mencuri barang berharga kami, bukan?" tuduh Martha semakin keras.
"Saya sungguh tidak melakukannya! Saya tidak pernah menyentuh barang-barang Alena!" Sarah mulai gemetar ketakutan.
Di lengannya yang terbentang bagian lengan baju, terlihat jelas memar berwarna kebiruan, begitu pula di sisi pipinya yang masih terlihat bekas tamparan yang belum sempat sembuh.
Entah mengapa, setiap kali ada masalah yang terjadi di rumah itu, dirinya yang selalu menjadi sasaran.
"Ada apa ini ribut pagi-pagi?" Tanya Adrian.
"Mas! Tanyakan sendiri pada istri Mas ini! Dia yang sudah mencuri kalungku, baru tidak mau ngaku!" seru Alena berdiri di samping Adrian, menunjuk-nunjuk ke arah Sarah.
Tanpa menanyakan kebenaran atau sekadar melihat keadaan Sarah, Adrian langsung membuka mulutnya dengan nada penuh amarah.
"Apa benar begitu, Sarah?" Adrian menatapnya tajam.
"Mas... aku benar-benar tidak mencuri, Mas. Sejak bangun pagi aku langsung turun ke sini menyiapkan sarapan. Aku tidak mengambilnya sama sekali," suara Sarah mulai bergetar hebat. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Diam-diam Alena tersenyum tipis, senyum picik. Ia memang sengaja melakukan semua itu untuk memfitnah Sarah.
"Geledah saja! Geledah bajunya sekarang! Siapa tahu memang dia yang mengambilnya!" Ucap Martha tak sabar.
Adrian melangkah mendekat, lalu dengan kasar meraba dan menggeledah pakaian istrinya. Tak butuh waktu lama, tangannya merogoh saku baju Sarah dan mengeluarkan benda yang dicari.
"Jadi ini apa, Sarah?"
Sarah semakin gemetar hebat. "Sa... saya tidak tahu, Mas... saya tidak mengambilnya..."
Plak!
Tanpa ampun, tangan Adrian melayang keras menampar pipi Sarah hingga bibirnya langsung pecah dan berdarah bahkan tubuh lemah Sarah terjatuh ke lantai dapur akibat kerasnya tamparan Adrian.
Buk!
Belum sempat Sarah menahan rasa sakit, Adrian kembali menendang keras perutnya membuat wanita itu terguling, tersedak dan sulit bernapas.
"Dasar bodoh! Berani-beraninya kau mencuri? Mengaku saja! Kau memang tidak punya uang, makanya kau berani mengambil barang orang lain!"
Adrian berjongkok, mencengkeram dan menarik rambut Sarah dengan kasar. Darah mulai menetes dari hidungnya.
"Mas... kenapa kau tega padaku? Padahal aku tidak tahu bagaimana kalung itu bisa ada di sakuku..." isak Sarah menahan sakit luar biasa tapi masih berusaha membela diri.
Belum selesai kata-katanya, Alena berjalan mendekat membawa termos berisi air panas mendidih.
"Oh, ternyata nggak mau ngaku kamu ya?" Tersenyum jahat.
"Alena! Apa yang mau kau lakukan? Jangan!" seru Sarah ketakutan.
Namun Adrian justru semakin mengencangkan tarikan pada rambut istrinya, menahan tubuh Sarah agar tak bisa bergerak. Alena langsung menyiramkan air panas itu tepat ke betis Sarah.
"Aaaah!" jerit Sarah saat kulitnya langsung melecur terbakar dengan rasa perih yang luar biasa.
Bukannya merasa kasihan, Adrian malah menarik rambut Sarah lebih kuat dan menyeretnya keluar.
"Panas? Rasakan saja itu!"
"Lepaskan, Mas... sakit sekali... tolong..." Sarah benar-benar tak berdaya melawan kekuatan suaminya.
Adrian menyeretnya sampai ke tepi kolam renang, lalu tanpa belas kasihan melempar tubuh Sarah ke dalam air.
