Pukul 08.47 pagi.
Alya Anindita berdiri di depan gedung pencakar langit setinggi tiga puluh dua lantai dengan telapak tangan yang mulai berkeringat.
Dia mendongak.
Logo Mahendra Group terpampang besar di bagian depan gedung.
Sebuah perusahaan yang selama ini hanya dia lihat dari berita bisnis dan iklan lowongan pekerjaan.
Hari ini, untuk pertama kalinya, dia akan masuk ke dalamnya.
Bukan sebagai pengunjung.
Bukan sebagai pelamar.
Tetapi sebagai karyawan.
Alya menarik napas panjang.
“Tenang.”
Dia menepuk kedua pipinya pelan.
“Kamu cuma kerja.”
Namun kalimat itu terdengar seperti kebohongan kecil.
Karena sebenarnya pekerjaan ini jauh lebih penting daripada sekadar pekerjaan.
Alya membutuhkan gaji tetap.
Sangat membutuhkan.
Beberapa bulan terakhir kondisi keluarganya tidak terlalu baik. Penghasilan ibunya tidak cukup untuk menutupi semua kebutuhan rumah. Adiknya juga sebentar lagi masuk sekolah baru.
Alya tidak ingin terus bergantung pada keluarganya.
Dia ingin membantu.
Dan ketika mendapat tawaran menjadi Executive Assistant to Director di Mahendra Group, Alya langsung menerimanya.
Gajinya jauh lebih baik daripada pekerjaan sebelumnya.
Tantangannya juga besar.
Hanya ada satu masalah.
Atasannya.
Namanya Raka Mahendra.
Menurut Maya, sahabat Alya yang bekerja di divisi lain perusahaan itu, Raka bukan tipe atasan yang mudah dihadapi.
“Dia dingin.”
“Perfeksionis.”
“Jarang senyum.”
“Tidak suka kesalahan.”
“Dan…”
Maya sempat menatap Alya serius sebelum mengatakan kalimat terakhir.
“Jangan pernah membantah dia.”
Alya waktu itu tertawa.
“Memangnya dia raja?”
Maya hanya menjawab,
“Pokoknya jangan.”
Sekarang Alya mulai menyesal sudah menertawakan nasihat itu.
Dia masuk ke gedung.
Suasana lobi sangat ramai.
Karyawan berjalan cepat dengan pakaian formal. Beberapa orang berbicara melalui telepon. Suara sepatu hak tinggi bersahutan dengan suara lift yang terbuka dan tertutup.
Alya menunjukkan kartu identitas sementara kepada resepsionis.
“Pagi. Saya Alya Anindita. Hari ini mulai bekerja sebagai Executive Assistant Pak Raka Mahendra.”
Resepsionis memeriksa komputer.
Kemudian tersenyum.
“Lantai tiga puluh dua.”
“Terima kasih.”
Alya menuju lift.
Begitu pintunya terbuka, dia masuk.
Tangannya menekan tombol 32.
Pintu tertutup.
Alya melihat pantulan dirinya pada dinding lift.
Kemeja putih.
Rok hitam.
Sepatu hak rendah.
Rambut dikuncir sederhana.
Tidak ada yang istimewa.
“Semoga hari pertama lancar.”
Lift berhenti.
TING.
Pintu terbuka.
Lantai tiga puluh dua ternyata jauh lebih sepi.
Hanya beberapa meja kerja dan ruangan-ruangan berdinding kaca.
Alya berjalan menuju meja resepsionis.
Seorang perempuan berdiri.
“Bu Alya?”
“Iya.”
“Saya Maya.”
Alya langsung tersenyum.
“Maya?”
“Iya.”
“Ya ampun, akhirnya ketemu.”
Maya tertawa.
“Kenapa?”
“Selama ini cuma ngobrol lewat chat.”
Maya mengangguk.
“Betul.”
Kemudian ekspresinya berubah sedikit serius.
“Pak Raka sudah menunggu.”
Alya melihat jam.
08.56.
“Baik.”
Maya menunjuk sebuah pintu.
“Itu ruangannya.”
Alya mengangguk.
Dia berjalan mendekati pintu kaca.
Di atasnya tertulis:
RAKA MAHENDRA
CHIEF EXECUTIVE OFFICER
Alya menarik napas.
Kemudian mengetuk.
Tidak ada jawaban.
Dia mengetuk lagi.
Tetap tidak ada.
Alya melihat Maya.
“Pak Raka di dalam?”
“Seharusnya.”
Alya mengetuk sekali lagi.
Tidak ada jawaban.
Dia mencoba membuka pintu sedikit.
Kosong.
“Pak?”
Tidak ada siapa-siapa.
Alya masuk.
Ruangan itu sangat rapi.
Meja besar.
Laptop.
Beberapa dokumen.
Sebuah rak buku.
Dan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota.
Alya berdiri di tengah ruangan.
“Katanya menunggu.”
Dia melihat jam.
08.58.
“Belum jam sembilan.”
Alya memilih berdiri sambil menunggu.
Dua menit kemudian pintu terbuka.
Alya berbalik.
Seorang pria masuk.
Dan langkahnya berhenti ketika melihat Alya.
Pria itu tinggi.
Mengenakan kemeja putih dan celana hitam.
Tidak menggunakan jas.
Lengan kemejanya digulung sampai siku.
Wajahnya tegas.
Tatapannya dingin.
Alya langsung tahu.
Raka Mahendra.
Dia buru-buru berdiri tegak.
“Selamat pagi, Pak.”
Raka tidak menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada Alya.
“Siapa Anda?”
Alya sedikit terkejut.
“Saya Alya Anindita.”
“Kenapa ada di ruangan saya?”
“Saya Executive Assistant baru Bapak.”
Raka mengernyit.
“Jam berapa Anda masuk?”
“Sekitar satu menit lalu.”
“Siapa yang mengizinkan?”
Alya menunjuk pintu.
“Saya sudah mengetuk.”
“Itu bukan jawaban.”
Alya menarik napas.
“Saya mengetuk tiga kali, Pak.”
