Bab 1: Yang Terhina Berbalik Menyerang
Tagihan SPP Nathan Wijaya masuk lima menit sebelum Alexander Wijaya tiba di restoran.
Ia membaca angkanya sekali, lalu mengunci layar ponsel. Tidak ada gunanya menghitung ulang. Saldo rekeningnya sudah kalah sebelum angka itu muncul. Uang kos bulan depan, transportasi ke pengadilan, makan, fotokopi berkas, semuanya berdiri dalam antrean yang sama.
Lalu pesan Priscilla Salim masuk.
Jangan telat. Aku sudah pesan tempat.
Alexander memasukkan ponsel ke saku jas lamanya dan menyentuh benda kecil di saku bagian dalam.
Lencana Advokat kuningan milik Herman Wijaya.
"Aku cuma perlu bertahan malam ini," gumamnya.
Ternyata ia salah.
Di restoran mewah pusat Kota Cahaya itu, Priscilla tidak datang untuk makan malam. Ia duduk dekat jendela dengan jam tangan baru di pergelangan tangan, tas branded di kursi sebelah, dan Anthony Wongso, S.H. di sampingnya.
Anthony tersenyum ketika Alexander berhenti di depan meja.
"Akhirnya datang juga, Alex."
Priscilla bahkan tidak menyuruhnya duduk. "Kita selesai."
Kalimat itu pendek. Cukup pendek untuk membuat beberapa tamu di meja sebelah menoleh.
Alexander menatapnya. "Kamu memanggilku ke sini untuk mengatakan itu?"
"Untuk mengakhirinya dengan baik-baik." Priscilla membuka tas, mengeluarkan selembar cek, lalu mendorongnya ke tepi meja. "Ambil. Rp 500.000.000. Setelah ini jangan ganggu aku lagi."
Anthony bersandar dengan santai. "Jumlah yang besar untuk pengacara magang. Bisa bayar kos, bisa bayar SPP adikmu, bisa beli jas yang tidak membuatmu terlihat seperti staf fotokopi."
Bisik-bisik langsung menyebar.
Alexander tidak melihat cek itu lebih dulu. Ia melihat Priscilla.
"Kamu memberitahunya soal Nathan?"
Priscilla mengangkat dagu. "Aku pernah jadi pacarmu. Aku tahu hidupmu seberantakan apa."
Anthony tertawa pelan. "Jangan tersinggung. Semua orang punya kelas masing-masing. Priscilla cuma akhirnya sadar dia tidak pantas turun terlalu jauh."
Alexander mengambil cek itu.
Di atas kertas, angka setengah miliar rupiah terlihat sebagai bantuan. Di meja itu, angka yang sama berubah menjadi tali jerat.
"Kamu ingin aku menerima ini di depan saksi?" tanyanya.
"Aku ingin kamu berhenti sok bermartabat." Priscilla berdiri mendadak. Kursinya menyenggol tubuh Alexander. Saku jasnya tertarik.
Lencana Advokat kuningan jatuh.
Ting.
Suara kecil itu memotong seluruh restoran.
Lencana itu berhenti di dekat sepatu Priscilla. Ia menunduk, lalu wajahnya berubah jijik.
"Benda tua ini lagi?" katanya. "Kamu masih membawa peninggalan ayahmu seperti jimat orang miskin?"
Mata Alexander membeku.
"Jangan sentuh."
Anthony melirik lencana itu. "Oh, jadi ini sumber harga dirimu?"
Priscilla menggeser lencana itu dengan ujung sepatunya.
Tidak keras.
Tapi cukup.
Dada Alexander seperti dihantam dari dalam.
Pada detik yang sama, cahaya biru terbuka di depan matanya.
Ting! Sistem Pengacara Terkuat telah aktif.
Nama: Alexander Wijaya, S.H.
Jenjang: Lv3 Magang Hukum.
Skill dasar aktif: Teori Hukum, Logika Hukum, Pengumpulan Bukti, Basis Data Hukum, Argumentasi Hukum, Penyusunan Dokumen Hukum, Debat Persidangan.
Misi pemula terpicu: Pulihkan martabat di depan penghinaan publik.
