Aroma gurih keju mencair dan adonan memanggang perlahan memenuhi setiap sudut ruangan.
Jam dinding di dapur menunjukkan pukul lima sore tepat saat Alena mengeluarkan pizza buatan rumah favoritnya dari oven.
Warna keemasannya sempurna, dipadu dengan taburan toping kesukaannya yang masih mengeluarkan uap hangat.
Malam Minggu ini, Alena sudah merencanakan agenda tunggal: menikmati makanan buatannya sendiri sambil menjauhkan diri dari kebisingan dunia luar.
Ting tong.
Suara bel rumah memecah ketenangan yang baru saja dirancangnya.
Alena menatap pintu depan dengan dahi berkerut, bertanya-tanya siapa yang bertamu di waktu seperti ini.
"Iya, sebentar!" serunya seraya mengusap jemarinya pada celemek dan melangkah menuju pintu utama.
Ketika gagang pintu diputar dan daun pintu terbuka, matanya membelalak kaget.
Di hadapannya, berdiri dua figur yang sangat ia kenal—kedua orang tuanya—dengan senyum yang sulit diartikan.
Senyum yang biasanya menjadi pertanda bahwa sesuatu yang besar sedang direncanakan tanpa persetujuannya.
"Mama? Papa? Kok mendadak sekali datangnya?" tanya Alena heran.
Tanpa menunggu dijemput masuk, sang papa melangkah melintasi ambang pintu dengan wajah serius, sementara mamanya mengekor di belakang seraya menatap Alena penuh arti.
"Alena, tidak ada waktu untuk banyak bertanya," potong papanya lugas.
"Nanti malam, kamu harus ke restoran dekat Mall Bintang M."
Alena mengerutkan alisnya semakin dalam, firasat buruk mulai merayapi benaknya.
"Restoran? Untuk apa, Pa, Ma?"
Kedua orang tuanya saling pandang sejenak. Keheningan singkat itu membuat dada Alena berdesir pelan.
Ekspresi canggung dan saling lempar pandang itu bukanlah hal baru baginya.
"Jangan bilang kalau kalian..." Kalimat Alena menggantung di udara, menolak untuk menuntaskannya.
Sang mama akhirnya mendekat, mengelus lembut lengan Alena dengan nada bicara yang melunak.
"Alena sayang, untuk malam ini saja, ya? Tolong datang. Usiamu sudah empat puluh tahun, Nak. Papa dan Mama hanya ingin yang terbaik untukmu. Papa menjodohkan kamu dengan Ferry."
Bersamaan dengan kalimat itu, sang papa merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah foto cetak, lalu menyodorkannya tepat di depan mata Alena.
Foto itu menampilkan sosok pria berpenampilan rapi dengan kemeja formal, tersenyum tenang ke arah kamera.
"Ini Ferry. Usianya empat puluh lima tahun. Pria baik-baik, mapan, dan sangat matang," tambah papanya menegaskan.
"Tapi, Pa..." Alena berusaha menyela, mencari alasan untuk menghindar.
"Tidak ada tapi-tapi," potong papanya tegas, tak memberi ruang untuk negosiasi.
"Sekarang lekas mandi dan berdandan yang rapi. Jangan buat keluarga kita malu."
Melihat tatapan memohon dari sang mama dan wajah tak terbentangi dari sang papa, Alena tahu bantahannya hanya akan sia-sia.
Sang mama mengusap pundaknya lagi seraya tersenyum menenangkan.
"Sudah, sana mandi. Mama yang akan mengurus pizzamu di dapur," ucap sang mama mengambil alih situasi.
Dengan menghembuskan napas berat, Alena akhirnya menyerah.
Ia mengerucutkan bibirnya, berbalik arah, dan berjalan lunglai menuju kamar mandi di sudut lorong.
Padahal malam Minggu ini aku cuma ingin tenang, gumam Alena dalam hati, menatap pantulan dirinya di cermin sebelum menyalakan pancuran air, meratapi malam minggu damainya yang sirna dalam hitungan detik.
Alena melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang terbungkus handuk. Sambil mengenakan pakaian santainya, matanya langsung tertuju pada meja makan.
