Bab 1
Janda Tiga Tahun
Masker-masker oksigen masih bergelantungan di atas kepala ketika Renata meminta penumpang terakhir meninggalkan kabin.
“Pelan-pelan, Bu. Pegang sandaran kursinya. Jangan lihat ke belakang.”
Perempuan setengah baya itu mengangguk sambil menangis. Jemarinya mencengkeram lengan kanan Renata, lalu buru-buru dilepaskan setelah melihat perban di lengan kirinya sudah berubah merah di satu sisi.
“Mbak juga terluka.”
“Cuma goresan. Tim medis sudah menunggu di bawah.”
Suara Renata tetap tenang. Hanya wajahnya yang terlalu pucat untuk meyakinkan siapa pun.
Bau antiseptik bercampur dengan aroma plastik panas dan kopi yang tumpah di karpet kabin. Satu jam sebelumnya, lorong kelas ekonomi AG2331 masih dipenuhi keluhan biasa. Seorang penumpang memanggilnya tiga kali hanya karena kopinya belum datang. Penumpang lain mengembalikan makanan sambil memutar mata, seolah Renata yang menentukan menu penerbangan.
Lalu pesawat kehilangan ketinggian secara tiba-tiba.
Troli menghantam sisi kursi. Masker oksigen jatuh. Orang-orang menjerit dan sabuk pengaman mengunci pinggang mereka. Dalam guncangan keras itu, penutup logam dari kompartemen atas menyayat lengan kiri Renata. Darah langsung membasahi manset seragamnya, tetapi ia masih harus mengamankan troli, memastikan pintu galley terkunci, lalu merunduk di antara kursi untuk memasangkan masker pada seorang anak yang ibunya sudah nyaris pingsan.
Sekarang pesawat telah mendarat darurat di Bandara Soekarno-Hatta. Semua orang selamat.
Seharusnya itu cukup untuk membuatnya bersyukur.
“Rena, sudah kosong.” Seorang pramugara muncul dari ujung lorong. Kerah seragamnya terbuka, matanya merah. “Tim darat minta kita turun. Mereka mau periksa kabin.”
Renata mengedarkan pandangannya sekali lagi. Kabin sempit itu tampak seperti baru dilanda badai. Selimut berserakan, gelas plastik menggelinding di bawah kursi, satu tas tangan tergeletak tanpa pemilik. Lampu darurat di lantai masih menyala.
Ia menekan telapak kanan ke sandaran kursi agar tubuhnya tidak oleng.
“Tas itu milik penumpang 27C. Serahkan ke petugas barang tertinggal.”
“Kamu masih sempat ingat nomor kursi?”
“Aku kepala kabin. Memangnya harus ingat apa?”
Pramugara itu menatap perbannya. “Setidaknya ingat kalau kamu juga manusia.”
Renata menarik sudut bibir, tetapi senyumnya tidak sampai ke mata.
Di bawah tangga pesawat, petugas medis kembali menyuruhnya pergi ke IGD. Renata membiarkan mereka membersihkan luka dan mengganti perban, tetapi menolak dibawa dengan ambulans. Sayatannya panjang, namun tidak dalam. Ia masih bisa menggerakkan jari. Besok pagi ia akan memeriksakannya lagi.
Malam ini, ia hanya ingin pulang.
Bus khusus membawa para kru dari apron menuju gedung terminal. Tak seorang pun banyak bicara. Bunyi notifikasi bersahutan dari ponsel mereka. Grup kru penuh dengan pesan keluarga yang menanyakan keadaan, diselingi ucapan syukur dari berbagai sudut layar.
Puji Tuhan, kamu selamat.
Alhamdulillah sudah mendarat.
Mama tunggu di pintu kedatangan.
Renata membuka percakapan yang namanya ia simpan paling atas. Pesan terakhir dari Nathan dikirim tiga hari lalu, hanya dua kata.
Pulang terlambat.
Tak ada pertanyaan tentang jadwal terbangnya. Tak ada pesan setelah kabar pendaratan darurat AG2331 mulai tersebar di akun berita bandara. Tak ada satu pun tanda bahwa Nathan menyadari istrinya berada di dalam pesawat itu.
Renata menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar dua kali, kemudian berubah menjadi suara operator yang datar.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi.
Ia memutuskan panggilan sebelum kalimat itu selesai.
Di terminal, pintu khusus kru baru saja terbuka ketika istri kopilot berlari mendekat sambil menggendong anak mereka. Perempuan itu menangis keras, memukul dada suaminya sekali, lalu memeluknya seolah laki-laki itu bisa hilang kalau dilepaskan.