Alexander tidak bergerak.
Anthony menyipitkan mata. "Kenapa diam? Baru sadar cek itu terlalu mahal untuk harga dirimu?"
Panel biru berubah.
Analisis dokumen berjalan...
Objek: cek dan catatan penyelesaian pribadi.
Temuan awal: tanda tangan tidak sesuai pola pemilik rekening; tanggal penerbitan bertentangan dengan riwayat blokir rekening; catatan penyelesaian tidak memiliki dasar perjanjian tertulis yang sah; indikasi penggunaan surat berharga bermasalah.
Amarah Alexander tiba-tiba dingin.
Sangat dingin.
Ia berjongkok, memungut Lencana Advokat Herman Wijaya, mengusapnya dengan ibu jari, lalu memasukkannya kembali ke saku bagian dalam.
Setelah itu ia berdiri dan mengangkat cek di tangannya.
"Anthony Wongso," katanya, cukup keras untuk didengar meja-meja sekitar, "kamu yakin ingin aku menerima cek ini?"
Senyum Anthony menipis. "Apa maksudmu?"
"Pertama, tanda tangan di sini tidak sesuai dengan pola pemilik rekening. Tarikan awal terlalu ragu, tarikan akhir terlalu ditekan. Peniru tanda tangan biasanya mengejar bentuk, tapi gagal meniru ritme."
Wajah Anthony berubah sedikit.
Priscilla menoleh. "Anthony?"
"Dia menggertak," kata Anthony cepat.
Alexander menunjuk nomor cek. "Kedua, nomor seri ini berasal dari buku cek yang sudah dilaporkan bermasalah dan diblokir. Tanggal penerbitannya justru lebih baru daripada tanggal blokir. Itu bukan kelalaian kecil. Itu jejak."
Bisik-bisik tamu semakin keras.
Anthony berdiri. "Hati-hati. Tuduhan pemalsuan bisa membuatmu dilaporkan."
"Silakan." Alexander menaruh cek itu kembali di meja, tepat di depan Anthony. "Ketiga, catatan di belakang cek menyebut penyelesaian hubungan pribadi dan kerahasiaan. Tidak ada perjanjian tertulis, tidak ada saksi kontrak, tidak ada dasar kontraprestasi yang jelas. Kalau tujuannya membuat aku diam soal perselingkuhan kalian, catatan ini justru memperlihatkan upaya membeli diam."
Priscilla memucat.
"Kamu bilang dia menjebakmu?"
Alexander menatapnya. "Aku bilang kamu memilih berdiri di sebelah orang yang mengira kemiskinan bisa dipakai sebagai perangkap."
Anthony menghantam meja dengan telapak tangan. Gelas bergetar. "Cukup!"
"Belum." Alexander mengeluarkan ponsel dan memotret cek itu dari dua sisi. "Keempat, kamu memilih restoran terbuka, membuat Priscilla menyerahkan cek ini, lalu menunggu aku marah atau menerimanya. Kalau aku ambil, kamu bisa menuduh pemerasan. Kalau aku meledak, kamu bisa menuduh pengancaman. Rencananya rapi. Sayangnya bukti juga rapi."
Manajer restoran mendekat dengan wajah tegang. "Maaf, Bapak. Ada masalah?"
Anthony langsung menunjuk Alexander. "Dia membuat keributan."
Alexander menoleh kepada manajer. Suaranya berubah formal. "Pak, saya meminta restoran mengamankan CCTV malam ini. Dokumen di meja ini berpotensi menjadi barang bukti. Banyak saksi melihat siapa yang menyerahkannya dan siapa yang menolak menerimanya."
Manajer itu menatap cek, lalu menatap Anthony. Dalam satu tarikan napas, sikapnya berubah.
"Kami akan amankan rekaman, Pak."
Anthony kehilangan warna di wajahnya.
Priscilla mencengkeram tasnya. "Anthony, bilang sesuatu."
Sejak Alexander datang, baru kali ini Anthony kehilangan kalimat siap pakai.
Alexander memasukkan ponsel ke saku. "Priscilla, kita memang selesai. Tapi bukan karena aku tidak pantas berada di lingkaranmu."