Di sana, aroma pizza panggang buatan sendiri yang gurih dan menggugah selera menyambutnya.
Tanpa membuang waktu, ia duduk di kursi kayu favoritnya dan mengambil satu potong pizza hangat.
Keju yang meleleh ditarik perlahan saat ia menggigit bagian ujungnya.
Namun, kenikmatan itu tidak bertahan lama ketika dua pasang mata kembali mengawasinya dengan penuh penekanan.
Alena mengunyah pelan sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian untuk bersuara.
"Pa, batalkan saja, ya? Aku masih ingin sendiri."
" No! " sahut sang papa tegas, menepuk meja pelan tanpa memberi ruang untuk kompromi.
"Sendiri terus kamu itu, Alena! Usia kamu sudah empat puluh tahun dan kami ini ingin menggendong cucu!"
Alena menghela napas panjang, lalu menjawab spontan,
"Adopsi saja, Pa."
"Hishh! Itu mulut kalau bicara!" tegur mamanya cepat sambil menepuk lengan Alena gemas.
"Mana bisa dipersamakan begitu!"
Sebelum perdebatan semakin panjang, sang papa merogoh saku celananya dan mengambil sekeping kunci kendaraan.
Ia meletakkannya di atas meja, tepat di samping piring pizza Alena dengan dentang logam yang nyaring.
"Sudah, tidak ada alasan lagi. Papa minta kamu segera berangkat ke restoran sekarang," perintah papanya tajam. "Ini kunci mobil Papa, kamu pakai."
Alena menatap kunci mobil itu dengan dahi berkerut, lalu beralih menatap kedua orang tuanya.
"Lalu Papa sama Mama naik apa?"
"Papa mau di sini saja sama Mamamu, mau menghabiskan pizza ini," jawab papanya santai seraya meraih sepotong pizza yang masih mengepul dari loyang.
"Lho, itu kan pizza aku, Pa!" seru Alena tak terima, menatap potongan pizza kesayangannya yang kini sudah berpindah tangan.
"Hitung-hitung bayaran untuk kunci mobil dan perjodohan malam ini. Sudah, cepat ganti baju dan berangkat!" seru sang mama menimpali sambil mendorong pelan bahu Alena agar segera beranjak dari kursi.
Dengan helaan napas pasrah dan bibir yang makin mengerucut, Alena terpaksa meninggalkan meja makan dan pizza kesayangannya yang kini dilahap habis oleh kedua orang tuanya.
Sepanjang jalan, suasana di dalam kabin mobil terasa riuh oleh gerutu tak berkesudahan dari bibir Alena.
Jemarinya mencengkeram kemudi dengan erat seraya terus mengomeli nasibnya yang harus kembali terjebak dalam skenario perjodohan sang papa.
Baginya, kesendirian di usia empat puluh tahun bukanlah sebuah tragedi yang harus buru-buru diselamatkan.
Setengah jam kemudian, ia membelokkan setir dan menghentikan mobilnya tepat di pelataran parkir rumah makan bernuansa klasik yang telah ditentukan.
Dari balik kaca mobil, Alena menatap papan nama restoran tersebut dengan napas berat.
"Oke, semoga yang kali ini gagal juga," gumam Alena penuh harap. Hatinya memang belum siap—dan mungkin tidak akan pernah siap—untuk mengikatkan diri dalam sebuah pernikahan.
Dengan langkah enggan, Alena melangkah masuk.
Seorang pelayan mengarahkannya ke meja sudut yang telah dipesan atas nama keluarganya.
Setelah duduk, ia memesan secangkir minuman hangat dan sepiring hidangan pembuka sekadar untuk menghargai tempat, lalu mulai menunggu sosok pria bernama Ferry.
Detik demi detik berganti, berpilin menjadi menit yang merayap lambat.
Alena terus melirik jam tangannya. Sepuluh menit... tiga puluh menit... hingga akhirnya satu jam penuh berlalu tanpa ada tanda-tanda kehadiran pria berusia empat puluh lima tahun itu.
Senyum lega pelan-pelan terbit di wajah Alena. Ia mengembuskan napas panjang, merapikan tas bahunya, dan bersiap berdiri.
