Indonesia
NovelToon NovelToon

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Episode 1

Bab 1

Pagi di Kamar yang Salah

Suite presiden Grand Regalia Hotel tampak seperti baru diterjang badai.

Gelas pecah di dekat sofa. Dua bantal terlempar ke lantai. Gaun hitam Kayla tergeletak di atas karpet dengan salah satu tali bahunya putus.

Kayla duduk di tengah ranjang sambil mencengkeram selimut sampai ke dagu. Wajahnya panas ketika menatap laki-laki asing di seberang sana.

Laki-laki itu berdiri di depan jendela, mengenakan celana panjang dan kemeja putih yang belum dikancingkan. Rambutnya masih berantakan. Ada bekas cakaran merah di dada dan bahunya.

Sial.

Bahkan dalam keadaan seperti ini, laki-laki itu tetap enak dipandang.

Kayla buru-buru mengalihkan mata. Seluruh tubuhnya nyeri. Kepalanya berdenyut, tenggorokannya kering, dan aroma jeruk dingin yang tertinggal di bantal membuat beberapa potongan kejadian semalam kembali menghantam ingatannya.

Laki-laki itu mengambil gelas dari meja, mencium sisa cairan di dasarnya, lalu menatap Kayla.

"Sudah ingat?" tanyanya. "Kenapa kau ada di kamarku?"

Kayla menunduk. Ingatan yang tadi hanya berupa pecahan mendadak tersusun lebih jelas.

Semalam Vera mengajaknya makan di ruang privat hotel. Katanya, mereka perlu bicara baik-baik sebagai saudara.

"Minum dulu, Kayla." Vera mendorong segelas jus merah muda ke arahnya. "Kau dari rumah sakit, kan? Pasti capek."

Kayla hanya meneguk setengah gelas.

Sepuluh menit kemudian, tangannya tidak bisa lagi menggenggam sendok.

Panas menjalar dari perut ke leher. Pandangannya berputar. Ia masih bisa mendengar, tetapi tidak sanggup mengangkat kepala ketika Vera dan Tante Fen memapahnya keluar.

Di dalam lift, suara mereka terdengar sejelas bunyi mesin yang membawa mereka naik ke lantai teratas.

"Asal Kayla melahirkan anak untuk Wilson, pernikahanmu akan aman," kata Tante Fen. "Kau yang akan membesarkan anak itu. Semua orang tetap menganggapnya anakmu."

"Tante, kalau Kayla melapor polisi bagaimana?"

"Melapor dengan bukti apa? Lagi pula, apa buruknya menjadi simpanan keluarga Chandra? Dia akan dapat apartemen, mobil, dan uang. Perempuan lain mengantre untuk hidup seperti itu."

"Tapi dia adikku."

"Adik angkat," Tante Fen membetulkan. "Kau membiayai sekolahnya bertahun-tahun. Sudah waktunya dia membalas budi."

Kayla ingin berteriak. Yang keluar dari tenggorokannya hanya suara lemah yang tenggelam di balik dengung lift.

Pintu terbuka di lantai dua puluh.

Vera masih ragu ketika mereka menyeret Kayla menyusuri lorong.

"Kalau Wilson justru menyukai Kayla bagaimana?"

Tante Fen berhenti. "Jadi itu yang kau takutkan?"

"Bukan begitu."

"Kalau malam ini gagal, besok aku akan mencarikan perempuan lain untuk Wilson. Bedanya, perempuan itu tidak akan menyerahkan bayinya kepadamu. Setelah itu, jangan salahkan aku kalau Wilson menceraikanmu."

Vera langsung diam.

Ia telah menandatangani perjanjian pranikah. Jika bercerai, ia akan keluar dari keluarga Chandra tanpa uang. Semua kerabat di Bekasi mengenalnya sebagai perempuan yang berhasil menikah dengan orang kaya. Kehilangan Wilson berarti kehilangan seluruh hidup yang selama ini ia pamerkan.

"Nomor berapa?" tanya Vera akhirnya.

Tante Fen menyipitkan mata ke arah pesan di ponselnya. "2010."

Mereka berjalan beberapa langkah.

"Bukan. Sepertinya 2001. Ya, 2001."

"Tante yakin?"

Tante Fen mendorong pintu yang tidak tertutup rapat. "Lihat, pintunya terbuka. Wilson pasti sudah menunggu. Cepat masukkan dia."

