Indonesia
NovelToon NovelToon

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Episode 1

Bab 1

Pagi Itu, Dia Minta Cerai

“Kalau keputusanmu memang sudah bulat, setelah sarapan kita ajukan permohonan cerai.”

Di kamar utama rumah tua di Menteng, Arya menarik kemeja putih melewati kedua bahunya. Kain itu menutupi punggung lebar yang dipenuhi bekas cakaran. Beberapa garis masih merah dan bengkak, jelas bukan luka lama.

Suaranya dingin, tetapi wajah lelaki itu di pantulan cermin tampak sangat lelah.

Laras duduk membeku di atas ranjang.

Pelipisnya berdenyut. Bau obat gosok dari meja samping ranjang bercampur aroma kayu lemari. Dari luar kamar terdengar bunyi selotip ditarik panjang, disusul gesekan kardus di atas lantai marmer.

Ia menunduk ketika sesuatu bergerak di balik gaun tidurnya.

Perutnya membulat besar.

Enam bulan.

Begitu telapak tangannya menyentuh perut itu, rasa nyeri membelah kepalanya. Ingatan asing datang bertubi-tubi. Akad nikah. Rumah ini. Wajah keluarga Reksonegoro. Pertengkaran semalam. Tangis Rukmini. Bentakan Sekar. Uang dan perhiasan yang ditepis dari meja. Kuku yang mencakar punggung Arya ketika lelaki itu berusaha menenangkannya.

Semua itu milik Larasati Wijaya, pemilik tubuh ini.

Namun ada ingatan lain yang benar-benar miliknya. Sebuah apartemen sempit, layar ponsel yang menyala lewat tengah malam, dan novel panjang yang ia baca sampai tamat.

Dalam novel itu, istri pertama Arya Reksonegoro juga bernama Larasati Wijaya.

Perempuan cantik yang mati-matian menikah dengan putra keluarga terpandang, lalu menjadi orang pertama yang ingin pergi ketika keluarga itu jatuh.

Laras menarik napas pendek.

Ia masuk ke dalam novel.

Dan bukan menjadi tokoh utama.

Ia menjadi istri jahat yang semalam mengancam akan menggugurkan kandungan jika Arya tidak menyetujui perceraian.

“Pengacara akan mengurus pendaftarannya ke Pengadilan Agama,” lanjut Arya. Ia mengancingkan manset tanpa menoleh. “Untuk pemeriksaan di rumah sakit, aku juga sudah membuat janji seperti yang kamu minta. Keputusan medis tetap di tangan dokter.”

Jari Laras langsung merapat di atas perutnya.

Bayi itu bergerak lagi. Ketukan kecil dari dalam, lembut tetapi nyata.

“Aku yang minta cerai?” tanyanya. Suaranya terdengar serak.

Tangan Arya berhenti pada kancing terakhir.

Ia menatap Laras melalui cermin. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Justru ketenangan itu terasa seperti pintu yang sudah ditutup rapat.

“Kamu mengatakannya enam kali semalam.”

Potongan ingatan kembali menyambar.

Guntur Reksonegoro baru saja dinonaktifkan dari jabatannya karena tuduhan korupsi dan pengkhianatan. Pemeriksaan masih berjalan, tetapi kabar itu sudah cukup membuat semua orang menjauh. Rumah Menteng masuk daftar inventaris. Beberapa aset akan dibekukan. Keluarga ini harus segera pergi dari Jakarta dan bersembunyi dari sorotan sampai penyelidikan menemukan kebenaran.

Begitu mendengar kabar tersebut, Larasati yang lama langsung mengamuk.

Ia menuntut cerai. Ia berkata tidak sudi melahirkan anak dari keluarga yang nama baiknya sudah hancur. Saat Rukmini meletakkan simpanan terakhir keluarga di hadapannya dan memohon agar cucu itu dipertahankan, Larasati menepis kotak tersebut sampai isinya berhamburan.

Arya akhirnya berkata ya.

Maka pagi ini, lelaki itu bukan sedang tiba-tiba membuang istrinya yang hamil.

Ia sedang menepati keputusan yang dipaksa keluar darinya semalam.

Laras menatap goresan merah yang masih terlihat sedikit di atas kerah kemeja Arya. Panas menjalar ke wajahnya, meski semua perbuatan itu dilakukan oleh orang lain dengan tubuh yang kini ia pakai.

