''Suasana yang ada di desa ini masih terasa begitu adem sekali.'' Devano menatap sang istri yang ada di sebelah dia.
''Memang tangan adem dan juga terasa begitu sunyi ketika untuk menenangkan pikiran.'' Zora berkata dengan wajah muram.
''Kamu Kenapa kok seperti tidak bersemangat seperti itu? apa Masih kepikiran dengan ibu!'' Devano juga bingung dengan sikap Zora.
''Selain memikirkan ibu yang semakin tua dan sakit dia yang semakin parah, Sebenarnya aku tidak suka pulang ke rumah di desa ini.'' Zora berkata apa adanya.
''Loh kok kamu ngomong begitu? kan jadi enak mengenang masa kecil serta kita bisa menikmati suasana yang berbeda.'' Devano berusaha untuk memberikan semangat.
Zora hanya diam saja tidak ada reaksi karena dia juga masih tidak tahu kenapa hati ini seolah begitu enggan untuk pulang ke rumah tua tersebut, sebab sejak umur dua puluh tahun, Zora sudah tinggal di kota ikut bersama dengan sepupu dari Bu Susi sehingga dia lebih betah tinggal di sana.
Bukan karena dia tidak ingin tinggal di desa itu lagi tapi karena ada sesuatu yang tidak dia sukai di dalam rumah tersebut, sejak dulu dia merasakan seperti ada bisikan dan Zora merasa Itu semua hanya halusinasi dia yang semakin parah sehingga bila tinggal kembali di rumah itu maka semua akan berulang lagi.
Dulu tempat dia bicarakan kepada Bu Susi tentang pendengaran yang dia rasakan tersebut, namun Bu Susi dengan tegas membantah bahwa itu semua hanya halusinasi karena Zora terlalu banyak bermain sehingga dia mengalami hal yang tidak biasa dan zona percaya kalau itu semua hanya halusinasi dia saja.
Ini sekarang dia malah harus kembali ke rumah tersebut sehingga Zora semakin yakin bahwa bisikan-bisikan itu akan kembali datang kepada dia, ada rasa takut yang begitu besar di dalam hati ini dan terkadang Zora juga tidak paham ini ketakutan karena masalah apa dan sampai sekarang masih belum terungkap juga.
''Itu tempat apa kok sepertinya sangat ramai sekali?'' Devano menatap sebuah bangunan yang terlihat begitu ramai.
''Lumbung padi, Mereka banyak menyimpan padi di sana ketika sedang panen.'' jawab Zora.
''Wah ini memang sangat seru dan aku akan bermain dengan mereka nanti.'' ujar Devano penuh antusias.
''Dia selalu saja bersemangat seperti itu.'' batin Zora di dalam hati.
Padahal dia saja sekarang terlihat begitu enggan dan tidak ingin berlama-lama di desa ini, andai saja Bu Susi mau untuk dia ajak ke kota maka sudah pasti Zora akan memboyong orang tua tersebut agar bisa berubah juga di rumah sakit yang bagus.
''Banyak rumah kosong tidak berpenghuni seperti itu ya.'' Devano sudah melihat sekitar lima rumah kosong yang tidak terawat.
''Ya, kamu jangan sampai masuk ke dalam rumah kosong seperti itu.'' pesan Zora.
''Emang tidak boleh ya? penasaran saja sih rumah sebesar itu tapi dibiarkan terlantar dan sama sekali tidak ada yang mengurus.'' Devano merasa sangat sayang.
''Itu rumah kita!'' Zora menunjuk sebuah rumah yang cukup besar dengan dua lantai.
''Eh kok memang agak seram begini ya rumah nya.'' batin Devano ketika mereka sudah memasuki halaman rumah yang terasa begitu senyap dan juga angker.