Mereka menjatuhkan Kayla di atas ranjang.

Dari dalam kamar mandi terdengar suara air. Vera sempat menoleh, tetapi Tante Fen langsung menariknya keluar.

"Pulang bersamaku. Jangan menelepon Wilson malam ini kalau kau masih ingin mempertahankan suamimu."

Setelah pintu tertutup, panas di tubuh Kayla semakin tidak tertahankan. Ia mencoba bangun, tetapi kedua lengannya tidak bertenaga.

Lalu pintu kamar mandi terbuka.

Aroma jeruk yang segar lebih dulu mencapai ranjang. Seorang laki-laki keluar dengan rambut basah dan handuk putih melilit pinggang. Tubuhnya tinggi dan keras. Wajahnya tampan, tetapi sorot matanya sama bingungnya ketika melihat Kayla.

"Siapa kau?"

Kayla ingin menjawab. Lidahnya kelu.

Laki-laki itu mendekat, lalu mendadak mencengkeram tepi meja. Napasnya berubah berat. Gelas kosong di dekatnya jatuh dan menggelinding di atas karpet.

Ternyata bukan hanya Kayla yang telah diberi obat.

Setelah itu, ingatannya terputus-putus. Tangan yang sempat menahannya agar tidak jatuh. Aroma jeruk yang semakin kuat. Suara napas yang kacau. Gaunnya yang robek.

Lalu gelap.

Pagi datang bersama rasa sakit dan sebuah kenyataan yang tidak bisa mereka tarik kembali.

Ucapan Tante Fen sebelum pintu suite tertutup kembali terngiang di kepala Kayla. `2010. Bukan. Sepertinya 2001.`

Laki-laki di hadapannya jelas bukan Wilson.

Tante Fen telah salah memilih pintu.

"Aku seharusnya tidak ada di sini," katanya.

"Itu belum menjawab pertanyaanku."

"Aku dibawa ke kamar ini dalam keadaan tidak sadar."

Tatapan laki-laki itu turun ke gelas di tangannya. "Kebetulan sekali. Minumanku juga dicampur sesuatu."

Mereka terdiam.

Kayla tidak tahu siapa yang menjebak laki-laki itu. Ia juga belum tahu apakah ceritanya akan dipercaya. Namun satu hal sudah jelas. Mereka berdua sama-sama tidak merencanakan malam ini.

Bel kamar berbunyi.

Laki-laki itu mengambil dua jubah mandi dari lemari. Satu dilemparkannya kepada Kayla, satu lagi ia kenakan sendiri.

"Pakai."

"Terima kasih," jawab Kayla, lalu menambahkan dalam hati, setidaknya laki-laki ini masih punya sedikit akal sehat.

Begitu Kayla selesai mengikat jubah, pintu dibuka.

"Surprise!"

Tiga laki-laki menyerbu masuk sambil tertawa. Yang paling depan membawa dua gelas kopi. Yang kedua mengangkat paper bag sarapan. Yang termuda bahkan menyalakan kamera ponselnya.

Tawa mereka berhenti ketika melihat Kayla di atas ranjang.

Tatapan Adrian menyapu ketiganya. "Siapa yang memberi kalian keberanian mencampur sesuatu ke minumanku?"

"Matikan kameranya, Sean," kata laki-laki asing itu dingin.

Sean segera menurunkan ponsel. "Ko, idenya dari Nico dan Vincent. Aku cuma ikut."

Pria berkacamata di sebelahnya menyikut lengannya. "Pengkhianat. Kita bertiga sepakat. Perempuan pendamping dari Amanda seharusnya datang. Kami tidak tahu akan jadi begini."

"Aku cuma mau merekam wajahnya saat kena prank, bukan ini," bela Sean.

"Cukup," potong Adrian.

Jadi nama laki-laki itu Adrian.

Pria yang membawa kopi, Nico, mengamati Kayla. "Tunggu. Kalau perempuan dari Amanda tidak pernah masuk, lalu dia siapa?"

"Namaku Kayla," jawab Kayla. "Dan aku juga ingin tahu kenapa bisa berada di sini."

Sean memiringkan kepala. "Kayla? Nama yang bagus."

"Bukan waktunya menggoda orang," gumam Nico.

