Indonesia
NovelToon NovelToon

Cheon-Ji-In: Terjebak Di Dunia Murim

Bayang-Bayang Pedang Es di Bawah Rembulan Gangho

Suara tetesan air menggema di dalam gua, memecah keheningan malam.

Aku membuka mata dengan perlahan. Bukan langit-langit kamar kos yang akrab, melainkan atap kayu tua beraroma dupa pekat dan jerami basah yang pengap. Di tubuhku melekat jubah kain kasar berwarna biru pudar—pakaian para murid rendahan dari sebuah perguruan persilatan di dataran tengah.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Sumpah demi apa pun... Aku cuma keselek es teh pas lagi marathon baca novel Cheon-Ji-In semalam, kenapa sekarang malah terdampar di dunia persilatan begini?! Rasanya tidak masuk akal!”

Seketika, kepingan ingatan asing berdesakan masuk ke dalam benakku, mendesak kesadaran asliku sebagai Diah.

Aku kini merasuki raga Han So-Bin, seorang figuran rendahan di dunia Gangho yang ditakdirkan mati tragis sebelum cerita mencapai pertengahan.

Takdirnya sungguh sialan dan tidak adil. Berdasarkan adat istiadat leluhur dunia persilatan, aku adalah tunangan resmi dari Lee Do-Yun, pemuda terpandang sekaligus pewaris sah dari Sekte Pedang Langit Biru. Hubungan keluarga kami terjalin erat lewat perjanjian darah. Namun, tubuh asli ini justru kehilangan akal sehat karena terobsesi mengejar sang Pendekar Es, Kang Hyu-Jin, hingga berujung pada kematianku sendiri di tangan pria itu akibat fitnah keji aliran sesat.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Dih, ogah banget mati muda cuma karena bucin sama psikopat es! Mau jadi tumbal buat naikin porsi adegan mereka? Silakan saja, tapi catat: aku nggak ikutan!”

Malam ini juga, kutanggalkan lencana kehormatan Sekte Pedang Langit Biru dari jubahku. Aku mengerahkan sisa-sisa Naegong (tenaga dalam) di jalur meridian tubuh ini untuk memperkuat langkah kaki, lalu melarikan diri menembus pekatnya kegelapan hutan. Tujuanku jelas: Sekte Dewa Langit, perguruan di pegunungan utara yang terkenal keras mendidik muridnya secara mandiri dan disiplin mutlak, jauh dari jangkauan si Male Lead sialan itu.

Namun, hukum alam di dunia Murim tidak semudah itu membiarkan buruannya lolos. Baru tiga hari aku menikmati udara pelarian di luar wilayah kekuasaan sekte asal, angin malam tiba-tiba berhenti berhembus secara misterius.

Hawa dingin yang pekat, menusuk hingga ke sumsum tulang belakang, merayap naik dari tanah. Suasana hutan bambu berubah mencekam dalam sekejap mata.

Kriet...

Suara ranting patah yang begitu halus terdengar di belakangku.

Aku menahan napas seketika, memutar tubuhku perlahan dengan tangan gemetar yang mencengkeram hulu pedang kayu murahan di pinggangku.

Di hadapanku, di bawah naungan cahaya rembulan yang pucat, berdiri sesosok pria berbalut jubah putih bersih bersulam benang perak. Rambut hitam kelamnya tergerai diterpa angin malam, dan sepasang matanya memancarkan ketajaman mutlak yang mampu membekukan jiwa siapa pun yang berani menatapnya.

Kang Hyu-Jin. Sang Pendekar Es dari Sekte Pedang Langit Biru.

Suaranya meluncur rendah, dingin, membelah keheningan hutan bambu bagai bilah pedang tajam yang baru dihunus dari sarungnya:

"Han So-Bin..."

Pria itu melangkah maju tanpa suara. Di setiap jejak kakinya, tanah dan dedaunan kering langsung berubah menjadi kristal es putih yang berkilau memantulkan cahaya bulan.

"Kau pikir, sejauh apa kau bisa melarikan diri dari pandanganku?"

(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun, Gusti... Ini orang pakai cheat apa gimana sih?! Kenapa bisa melacakku sampai ke ujung dunia begini?! Padahal aku sudah ambil jalur memutar lewat lembah tersembunyi!”

Aku meneguk ludahku yang terasa kering, mencoba menenangkan debar jantungku yang berlomba dengan ketakutan. Meski raga ini milik Han So-Bin, jiwa di dalamnya adalah Diah yang tahu persis seberapa mematikannya pria di hadapannya ini. Kang Hyu-Jin bukan sekadar pendekar biasa; dia adalah lambang kematian bagi siapa saja yang menghalangi jalannya.