Pagar yang sudah mulai keropos karena termakan usia serta beberapa tembok juga di lilit dengan rumput-rumput sehingga menambah suasana menjadi begitu suram, bangunan ini terlihat begitu tua sekali dan kemungkinan memang sudah berusia puluhan tahun serta kurang terawat sehingga membuat manusia melihat menjadi memiliki ketakutan tersendiri di dalam hati.
''Non Zora udah datang.'' Mbak Paini menyambut Zora dan suami.
''Ibu gimana keadaan nya sekarang, Mbak?'' Zora sudah tidak sabar lagi.
''Masih seperti kemarin dan dia tetap saja tidak mau makan.'' jawab Mbak Paini.
''Kamu masuk saja duluan dan biar aku yang membawa barang-barang kita ke dalam rumah.'' ujar Devano kepada sang istri.
''Bawa masuk saja dulu, nanti biar di bantu sama Mbak Paini.'' ujar Zora.
Devano mengganggu dan segera membawa koper serta barang bawaan yang lain untuk masuk ke dalam rumah ini, sementara itu Zora sudah masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Bu Susi yang kata Mbak Paini menderita sakit tak kunjung sembuh setahun belakangan ini.
Pintu berderit kencang ketika Zora mendorong dan di atas ranjang sana terlihat wanita dengan rambut mulai memutih sedang terbaring dengan pandangan kosong, meski saat ini Zora sudah datang untuk menjenguk namun tetap saja sama sekali tidak ada respon dari Ibu Susi sehingga membuat Zora semakin merasa sedih saja.
''Ibu.'' Zora memegang tangan yang sudah mulai keriput dan terasa begitu dingin sekali.
''Ibu selalu saja begitu dan tidak pernah mau makan apa yang saya masak.'' Mbak Paini berusaha menjelaskan kepada anak majikan dia.
''Sekarang sudah ada aku di sini Jadi Ibu tolong makan ya.'' bujuk Zora sembari menahan air mata yang akan jatuh.
''Apa mau saya ambilkan dulu bubur yang sudah dingin tadi? biar Ibu bisa makan sama non Zora saja.'' tawar Mbak Paini.
Zora mengangguk karena dia yang akan menyuapi Ibu Susi agar wanita tua ini mau makan dan di dalam perut masih sedikit ada makanan, sebab Zora juga sudah mendengar kabar bahwa belakangan ini sama sekali tidak ada makanan yang masuk sehingga wajar saja bila tubuh Bu Susi hanya tinggal tulang berbalut kulit.
''Ibu.'' Zora berusaha mengalihkan pandangan Bu Susi dari atas karena mata wanita itu terus saja terbeliak.
''Kita pindah saja dari rumah ini dan kita berobat ke tempat yang bagus ya.'' bujuk Zora.
Sreeeeet.
Tangan yang semula tidak ada kekuatan dan lemah lunglai itu mendadak saja menjadi begitu kuat dan tegas, seolah Bu Susi memang sama sekali tidak ingin meninggalkan rumah ini sehingga ketika Zora mengajak dia pergi maka langsung timbul kemarahan di dalam diri wanita tua tersebut.
''Ya sudah kalau Ibu memang tidak mau maka aku yang akan pindah ke sini untuk merawat ibu.'' Zora akhirnya mengalah walau dalam hati dia masih bertekad untuk membujuk.
''Anu, Non. bubur yang tadi buat sudah basi jadi saya mau buat ulang dulu ya.'' Mbak Paini masuk ke dalam kamar untuk memberitahu.
''Biar aku saja yang buat, Mbak temani dulu Ibu.'' Zora segera bangkit.
Sebenarnya dia juga merasa lelah karena perjalanan yang cukup jauh dari kota, Namun karena keadaan Bu Susi yang seperti itu maka dia tidak memiliki pilihan lain dan memutuskan untuk memasak agar Bu Susi mau menelan makanan walau hanya sedikit saja.
Selamat malam besti, jumpa lagi di Karya Baru yang ini, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor Novita Jungkook.