Vincent justru menepuk dahinya. "Aku tahu. Dia pasti salah satu penggemar Adrian."

Kayla menatapnya datar.

Vincent semakin bersemangat dengan teorinya sendiri. "Lantai ini butuh kartu akses. Dia mungkin mengikuti Adrian, melihat pintu tidak terkunci, lalu menyelinap masuk. Benar, kan?"

"Hebat," kata Kayla. "Kau menyusun cerita lengkap tanpa satu pun bukti."

Sean menahan tawa. Nico berdeham sambil memalingkan wajah.

Vincent tidak menyerah. "Kalau bukan begitu, kenapa kau ada di ranjang Adrian?"

Pertanyaan itu membuat udara di kamar berubah.

Kayla meremas ujung jubah. Di balik nada konyol Vincent, tuduhannya tetap menghina. Ia yang dijual oleh keluarganya, tetapi pagi ini orang lain melihatnya sebagai perempuan yang sengaja naik ke ranjang laki-laki kaya.

Episode 2

Bab 2

Aku Bukan Alat Tukar Keluarga

Adrian bersandar di kusen pintu kamar tidur. Tatapannya kembali dingin.

"Kau diam saja," katanya kepada Kayla. "Apa berarti tebakan Vincent benar?"

Kayla menatap Adrian. "Kalau aku bilang minumanku diberi obat lalu aku dilempar ke kamar yang salah, apa kau akan percaya?"

"Aku tidak punya alasan untuk langsung percaya."

Jujur. Menyebalkan, tetapi jujur.

Adrian melanjutkan, "Aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Tapi kalau tujuanmu adalah menuntutku bertanggung jawab lalu memakai kejadian semalam untuk menempel padaku, lupakan."

Kayla sempat terpaku.

Kemudian bahunya mengendur. Untuk pertama kalinya sejak bangun, ia benar-benar merasa lega.

"Syukurlah," katanya. "Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab."

Keheningan jatuh begitu cepat sampai dengung pendingin ruangan terdengar jelas.

Nico menatap Kayla. Sean menatap Adrian. Vincent membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Kecurigaan di mata Adrian surut sedikit. Kayla jelas bukan perempuan yang datang untuk menuntut status atau tanggung jawab. Seharusnya itu membuatnya lega.

Namun rahangnya justru mengeras tipis. Penolakan tanpa ragu itu tampaknya menusuk bagian lain dari harga dirinya. Apa dirinya sama sekali tidak menarik di mata perempuan ini?

Kayla menangkap perubahan kecil itu dan hampir ingin tertawa. Sayangnya, seluruh tubuhnya terlalu sakit untuk menikmati harga diri laki-laki asing yang baru saja terluka.

Kayla turun dari ranjang. Lututnya sempat goyah, tetapi ia menolak kembali duduk.

"Aku hanya perlu pakaianku, tas selempang cokelat, dan ponselku. Setelah itu aku pergi."

Nico memeriksa ruang tamu. "Tasnya tidak ada."

Tentu saja tidak ada. Terakhir kali Kayla melihatnya, tas itu berada di kursi sebelah Vera.

"Minta staf perempuan mengantar pakaian dari butik hotel," kata Adrian kepada Nico.

Vincent menoleh. "Kau percaya dia?"

"Aku percaya kamera."

Jawaban itu dingin, praktis, dan entah kenapa lebih mudah diterima Kayla daripada belas kasihan.

Lima belas menit kemudian, seorang staf perempuan meninggalkan satu set pakaian sederhana di depan pintu. Kayla berganti di kamar mandi. Gaun robeknya ia masukkan ke dalam tas kertas.

Setelah keluar dari kamar mandi, Kayla berjalan menuju pintu. Sebelum melewati Adrian, ia berhenti.

"Aku mendengar sendiri mereka berencana menjualku kepada Wilson," katanya. "Jadi tidak, aku tidak mengikutimu. Kau hanya orang yang kebetulan berada di balik pintu yang salah."

Wajah Adrian mengeras mendengar kata dijual, tetapi Kayla tidak memberinya kesempatan untuk bertanya.

Vincent bergeser memberi jalan. Kali ini tidak ada teori baru yang keluar dari mulutnya.

Di ambang pintu, Kayla menoleh kepada tiga laki-laki itu.