Ia menatap Anthony.
"Karena lingkaran seperti ini terlalu sempit untuk hukum yang benar."
Ia berbalik.
Tidak ada yang menghentikannya.
Di belakangnya, suara tamu-tamu restoran naik seperti gelombang. Manajer memberi isyarat kepada staf keamanan. Anthony berdiri kaku di samping cek yang tadi ia kira akan menjadi senjata, sementara Priscilla menatap lencana di saku Alexander seolah baru sadar ia telah menendang sesuatu yang tidak bisa ia beli kembali.
Pintu kaca restoran terbuka.
Udara malam Kota Cahaya dingin. Alexander berhenti di trotoar, menekan saku bagian dalam tempat Lencana Advokat Herman Wijaya tersimpan.
Panel biru muncul lagi.
Ting! Misi pemula selesai.
Martabat dasar dipulihkan. Musuh pertama telah teridentifikasi.
Hadiah sedang dihitung...
Alexander melihat pantulan Anthony di kaca restoran. Pria itu masih berdiri tanpa bergerak.
"Kau baru saja mengetuk pintu yang salah," gumam Alexander.
Bab 2: Bayang-Bayang Sebelum Badai
"Kau baru saja mengetuk pintu yang salah," gumam Alexander.
Kalimat itu tenggelam di antara suara kendaraan malam Kota Cahaya. Di belakangnya, gedung kaca restoran masih terang, seolah tidak ada harga diri yang baru saja dipatahkan di dalam sana. Alexander tahu sesuatu sudah berubah. Priscilla Salim menjadi masa lalu. Anthony Wongso kehilangan senyum di depan tamu-tamu berjas mahal.
Di depan matanya, panel biru masih menggantung.
Ting! Hadiah misi pemula selesai dihitung.
Peti Perunggu diperoleh.
Alexander berhenti di bawah kanopi gedung. Hujan akhirnya turun, tipis-tipis, membuat trotoar mengilap seperti kaca hitam. Ia menatap tulisan itu beberapa detik, lalu menarik napas pelan.
"Buka."
Tidak ada suara dari luar. Tidak ada cahaya yang bisa dilihat orang lain. Namun di mata Alexander, Peti Perunggu itu retak dari tengah, memancarkan garis cahaya keemasan yang tipis.
Ting! Peti Perunggu terbuka.
Hadiah diperoleh: penguatan awal Basis Data Hukum.
Efek: akses cepat pada pasal, asas, dan rujukan hukum dasar dalam memori pengguna meningkat drastis.
Sebuah rasa dingin menyapu belakang kepala Alexander.
Ia nyaris terhuyung. Terlalu banyak pintu terbuka sekaligus di dalam pikirannya. Potongan pasal, istilah hukum acara, asas pembuktian, jenis alat bukti, prosedur laporan, hingga perbedaan tipis antara penghinaan, fitnah, pemerasan, dan pemalsuan dokumen bermunculan seperti rak arsip yang tiba-tiba menyala satu per satu.
Alexander memejamkan mata.
Ketika ia membukanya lagi, kekacauan itu sudah tersusun rapi.
"Jadi begini caranya," bisiknya.
Ia tidak menjadi orang lain. Ia tetap Alexander Wijaya, advokat muda yang saldo rekeningnya belum cukup untuk merasa aman. Namun sesuatu di dalam dirinya kini bekerja dengan kecepatan yang tidak manusiawi.
Ia menuruni anak tangga, menolak tawaran valet, lalu berjalan ke halte terdekat. Jasnya mulai basah. Di saku bagian dalam, Lencana Advokat Herman Wijaya menempel dingin di dada, tetapi genggamannya pada benda itu tidak lagi gemetar.
Kos-kosannya terasa lebih sempit saat ia pulang.
Kipas tua masih berputar dengan suara yang sama. Meja lipat masih miring. Tagihan SPP Nathan Wijaya masih menunggu di layar ponsel seperti luka kecil yang tidak mau menutup. Bedanya, Alexander kini tidak lagi menatap semua itu sebagai orang yang terpojok tanpa jalan.
