Indonesia
NovelToon NovelToon

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Mimpi yang sama : 01

Setting, awal tahun 2000-an

...----------------...

“Bu, apa gak bisa kita di kota Kabupaten saja?” Biar Ayah yang sebulan sekali datang kemari?” tanya anak laki-laki berumur 11 tahun.

Wanita yang sedang melipat pakaian lalu dimasukkan ke dalam kardus, menghentikan kegiatannya. Ia menatap hangat putra sulungnya bernama Guntur Aryan.

“Guntur, kasihan Ayah sendirian ditempat baru. Dia pasti menahan rindu. Kangen hidup bareng kita,” ucapnya lembut memberi pengertian.

Anak laki-laki tadi balas menatap wajah ibunya yang paling cantik. Menurutnya. “Tapi aku gak suka tempat baru, terus harus nyari temen lagi, pindah sekolah juga.”

Hamima menutup atas kardus. Ia dekati anak laki-lakinya yang memiliki sifat pendiam, sedikit sulit bersosialisasi. Dipeluknya bahu sempit sampai kepala Guntur bersandar pada dada. “Ada Ibu, dan adikmu Pujiara. Kalau sekiranya kamu kesulitan mencari teman, jangan dipaksakan, pelan-pelan saja, Nak.”

Dalam dekapan hangat cinta pertamanya, suara Guntur terdengar parau, ia tengah menahan tangis. “Apa kita gak bisa pindah ke desa nenek dan kakek saja, Bu? Kan, disana juga dekat dengan sekolah dasar.”

“Ya gak bisa, Guntur. Ayah pindah tugas mengajarnya bukan di desa nenek dan kakekmu, Nak.” Hamima mengurai pelukan mereka, meletakkan tangan di pundak putranya. “Semua akan baik-baik saja, awalnya memang sedikit tidak nyaman. Setelah nanti kamu bisa beradaptasi, Ibu yakin … Guntur langsung betah, enggan pindah lagi.”

Sepasang mata berkaca-kaca menatap ragu. Ia pun mengungkapkan kegundahan hatinya. Hanya kepada sang ibu dirinya mau bercerita apa saja.

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Sejenak Hamima termangu, lalu mencoba menyalurkan energi positif lewat sorot mata penuh percaya diri tanpa menyinggung perasaan sensitif Guntur. “Nak, gak semua mimpi menjadi kenyataan, bisa jadi hanya bunga tidur, efek kamu kelelahan sebab seharian bermain kejar-kejaran bersama temanmu.”

Jika sudah seperti ini, anak beranjak remaja tersebut tidak lagi mau berbicara. Dia mengangguk pelan, kembali mengemasi buku-buku sekolah kedalam kardus.

“Bu, Buuu ….” celoteh bayi perempuan yang sudah bosan bermain memukul lantai menggunakan sendok, menarik atensi wanita memiliki fisik sedikit gemuk karena masih masa menyusui.

“Adek Ara bosan ya? Main sama mas Guntur dulu, Nak. Ibu mau beresin pakaian kalian, biar besok pas mobil yang dikirim Ayah untuk jemput kita tiba, bisa langsung berangkat.” Dielusnya pelan rambut lembut kepala si bungsu yang baru berumur jalan 11 bulan.

Guntur langsung meninggalkan pekerjaannya, ia menggendong bayi berbadan berisi, memakai rok tutu dan kaos singlet. Membawa Ara bermain di teras.

Tinggallah Hamima atau sering dipanggil Mima. Hembusan napas terasa berat, ia pandangi ruang tengah hunian sudah belasan tahun ditinggali.

“Sebenarnya Ibu juga enggan pindah dari sini Guntur. Tapi apa mau dikata, ayahmu dipindahtugaskan ke pelosok desa, dan disanalah kini tempatnya mengabdi sebagai guru olahraga,” gumamnya pelan.

Suami Hamima — Galih Aryan, adalah seorang guru pegawai negeri sipil. Tiga bulan yang lalu beliau sudah lebih dulu pindah ke tempat baru. Memastikan apa di sana nyaman serta aman untuk membawa keluarganya tinggal.

Dua jam kemudian, kardus-kardus sudah diisolasi bagian penutup, bertumpuk rapi di dekat pintu utama rumah. Tidak banyak barang yang dibawa, sebab hunian baru mereka di desa sudah lengkap dengan perabotannya.

Malam pun semakin beranjak, Hamima dan kedua anaknya berbaring di ranjang kayu berukuran besar.