Kebetulan yang sangat menguntungkan; pria itu terlambat atau bahkan sengaja membatalkannya.
"Baiklah, aku pulang..." bisiknya gembira pada diri sendiri.
Sreeet...
Suara gesekan kaki kursi yang ditarik secara mendadak menghentikan pergerakannya.
Belum sempat Alena berdiri sempurna, seorang lelaki berparas tampan dengan postur tinggi dan rahang tegas tiba-tiba duduk tepat di hadapannya.
"Alena?" tanya pria itu dengan suara berat dan tenang, menatap lurus ke dalam matanya.
Alena terpaku sejenak, terkejut oleh kedatangan yang teramat tiba-tiba.
Tanpa sadar, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.
Alena menatap pemuda di hadapannya dengan kening berkerut dalam.
Wajah pria di depannya ini terlalu muda, tegas, dan jauh dari kesan pria paruh baya.
Sambil menahan bingung, jemari Alena bergerak cepat membuka kembali layar ponselnya, memperbesar foto sosok Ferry berumur empat puluh lima tahun yang dikirimkan sang papa beberapa jam lalu.
Sangat berbeda. Sama sekali tak ada kemiripan, selain bentuk garis rahang yang samar.
"Ferry?" tanya Alena ragu, bergantian menatap layar ponsel dan wajah pria di depannya.
Lelaki itu menggeleng pelan, mengembuskan napas berat seolah membawa beban yang amat sangat menyiksa dadanya.
"Bukan, aku bukan Ferry."
Alena terpaku. "Lalu?"
"Perkenalkan, aku Baskara. Putra dari Papa Ferry," ucapnya lugas, tatapan matanya tajam namun menyimpan kesedihan yang amat dalam.
Sensasi dingin mendadak merayapi tengkuk Alena. Firasatnya memburuk seketika.
"Lalu... di mana papamu?"
Baskara menunduk sejenak, mengepalkan kedua tangannya di atas meja sebelum kembali menatap Alena lurus-lurus.
"Papa meninggal dunia saat akan berangkat kemari," jawab Baskara dengan suara bergetar pelan.
"Dan sebelum mengembuskan napas terakhirnya, Papa meminta agar aku yang menggantikannya... untuk menikah dengan Anda."
Mata Alena membelalak lebar, napasnya tertahan di tenggorokan.
Seluruh ruangan seolah mendadak hening seketika.
"APA?!" seru Alena, tak mampu lagi menahan rasa terkejut yang menghantam kesadarannya.
"Jangan berteriak seperti itu, duduklah dengan tenang," ucap Baskara dengan nada suara yang begitu datar namun mengikat, membuat Alena yang nyaris bangkit dari kursinya kembali terduduk kaku.
Beberapa pengunjung di meja sebelah sempat menoleh ke arah mereka, membuat Alena buru-buru menarik napas dalam-dalam untuk meredam detak jantungnya yang bergemuruh hebat.
Baskara melirik ke arah Alena, memperhatikan ekspresi wanita itu yang masih diliputi kebingungan tingkat tinggi.
Tanpa tergesa-gesa, ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap lurus manik mata wanita di depannya.
"Apakah kamu ragu menikah denganku?" tanya Baskara to the point.
Alena menatap wajah Baskara yang terpahat sempurna di bawah temaram lampu restoran.
Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan sama sekali tidak menyiratkan pria yang baru saja melewati usia kepala tiga—jauh sekali dari gambaran pria paruh baya bernama Ferry.
"Jangan bercanda, Baskara. Usia kamu masih muda, dan aku sudah empat puluh tahun," desis Alena dengan suara tertahan, mencoba melogika situasi yang sama sekali tak masuk akal ini.
Baskara tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka sebelum sebuah smirk tipis terukir di sudut bibirnya.
"Lalu kenapa?" tanyanya balik, nada suaranya berubah menyaratkan sebuah tantangan terselip geli.
"Bukankah biasanya wanita seusiamu menyukai berondong?"
Alena sontak terbelalak, nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar kalimat blak-blakan dari pemuda di hadapannya.