"Tuan Muda Kang," ucapku berusaha menjaga agar suara daruratku tidak bergetar hebat. Aku mengangkat dagu, mencoba menampilkan wibawa palsu. "Kita tidak memiliki urusan apa pun lagi. Aku sudah resmi melepaskan statusku sebagai murid di Sekte Pedang Langit Biru. Pergilah cari Choi Seo-Yeon, wanita yang seharusnya ada di sisi-mu!"

Mendengar nama itu, langkah Hyu-Jin justru berhenti. Alisnya yang sempurna berkerut tajam, dan suhu udara di sekitar kami mendadak semakin turun hingga napas kami mengepulkan uap putih di udara.

"Choi Seo-Yeon?" Suara Hyu-Jin terdengar bagai geraman rendah dari binatang buas yang terluka. "Apa peduliku pada wanita itu? Hubunganku dengan Sekte Pedang Langit Biru atau urusan dunia persilatan tidak ada artinya dibandingkan keberadaanmu di hadapanku saat ini, So-Bin."

Aku tertegun sesaat, merasa ada yang ganjil dari alur cerita yang kukenal. Di dalam novel aslinya, Kang Hyu-Jin seharusnya tergila-gila pada Choi Seo-Yeon, sang pemeran utama wanita yang lembut dan berbakat. Kenapa sekarang dialognya jadi melenceng jauh begini?

Sebelum aku sempat memikirkan kejanggalan itu lebih jauh, sesosok bayangan putih lain melesat turun dari puncak pohon bambu tinggi dengan gerakan ringan sehelai bulu.

Plak! Plak! Plak!

Suara tepukan tangan yang santai memecah ketegangan di antara kami.

Seorang pria dengan jubah brokat mewah berwarna biru safir dan putih mendarat dengan anggun di antara aku dan Hyu-Jin. Di tangan kanannya, sebuah kipas lipat bertuliskan aksara kuno dikibaskan perlahan untuk mengusir hawa dingin yang diciptakan oleh Hyu-Jin. Wajahnya tampan dengan senyum miring yang menyebalkan, memancarkan pesona seorang ningrat persilatan yang angkuh.

Lee Do-Yun. Sahabat karib Kang Hyu-Jin sekaligus... tunangan sah Han So-Bin.

"Luar biasa," puji Do-Yun dengan nada mengejek yang kental. Ia melirik sekilas ke arahku, lalu menatap tajam ke arah Hyu-Jin. "Aku mengikutimu jauh-jauh dari markas utama bukan untuk menonton pertunjukan tatap-tatapan yang memuakkan ini, Pendekar Es. Kau hampir membekukan paru-paru tunanganku dengan kekuatan esmu yang berlebihan itu."

(Batin Diah / Han So-Bin): “Duh, komplit sudah penderitaan hari ini! Kenapa tokoh-tokoh penting di novel ini malah berkumpul jadi satu di hutan terpencil begini?! Tamatlah sudah riwayat pelarianku!”

Hyu-Jin melirik Do-Yun dengan tatapan membunuh yang bisa merubuhkan gunung. Aura Qi kebiruan mulai berkumpul di sekitar jemari Hyu-Jin, membentuk bilah-bilah es tipis yang berdengung nyaring di udara.

"Tutup mulutmu, Do-Yun," geram Hyu-Jin, suaranya nyaris berbisik namun penuh ancaman kematian. "Status tunangan itu tidak pernah sah di mataku. Han So-Bin adalah milikku, dan siapa pun yang berani menghalangi jalanku untuk membawanya pulang, akan merasakan kemarahan Sekte Pedang Langit Biru yang sebenarnya."

Aku memijat pelipisku yang mendadak berdenyut nyeri. Terjebak di dunia Murim ternyata jauh lebih melelahkan daripada lembur tugas kantor di dunia asal. Di tengah kepungan dua pria paling berbahaya di dataran tengah ini, aku harus memutar otak agar bisa bertahan hidup tanpa harus menjadi tumbal romansa mereka.

