"Ah, Jay... lebih dalam..."
Suara itu terdengar renyah dan penuh gairah, membelah keheningan malam yang sepi.
Dari balik celah pintu yang sedikit terbuka, di dalam ruangan kerja yang penerangannya sengaja diredupkan, Celine melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Di atas meja kerja yang biasanya penuh tumpukan dokumen, Jason sedang melumat wanita itu dengan penuh nafsu. Tubuh mereka saling bertaut tanpa sehelai benang pun yang menghalangi. Gerakannya liar dan tak kenal lelah, seakan tak ada ruang bagi siapa pun di dunia ini selain mereka berdua.
Sudah pukul sembilan malam. Seluruh karyawan sudah pulang. Gedung perkantoran ini sepi senyap. Hanya tersisa suara napas berat dan desahan penuh kenikmatan yang terdengar begitu jelas hingga ke telinga Celine Atharaya.
Ia datang dengan sisa keberanian yang terkumpul sekuat tenaga. Berniat meminjam uang untuk biaya operasi ibunya yang harus dilakukan besok pagi. Uang yang belum juga ia peroleh. Uang yang nyawa ibunya bergantung padanya. Dan demi itu, ia rela menunduk, memohon, dan menanggung malu di hadapan pria yang ia cintai.
"Dasar sosis busuk! Beraninya kamu selingkuh di belakangku!" umpat Celine dalam hati, ia menoleh ke sekeliling seolah mencari sesuatu yang bisa ia pakai untuk dijadikan pelampiasan.
Pandangannya jatuh pada vas bunga kecil berisi bunga segar yang tergeletak di meja sekretaris tak jauh dari sana. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah mendekat, meraih benda itu dengan genggaman erat. Jantungnya berpacu kencang, amarah yang sedari tadi tertahan kini meledak bergabung dengan rasa sakit yang mencekik dadanya.
Dengan napas memburu, Celine kembali menatap pintu ruangan yang masih terbuka sedikit itu. Tanpa ragu sepersekian detik pun, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu melemparkan vas itu sekuat tenaga ke arah pintu kayu yang terbuka itu.
BRAK!!!
Suara benturan dan pecahan kaca yang berhamburan terdengar nyaring membelah keheningan malam, begitu keras hingga menggetarkan seluruh ruangan. Desahan dan suara gairah yang tadi terdengar begitu jelas seketika terhenti mendadak. Hening seketika. Di dalam ruangan itu, gerakan mereka terhenti kaku. Terdengar suara kaget dan teriakan tertahan yang menyusul sesaat kemudian.
Jason melangkah menuju pintu, tangannya sibuk mengancingkan kancing kemejanya yang masih berantakan, wajahnya tampak tak terima dan sedikit terkejut. Ia menatap ke kiri dan ke kanan, namun tak melihat siapa pun di lorong yang sepi itu.
Renata segera menyusul mendekat, tangannya sibuk merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut sekaligus rambutnya yang berantakan. Wajahnya masih tampak merah padam, napasnya belum sepenuhnya teratur.
"Ada siapa di luar, Sayang?" tanyanya pelan, matanya menatap takut ke sekeliling lorong yang remang-remang.
Jason mengerutkan kening, menatap pecahan vas berserakan di lantai tepat di depan pintu ruangannya.
"Tak ada siapa-siapa..." jawabnya rendah, namun nada bicaranya terdengar bingung dan tak yakin. "Tapi benda ini... bagaimana bisa vas bunga ini pecah tepat di depan pintu ruanganku?"
Renata seketika bergidik ngeri. Ia merapatkan tubuhnya ke lengan Jason, menatap pecahan kaca itu dengan mata terbelalak ketakutan. Kulitnya seketika terasa dingin merinding.
"Jangan-jangan..." suaranya bergetar hebat, matanya menatap takut ke arah sudut-sudut lorong yang gelap. "Jangan-jangan... di sini ada arwah penasaran..."
"Jangan bicara sembarang," potong Jason dingin, tangannya merengkuh pinggang Renata erat dan menarik tubuh wanita itu mendekat ke arahnya. "Di sini tidak ada hal-hal seperti itu. Mungkin hanya angin."
