Hujan turun rintik-rintik membasahi kaca bus tua yang melaju tersendat di jalanan berbatu. Arga menatap keluar jendela dengan tatapan kosong dan kantung mata yang menghitam.
"Sudah sampai di pertigaan desa, Mas Arga." Suara serak kernet bus membuyarkan lamunan panjangnya.
"Ah, iya, terima kasih, Pak." Arga merogoh saku jaketnya yang lusuh.
Dia mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan terakhir yang lecek dan basah karena keringat. "Ini ongkosnya, Pak."
Kernet itu menerima uang tersebut sambil menatap Arga dari atas sampai bawah dengan tatapan iba. "Bukannya Mas Arga ini dulu yang sukses kerja di kantoran ibukota itu ya?"
"Sukses dari mana, Pak." Arga tertawa getir sambil mengusap wajahnya yang kusam dan berminyak.
"Perusahaan tempat saya kerja bangkrut bulan lalu. Bosnya kabur bawa kabur semua uang pesangon karyawan."
"Wah, kurang ajar bener itu bosnya." Kernet itu menggelengkan kepala dengan raut wajah prihatin.
"Begitulah nasib orang kecil seperti saya, Pak." Arga menyampirkan tas ransel bututnya ke bahu kanan yang terasa pegal.
"Saya pamit turun dulu, mari Pak."
"Hati-hati di jalan gelap, Mas."
Cesss.
Suara pintu bus hidrolik terbuka dan hembusan angin malam langsung menusuk tulang rusuk Arga.
Dia melangkah turun menginjak kubangan air berlumpur di pinggir jalan pertigaan.
Byur.
Celana jeans murahan yang ia pakai langsung basah kuyup hingga ke pertengahan betis.
"Sialan, genangan air saja ikut mengejekku malam ini." Arga menggerutu pelan sambil mengibaskan kaki celananya yang kotor.
Dia berjalan tertatih menyusuri jalan setapak gelap yang mengarah menuju rumah peninggalan kakeknya. Tidak ada lampu jalan di desa ini sehingga dia hanya mengandalkan cahaya bulan yang tertutup mendung.
Tiga tahun dia merantau ke Jakarta dengan mimpi besar mengubah nasib keluarganya. Namun kini dia pulang hanya membawa kegagalan dan rasa malu yang menumpuk setinggi gunung.
"Bahkan Dinda meninggalkanku demi manajer HRD sialan itu." Arga mendengus sinis mengingat wajah mantan pacarnya yang sok suci saat memutuskan hubungan mereka seminggu yang lalu.
"Maaf Arga, aku butuh kepastian masa depan dan kamu sekarang pengangguran." Kalimat Dinda itu terus terngiang di kepalanya seperti kaset rusak yang berputar berulang-ulang.
"Cinta memang butuh uang, dan aku sekarang gembel yang kelaparan." Arga tersenyum kecut menertawakan nasibnya sendiri yang terasa seperti lelucon murahan.
Kress kress.
Langkah kakinya menginjak dedaunan kering saat dia mulai memasuki area pemukiman desa.
Dari kejauhan dia melihat pos ronda yang masih menyala terang dengan beberapa bapak-bapak sedang bermain gaple. Arga menundukkan kepalanya dalam-dalam berharap bisa lewat tanpa ketahuan oleh warga desa.
"Loh, itu bukannya Arga cucunya Mbah Darmo?" Suara lantang Pak RT memecah keheningan malam yang sunyi.
Langkah Arga terhenti seketika dan jantungnya berdegup kencang karena gugup. Dia memaksakan seulas senyum palsu sebelum menoleh ke arah pos ronda.
"Eh, iya Pak RT." Arga mengangguk sopan sambil membetulkan posisi tas ranselnya.
"Kapan pulang dari Jakarta, Ga?" Pak RT berjalan menghampirinya dengan sarung yang diselimpangkan di leher.
"Baru saja sampai, Pak."
"Kok malam-malam begini pulangnya?" Pak RT memicingkan mata menatap tas ransel Arga yang kecil. "Tidak bawa koper besar seperti orang sukses biasanya kalau mudik?"
"Lagi libur sebentar saja, Pak." Arga berbohong demi menyelamatkan sisa harga dirinya yang sudah hancur.