Debat Kusir di Tengah Kepungan Pendekar

Suara desir angin malam di Hutan Bambu Kabut Putih mendadak terasa jauh lebih sunyi dari yang seharusnya. Di hadapanku, atmosfer dingin yang dipancarkan oleh Kang Hyu-Jin berbenturan hebat dengan aura santai namun berbahaya dari Lee Do-Yun.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun, Tuhan... Ini suasananya kayak sidang skripsi tapi yang menguji dua psikopat berdarah dingin. Bisa nggak sih aku minta cuti dari novel ini? Tolong kembalikan aku ke kasur kos!”

Aku berdiri di antara mereka berdua, merapatkan jubah kain kasar Sekte Dewa Langit ke tubuhku untuk menahan sisa-sisa hawa es yang masih merayap. Otakku berputar seribu keliling, mencari celah untuk kabur sebelum salah satu dari mereka kehilangan kesabaran dan membuat kepalaku terpisah dari badan.

Namun, seolah penderitaan malam ini belum cukup lengkap untuk membuatku jantungan, sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa tiba-tiba membelah kegelapan dari arah barat hutan bambu.

"Sudah cukup drama murahan di tengah hutan ini. Berhenti mempermalukan diri kalian sendiri, Hyu-Jin, Do-Yun."

Deg!

Suhu udara yang tadinya membeku mendadak kembali normal, berganti dengan tekanan Qi yang begitu berat hingga membuat lututku hampir lemas seketika.

Dari balik bayangan dahan pohon pinus tertinggi, sesosok pria berpostur tegap melangkah turun tanpa suara. Ia mengenakan jubah resmi berwarna hitam legam dengan sulaman benang emas di kerahnya—lambang kehormatan tertinggi dari Sekte Pedang Langit Biru. Wajahnya tampan, tegas, dan memancarkan aura seorang pemimpin mutlak yang tak kenal kompromi.

Choi Min-Hyuk. Kakak kandung dari Choi Seo-Yeon, sekaligus senior paling dihormati di sekte tersebut.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Wah, lengkap sudah! Ini arisan keluarga besar atau apa? Kenapa semua tokoh penting yang harusnya sibuk di markas utama malah nongkrong di sini malam-malam begini?!”

Min-Hyuk melangkah mendekat dengan tatapan tajam menghujam lurus ke arahku. Matanya menyipit, menilai penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki—terutama lencana Sekte Dewa Langit yang terpasang di dada jubahku.

"Han So-Bin," panggil Min-Hyuk dengan suara berat yang menggelegar di keheningan malam. "Apa yang merasukimu hingga berani menanggalkan lencana sekte kita dan kabur membawa diri ke sarang musuh? Kau tahu betul aturan perguruan melarang keras tindakan pembangkangan semacam ini."

Aku meneguk ludahku yang terasa kering. Menghadapi Kang Hyu-Jin saja sudah membuat nyawaku di ujung tanduk, sekarang ditambah Choi Min-Hyuk yang terkenal paling disiplin dan kejam dalam menegakkan hukum sekte. Tamatlah riwayatku!

"Senior Choi..." cicitku pelan, berusaha memasang wajah selugu dan seaman mungkin. "Aku hanya... um, berniat mencari pencerahan batin di luar? Udara di Sekte Pedang Langit Biru terlalu dingin untuk paru-paruku!"

(Batin Diah / Han So-Bin): “Alasan macam apa itu, Diah?! Mau bohong juga otakku nggak sanggup mikir yang elegan!”

Choi Min-Hyuk mendengus dingin. Ia melirik sekilas ke arah adiknya—meski sang adik tidak ada di tempat, nama Choi Seo-Yeon selalu membawa beban tersendiri bagi para pria di novel ini. Min-Hyuk tahu persis bahwa Hyu-Jin seharusnya fokus pada Seo-Yeon, bukan malah memburu figuran tidak penting sepertiku.

"Pencerahan batin katamu?" Min-Hyuk mengangkat sebelah alisnya, lalu menatap tajam ke arah Hyu-Jin dan Do-Yun secara bergantian. "Alasan yang konyol. Tapi lebih konyol lagi melihat Pendekar Es dan pewaris kedua Sekte Pedang Langit Biru mengejar seorang murid rendahan hingga melintasi perbatasan wilayah."

Kang Hyu-Jin tidak mengindahkan sindiran Min-Hyuk. Pria berambut hitam itu kembali melangkah mendekatiku, mengabaikan jarak aman. Tatapannya sama sekali tidak lepas dari mataku, seolah dunia di sekitar kami telah lenyap dan yang tersisa hanya aku dan dirinya.