Tanpa memberi kesempatan bagi Renata untuk kembali bersuara, Jason menunduk dan menyambar bibirnya dengan ciuman yang kasar, liar, dan penuh nafsu. Ciuman yang tak lagi lembut, melainkan menuntut habis, seakan ingin melumat seluruh keraguan dan ketakutan wanita itu dalam sekejap.
"Sudah tenang sekarang..." bisiknya di sela ciuman yang tak kunjung usai, suaranya terdengar berat dan penuh gairah. "Ayo kita lanjutkan yang tadi... aku belum selesai."
Pintu pun tertutup rapat dan kunci diputar pelan dari dalam. Celine yang bersembunyi di balik meja sekretaris pun perlahan merangkak keluar. Tubuhnya terasa dingin dan lemas, namun matanya menatap tajam ke arah pintu ruangan itu yang kini tertutup rapat kembali. Di balik pintu itu, suara kenikmatan wanita itu kembali terdengar, memecah keheningan malam dan menyayat hati Celine berkali-kali lipat.
Ia mengepalkan tangannya erat-erat hingga kuku menancap ke telapak tangan, menyisakan rasa perih yang tak sebanding dengan luka di dadanya. Giginya gemeretak menahan amarah yang meluap-luap.
"Brengsek..." desisnya pelan namun penuh kebencian, matanya berkaca-kaca namun tak setetes air pun jatuh. "Jason... nanti aku pasti akan buat perhitungan denganmu dan si jalang Renata!"
Celine berbalik dan melangkah cepat menuju lift dengan napas memburu. Pintu lift terbuka perlahan dan Celine melangkah masuk dengan langkah cepat. Ia menekan tombol lobi bawah berkali-kali, seakan tak sabar segera menjauh dari tempat yang menjijikkan ini.
Pintu lift tertutup rapat, menyembunyikan sepenuhnya pandangan ke lorong yang kelam itu. Celine akhirnya tak sanggup lagi menahan beban di dadanya. Kakinya lemas seketika, tubuhnya tersandar lemah ke dinding dingin lift. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun menahan isak yang nyaris meledak.
"Uang untuk Ibu... lupakan." gumamnya pelan, "Aku akan cari cara lain tanpa harus merendahkan diri di hadapan sosis busuk itu!"
-
-
-
Suasana lorong rumah sakit VVIP begitu hening, seakan tak ada satu pun yang berani bersuara. Di depan ruangan itu, puluhan pengawal berbadan tegap berdiri berjejer rapi, berbaris bak tembok tak tertembus.
Di dalam ruangan yang luas itu, udara terasa dingin dan menekan. Cahaya lampu yang lembut tak mampu menyamarkan aura gelap yang menyelimuti ruangan itu. Di atas tempat tidur yang dikelilingi peralatan medis canggih, seorang wanita paruh baya berbaring lemah. Wajahnya pucat, napasnya terdengar berat dan teratur dari alat bantu pernapasan. Namun di balik wajah rapuh itu, sepasang matanya masih menatap tajam ke arah pria yang berdiri di sisi tempat tidurnya.
Damian berdiri di sana. Punggungnya tegak kaku, kedua tangannya bersilang di belakang punggung. Raut wajahnya tenang, terlalu tenang, sehingga justru terasa mengerikan. Matanya yang gelap memancarkan ketegasan yang tak tertandingi, seakan satu tatapan saja darinya cukup untuk membuat siapa pun gemetar ketakutan. Aura yang terpancar dari tubuhnya begitu berat dan menekan, membuat para perawat yang sesekali masuk tak berani mengangkat wajah sedikit pun.
"Oma," panggil Damian rendah. "Dokter bilang Oma butuh istirahat. Jangan banyak bicara."
Wanita tua itu perlahan mengangkat tangan yang gemetar. Tangan dingin Damian dengan cepat langsung menangkap dan menggenggamnya.
"Oma sudah tak punya banyak waktu, Damian..." suara Rosalina lemah namun penuh penekanan, tak memberi celah untuk ditolak. "Usiamu sudah tiga puluh lima tahun. Masih saja sendirian. Apa kamu ingin melihatku pergi tanpa sempat menggendong cicit darimu?"