“Saya tidak menjawab.”
“Karena itu saya pikir Bapak tidak keberatan kalau saya masuk.”
Raka menatapnya.
Alya baru sadar.
Jawabannya salah.
Maya sudah memperingatkan.
Jangan membantah.
Namun kata-kata itu sudah terlanjur keluar.
Raka berjalan ke meja.
“Duduk.”
Alya duduk.
Raka membuka sebuah map.
“CV Anda.”
“Iya.”
“Pengalaman Anda dua tahun.”
“Iya.”
“Kurang.”
Alya mengangguk.
“Saya tahu.”
“Kenapa Anda merasa bisa menangani pekerjaan ini?”
Alya berpikir sejenak.
“Karena saya cepat belajar.”
“Semua orang mengatakan itu.”
“Saya juga teliti.”
“Semua orang mengatakan itu.”
“Saya bisa bekerja di bawah tekanan.”
“Semua orang juga mengatakan itu.”
Alya menahan napas.
“Kalau begitu, Bapak ingin saya menjawab apa?”
Raka mengangkat wajah.
Alya menelan ludah.
“Maaf.”
Raka menatapnya cukup lama.
Alya mulai merasa tidak nyaman.
Kemudian dia berkata,
“Saya tidak tahu apakah saya bisa menjadi asisten terbaik Bapak.”
Alya bicara lebih pelan.
“Tapi saya bisa menjanjikan satu hal.”
“Apa?”
“Saya akan berusaha memahami cara kerja Bapak.”
Raka tidak berkata apa-apa.
Alya melanjutkan,
“Dan kalau saya melakukan kesalahan, saya akan memperbaikinya.”
Raka menutup map.
“Baik.”
Alya berkedip.
“Baik?”
“Anda diterima.”
“Benarkah?”
Raka menatapnya datar.
“Kalau tidak, Anda pikir saya mengajak Anda ke sini untuk minum kopi?”
Alya tersenyum kecil.
“Tidak, Pak.”
Raka berdiri.
“Mulai hari ini Anda mengatur semua jadwal saya.”
Dia mengambil sebuah map lain dan menyerahkannya.
Alya membuka.
Matanya membesar.
Jadwal Raka penuh.
Meeting.
Presentasi.
Makan siang dengan investor.
Rapat internal.
Panggilan video.
Bahkan ada beberapa agenda sampai malam.
Alya membaca semuanya.
“Pak.”
“Hm?”
“Ini semua jadwal Bapak?”
“Iya.”
“Bapak tidur?”
Raka menatapnya.
“Tidur.”
“Kapan?”
“Itu bukan urusan Anda.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
“Pastikan tidak ada jadwal yang bentrok.”
“Baik.”
“Semua meeting harus tepat waktu.”
“Baik.”
“Email saya harus masuk sebelum pukul delapan pagi.”
“Baik.”
“Dan jangan mengubah jadwal tanpa persetujuan saya.”
Alya berhenti.
“Baik.”
Raka kembali ke laptop.
“Mulai bekerja.”
Alya keluar.
Begitu pintu tertutup, dia menghembuskan napas panjang.
Maya yang menunggu di meja langsung menatapnya.
“Gimana?”
Alya menatapnya.
“Dia menyebalkan.”
Maya tertawa.
“Baru sepuluh menit?”
“Cukup.”
“Dia marah?”
“Tidak.”
“Berarti bagus.”
Alya duduk di mejanya.
“Dia bahkan belum senyum.”
Maya mengangkat bahu.
“Memangnya kamu berharap?”
“Tidak.”
Alya membuka laptop.
Kemudian melihat jadwal.
Dia mengerutkan kening.
“May.”
“Hm?”
“Kenapa ada dua meeting di jam yang sama?”
Maya melihat.
“Oh.”
“Ini memang bentrok.”
“Makanya kamu harus mengatur.”
Alya menghela napas.
“Kenapa dia sendiri tidak melihat?”
Maya tersenyum.
“Karena itu pekerjaanmu.”
Alya mulai bekerja.
PUKUL 10.15
Alya masuk ke ruang Raka.
“Pak.”
Raka masih membaca dokumen.
“Ya?”
“Ada dua meeting jam sebelas.”
“Saya tahu.”
Alya terdiam.
“Yang satu dengan investor.”
“Ya.”
“Yang satu dengan tim legal.”
“Ya.”
“Bapak tidak bisa menghadiri keduanya.”
Raka mengangguk.
“Pindahkan tim legal.”
Alya membuka tabletnya.
“Tidak bisa.”
Raka berhenti membaca.
“Apa?”
“Tim legal sudah mengirim konfirmasi tiga hari lalu. Mereka juga menyesuaikan jadwal dengan Bapak.”
“Pindahkan.”
Alya menatapnya.
“Kalau dipindahkan, mereka harus menunggu sampai minggu depan.”
“Lalu?”
“Menurut saya lebih baik investor yang dipindahkan.”
Raka menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena investor hanya membutuhkan empat puluh lima menit.”
“Tim legal juga.”
“Tapi investor sedang berada di Jakarta hanya hari ini.”
Raka terdiam.
Alya melanjutkan,
“Kalau Bapak setuju, saya bisa memindahkan meeting investor ke pukul dua.”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Saya ada makan siang.”
Alya menatap jadwal.
“Makan siang dengan siapa?”
Raka tidak menjawab.
Alya membaca.
Kemudian wajahnya berubah.
“Bapak punya makan siang dengan investor yang sama.”
Raka diam.
Alya menghela napas.
“Kalau begitu meeting investor dipindahkan ke setelah makan siang.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena saya ada meeting lain.”
Alya mulai kehilangan kesabaran.
“Pak…”
Raka menatapnya.
“Apa?”
“Kalau semua jadwal Bapak tidak bisa dipindahkan…”
Alya menunjuk tablet.
“Lalu saya harus memindahkan yang mana?”
Raka diam.
Alya akhirnya berkata,
“Bapak mau jadwal kosong, tapi semua kegiatan tidak boleh dipindahkan.”
Raka menatapnya.
“Benar.”