"Kalau rekamannya membuktikan aku dibawa ke sini dalam keadaan setengah sadar, kalian bertiga berutang permintaan maaf. Terutama si detektif tanpa bukti."

Sean gagal menahan tawa. Nico menepuk bahu Vincent dengan wajah prihatin.

Kayla lalu menatap Adrian. "Dan kita tidak pernah bertemu."

"Itu yang terbaik," jawab Adrian.

Kayla keluar tanpa menoleh lagi.

Pintu lift terbuka di ujung lorong. Begitu ia masuk, senyum tipis di wajahnya menghilang.

Di telapak tangannya ada bekas kuku yang menancap sejak tadi. Di lengannya tergantung tas kertas berisi gaun robek. Di Bekasi, ada seorang kakak dan seorang ibu mertua yang pasti sedang bertanya-tanya mengapa rencana mereka gagal.

Kayla mengepalkan tangan.

Ia akan pulang dan meminta jawaban dari mereka.

Di belakangnya, sebelum pintu lift menutup, suara Adrian terdengar dari dalam suite.

"Nico, pastikan hotel mengamankan rekaman koridor. Aku ingin tahu siapa yang membawa Kayla ke lantai ini."

Pintu menutup.

Aroma jeruk dingin tertinggal di lantai dua puluh, bersama satu malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Keluarganya telah menjualnya semalam.

Pagi ini, Kayla pulang untuk menagih jawaban.

Sebelum meninggalkan Grand Regalia, petugas keamanan menyerahkan tas selempang cokelat yang ditemukan di ruang privat restoran. Dompet dan kartu identitasnya masih ada. Ponselnya mati, tetapi menyala kembali setelah diisi daya beberapa menit di lobi.

Ada dua puluh tiga panggilan tak terjawab.

Tujuh dari Vera. Sebelas dari Rosa. Sisanya nomor Wilson Chandra dan nomor tak dikenal.

Tidak satu pun pesan bertanya apakah Kayla baik-baik saja.

Pesan pertama Vera berbunyi, `Kamu di mana?`

Pesan berikutnya lebih jujur.

`Kenapa Wilson pulang sendirian semalam?`

Di dalam taksi menuju Bekasi, Kayla membaca kalimat itu dua kali. Lalu ia tertawa pendek sampai pengemudi melirik dari kaca tengah.

Bukan keselamatannya yang dikhawatirkan Vera. Rencana mereka yang gagal.

Perjalanan keluar dari kawasan hotel terasa seperti perpindahan antara dua dunia. Gedung kaca dan mobil mewah perlahan berganti dengan jalan padat, deretan ruko, pengendara motor yang menyelip di antara kendaraan, serta spanduk cicilan yang menggantung di depan toko elektronik.

Kayla menyandarkan kepala ke kursi. Tubuhnya menuntut tidur, tetapi amarah membuat matanya tetap terbuka.

Menjelang siang, taksi berhenti di depan toko sembako keluarga Halim. Pintu gulungnya terbuka setengah. Tumpukan kardus mi instan memenuhi sisi pintu, sementara dua ibu tetangga sedang memilih minyak goreng.

Rosa melihat Kayla lebih dulu.

"Kayla!"

Suara itu membuat kedua pelanggan menoleh. Kayla masuk tanpa menjawab. Ia menunggu sampai para pelanggan membayar dan pergi, lalu menutup pintu kaca toko.

Vera muncul dari tangga menuju lantai atas. Wajahnya pucat saat melihat pakaian butik hotel yang dikenakan Kayla.

"Kau dari mana?"

Kayla meletakkan tas kertas berisi gaun robek di atas meja kasir.

"Kalian seharusnya lebih tahu jawabannya."

Benny berdiri di belakang rak rokok. Ia memandang tas itu, kemudian Vera, lalu cepat-cepat menunduk. Bryan yang sedang mencatat stok berhenti menulis.

Rosa bergegas mendekat. "Jangan bicara keras-keras. Toko masih buka. Kalau tetangga dengar bagaimana?"

"Mama masih memikirkan tetangga?"

"Mama memikirkan nama baik keluarga!"

"Kalau rencana kalian berhasil, sekarang aku mungkin masih terjebak bersama suami Ci Vera. Itu nama baik yang Mama maksud?"

Bryan menatap Vera. "Ci, apa maksudnya?"