“Papa jangan terbang lagi!” si kecil terisak.
Kopilot itu tertawa dengan mata basah. “Besok juga Papa terbang lagi, Sayang.”
Di sisi lain, seorang pramugari langsung dikerubungi ibu dan dua adiknya. Pramugara yang tadi bersama Renata disambut ayahnya dengan tepukan keras di bahu. Bahkan petugas yang biasanya paling malas mengangkat telepon kini sibuk mengirim voice note panjang kepada istrinya.
Satu per satu mereka dibawa pulang.
Renata berdiri di bawah cahaya putih terminal dengan tas kabin di kaki. Di sekelilingnya ada tangis, tawa, omelan, pelukan, dan tangan-tangan yang memastikan orang yang mereka cintai benar-benar utuh.
Tak ada satu tangan pun terulur kepadanya.
Ponselnya tetap dingin.
Ia mencoba menelepon Nathan untuk kedua kalinya.
Kali ini sambungan bahkan tidak sempat berdering. Hanya suara operator yang sama, sopan dan tidak berperasaan.
Seorang pramugari yang belum dijemput suaminya melirik layar ponsel Renata. “Suamimu nggak datang, Ren?”
Renata memasukkan ponselnya ke saku rok.
“Dia sibuk.”
“Sibuk apa sampai nggak lihat berita? Video pesawat kita sudah masuk akun gosip. Suamiku yang paling cuek saja telepon tujuh kali.” Perempuan itu menggeleng, lalu merendahkan suara. “Aku dari dulu penasaran. Suamimu siapa, sih? Kok nggak pernah kelihatan?”
Dua kru lain yang masih berdiri di dekat mereka ikut menoleh. Pertanyaannya terdengar seperti perhatian, tetapi rasa ingin tahu berkilat jelas di mata mereka.
Renata sudah terbiasa.
Tiga tahun bekerja di Angkasa Air, tak seorang pun pernah melihat suaminya mengantar atau menjemput. Tak ada foto pernikahan di media sosial. Tak ada cincin di jari manisnya saat berseragam. Bahkan di formulir kantor, ia sengaja meminta data keluarga hanya dapat diakses bagian HR.
Pernikahannya sah di catatan sipil, tetapi hidupnya dijalani seperti sebuah rahasia yang memalukan.
Ia menatap pintu kaca terminal. Hujan menebal di luar, membuat lampu kendaraan terlihat kabur.
“Aku sudah kayak janda selama tiga tahun, kok,” katanya ringan.
Mereka tertawa.
“Mulutmu, Ren!”
“Jangan ngomong sembarangan. Nanti kejadian beneran.”
“Kalau suamimu dengar, bisa ngamuk.”
Renata ikut tersenyum. Tipis. Tepat seperti yang dibutuhkan agar semua orang mengira itu hanya lelucon setelah hari yang buruk.
Tak seorang pun tahu bahwa ia sama sekali tidak sedang bercanda.
Tiga tahun menjadi istri Nathan Halim, ia lebih sering tidur sendirian daripada mendengar suara napas suaminya di rumah. Tiga tahun menunggu di meja makan, lalu meminta Bik Inah menyimpan makanan yang sudah dingin. Tiga tahun menghafal obat lambung, suhu pendingin ruangan, dan kopi tanpa gula yang disukai Nathan, sementara laki-laki itu bahkan tidak tahu penerbangan mana yang membawanya pulang hari ini.
Pramugari tadi akhirnya dijemput. Sebelum pergi, ia meremas bahu kanan Renata.
“Aku tunggu sampai Grab-mu datang?”
“Nggak usah. Suamimu sudah menunggu.”
“Yakin?”
“Yakin. Pulang sana.”
Setelah mereka pergi, terminal terasa jauh lebih luas.
Renata menunduk dan membuka aplikasi Grab. Tarif melonjak karena hujan. Angka di layar membuatnya teringat tagihan rumah perawatan Mama Yolanda yang jatuh tempo lusa. Ia menutup aplikasi itu sebentar, menghitung sisa saldo, lalu membukanya kembali.
Di luar sana, keluarga Halim memiliki hanggar pribadi, jet dengan kabin berlapis kulit, pengemudi yang siaga dua puluh empat jam, dan staf yang akan membentangkan payung sebelum satu tetes hujan menyentuh sepatu mereka. Nathan hidup di dunia tempat sampanye bisa dibuka hanya karena sebuah rapat berakhir baik.