Meski memiliki perasaan aneh yang tidak biasa, namun tetap saja Zora memutuskan untuk memasak di dapur ini dan dia mengabaikan segala perasaan yang timbul di dalam hati. dapur itu dari dulu sampai saat ini sama sekali tidak ada yang berubah sehingga membuat Zora menatap ruangan itu dengan perasaan yang sangat tidak asing sekali.
Wuuuuussssh.
''Hahh!''
Zora berbalik dengan cepat ketika mendadak saja dia merasakan sesuatu yang tak biasa menghembus tubuh dia dari belakang, namun ketika dia melihat dengan jelas Tadi malah tidak ada yang aneh sehingga membuat wanita ini merasa heran dan kebingungan, sedikit perasaan bergetar di dalam hati ini.
Karena tidak ada yang menampakan diri di depan mata, maka Zora kembali fokus pada masakan yang sedang dia buat agar bisa menyuap Bu Susi dengan bubur tersebut, melihat keadaan Bu Susi yang sudah begitu kurus sekali membuat Zora sangat merasa sedih karena dia tahu bahwa tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuh wanita tua itu.
Bukan karena Mbak Paini yang lalai tidak memberi makan tapi karena Bu Susi sendiri yang memang tidak mau memakan apa saja yang telah di berikan, hanya beberapa suap dan itu terkadang sampai beberapa hari, Zora tidak tahu apa yang terjadi namun dia mengetahui bahwa ada penyakit yang sangat parah di dalam tubuh Bu Susi.
Tap.
Tap.
''Siapa yang berjalan di atas sana sampai begitu?'' kaget Zora saat mendengar langkah.
''Ya allah!'' Zora terpekik karena lantai rumah meleyot sehingga timbul cap kaki.
Tap.
Tap.
''Tidak, ini hanya halusinasi saja!'' Zora menutup mata karena seolah itu sangat luar biasa.
Dulu Zora juga mengalami hal seperti ini sehingga dia memutuskan untuk pindah saja ke kota agar gangguan itu bisa hilang, Oleh sebab itu juara merasa begitu enggan sekali ketika akan pulang ke desa dan tinggal di rumah ini, namun karena terpaksa sehingga dia tetap berada di sini untuk merawat Bu Susi yang sudah semakin tua.
Terbukti sekarang, Dia baru saja datang saja sudah mengalami hal yang begitu buruk dan pandangan yang tidak masuk akal sekali. orang lain Tentu saja tidak akan percaya bila mendengar cerita bahwa lantai rumah ini bisa meleyot itu hingga berbekas cap kaki manusia.
''Zoraaaaa.....
''Allahu Akbar!'' Zora menjerit kencang karena dalam panci bubur malah muncul kepala manusia.
Bruuuggk.
Seketika dia pingsan di dapur sendirian, hanya karena memasak bubur itu saja membuat dia mengalami begitu banyak hal yang sangat tidak biasa. Devano ada di luar sehingga dia tidak tahu bahwa sang istri telah mengalami hal yang begitu buruk di dapur ini, Mbak Paini sedang menunggu Bu Susi di dalam kamar sehingga wajar bila dia sama sekali tidak tahu.
''Ya allah, Aku ada di mana sekarang?!'' Zora tersentak bangun ketika dia mendapati dirinya berada di tempat asing.
''Kenapa hidup mu begitu enak?'' wanita memakai baju hitam dengan kerudung hitam itu bertanya kepada Zora.
''Siapa kau?'' Zora tidak kenal dengan wanita itu.
''Apa Kau pernah sedikit saja membayangkan hidup yang sengsara?'' wanita berkerudung hitam mengabaikan pertanyaan Zora.
''Kau sedang bicara apa dan kenapa aku ada di tempat ini?'' Zora agak kesal karena wanita itu memunggungi dia.
''Kau jalang tidak tau malu!''
''Aaaaaaghhh!''