Ia menggantung jas, mengeringkan rambut dengan handuk, lalu duduk di tepi ranjang.
"Panel Status."
Cahaya biru terbuka penuh.
Nama: Alexander Wijaya, S.H.
Jenjang: Lv3 Magang Hukum.
Status fisik: lelah ringan; tekanan emosi tinggi; fokus meningkat.
Sistem Misi: aktif.
Skill dasar:
Teori Hukum: aktif.
Logika Hukum: aktif.
Pengumpulan Bukti: aktif.
Basis Data Hukum: diperkuat.
Argumentasi Hukum: aktif.
Penyusunan Dokumen Hukum: aktif.
Debat Persidangan: aktif.
Di bawah tujuh baris itu, ada peta bercabang yang masih kelabu. Beberapa simpul tampak redup, seolah menunggu syarat tertentu. Skill Tree Psikologi. Skill Tree Negosiasi. Skill Pasif Sidang. Sistem Guru-Murid. Nama-nama itu belum bisa disentuh, tetapi keberadaannya saja sudah cukup membuat napas Alexander tertahan.
Ini alat yang bisa mengubah posisi hidup seseorang.
Ini peta perang.
Ia menyentuh simpul Skill Pasif Sidang. Panel kecil muncul.
Syarat pembukaan belum terpenuhi.
Selesaikan tekanan hukum formal pertama.
Alexander membaca kalimat itu dua kali.
"Tekanan hukum formal pertama," gumamnya. "Jadi Anthony belum selesai."
Seolah menjawab pikirannya, ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke aplikasi percakapan yang biasa dipakai kalangan kantor hukum.
Kau pikir malam ini membuatmu menang?
Alexander menatap layar tanpa ekspresi.
Pesan kedua muncul.
Besok orang-orang akan tahu siapa yang sebenarnya memeras siapa.
Tidak ada nama pengirim. Tetapi Alexander tidak perlu bertanya. Cara seseorang mengancam sering kali lebih jujur daripada tanda tangannya.
Ia memotret layar, menyimpan tangkapan pesan, lalu menyalinnya ke folder baru: Anthony Wongso.
Folder itu masih kosong selain dua foto cek dari restoran, satu rekaman suara pendek yang tanpa sengaja tertangkap saat ia mengaktifkan kamera, dan catatan pribadi tentang manajer restoran serta posisi CCTV.
Dulu, ia mungkin akan panik.
Malam ini, ia membuat daftar.
Nomor satu: minta salinan rekaman CCTV secara resmi.
Nomor dua: cek status nomor seri cek melalui jalur perbankan yang sah.
Nomor tiga: jangan hubungi Priscilla lebih dulu.
Nomor empat: tunggu lawan bergerak, lalu kunci jalurnya.
Alexander berhenti pada nomor empat. Ujung bibirnya bergerak sedikit, bukan senyum penuh, lebih seperti garis tipis yang lahir dari kesadaran baru.
Di layar Panel Status, sebuah indikator kecil berkedip.
Misi lanjutan belum aktif.
Kondisi pemicu: ancaman hukum nyata terkonfirmasi.
"Baik," katanya pelan. "Aku tunggu."
Sementara itu, di sisi lain Kota Cahaya, lampu ruang rapat sebuah kantor hukum masih menyala.
Anthony Wongso berdiri di depan meja besar dengan rahang mengeras. Jas biru tuanya sudah tidak rapi. Priscilla duduk di sofa dekat jendela, memeluk tas brandednya seperti perisai. Matanya masih merah, tetapi gengsinya menolak menangis.
Di ujung meja, seorang pria paruh baya berkacamata membaca laporan singkat dari ponsel Anthony. Namanya tidak disebut siapa pun di ruangan itu dengan nada akrab. Para staf memanggilnya Pak Direktur.
"Kau membuat masalah di restoran umum," kata Pak Direktur. Suaranya rendah, tetapi lebih berbahaya daripada bentakan.
Anthony menelan ludah. "Saya bisa mengendalikannya, Pak. Dia menggertak. Dia tidak punya akses bank. Tidak punya koneksi. Dia cuma membaca dari permukaan."