Dalam alur asli, Larasati pergi ke rumah sakit, mengakhiri kehamilan, membawa harta yang tersisa, lalu memutus semua hubungan dengan keluarga Reksonegoro.

Dua tahun kemudian, Guntur terbukti tidak bersalah. Nama keluarga mereka dipulihkan. Arya kembali ke kesatuan, naik pangkat, dan hidup bahagia bersama Melati, perempuan yang terlahir kembali dan dianggap sebagai tokoh utama cerita.

Sedangkan Larasati?

Ia ditipu lelaki yang dikiranya kaya, kehilangan semua uang, lalu mati jauh dari siapa pun yang pernah mengenalnya.

Laras mengusap perutnya perlahan.

Ia tahu akhir setiap orang di rumah ini.

Semua orang mengira kapal Reksonegoro sedang tenggelam. Hanya dia yang tahu kapal itu akan kembali muncul dua tahun lagi, lebih kuat dari sebelumnya.

Meninggalkannya sekarang bukan menyelamatkan diri.

Itu sama saja melompat ke laut tepat sebelum badai berakhir.

“Arya,” panggil Laras.

Lelaki itu mengambil map tipis dari meja. Tulisan permohonan cerai tercetak pada sudut sampulnya.

“Semalam aku sedang emosi.” Laras memaksakan senyum kecil. “Masa kamu menganggap serius semua perkataan orang yang sedang marah?”

Arya akhirnya berbalik penuh.

Tinggi tubuhnya membuat kamar terasa lebih sempit. Wajahnya tegas dan tampan, tetapi matanya menyimpan kelelahan seseorang yang tidak tidur semalaman.

“Laras, kamu tidak perlu mengujiku.”

“Aku tidak sedang mengujimu.”

“Kamu mengancam akan pergi sendiri kalau aku tidak setuju. Sekarang aku sudah setuju.” Jarinya mengencang pada map. “Aku tidak akan menahanmu di keluarga yang kamu anggap memalukan.”

Setiap kata menampar sisa harga diri pemilik tubuh ini.

Laras menurunkan kaki dari ranjang. Lantai dingin menyentuh telapak kakinya. Tubuh barunya berat di bagian depan, dan pinggangnya nyeri ketika berdiri. Ia bertumpu pada sisi ranjang agar tidak oleng.

Arya bergerak setengah langkah ke arahnya.

Hanya setengah langkah, lalu ia berhenti.

Gerakan kecil itu tidak cocok dengan tatapannya yang dingin.

“Aku berubah pikiran,” kata Laras.

“Tentang uang penyelesaian?”

“Tentang perceraian.”

Alis Arya berkerut.

“Aku tidak mau bercerai.” Laras menatapnya lurus. “Aku juga tidak akan menggugurkan kandungan ini.”

Kamar mendadak sunyi.

Bunyi benda yang sedang dipindahkan di luar terdengar semakin jelas. Seseorang menjatuhkan gulungan lakban. Lalu semuanya hening lagi.

Arya tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke tangan Laras yang menangkup perut, seolah mencari tanda kebohongan di sana.

“Semalam Ibu memohon kepadamu,” katanya akhirnya. “Bapak menjamin kamu tidak akan kekurangan selama masih ada yang bisa beliau berikan. Kamu tetap menolak.”

“Aku tahu.”

“Sekar sampai menangis karena kamu mengatakan keluarga ini pantas tidak punya keturunan.”

Tenggorokan Laras tercekat. “Aku tahu.”

“Lalu apa yang berubah hanya dalam satu malam?”

Aku bukan lagi perempuan yang mengucapkan semua itu.

Jawaban tersebut tidak mungkin ia berikan.

Laras merasakan gerakan kecil dari dalam perutnya. Ia menunduk sejenak, lalu berkata, “Aku baru sadar ada keputusan yang tidak boleh diambil saat sedang marah. Anak ini tidak bersalah.”

Wajah Arya tetap kaku. Namun sesuatu bergetar di rahangnya sebelum ia memalingkan muka.

“Kamu tidak harus percaya kepadaku hari ini,” lanjut Laras. “Lihat saja apa yang kulakukan setelah ini.”

Arya terdiam lama.