"Mati saja kau di sana! Aku sudah lama muak melihat wajahmu! Berkali-kali kusuruh hamil, hamil! Tapi kau tidak bisa juga mengandung? Kau tahu tidak? Selama ini aku menikahimu hanya untuk merebut seluruh hartamu! Tapi sialnya, kakek tua itu malah memberi syarat—harus ada keturunan baru aku berhak mendapat bagian warisan! Dan kau? Kau mandul! Mustahil kau bisa memberiku anak!"
Sarah terhanyut lemah di dalam air, tubuhnya sakit, hatinya hancur lebur mendengar kebenaran yang selama ini disembunyikan suaminya.
Setelah memukul, melempar, dan memaki istrinya, Adrian langsung berbalik badan dan pergi begitu saja.
Sarah menyeka air mata yang terus mengalir, lalu menyeret tubuh lemahnya diatas air merasakan perih bekas siraman air panas Alena tadi.
Ia memegang pinggir kolam untuk mencoba naik ke atas, namun belum sempat tubuhnya keluar, Raisa—adik iparnya—datang dengan tumit sepatu yang tinggi. Tanpa rasa iba, ia langsung menginjakkan tumitnya tepat ke atas tangan Sarah.
"Aaaah! Sakit!" jerit Sarah gemetar menahan perih. "Tolong... lepaskan... sakit sekali..."
Namun bukannya melepaskan, Raisa justru semakin menguatkan tekanan kakinya.
Sarah yang tidak berdaya hanya bisa menahan rasa perih sambil menangis tersedu-sedu. Raisa pun berjongkok, menarik rambut Sarah yang basah hingga wanita itu terpaksa mendongak.
"Kau memang bodoh! Sudah tahu Kak Adrian tidak pernah menyukaimu, tapi kau masih saja bertahan di sini? Apa sebegitu murahnya harga dirimu sampai kau tidak tahu malu? Seharusnya kau sadar diri dan pergi! Kau tahu sendiri kau sudah tidak diinginkan! Sudah lima tahun kau menikah dengannya, tapi kau belum juga bisa hamil! Dasar perempuan mandul!"
Sebelum melepaskan injakannya, Raisa mengeratkan lagi tekanan hingga terdengar bunyi tulang kecil yang patah.
"Hah! Sakit!" jerit Sarah nyaris tak bersuara.
"Sudah tahu kau disiksa di sini tapi masih betah saja? Dasar bodoh!"
Tak lama kemudian, Rika ibu mertua Sarah—datang dengan gaya angkuh sembari melipat tangan di dada, menatap dengan pandangan merendahkan.
"Kau tahu tidak? Kau itu tidak layak menjadi menantuku. Yang layak justru seperti dia..." Rika memberi isyarat memanggil Alena mendekat. "Sini sayang..."
Alena pun mendekati Rika.
"Dialah yang pantas menjadi menantuku. Dia punya karir, tidak sepertimu yang hanya menjadi benalu di rumah ini."
"Bi Siska!" panggil Rika keras.
"I... Iya Nyonya," jawab Bibi Siska yang segera menghampiri.
"Ambil cabai yang sudah dihaluskan tadi! Aku ingin memandikan 'menantuku' dengan itu!"
Mata Sarah membelalak tak percaya, darahnya seketika membeku mendengar ucapan kejam itu.
"Bu... tolong Bu... jangan Bu... jangan..."
Bibi Siska sebenarnya enggan melakukannya, hatinya tidak tega melihat penderitaan istri tuannya itu. Namun apalah daya, ia hanyalah seorang pembantu. Dengan mata berkaca-kaca, ia terpaksa berjalan ke dapur untuk menuruti perintah Rika.
"Ini, Nyonya," ucapnya lirih saat kembali membawa wadah berisi sambal pedas.
"Ini dia, menantuku... Kau pasti sangat menyukainya, bukan? Setelah ini kau pasti akan benar-benar pergi dari sini," ujar Rika dingin.