"Cuma membaca dari permukaan?" Pak Direktur meletakkan ponsel di meja. "Dan permukaan itu cukup untuk membuat manajer restoran menyimpan CCTV, tamu-tamu bicara, dan namamu disebut dalam gosip internal tiga kantor hukum sebelum tengah malam."
Priscilla mengangkat wajah. "Tiga kantor?"
"Minimal." Pak Direktur menatapnya sekilas, lalu kembali ke Anthony. "Kau pengacara. Kau seharusnya tahu, orang hukum tidak perlu media sosial untuk menghancurkan reputasi. Cukup satu ruang tunggu pengadilan."
Anthony mengepalkan tangan.
Kemarahan membuat wajahnya panas. Yang paling menyakitkan bukan cek itu. Bukan juga tatapan tamu restoran. Yang paling menyakitkan adalah cara Alexander berdiri tenang, seolah Anthony hanya mahasiswa baru yang salah membawa berkas.
Sejak kuliah, Anthony terbiasa menang lewat nama kantor, koneksi keluarga klien, dan cara bicara yang membuat lawan merasa kecil sebelum perdebatan dimulai. Alexander seharusnya jenis lawan paling mudah. Miskin. Baru. Tidak punya pelindung.
Tapi malam itu, pria miskin itu mencabik rencananya tanpa berkeringat.
"Saya akan membuat dia mencabut ucapannya," kata Anthony.
Pak Direktur mengangkat alis. "Dengan cara?"
"Laporan pemerasan." Anthony membuka map hitam di meja. "Saya sudah siapkan tangkapan pesan. Rekaman bisa dipotong dari panggilan lama Priscilla dengan dia. Kita buat seolah dia mengancam membuka hubungan pribadi Priscilla kalau tidak dibayar."
Priscilla tersentak. "Anthony, itu..."
"Diam dulu." Nada Anthony tajam.
Priscilla membeku. Malam itu, ia melihat sisi Anthony yang tidak pernah ditunjukkan saat memberinya jam tangan dan tas mahal: panik yang berubah menjadi kejam.
Pak Direktur tidak langsung menolak. Ia menatap map itu lama.
"Kalau kau melakukan ini, jangan setengah-setengah," katanya akhirnya. "Polisi harus datang sebelum dia sempat menyiapkan narasi. Buat dia terlihat defensif. Orang kecil sering kalah saat terlambat bicara."
Anthony mengangguk cepat. "Besok pagi."
"Dan pastikan namaku tidak ada di berkas."
"Tentu, Pak."
Priscilla merasakan tenggorokannya kering. "Kalau Alex bisa membuktikan itu palsu?"
Anthony menoleh. Senyumnya kembali, tetapi kali ini tidak hangat sedikit pun.
"Kalau dia bisa, berarti dia memang pantas dihancurkan lebih dulu."
Di kos-kosan kecilnya, Alexander tidak tahu kalimat itu baru saja diucapkan. Namun entah mengapa, ia terbangun dari tidur pendeknya sebelum subuh.
Panel Status masih samar di sudut pandangannya, seperti bara biru yang tidak padam.
Ia duduk, menatap folder Anthony Wongso di ponselnya, lalu membuka catatan anggaran keluarga. Di baris paling atas tertulis SPP Nathan. Di bawahnya: uang kos. Makan. Transportasi. Fotokopi berkas.
Hidupnya masih sempit.
Tetapi sempit bukan berarti buntu.
Alexander menutup catatan itu dan membuka dokumen baru.
Judulnya singkat.
Kronologi Restoran.
Jari-jarinya mulai mengetik. Waktu, lokasi, posisi meja, kata-kata Priscilla, bentuk cek, reaksi Anthony, saksi, CCTV, pesan ancaman.
Satu demi satu.
Rapi.
Tanpa amarah yang tumpah.
Ketika matahari pertama menyentuh kisi-kisi jendela kos, dokumen kronologi itu sudah selesai. Alexander menyimpannya, mencadangkannya ke dua tempat, lalu berdiri untuk mandi.
Di luar kamar, langkah kaki terdengar di lorong kos. Suaranya berbeda dari sandal penghuni. Ini langkah sepatu.