Alya mengerjapkan mata.
“Bagaimana caranya?”
“Cari.”
Alya terdiam beberapa detik.
Kemudian bergumam,
“Bapak memang menyebalkan.”
Raka mengangkat alis.
“Apa?”
Alya langsung tersenyum.
“Saya bilang, saya akan cari solusinya.”
Raka kembali melihat dokumen.
Namun ketika Alya keluar, sudut bibirnya bergerak sedikit.
PUKUL 12.30
Alya berhasil menyusun ulang jadwal.
Tidak ada meeting yang dibatalkan.
Tidak ada investor yang menunggu terlalu lama.
Dan makan siang Raka tetap berjalan.
Dia mencetak jadwal baru.
Kemudian masuk ke ruang Raka.
“Sudah selesai.”
Raka mengambil kertas itu.
Membacanya.
“Bagaimana Anda melakukannya?”
“Saya mengurangi waktu perjalanan.”
Raka menatapnya.
“Dan?”
“Saya pindahkan meeting internal ke ruang yang berbeda.”
“Dan?”
“Lima belas menit dari waktu makan siang Bapak saya gunakan untuk panggilan investor.”
Raka mengangguk.
“Bagus.”
Alya tersenyum.
“Terima kasih, Pak.”
Raka kembali membaca.
Kemudian berkata,
“Besok jangan buat jadwal seperti ini lagi.”
Alya menatapnya.
“Kenapa?”
“Terlalu padat.”
Alya hampir tertawa.
“Bukankah tadi Bapak yang mengatakan semua jadwal harus masuk?”
Raka menatapnya.
Alya langsung mengatupkan mulut.
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Raka kembali bekerja.
Alya berbalik.
Namun sebelum dia keluar, Raka berkata,
“Alya.”
Dia menoleh.
“Ya?”
“Kerjamu bagus.”
Alya terdiam.
Itu pertama kalinya sejak pagi Raka memberikan pujian.
Senyum kecil muncul di wajah Alya.
“Terima kasih.”
Dia keluar.
Raka menatap pintu yang tertutup.
Entah kenapa, ruangan itu terasa sedikit lebih ringan setelah Alya pergi.
PUKUL 17.40
Sebagian besar karyawan mulai pulang.
Alya masih bekerja.
Dia sedang menyelesaikan laporan ketika seseorang meletakkan sebuah cangkir kopi di mejanya.
Dia menoleh.
Raka.
Alya langsung berdiri.
“Pak?”
“Belum pulang?”
“Belum selesai.”
Raka melihat laptopnya.
“Besok saja.”
“Masih sedikit.”
“Besok.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Raka berbalik.
Kemudian berhenti.
“Kamu sudah makan?”
Alya terdiam.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Lupa.”
Raka mengerutkan kening.
“Jangan biasakan.”
Alya melihat cangkir kopi.
“Ini untuk saya?”
“Tidak.”
Alya menatapnya.
Raka menjawab datar,
“Saya salah ambil.”
Alya hampir tertawa.
“Bapak membeli dua kopi dan salah mengambil?”
Raka tidak menjawab.
Alya tersenyum.
“Terima kasih.”
Raka berjalan pergi.
Alya menatap kopi tersebut.
Kemudian tersenyum sendiri.
“Bos aneh.”
HARI PERTAMA
Pukul 18.05.
Alya akhirnya pulang.
Dia berdiri di depan lift.
Pintu hampir tertutup ketika tangan seseorang menahannya.
Raka.
Alya terkejut.
“Bapak belum pulang?”
“Belum.”
Mereka masuk bersama.
Hening.
Alya menekan tombol lantai dasar.
Raka berdiri di sampingnya.
Beberapa detik kemudian Alya berkata,
“Pak.”
“Ya?”
“Bapak memang selalu sesibuk ini?”
“Iya.”
“Tidak capek?”
“Sudah terbiasa.”
Alya mengangguk.
Kemudian berkata,
“Kalau begitu mulai besok saya akan kosongkan waktu makan Bapak.”
Raka menatapnya.
“Tidak perlu.”
“Perlu.”
“Kenapa?”
“Karena kalau Bapak sakit, saya yang repot.”
Raka diam.
Alya tersenyum.
“Jadi jangan sakit.”
Pintu lift terbuka.
Alya keluar.
“Selamat malam, Pak.”
Raka masih berdiri di dalam lift.
“Selamat malam.”
Pintu tertutup.
Raka melihat pantulan dirinya.
Entah kenapa dia tersenyum kecil.
Hari ini dia mendapatkan asisten baru.
Perempuan yang berani membantahnya.
Perempuan yang membuat jadwalnya lebih teratur.
Perempuan yang mengomel karena dia tidak makan.
Raka menggeleng.
“Baru sehari.”
Namun ada satu hal yang belum dia sadari.
Suatu hari nanti, suara perempuan itu akan menjadi bagian dari kesehariannya.
Dan ketika suara itu tiba-tiba hilang…
Raka akan menjadi orang pertama yang merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Tetapi hari itu masih jauh.
Untuk sekarang, mereka hanyalah—
seorang bos yang terlalu dingin dan seorang asisten yang terlalu berani.
Dan mereka belum tahu bahwa pertengkaran kecil di antara mereka…
akan menjadi awal dari sebuah cinta yang tidak pernah mereka rencanakan.
Hari kedua Alya di Mahendra Group dimulai dengan satu kesimpulan.
Bosnya benar-benar menyebalkan.
Pukul 07.45, Alya sudah duduk di mejanya.
Laptop menyala.
Kopi di samping tangan.
Jadwal Raka untuk hari itu sudah dia susun ulang sejak pukul enam pagi.
Dia bahkan membuat tiga versi.
Versi pertama kalau meeting berjalan sesuai rencana.
Versi kedua kalau investor datang terlambat.
Dan versi ketiga kalau Raka tiba-tiba membatalkan salah satu agenda.
Alya menatap tiga lembar jadwal itu.
“Semoga hari ini tidak ada drama.”
Maya yang duduk di meja sebelah menoleh.