Damian terdiam. Rahangnya mengeras seketika. Urat di pelipisnya menonjol samar. Ia menarik perlahan tangannya dari genggaman wanita itu, lalu menatap lurus ke dalam mata neneknya.
"Aku belum butuh istri," jawabnya tegas. "La Famiglia lebih membutuhkanku. Soal istri dan anak, itu urusan belakangan."
Wanita tua itu menggeleng pelan, napasnya terengah sejenak sebelum kembali menatap cucunya dengan pandangan yang tak kalah tegas.
"Sendirian? Hm... atau kau memang takut ada yang bisa melunakkan hati iblis bernama Damian Alessandro Salvatore?" sindirnya.
"Tiga hari, Damian. Aku beri kau tiga hari untuk membawa seorang calon. Atau aku yang akan memilihkannya untukmu."
Tit... tit... tit...
Monitor jantung di samping Oma Rosalina berdetak lebih cepat. Para pengawal di luar langsung siaga.
Tangan Damian mengepal. "Baik, Oma. Aku akan membawa calon istri ke hadapan Oma."
---
---
---
Bersambung...
Begitu melihat Damian keluar dari ruangan Oma Rosalina, Luca, asisten sekaligus tangan kanan Damian segera mengiringi langkahnya. Keduanya berjalan melewati lorong yang sunyi, menuju pintu utama rumah sakit.
"Don, ada laporan dari jaringan bawah tanah. Kelompok saingan mulai melancarkan gangguan di wilayah utara."
Damian terus berjalan. Wajahnya tetap dingin dan datar tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. Ia menjawab singkat, suaranya rendah dan mematikan.
"Urusi." Matanya tetap menatap lurus ke depan. "Beri mereka peringatan tegas. Jika mereka melawan, habisi saja."
"Siap, Don."
Tiba-tiba langkah Damian terhenti mendadak. Tubuhnya tegak kaku di tengah lorong, seakan terpaku di tempatnya. Mata gelapnya yang biasanya tak punya celah emosi, kini tertuju lurus ke arah tak jauh dari sana.
Di sana, di depan meja perawat, seorang wanita berdiri memohon dengan sisa martabat yang ia punya. Tangannya mencengkeram lengan dokter wanita itu erat-erat. Matanya berkaca-kaca penuh keputusasaan, napasnya memburu menahan tangis yang nyaris pecah.
"Dokter... tolong beri saya waktu sedikit lagi..." suaranya bergetar. "Saya mohon... operasi Ibu saya tidak bisa ditunda lagi..."
Dokter itu menatapnya dengan iba, namun tetap tegas. "Saya paham, Celine. Tapi CT Scan terakhir menunjukkan pendarahan di otak Ibumu sudah semakin besar. Kalau kita tunda sampai pagi, ada kemungkinan besar Ibumu tidak akan bangun lagi. Operasi harus dilakukan jam dua belas malam ini. Untuk biaya emergency dan tim dokter jaga malam harus lunas satu jam sebelumnya."
Celine terhuyung mundur. Wajahnya pucat seketika. Kakinya lemas, namun ia tetap memaksa dirinya berdiri tegak.
"Malam ini juga..." gumamnya nyaris tak terdengar. Air matanya jatuh membasahi pipi. "Dua ratus juta... dari mana saya mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu sesingkat ini..."
Damian tetap berdiri mematung. Tatapannya tak beralih sedikit pun dari sosok wanita yang rapuh itu. Namun di balik rapuhnya, ada tekad yang membuatnya tetap berdiri.
Luca yang berdiri di sampingnya melirik sejenak. Jarinya bergerak cepat di atas layar ponsel.
"Dia sering ke sini dua minggu terakhir, Don." bisiknya pelan. "Ibu nya dirawat di VIP karena tumor otak stadium 3. Kondisinya kritis. Dan sepertinya... dia tidak punya 200 juta untuk malam ini."
"Namanya Celine Atharaya."