"Jangan Bu! Tolong Bu, jangan! Aku masih menantu Ibu! Jangan lakukan ini padaku!" mohon Sarah memelas.
Namun seolah tak mendengar apa-apa, Rika langsung menyiramkan sambal itu ke arah Sarah.
"Aaaaah!" jerit Sarah lagi-lagi menahan perih yang menyengat seluruh kulitnya.
Ia segera menyelam ke dalam air kolam, berusaha membersihkan sisa cabai yang menempel di wajah dan kepalanya. Namun sudah terlambat, rasa pedas itu tak kunjung hilang—bahkan air kolam pun kini terasa panas terbakar. Tak lama kemudian, tubuh Sarah mulai kejang-kejang dan perlahan terapung.
"Tarik dia naik! Kalau dia mau mati, jangan biarkan dia mati di kolam ini!" perintah Rika tanpa belas kasihan.
Bibi Siska pun membantu menarik tubuh Sarah ke tepi, air mata terus menetes membasahi pipinya. Ia tak menyangka majikannya tega begitu menyiksa menantunya.
"Non... bangun Non Sarah..." panggilnya sambil menepuk-nepuk pelan wajah Sarah.
Namun wanita itu hanya terus kejang dengan mata terpejam rapat, hingga akhirnya ia pingsan tak berdaya.
"Pergi dari sini! Sebelum kau juga mendapat hukuman yang sama!" ancam Rika.
Bibi Siska terpaksa menghapus air matanya dan pergi.
_____
Sarah terbaring diam di tepi kolam. Berjam-jam berlalu hingga malam menjelang, tak ada satu pun yang datang memeriksa apakah ia masih bernapas atau sudah tiada.
Perlahan kesadaran Sarah kembali.
Seluruh tubuhnya terasa nyeri luar biasa, rasa pedas menyengat masih membakar kulit wajah dan badannya.
Air matanya kembali menetes, dia bergerak pelan berusaha bangkit, menyeret kaki yang melepuh dan tangan yang tulang punggungnya nyeri akibat injakan tadi, berjalan keluar dari rumah mewah itu tanpa arah tujuan.
Ia terus berjalan sendirian hingga tengah malam. Tiba-tiba rintik hujan turun membasahi tubuhnya yang sudah tak berdaya.
Tubuhnya tak sanggup lagi menahan segala rasa sakit, dan untuk kedua kalinya Sarah kembali jatuh pingsan di tengah jalan.
Di tempat lain, Sera yang sedang bertugas di rumah sakit tiba-tiba merasa gelisah yang tak bisa dijelaskan.
"Kenapa tiba-tiba hatiku merasa cemas? Aku seperti mengkhawatirkan Kak Sarah..." gumamnya lirih.
Sera adalah adik kembar Sarah, seorang dokter bedah ahli yang bekerja di salah satu rumah sakit ternama.
Sejak kakaknya menikah dengan Adrian, Sera dan Sarah sudah sangat jarang bertemu.
Kadang mereka baru bisa berjumpa lima atau enam bulan sekali, bahkan tak jarang setahun sekali. Pasalnya, Sarah sama sekali tidak diizinkan pergi ke mana-mana oleh suaminya dan dikurung di dalam rumah itu.
Namun setiap kali Sera menghubunginya, Sarah selalu berkata berbohong bahwa dirinya baik-baik saja.
Ia juga kerap mengatakan sudah bahagia bersama suaminya, bahwa Adrian adalah pria yang baik dan sangat menyayanginya.
Hal itu membuat Sera tidak pernah merasa khawatir, dan sungguh-sungguh mengira kakak kembarannya itu hidup terlindungi serta mendapatkan kasih sayang yang layak—tanpa tahu sedikit pun tentang kenyataan yang sesungguhnya terjadi.
Seorang suster menghampirinya. "Dokter Sera, ada pasien yang perlu ditangani. Apakah Dokter ada waktu?"
Sera terdiam sejenak, lalu melihat suster itu. "Sus minta tolong sama Dokter Dion. Sepertinya saya harus segera pulang."