"Hei! Bukan masalah suka atau tidak suka!" protes Alena, pipinya mendadak menghangat karena jengkel sekaligus salah tingkah.
"Ini soal akal sehat, Baskara. Ayahmu mengajakku berkenalan untuk sebuah pernikahan, bukan mewariskan tanggung jawabnya seperti sebuah paket kiriman kilat!"
"Ini bukan paket, Alena. Ini wasiat," potong Baskara cepat, sorot matanya yang tadinya santai mendadak berubah serius dan kelam, mengunci pertahanan Alena dalam sekejap.
Baskara condong sedikit ke depan, mendekatkan wajahnya.
Ada luka yang coba ia sembunyikan di balik ketegaran sikapnya, membuat Alena tanpa sadar menelan ludah.
"Ayah menghabiskan sisa hari-harinya untuk membicarakanmu. Pertemuan malam ini adalah hal terakhir yang paling ingin ia wujudkan sebelum jantungnya menyerah," lanjut Baskara pelan, suaranya sedikit bergetar.
"Aku tidak peduli dengan selisih usia kita. Jika itu bisa menenangkan penyesalan terakhir Ayah, aku akan menepatinya. Dan aku memilihmu untuk itu."
Alena terdiam. Kalimat itu menohok relung hatinya yang paling dalam.
Ia menatap lekat-lekat mata Baskara, mencari keraguan atau candaan di sana, namun yang ia temukan hanya tekad bulat yang keras bagai baja.
Pikiran Alena berkecamuk hebat. Di satu sisi, ia adalah wanita mapan yang menikmati kemandirian dan kesendiriannya.
Di sisi lain, ia kini duduk berhadap-hadapan dengan seorang pemuda asing yang menyeretnya ke dalam sebuah ikatan emosional terberat di hidupnya—atas nama wasiat seorang ayah yang bahkan belum sempat ia kenal.
"Kamu... benar-benar gila," bisik Alena akhirnya, melemah sembari memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pening.
Baskara terkekeh, namun suara tawanya terasa dingin, sedingin sorot mata yang menghunjam tepat di ulu hati Alena.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada dengan angkuh.
"Jangan panggil aku Baskara kalau aku tidak gila, Alena," ucapnya tenang, seolah sedang membicarakan cuaca.
"Aku bisa membeli toko rotimu jika kamu menolak menikah denganku. Dan lebih dari itu, aku bisa memenjarakanmu. Karena, secara teknis, kamu adalah penyebab kematian Ayahku. Jika saja kamu tidak setuju untuk bertemu malam ini, Ayah tidak akan memaksakan diri berangkat dalam kondisinya yang lemah hanya untuk menemuimu."
Alena menggelengkan kepalanya keras-keras, seolah sedang mencoba mengusir mimpi buruk yang tengah menyerangnya di siang bolong.
"Ini gila, Baskara!" seru Alena, suaranya gemetar menahan amarah dan ketakutan.
"Kamu memutar balikkan fakta? Kamu benar-benar mengancamku?"
Baskara tidak bergeming. Ia justru mencondongkan tubuh, mempersempit jarak di antara mereka hingga Alena bisa merasakan aura dominasi yang menyesakkan.
"Pilih sekarang, Alena," desis Baskara tajam.
"Menikah denganku, atau aku pastikan hidupmu hancur di balik jeruji besi atas tuduhan kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Waktumu sepuluh detik."
Alena terpaku. Napasnya memburu. Pria di depannya ini bukanlah pria yang bisa diajak bernegosiasi.
Dia adalah tembok beton yang tak tergoyahkan. Alena menatap sekeliling, berharap ada seseorang yang bisa menolongnya, namun restoran itu seolah mendukung keheningan mencekam yang diciptakan Baskara.
"Satu," hitung Baskara dingin.
"Dua..."
Alena merasakan dadanya sesak. Apakah ini akhir dari hidupnya yang tenang? Menikahi orang asing yang gila, atau kehilangan segalanya?
"Tiga..."
"Cukup!" pekik Alena tertahan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena rasa tertekan yang luar biasa.