Renata hidup di lorong kelas ekonomi, mendorong troli melewati lutut penumpang, tersenyum ketika dimarahi, lalu membandingkan tarif kendaraan sebelum pulang.
Ia melayani mimpi orang lain di udara. Untuk dirinya sendiri, sebuah telepon penjemputan pun terlalu mahal untuk diharapkan.
Rasa perih di lengan kirinya berdenyut lagi. Renata berjalan menuju toilet terdekat, membasuh wajah, lalu mengunci diri di salah satu bilik.
Baru setelah benar-benar sendirian, ia membuka dua kancing teratas blus seragamnya.
Sebuah rantai tipis meluncur keluar dari balik kain. Di ujungnya tergantung cincin dengan berlian merah muda yang menangkap cahaya lampu dalam kilau lembut. Desainnya hanya satu di dunia, karya terakhir seorang desainer yang telah pensiun. Opa William menyerahkannya pada hari Renata menandatangani dokumen pernikahan dengan Nathan.
Nathan sendiri tidak pernah memasangkannya ke jarinya.
Karena pernikahan itu harus disembunyikan, Renata mengenakan cincin tersebut sebagai liontin. Dekat dengan jantung, jauh dari pandangan siapa pun.
Jari kanannya menyentuh tulisan kecil di bagian dalam cincin. Logamnya dingin, tetapi ujung jarinya justru terasa terbakar.
Lepaskan saja.
Pikiran itu datang begitu jelas hingga napasnya tersangkut.
Renata membuka pengait rantai. Untuk pertama kali dalam tiga tahun, cincin itu terlepas dari lehernya dan jatuh ke telapak tangan.
Ia seharusnya membuangnya ke tempat sampah. Atau meninggalkannya di wastafel agar siapa pun mengambil benda yang selama ini tak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Namun jemarinya menutup rapat.
Satu detik.
Dua detik.
Luka di lengannya berdenyut mengikuti detak jantung. Di balik pintu bilik terdengar suara orang tertawa, air mengalir, dan koper diseret melintasi lantai. Hidup terus bergerak, sementara ia masih menggenggam sisa tiga tahun yang tidak pernah diakui.
Renata mengembuskan napas perlahan. Ia memasukkan cincin itu ke saku dalam seragam, tidak lagi mengembalikannya ke leher.
Belum sanggup membuang bukan berarti masih ingin bertahan.
Ketika keluar dari toilet, hampir semua kru sudah pergi. Renata mencoba menghubungi Nathan untuk ketiga kalinya.
Tidak dapat dihubungi.
Kali ini ia tidak langsung mematikan layar. Ia memandangi nama Nathan sampai huruf-hurufnya tampak asing, lalu menggeser percakapan itu ke bawah. Jempolnya sempat berhenti di nama Tania. Sahabatnya pasti akan datang sambil memaki siapa pun yang dianggap bersalah. Namun apartemen Tania berada di Tangerang Selatan, dan Renata tak mau menyeretnya menembus hujan hanya untuk sebuah penjemputan.
Ia juga tak mungkin menelepon Opa. Lelaki tua itu akan membuat seluruh rumah gempar.
Mama Yolanda pun tidak boleh mendengar kabar kecelakaan ini. Kondisinya di rumah perawatan mudah memburuk jika terkejut.
Pada akhirnya, Renata tetap sendirian.
Ia menarik koper kecilnya dengan tangan kanan menuju area penjemputan. Pintu otomatis terbuka, lalu angin basah langsung menghantam wajahnya. Hujan mengguyur atap kanopi begitu keras hingga pengumuman kendaraan nyaris tak terdengar.
Mobil datang dan pergi. Keluarga saling melambai. Pengemudi mengangkat papan nama. Seorang anak kecil melompat ke pelukan ibunya yang baru keluar dari terminal.
Renata berdiri di ujung kanopi, memeluk siku kirinya agar perban tidak terkena tempias. Aplikasi Grab masih mencari pengemudi. Satu orang membatalkan pesanan. Pengemudi kedua berhenti bergerak di peta.
Layar ponselnya memantulkan wajah yang pucat dan mata yang terlalu kering.
Lalu sebuah mobil hitam berhenti di jalur khusus.
Pintunya terbuka. Seorang pria tinggi turun lebih dulu, mengenakan kemeja gelap dan celana yang masih rapi meski hari sudah malam. Ia membuka payung hitam, kemudian membungkuk sedikit untuk melindungi perempuan yang turun dari sisi lain.