Tegas.
Lebih dari satu orang.
Ketukan keras menghantam pintu.
"Alexander Wijaya?"
Suara pria di luar pintu terdengar resmi.
"Kami dari kepolisian. Buka pintunya."
Bab 3: Ancaman yang Datang Mengetuk Pintu
"Kami dari kepolisian. Buka pintunya."
Alexander Wijaya tidak langsung bergerak.
Ia berdiri di tengah kamar kos yang sempit, handuk masih tergantung di bahu, rambutnya setengah basah. Di meja lipat, dokumen "Kronologi Restoran" baru saja selesai dicadangkan. Ponselnya masih menyala, menampilkan folder bukti Anthony Wongso.
Ketukan kedua datang lebih keras.
"Pak Alexander Wijaya?"
Kali ini ada nada tidak sabar.
Alexander mengambil Lencana Advokat Herman Wijaya dari meja, memasukkannya ke saku bagian dalam, lalu merapikan kaus polosnya. Ia tidak memakai jas. Tidak perlu. Orang yang datang pagi-pagi bersama polisi biasanya ingin melihatnya panik, bukan rapi.
Ia membuka pintu.
Dua pria berdiri di lorong. Yang pertama mengenakan kemeja cokelat muda dengan kartu identitas kepolisian tergantung di dada. Yang kedua lebih muda, memegang map tipis dan ponsel. Di belakang mereka, Anthony Wongso berdiri dengan wajah pucat yang sudah dipaksa kembali sombong.
Beberapa penghuni kos membuka pintu sedikit. Sepasang mata muncul dari celah-celah kayu. Lorong yang biasanya hanya berbau sabun murah dan kopi sachet mendadak menjadi kaku dan sunyi.
"Alexander Wijaya?" tanya polisi pertama.
"Benar. Boleh saya lihat surat tugas dan dasar kedatangan Bapak?"
Pertanyaan itu membuat polisi muda mengangkat alis.
Anthony menyeringai. "Baru juga dibuka, sudah sok prosedural."
Alexander menatapnya sekilas. "Justru karena dibuka, prosedur harus jelas."
Polisi pertama mengeluarkan surat tugas. "Saya dari Unit Reskrim Polres Kota Cahaya. Ada laporan dugaan pemerasan dan pengancaman. Saudara Anthony Wongso melapor bahwa Anda meminta uang dengan ancaman membuka urusan pribadinya."
Bisik-bisik langsung meledak kecil di lorong.
"Pemerasan?"
"Pengacara itu?"
"Kemarin malam kayaknya pulang basah kuyup..."
Alexander membaca surat tugas itu sampai selesai. Nomor surat. Nama petugas. Tanggal. Ia mencatat semuanya dalam kepala, lalu mengembalikan dengan dua tangan.
"Terima kasih, Pak. Apakah ini undangan klarifikasi atau penangkapan?"
Polisi muda mendengus. "Banyak tanya sekali. Kalau tidak salah, ikut saja."
Alexander mengalihkan pandangan kepadanya. "Kalau Bapak datang untuk klarifikasi, saya kooperatif. Kalau penangkapan, saya berhak tahu surat perintah dan dasar bukti permulaannya. Itu bukan banyak tanya. Itu hukum acara."
Lorong mendadak lebih sunyi.
Anthony melangkah maju. "Jangan main kata-kata. Kau mengancam Priscilla. Kau bilang akan mempermalukan kami kalau tidak dibayar."
"Kapan?"
"Kemarin malam."
"Jam berapa?"
Anthony berhenti sepersekian detik. "Sekitar pukul sembilan."
Alexander mengangguk pelan. "Menarik. Pukul sembilan lewat dua belas menit, saya sedang berdiri di depan meja restoran, memotret cek yang kamu letakkan sendiri. Pukul sembilan lewat lima belas, manajer restoran menyatakan akan mengamankan CCTV. Pukul sembilan lewat dua puluh, saya sudah keluar. Ancaman yang mana?"
Anthony mengeluarkan ponsel. "Ini."
Ia memutar rekaman pendek.