Damian terdiam. Tak sepatah kata pun terucap. Hanya rahangnya yang mengeras perlahan, menegaskan ketegasan yang tak terlihat di wajahnya yang datar.
Ia kembali melangkah dan membelokkan arah langkahnya. Bukan menuju pintu keluar seperti yang Luca duga. Melainkan melangkah menuju Celine yang kini berdiri rapuh sendirian.
Langkahnya berat dan penuh tekanan. Setiap hentakan seakan menggetarkan lantai rumah sakit yang dingin itu. Ia berhenti tepat satu langkah di hadapan wanita yang sedang berusaha menahan isak tangisnya. Dengan tinggi tubuhnya yang mencapai seratus sembilan puluh sentimeter, Damian seketika menaungi tubuh Celine yang begitu rapuh dan gemetar. Bayangannya menutupi sepenuhnya sosok wanita itu, seakan menelan seluruh cahaya di sekitarnya.
"Nona Atharaya." suaranya rendah, berat, dan terdengar begitu dekat meski bibirnya tak bergerak banyak.
Celine mendongak perlahan. Matanya yang bengkak dan merah memandang tak percaya ke arah pria yang tampak begitu berkuasa dan dingin di hadapannya.
"S—Siapa Anda..." suaranya tercekat, nyaris tak terdengar.
Damian menatapnya dari atas ke bawah. Tatapannya tajam, meneliti, dan tanpa sedikit pun kehangatan. Seakan sedang menilai sebuah benda, bukan manusia. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, senyum yang dingin, penuh perhitungan, dan tak menyisakan sedikit pun kelembutan.
"Saya adalah orang yang bisa melunasi dua ratus juta itu." Ucapnya pelan namun menancap tajam. "Malam ini juga."
Mata Celine seketika membelalak. Napasnya tertahan di kerongkongan. Seluruh tubuhnya tertegun.
"Benarkah..." suaranya bergetar penuh harap namun penuh kewaspadaan. "Apa syaratnya?"
Damian melangkah selangkah lebih dekat, hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan. Ia menunduk perlahan, mendekatkan bibirnya tepat ke telinga Celine, seakan tak ingin ada satu pun makhluk lain yang mendengar kalimat itu. Bisikannya terdengar rendah, berat, dan mematikan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku." bisikannya sedingin es, menghantam gendang telinga Celine. "Dan aku akan berikan ibumu dokter terbaik. Operasi malam ini juga."
Celine tersentak hebat. Seakan baru saja ditampar. Matanya terbelalak tak percaya, air mata yang tadi tertahan kini tumpah lagi. Dengan cepat dan tangan gemetar, ia mendorong dada pria di hadapannya itu sekuat tenaga.
"Kau gila!" makinya dengan suara pecah. "Kita tidak saling kenal! Aku bukan pelacur! Aku tidak mau!"
Damian tidak bergeming sedikit pun. Dorongan itu baginya seperti angin. Ia hanya menegakkan tubuhnya kembali, merapikan jasnya yang sedikit kusut.
Tatapannya masih sedatar dan sedingin sebelumnya. Seakan penolakan Celine tidak berarti apa-apa.
"Terserah kau saja." ucapnya datar. Suaranya rendah, tanpa emosi. "Pilihan ada di tanganmu, Nona Atharaya. Antara kehormatanmu... atau nyawa ibumu."
Ia berbalik. Meninggalkan Celine yang berdiri gemetar dengan isakan tertahan. Luca yang dari tadi diam, mengikuti langkah Damian tanpa sepatah kata. Hanya suara sepatu Damian yang menggema, menjauh, meninggalkan lorong dingin itu.
Celine berdiri terpaku di tempatnya. Matanya menatap punggung pria itu yang berjalan menjauh, semakin mengecil ditelan kegelapan ujung lorong.
"Antara kehormatanmu... atau nyawa ibumu..."
Kalimat itu berputar berulang kali di kepalanya, menghantam kewarasannya berkali-kali lipat. Dadanya sesak. Tangannya mengepal.
"Teman ranjang?" bisiknya masih tak percaya, suaranya pecah. "Dasar tidak waras."