Ketika kembali bicara, suaranya lebih rendah. “Kalau keputusanmu berubah lagi setelah kita keluar dari kamar ini?”

“Tidak akan.”

“Kamu pernah mengatakan hal yang sama.”

“Kali ini aku akan membuktikannya.”

Arya menatap map di tangannya. Ujung kertas di dalamnya sedikit tertekuk oleh genggaman lelaki itu.

Lalu tatapannya jatuh pada perut Laras sekali lagi.

Ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan lagi dingin, bukan pula marah. Kesedihan yang begitu cepat muncul hingga nyaris tidak sempat disembunyikan.

“Sebelum kamu pergi ke rumah sakit,” ucapnya perlahan, “aku tadinya ingin meminta satu hal.”

Laras menunggu.

Arya menarik napas. “Boleh aku menyentuh bayi ini sekali lagi?”

Kalimat itu menghantam jauh lebih keras daripada permintaan cerai.

Mata lelaki itu tidak memerah berlebihan. Tidak ada air mata yang jatuh. Hanya ada suara yang sedikit serak dan tangan kosong di sisi tubuhnya, seakan ia bahkan tidak yakin masih punya hak untuk mengulurkannya.

Laras teringat bahwa dalam novel, Arya sangat menantikan anak ini. Ia berbicara pada perut istrinya sepulang tugas, menghafal jadwal pemeriksaan, dan diam-diam membeli sepasang kaus kaki bayi. Namun pada pagi yang sama dalam alur asli, Larasati menepis tangannya dan berkata ia tidak pantas menjadi ayah.

Itulah titik terakhir yang memutus hati lelaki ini.

Laras tidak akan mengulanginya.

Ia meraih tangan Arya.

Tubuh lelaki itu menegang saat jari mereka bersentuhan. Sebelum ia sempat menarik diri, Laras meletakkan telapak tangannya pada sisi perut yang baru saja bergerak.

“Bukan sekali lagi,” katanya. “Kamu boleh menyentuhnya kapan pun. Ini anak kita.”

Hampir seketika, bayi itu menendang.

Jari Arya bergetar.

Untuk pertama kalinya pagi itu, seluruh pertahanan di wajahnya retak. Ia menatap perut Laras, lalu menatap istrinya dengan ketidakpercayaan yang telanjang.

“Aku akan mempertahankannya,” tegas Laras. “Aku tidak akan pergi ke rumah sakit untuk mengakhirinya. Aku tidak akan menandatangani perceraian.”

Dari luar terdengar ketukan pelan.

“Arya, Laras,” panggil Rukmini dengan suara yang masih menyisakan serak setelah menangis. “Sarapan sudah siap.”

Tatapan Arya tidak lepas dari wajah Laras.

“Kami segera keluar, Bu,” jawabnya.

Langkah Rukmini menjauh. Lorong kembali dipenuhi bunyi kardus dan perabot yang digeser. Rumah besar itu sedang dikosongkan sedikit demi sedikit.

Arya menarik tangannya perlahan, tetapi kehangatan telapak tangannya tertinggal di kulit Laras.

“Keluargaku mungkin harus meninggalkan Jakarta dalam beberapa hari,” katanya. “Hidup setelah ini tidak akan seperti sebelumnya.”

“Aku mengerti.”

“Kamu bahkan belum tahu kita akan tinggal di mana.”

Laras tahu.

Desa Girimulyo. Rumah kontrakan sempit di kaki bukit. Jalan berlumpur saat hujan, air yang harus diambil dari sumber umum, dan orang-orang yang akan menganggap keluarga Reksonegoro sebagai pesakitan.

Ia juga tahu semua itu hanya sementara.

“Di mana pun keluarga ini pergi, aku ikut,” ujar Laras.

Arya menatapnya seolah sedang melihat orang asing memakai wajah istrinya.

Ia tidak berkata percaya. Tidak pula memaafkan.

Namun setelah beberapa detik, ia membuka laci meja dan memasukkan map permohonan cerai ke dalamnya.

Laci itu tertutup dengan bunyi pelan.

“Kita belum selesai bicara,” katanya.

“Aku tahu.”

Arya berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sesaat tanpa menoleh.

“Makanlah yang banyak. Kamu tidak makan sejak kemarin.”

Pintu tertutup di belakangnya.