Suara Alexander terdengar dari speaker, datar tetapi kasar karena potongan audio yang tidak utuh.
"...kalau tidak mau semua orang tahu... bayar... jangan salahkan aku..."
Beberapa penghuni kos menahan napas.
Polisi muda memandang Alexander dengan ekspresi seolah kasus sudah selesai. "Nah. Itu suara Anda, kan?"
Alexander tidak menjawab cepat. Ia mendengarkan gema rekaman itu dalam ingatannya. Ada jeda yang terlalu bersih setelah kata "bayar". Ada desis ruangan yang berubah mendadak sebelum frasa "jangan salahkan aku".
Di sudut pandangannya, panel biru berkedip.
Pengumpulan Bukti aktif.
Objek: rekaman audio pendek.
Indikasi: potongan multi-sumber; latar suara tidak konsisten; jeda digital pada detik 03 dan 07; konteks kalimat hilang.
Alexander mengangkat tangan. "Pak, boleh diputar sekali lagi?"
Anthony tertawa. "Mau cari alasan?"
"Saya mau mendengar bukti yang katanya membuat polisi datang ke kos saya pagi-pagi."
Polisi pertama menatap Anthony. "Putar lagi."
Rekaman itu diputar.
Kali ini Alexander menutup mata. Ia tidak mengandalkan telinga saja. Ia mengingat percakapan telepon lama dengan Priscilla, beberapa minggu sebelum putus. Saat itu Priscilla meminta uang untuk membeli hadiah ulang tahun temannya, dan Alexander menolak karena harus membayar SPP Nathan. Ia ingat kalimatnya.
Kalau uang kos dan SPP belum aman, aku tidak bisa bayar. Jangan salahkan aku kalau bulan ini aku harus menolak.
Kalimatnya dipotong.
Kata "semua orang tahu" berasal dari percakapan lain, saat Priscilla takut hubungan mereka diketahui teman-teman elitnya.
Anthony menggabungkannya.
Rapi, tetapi tidak cukup rapi.
Alexander membuka mata. "Rekaman ini hasil edit."
Anthony langsung membentak, "Fitnah lagi?"
"Bukan fitnah. Analisis awal." Alexander menatap polisi pertama. "Pak, pada detik ketiga ada perubahan noise latar. Sebelum kata 'bayar', suara ruangan lebih kosong, seperti panggilan di kamar. Setelahnya muncul gema restoran atau ruangan luas. Lalu di detik ketujuh, sebelum frasa 'jangan salahkan aku', ada jeda digital sangat pendek. Kalau Bapak kirim ke forensik digital, potongannya akan terlihat."
Polisi muda mengernyit, tetapi wajahnya tidak lagi seyakin tadi.
Anthony menunjuknya. "Kau bukan ahli forensik."
"Betul. Karena itu saya minta diperiksa oleh ahli, bukan dipercaya begitu saja." Alexander mengambil ponselnya dan menampilkan foto cek dari restoran. "Sebagai tambahan, semalam Saudara Anthony menyerahkan cek bermasalah kepada saya di tempat umum. Saya menolak dan mendokumentasikan. Ada CCTV, saksi tamu, dan manajer restoran. Laporan pemerasan yang dibuat pagi ini muncul setelah saya membongkar cek itu."
Polisi pertama mengambil ponsel Alexander, melihat foto tanpa menyentuh layar terlalu lama. Sikapnya berubah sedikit. Ia tetap kaku, tetapi tidak lagi meremehkan.
"Anda punya kronologi tertulis?"
"Ada. Sudah saya buat sebelum Bapak datang."
Anthony menegang.
Alexander masuk sebentar, mengambil satu lembar cetak dari meja. Ia memang belum sempat mencetak banyak, tetapi printer kecil milik penghuni kos sebelah semalam dipakainya setelah membayar beberapa ribu rupiah. Kertas itu masih hangat ketika ia menaruhnya di map plastik.
"Ini kronologi awal. Salinan digital sudah dicadangkan. Saya bersedia datang ke Polres untuk klarifikasi, dengan catatan rekaman Saudara Anthony diamankan sebagai barang bukti dan tidak hanya disimpan di ponsel pribadinya."