"Oh libur, kirain kamu dipecat." Pak RT tertawa pelan namun terdengar sangat meremehkan. "Soalnya kemarin ada rumor dari Bu Tejo kalau pabrik tempatmu kerja itu tutup karena bangkrut."
Arga mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Telinganya terasa panas mendengar gosip ibu-ibu desa yang entah bagaimana bisa seakurat itu.
"Hanya rumor itu, Pak RT." Arga berusaha menjawab dengan suara sedatar mungkin. "Saya permisi pulang dulu karena sudah mengantuk berat."
"Ya sudah, sana istirahat." Pak RT melambaikan tangannya kembali ke pos ronda. "Kasihan rumah Mbah Darmo kosong bertahun-tahun jadi sarang hantu."
Arga mempercepat langkahnya meninggalkan pos ronda dengan dada yang sesak. Begitu sampai di depan pekarangan rumah kakeknya, dia berhenti sejenak menatap bangunan tua berbahan kayu jati tersebut.
Kriet.
Suara engsel pintu depan berderit nyaring saat Arga mendorongnya perlahan.
Aroma debu dan kayu lapuk langsung menyengat indera penciumannya. Ruang tamu itu gelap gulita dan dipenuhi sarang laba-laba di setiap sudut langit-langitnya.
Arga meraba dinding mencari saklar lampu lalu menekannya ke bawah.
Klak.
Beruntung aliran listrik di rumah ini belum diputus oleh pihak desa.
Sebuah lampu pijar berwarna kuning redup menyala menerangi ruangan yang kotor dan berantakan. Arga melempar tasnya ke atas kursi kayu yang berdebu lalu menjatuhkan dirinya di lantai.
"Rumah ini hancur berantakan persis seperti hidupku sekarang." Arga menatap langit-langit rumah dengan pandangan kosong.
Krucuk krucuk.
Perutnya berbunyi nyaring menuntut jatah makanan yang belum masuk sejak siang tadi.
Dia bangkit berjalan menuju dapur tua di bagian belakang rumah. Tidak ada apa-apa di sana selain tumpukan piring kotor bekas sarang tikus dan sebungkus kopi bubuk yang sudah kadaluarsa.
"Hebat, bahkan tikus saja tidak mau tinggal di rumah ini karena tidak ada makanan." Arga membuka keran air di wastafel dan meminum air mentah langsung dari telapak tangannya.
Dinginnya air sumur sedikit meredakan rasa perih di lambungnya. Dia berjalan menuju kamar tidur kakeknya lalu merebahkan diri di atas kasur kapuk yang keras dan bau apek.
"Besok aku harus mulai membersihkan ladang di belakang rumah." Arga berbicara sendiri di tengah keheningan malam.
"Tidak ada pilihan lain selain bertani singkong atau ubi untuk sekadar bertahan hidup." Matanya perlahan memberat karena kelelahan fisik dan mental yang mendera.
"Semoga saja besok pagi dunia sedikit lebih baik kepadaku." Itu adalah harapan terakhir Arga sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam dalam tidur yang lelap.
Kukuruyuk.
Suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan menembus dinding kayu kamar Arga.
Sinar matahari pagi menyusup dari celah jendela yang rusak menyorot langsung ke wajahnya. Arga mengerang pelan lalu membuka matanya yang terasa lengket dan berat.
Dia duduk di tepi kasur sambil mengusap wajahnya berkali-kali. Udara pagi di desa terasa sangat dingin menusuk tulang, tetapi Arga bahkan tidak repot-repot mencari jaketnya.
"Perutku rasanya seperti mau melilit." Arga meringis menahan rasa perih di perutnya yang kosong.
Dia melangkah gontai keluar lewat pintu dapur menuju halaman belakang rumah. Hamparan tanah seluas setengah hektar yang dulunya adalah ladang sayur kebanggaan kakeknya kini berubah menjadi hutan semak belukar.
Rumput liar setinggi pinggang orang dewasa tumbuh subur menutupi seluruh permukaan tanah. Arga menghela napas panjang melihat betapa beratnya pekerjaan yang menunggunya hari ini.