Laras kembali duduk di tepi ranjang. Kedua lututnya lemas, dan keringat dingin membasahi tengkuk. Ia baru saja mengubah satu adegan kecil, tetapi akibatnya akan menjalar ke seluruh cerita.

Di dalam novel, Larasati memilih pergi tepat ketika keluarga ini berada di dasar jurang.

Kali ini tidak.

Laras menangkup perutnya dengan kedua tangan. Gerakan bayi di dalamnya terasa seperti jawaban.

Ia akan mempertahankan anak ini.

Ia akan mempertahankan pernikahannya.

Dan ketika takdir memintanya mengikuti naskah lama, ia akan menjadi orang pertama yang merobek halaman itu.

Episode 2

Bab 2

Aku Ikut, Sampai Kapan Pun

Perut Laras berbunyi sebelum keberaniannya sempat surut.

Ia menekan bibir, antara malu dan ingin tertawa. Pemilik tubuh ini tidak makan sejak kemarin. Setelah mengamuk, mengancam cerai, dan menolak semua bujukan keluarga, ia memilih mengunci diri di kamar.

Tidak heran tubuhnya lemas.

Laras membasuh wajah, mengganti gaun tidurnya dengan blus longgar, lalu membuka pintu. Arya berdiri di ujung lorong dekat tangga, sudah mengenakan jam tangan dan sepatu. Seolah sedang memeriksa kardus di lantai, padahal matanya langsung jatuh pada langkah Laras.

Ia menunggunya.

Arya tidak menawarkan tangan. Namun saat Laras mencapai anak tangga pertama, lelaki itu berjalan setengah langkah lebih rendah dan menyesuaikan kecepatannya.

Rumah itu tampak berbeda di bawah cahaya pagi. Dua lukisan sudah diturunkan. Bingkai foto keluarga bersandar pada dinding, dibungkus lembaran busa. Beberapa kardus diberi tulisan pakaian, dokumen, dan perlengkapan dapur. Bekas persegi yang lebih terang tertinggal di dinding, membuat kemewahan rumah itu terasa seperti sesuatu yang sedang dikupas lapis demi lapis.

Di ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga, tiga orang telah duduk mengelilingi meja.

Guntur berada di kursi kepala meja. Punggungnya tetap tegak, tetapi seragam yang biasa ia kenakan telah diganti kemeja polos. Sebuah map berkop instansi terbuka di hadapannya. Rukmini berdiri di dekat panci bubur, sedangkan Sekar menyilangkan tangan dengan mata sembap.

Begitu Laras muncul, sendok di tangan Rukmini berhenti bergerak.

Sekar mendengus. “Akhirnya turun juga. Kukira Mbak Laras masih mau mogok makan.”

“Sekar,” tegur Rukmini.

“Aku cuma bilang yang sebenarnya, Mama.”

Arya menarik kursi untuk Laras. Gerakannya singkat, hampir kasar, seolah ia tidak ingin siapa pun menganggapnya sedang bersikap lembut.

Laras duduk tanpa mengomentari itu.

Rukmini menuangkan bubur hangat ke mangkuk, menambahkan suwiran ayam dan sedikit daun bawang, lalu meletakkannya di depan Laras. Matanya sempat turun ke perut sang menantu sebelum buru-buru berpaling.

“Makan dulu,” katanya. “Perut kosong tidak baik untuk bayinya.”

Jari Laras merapat pada sendok. Dalam ingatan tubuh ini, perempuan yang sama menangis semalam sambil memohon agar cucunya dipertahankan. Namun pagi ini ia tetap memasak untuk menantu yang sudah menepis tangannya.

“Terima kasih, Ibu.”

Rukmini terdiam.

Sekar yang hendak mengambil gelas ikut berhenti. Guntur mengangkat wajah dari dokumen. Bahkan Arya menoleh.

Dua kata sederhana itu rupanya sudah lama tidak keluar dari mulut Larasati.

“Tidak perlu berterima kasih,” jawab Rukmini pelan. “Makanlah sebelum dingin.”

Laras baru menyuap dua sendok ketika Sekar meletakkan gelasnya sedikit terlalu keras.

“Mbak Laras sedang merencanakan apa?”

“Sekar.” Kali ini suara Guntur yang turun, berat dan tegas.