Esok, mereka akan memulai kehidupan baru ditempat asing, dan rumah ini berpindah kepemilikan. Telah laku dijual.

Hihihihi … hihihihi ….

“Ibu tolong, Bu! Jangan mendekat! Pergi! Pergi!”

Akhh!

Heuuha heuhaa ….

“Guntur!” Mima tersentak dari tidurnya, langsung terduduk, dan merasa pusing, kepalanya berdenyut-denyut.

Wajah Guntur memucat, berkeringat, dan badannya menggigil. Tatapan kosong dengan napas tersengal-sengal.

Lengkingan tangis Pujiara memenuhi kamar, memecah keheningan malam yang sunyi.

“Kenapa, Nak? Kamu mimpi itu lagi?” Mima bergeser mendekati putra sulungnya sambil menggendong si bungsu.

“I—ya, Bu. Ada suara perempuan tertawa keras, mengejarku di lorong bercahaya temaram, dindingnya banyak bercak darah segar,” suaranya bergetar dengan mata bergerak liar memandangi kamar, ingin memastikan bahwa tadi hanya mimpi, bukan nyata.

Hamima menyisir rambut lembab putranya menggunakan jemari, lalu mengusap wajah berkeringat, ia tarik pelan belakang leher Guntur, membawanya ke dalam dekapan menenangkan.

“Jangan dipikirkan, cobalah anggap cuma mimpi. Ayo tidur lagi, Nak. Ibu jaga kamu sampai terlelap.”

“Iya, Bu.” Dia menarik diri, lalu berbaring lagi. Memaksakan mata untuk terpejam meski bayang-bayang wanita berjubah putih, rambut terurai menyapu lantai, menari-nari dalam kepala.

Sambil menyusui Pujiara, Hamima menepuk paha putranya yang tertutup selimut. Hatinya gundah, ini bukan pertama kali Guntur bermimpi buruk. Dalam dua bulan terakhir, sudah tak terhitung lagi.

Malam semakin larut, Mima melihat jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Ia pun meletakkan putrinya di atas kasur, lalu memperhatikan sang putra yang sudah terlelap lagi. Dikecupnya kening permata hatinya secara bergantian, kemudian mencoba untuk tertidur.

***

Keesokan harinya. Pada pukul sepuluh pagi, mobil pickup kiriman dari desa yang disewa suaminya sudah tiba.

Pak sopir mulai mengangkat sembilan kardus dengan dibantu tetangga Hamima.

Perpisahan dengan para tetangga yang sudah berteman selama belasan tahun mengharu biru, tangis kesedihan pun tidak terelakkan.

Guntur melambaikan tangan ke para sahabatnya. Matanya memerah menahan tangis.

Kunci rumah diserahkan ke tetangga yang membeli huniannya dan sudah dibayar lunas. Hamima bertahan di kota kabupaten sampai Guntur naik kelas, baru pindah ke desa.

Brak!

Pintu mobil bagian depan ditutup. Guntur mencondongkan badan sampai kepalanya keluar dari jendela, ia melambaikan tangan kepada ketiga sahabatnya yang berlari mengikuti laju mobil pickup.

“Guntur! Jangan lupain kami ya?!” seru salah satu dari mereka.

Sepasang tangannya mengerucut di tepian mulut, lalu berteriak kencang. “Iya! Kalian juga jangan lupain aku!”

Sesudahnya kaca jendela ditutup. Hamima merangkul pundak putranya, menghibur hati tengah bersedih.

Perjalanan dari kota kabupaten ke desa Windu Asri memakan waktu kurang lebih 5 jam lamanya. Dari melewati jalanan aspal sampai ban mobil melindas tanah padat lalu bebatuan kecil.

***

Pada sore hari, saat sinar matahari tidak lagi begitu terik, mobil pickup berhenti di jalanan menyempit cukup satu kendaraan roda empat saja.

“Nak, bangun! Itu Ayah menunggu kita!” Hamima mengguncang lengan putranya.

Pria memakai setelan pakaian olahraga, berlari kecil dari ujung jalan, lalu membuka pintu mobil, dan langsung menggendong putranya yang baru saja terjaga dari tidur selama dari pertengahan perjalanan.

“Ayah kangen sekali sama mas Guntur dan dek Ara!” Ia angkat tubuh kurus putranya, lalu diputar pelan sampai wajah remaja tersebut menghadap hunian baru dibeli sebulan lalu.

Deg!

Badannya kaku, pupil mata membesar, dan bulu lengan meremang.