Cheryl Chandra tersenyum sambil mengatakan sesuatu.
Tangannya melingkar akrab di lengan pria itu.
Pria yang ponselnya tidak dapat dihubungi tiga kali.
Pria yang tidak tahu istrinya baru saja turun dari pesawat dengan lengan berdarah.
Kapten Nathan Halim.
Di bawah satu payung, Nathan dan Cheryl berjalan ke arah Renata sambil tertawa pelan.
Bab 2
Draf Perceraian di Meja Makan
Di bawah satu payung, Nathan dan Cheryl terus berjalan ke arah Renata.
Jarak mereka tinggal beberapa meter ketika Cheryl menarik lengan Nathan, menunjuk mobil lain yang baru berhenti di jalur depan. Nathan menoleh mengikuti arah jarinya. Pada saat yang sama, ponsel Renata bergetar.
Pengemudi Grab yang ketiga sudah tiba.
Renata tidak menunggu Nathan mengangkat kepala. Ia membuka pintu mobil dengan tangan kanan, memasukkan koper, lalu duduk di kursi belakang. Dari balik kaca yang basah, ia melihat Nathan memayungi Cheryl sampai perempuan itu masuk ke mobil.
Nathan tidak pernah melihatnya.
Menjelang subuh, lampu ruang makan Puri Teratai masih menyala.
Renata duduk di ujung meja panjang dengan seragam yang sudah diganti dan lengan kiri yang kembali berdenyut. Ia belum tidur. Cincin merah muda yang dilepasnya semalam tersimpan di saku kecil koper. Layar laptop menampilkan dokumen dua halaman yang dicetak.
Judulnya sederhana.
Perjanjian Perceraian.
Bukan gugatan resmi. Bukan pula keputusan pengadilan. Hanya pernyataan bahwa ia ingin mengakhiri pernikahan dan membicarakan pembagian urusan mereka tanpa keributan.
“Nyonya Rena belum istirahat?”
Bik Inah berdiri di ambang pintu dengan nampan sarapan. Tatapannya jatuh pada perban baru di lengan Renata, lalu pada koper besar di dekat tangga.
“Nanti, Bik.”
“Saya buatkan bubur saja. Nyonya kelihatan pucat.”
“Nggak usah. Tolong buat kopi Nathan seperti biasa.”
Bik Inah tidak bergerak. “Tuan Nathan belum pulang.”
Mobil Nathan baru masuk halaman menjelang pukul lima, beberapa menit setelah ia selesai mandi dan mengganti perban. Nathan mengantar Cheryl pulang lebih dulu, lalu entah pergi ke mana sebelum kembali ke Puri Teratai.
“Dia sudah pulang,” kata Renata. “Mungkin sedang mandi.”
Wajah Bik Inah menegang. Ia tampak ingin bertanya tentang penerbangan, luka, atau koper itu. Namun setelah bertahun-tahun bekerja di rumah keluarga Halim, perempuan itu tahu kapan pertanyaan hanya akan menambah sakit.
“Kopinya tanpa gula?”
“Seperti biasa.”
Selama tiga tahun, Renata menghafal seluruh kebiasaan Nathan. Kopi hitam tanpa gula. Sarapan yang tidak terlalu berminyak karena lambungnya mudah sakit. Pendingin kamar pada suhu dua puluh tiga derajat. Lampu koridor harus diredupkan setelah tengah malam karena Nathan sulit tidur sepulang penerbangan panjang.
Renata bahkan berhenti mewarnai rambut setelah Nathan sekali mengatakan warna cokelat terang terlihat mencolok. Ia belajar memasak makanan yang tidak disentuhnya sendiri, menolak penerbangan tertentu demi menghadiri makan malam keluarga Halim, dan menjaga rumah tetap sunyi ketika Nathan beristirahat.
Namun selama tiga tahun itu pula, ia tetap tidur di kamar tamu.
Nathan tidak pernah memintanya pindah ke kamar utama.
Bik Inah meletakkan secangkir kopi di meja. Renata menggeser draf perjanjian, lalu meletakkan cangkir itu tepat di atas sudut kertas agar tidak terlipat oleh angin pendingin ruangan.
Pemandangan tersebut membawanya kembali pada pagi tiga tahun lalu.
Opa William datang ke rumah kecil keluarga Suryani membawa selembar surat lama yang warnanya sudah menguning. Ada janji antara keluarga tua, nama yang ditulis puluhan tahun sebelumnya, dan sebuah sangjit dengan jumlah yang membuat para kerabat jauh tiba-tiba datang mengaku peduli.