"B-baik, aku mau..." bisik Alena tertunduk, menyerahkan seluruh sisa harga dirinya di bawah tekanan mutlak yang diberikan pemuda itu.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Baskara mengangkat tangan kanannya memberi kode.
Dari meja di sudut lain restoran, seorang pria paruh baya berjas rapi yang membawa tas kerja kulit hitam langsung mendekat. Itulah pengacara pribadi keluarga Baskara.
Dokumen tebal berlogo instansi hukum tersaji di atas meja, disusul selembar kertas khusus berisi poin-poin perjanjian yang membuat darah Alena mendidih sekaligus membeku.
"Kamu baca dan langsung tanda tangan," perintah Baskara dingin, menyodorkan pena bermerek mahal ke hadapan Alena.
Dengan tangan bergetar hebat, Alena membaca sepuluh persyaratan gila yang tertera di atas kertas tersebut:
Status Pernikahan: Pernikahan bersifat formal dan tertutup, hanya diketahui keluarga inti.
Kewajiban Tinggal: Pihak Kedua (Alena) wajib pindah ke kediaman Pihak Pertama (Baskara) dalam waktu 1x24 jam setelah akad.
Manajemen Waktu: Pihak Kedua wajib mendampingi Pihak Pertama dalam setiap acara formal maupun keluarga tanpa terkecuali.
Kemandirian Bisnis: Toko roti Pihak Kedua tetap berjalan, namun Baskara berhak melakukan audit finansial kapan saja jika dirasa perlu.
Batasan Privasi: Dilarang membawa orang asing atau teman ke dalam rumah tanpa izin tertulis dari Baskara.
Larangan Perceraian: Pihak Kedua dilarang mengajukan gugatan cerai selama lima tahun ke depan. Pelanggaran berakibat pada sita aset pribadi.
Sikap Publik: Harus bersikap layaknya istri yang penuh kasih di depan publik dan keluarga besar.
Keuangan: Segala biaya hidup akan ditanggung
oleh Pihak Pertama, namun Pihak Kedua wajib memberikan laporan pengeluaran pribadi setiap bulan.
Komunikasi: Pihak Kedua wajib menjawab panggilan atau pesan dari Pihak Pertama maksimal dalam 5 menit, di mana pun dan kapan pun.
Sanksi: Pelanggaran poin-poin di atas akan berujung pada tuntutan hukum dan pengambilalihan hak milik bisnis Pihak Kedua oleh Pihak Pertama.
Alena menggelengkan kepalanya kuat-kuat begitu netranya menangkap butir demi butir aturan yang terasa seperti borgol tak kasat mata itu.
"Aku tidak bisa, Bas. Ini bukan pernikahan, ini perbudakan!" sanggahnya putus asa.
Baskara sama sekali tidak bergeming. Ia dengan tenang mengambil ponsel dari atas meja, jemarinya bergerak cepat menekan tiga digit nomor darurat kepolisian.
"Bas...." panggil Alena panik, napasnya memburu di ambang kehancuran.
"Tiga..." suara Baskara mengalun rendah tanpa ampun.
"Dua..."
Air mata yang sejak tadi terbendung akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipi Alena.
Dengan tangan gemetar luar biasa, ia merebut pena dari tangan sang pengacara, menghapus kasar air matanya, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas perjanjian itu.
Tandatangan sah yang menandakan ia resmi menjual kebebasannya demi menyelamatkan diri dari jeruji besi.
Baskara menarik kembali dokumen tersebut dengan gerakan tenang, menyerahkannya pada sang pengacara untuk disimpan, lalu berdiri dari kursinya.
"Pilihan yang cerdas, Alena," ucap Baskara datar. Ia merapikan jasnya, menatap wanita di depannya dengan kilatan mata penuh kemenangan.
"Sekarang, ayo kita ke rumahmu dan bersiap untuk menikah."
"Aku bawa mobil sendiri..." gumam Alena pelan, mencoba mencari sedikit celah untuk bernapas dan menjauh dari aura dominan Baskara, walau hanya untuk seperjalanan.
"Ohh, tidak bisa. Mobilmu biar dibawa sopirku. Aku tidak mau calon istriku kabur di malam pernikahan kita," potong Baskara lugas.