Zora terjatuh terlentang ke atas tanah ketika wanita itu berbalik dan mencekik dia, Zora sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melawan karena tenaga wanita berkerudung hitam ini begitu kuat luar biasa sehingga untuk melepaskan diri saja dirinya sudah tidak sanggup lagi.
''Le... lepaskan aku.'' Zora menendang nendang udara.
''Kenapa kau tidak menderita juga?!'' teriak wanita berwajah hancur itu.
''To... to... long.'' Zora sudah tidak. bisa bernafas.
Hueeeeeek.
Sooooor.
Cairan darah kental berwarna merah kehitaman itu keluar dari mulut wanita berwajah hancur dan menimpa tepat di wajah Zora, bukan hanya untuk di wajah saja tapi juga masuk ke dalam mulut sehingga Zora merasakan mual tidak terhingga, begitu banyak cairan yang keluar sehingga membuat Zora sangat gelagapan untuk mengambil nafas.
''Non?!''
''Sayang kamu kenapa?'' Devano juga panik ketika melihat Zora yang terlentang di atas lantai dalam keadaan kejang.
''Pindah kan di atas kursi saja sana dulu, Tuan.'' Mbak Paini memegang erat tangan Zora yang terasa begitu dingin.
Devano segera mengangkat tubuh sang istri dan membaringkan di atas sofa agar Zora bisa sedikit lebih tenang dan bisa rileks, mendadak saja Zora mengalami hal seperti itu sehingga membuat mereka semua menjadi panik tidak karuan serta mereka juga tidak tahu apa yang telah terjadi kepada wanita muda ini.
''Haaahhhhhh!''
''Bernafas sayang, pelan pelan ambil nafas.'' Devano mengusap keringat dingin di kening Zora.
''Abang!'' Zora langsung menangis begitu sadar
''Iya ini Abang, Abang ada di sini.'' Devano memeluk erat karena zona langsung bangkit terduduk.
''Aku takuuuut, aku tidak mau di rumah ini.'' Zora menangis histeris.
Devano tidak menjawab tapi dia mengelus-elus punggung Zora agar wanita ini bisa sedikit lebih tenang dan bisa berpikir jernih, ini karena baru saja pingsan sehingga mungkin dia tidak mengingat bahwa Bu Susi sedang sakit keras dan mereka datang ke sini untuk merawat orang tua tersebut.
''Minum dulu, Non.'' Mbak Paini memberikan segelas air.
''Ayo minum, kamu pasti merasa haus dan lelah.'' Devano penuh perhatian memberikan segelas air.
''Tadi harusnya istirahat dulu dan jangan langsung memasak karena non Zora pasti merasa sangat lelah.'' ucap Mbak Paini
''Ini bukan lelah atau halusinasi tapi karena rumah ini memang ada yang tidak beres.'' Zora berkata dengan emosi yang sangat tinggi.
Mbak Paini hanya menarik nafas panjang Karena dia sudah tahu sejak dulu bahwa Zora selalu saja seperti ini ketika ada di rumah, dan ternyata setelah bertahun-tahun itu berlalu namun tetap saja Zora tidak berubah sehingga kemungkinan dia akan sangat sulit sekali untuk bertahan di dalam rumah tua ini.
''Aku akan membujuk Ibu agar dia mau ke kota saja dan berobat ke sana.'' tekad Zora.
''Ibu Tidak mungkin mau karena sejak dulu sudah berusaha untuk dibujuk namun tetap saja Ibu menolak.'' ujar Mbak Paini.
''Tapi aku juga tidak Sanggup Bertahan di rumah ini.'' sentak Zora.
Mbak Paini terdiam karena tidak tahu juga mau menjawab apa agar Zora ini bisa sedikit tenang, mereka sama-sama memiliki keinginan yang begitu keras sehingga sebagai pembantu dia juga kebingungan untuk mengambil langkah bagaimana, Bu Susi memang sangat tidak mau bila meninggalkan rumah ini untuk berobat ke kota.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor Novita Jungkook ya.