“Papa juga tahu dia berubah terlalu cepat.” Mata Sekar memerah, tetapi dagunya tetap terangkat. “Semalam dia bilang anak itu cuma beban. Sekarang tiba-tiba memanggil Mama dengan baik. Jangan pura-pura baik hanya karena masih ada sesuatu yang ingin Mbak ambil dari rumah ini.”

Rukmini menarik napas. “Cukup.”

Laras meletakkan sendok.

Ia tidak marah. Jika dirinya berada di posisi Sekar, ia mungkin akan mengatakan hal yang lebih buruk. Gadis itu bukan sedang membenci tanpa alasan. Ia sedang menjaga keluarganya dari orang yang sudah pernah menipu kepercayaan mereka.

“Sekar benar untuk curiga,” kata Laras.

Ucapan itu justru membuat Sekar kehilangan jawaban.

Rukmini berjalan ke lemari kecil di sudut ruangan. Ia mengambil kantong beludru dan sebuah amplop tebal, lalu mendorong keduanya ke depan Laras.

“Ini yang semalam tercecer. Ada sedikit uang tunai dan beberapa perhiasan yang belum masuk daftar apa pun.” Jemarinya gemetar di tepi meja. “Simpanlah untuk pemeriksaan kandungan dan persalinan. Apa pun yang terjadi pada kami, bayi itu tidak boleh kekurangan.”

Sekar langsung berdiri. “Mama!”

“Duduk.” Guntur hanya mengucapkan satu kata.

Sekar menggigit bibir, lalu duduk kembali dengan marah.

Laras menatap kantong beludru tersebut. Di cerita lama, benda seperti inilah yang diambil Larasati sebelum meninggalkan keluarga Reksonegoro. Tidak heran Sekar mengira semua perubahan sikapnya hanyalah cara untuk mendapatkan harta terakhir.

Ia mendorong amplop dan kantong itu kembali ke sisi Rukmini.

“Ibu yang pegang.”

“Tapi kebutuhanmu...”

“Kita akan membutuhkannya bersama.”

Kata kita membuat meja kembali sunyi.

Guntur menutup map di hadapannya. “Arya bilang kamu membatalkan permintaan cerai dan tidak akan mengakhiri kehamilan.”

“Benar, Bapak.”

“Apa kamu memahami keadaan keluarga ini?”

Laras menahan napas sebelum menjawab. “Sebagian.”

Guntur menatapnya tanpa berkedip.

Arya yang menjelaskan. “Pemberitahuan awal menyebut Bapak akan dinonaktifkan selama pemeriksaan internal. Keputusan resminya belum turun. Tim inspektorat akan mencocokkan dokumen dan aset yang berkaitan dengan jabatan. Belum ada putusan pembekuan, tapi pengacara meminta kita menyiapkan kemungkinan terburuk.”

“Termasuk meninggalkan rumah ini,” tambah Guntur.

Rukmini menunduk. Sekar memalingkan muka ke jendela.

Di luar pagar, sebuah mobil melambat. Seseorang di kursi penumpang mengangkat ponsel ke arah rumah sebelum kendaraan itu bergerak lagi. Kabar jatuhnya keluarga Reksonegoro rupanya sudah menjadi tontonan.

“Kami belum tahu berapa lama pemeriksaan berlangsung,” lanjut Guntur. “Kami juga tidak akan menahanmu dengan alasan anak. Kalau kamu ingin tinggal bersama keluargamu sendiri selama keadaan belum jelas, kami akan mengaturnya dengan baik.”

Laras tahu itu bukan pengusiran. Lelaki yang semalam dihina menantunya masih berusaha memberi jalan keluar dengan terhormat.

Ia menggeleng.

“Saya tidak akan pulang ke keluarga Wijaya.”

“Lalu kamu mau tinggal di mana?” tanya Sekar tajam.

Laras memandang mereka satu per satu. Wajah Guntur tetap tenang, tetapi garis lelah di sekitar matanya tampak jelas. Rukmini mencengkeram ujung kerudung. Sekar memasang duri di seluruh tubuhnya. Arya berdiri di samping meja, diam dan penuh curiga.

Mereka tidak tahu dua tahun lagi nama Guntur akan dibersihkan.

Mereka tidak tahu semua orang yang kini memotret rumah dari balik kaca mobil akan berlomba mengaku sebagai kawan lama.

Hanya Laras yang tahu.