"Aku tidak peduli pada aturan sekte, Min-Hyuk," ucap Hyu-Jin dingin, suaranya mengandung ancaman mutlak yang membuat udara di sekitar kami kembali bergemeretak. "Katakan apa yang harus kukorbankan agar kau membiarkanku membawa So-Bin kembali ke kediamanku."

Lee Do-Yun, yang sejak tadi berdiri santai dengan kipas lipatnya, langsung menutup kipas itu dengan suara klik yang cukup keras. Senyum main-main di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan serius yang jarang ia tunjukkan.

"Pelan-pelan, Hyu-Jin," suara Do-Yun berubah tegas, tidak lagi bernada mengejek. Ia melangkah maju, berdiri tepat di sampingku seolah menegaskan statusnya. "Jangan lupa posisimu. Dia adalah tunanganku secara sah di hadapan para tetua. Sekalipun kau pendekar terkuat di dataran tengah, kau tidak berhak merampas apa yang menjadi milikku."

Atmosfer di antara mereka bertiga langsung menegang seketika. Percikan-percikan tenaga dalam mulai beradu di udara, menciptakan tekanan tak kasat mata yang membuat dada sesak.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun! Ini kenapa jadi perebutan hak asuh anak begini?! Aku ini manusia, bukan barang sitaan pasar gelap! Kenapa kalian malah bertengkar di atasku?!”

Aku menatap Min-Hyuk, berharap sang senior yang berwibawa itu bisa melerai kegilaan ini dan menyuruh mereka pulang. Namun, Min-Hyuk justru menghela napas panjang, memijat pelipisnya seolah-olah ia sedang menghadapi masalah administratif yang paling melelahkan sepanjang hidupnya.

"Kalian berdua benar-benar sudah kehilangan akal sehat," geram Min-Hyuk, menatap Hyu-Jin dan Do-Yun dengan pandangan jengkel. "Hyu-Jin memiliki tanggung jawab besar melindungi dunia persilatan dari ancaman Sekte Sesat, dan kau, Do-Yun, seharusnya mengurus urusan administrasi internal alih-alih mengejar wanita yang jelas-jelas berniat kabur dari kalian."

Min-Hyuk kemudian mengalihkan pandangannya tajam kepadaku. Sorot matanya membuatku merinding ketakutan.

"Dan kau, Han So-Bin," lanjut Min-Hyuk dengan suara dingin bernada mutlak. "Karena kau telah membuat kekacauan besar di kalangan murid utama dan melanggar sumpah perguruan, kau tidak bisa begitu saja memilih pergi ke Sekte Dewa Langit."

Jantungku berdegup kencang hingga rasanya mau loncat keluar dari dada.

"Lalu... lalu aku harus bagaimana, Senior Choi?" tanyaku gemetar, benar-benar pasrah jika detik ini juga aku ditebas jadi dua.

Min-Hyuk menyilangkan kedua tangannya di dada, menatapku lurus-lurus sebelum menjatuhkan vonis yang membuat seluruh darahku mendadak berhenti mengalir.

"Kau harus ikut kembali ke markas utama di bawah pengawasan ketat. Dan status pertunanganmu dengan Do-Yun... akan ditinjau ulang langsung oleh para tetua agung besok pagi."

(Batin Diah / Han So-Bin): “Tinjau ulang? Yang benar saja! Kalau aku balik ke sana, nasibku cuma tinggal nama doang di nisan! Lebih baik aku pura-pura pingsan sekarang!”

Sebelum aku sempat benar-benar merebahkan diri ke tanah dan pura-pura mati, Kang Hyu-Jin sudah lebih dulu bergerak cepat. Pria itu menyambar pergelangan tanganku, menarik tubuhku merapat ke dadanya dengan kekuatan mutlak yang tidak bisa dilawan. Suhu tubuhnya yang sedingin es langsung berpadu dengan kepanikanku yang luar biasa.

"Jangan harap ada yang bisa membawanya kembali ke markas utama selain aku," bisik Hyu-Jin tepat di dekat telingaku, suaranya begitu rendah, posesif, dan sukses membuat bulu kudukku berdiri serempak.

Do-Yun mendengus tajam, sementara Min-Hyuk mengangkat pedangnya setengah inch dari sarungnya, bersiap menghadapi apa pun kekacauan yang akan terjadi selanjutnya di bawah cahaya rembulan Gangho yang semakin temaram.

Guntur di Hutan Bambu dan Keputusan Mutlak

Suara bilah pedang yang bergesekan dengan sarungnya berderak nyaring, memecah kesunyian malam di Hutan Bambu Kabut Putih. Tekanan tenaga dalam dari tiga pendekar hebat itu menciptakan badai angin kecil yang membuat jubahku berkibar liar.