“Kamu ngomong begitu setiap pagi?”
“Baru hari kedua.”
“Justru itu.”
Alya mengerutkan kening.
“Apa?”
Maya menunjuk ke arah pintu ruang Raka.
“Selama dua tahun aku kerja di sini, belum pernah ada asisten yang membuat Pak Raka terlihat…”
Dia berhenti.
“Terlihat apa?”
“Sedikit lebih manusia.”
Alya tertawa.
“Dia tetap menyebalkan.”
Maya ikut tertawa.
“Berarti masih normal.”
Alya kembali menatap layar.
Pukul 07.59.
Satu menit sebelum Raka biasanya datang.
Dia membuka email.
Ada enam belas email baru.
Sebagian besar berkaitan dengan agenda hari itu.
Alya mulai memilah.
Pukul 08.03.
Pintu lift terbuka.
Raka keluar.
Seperti biasa.
Kemeja putih.
Celana hitam.
Wajah tanpa ekspresi.
Dia berjalan melewati meja Alya tanpa berhenti.
Alya berdiri.
“Selamat pagi, Pak.”
Raka berhenti.
“Pagi.”
Kemudian dia melanjutkan langkah.
Alya duduk kembali.
Maya berbisik,
“Dia menjawab.”
“Memangnya kenapa?”
“Biasanya cuma angguk.”
Alya mengangkat bahu.
“Berarti mood-nya bagus.”
Maya tersenyum.
“Semoga.”
PUKUL 08.15
Alya baru selesai membuka email ketika telepon di mejanya berdering.
“Selamat pagi, ruang Direktur Raka. Alya berbicara.”
Suara di seberang terdengar panik.
“Bu Alya, dari tim legal. Meeting dengan Pak Raka pagi ini bisa dimajukan?”
Alya membuka jadwal.
“Jam sepuluh?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Pak Dimas harus ke bandara siang ini.”
Alya berpikir.
“Baik. Saya cek dulu.”
Dia menutup telepon.
Kemudian berdiri.
Masuk ke ruangan Raka.
Raka sedang membaca dokumen.
“Pak.”
“Ya?”
“Tim legal meminta meeting dimajukan ke pukul sembilan.”
“Tidak.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Dia berbalik.
“Alya.”
Dia menoleh.
“Kenapa tidak?”
“Karena jam sembilan saya ada panggilan dengan Singapura.”
Alya melihat tabletnya.
“Benar.”
“Jadi?”
“Kalau begitu tetap jam sepuluh.”
“Ya.”
Alya keluar.
Belum sampai lima menit, teleponnya kembali berbunyi.
Tim legal.
“Bu Alya?”
“Iya?”
“Pak Dimas benar-benar tidak bisa jam sepuluh.”
Alya menutup mata sebentar.
“Baik. Saya coba cari waktu.”
Dia melihat jadwal Raka.
Tidak ada ruang.
Satu-satunya waktu kosong adalah pukul 12.30.
Alya masuk lagi.
“Pak.”
Raka mengangkat wajah.
“Apa lagi?”
“Meeting legal tidak bisa jam sepuluh.”
“Lalu?”
“Bisa pukul dua belas tiga puluh.”
Raka menggeleng.
“Saya makan siang.”
Alya diam.
Kemudian berkata,
“Pak.”
“Hm?”
“Bapak makan siang berapa lama?”
“Empat puluh lima menit.”
“Kalau tiga puluh menit?”
“Tidak.”
“Dua puluh lima?”
Raka menatapnya.
“Tidak.”
“Dua puluh?”
“Tidak.”
Alya menarik napas.
“Lima belas?”
Raka meletakkan pena.
“Anda sedang menawar waktu makan siang saya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena saya sedang berusaha menyelamatkan jadwal Bapak.”
Raka diam.
Alya menunjuk tabletnya.
“Kalau meeting legal tidak dilakukan hari ini, kontrak ini tertunda.”
“Kontraknya bisa menunggu.”
“Bisa.”
“Lalu masalahnya?”
“Masalahnya, pihak legal sudah menunggu sejak minggu lalu.”
Raka terdiam.
Alya menambahkan,
“Dan mereka meminta waktu Bapak hanya tiga puluh menit.”
Raka melihat jam.
“Dua belas tiga puluh.”
Alya tersenyum.
“Baik.”
“Lima belas menit makan siang.”
Alya berhenti.
“Bapak serius?”
“Ya.”
“Bapak mau makan dalam lima belas menit?”
“Bisa.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Dia keluar.
Namun baru dua langkah dari pintu—
“Alya.”
Dia menoleh lagi.
“Ya, Pak?”
“Jangan terlalu banyak mengatur.”
Alya tersenyum.
“Saya dibayar untuk mengatur jadwal Bapak.”
Raka terdiam.
Alya langsung keluar.
Dari luar dia bisa mendengar Maya menahan tawa.
PUKUL 12.25
Alya berdiri di depan ruang meeting.
Semuanya sudah siap.
Tim legal sudah datang.
Dokumen sudah tersedia.
Laptop sudah terhubung.
Raka keluar dari ruangannya.
“Ayo.”
Mereka berjalan bersama.
Di tengah jalan, ponsel Raka berbunyi.
Dia melihat layar.
“Meeting ini dibatalkan.”
Alya berhenti.
“Apa?”
“Investor Singapura meminta video conference sekarang.”
“Tapi meeting legal—”
“Pindahkan.”
Alya memandangnya tidak percaya.
“Pak.”
“Apa?”
“Kita sudah sampai depan ruang meeting.”
“Saya tahu.”
“Tim legal sudah menunggu.”
“Saya tahu.”
“Bapak sendiri yang menyetujui.”
“Saya berubah pikiran.”
Alya menatapnya.
Untuk beberapa detik dia tidak mengatakan apa-apa.
Kemudian menarik napas.
“Baik.”
Raka berjalan kembali.
Namun baru beberapa langkah, Alya berkata,
“Pak.”
Raka berhenti.
“Kenapa?”
“Bapak mau saya mengubah semuanya?”
“Ya.”
“Baik.”