"Kau jangan ikut campur," bentak Vera.

"Dia berhak tahu perempuan macam apa yang tinggal serumah dengannya," kata Kayla.

Rosa menarik lengan Kayla. "Sudah. Kita bicara di atas."

Kayla melepaskan tangannya. "Aku mau bicara di sini. Biar Papa dan Bryan dengar."

Benny akhirnya membuka mulut. "Kayla, Papa baru tahu tadi pagi. Papa sungguh tidak menyangka mereka akan sampai memberi obat..."

"Tapi Papa tahu mereka ingin menyerahkanku kepada Wilson?"

Benny terdiam.

Jawaban itu menyakitkan lebih daripada pengakuan.

Rosa berdiri di depan suaminya seolah ingin menutup kelemahannya. "Jangan menyalahkan Papa. Mama yang setuju. Vera sudah bertahun-tahun berusaha punya anak. Keluarga Chandra terus mengancam akan menceraikannya. Kita ini keluarga. Apa salahnya berkorban sekali untuk kakakmu?"

"Berkorban?" Kayla menunjuk gaun robek di dalam tas. "Kenapa bukan Mama yang meminum obat itu? Kenapa bukan Ci Vera yang diseret ke kamar orang asing?"

Wajah Rosa memerah. "Jaga mulutmu!"

"Tubuhku milikku. Bukan milik Mama, bukan milik Ci Vera, dan bukan alat tukar untuk mempertahankan pernikahan siapa pun."

Vera turun satu anak tangga lagi. "Jangan bersikap seolah hidupmu sudah hancur. Keluarga Chandra kaya. Wilson juga tidak akan menelantarkanmu. Kau bisa berhenti jaga malam, tinggal di apartemen, punya mobil. Banyak perempuan mau mendapatkan itu."

Kayla memandang kakak angkatnya lama sekali.

"Kalau hidup itu begitu enak, kenapa kau tidak membiarkan Wilson mencari perempuan lain?"

Rahang Vera menegang.

"Karena kau takut dia akan mencintai perempuan itu," lanjut Kayla. "Kau ingin bayinya, uangnya, dan status istri sahnya. Perempuan yang melahirkan untukmu harus cukup dekat untuk dikendalikan, tetapi tidak boleh punya hidup sendiri. Jadi kalian memilihku."

"Aku melakukan ini agar pernikahanku selamat!"

"Dengan menghancurkan hidupku?"

"Aku kakakmu!" teriak Vera. "Aku ikut membiayai sekolahmu. Tanpa keluarga ini, kau tidak akan menjadi dokter."

Rosa segera menyambung, "Benar. Mama dan Papa mengangkatmu, memberimu makan, menyekolahkanmu. Sekarang baru diminta membantu satu kali, kau sudah menghitung semuanya seperti orang asing."

Kayla membuka aplikasi bank di ponselnya.

Ia memperlihatkan riwayat transfer bulanan yang tersimpan selama bertahun-tahun. Biaya sekolah yang pernah dikeluarkan keluarga telah ia kembalikan sedikit demi sedikit sejak masa koas. Setelah menjadi dokter, jumlah yang dikirimnya bahkan lebih dari dua kali lipat.

"Aku tidak pernah melupakan bantuan kalian," katanya. "Karena itu aku membayarnya. Aku membantu cicilan toko. Aku membayar biaya rumah sakit Papa. Aku juga melunasi utang kartu kredit Ci Vera saat Wilson belum tahu."

Vera membuang muka.

"Semua sudah kembali lebih dari dua kali lipat," lanjut Kayla. "Kalau kalian masih menganggap tubuhku sebagai bunga dari utang itu, berarti utangnya memang tidak pernah dimaksudkan untuk lunas."

Rosa menepis ponselnya. "Keluarga tidak menghitung uang seperti pedagang!"

Ponsel itu jatuh di meja. Bryan cepat-cepat mengambilnya sebelum menyentuh lantai.

"Tapi Mama baru saja menghitung semua yang pernah Mama keluarkan untukku," kata Kayla.

Rosa kehilangan kata-kata.

Bryan menyerahkan ponsel tersebut. Wajahnya kaku. "Kayla benar."

"Bryan!" Rosa melotot.

"Kalau kalian melakukan ini kepada Ci Vera, Mama pasti akan melapor polisi. Kenapa karena korbannya Kayla, Mama menyebutnya pengorbanan?"