Kalimatnya tak menerima sanggahan sedikit pun saat ia memberikan kode pada sopirnya untuk mengambil alih kunci mobil Alena.
"Jahat kamu, Bas..." bisik Alena pasrah, merasakan dadanya sesak oleh keputusasaan yang kian menghimpit.
Baskara tak membalas makian itu. Ia justru meraih jemari Alena, menggandeng tangan wanita itu dengan genggaman yang teramat erat—seolah memastikan mangsanya tak akan punya celah untuk meloloskan diri—lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil mewahnya yang terparkir di depan restoran.
Di sepanjang perjalanan, Baskara tidak melepaskan tangannya sama sekali.
Ibu jarinya sesekali mengusap punggung tangan Alena, sebuah gestur lembut yang ironisnya terasa seperti belenggu besi bagi Alena.
Keheningan dalam kabin terasa begitu pekat, hanya diisi oleh deru mesin halus dan napas Alena yang masih tak beraturan.
Alena menatap keluar jendela, membiarkan bayangan lampu-lampu jalanan kota memantul di kaca yang buram oleh embun air matanya.
"Seharusnya kamu bersyukur karena ada lelaki tampan yang akan menikahimu," ucap Baskara mendadak, memecah keheningan dengan nada suara santai, seolah-olah gertakan dan paksaan gila tadi hanyalah obrolan biasa di meja makan.
Alena menoleh lambat, menatap wajah samping Baskara dengan tatapan tak percaya. Pria ini benar-benar tidak memiliki empati.
"Bersyukur?" Alena tertawa hambar, suara parau membasahi bibirnya.
"Kamu memaksa wanita usia empat puluh tahun untuk menandatangani kontrak perbudakan, mengancam memenjarakannya atas tuduhan konyol, lalu mengharapkanku bersyukur hanya karena wajah tampanmu itu? Kamu benar-benar sosiopat, Baskara."
Baskara menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang amat tipis.
Sorot matanya yang tajam menatap Alena tanpa ada penyesalan sedikit pun.
"Panggil aku sesukamu, Alena," sahut Baskara tenang, makin mempererat genggaman tangannya hingga Alena tak bisa menggerakkan jemarinya sama sekali.
"Tapi mulai malam ini, sosiopat ini adalah satu-satunya pria yang memegang kendali penuh atas hidupmu."
Sesampainya di rumah Alena, aroma pizza yang hangat masih menyengat di udara.
Kedua orang tua Alena yang sedang asyik menikmati pizza buatan putri mereka mendadak mengehentikan kunyahannya, dikejutkan dengan kedatangan Alena dan lelaki tampan yang melangkah masuk tanpa ragu.
"Dia Ferry?" tanya sang papa bingung, membandingkan pemuda tinggi berwajah tegas di depannya dengan foto pria paruh baya yang ia pegang beberapa jam lalu.
"Bukan, Pa. Dia putra mendiang Ferry," sahut Alena dengan suara serak, menyiratkan keputusasaan yang tak mampu ia sembunyikan.
Baskara melangkah maju satu pukulan, memasang gestur sopan namun penuh wibawa yang tak tertolak.
"Om, perkenalkan saya Baskara yang akan menikahi putri Om sekarang juga. Om jangan khawatir tentang usia kita yang berbeda jauh. Dan ayo kita lakukan pernikahan ini," ucap
Baskara tegas, langsung menyampaikan niatnya tanpa berbelit-belit.
Kedua orang tua Alena terpaku. Sang mama yang merasakan ada ketidakberesan melangkah cepat dan menarik putrinya sedikit menjauh ke sudut ruangan.
"Ada apa sebenarnya, Alena?" bisik sang mama panik, menatap wajah anaknya yang sembap.
Alena menggelengkan kepalanya pasrah, air matanya nyaris tumpah kembali.
"Dia lelaki gila, Ma..."
"Aku mendengarnya, Alena," potong suara berat Baskara dari belakang dengan tenang, tanpa mengalihkan pandangannya dari sang papa.
"Ishhh... Menyebalkan!" gumam Alena setengah berbisik, meratapi nasibnya yang kini sepenuhnya berada dalam genggaman pemuda yang tak kenal ampun itu.