Alya mengambil tabletnya.
“Kalau begitu saya juga berubah pikiran.”
Raka menoleh.
“Apa maksudnya?”
Alya tersenyum.
“Meeting legal tetap jalan.”
Raka mengerutkan kening.
“Saya bilang—”
“Saya dengar.”
“Lalu?”
“Bapak punya dua pilihan.”
Alya mengangkat dua jari.
“Pertama, Bapak tetap ikut meeting legal selama tiga puluh menit.”
“Dan kedua?”
“Bapak ikut video conference investor dari ruang meeting legal.”
Raka menatapnya.
“Tidak bisa.”
“Bisa.”
“Kenapa?”
“Karena saya sudah menghubungi pihak Singapura.”
Raka terdiam.
“Mereka setuju menunggu tiga puluh menit.”
Alya tersenyum.
“Masalah selesai.”
Raka menatapnya.
“Bagaimana Anda bisa membuat mereka setuju?”
“Saya bilang direktur kami sedang menyelesaikan masalah kontrak yang nilainya jauh lebih besar.”
Raka terdiam.
Alya melanjutkan,
“Tidak bohong.”
Raka menatapnya lama.
Kemudian berkata,
“Baik.”
Alya tersenyum.
“Terima kasih.”
Mereka masuk ke ruang meeting.
Dimas, kepala tim legal, berdiri.
“Pak Raka, maaf—”
“Tidak apa-apa.”
Raka duduk.
Alya berdiri di belakangnya.
Dimas menatap Alya.
“Bu Alya yang mengatur semuanya?”
Alya mengangguk.
Dimas tersenyum.
“Bagus.”
Raka langsung menoleh.
“Kenapa?”
Dimas tertawa.
“Tidak apa-apa.”
Namun Alya melihat sesuatu.
Dimas seperti sedang menggoda Raka.
Dan anehnya—
Raka terlihat sedikit tidak nyaman.
PUKUL 13.10
Meeting selesai.
Raka keluar.
Alya mengikuti.
“Pak.”
“Ya?”
“Video conference lima menit lagi.”
“Baik.”
“Bapak belum makan.”
“Saya tahu.”
“Jadi makan dulu.”
“Tidak sempat.”
Alya berhenti.
“Bapak.”
Raka menoleh.
“Kenapa?”
“Kalau Bapak pingsan di depan investor, saya tidak akan ikut mengangkat.”
Raka menatapnya.
Kemudian—
dia tertawa kecil.
Sangat kecil.
Hampir tidak terdengar.
Alya membeku.
Dia belum pernah melihat Raka tertawa.
“Bapak…”
“Apa?”
“Bapak bisa tertawa juga?”
Wajah Raka kembali datar.
“Tidak.”
“Tadi tertawa.”
“Tidak.”
Alya tersenyum.
“Saya lihat.”
“Anggap saja tidak pernah terjadi.”
“Baik.”
Alya berjalan pergi.
Raka mengikutinya.
“Dan jangan cerita kepada siapa pun.”
Alya menoleh.
“Rahasia?”
“Ya.”
Alya tersenyum.
“Baik, Pak.”
PUKUL 17.30
Hari mulai sore.
Alya sedang merapikan dokumen ketika Dimas datang.
“Bu Alya.”
“Iya?”
“Terima kasih tadi.”
“Untuk?”
“Sudah menyelamatkan meeting.”
Alya tersenyum.
“Sama-sama.”
Dimas meletakkan sebuah kotak kecil di meja.
“Ini.”
Alya membuka.
Kue.
“Untuk saya?”
“Iya.”
“Wah, terima kasih.”
Dimas tersenyum.
“Besok saya traktir makan siang.”
Alya tertawa.
“Tidak perlu.”
“Tidak apa-apa.”
Dimas pergi.
Alya tidak menyadari bahwa dari balik kaca ruangannya, Raka melihat semuanya.
Raka menatap kotak kue di meja Alya.
Kemudian kembali ke laptop.
Namun entah kenapa—
dia tidak bisa berkonsentrasi.
Beberapa menit kemudian, dia keluar.
“Alya.”
Alya berdiri.
“Ya, Pak?”
“Dokumen investor sudah dikirim?”
“Sudah.”
“Yang legal?”
“Sudah.”
“Jadwal besok?”
“Sudah.”
Raka melihat meja Alya.
Kotak kue.
“Dapat dari siapa?”
Alya mengangkat alis.
“Dimas.”
“Kenapa?”
“Katanya terima kasih.”
Raka mengangguk.
“Oh.”
Dia berbalik.
Alya menatap punggungnya.
“Pak.”
Raka berhenti.
“Ya?”
“Bapak mau?”
Dia menunjuk kotak kue.
Raka menoleh.
“Tidak.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Padahal enak.”
Raka diam.
Alya tersenyum.
“Kalau berubah pikiran, ambil saja.”
Raka mengangguk.
Kemudian kembali ke ruangannya.
Lima menit kemudian—
dia keluar lagi.
Alya menatapnya.
“Pak?”
Raka mengambil satu potong kue.
“Ini untuk saya.”
Alya tertawa.
“Katanya tidak mau?”
“Saya berubah pikiran.”
Alya menggeleng.
“Bapak memang suka berubah pikiran.”
Raka menatapnya.
“Masalah?”
“Tidak.”
Alya tersenyum.
“Sudah saya duga.”
PUKUL 18.20
Kantor mulai sepi.
Alya mematikan laptop.
Maya sudah pulang lebih dulu.
Dia mengambil tas.
Saat melewati ruang Raka, pintunya masih terbuka.
Raka sedang bekerja.
Alya mengetuk.
“Pak.”
“Ya?”
“Saya pulang.”
Raka melihat jam.
“Jam berapa?”
“Enam lewat dua puluh.”
“Besok datang pukul delapan.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Dia berbalik.
Namun Raka memanggilnya.
“Alya.”
Dia menoleh.
“Besok pagi…”
Raka berhenti sebentar.
“Buatkan jadwal saya lebih longgar.”
Alya mengangkat alis.