.

.

Bersambung.

Boneka kain sarung : 02

Guntur menahan napas, sulit sekali mengalihkan pandangan dari atap limas tinggi nan curam yang warna gentengnya sudah coklat kehitaman.

“Hei jagoan Ayah, kenapa?” Dari bawah, netranya memperhatikan wajah sang putra yang mulai pias, ia pun menurunkan Guntur ke tanah.

“Nak?” tanyanya berulang, sedikit cemas mendapati remaja berambut cepak ini tidak berkedip.

Hamima baru saja keluar dari dalam mobil, hatinya mulai cemas. Dari jarak satu meter, terlihat jelas tubuh sang putra menggigil.

“Guntur, kamu kenapa, Sayang?” Langkahnya di cepatkan, lalu menarik siku remaja berkulit sawo matang itu sampai masuk ke dalam dekapan. “Cerita ke Ibu, ada apa, Guntur?”

Pujiara menggeliat, dia terjepit karena ibunya merunduk memeluk kakaknya.

Galih mengambil putrinya dari gendongan jarik, menimang agar bayi ngemut empeng tidak menangis.

“Ada apa, Nak?” pertanyaan yang sama, diulang lagi, tetapi tetap tidak mendapatkan jawaban.

Guntur memeluk erat pinggang ibunya, menyembunyikan wajah di bawah ketiak berlengan gemuk. Ia bertemu tatap dengan pak sopir yang memandang datar, lalu cepat-cepat membuang muka.

Hamima mendongak, ia tatap lekat hunian terbilang megah dengan teras depan dan samping luas. Atapnya tinggi, curam. Banyak jendela besar menjulang. Cat dinding warna putih, tembok teras hitam, dan lantai tegel keramik abu-abu gelap.

Hunian itu berdiri gagah di kaki bukit sedikit menanjak, dan sedikit berjauhan dengan rumah tetangga.

“Mima, ajak Guntur masuk. Mas mau bantuin pak sopir ngangkut barang-barang di bak pickup.” Galih menggendong Ara, ia berjalan lebih dulu.

Hamima yang merasa sungkan ke sopir, sedikit tidak sabaran. Digendongnya sang putra, lalu melangkah memasuki halaman luas, bersih, sebagian ditumbuhi rumput gajah mini berdaun lebar. Ada juga tanaman pohon kersen, jambu biji, dan mangga.

Pujiara diturunkan di teras samping, langsung saja bayi mulai belajar jalan itu merangkak.

Guntur berdiri diambang pintu. Dari sini bisa melihat ke dalam tembus pada dapur. ‘Kenapa jantungku terus berdetak kencang, lalu bulu kuduk merinding gak karuan?’

“Yah … yah!” seruan Ara menyadarkan sang kakak yang langsung mengerjapkan mata.

Tanpa berpikir panjang, Guntur masuk dari pintu depan, mencari adiknya yang berceloteh riang.

Ternyata Pujiara tengah mendekap boneka terbuat dari kain sarung lusuh — memiliki sepasang tangan dan kaki, serta kepala.

“Punya siapa, Dek?” Guntur berjongkok, menarik boneka berdebu sampai membuat hidungnya gatal. “Jangan dipeluk, Ara. Ini kotor, nanti kamu batuk-batuk.”

Pujiara menunjukkan reaksi aneh. Matanya mendelik, melototi sang kakak yang langsung menjerit keras.

“Ibu! Ayah!” Spontanitas Guntur mundur sambil memejamkan mata, dia ketakutan.

Suara derap langkah kaki mendekat, pertama kali yang sampai adalah Galih.

“Ada apa, Mas?” tanyanya. Membiasakan menyebut panggilan tersebut agar Pujiara juga mengikuti.

Remaja mengenakan celana panjang yang bagian kanan kiri paha terdapat saku, perlahan-lahan membuka mata.

“Tadi, tadi Ara — mendelik, dia gak mau melepaskan boneka terbuat dari kain sarung,” ungkapnya tergagap.

“Boneka apa? Adikmu lagi main di halaman, mencabuti rumput. Tadi ibu yang membawanya ke sana,” beritahu Hamima, merasa sikap putranya aneh.

Guntur tersentak, dia langsung melihat tempat dimana tadi Pujiara memeluk boneka kain. Tidak ada siapa-siapa. Samping kursi jati, kosong.

“Aku gak bohong, Bu! Tadi Ara mirip boneka Susan, matanya melotot!” ia keukeuh kalau penglihatannya nyata.