Aku, Diah yang terperangkap dalam raga Han So-Bin, sudah berada di ambang batas kewarasan. Di dunia nyata, masalah terbesar dalam hidupku paling-paling revisi skripsi atau deadline kerjaan kantor. Tapi di sini? Aku dikepung oleh tiga tokoh utama pria novel Murim yang siap saling bunuh hanya karena memperebutkan seorang figuran sialan yang bahkan tidak ingin ada di dekat mereka!

(Batin Diah / Han So-Bin): “Cukup sudah! Aku tidak mau mati sia-sia jadi korban drama cinta segitiga berdarah ini. Kalau aku terus diam, nyawaku bakal melayang sebelum sempat melihat matahari terbit besok pagi!”

Dengan sisa-sisa keberanian yang kumiliki, aku mengerahkan seluruh tenaga dalam dari tubuh asli ini, meronta dengan sekuat tenaga hingga cengkeraman tangan Kang Hyu-Jin di pergelangan tanganku terlepas. Aku melompat mundur beberapa langkah, mengambil jarak aman di antara mereka bertiga.

Napas tersengal, dadaku naik turun menahan amarah dan rasa frustrasi yang sudah mencapai ubun-ubun. Kupelototi mereka satu per satu—mulai dari Hyu-Jin yang menatapku dengan mata penuh obsesi dingin, Do-Yun yang menyipitkan mata dengan kipas terlipat, hingga Min-Hyuk yang berdiri tegak dengan wajah kaku penuh wibawa.

"Lebih baik batalkan pertunangan ini dan keluarkan aku dari Sekte Pedang Langit Biru. Aku tidak memilih siapa pun!"

Suaraku menggema di tengah rimbunnya pohon bambu, tajam dan penuh penegasan. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku, mutlak dan tanpa ragu.

Seketika, suasana di sekitar kami berubah menjadi sunyi senyap. Angin malam yang tadinya menderu kencang mendadak berhenti berhembus. Waktu rasanya berhenti selama beberapa detik. Ketiga pendekar terkuat di dataran tengah itu mematung, menatapku dengan ekspresi terkejut yang belum pernah mereka tunjukkan sebelumnya.

Di dalam novel aslinya, Han So-Bin digambarkan sebagai gadis bodoh yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian Kang Hyu-Jin, sekaligus patuh pada ikatan pertunangan dengan Lee Do-Yun demi ambisi keluarga. Dia tidak pernah membangkang, apalagi menolak keduanya secara terang-terangan di hadapan publik Gangho.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Biarin dikira lancang! Daripada aku harus terjebak dalam lingkaran setan yang ujung-ujungnya bikin kepalaku dipenggal, lebih baik aku jadi pengangguran bebas tanpa status sekte!”

Kang Hyu-Jin adalah orang pertama yang bereaksi. Alis tajamnya berkerut dalam, dan sepasang mata kelamnya menatapku lekat-lekat, seolah ia sedang mencoba mencari kebohongan di balik sorot mataku.

"Apa yang baru saja kau katakan, So-Bin?" Suara Hyu-Jin terdengar rendah, berbahaya, dan bergetar tipis menahan emosi yang siap meledak. "Membatalkan pertunangan? Keluar dari sekte? Kau pikir dunia persilatan ini tempat bermain yang bisa kau tinggalkan begitu saja sesukamu?"

"Kenapa tidak?!" tukasku sengit, menatap balik tanpa rasa takut. "Aku tidak peduli dengan status, tidak peduli dengan pertunangan kolot itu, dan aku seratus persen tidak punya niat untuk jadi bagian dari kisah kalian! Kalian mau saling bunuh? Silakan! Tapi jauhkan aku dari urusan kalian!"

Lee Do-Yun perlahan menurunkan kipas lipatnya. Senyum main-main di wajahnya lenyap sepenuhnya, digantikan oleh tatapan rumit yang sulit diartikan. Pria itu melangkah maju satu langkah, menatapku dengan sorot mata yang menyiratkan rasa tidak percaya.

"Han So-Bin..." Do-Yun bersuara, nadanya terdengar jauh lebih serius dari sebelumnya. "Kau sadar dengan konsekuensi ucapanmu? Begitu kau memutuskan keluar dari Sekte Pedang Langit Biru dan memutuskan pertunangan kita, kau tidak akan punya perlindungan apa pun di dunia Gangho. Aliran sesat dan para pemburu bayaran bisa memangsamu kapan saja."