Devano menatap sang istri yang sudah tertidur pula sekarang yang mungkin saja merasa kelelahan, dia merasa tidak enak dengan ini semua namun mau tidak mau mereka juga harus bertahan di rumah tersebut karena Bu Susi yang sangat keras kepala tidak ingin meninggalkan rumah ini sehingga harus mereka yang datang ke rumah tersebut.
Sementara Zora merasa begitu enggan sekali untuk tetap tinggal di rumah ini karena dia merasa ada yang tidak beres, Devano sebelumnya tidak percaya dengan ucapan sang istri tentang rumah ini telah menyimpan sesuatu yang tidak biasa, namun ketika melihat sendiri bagaimana keadaan Zora saat itu maka dia merasa memang rumah ini ada sesuatu yang tersimpan.
Walau Dia adalah orang kota namun tetap saja ada rasa percaya di dalam diri Devano bahwa makhluk tak kasat mata itu memang ada di dunia ini, terlebih lagi Desa ini terlihat begitu suram serta rumah milik keluarga Bu Susi memang seolah tidak nyaman untuk mereka tinggali.
Namun Entah mengapa Bu Susi begitu berat meninggalkan rumah itu sehingga membuat mereka menjadi tidak memiliki pilihan lain, ini adalah malam pertama untuk mereka tinggal di rumah tua tersebut setelah beberapa waktu Zora meninggalkan rumah itu untuk tinggal di kota bersama dengan tante dia sendiri.
''Apa mungkin ada sesuatu di dalam rumah ini yang tidak biasa?'' batin Devano sembari menghisap rokok di tangan.
Suasana rumah sudah begitu sunyi sekali pertanda memang para penghuni telah tertidur nyenyak, hanya Devano yang masih belum bisa memejamkan mata karena tadi dia berencana untuk keliling desa untuk melihat serta berkenalan dengan para penduduk namun dia batalkan karena Zora yang mendadak saja pingsan.
Entah apa yang sudah terjadi pada Zora itu karena wanita tersebut juga tidak mengatakan kepada Devano, namun dari sorot mata saja maka Devano sudah bisa memahami bahwa Zora sedang ketakutan dengan perasaan yang begitu besar di dalam hati dia sekarang.
''Em aku akan melihat ibu terlebih dahulu kalau begitu.'' Devano bangkit menuju lantai atas.
''Rumah bagus begini namun auranya sama sekali tidak terbuka.'' ujar Devano sembari menatap sekeliling.
Wuuusssh.
Wuuusssh.
Braaaaak.
'' La Ilaha Illallah!'' Devano tersentak kaget ketika pintu utama justru terbuka lebar.
Wuuuuusssshhh.
''Aih jadi masuk semua ini daun kering ke dalam rumah, apa tadi memang belum dikunci ya pintu ini.'' gumam Devano sendirian dan dia berjalan untuk menutup pintu itu kembali.
Jedeeeeeerr.
''Ya allah, sepertinya malam ini akan turun hujan begitu deras.'' Devano berdiri di ambang pintu sembari menatap langit yang begitu kelam pertanda hujan akan segera turun.
''Ha?!''
Devano agak bengong ketika tadi dia tidak sengaja melihat bayangan seolah melintas di depan patung wanita yang sedang menuang air itu, Karena penasaran maka dia segera keluar dari rumah untuk memastikan apakah di halaman rumah ini memang ada seseorang yang sedang mengintai atau mungkin itu adalah pembantu rumah mereka yang belum pulang.
''Mbak? Mbak Paini!'' Devano memanggil nama pembantu rumah mereka.
''Kok tidak ada orang, Padahal tadi aku melihat ada seseorang yang berjalan ke sini.'' ujar Devano sembari menatap kesana kemari.
Jedeeeeeerr.
''Greeeem.''