“Bapak yang kemarin bilang jangan terlalu banyak mengatur?”
Raka menatapnya.
“Saya berubah pikiran.”
Alya tertawa kecil.
“Baik, Pak.”
Dia pergi.
Raka kembali bekerja.
Namun beberapa menit kemudian, dia melihat ke arah pintu.
Kosong.
Entah kenapa, hari itu terasa sedikit berbeda.
Biasanya dia tidak peduli ketika karyawan pulang.
Tetapi sekarang…
dia baru menyadari bahwa meja di luar ruangannya sudah kosong.
Dan untuk pertama kalinya—
Raka merasa ruangan itu terlalu sunyi.
Dia mengerutkan kening.
“Kenapa saya memperhatikan itu?”
Dia kembali bekerja.
Tidak menemukan jawabannya.
Belum.
MALAM ITU
Alya sedang berada di dalam bus ketika ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Raka Mahendra.
Alya langsung duduk tegak.
Pesannya singkat.
Besok jangan terlambat.
Alya mengetik:
Saya tidak pernah terlambat, Pak.
Pesan berikutnya masuk.
Hari ini hampir.
Alya membalas:
08.47 bukan terlambat.
Raka:
Jam kerja 08.00.
Alya:
Bapak sendiri datang 08.03.
Tidak ada balasan.
Alya tersenyum.
“Menang.”
Beberapa detik kemudian—
ponselnya berbunyi lagi.
Besok saya datang lebih awal.
Alya tertawa.
Dia mengetik:
Bagus. Saya tunggu.
Raka membaca pesan itu cukup lama.
Kemudian tanpa sadar tersenyum.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama…
dia menantikan hari kerja berikutnya.
Bukan karena meeting.
Bukan karena investor.
Bukan karena bisnis.
Tetapi karena seseorang akan datang ke mejanya pukul delapan pagi—
dan kemungkinan besar akan membuatnya kesal.
Dan anehnya…
Raka mulai menyukai itu.
Pukul 07.52 pagi.
Alya berjalan cepat menuju lift sambil memegang dua gelas kopi dan sebuah map biru.
Hari itu dia sengaja datang lebih awal.
Bukan karena takut pada Raka.
Setidaknya begitu yang dia katakan kepada dirinya sendiri.
Dia hanya ingin membuktikan bahwa dirinya tidak terlambat.
Apalagi setelah percakapan mereka semalam.
Besok saya datang lebih awal.
Kalimat Raka masih teringat.
Alya tersenyum kecil.
“Ya sudah. Kita lihat siapa yang datang duluan.”
Pintu lift terbuka.
Alya masuk.
Begitu sampai di lantai tiga puluh dua, dia langsung menuju mejanya.
Jam menunjukkan 07.56.
Dia meletakkan tas.
Menyalakan laptop.
Kemudian melihat ke arah ruang Raka.
Lampunya sudah menyala.
Alya mengernyit.
“Serius?”
Dia melihat jam lagi.
07.57.
Raka sudah datang.
Alya mengambil kedua kopi yang dibawanya dan masuk ke ruang Raka.
Dia mengetuk.
“Masuk.”
Alya membuka pintu.
“Selamat pagi, Pak.”
Raka sedang berdiri di dekat jendela.
Dia menoleh.
“Pagi.”
Alya mengangkat salah satu gelas.
“Saya bawakan kopi.”
Raka menatap gelas tersebut.
“Untuk saya?”
“Bukan.”
Raka mengangkat alis.
Alya tersenyum.
“Untuk saya. Yang satunya…”
Dia berhenti.
“Untuk Bapak.”
Raka mengambil gelas itu.
“Terima kasih.”
Alya menatapnya.
Raka menyadarinya.
“Apa?”
“Tidak ada.”
“Kenapa melihat saya seperti itu?”
“Saya cuma baru tahu Bapak bisa bilang terima kasih.”
Raka menghela napas.
“Keluar.”
Alya tertawa.
“Baik, Pak.”
Dia berbalik.
“Alya.”
Dia menoleh.
“Ya?”
Raka menunjuk gelas kopi.
“Ini kopi apa?”
“Americano.”
“Tanpa gula?”
“Iya.”
“Bagaimana Anda tahu saya minum tanpa gula?”
Alya tersenyum.
“Dua hari ini saya lihat.”
Raka terdiam.
Alya keluar.
Pintu tertutup.
Raka menatap gelas kopi di tangannya.
Kemudian melihat ke arah pintu.
Entah kenapa kalimat sederhana tadi terus terngiang.
Dua hari ini saya lihat.
Dia baru sadar bahwa Alya ternyata memperhatikan kebiasaannya.
Dan yang lebih aneh—
dia tidak merasa terganggu.
---
PUKUL 08.30
Hari itu seharusnya berjalan tenang.
Seharusnya.
Namun ketenangan hanya bertahan selama tiga puluh menit.
Ponsel Alya berbunyi.
Email baru masuk dari salah satu klien besar.
Meeting dimajukan ke pukul 10.00.
Alya langsung berdiri.
Dia membawa tablet menuju ruang Raka.
“Pak.”
“Ya?”
“Meeting dengan PT Arunika dimajukan.”
“Jam berapa?”
“Jam sepuluh.”
Raka melihat jam.
“Tidak bisa.”
“Mereka meminta.”
“Saya punya presentasi internal jam sembilan tiga puluh.”
“Bisa selesai.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena presentasinya dua jam.”
Alya melihat jadwal.
“Bisa dipersingkat.”
“Tidak.”
“Pak.”
Raka mengangkat wajah.
“Apa?”
“Bapak sendiri yang kemarin bilang saya harus membuat jadwal lebih longgar.”
“Benar.”
“Kalau begitu saya akan mengatur ulang.”
“Jangan.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Saya tidak suka perubahan mendadak.”
Alya menatapnya beberapa detik.
Kemudian berkata,
“Bapak sadar tidak kalau Bapak sendiri yang paling sering membuat perubahan mendadak?”
Raka terdiam.
Alya langsung sadar.
Dia baru saja memulai pertengkaran pagi-pagi.