Uang susu itu cukup untuk menutup sebagian besar utang Suryanto dan memindahkan Mama Yolanda ke rumah perawatan jiwa swasta. Sebagai gantinya, Renata menikah diam-diam dengan Nathan Halim di catatan sipil.
Tidak ada pemberkatan. Tidak ada resepsi. Tidak ada foto keluarga yang dipajang.
Hanya tanda tangan, cincin merah muda, lalu sebuah kamar tamu di Puri Teratai.
Ponselnya berbunyi. Pesan dari bagian administrasi rumah perawatan muncul di atas layar.
Tagihan bulan ini belum lunas. Mohon pembayaran dilakukan sebelum tenggat agar perawatan Ibu Yolanda tidak terganggu.
Renata membuka aplikasi perbankan. Gaji penerbangannya sudah masuk, lalu nyaris habis untuk cicilan yang ditinggalkan Suryanto, biaya obat, dan kebutuhan rumah perawatan. Beberapa pekerjaan teknis kecil yang ia ambil diam-diam hanya cukup menahan tunggakan agar tidak bertambah.
Di depannya, vas berisi tulip impor berdiri di antara piring porselen. Sendok perak di sisi cangkir Nathan mungkin lebih mahal daripada biaya hidupnya selama satu bulan. Meja makan itu dibuat dari satu lembar batu marmer tanpa sambungan, barang yang dahulu dibeli Nathan hanya karena warna meja sebelumnya dianggap terlalu gelap.
Di dunia Halim, kemewahan hadir tanpa perlu dihitung.
Di layar Renata, angka-angka harus dipindahkan satu per satu agar obat ibunya tidak terhenti.
Ia baru selesai mencatat sisa tagihan ketika langkah kaki terdengar dari tangga.
Nathan muncul dengan kemeja putih dan rambut yang masih lembap. Wajahnya menunjukkan kelelahan, tetapi tidak ada tanda bahwa ia baru saja menghabiskan malam mencari tahu keadaan istrinya.
Tatapannya sempat jatuh pada perban di lengan Renata.
Kemudian ia menarik kursi dan melihat kertas di bawah cangkir kopinya.
“Apa ini?”
“Baca judulnya.”
Nathan mengambil dua lembar itu. Matanya bergerak cepat dari halaman pertama ke halaman kedua, seolah sedang menilai kontrak bisnis yang tidak terlalu penting.
“Kamu mau bercerai?”
“Ya.”
“Karena semalam?”
Renata menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak Nathan turun, laki-laki itu mengakui bahwa ia tahu mereka berada di bandara yang sama.
“Bukan. Karena tiga tahun.”
Rahang Nathan mengeras sedikit. Ia meletakkan kertas di meja, lalu meraih kopinya.
“Kamu sedang lelah.”
“Aku cukup sadar untuk tahu apa yang kutandatangani.”
“Ini bukan gugatan pengadilan.”
“Aku tahu. Ini pemberitahuan supaya kita bisa membicarakannya baik-baik sebelum aku mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri.”
Nathan meminum kopinya. Tidak ada keterkejutan, apalagi takut kehilangan. Sikap tenangnya seolah mengatakan Renata hanya sedang membuat keributan kecil yang akan selesai setelah tidur cukup.
“Apa maumu?” tanyanya.
“Aku tidak meminta harta bersama. Kembalikan Vila Kenari, lalu kita urus sisanya lewat pengacara.”
Untuk pertama kalinya, Nathan benar-benar menatapnya.
Vila Kenari adalah rumah lama Mama Yolanda. Teras kecilnya pernah dipenuhi pot melati. Di sanalah Renata belajar membaca, merayakan ulang tahun tanpa pesta mahal, dan memiliki kenangan tentang ibunya sebelum penyakit menghancurkan semuanya.
Tiga tahun lalu, dalam kekacauan utang keluarga Suryani, dokumen vila itu dialihkan atas nama Nathan. Katanya hanya untuk melindungi aset tersebut dari penagih utang.
Renata cukup bodoh untuk percaya.
“Vila Kenari terdaftar atas namaku,” kata Nathan.
“Makanya aku minta dikembalikan.”
“Kamu boleh pergi kalau mau.” Nathan meletakkan cangkirnya dengan pelan. “Tapi rumah itu tetap milikku.”
Ujung jari Renata membeku di atas layar ponsel.