Andai saja saat ini Devano menoleh dan bisa melihat maka dia pasti akan segera pingsan, sebab di belakang dia telah berdiri seorang wanita memakai jilbab berwarna hitam dengan wajah berwarna hijau seolah akan membusuk, bahkan bola mata itu juga akan keluar dari dalam rongga mata sehingga semuanya terlihat begitu menyeramkan sekali.
''Apa sih, kok terasa aneh dan janggal seperti ini?'' Devano menoleh ke belakang dan tidak ada bayangan lagi.
Sosok wanita berbaju dan bertudung hitam itu juga sudah tidak ada di belakang dia, namun hidung Devano mencium aroma busuk yang begitu kuat sehingga dia melongok ke dalam kolam air kecil itu untuk memastikan apakah ada bangkai hewan yang tertinggal di sana, namun kolam Itu tampak bersih sehingga tidak mungkin ada hewan yang mati di sana tanpa ketahuan.
''Pantas saja Zora sangat enggan sekali untuk pulang ke rumah ini.'' batin Devano dalam hati dia.
''Semua terasa aneh namun aku sendiri sama sekali tidak tahu itu keanehan yang berasal dari mana.'' Devano sungguh bingung dengan perasaan dia sendiri sekarang ini.
Memang seolah ada orang lain namun dia sendiri tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, kepala pria ini mendongak ke atas dan seketika dia menjadi kaget bukan main ketika melihat di balkon rumah, Bu Susi sedang berdiri di sana dengan pakaian putih itu sehingga membuat Devano kaget bukan main.
''Ibu!'' Devano berteriak karena takut bila nanti sang mertua akan loncat dari sana.
''Ya allah, jangan sampai terjadi sesuatu pada ibu.'' pria ini berlari kencang menuju masuk ke dalam rumah untuk menghentikan Bu Susi yang ada di balkon.
''Ibuuu, Jangan lakukan itu.'' Devano berteriak dan langsung membuka pintu kamar milik Bu Susi.
Namun pria ini menjadi kaget bukan main karena Bu Susi tetap terbaring di atas ranjang dengan pandangan mata kosong menatap ke atas, sementara tadi di bawah dia melihat sendiri bagaimana Bu Susi berjalan dengan tubuh gemetar menuju balkon dan seolah dia akan segera meloncat dari lantai dua rumah ini.
''Bu?'' Devano mendekati ranjang untuk melihat keadaan Bu Susi.
''Eeeeghhhh.''
''Kenapa Ibu tidak tidur?'' Devano bertanya dengan lembut.
''Eeeeghh, di.... diaaaaa....
''Dia siapa? Ibu harus nya tidur karena ini sudah malam kan.'' ujar Devano sambil menarik selimut.
''Zo... raaaaaa....
''Zora sedang istirahat di kamar karena dia merasa lelah dengan perjalanan tadi siang.'' Devano menjawab dengan lembut.
Namun Bu Susi terus saja menggeleng dengan mata tak berkedip itu sehingga kadang membuat Devano juga merasa merinding, ini dia mulai bertanya-tanya apakah memang Bu Susi tidak pernah tertidur Semenjak dia sakit atau hanya malam ini saja dia tidak bisa memejamkan mata.
''Ibu istirahat ya, Aku akan menemani Zora di bawah.'' pamit Devano karena dia merasa kamar ini sangat memiliki udara yang dingin sekali.
Sreeeeet.
''Kenapa, Bu? Ibu mau apa, biar aku ambilkan.'' Devano berhenti karena Bu Susi menangkap tangan dia.
''Pergi..... Zen.....
''Kenapa Ibu ini?'' batin Devano yang tidak mengerti sama sekali.
Tubuh orang tua yang terlihat kaku itu membuat Devano merasa ngeri dan juga merinding, sebab sampai sekarang ini sebenarnya dokter tidak bisa memvonis sakit Bu Susi dengan pasti, beda dokter yang didatangi maka akan berbeda juga penyakit yang mereka katakan sehingga membuat Zora begitu pusing sekali memikirkan keadaan Bu Susi ini.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar nya ya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!