Dia berjalan ke arah gudang penyimpanan alat tani yang atapnya sudah hampir rubuh. Di sudut ruangan berdebu itu dia menemukan sebuah cangkul bergagang kayu yang ujung besinya sudah dipenuhi karat.
"Oke, kita mulai dari petak paling pinggir dulu." Arga menyemangati dirinya sendiri meski suaranya terdengar sangat serak.
Dia mengangkat cangkul itu tinggi-tinggi bersiap untuk mengayunkannya ke tanah.
Ting.
Sebuah suara nyaring yang aneh tiba-tiba meledak tepat di dalam kepalanya. Arga tersentak kaget sampai kakinya tersandung batu dan mundur ke belakang.
Klontang.
Cangkul berkarat itu terlepas dari genggamannya dan jatuh menghantam tanah berbatu.
"Suara apa itu tadi?" Arga menoleh dengan panik ke kanan dan ke kiri.
Jantungnya berdegup sangat kencang hingga rasanya mau melompat keluar dari dadanya. Halaman belakang itu kosong melompong tidak ada manusia lain selain dirinya.
[Sistem Check-in Petani Sultan berhasil diikat dengan Host Arga.]
Sebuah suara mekanis tanpa emosi kembali bergema di dalam tengkorak kepalanya. Bersamaan dengan itu sebuah panel layar biru transparan tiba-tiba muncul mengambang tepat dua jengkal di depan wajahnya.
Arga mundur dua langkah hingga punggungnya menabrak dinding kayu gudang. "Layar apa ini, apakah aku sudah gila karena kelaparan?"
Dia mengucek matanya berulang kali dengan punggung tangan yang kotor oleh debu. Namun panel biru bercahaya itu tetap ada dan menutupi pandangannya ke arah ladang.
[Host tidak sedang berhalusinasi, ini adalah realitas.]
Tulisan berwarna putih bercahaya muncul di layar biru tersebut seolah bisa membaca jalan pikirannya.
[Waktu Check-in Harian di pagi hari telah tiba.]
[Apakah Anda ingin melakukan Check-in Hari Pertama? Ya / Tidak]
Napas Arga tertahan di tenggorokan melihat keanehan yang melanggar semua hukum logika ini. "Ini seperti cerita di novel-novel fantasi yang sering kubaca saat sedang menganggur di kosan."
Dia menatap layar itu dengan campuran rasa takut, ragu, dan secercah harapan gila. Jari telunjuknya yang gemetar secara naluriah terangkat menunjuk ke arah udara kosong.
"Kalau aku memang gila, biarlah aku gila sekalian." Arga menekan tombol virtual bertuliskan Ya di layar tersebut.
Klik.
Layar biru itu memancarkan gelombang cahaya yang lembut dan menenangkan.
[Check-in Hari Pertama Berhasil!]
[Selamat! Anda mendapatkan Hadiah Pemula: Saldo Tunai Rp 50.000.000.]
[Tambahan Hadiah: 10 Biji Benih Tomat Kristal Mutasi Tingkat S.]
Arga terbelalak membaca deretan tulisan yang terpampang di depannya. "Lima puluh juta? Jangan bercanda, uang dari mana itu?"
Trrrt trrrt.
Ponsel butut di saku celananya tiba-tiba bergetar dengan sangat keras.
Dengan tangan yang kini berkeringat dingin Arga merogoh sakunya. Dia membuka layar ponselnya yang retak di bagian ujung kanan atas.
Sebuah notifikasi SMS dari bank ternama muncul di layar utama ponselnya.
"Transfer masuk dari rekening tidak dikenal sebesar Rp 50.000.000,00." Arga membaca isi pesan itu dengan suara bergetar.
Dia menggosok matanya lagi lalu menghitung jumlah angka nol di layar ponselnya. "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh... ini sungguhan lima puluh juta?!"
Arga jatuh terduduk di atas tanah berumput dengan lutut yang tiba-tiba lemas. Dia menatap layar ponselnya lalu beralih menatap panel biru yang masih mengambang di udara.
Wush.
Sebuah cahaya keemasan kecil tiba-tiba melesat keluar dari layar sistem.
Cahaya itu jatuh tepat di pangkuannya dan berubah wujud menjadi sebuah kantong kain kecil berwarna merah. Arga mengambil kantong kain itu dengan tangan yang masih gemetaran hebat.