Vera turun sampai lantai toko dan menunjuk adiknya. "Kau tidak tahu apa-apa. Jangan sok jadi pahlawan."

"Aku tahu kalian memberinya obat," balas Bryan. "Itu cukup."

Benny mengusap wajah. "Sudah, jangan bertengkar. Kita selesaikan baik-baik. Vera minta maaf. Kayla juga jangan langsung memutus keluarga."

Kayla hampir tertawa.

Seperti biasa, Papa meminta orang yang terluka untuk menjaga kedamaian.

"Tidak ada yang perlu diselesaikan," katanya. "Mulai hari ini, jangan hubungi aku kecuali ada keadaan darurat yang benar-benar menyangkut nyawa. Aku tidak akan membayar utang kalian lagi. Aku juga tidak akan datang setiap kali Mama memakai kata keluarga untuk memaksaku."

"Kau berani meninggalkan orang tua yang membesarkanmu?" suara Rosa meninggi.

"Mama meninggalkanku lebih dulu semalam."

Kalimat itu membuat toko mendadak sunyi.

Kayla membuka grup WhatsApp keluarga. Foto profilnya adalah gambar mereka berlima saat Imlek tahun lalu. Semua tersenyum seolah tidak pernah ada perbedaan antara anak kandung dan anak angkat.

Ia menekan `Keluar dari grup`.

Lalu nomor Rosa diblokir.

Nomor Vera menyusul.

Vera melihatnya dan tertawa sinis. "Silakan kabur. Kau pikir memblokir nomor kami akan menyelesaikan semuanya? Wilson sudah melihat fotomu. Dia tahu kau bekerja di RS Sentosa. Kalau dia menginginkan sesuatu, dia tidak mudah menyerah."

Jari Kayla berhenti di atas layar.

"Kau bisa menghindari kami," lanjut Vera, "tapi kau tidak bisa terus menghindari suamiku."

Kayla memasukkan ponsel ke dalam tas dan membuka pintu toko.

Udara Bekasi yang panas menyergap wajahnya. Klakson motor bersahutan di jalan, sementara dari warung sebelah tercium minyak goreng yang terlalu lama dipakai.

Di belakangnya, Rosa masih memanggil namanya.

Kayla tidak menoleh.

Ia sudah memutus keluarganya. Sekarang ia membutuhkan cara untuk membuat Wilson Chandra berhenti menganggapnya bisa dimiliki.

Episode 3

Bab 3

Dokter di IGD, Bukan Barang Dagangan

Tiga hari kemudian, suara sirene ambulans memotong keramaian di depan IGD RS Sentosa.

Kayla sudah berdiri di area triase sebelum pintu ambulans dibuka.

"Tabrakan beruntun di tol," lapor petugas. "Dua korban. Laki-laki, sekitar empat puluh tahun, penurunan kesadaran. Perempuan, dua puluhan, sadar dengan nyeri dada."

"Pasien pertama ke ruang resusitasi. Pasien kedua triase kuning, pasang monitor dan cek saturasi," perintah Kayla. "Tia, ikut aku."

Brankar pertama melaju masuk. Darah mengering di pelipis pasien laki-laki itu. Napasnya berbunyi kasar dan tidak teratur.

"Pak, bisa dengar saya? Buka mata."

Tidak ada respons.

Kayla memeriksa jalan napas sementara perawat memasang monitor. "Saturasi turun. Siapkan oksigen, suction, dan alat intubasi. Jaga tulang lehernya."

dr. Tiana memeriksa dada dan perut pasien. "Suara napas kanan lebih lemah. Tekanan darah delapan puluh per lima puluh."

"Hubungi bedah dan radiologi. Kita stabilkan dulu. Dua jalur infus besar. Ambil darah untuk pemeriksaan lengkap dan cocok silang."

Ruangan itu dipenuhi bunyi monitor, roda troli, serta perintah pendek yang saling menyambung. Tidak ada seorang pun yang sempat bertanya apakah tangan Kayla masih gemetar ketika mengikat rambutnya pagi tadi.

Di IGD, tubuhnya kembali menjadi miliknya.

Tangan itu memeriksa nadi, memegang laringoskop, dan memastikan udara masuk ke paru-paru pasien. Bukan sesuatu yang bisa ditukar demi pernikahan orang lain.