Ia mengangkat tangan kirinya, jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 22.15. Operasi Ibunya di jadwalkan pukul 00.00. Waktu tersisa tinggal 1 jam 45 menit. Dan dia tidak punya uang 200 juta itu.
-
-
-
Damian berdiri bersandar pada mobil hitam mewahnya yang terparkir megah di halaman rumah sakit. Tangannya tetap berada di dalam saku celana, wajahnya sedingin biasa, tak sedikit pun tampak gelisah atau ragu.
Luca berdiri di sampingnya, melirik sekilas ke arah pintu keluar rumah sakit yang masih sepi.
"Don, sudah tiga puluh menit," ucap Luca pelan, "Sepertinya wanita itu tidak akan datang."
Sudut bibir Damian terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang penuh keyakinan dan perhitungan. Ia menatap lurus ke depan, tanpa sedikit pun keraguan.
"Dia akan datang." Suaranya rendah namun tegas. "Dia akan memilih nyawa ibunya. Bukan harga dirinya."
Damian mengangkat tangan kirinya perlahan. Matanya jatuh menatap jarum jam di pergelangan tangannya yang berdenyut teratur. Di dalam hatinya, ia mulai menghitung dengan tenang.
Tiga...
Dua...
Satu...
Tepat detik itu juga, pintu kaca rumah sakit terbuka lebar. Celine berlari keluar. Napasnya memburu hebat, rambutnya berantakan tertiup angin malam. Wajahnya pucat, mata bengkak, dan pakaian yang ia kenakan sudah sedikit kusut.
Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari-cari sesuatu, lalu berhenti pada sosok Damian yang berdiri tenang menunggu tak jauh dari sana.
Ia menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan kekuatan. Tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Damian, kakinya mulai melangkah mendekat dan berhenti tepat satu meter dari hadapan pria itu.
Keheningan menyelimuti. Hanya suara angin malam dan detak jam di pergelangan Damian.
Damian tidak bergerak. Ia hanya menatap, lalu ia membuka pintu mobil belakang untuknya.
"Masuk." Perintahnya singkat.
Celine masih diam, tubuhnya gemetar samar. Damian menatapnya sedetik, matanya sedatar es.
"Kita ke La Famiglia dulu." Suaranya rendah, tanpa nada tanya. "Kontrak dan transfer harus selesai malam ini juga. Setelah itu, kau akan ikut aku ke mansion Salvatore."
--
--
--
Bersambung...
Mobil melaju perlahan lalu berhenti tepat di depan gedung pencakar langit bertingkat tiga puluh yang menjulang angkuh menembus gelapnya malam. Seluruh bangunan itu berbalut kaca bening yang memantulkan cahaya lampu kota, di bagian depannya terpampang megah logo emas SALVATORE GROUP yang berkilau memukau. Namun kemewahan itu sama sekali tak membuat Celine merasa tenang. Justru sebaliknya, bulu kuduknya seketika berdiri merinding. Di luar tampak begitu elegan dan berkelas, namun seketika melangkah masuk, suasana yang menyambutnya terasa sangat berbeda.
Pintu terbuka perlahan. Di hadapannya, delapan orang pengawal setinggi dua meter berdiri berjejer rapi. Begitu melihat Damian, kepala mereka serentak menunduk hormat.
"Don."
Suara mereka terdengar kompak dan berat, bergema di sepanjang lorong. Tangan mereka bersilang tegap di belakang punggung, dan Celine bisa melihat samar siluet senjata yang menonjol di balik jas hitam mereka.
Lantai marmer putih yang mereka pijak begitu licin dan berkilau, memantulkan bayangan tubuh mereka. Ruangan itu begitu sunyi senyap, hingga satu-satunya suara yang terdengar hanyalah denting langkah kaki Damian yang berirama dan tegas, bergema berulang kali seakan tak akan pernah usai. Udara yang berhembus dari pendingin ruangan terasa luar biasa dingin, menusuk hingga ke sumsum tulang, membuat kulit Celine meremang seketika.
Luca melangkah mendekat, berbisik pelan namun tegas tepat di samping telinga Celine.
"Jangan bicara. Jangan menatap mata mereka. Tetaplah berjalan."