“Ke mana keluarga ini pergi, aku ikut,” katanya.

Rukmini mengangkat kepala cepat.

Sekar tertawa pendek tanpa rasa lucu. “Mbak Laras bahkan tidak tahu kita akan pergi ke mana.”

“Memang belum.” Laras menjaga suaranya tetap tenang. “Tapi pemeriksaan bukan putusan bersalah. Bapak belum terbukti melakukan apa pun. Aku tidak akan meninggalkan keluarga hanya karena orang di luar sudah lebih dulu menjatuhkan vonis.”

Sorot mata Guntur berubah tipis.

“Kamu sangat yakin saya tidak bersalah,” ujarnya.

Jantung Laras berdetak lebih cepat.

Ia tahu bukan hanya Guntur tidak bersalah. Ia tahu siapa yang menanam bukti palsu, siapa yang kelak goyah dalam pemeriksaan, dan dokumen mana yang akhirnya membalik seluruh perkara. Namun nama Bramasta tidak boleh keluar sekarang. Tanpa bukti, pengetahuan itu justru akan membuat semua orang bertanya dari mana ia mendapatkannya.

“Saya yakin orang yang belum dibuktikan bersalah tidak pantas ditinggalkan,” jawabnya hati-hati.

Guntur tidak membantah. Ia hanya menatap Laras beberapa detik lebih lama, seolah menyimpan jawaban itu untuk diperiksa kembali nanti.

Rukmini menyeka sudut matanya. “Kalau kamu benar-benar ikut, hidupnya mungkin akan sangat sulit.”

“Aku bisa belajar.”

“Semalam saja kamu bilang tidak sanggup kehilangan mobil,” sela Sekar.

“Kalau begitu, mulai hari ini aku belajar berjalan kaki.”

Sekar membuka mulut, tetapi tak menemukan bantahan. Ia membuang muka sambil meraih teko air.

Laras kembali menyentuh sendoknya. “Boleh aku menghabiskan buburnya sekarang? Bayinya lapar.”

Rukmini langsung menarik piring lauk lebih dekat. “Makan. Tambah lagi kalau kurang.”

Gerakannya terlalu cepat. Sekar melirik ibunya, menuangkan air ke gelas kosong, lalu tanpa berkata apa pun menggesernya ke arah Laras.

Hanya sejengkal.

Namun Laras menerimanya tanpa senyum kemenangan. “Terima kasih.”

Setelah sarapan, Arya menahannya di lorong sebelum ia kembali ke kamar. Keluarga lain masih di ruang makan. Suara Rukmini meminta Sekar membungkus dokumen terdengar samar dari belakang.

“Apa yang sebenarnya kamu inginkan?” tanya Arya.

“Aku sudah menjawabnya.”

“Tidak ada orang yang berubah sebanyak ini dalam satu malam.”

Laras menatap wajahnya. “Kalau semuanya runtuh, kamu mau aku pergi ke mana, Arya?”

“Aku bisa mengantarmu kembali ke rumah Wijaya. Atau mencarikan tempat yang aman sampai anak itu lahir.”

“Lalu kamu?”

Arya diam.

“Kamu menyuruhku mempertahankan anak kita, tapi menghadapi semuanya sendirian?” Laras menggeleng. “Tidak. Ke mana pun keluargamu pergi, aku ikut. Bukan hanya sampai anak ini lahir.”

Rahang Arya menegang.

Ia masih tidak percaya. Laras dapat melihatnya dengan jelas.

Namun di balik kecurigaan itu, ada satu pertanyaan yang tak berhasil disembunyikan lelaki tersebut.

Bagaimana jika kali ini Laras benar-benar bersungguh-sungguh?

Episode 3

Bab 3

Panggilan Pertama “Mas”

Jawaban atas pertanyaan Arya datang tiga jam kemudian dalam bentuk surat berstempel resmi.

Guntur dinonaktifkan dari jabatannya selama pemeriksaan. Rumah Menteng harus dikosongkan dalam empat hari untuk proses penyegelan dan inventarisasi. Akses terhadap sejumlah rekening keluarga akan dibatasi setelah surat perintah terkait diterbitkan.

Tidak ada satu kalimat pun yang menyatakan Guntur bersalah.

Namun bagi orang-orang di luar pagar, keputusan itu sudah terdengar seperti vonis.