Dia membuka ikatan talinya dan melihat ke dalam kantong tersebut. Ada sepuluh butir benih berbentuk bulat sempurna yang memancarkan pendar cahaya kebiruan seperti batu permata.
"Ini yang namanya benih tomat kristal mutasi?" Arga menelan ludah merasakan energi aneh yang memancar dari benih-benih tersebut.
[Benih Tomat Kristal Mutasi Tingkat S: Hanya butuh waktu 3 hari untuk panen.] [Buah yang dihasilkan sangat manis, berkhasiat menyembuhkan kelelahan, dan memiliki harga jual fantastis di pasaran.]
Membaca penjelasan dari sistem itu membuat senyum lebar perlahan mengembang di wajah Arga. Dunia yang semalam terasa sangat gelap dan hancur lebur kini berubah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap mata.
"Dinda, Pak RT, dan semua orang yang meremehkanku." Arga menggenggam kantong benih itu erat-erat di depan dadanya.
"Kalian akan melihat bagaimana orang gembel ini menjadi penguasa di desa ini." Mata Arga kini menyala terang dipenuhi oleh ambisi yang membara.
Rasa laparnya mendadak hilang tergantikan oleh adrenalin yang berdesir kencang di seluruh pembuluh darahnya. Dia segera berdiri dan memungut kembali cangkul berkaratnya dengan genggaman yang kuat.
"Sistem atau sihir, aku tidak peduli dari mana asalnya." Arga mulai mengayunkan cangkulnya menebas rumput liar dengan tenaga penuh.
"Hari ini, kerajaan bisnis petani sultanku resmi dimulai." Bunyi tebasan cangkul beradu dengan tanah basah menjadi melodi pembuka lembaran baru dalam hidupnya.
Sring.
Suara cangkul beradu dengan batu kecil terdengar berulang kali di halaman belakang rumah.
Arga mengusap keringat sebesar biji jagung yang mengucur deras dari dahinya.
"Akhirnya selesai juga membuat sepuluh lubang tanam ini."
Napasnya terengah-engah tapi ada senyum puas di wajah kusamnya.
Dia berjongkok dan mengambil kantong kain merah yang sejak tadi disimpannya di saku celana.
Tangannya dengan sangat hati-hati mengambil satu per satu benih bercahaya biru itu.
"Satu, dua, tiga... ah semoga saja kalian benar-benar tumbuh dalam tiga hari."
Puk puk. Arga menutupi setiap benih yang sudah masuk ke lubang dengan tanah gembur.
Dia lalu mengambil ember plastik pecah dari gudang dan menimba air sumur.
Byur byur.
Air jernih membasahi tanah yang baru saja ditanami benih tomat kristal tersebut.
[Penanaman Benih Tomat Kristal Mutasi Tingkat S berhasil.]
[Hitung mundur masa panen dimulai: 71 Jam 59 Menit.]
Suara mekanis sistem kembali bergema membuat senyum Arga semakin lebar.
"Benar-benar nyata, ini bukan mimpi di siang bolong."
Krucuk krucuk.
Perutnya kembali protes dengan suara yang jauh lebih nyaring dari sebelumnya.
"Oke perut, saatnya kita pesta makan enak hari ini."
Arga bergegas masuk ke rumah dan menuju kamar mandi yang pintunya sudah jebol sebelah.
Byur byur byur.
Dia mandi dengan cepat menggunakan air sumur yang sedingin es.
Tidak ada sabun mandi jadi dia hanya memakai sisa sabun cuci baju yang keras mengeras di pojokan.
"Biarin lah yang penting bau asam di badan ini hilang sedikit."
Setelah mandi dia memakai kaos oblong warna hitam yang kerahnya sudah agak melar.
Dia memadukannya dengan celana pendek selutut yang paling bersih di dalam lemarinya.
Arga mengambil ponsel bututnya lalu menatap layar yang menunjukkan saldo lima puluh juta itu sekali lagi.
"Uang ini harus kugunakan dengan bijak tapi sekarang aku butuh makan dan alat tani yang layak."
Dia berjalan ke depan rumah dan menuntun sepeda ontel tua milik mendiang kakeknya.