Mereka tiba di sebuah pintu lift yang berbeda dari yang lain. Di sana tertulis PRIVATE. Pintu itu tak bisa dibuka begitu saja, melainkan harus melalui pemindaian sidik jari sekaligus digesekkan kartu khusus. Hanya setelah dua pemeriksaan itu lolos, pintu baru terbuka pelan dan membawa mereka meluncur naik menuju Lantai 50. Saat pintu lift terbuka kembali, tertulis jelas di dinding depan sana, PRIVATE ROOM.
Celine melangkah keluar dengan napas tertahan. Ruangan kerja itu begitu luas, dindingnya sepenuhnya berupa kaca bening yang menjulang dari lantai hingga langit-langit tinggi, membiarkan cahaya kota yang redup menyusup masuk tanpa halangan. Di atas permukaan meja kayu hitam yang dingin, sudah terhampar satu map tebal dan selembar cek yang warnanya menyilaukan mata.
Damian duduk tegak di balik meja itu, menatap Celine tanpa ekspresi. Tangannya menunjuk kursi yang berada tepat di hadapannya.
"Duduk."
Celine melangkah gontai dan duduk perlahan. Lututnya terasa nyaris lemas tak bertulang seketika tubuhnya menyentuh permukaan kursi yang dingin itu.
Damian melirik sekilas ke arah tiga pria di sudut ruangan itu.
"Keluar."
Tanpa bertanya, tanpa bersuara sedikit pun, ketiga pria itu langsung berbalik dan melangkah keluar. Pintu tertutup rapat, terdengar suara dentuman berat yang menandakan pintu itu telah terkunci sepenuhnya.
Baru setelah keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, Damian mendorong map tebal itu ke arahnya perlahan.
"Baca dengan baik dan teliti." Suaranya datar, rendah, dan tak menyisakan ruang bagi penolakan.
Tangan Celine gemetar hebat saat membuka map itu. Matanya menyapu baris demi baris tulisan yang tercetak tegas dan tak memberi celah sedikit pun.
PERJANJIAN KERAHASIAAN & KONTRAK PERNIKAHAN
Pasal 1: Pihak kedua wajib melayani pihak pertama atas dasar kesepakatan bersama selama waktu yang tidak tentukan.
Pasal 2: Pihak pertama melunasi biaya operasi dan memberikan dua miliar rupiah setelah kontrak selesai.
Pasal 3: Dilarang menolak saat dipanggil kapan pun dan di mana pun, termasuk di panggil dalam urusan ranjang.
Pasal 4: Jika melanggar salah satu pasal, kontrak batal dan seluruh uang yang telah diterima wajib dikembalikan sepuluh kali lipat dalam waktu 24 jam.
Celine menutup map itu cepat, napasnya tercekat, "Ini perbudakan!"
Damian tidak bergeming, "Ini pernikahan dan bisnis, Nona Atharaya. Kau butuh uang. Aku butuh tubuh yang tidak cerewet. Saling menguntungkan."
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Tanda tangan. Sekarang. Tim dokter di rumah sakit sudah menunggu."
Celine menatap jam dinding besar yang tergantung tak jauh dari sana. Jarumnya menunjuk tepat pukul dua puluh tiga lewat empat puluh lima menit. Hanya tersisa lima belas menit sebelum operasi ibunya dimulai.
Air menggenang di pelupuk matanya. Namun kali ini, tak ada lagi yang bisa ia mohon. Tak ada yang bisa ia tawarkan selain dirinya sendiri. Dengan tangan yang gemetar hebat hingga pena di genggamannya nyaris terlepas, ia menunduk dalam dan menuliskan namanya di baris paling bawah.
Celine Atharaya
Tanda Tangan.
Detik itu juga, ponsel yang tergeletak di samping tangan Damian bergetar pelan. Pesan masuk dari Luca.
[Don. Dua ratus juta rupiah telah masuk ke rekening rumah sakit. Operasi akan dimulai tepat pukul dua belas malam.]