Nathan tahu nilai vila itu mencapai miliaran rupiah. Namun bukan harga pasarnya yang membuat kalimat tersebut terasa seperti pisau. Ia tahu itu satu-satunya rumah yang masih dikenali Mama Yolanda ketika ingatannya sedang jernih.
Ia memilih benda itu karena tahu tepat di mana harus menekan.
“Jadi kamu menahannya supaya aku tidak bisa bercerai?”
“Aku hanya mengingatkanmu agar tidak mengambil keputusan saat emosi.”
Renata tertawa kecil. Dingin, tanpa rasa geli.
“Kamu bahkan nggak tahu pesawatku mendarat darurat. Tapi sekarang kamu paling tahu apakah aku sedang emosi.”
Nathan tidak menjawab.
Hening turun di antara mereka. Bik Inah yang berdiri dekat dapur menundukkan wajah, jemarinya meremas ujung celemek.
Renata mengambil draf perjanjian itu, memasukkannya ke map, lalu berdiri.
“Aku akan menghubungimu lagi lewat pengacara.”
Nathan menyandarkan tubuh ke kursi. “Kamu akan kembali sebelum akhir minggu.”
Bukan pertanyaan. Sebuah keyakinan.
Renata tidak repot-repot membantah.
Ia berjalan ke dekat tangga dan menarik koper dengan tangan kanan. Ketika roda koper tersangkut di tepi karpet, luka di lengan kirinya ikut tertarik. Napasnya tercekat.
Bik Inah buru-buru mendekat. “Biar saya bantu, Nyonya Rena.”
“Terima kasih, Bik.”
Mata Bik Inah memerah. “Nyonya mau pergi lama?”
Renata memandang rumah yang selama tiga tahun tak pernah terasa seperti rumah.
“Aku juga belum tahu.”
Grab sudah menunggu di depan pagar. Bik Inah membantu memasukkan koper, lalu berdiri di teras sampai mobil berbelok keluar dari Puri Teratai. Nathan tidak menyusul. Dari kaca belakang, Renata hanya melihat pintu utama yang tetap tertutup.
Perjalanan menuju Tangerang Selatan memakan waktu lebih dari satu jam. Hujan semalam meninggalkan genangan di beberapa ruas jalan. Renata menyandarkan kepala ke jendela, tetapi tidak tidur.
Ketika pintu apartemen sewa Tania terbuka, sahabatnya masih mengenakan kaus longgar dan sandal rumah.
Tania memandang koper, perban, lalu wajah Renata.
“Sebutkan satu alasan kenapa aku nggak boleh datang ke Pondok Indah dan menampar kapten sombong itu.”
“Karena satpamnya lebih besar daripada kamu.”
“Aku bisa bawa dua orang.”
Untuk pertama kalinya sejak pesawat mendarat, Renata hampir tertawa sungguhan.
Tania mengambil gagang koper dari tangan kanannya. “Masuk. Kamu tidur dulu. Habis itu kita cari pengacara paling galak se-Jakarta.”
Di kamar tamu yang sempit, Renata meletakkan map perceraian di meja lipat. Ponselnya kembali berbunyi. Bukan pesan dari Nathan, melainkan tagihan kedua dari rumah perawatan Mama Yolanda.
Tania membaca layar itu dari balik bahunya. “Ren, Vila Kenari gimana?”
Renata menatap angka tunggakan, lalu map di meja.
Nathan yakin ia akan pulang sebelum akhir minggu karena tidak punya cukup uang dan tidak sanggup kehilangan rumah ibunya.
Kali ini, Nathan hanya benar tentang satu hal.
Renata memang membutuhkan Vila Kenari.
Namun ia tidak akan kembali sebagai istri yang memohon.
Bab 3
Selalu Cheryl yang Dibela
Dua hari setelah meninggalkan Puri Teratai, Renata berdiri di lobi Prima Aeroteknik sambil membawa tagihan rumah perawatan ibunya.
Pesan terakhir dari bagian administrasi tidak lagi terdengar seperti pengingat.
Jika pembayaran tidak diterima sampai besok siang, beberapa layanan tambahan untuk Yolanda akan dihentikan.
Renata sudah mengirim tiga pesan kepada Nathan untuk membicarakan Vila Kenari. Pesan pertama dibaca tanpa jawaban. Pesan kedua hanya dibalas, “Aku sedang rapat.” Pesan ketiga belum dibuka sejak semalam.