Setelah jalan napas pasien aman dan tekanan darah mulai naik, tim bedah datang mengambil alih. Kayla baru sempat melepas sarung tangan ketika seorang perempuan muda dari brankar kedua memanggilnya.

"Dok, suami saya bagaimana?"

Kayla mendekat. Perempuan itu memeluk lengannya sendiri. Sabuk pengaman meninggalkan memar merah di dadanya.

"Tim kami sedang menanganinya. Kondisinya serius, tetapi jalan napasnya sudah aman dan tekanan darahnya mulai merespons cairan. Sekarang saya perlu memastikan kondisi Ibu juga stabil."

"Saya tidak mau dirawat. Saya mau ikut dia."

"Kalau Ibu pingsan di depan ruang operasi, suami Ibu tidak akan terbantu." Kayla mengangkat hasil pemeriksaan awal. "Kita lakukan foto rontgen dan observasi. Setelah itu saya antar Ibu menemuinya jika dokter bedah mengizinkan."

Perempuan itu akhirnya mengangguk.

Dua jam kemudian, pasien laki-laki tersebut sudah berada di ruang operasi. Istrinya dinyatakan tidak mengalami cedera dalam dan dipindahkan ke ruang observasi.

Kayla keluar dari ruang resusitasi dengan bahu pegal dan keringat menempel di tengkuk.

Tiana menyodorkan sebotol air mineral. "Minum. Wajahmu lebih pucat daripada pasien triase kuning."

"Aku baik-baik saja."

"Kalimat favorit dokter yang jelas-jelas tidak baik-baik saja."

Kayla menerima botol itu. Mereka masuk ke ruang istirahat kecil di belakang nurse station. Begitu pintu tertutup, Tiana mengunci dari dalam.

"Sekarang cerita," katanya. "Tiga hari kau menghilang, lalu kembali dengan alasan migrain. Kau pikir aku percaya?"

Kayla membuka tutup botol, tetapi tidak langsung minum.

Selama dua hari terakhir, ia berhasil menceritakan kejadian itu kepada dirinya sendiri tanpa menangis. Mengucapkannya kepada orang lain ternyata jauh lebih sulit.

"Ci Vera dan ibu mertuanya memberiku obat," katanya akhirnya. "Mereka mau menyerahkanku kepada Wilson."

Tiana tidak bergerak.

Kayla menceritakan rencana simpanan dan pagi saat ia bangun bersama laki-laki asing. Ia tidak menjelaskan hal yang tidak perlu dijelaskan. Tiana juga tidak memaksanya.

Begitu Kayla selesai, botol air di tangan Tiana sudah penyok.

"Kita lapor polisi."

"Aku cuma punya ingatan yang kabur. Rekaman hotel belum ada di tanganku. Kalau Chandra tahu aku bergerak sekarang, buktinya bisa hilang."

"Kalau begitu kita cari pengacara. Atau aku datang ke toko mereka dan lempar satu dus minyak goreng ke kepala Vera."

Kayla tertawa kecil. Itu suara pertama yang terasa normal sejak tiga hari lalu.

"Pilihan kedua membuatmu kehilangan izin praktik."

"Baik. Setengah dus."

Ponsel Tiana berbunyi. Sebelum ia sempat memeriksa, seorang perawat mengetuk pintu dan memberi tahu Kayla bahwa ada seseorang menunggunya di lorong utama.

Di saat yang sama, seorang perempuan paruh baya baru keluar dari lift dekat lobi rumah sakit.

Selina Wijaya datang dari Klinik Kecantikan Bella setelah nyeri lambungnya kembali kambuh. Sopirnya sedang mengambil obat di farmasi, jadi ia berjalan pelan sambil menekan ulu hati.

Di tikungan lorong, bahunya hampir bertabrakan dengan seorang dokter yang baru keluar dari area IGD.

"Maaf," kata Kayla sambil menahan lengan perempuan itu agar tidak kehilangan keseimbangan. "Tante tidak apa-apa?"

Selina mengangkat kepala.

Untuk beberapa detik, suara di lorong seperti menjauh.

Dokter muda di depannya memiliki sepasang mata yang terasa sangat dikenal. Bukan karena pernah bertemu. Ada sesuatu pada lengkung alis dan caranya menahan cemas yang membuat dada Selina mendadak sesak.