"Lho, kenapa? Apa Dokter sedang tidak enak badan?" tanya suster itu cemas.
Sera tersenyum tipis lalu menggeleng. "Tidak, saya baik-baik saja. Saya hanya merasa butuh istirahat yang cukup. Kamu ke ruangan Dokter Dion, minta tolong padanya."
"Baiklah, Dokter Sera."
Hati Sera semakin tidak tenang.
Ia berjalan cepat ke ruangannya, mengambil ponsel, lalu berkali-kali mencoba menelepon nomor kakaknya. Namun tak ada jawaban. Kegelisahan dan rasa takut bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
Kak Sarah... kenapa aku merasa kakak tidak baik-baik saja?
Mata Sera mulai berkaca-kaca. Ia segera melangkah keluar rumah sakit tanpa sempat melepas seragam dokter putih yang ia kenakan.
Bergegas masuk ke mobil dan melajukan mobil itu secepat mungkin berniat menuju kediaman keluarga Adrian.
Di tengah perjalanan, Sera tampak bingung. Hujan perlahan mulai turun dengan deras.
Sera baru ingat, kalau dia sama sekali belum pernah berkunjung ke rumah suami kakaknya, dan tak tahu di mana letak kediaman Adrian berada.
Bahkan Adrian pun hanya pernah ia lihat lewat foto, belum pernah sekalipun ia bertemu langsung dan melihat wajah asli pria bengis serta tak berperasaan itu.
Ke mana aku harus pergi? Aku sama sekali belum pernah ke rumah Kak Sarah... batin Sera di tengah perjalanan.
Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di pinggir jalan basah. Tunggu... bukankah itu seperti sosok manusia?
Tanpa ragu Sera segera menghentikan mobil dan turun, menembus hujan yang semakin deras. Ia berlari mendekat, lalu membalikkan tubuh wanita yang terbaring itu.
Hatinya seketika hancur berkeping-keping—ternyata itu adalah kakak kembarannya yang sedari tadi ia khawatirkan.
"Kak Sarah!" jerit Sera histeris melihat kondisi kakaknya yang begitu memprihatinkan. "Kakak... apa yang terjadi pada Kakak?"
Tangisnya pecah seketika saat ia memeluk tubuh kakaknya yang dingin.
Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Sera dengan cepat menyeret tubuh Sarah ke dalam mobil, membaringkan tubuh basah lemah kakaknya di belakang kursi penumpang.
Setelah itu, Sera kembali ke kemudi dan menancapkan gas menuju rumah sakit sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk pada kakaknya.
Sesampainya di rumah sakit, Sera sendiri yang langsung menangani kakaknya.
Segera membawa Sarah ke ruang UGD. Saat mulai membuka pakaian kakaknya, hati Sera hancur berkeping-keping. Kakinya terasa lemas tak sanggup berdiri, apalagi saat melihat kulit kaki kakaknya sudah banyak yang terkelupas akibat air panas tadi dan penuh luka mengerikan.
Dengan tangan bergetar hebat, Sera perlahan membuka pakaian kakaknya lebih jauh untuk melihat seluruh keadaan yang tersembunyi di sana.
Napasnya tercekat. Hampir sekujur tubuh kakaknya tertutup memar—bekas yang tampak sudah lama mengering, berwarna ungu gelap hingga cokelat tua, bukti siksaan yang dilakukan berulang kali, hari demi hari, tanpa henti.
Saat kain terakhir terlepas menyisakan pakaian dalam, Sera perlahan memutar tubuh kakaknya.
Di sana, di sepanjang punggung yang seharusnya mulus, tampak jelas bekas cambukan yang melintas menyilang—sebagian sudah menebal menjadi parut, sebagian lagi masih tampak merah meradang.
Air mata Sera meluncur deras membasahi pipi, sementara tangannya yang menggigil menyentuh setiap jengkal luka itu seolah tak percaya dengan pemandangannya.