Karena itu, ia datang langsung ke gedung perkantoran SCBD tempat Nathan lebih mudah ditemui daripada di rumah mereka sendiri.
“Maaf, Bu. Ada janji dengan Pak Nathan?” tanya petugas resepsionis.
“Tidak. Tolong beri tahu dia Renata ingin bicara sebentar.”
Perempuan di belakang meja tersenyum profesional. “Mengenai urusan apa?”
“Pribadi.”
Senyum itu menegang sedikit. Petugas tersebut memandang blus sederhana Renata, celana panjang hitam, lalu perban tipis yang masih membungkus lengan kirinya. Tatapannya tidak kasar, hanya penuh penilaian cepat seperti orang yang terbiasa menyaring tamu tanpa undangan.
“Pak Nathan sedang ada pertemuan dengan direksi. Mungkin Ibu bisa meninggalkan pesan.”
Renata meletakkan amplop tagihan di meja. “Saya akan menunggu.”
Ia duduk di area tamu yang menghadap deretan lift. Sofa kulit itu terlalu empuk, pendingin ruangan terlalu dingin, dan layar besar di dinding memutar video rancangan mesin pesawat terbaru Prima Aeroteknik. Logo perusahaan muncul berulang kali, diikuti foto empat pendiri saat masih belajar di luar negeri.
Nathan berdiri di tengah foto itu.
Cheryl berada tepat di sebelahnya.
Keduanya tersenyum ke arah kamera, muda dan penuh rencana. Renata tidak ada dalam bagian hidup tersebut. Tiga tahun pernikahan pun tidak cukup untuk memberinya tempat di satu bingkai yang sama.
Setengah jam berlalu. Luka di lengan Renata mulai terasa gatal di bawah perban. Ia menahan diri untuk tidak menggaruk, lalu mengecek saldo sekali lagi. Angkanya tetap sama, seolah dipandangi selama apa pun tidak akan berubah.
Suara lift berdenting.
Beberapa orang keluar lebih dulu sambil membawa tablet dan map. Nathan muncul di antara mereka dengan jas abu-abu gelap. Cheryl berjalan di sisi kanannya, mengenakan sepatu hak tinggi dan gaun kerja berwarna gading.
Renata berdiri.
“Nathan.”
Langkah rombongan itu melambat. Dua pegawai menoleh kepadanya. Nathan tampak terkejut sepersekian detik, lalu wajahnya kembali datar.
“Kenapa kamu datang ke sini?”
Pertanyaan itu membuat Renata terdengar seperti orang yang memasuki tempat terlarang.
Ia mengangkat amplop di tangannya. “Aku perlu sepuluh menit. Soal Vila Kenari.”
Tatapan Nathan jatuh pada perban di lengannya, kemudian kembali ke wajah Renata. “Lukamu belum sembuh?”
“Bukan itu yang mau kubicarakan.”
“Kita bicara di ruang tamu.” Nathan menoleh kepada para pegawai. “Kalian naik dulu.”
Beberapa orang mengangguk, tetapi tidak langsung pergi. Rasa ingin tahu membuat langkah mereka tertahan. Di dekat meja resepsionis, dua pegawai perempuan saling mendekat.
“Itu siapa, ya?” bisik salah satunya.
“Nggak tahu. Kenal dekat sama Pak Nathan, kayaknya.”
“Tapi ada Cheryl.”
Ponsel di tangan pegawai lain sudah terangkat setinggi dada. Layarnya mengarah ke Renata.
Renata berpura-pura tidak melihat.
Nathan baru berjalan dua langkah ke ruang tamu ketika terdengar bunyi hak sepatu bergeser.
“Nate.”
Cheryl terhuyung. Satu tangannya meraih lengan Nathan, sementara tangan lain menekan pelipis. Wajahnya kehilangan warna.
Nathan langsung menangkap bahunya.
“Cheryl?”
“Aku nggak apa-apa. Cuma agak pusing.” Cheryl mencoba berdiri, lalu meringis ketika telapak kakinya menyentuh lantai. “Sepertinya pergelangan kakiku terkilir.”
“Kamu belum makan sejak pagi, kan?”
Cheryl menunduk, seolah ketahuan melakukan kesalahan kecil. “Tadi rapatnya terlalu panjang.”
Kekhawatiran di wajah Nathan muncul tanpa jeda. Bukan akting. Ia benar-benar percaya Cheryl rapuh, ceroboh menjaga diri, dan perlu dilindungi dari segala hal yang mungkin menyakitinya.