“Maaf.”
Raka bersandar di kursinya.
“Lanjutkan.”
Alya berkedip.
“Lanjutkan apa?”
“Argumentasi Anda.”
Alya menatapnya.
Raka tampak serius.
Akhirnya Alya menghela napas.
“Kalau presentasi internal dipadatkan menjadi satu jam, Bapak masih punya waktu untuk meeting klien pukul sepuluh.”
“Tidak cukup.”
“Cukup kalau materi yang tidak penting dihapus.”
“Materi yang tidak penting menurut siapa?”
“Menurut saya.”
“Dan Anda sudah membaca semuanya?”
“Sudah.”
Raka menatapnya.
Alya menunggu.
Akhirnya Raka berkata,
“Baik.”
Alya tersenyum.
“Baik?”
“Padatkan presentasi.”
“Siap.”
“Dan…”
Raka menunjuk tablet Alya.
“Jangan sampai ada materi penting yang hilang.”
Alya mengangguk.
“Tidak akan.”
Dia keluar.
Namun saat menutup pintu, Alya tersenyum puas.
Satu kemenangan kecil.
---
PUKUL 09.25
Presentasi dimulai.
Alya berdiri di belakang ruangan.
Dia memperhatikan Raka menjelaskan laporan perusahaan.
Berbeda dari saat berada di ruangannya, Raka terlihat sangat berbeda ketika bekerja.
Tegas.
Percaya diri.
Tenang.
Semua orang mendengarkan.
Alya bahkan sempat berpikir,
Pantas saja dia bisa menjadi direktur.
Namun lima belas menit kemudian, Raka menoleh kepadanya.
“Alya.”
“Iya?”
“Slide berikutnya.”
Alya segera mengganti.
Raka melanjutkan.
Kemudian tiba-tiba dia berhenti.
“Kenapa angka ini berbeda?”
Alya melihat layar.
Angka pendapatan kuartal kedua ternyata berbeda dengan data yang ada di dokumen.
Dia langsung membuka laptop.
“Sebentar, Pak.”
Raka menunggu.
Alya mencari file.
Tidak ditemukan.
Dia membuka email.
Ada revisi baru.
“Pak.”
“Apa?”
“File yang Bapak pegang versi lama.”
Raka mengerutkan kening.
“Kenapa saya diberikan yang lama?”
Alya terdiam.
“Saya akan cek.”
Dia melihat siapa yang mengirim.
Ternyata file tersebut dikirim oleh salah satu staf keuangan.
Alya segera menghubungi orang tersebut.
“Pak, file yang dikirim ke Direktur versi lama.”
Suara di seberang terdengar panik.
“Serius, Bu?”
“Iya.”
“Maaf, Bu. Saya kirim ulang.”
Alya menerima file.
Dia segera mengganti.
“Sudah, Pak.”
Raka melihat layar.
“Lanjut.”
Presentasi berjalan kembali.
Tidak ada masalah.
Setelah selesai, Raka memanggil Alya.
“Masuk.”
Alya masuk.
“Ya, Pak?”
“Terima kasih.”
Alya mengangguk.
“Untuk?”
“Menangani tadi.”
Alya tersenyum.
“Sama-sama.”
Raka melihatnya.
“Kamu tidak panik.”
“Panik.”
“Tapi tidak terlihat.”
Alya tertawa kecil.
“Kalau saya ikut panik, nanti siapa yang membantu Bapak?”
Raka terdiam.
Kemudian berkata,
“Benar.”
Alya hendak keluar.
Namun Raka kembali memanggil.
“Alya.”
“Ya?”
“Bagus.”
Alya tersenyum.
“Terima kasih, Pak.”
Kali ini pujian itu terasa berbeda.
Karena Raka tidak mengatakannya sebagai formalitas.
Dia benar-benar mengakuinya.
---
PUKUL 11.30
Meeting dengan klien selesai lebih cepat dari perkiraan.
Alya keluar dari ruangan bersama Raka.
Klien mereka, seorang pria bernama Dimas Pratama, ikut berjalan bersama mereka.
Dimas adalah salah satu manajer senior yang cukup sering bekerja dengan Raka.
Namun hari itu, Dimas justru lebih banyak berbicara dengan Alya.
“Bu Alya.”
“Iya?”
“Terima kasih sudah mengatur jadwal tadi.”
“Sama-sama.”
“Kalau semua asisten seperti Anda, pekerjaan saya pasti lebih mudah.”
Alya tertawa.
“Wah, jangan bilang begitu. Nanti saya besar kepala.”
Dimas ikut tertawa.
Raka berjalan di depan mereka.
Dia tidak ikut berbicara.
Namun langkahnya sedikit melambat.
Dimas melanjutkan,
“Besok Anda makan siang di kantor?”
“Sepertinya.”
“Kalau begitu saya traktir.”
Alya hendak menjawab.
Namun Raka tiba-tiba berhenti.
“Alya.”
Alya menoleh.
“Ya, Pak?”
“Pukul dua ada meeting.”
Alya membuka tabletnya.
“Tidak ada, Pak.”
“Sekarang ada.”
Alya menatapnya.
“Dengan siapa?”
Raka menjawab datar,
“Dengan saya.”
Dimas tersenyum.
“Bukankah meeting itu besok?”
Raka menatap Dimas.
“Sekarang dimajukan.”
Alya langsung tahu.
Raka sedang melakukan sesuatu.
Dia hanya tidak tahu apa.
Dimas mengangkat tangan.
“Baiklah. Saya tidak ganggu.”
Dia pergi.
Alya menunggu sampai Dimas cukup jauh.
Kemudian menatap Raka.
“Pak.”
“Apa?”
“Bapak tidak punya meeting pukul dua.”
“Sekarang punya.”
“Dengan siapa?”
“Dengan Anda.”
Alya mengerutkan kening.
“Meeting apa?”
Raka diam sebentar.
“Evaluasi kerja.”
Alya menatapnya.
“Bukankah evaluasi kerja biasanya setelah beberapa bulan?”
“Tidak untuk Anda.”
“Kenapa?”