Polisi muda membuka mulut, tetapi polisi pertama mengangkat tangan.
"Cukup." Ia menatap Alexander lebih lama. "Saudara akan kami undang klarifikasi. Tidak perlu dibawa paksa sekarang. Tapi jangan meninggalkan Kota Cahaya."
"Saya tidak berniat lari, Pak."
Anthony tidak bisa menahan diri. "Pak, dia memutarbalikkan fakta! Kalau dibiarkan, dia akan menghilangkan bukti."
Alexander menatapnya. "Bukti yang mana? Rekaman editan di ponselmu, atau cek yang semalam kamu minta aku terima?"
Wajah Anthony memerah.
Di lorong, seorang ibu kos yang sejak tadi mengintip berbisik cukup keras, "Kalau benar tidak salah, kenapa takut CCTV?"
Kalimat sederhana itu menusuk lebih tajam daripada argumen panjang.
Anthony menoleh, tetapi tidak berani membentak orang tua itu di depan polisi.
Polisi pertama memasukkan kronologi Alexander ke map. "Kami akan hubungi Anda lagi hari ini."
"Baik, Pak."
Sebelum pergi, polisi muda masih sempat menatap kamar kos Alexander. Meja lipat, kipas tua, kasur tipis, jas hitam yang menggantung di paku.
"Pengacara tinggal di sini?" gumamnya, tidak cukup pelan.
Alexander mendengarnya.
Ia tersenyum tipis. "Untuk sementara."
Dua kata itu membuat polisi muda diam. Entah mengapa, ia merasa orang di depannya tidak sedang membela keadaan miskinnya. Ia sedang menandai titik awal.
Anthony pergi terakhir. Ketika melewati Alexander, ia berbisik, "Kau akan menyesal."
Alexander menjawab tanpa menoleh, "Simpan kalimat itu untuk BAP."
Pintu kos ditutup.
Baru setelah lorong kembali sepi, Alexander membiarkan napasnya keluar. Tekanan pertama sudah datang, tetapi belum pecah. Anthony memakai polisi sebagai palu, dan palu itu untuk sementara tertahan oleh prosedur.
Panel Status muncul.
Ting! Ancaman hukum formal terkonfirmasi.
Misi lanjutan aktif: Bersihkan nama dari laporan pemerasan palsu.
Tujuan: buktikan rekaman diedit, kunci sumber cek bermasalah, dan balikkan status dari terlapor menjadi pelapor.
Hadiah: progres skill Pengumpulan Bukti dan Argumentasi Hukum.
Alexander menatap misi itu lama.
"Baik," katanya. "Kita main sesuai hukum."
Malam harinya, jauh dari kos Alexander, Herlina Halim duduk sendirian di ruang tamu rumah kecil keluarga Wijaya. Lampu dinding menyala redup. Di atas meja, ada foto lama yang warnanya mulai pudar.
Herman Wijaya berdiri dalam foto itu, lebih muda, mengenakan kemeja putih dan senyum yang tenang. Di sampingnya, Herlina yang masih muda memeluk bayi Alexander.
Jari Herlina menyentuh wajah Herman di foto.
"Anakmu mulai mirip kamu," bisiknya.
Di laci meja, sebuah amplop tua terselip di bawah kain. Herlina membukanya setengah, memperlihatkan sudut dokumen yang sudah menguning. Ada nama Herman di sana. Ada cap institusi. Ada satu tanggal yang selama bertahun-tahun ia coba lupakan.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Alexander masuk.
Bu, aku baik-baik saja. Kalau ada orang tanya soal aku, jangan panik. Aku sedang menangani masalah kecil.
Herlina membaca pesan itu, tetapi bukannya tenang, matanya justru berkaca-kaca.
Masalah kecil.
Herman dulu juga selalu menyebut badai sebagai masalah kecil.
Herlina menutup amplop itu lagi. Tangannya ragu di atas laci, seolah ingin mengunci masa lalu kembali, tetapi sesuatu di wajah Alexander dalam foto membuatnya tidak sanggup.
"Belum waktunya, Alex," bisiknya. "Tapi mungkin... sebentar lagi."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!