"Tante?"

Selina berkedip. Matanya terasa panas tanpa alasan.

"Saya tidak apa-apa." Ia memaksa tersenyum. "Terima kasih, Dokter."

"Kalau nyerinya semakin kuat, kembali ke IGD. Jangan pulang sendiri."

Kayla mengangguk sopan, lalu bergegas pergi saat Tiana memanggilnya dari ujung lorong.

Selina menoleh mengikuti punggungnya.

"Nyonya Selina?" Sopirnya datang membawa kantong obat. "Ada apa?"

Selina menyentuh sudut matanya. "Tidak tahu. Mungkin lambungku benar-benar sedang buruk."

Namun nyeri di dadanya tidak terasa seperti sakit lambung.

Di depan nurse station, seorang laki-laki berkemeja mahal berdiri sambil membawa buket bunga putih.

Kayla berhenti tiga langkah darinya.

Wilson Chandra tersenyum. "Akhirnya ketemu juga, adik manis."

"Keluar dari area IGD."

"Aku cuma datang menjenguk." Wilson mengulurkan bunga. "Kudengar ada korban kecelakaan. Sekalian aku ingin memastikan kau baik-baik saja setelah malam itu."

Kayla tidak menyentuh bunga tersebut. "Orang yang ikut merencanakan pemberian obat tidak berhak menanyakan keadaanku."

"Jangan salah paham. Itu ide Tante Fen dan Vera." Wilson menurunkan suara. "Tapi setelah melihat fotomu, aku rasa rencana mereka tidak buruk. Kita bisa membuat kesepakatan sendiri."

Tiana muncul di samping Kayla. "Pak Wilson, ini rumah sakit, bukan pasar tempat Bapak menawar manusia."

Senyum Wilson menipis. "Ini urusan keluarga."

"Kayla sudah keluar dari grup keluarga," balas Tiana. "Kalau Bapak tidak pergi dalam sepuluh detik, saya panggil keamanan dan mengatakan ada laki-laki yang mengganggu dokter saat bertugas. Banyak kamera di lorong ini."

Mata Wilson bergerak ke kamera CCTV di sudut langit-langit.

Kayla mengambil buket dari tangannya, berjalan ke tempat sampah medis umum di dekat meja, lalu menjatuhkannya ke dalam.

"Sampaikan kepada Ci Vera," katanya, "aku bukan barang dagangan. Kalau kau datang lagi, kali berikutnya kita bicara di depan petugas keamanan dan polisi."

Wilson menatapnya tajam, tetapi dua satpam sudah berjalan dari arah lobi. Ia merapikan manset, lalu pergi tanpa pamit.

Tiana mengembuskan napas. "Aku sungguh lebih suka pilihan satu dus minyak goreng."

"Aku traktir gorengan setelah jaga."

Mereka baru kembali ke ruang istirahat ketika ponsel Kayla berdering. Nama Oma Melly muncul di layar.

Kayla mengenal perempuan tua itu sebagai pasien lama RS Sentosa yang selalu membawa buah untuk perawat. Ia segera menjawab.

"Halo, Oma. Bagaimana tekanan darah Oma?"

"Tekanan darah Oma baik. Yang tidak baik itu hidup cucu Oma," jawab suara ceria di seberang. "Dia terlalu sibuk bekerja dan belum juga membawa pacar."

Kayla tersenyum. "Lalu apa hubungannya dengan saya?"

"Oma mau mengenalkan kalian. Tiga hari lagi, jam empat sore. Mau, ya?"

Kayla hendak menolak. Namun bayangan Wilson di lorong, ancaman Vera, dan kata-kata yang baru ia ucapkan sendiri berputar di kepalanya.

Tiana mencondongkan tubuh dan berbisik, "Terima. Kalau cocok, sekalian nikah kilat. Biar keluarga gila itu berhenti mengejar."

Kayla menutup mikrofon dengan tangan. "Kau serius?"

"Setengah serius. Tapi lebih masuk akal daripada melempar minyak goreng."

Di telepon, Oma Melly tertawa kecil. "Jadi bagaimana, Kayla?"

Kayla memandang pintu IGD yang kembali terbuka untuk pasien berikutnya.

"Baik, Oma," jawabnya. "Saya akan datang."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!