Ketika ia memeriksa bagian kepala, dadanya semakin seperti diremas hingga hancur, melihat masih terselip butiran dan biji cabai yang menempel rumpil di rambut dan kulit kepala, menyisakan rasa perih yang tak terbayangkan.
Bukan itu saja. Bekas tamparan melingkar di pipi, rahang, hingga lengan. Tak ada satu inci pun kulit yang selamat.
Ada bekas luka bakar lama, ada lebam-lebam segar, seolah tubuh kakaknya dijadikan sasaran amarah tanpa belas kasihan selama bertahun-tahun.
Sera mengepalkan tangannya begitu erat hingga melukai dirinya sendiri. Amarah panas bercampur kesedihan yang tak bertepi meledak di dadanya.
"Aku bersumpah..." suaranya bergetar penuh tekad yang tak tergoyahkan. "Siapa pun yang melakukan ini padanya... akan kubuat mereka semua menyesal pernah hidup didunia ini. Aku akan menghancurkan kalian semua sampai tak bersisa sehelai rambut pun!"
Ia menggenggam erat ujung sprei, matanya menatap sosok kakak kembarnya yang terbaring kaku.
"Setiap detik perih yang Kakak rasakan, aku berjanji kalian juga bakal merasakannya tanpa ada satu pun yang akan lolos."
Sera bersumpah pada dirinya sendiri, mereka semua akan membayar mahal atas kekejaman yang menimpa sang kakak.
_____
Perlahan Sarah mulai membuka mata setelah cukup lama terbaring tak sadarkan diri.
Begitu pandangannya mulai jelas, ia langsung disambut oleh wajah adiknya yang menatapnya dingin tanpa berkedip sedikit pun.
Mata Sarah perlahan berkaca-kaca, namun Sera tak bergerak sedikit pun. Ia tetap diam menatap kakaknya yang kini mulai meneteskan air mata.
"Katakan... siapa yang telah menyakiti Kakak?" tanya Sera dengan nada tegas.
Meskipun dia sudah menduga bahwa kakaknya tidak akan mau menceritakan apa pun.
"Aku... aku baik-baik saja..." jawab Sarah lemah yang berusaha kuat.
Benar saja, meski tubuhnya sudah tak lagi berbentuk penuh luka, ia masih berusaha melindungi suaminya.
Air mata Sera meluncur deras membasahi wajah yang sedari tadi coba tegar. Ia mengusapnya dengan kasar, lalu memalingkan wajah sejenak seolah tak sanggup melihat kakaknya.
"Pelet apa yang pria itu berikan pada Kakak, sampai Kakak hancur seperti ini, tapi Kakak masih saja bilang Kakak baik-baik saja?"
Bukannya menjawab, Sarah justru menangis tersedu-sedu menahan sesaknya selama ini.
Melihat sang Kakak, Sera tak lagi sanggup menahan diri. Tangisnya akhirnya pecah.
Wajah tegasnya seketika luluh. Ia segera merengkuh tubuh kakaknya lembut ke dalam pelukan hangatnya.
"Sudah... sudah... jangan bicara lagi... Kakak sudah aman sekarang..."
Bukannya diam, Sarah justru semakin terpukul sehingga suaranya terdengar sangat menyakitkan siapa pun yang berada didekatnya.
Sera membiarkan kakaknya menangis sepuasnya dalam pelukannya, menumpahkan segala ketakutan, kesedihan, hingga trauma berat yang dipendam selama lima tahun hidup bersama Adrian.
Tak lama kemudian, tubuh Sarah melemah dan ternyata dia sudah terlelap di dalam dekapan adiknya.
Sera menghela napas panjang. Ia tahu, sampai kapan pun Sarah takkan mau membuka mulut tentang semua yang terjadi pada dirinya sendiri.
Perlahan Sera membaringkan tubuh kakaknya di atas ranjang, lalu melangkah keluar ruangan.
Ia mengeluarkan ponsel dan segera menghubungi seseorang.
"Halo, Dion? Kamu di mana?"
"Aku sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Ada apa, Sera?"
"Dion... bolehkah kau menolongku?"
"Tentu saja. Apa itu?"