Menjelang sore, dua wartawan menunggu di seberang jalan. Telepon rumah berdering berkali-kali, lalu mendadak sunyi setelah Guntur mencabut kabelnya. Rukmini membungkus piring-piring yang masih ingin dibawa. Sekar melipat pakaian sambil sesekali menyeka mata dengan punggung tangan.

Guntur dan Arya mengurus dokumen di ruang kerja.

Laras tidak ikut masuk. Ia berdiri di lorong ketika pintu terbuka dan mendengar suara Guntur yang berat.

“Sekar bisa tinggal dengan keluarga teman di Jakarta,” kata Arya. “Setidaknya sampai situasi lebih tenang.”

“Tidak,” sahut Sekar dari belakang Laras. Gadis itu memeluk dua map ke dadanya. “Kalau Papa dan Mama pergi, aku ikut.”

Rukmini yang menyusul hanya mengusap bahu putrinya. Tidak ada yang menyuruh Sekar pergi lagi.

Laras memandangi mereka. Keluarga ini sedang kehilangan hampir semuanya, tetapi satu per satu justru memilih berdiri lebih rapat. Semalam hanya dirinya yang berusaha memutus lingkaran itu.

“Kita berangkat ke Girimulyo paling lambat lusa. Rumah lama dekat desa masih bisa dipakai sebagai alamat singgah, tapi kondisinya tidak layak. Arya, cari kontrakan yang tidak menarik perhatian.”

Desa Girimulyo.

Nama itu sama persis dengan yang Laras ingat.

Sebuah desa di kaki bukit di Jawa Tengah, jauh dari lingkungan sosial keluarga Reksonegoro. Di sanalah mereka akan melewati masa paling sulit. Di sana pula Arya kelak bertemu Melati jika alur cerita tidak berubah.

Laras menahan telapak tangannya di perut.

Kali ini ia akan berada di sana lebih dulu.

Arya keluar dari ruang kerja membawa map dan selembar daftar. Ia berhenti ketika melihat Laras.

“Kita perlu bicara.”

Ia membawanya ke kamar, tetapi membiarkan pintu terbuka sedikit. Sikap seorang lelaki yang masih menjaga jarak, bahkan ketika sedang berdua dengan istrinya sendiri.

Di atas ranjang sudah ada koper terbuka. Arya memasukkan beberapa kaus dan celana lapangan tanpa melipatnya terlalu rapi. Sebuah tas kecil berisi obat diletakkan di samping koper.

“Keputusan resmi sudah turun,” katanya. “Kami harus keluar dari rumah ini dalam empat hari.”

“Aku dengar.”

“Tempat tujuan kita Desa Girimulyo. Dari kota kabupaten masih beberapa jam lewat jalan kecil.”

Laras mengangguk.

Arya meletakkan daftar di atas meja. “Tidak ada rumah sakit besar di dekat sana. Hanya Puskesmas di kecamatan. Jalan ke desa buruk saat hujan, listrik kadang padam, dan rumah yang bisa kita sewa mungkin tidak punya air mengalir.”

Ia menjelaskan semuanya tanpa melebih-lebihkan. Justru ketenangan itu membuat setiap kesulitan terdengar nyata.

“Kamu sedang hamil enam bulan,” lanjutnya. “Ini bukan waktu untuk membuktikan sesuatu.”

“Aku tidak sedang membuktikan apa pun.”

“Kembalilah ke rumah keluarga Wijaya.”

Nada Arya tidak kasar. Namun keputusan di baliknya terdengar final.

Laras menatap lelaki itu. “Aku sudah bilang tidak mau.”

“Kamu belum melihat Girimulyo.”

“Kamu juga belum melihatnya dalam keadaan sekarang.”

“Aku pernah bertugas di daerah yang lebih sulit.”

“Tapi kamu belum pernah menjadi perempuan hamil.”

Arya terdiam, mungkin karena tidak menyangka ia akan membalas seperti itu.

Laras menahan senyum. “Jadi kita sama-sama belum tahu persis. Tidak adil kalau hanya aku yang dilarang pergi.”

“Laras.”

“Aku bisa ikut pemeriksaan kandungan sebelum berangkat. Kita bawa obat, makanan, dan semua catatan medis. Kalau bidan bilang perjalanannya berbahaya, baru kita cari pilihan lain.”