Galih mengelus rambut lebat putranya. “Sepertinya kamu kelelahan. Ayo Ayah tunjukkan kamar yang sudah dicat ulang temboknya sesuai warna kesukaan mas Guntur.”

Tidak ada pilihan lain selain menurut, Guntur jadi bingung sendiri. Meyakini kejadian barusan nyata, tetapi adiknya benar-benar tengah bermain di halaman teras samping.

Pintu kayu dibuka, kamar bernuansa warna biru langit tampak menarik mata Guntur. Sejenak ia takjub, melupakan hal aneh barusan dialaminya.

“Bagus banget kamarnya, Yah,” ucapnya riang. Memperhatikan ruangan luas, terdapat lemari kayu tiga pintu, ranjang ukir, ada juga meja rias dari bahan kayu kuat.

“Ayah sudah yakin, kamu pasti suka dengan kamar ini. Apalagi kalau melihat pemandangan luar dari sini!” Galih melangkah mendekati jendela.

Guntur pun mengikuti sang ayah, berdiri di sisinya, dan sama-sama melihat keluar. “Ada sungai dibelakang rumah ini, Yah?”

“Ada air terjunnya juga, airnya jernih banget. Ayah sering berenang di sana,” kegembiraannya menular ke remaja tidak berkedip memandangi aliran sungai tampak kecil dari ketinggian. Berjarak tiga puluh meter dari sini.

“Besok kita mandi disana ya, Yah?” Guntur sangat antusias. Tempat ini mengingatkan pada kampung halaman sang nenek.

“Iya. Sekarang sebaiknya kamu mandi, mumpung belum maghrib.”

“Aku mau memandangi sungai dulu, Yah. Sebentar saja,” tawarnya bernegosiasi.

“Jangan lama-lama!” Galih mengusak rambut Guntur, lalu dia berjalan keluar dari kamar.

“Bagaimana dengan Guntur, Mas?” Hamima sedang memisahkan kardus, dia mencari yang ada tulisan pakaian.

Galih mendekati sang istri, diam-diam mencuri kecupan pada pipi tembam.

“Mas?” netra Mima terbelalak, dia melirik ke pintu. Beruntung pak sopir tidak ada disana. “Malu dilihat orang.”

“Aku kangen banget sama kamu.” Ia rangkul pundak ibu dari anak-anaknya. “Sudah 3 mingguan kita gak bertemu, rindu ini semakin menggebu-gebu.”

Hamima terkekeh, dalam hati bersyukur memiliki suami humoris, penyayang keluarga, dan selalu mengupayakan yang terbaik untuknya serta putra-putri mereka.

“Mas selesaikan sebentar urusan dengan sopir ya, sambil menghentikan putri cantik kita sebelum dia menggunduli rumput halaman,” mereka sama-sama tertawa kecil.

Galih keluar rumah, membayar sewa mobil pickup milik tuan tanah wilayah kelurahan yang terkenal kaya raya.

Pujiara masih asik mengorek tanah menggunakan sendok teh yang tadi diberikan oleh ibunya.

Lingsir wengi ….

“Apa itu?” Secepat mungkin Hamima berdiri, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah. “Tidak ada orang. Lantas siapa yang menembangkan lagu ungkapan kerinduan di kesunyian malam?”

Sudut matanya berkerut, seperti tengah diperhatikan seseorang — Hamima mengangkat wajah, melihat plafon menutup rapat langit-langit rumah besar.

“Kamu kenapa, Mima?” Galih masuk ke dalam rumah sambil menggendong Pujiara yang bajunya kotor.

Mima menggeleng. ‘Mungkin perasaanku saja. Bisa jadi karena efek lelah.’

“Mas, rumah ini beneran cuma satu lantai?” tiba-tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja.

“Iya. Ini rumah dibangun dengan gaya bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda di Indonesia. Langit-langit tinggi membantu sirkulasi udara naik ke atas agar ruangan bawah tetap dingin. Jendela dan pintu besar dilengkapi ventilasi untuk memaksimalkan aliran angin. Hunian yang cocok bukan untuk keluarga kita, Mima?” ia menjelaskan.

Hamima pun setuju akan pendapat suaminya. Hunian ini sejuk, tidak panas.

“Apa kamu gak merasa aneh, Mas? Hunian sebesar ini, mana luas, bagus, termasuk mewah, kenapa dijual dengan harga sangat murah?”

.

.

Bersambung.