Dion ternyata adalah sahabat baiknya Sera.
"Aku mau minta tolong carikan aku orang yang bisa menyelidiki seseorang untukku."
"Tentu saja bisa. Tapi siapa yang mau kau selidiki?"
"Suami Kakakku, dan semua kehidupan Kakakku selama bersama pria itu. Beserta semua hal yang berkaitan dengan pria itu dan seluruh garis keluarganya. Aku ingin tahu semuanya, tanpa ada yang tertinggal. Nanti aku kirimkan datanya padamu."
"Baiklah, aku akan membantumu. Entah kenapa kau meminta sesuatu yang terdengar beda dari biasanya, tapi aku tahu ini pasti sangat penting bagimu."
"Terima kasih banyak, Dion."
"Sama-sama. Aku tutup dulu ya."
"Baik."
Sera kembali ke ruangan kakaknya, berdiri di ambang pintu menatap sosok Sarah yang terlelap. Tangannya mengepal erat.
Tidak sehelai rambut pun dari mereka yang akan kubiarkan lolos, batin Sera, diselimuti api dendam yang membara meluap-luap di dadanya.
_____
Keesokan harinya, Sera sudah berada di ruangannya setelah baru saja memeriksa keadaan kakaknya.
Sarah masih terlelap, tubuhnya kini demam tinggi—tanda bahwa fisik dan batinnya benar-benar sudah tak sanggup lagi menahan beban yang dipikulnya selama ini.
Tok... tok... tok...
Tak lama kemudian pintu ruangannya diketuk.
"Masuk."
Dion melangkah masuk sambil membawa sebuah amplop cokelat tebal.
"Ini semua data yang kau minta."
"Cepat juga kau mendapatkannya?"
"Tentu saja. Aku menghubungi salah satu temanku seorang detektif terbaik, dan dia langsung gercep mengerjakan semuanya," ujar Dion dengan gaya bangganya sembari mengedipkan sebelah mata.
Sera hanya tersenyum tipis, lalu meraih amplop itu.
"Terima kasih, Dion."
"Santai saja, Buk Dokter," jawab Dion sedikit bercanda.
Sera terlihat tak sabar ingin membuka amplop tersebut, namun tiba-tiba suara Dion membuat gerakannya terhenti.
"Sera..." Suara pria itu seketika berubah serius.
Sera mendongak melihat Dion.
"Apa pun nanti yang akan kau temukan di dalam itu, cobalah tenangkan hatimu. Dan kalau kau merasa belum siap, kau bisa menyimpan amplop itu dan cari waktu tepat untuk membacanya," nasehat Dion karena dia tahu pasti Sera tidak akan sanggup menerima kenyataan.
Mata Sera seketika memanas. "Kau sudah membacanya?"
"Sedikit. Aku sendiri tidak sanggup membacanya sampai habis. Yang pasti... jangan sampai kau biarkan kakakmu kembali ke tempat itu lagi."
Sera mencengkeram erat amplop di tangannya. "Kau tidak perlu khawatir, Dion. Aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan kakakku kembali ke neraka itu lagi."
"Tapi..." Lanjut Sera.
"Tapi apa? Jangan bertindak nekat," Dion mulai cemas melihat sorot mata yang menyala di wajah Sera.
"Mereka harus membayar semuanya."
Dion pun menarik kursi di hadapan meja Sera dan duduk.
Ia sengaja tak pergi, ingin melihat bagaimana reaksi sahabatnya—siap menahan jika sewaktu-waktu Sera hilang kendali.
Dion tahu Sera bukanlah sosok lemah seperti Sarah; Sera adalah wanita tangguh yang menguasai ilmu bela diri.
Sehingga dia takut, kemarahan Sera akan membuatnya melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri. Terlebih lagi, yang dilawan bukan orang sembarangan—melainkan keponakan dari si dingin Sean Vergantara, penguasa besar dunia bisnis yang berpengaruh luas.
Tangan Sera mulai membuka amplop itu siap untuk membacanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!