Papa Alena terdiam sejenak, menatap Baskara dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Meski terkejut dengan kabar duka tentang sahabatnya, ketegasan dan keberanian Baskara di hadapannya justru meninggalkan kesan yang tak biasa.
"Pernikahan sekarang juga?" ulang sang papa, memastikan ia tidak salah dengar.
"Ya, Om. Segalanya sudah saya siapkan," jawab Baskara mantap.
"Saya hanya butuh persetujuan dan wali dari Om untuk menuntaskan amanah terakhir Ayah saya malam ini."
Penghulu sudah duduk berhadapan dengan Baskara di ruang tamu yang mendadak disulap menjadi tempat akad nikah.
Suasana yang tadinya penuh ketegangan perlahan berubah menjadi sakral dan hening.
Alena duduk di samping ibunya dengan dada bergemuruh hebat, menatap punggung tegap Baskara yang tampak begitu tenang seolah tak ada beban sama sekali di pundaknya.
Papa Alena membetulkan posisi duduknya, menatap calon menantu mudanya itu dengan tatapan dalam sebelum mengulurkan tangan.
Baskara menyambutnya tanpa ragu, menggenggam erat jemari calon mertuanya.
Penghulu memberi isyarat, dan Papa Alena mulai mengucapkan kalimat ijab dengan suara berat dan berwibawa:
"Ananda Baskara Putra bin Ferry, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Alena Swasti binti Febrian, dengan mas kawin berupa uang tunai sebesar seratus juta rupiah dibayar tunai!"
Tanpa jeda sedetik pun, dengan satu tarikan napas dan suara tegas yang menggelegar di dalam ruangan, Baskara menjawab lantang:
"Saya terima nikah dan kawinnya Alena Swasti binti Febrian dengan mas kawin seratus juta rupiah dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu memecah keheningan.
"Sah!"
"Sah!"
Suara sah bergemuruh di seluruh ruangan. Penghulu memimpin doa pasca-akad, sementara Alena hanya bisa memejamkan mata erat-erat.
Dalam hitungan detik, statusnya berubah total. Di usianya yang ke-40 tahun, ia kini resmi menjadi istri dari Baskara—pemuda berbahaya berusia jauh lebih muda yang baru saja mengikat hidupnya dalam sebuah ikatan pernikahan gila.
"Sekarang, ayo waktunya kita pulang, Istriku," ucap Baskara dengan nada suara yang terdengar begitu tenang, namun sukses membuat bulu kuduk Alena meremang.
Kata 'istriku' yang diucapkannya terasa begitu mutlak dan mengikat.
Baskara menoleh ke arah orang tua Alena, membungkuk sedikit dengan gestur yang sopan namun penuh wibawa.
"Papa, Mama, terima kasih. Dan saya janji akan menjaga istri saya dengan baik," ujar Baskara tegas.
Mendengar itu, mama Alena langsung menarik putrinya ke dalam pelukan hangat.
Air mata sang mama menetes di bahu Alena, menyalurkan perasaan campur aduk antara lega karena putrinya akhirnya menikah, namun juga cemas melihat ketegasan sang menantu yang tak biasa.
Papa dan Mama memeluk tubuh putrinya erat-erat secara bergantian.
"Sekarang patuh sama suamimu ya, Nak," bisik sang mama lembut di telinga Alena, mengelus rambut putrinya penuh kasih sayang tanpa tahu mimpi buruk macam apa yang baru saja disetujui putrinya lewat secarik kontrak.
Alena hanya bisa mengangguk pasrah dalam pelukan ibunya, menelan mentah-mentah rasa sesak di dadanya.
Perjodohan konyol yang awalnya ia harapkan gagal total justru berujung pada pernikahan kilat paling gila dalam sejarah hidupnya.
Tak lama kemudian, Baskara berdiri dan mengulurkan tangannya, menunggu Alena menyambutnya.
Dengan langkah berat dan hati yang diliputi sejuta keraguan, Alena meletakkan telapak tangannya di genggaman Baskara—memulai awal dari kehidupan baru yang sepenuhnya berada di bawah kendali sang suami muda.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!