Kriet kriet.
Rantai sepeda itu berbunyi memelas saat Arga mulai mengayuhnya keluar dari pekarangan.
Tujuannya sekarang adalah pusat desa yang jaraknya sekitar dua kilometer dari rumahnya.
Jalanan desa pagi ini sudah mulai ramai oleh ibu-ibu yang pulang dari pasar.
Arga terus mengayuh sepedanya sambil sesekali mengangguk canggung kalau ada yang tidak sengaja menatapnya.
"Pertama-tama aku harus tarik tunai dulu di minimarket depan balai desa."
Sepuluh menit berlalu dan Arga sampai di depan satu-satunya minimarket modern di desa itu.
Cring.
Suara bel otomatis berbunyi saat Arga mendorong pintu kaca minimarket.
Dia langsung menuju mesin ATM di pojok ruangan dan memasukkan kartu ATM usangnya.
Tit tit tit.
Jari-jarinya dengan cepat menekan tombol pin.
"Tarik tunai dua juta rupiah sepertinya cukup untuk hari ini."
Sreng sreng sreng.
Mesin ATM itu mengeluarkan suara merdu menghitung lembaran uang kertas.
Dua puluh lembar uang seratus ribuan berwarna merah cerah keluar dari celah mesin.
Arga mengambil uang itu dan menghirup aroma wanginya dalam-dalam.
"Bau uang baru memang selalu menjadi parfum terbaik di dunia."
Dia memasukkan setumpuk uang itu ke dalam dompet kulit imitasi miliknya yang sudah mengelupas.
Tujuan berikutnya adalah warung nasi padang Uda Buyung yang letaknya tepat di seberang minimarket.
Arga memarkir sepedanya dan langsung masuk ke warung yang aroma bumbu rendangnya sudah tercium dari luar.
"Uda, pesan nasi rames satu porsi makan di sini."
Uda Buyung yang sedang mengelap meja menoleh dan mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Loh, Nak Arga kapan pulangnya dari kota?"
"Semalam Da, tolong porsinya kuli ya soalnya saya lapar banget."
"Lauknya mau pakai apa ini?"
"Pakai rendang dua potong, ayam pop satu, telur dadar, sama jengkolnya dibanyakin Da."
Uda Buyung sampai melongo mendengar pesanan Arga yang sangat rakus itu.
"Banyak amat pesananmu, habis dipecat kok malah makan mewah begini?"
"Duh Uda ini mulutnya lemes amat percaya saja sama gosip ibu-ibu pengangguran."
Arga menjawab santai sambil menarik kursi plastik dan duduk bersandar.
"Saya lagi cuti Da, bos saya kasih bonus makanya saya mau foya-foya di kampung."
Plak. Uda Buyung menaruh piring berisi gunungan nasi dan lauk pauk itu di depan Arga.
"Terserah kamu saja lah, yang penting bayar lho ya nanti."
"Tenang saja Da, saya bayar pakai uang merah bukan pakai daun singkong."
Nyam nyam nyam.
Arga langsung menyuap nasi padang itu dengan tangan kosong.
Rasa lapar yang ditahannya sejak kemarin siang akhirnya terbayar lunas oleh bumbu rendang yang nendang.
Baru setengah porsi dia makan tiba-tiba suara cempreng yang sangat dikenalnya terdengar dari pintu masuk.
"Eh ada Arga, ya ampun kasihan banget sarapannya sendirian saja."
Bu Tejo masuk ke dalam warung membawa keranjang belanjaan dengan wajah yang dibuat-buat sedih.
Di belakangnya menyusul Pak RT yang asyik menghisap rokok kreteknya.
"Bu Tejo, Pak RT, pagi-pagi sudah belanja ke sini." Arga menyapa seadanya dengan mulut penuh nasi.
"Itu lho Ga, ibu dengar dari Dinda katanya kamu sudah putus ya sama dia?"
Bu Tejo langsung menembak dengan pertanyaan yang membuat telinga Arga panas.
"Iya Bu, Dinda pilih manajer HRD yang mobilnya lebih bagus."
"Tuh kan Pak RT, apa ibu bilang, Dinda itu pintar cari cowok yang masa depannya cerah."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!