Celine memejamkan matanya rapat-rapat. Di dadanya, dua perasaan yang bertolak belakang menyerangnya bersamaan, rasa lega yang mendalam karena ibunya selamat, sekaligus rasa hancur yang tak terlukiskan karena ia baru saja menyerahkan sisa hidupnya kepada pria dingin di hadapannya.
Damian berdiri perlahan. Ia membuka laci meja, mengambil dua buah kunci, satu berwarna emas berkilau lembut, dan satu lagi kunci mobil yang gagangnya bertanda lambang Salvatore.
"Pernikahan ini sah secara hukum dan dunia bawah." ucapnya seraya melemparkan kunci emas itu ke atas meja, meluncur pelan hingga berhenti tepat di hadapan Celine. "Mulai malam ini, kita suami istri."
"Luca akan mengantarmu ke Mansion. Aku ada urusan penting di wilayah utara. Jangan keluar dari rumah itu tanpa izin tertulis dariku."
Celine meraih kunci itu. Logamnya terasa sedingin es di telapak tangannya yang berkeringat dingin. Ia menarik napas panjang, lalu menatap Damian dengan mata yang sayu dan penuh jijik, bukan pada pria itu, melainkan pada dirinya sendiri.
"Kapan..." suaranya keluar lirih dan getir, "Kapan kau ingin aku melayanimu?"
Damian berhenti tepat di ambang pintu. Ia menoleh perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh perhitungan dan kedinginan.
"Jangan khawatir." Bisiknya pelan namun menancap tajam. "Aku tak akan menyentuh barang yang belum kubayar lunas."
"Tapi ingat Pasal tiga." Lanjutnya dingin sebelum melangkah pergi. "Jangan pernah menolak saat aku memanggilmu."
Pintu kayu besar itu tertutup rapat. Namun tak lama kemudian pintu itu terbuka kembali, dan Luca melangkah masuk dengan sikap tegap dan wajah yang tetap tak terbaca.
"Mari, Nona Celine." Ucapnya hormat namun tetap tegas. "Saya akan mengantar Anda ke Mansion Salvatore."
-
-
-
Mobil hitam itu melaju pelan lalu berhenti tepat di depan gerbang besi setinggi empat meter yang menjulang angkuh. Lampu taman menyala terang berderet, menerangi halaman luas yang dihiasi air mancur berkilau dan kolam renang berwarna biru jernih berkilauan di bawah sinar lampu.
Luca turun lebih dulu dan membukakan pintu belakang untuk Celine.
"Selamat datang di Mansion Salvatore, Nyonya." ucapnya hormat namun tetap datar, tanpa sedikit pun kehangatan.
Celine melangkah keluar perlahan. Kakinya yang gemetar menyentuh lantai batu halaman yang dingin. Begitu masuk ke dalam bangunan, tiga puluh orang pelayan berjejer rapi menunduk dalam. Tak satu pun dari mereka berani mengangkat wajah atau menatap matanya. Keheningan yang mencekam menyelimuti setiap sudut tempat itu, seakan tak ada yang berani melanggar aturan.
"Ini kamar Anda, Nyonya." Luca mendorong pintu kayu besar yang berukir indah itu perlahan.
Celine melangkah masuk dan tertegun. Di dalamnya, ranjang berukuran king size tampak rapi tertata dengan seprai sutra berwarna gelap. Lemari besar di sisi ruangan terbuka sebagian, memperlihatkan deretan gaun-gaun bermerek yang masih baru, masih menempel label harganya, seakan sengaja disiapkan untuknya. Di atas meja rias yang luas, tergeletak sebuah kotak beludru kecil.
Dengan tangan gemetar, Celine membukanya dan terdapat sepasang cincin berlian berkilau terang di dalamnya. Di samping kotak itu, tergeletak sebuah ponsel baru yang masih mengkilap.
Ia mengambil ponsel itu dan menyalakannya. Layarnya menyala lembut. Tidak ada aplikasi, tidak ada kontak lain. Hanya satu nama yang tercantum di daftar kontak. DON.
Belum sempat ia menatap nama itu lebih lama, layarnya berkedip. Pesan masuk.
[Jangan tidur sebelum aku pulang.]
--
--
--
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!