Semuanya gelap pengab : 03

“Awalnya ya aneh, tapi setelah mengetahui siapa pemilik rumah ini, Mas jadi paham. Beliau termasuk orang paling kaya satu kecamatan, Mima. Kebunnya berhektar-hektar, sawah luas, dan punya peternakan Sapi pedaging, terus dijuluki tuan tanah,” sambil bercerita, Galih melepaskan baju Pujiara.

“Alasan juragan Sarkam menjual rumah ini, dikarenakan daripada terbengkalai, gak terawat mending dilepas dengan harga murah, yang penting laku. Seperti itu katanya,” ia mengulangi penjelasan sang tuan tanah terkenal dermawan.

Masih terasa mengganjal dalam benak Hamima. ‘Masa ada orang sebaik itu?’

“Sembilan juta, dengan tanah tiga ribu meter persegi, luas bangunan 400 meter, lengkap dengan perabotan mewah menggunakan bahan kayu jati, apa masuk akal, Mas?” Mima memperhatikan satu set sofa bagian kepalanya berukir burung Elang, lalu jam dinding klasik setiap jarum jam pendek menyentuh angka maka akan berdenting nyaring.

Galih mengedikkan kedua bahunya. “Bisa jadi ini rezeki kita, Sayang. Syukuri saja.”

“Bukannya aku gak bersyukur, cuma aneh saja rasanya, Mas. Kalau dikota, gak kemana 40 jutaan harganya, bisa jadi lebih.” Mima mengambil pakaian ganti dirinya dan Ara.

“Mungkin karena ini pelosok. Hikmahnya, kita jadi bisa menabung, sebagian uang penjualan rumah di kota kabupaten malah terbeli kebun di kampung ibumu untuk investasi masa depan anak-anak. Mas pun sekarang punya motor meski tidak baru, tapi masih sangat bagus,” Galih mengambil sisi pikiran positif, bertentangan dengan sang istri.

“Sudah jangan dibahas lagi, hari mulai gelap. Gak baik mandi malam-malam, nanti Ara masuk angin.” Ia membopong putrinya, berjalan ke bagian belakang hunian mewah.

Terlebih dahulu Hamima menutup pintu depan, menarik gorden warna hijau motif kembang sepatu. Ia tidak perlu menghidupkan lampu, sebab sedari tadi penerangan sudah dinyalakan oleh suaminya.

‘Aku harus bersyukur, setidaknya disini sudah dialiri arus listrik,’ batinnya bergumam. Untuk pertama kalinya dia melangkah ke bagian lebih dalam.

Setiap apa yang terlihat, Hamima berpikir keras. Hunian besar ini benar-benar siap huni. Dapur bersih lengkap dengan tungku perapian, meja keramik tempat pencucian piring, lemari aluminium penyimpanan alat makan, dan satu set kursi makan dengan sandaran tinggi dari bahan kayu berkualitas.

‘Sembilan juta?’ hatinya terus mengulang harga beli rumah mewah memiliki 4 kamar, ruang makan dan dapur jadi satu, lalu area santai, tempat penerimaan tamu, bahkan ada televisi hitam putih serta radio.

“Sayang, kamu kok bengong?” Galih berbalik badan, memperhatikan istrinya yang bergeming di batas lantai dapur lebih tinggi dari ruang santai.

“Aku terkagum-kagum sama rumah baru kita, Mas. Bagus banget,” ucapnya tidak sepenuhnya dusta.

“Galih maju sampai tangannya merangkul pinggang lebar istrinya. “Masih banyak waktu untuk mengagumi, sekarang mandilah dulu bersama Pujiara. Biar Mas panaskan menu yang tadi beli di pasar kecamatan.

Hamima mengambil putrinya, lalu masuk ke kamar mandi dekat dengan pintu belakang.

Pada saat bersamaan, Guntur pun hendak mandi, tetapi tidak perlu antri. Hunian baru mereka memiliki dua kamar mandi.

***

Kala langit berangsur-angsur menggelap, dan matahari sudah tenggelam, jam dinding berdenting nyaring sebanyak enam kali, menandakan waktu malam telah tiba.

Perasaan Hamima tak tenang, setiap suara dentingan jam yang bergema keseluruh ruangan, jantungnya ikut berdetak kencang.

Ia gugup duduk di kursi meja makan, suasana malam disini sangat sunyi, hanya terdengar suara Jangkrik mengerik.

“Hamima ….” Galih menyenggol lengan istrinya yang kehilangan nafsu makan. “Menunya gak enak, ya?”