“Karena Anda baru tiga hari bekerja.”
“Justru itu.”
“Makanya harus dievaluasi.”
Alya menghela napas.
“Bapak aneh.”
Raka berjalan pergi.
“Jam dua.”
Alya mengikutinya.
“Pak.”
“Apa lagi?”
“Meeting-nya tentang apa?”
“Banyak.”
“Contohnya?”
Raka menoleh.
“Kenapa Anda banyak bertanya?”
Alya tersenyum.
“Karena Bapak banyak membuat saya penasaran.”
Raka terdiam.
Untuk beberapa detik, mereka saling menatap.
Alya baru sadar kalimatnya bisa terdengar berbeda.
Dia buru-buru berkata,
“Dalam konteks pekerjaan.”
Raka mengangguk.
“Bagus.”
Kemudian dia pergi.
Alya menatap punggungnya.
“Kenapa tadi suasananya aneh?”
---
PUKUL 14.00
Alya masuk ke ruang Raka.
“Pak.”
“Duduk.”
Alya duduk.
Raka membuka sebuah dokumen.
“Bagaimana menurut Anda pekerjaan ini?”
Alya mengerutkan kening.
“Pekerjaan saya?”
“Ya.”
“Sejauh ini?”
“Ya.”
Alya berpikir.
“Berat.”
Raka mengangkat alis.
“Berat?”
“Iya.”
“Karena?”
“Karena Bapak.”
Raka menatapnya.
Alya langsung tersenyum.
“Bercanda.”
“Jelaskan.”
Alya menghela napas.
“Bapak sering mengubah keputusan.”
“Contoh?”
“Jadwal.”
“Selain itu?”
“Meeting.”
“Selain itu?”
“Waktu makan.”
Raka hampir tersenyum.
Alya melanjutkan,
“Tapi…”
“Apa?”
“Bapak sebenarnya tidak sulit.”
Raka menatapnya.
“Tidak sulit?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena Bapak jelas.”
“Jelas?”
“Bapak tahu apa yang Bapak mau.”
Alya berhenti sebentar.
“Hanya saja kadang cara menyampaikannya membuat orang takut.”
Raka terdiam.
“Dan Anda tidak takut?”
Alya tersenyum.
“Sedikit.”
“Sedikit?”
“Lumayan.”
Raka tertawa kecil.
Alya kembali memperhatikan.
“Kok Bapak akhir-akhir ini sering ketawa?”
Raka langsung kembali datar.
“Tidak.”
“Tadi ketawa.”
“Tidak.”
“Saya lihat.”
“Lupakan.”
Alya tersenyum.
“Baik.”
Raka menutup dokumen.
“Saya rasa cukup.”
Alya berdiri.
“Jadi ini evaluasi?”
“Ya.”
“Dan?”
“Lanjutkan.”
Alya tersenyum.
“Baik.”
Dia hendak keluar.
“Dan Alya.”
Dia menoleh.
“Ya?”
“Besok…”
Raka berhenti.
“Datang seperti biasa.”
Alya mengangguk.
“Pasti.”
---
MALAM
Hari ketiga selesai.
Alya pulang pukul 18.00.
Namun sebelum meninggalkan gedung, dia menerima pesan dari Raka.
> Besok jangan bawa kopi.
Alya mengerutkan kening.
Dia membalas:
> Kenapa?
Raka:
> Saya sudah punya.
Alya:
> Baik.
Beberapa detik kemudian:
> Tapi kalau mau bawa, tidak masalah.
Alya tertawa.
Dia membalas:
> Bapak ini sebenarnya mau atau tidak?
Tidak ada jawaban.
Alya memasukkan ponsel ke tas.
“Dasar.”
Dia pulang.
---
PAGI BERIKUTNYA
Pukul 08.02.
Alya datang ke meja.
Dia membawa dua kopi.
Satu untuk dirinya.
Satu untuk Raka.
Dia tidak tahu kenapa.
Padahal Raka sudah bilang tidak perlu.
Namun ketika dia meletakkan kopi itu di meja Raka, dia melihat sesuatu.
Di meja Raka sudah ada kopi.
Satu gelas.
Americano tanpa gula.
Alya tersenyum.
“Bapak sudah punya.”
Raka menatap kopi yang dibawa Alya.
“Ya.”
Alya hendak mengambilnya kembali.
“Kalau begitu saya minum sendiri.”
Namun Raka mengambil gelas tersebut.
“Yang ini untuk saya.”
Alya terdiam.
“Bukankah Bapak sudah punya?”
Raka melihat dua gelas kopi.
“Saya punya dua tangan.”
Alya tertawa.
“Bapak ternyata serakah.”
Raka mengangkat alis.
“Kamu mau?”
“Tidak.”
“Bagus.”
Alya kembali ke mejanya.
Namun beberapa menit kemudian, Raka menyadari sesuatu.
Kopi yang dibawa Alya terasa lebih enak daripada kopi yang biasa dia pesan.
Dia melihat gelas itu.
Kemudian tanpa sadar berkata,
“Besok bawa lagi.”
Alya yang berada di luar langsung menoleh.
“Bapak bilang apa?”
Raka terdiam.
“Saya bilang…”
Dia mencari alasan.
“Jangan terlambat.”
Alya tersenyum.
“Padahal saya dengar Bapak bilang bawa lagi.”
Raka tidak menjawab.
Alya tertawa.
“Baik, Pak.”
Dia kembali bekerja.
Raka menatapnya dari balik kaca.
Ada sesuatu yang mulai berubah.
Kecil.
Hampir tidak terlihat.
Namun dia mulai menunggu sesuatu dari Alya.
Bukan hanya pekerjaan.
Bukan hanya jadwal.
Bukan hanya kopi.
Tetapi kehadirannya.
Dan tanpa disadari Raka…
kebiasaan itu akan menjadi masalah.
Karena semakin seseorang terbiasa dengan kehadiran orang lain—
semakin terasa ketika orang itu tidak ada.
Dan Raka belum tahu bahwa sebentar lagi dia akan merasakan itu untuk pertama kalinya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!