“Siapkan mobil,” perintahnya kepada resepsionis. “Hubungi klinik. Bilang kami menuju ke sana.”
“Nathan,” panggil Renata.
Nathan menoleh sambil tetap menopang Cheryl. “Kita bicara nanti.”
“Aku hanya perlu kepastian soal rumah itu. Pembayaran Mama jatuh tempo besok.”
Kalimat berikutnya sudah berada di ujung lidahnya. Ia ingin menjelaskan bahwa rumah perawatan memberi batas waktu. Ia ingin mengatakan dirinya tidak datang untuk mengemis, hanya meminta Nathan mengembalikan sesuatu yang sejak awal bukan miliknya.
Namun Nathan sudah mengalihkan perhatian kepada Cheryl.
“Bisa jalan?”
Cheryl mengangguk lemah. “Bisa, asal kamu jangan lepas.”
Nathan mengencangkan tangannya di bahu perempuan itu.
Penjelasan Renata mati sebelum sempat keluar.
Di sekeliling mereka, pegawai Prima Aeroteknik menyaksikan Nathan membawa Cheryl menuju pintu. Seorang pria membuka jalan. Petugas resepsionis bergegas mengambil tas Cheryl. Tidak ada satu pun yang bertanya apakah Renata juga membutuhkan bantuan, meski perban di lengannya terlihat jelas.
Ia berdiri di tengah lobi seperti tamu yang salah alamat.
Sebelum melewati pintu kaca, Cheryl menoleh. Tatapannya turun sekilas pada amplop tagihan di tangan Renata, lalu senyum tipis muncul di bibirnya.
“Cik Rena, hati-hati, ya,” katanya lembut. “Jangan sampai salah paham sama Nathan. Dia memang suka menolong orang.”
Seolah Cheryl adalah orang yang mengenal Nathan paling baik.
Seolah Renata hanya perempuan asing yang datang membawa masalah pribadi.
Jari Renata menekan amplop begitu kuat hingga ujung kertas menusuk telapak tangannya. Ia tidak membalas. Ia juga tidak mengejar Nathan.
Punggungnya tetap tegak ketika berjalan melewati para pegawai yang masih berbisik.
“Jadi dia siapa?”
“Mungkin mantan?”
“Kasihan juga. Pak Nathan jelas lebih peduli sama Cheryl.”
Pintu lift menutup di depan wajah mereka sebelum Renata kehilangan kendali dan mengatakan sesuatu yang akan ia sesali.
Di dalam kotak logam itu, barulah ia membuka kepalan tangan. Ada empat bekas kuku merah di telapak tangannya.
Malamnya, Tania mengetuk pintu kamar tamu dua kali.
“Ren, aku pesan nasi goreng. Mau?”
“Nanti saja, Tata.”
“Kamu bilang begitu sejak sore.”
“Aku nggak lapar.”
Tania terdiam di balik pintu. “Kalau kamu mau cerita, aku belum tidur.”
“Aku tahu.”
Langkah Tania akhirnya menjauh.
Renata duduk di lantai di depan koper terbuka. Amplop tagihan tergeletak di samping map perceraian. Di saku kecil koper, cincin merah muda berkilau saat terkena cahaya kamar. Ia menggeser cincin itu ke samping, lalu mengangkat lapisan kain di dasar koper.
Sebuah laptop lama tersembunyi di sana.
Permukaannya diselimuti debu tipis. Renata mengusapnya dengan lengan baju, kemudian meletakkan laptop tersebut di meja lipat. Tiga tahun lalu ia mematikan perangkat itu dan berjanji tidak akan membukanya lagi. Dunia di balik layar tersebut selalu meminta harga, dan saat menikah ia sungguh percaya kehidupan baru akan memberinya alasan untuk berhenti.
Ternyata kehidupan baru itu hanya membuatnya lupa bahwa ia pernah mampu berdiri tanpa siapa pun.
Jarinya berhenti di atas tombol daya.
Jika ia menekannya, tak ada jalan kembali menuju Renata yang menunggu suami pulang, menghitung sisa uang, lalu berharap kebaikan orang lain.
Ia ragu selama beberapa detik.
Kemudian tombol itu ditekan.
Kipas tua berputar. Cahaya biru menerangi wajahnya. Baris-baris verifikasi muncul, meminta kata sandi yang tidak pernah ia lupakan.
Renata mengetiknya tanpa satu kesalahan.
Di tengah layar, dua huruf yang selama tiga tahun dikira telah mati menyala kembali.
JK.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!