Hamima mengerjapkan mata, lalu menunduk melihat nasi putih dan lauk sayur santan rebung bambu, sambal telur diatas piring tidak tersentuh.

“Aku sebenarnya mengantuk, Mas,” senyumnya tampak dipaksakan. Ia menyembunyikan kegundahan hati, tak ingin membuat suaminya khawatir.

Pria memiliki berat badan ideal, tinggi 176 centimeter, penampilan selalu rapi dengan potongan rambut cepak, tersenyum lebar. Gemas sekali melihat sikap cinta pertamanya. Sayangnya dia sedang menggendong Ara yang tertidur pulas.

“Makanlah sedikit. Kamu masih masa menyusui, kasihan Ara nanti tak mendapatkan gizi dari ASI kurang nutrisi,” katanya penuh perhatian dengan tatapan mata lembut.

“Iya.” Hamima memegang sendok, lalu mulai menyuap nasi beserta lauk masuk ke mulutnya.

Guntur tersenyum senang, ikut merasakan keharmonisan hubungan kedua orangtuanya. Dia makan dengan tenang, duduk di seberang meja makan.

Setengah jam kemudian, keluarga kecil itu selesai menyantap makan malam.

“Beres-beres baju dan barang dari kota kabupaten, besok saja. Kalian pasti capek, lebih baik kita langsung tidur!” suara Galih terdengar sampai dapur.

“Biar aku saja yang menyusun piring sudah dicuci ini, Bu. Ibu temani Ayah, sepertinya sedang ingin mengajak ngobrol,” Guntur paham kebiasaan pria yang dianggap pahlawannya itu.

Hamima mengelap tangan basah ke handuk kecil tergantung di paku dinding atas tempat cuci piring. “Terima kasih ya, Nak. Kamu juga, begitu selesai beresin dapur, langsung tidur. Beranikan tidur sendirian?”

Guntur tidak langsung menjawab. Mulutnya bilang berani, tetapi hati meragu. “Iya.”

‘Aku gak boleh jadi penakut. Kasihan Ayah sama Ibu, nanti mereka kepikiran terus,’ gumamnya dalam hati.

Sebuah sendok dalam genggaman, tergelincir jatuh ke lantai menimbulkan bunyi nyaring. Guntur membungkuk, bermaksud mengambil cepat.

Namun, sesuatu menahannya — “Ara … Pujiara?”

Adiknya tengah bermain di bawah meja makan, dan ada tiga pasang kaki menyentuh lantai. Remaja memakai piyama tidur itu diserang rasa penasaran. Pelan-pelan dia berdiri dengan mata terkunci ke depan.

“Kok gak ada badannya?” Guntur membungkuk lagi, ingin melihat apa yang tadi tampak, nyata atau halusinasi.

“Gak ada siapa-siapa. Apa benar kata Ayah, ya? Aku kecapean, jadinya seperti melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada,” tidak mau sampai menimbulkan ketakutan lebih besar lagi, Guntur menaruh asal piring ke dalam lemari.

Cepat-cepat dia masuk ke dalam kamar, mengunci pintunya, lalu naik ke atas ranjang. Bersembunyi dibawah selimut sampai tertidur.

***

Duk … duk, duk ….

Guntur terjaga. Terganggu oleh suara berisik yang dikenali apabila seseorang memakai sandal bakiak dari tapak kayu, lalu ada diberi bunyi gemerincing.

“Bukannya tadi aku sembunyi dibawah selimut, kok sekarang ada di ….” Ia kebingungan, punggungnya terasa menekan sesuatu keras, bukan empuk tilam kapuk.

Semuanya gelap, pengab, membuatnya kesulitan bernapas. Tangan Guntur terangkat dan langsung menekan benda keras.

“Ayah! Ibu!” Susah payah dia telungkup lalu menggunakan siku merayap keluar dari kolong tempat tidur.

Begitu berhasil, Guntur langsung berdiri. Ketika mau berlari — badannya tersentak. Dari sudut mata, ia melihat jendela kamar menghadap ke sungai tiba-tiba terhempas terbuka lebar.

Semilir angin masuk ke dalam kamar, menerpa wajah memucat dibawah penerangan lampu kuning kemerahan.

Hueg!

Guntur menahan mual, bau amis seperti luka membusuk bernanah menusuk hidung.

Sekelebat bayangan putih melintas cepat tepat di depannya yang kesulitan bergerak, seolah kaki dipaku pada lantai.

.

.

Bersambung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!