Arya menatapnya tajam. “Kamu sudah memikirkan sebanyak itu?”

Tentu saja. Laras bahkan tahu jalan mana yang akan rusak setelah hujan pertama dan warung mana yang menjual kebutuhan paling lengkap. Namun ia tidak boleh terlihat mengetahui terlalu banyak.

“Aku hanya mencoba bersikap masuk akal.”

“Sikap masuk akalmu datang terlambat.”

Kalimat itu tepat mengenai tempat yang masih perih.

Laras tidak membela diri. Arya berhak meragukannya. Satu pagi yang baik tidak dapat menghapus berbulan-bulan luka.

Lelaki itu menutup koper setengah penuh. “Aku akan bicara dengan pengacara keluarga Wijaya. Mereka bisa menjemputmu besok.”

Laras merasakan kegelisahan yang tadinya ia tekan mulai merayap naik.

Jika dikirim pulang, ia akan terpisah dari keluarga Reksonegoro tepat ketika alur cerita mulai bergerak. Hendra dan Yuli tidak akan melindunginya. Mereka hanya akan menghitung berapa banyak uang yang masih bisa diambil dari statusnya sebagai menantu keluarga jenderal.

Argumen tidak akan menembus Arya. Lelaki itu sudah menyiapkan jawaban untuk semuanya.

Laras harus menyentuh bagian dirinya yang tidak bisa dijawab dengan logika.

Ia melangkah mendekat. Suaranya turun tanpa dibuat-buat.

“Mas Arya.”

Tangan Arya yang hendak mengambil tas obat berhenti di udara.

Laras sendiri merasakan jantungnya melonjak. Sejak membuka mata di tubuh ini, ia selalu memanggilnya Arya. Satu kata itu tiba-tiba membuat jarak di antara mereka terasa berbeda.

Arya menoleh perlahan. “Apa?”

“Aku takut sendirian.”

Kerutan di antara alisnya melemah sedikit.

Laras menangkup perutnya. Kali ini ia tidak sedang menyusun alasan. Rumah Wijaya memang bukan rumah yang aman baginya. Di dunia asing ini, hanya orang-orang Reksonegoro yang nasibnya benar-benar ia kenal.

“Mas,” panggilnya sekali lagi, lebih lembut. “Jangan tinggalin aku.”

Keheningan mengisi kamar.

Di luar, terdengar Rukmini meminta Sekar memisahkan obat dari barang pecah belah. Suara kardus ditutup menjadi pengingat bahwa waktu mereka di rumah ini hampir habis.

Arya memandang wajah Laras cukup lama. Tatapannya turun ke perutnya, lalu kembali naik.

“Kamu yang ingin pergi dariku semalam.”

“Dan hari ini aku memilih tinggal.”

“Bagaimana kalau besok berubah lagi?”

“Bawa aku bersamamu, lalu lihat sendiri.”

Rahang Arya masih kaku, tetapi tangannya tidak lagi meraih ponsel untuk menghubungi keluarga Wijaya.

“Di sana tidak ada sopir, pelayan, atau makanan yang bisa kamu pesan kapan saja.”

“Aku tahu.”

“Jangan mengeluh nanti di sana.”

Laras menahan napas. “Berarti aku boleh ikut?”

Arya tidak menjawab langsung. Ia mengambil tas obat dari meja dan memasukkannya ke koper.

“Periksa kandunganmu besok pagi. Kalau dokter melarang perjalanan, kita ikuti dokter.”

Senyum Laras nyaris lolos. “Baik.”

Ia hendak mengambil pouch kecil di atas lemari, tetapi letaknya terlalu tinggi. Baru saja ia berjinjit, Arya sudah meraihnya lebih dulu.

“Jangan begitu,” tegurnya. “Kalau jatuh bagaimana?”

Pouch itu diletakkan di tangan Laras. Setelah itu Arya menarik kursi dari dekat meja dan menggesernya ke belakang lututnya.

“Duduk.”

Nada suaranya tetap dingin.

Namun tubuhnya sudah lebih dulu memilih untuk menjaga.

Laras duduk sambil memeluk pouch tersebut. Di luar kamar, rumah mereka sedang runtuh sedikit demi sedikit.

Di dalam kamar, satu kata sederhana baru saja membuka retakan pertama pada dinding di antara mereka.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!