"Biar saja!" potongku cepat. "Setidaknya aku mati sebagai diriku sendiri, bukan mati karena jadi tumbal cerita kalian!"

Choi Min-Hyuk, yang sejak tadi hanya menyimak dengan tangan bersilang di dada, akhirnya membuka suara. Wajahnya yang tegas tampak mengeras, memancarkan wibawa seorang pemimpin senior yang menjunjung tinggi aturan perguruan.

"Ucapanmu adalah bentuk pengkhianatan terhadap sumpah leluhur sekte, So-Bin," ucap Min-Hyuk dingin, suaranya menggelegar bagai guntur kecil di malam hari. "Sekte Pedang Langit Biru tidak pernah melepas begitu saja murid yang keluar dengan niat membangkang. Jika kau bersikeras, maka kau harus melewati hukuman disiplin berat terlebih dahulu."

(Batin Diah / Han So-Bin): “Hukuman disiplin? Yang benar saja! Bisa-bisa tulangku remuk sebelum sempat kabur ke Sekte Dewa Langit!”

Sebelum Min-Hyuk sempat mengangkat tangannya untuk memberi isyarat kepada para pengawal bayangan sekte, Kang Hyu-Jin bergerak dengan kecepatan kilat yang tidak bisa ditangkap oleh mata biasa.

Syuuung!

Dalam sepersekian detik, Hyu-Jin sudah berdiri tepat di hadapanku. Sebelum aku sempat melangkah mundur, tangan dinginnya mencengkeram kedua bahuku dengan lembut namun tegas—kunci pertahanan yang tidak memberiku celah untuk lari.

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun, So-Bin," bisik Hyu-Jin tepat di depan telingaku, suaranya begitu intens hingga membuat bulu kuduku merinding seketika. "Jika kau tidak mau kembali ke Sekte Pedang Langit Biru, dan jika kau menolak pertunangan dengan Do-Yun... maka aku akan membawamu ke tempat di mana tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menemukan kita."

Mendengar ancaman posesif itu, mata Lee Do-Yun melebar. Pria itu langsung menghunus pedangnya setengah inch, memancarkan aura permusuhan yang pekat.

"Jangan gila, Hyu-Jin!" seru Do-Yun tajam. "Kau tidak bisa membawanya pergi begitu saja! Dia masih tunanganku secara hukum adat!"

"Hentikan omong kosong kalian berdua!" Min-Hyuk ikut menghunus pedangnya, menatap kedua rekannya dengan amarah yang tertahan. "Kalian berdua benar-benar sudah mencoreng kehormatan Sekte Pedang Langit Biru malam ini!"

(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun... Ini bukan lagi drama romantis, tapi mau tawuran massal tingkat tinggi! Kenapa nasibku jadi se-epos ini sih?!”

Aku meronta di dalam cengkeraman Hyu-Jin, mencoba melepaskan diri dari situasi gila yang semakin tidak terkendali ini. Namun, di tengah kekacauan itu, sebuah getaran aneh tiba-tiba terasa bergemuruh dari dalam tanah.

Bukan lagi hawa es milik Hyu-Jin, melainkan getaran gelap dan pekat yang berbau darah serta kematian.

Suhu di sekitar hutan bambu mendadak berubah menjadi panas membara, lalu berubah dingin ekstrem dalam waktu bersamaan. Daun-daun bambu yang tadinya hijau segar, dalam hitungan detik berubah menjadi kehitaman dan membusuk seketika.

Hyu-Jin, Do-Yun, dan Min-Hyuk seketika menghentikan perdebatan mereka. Wajah ketiga pendekar hebat itu berubah drastis menjadi tegang, mata mereka tajam memandangi kegelapan malam di ujung barat hutan.

"Aura ini..." gumam Min-Hyuk pelan, wajahnya sepucat kertas. "Aliran Sesat Darah Hitam..."

(Batin Diah / Han So-Bin): “Hah? Aliran Sesat?! Tunggu dulu, di plot aslinya serangan ini harusnya baru muncul tiga bab lagi setelah insiden di kota! Kenapa sekarang mereka sudah muncul di sini?!”

Sebelum ada dari kami yang sempat menarik napas, puluhan bayangan hitam dengan topeng iblis bermunculan di atas dahan-dahan bambu, mengepung kami rapat-rapat dengan bilah pedang berlumur racun ungu yang mematikan.

Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!