Indonesia
NovelToon NovelToon

Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Episode 1 : Masuk Rumah Sakit Jiwa

Di Rumah Sakit Jiwa Harapan sehat...

Di dalam bangsal Mawar, seorang wanita muda berjalan menyusuri lorong sambil membawa map berisi data pasien. Rambut hitamnya dikuncir rapi, wajahnya cantik, dan senyumnya mampu membuat pasien merasa lebih tenang.

Dia adalah Suster Nadira Anindya, sudah lima tahun ia mengabdikan diri sebagai perawat di rumah sakit jiwa itu. Bagi Nadira, semua pasien adalah manusia yang pantas diperlakukan dengan kasih sayang. Mereka bukan bahan tertawaan, bukan pula orang yang harus dijauhi.

"Suster Nadira." Seorang dokter memanggilnya dari ruang administrasi.

"Ya, Dok?" jawabnya pelan.

"Akan ada pasien baru dan kasusnya cukup berat. Tolong kamu tangani"

Nadira mengangguk. "Baik, Dok."

Tak lama kemudian, suara ambulans terdengar memasuki halaman rumah sakit. Nadira bersama dua perawat lain berjalan menuju ruang penerimaan pasien.

Pintu ambulans terbuka.

Seorang pria bertubuh tinggi keluar dengan kedua tangan diborgol. Wajahnya tampan, rahangnya tegas, rambut hitamnya dan sedikit agak berantakan. Meski mengenakan pakaian pasien berwarna abu-abu, auranya tetap berbeda dari pasien lain.

Tatapannya kosong, ia tidak berteriak-teriak dan hanya diam. Di belakangnya berdiri seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian serba hitam elegan. Air matanya mengalir deras sambil memegang sapu tangan.

"Dokter... tolong sembuhkan anak saya..." isaknya.

Di samping wanita itu berdiri seorang pria muda yang tampak terlihat sedih. "Kakak saya sering mengamuk. Bahkan beberapa kali hampir membunuh kami."

Dokter hanya mengangguk sambil melihat berkas pemeriksaan. "Pasien mengalami gangguan psikotik berat disertai perilaku agresif."

Nadira menatap pria itu sekilas. Pasien itu aneh, Nadira tidak melihat tanda-tanda pria itu sedang terkena gangguan jiwa. Pria itu hanya berdiri diam dengan kepala terus menunduk.

"Namanya siapa, Dok?" tanya Nadira pelan.

"Adrian Mahendra," jawab Dokter.

Nadira hanya mengangguk dan masih terus memperhatikan pria itu.

Dokter segera menandatangani dokumen penerimaan. "Mulai hari ini pasien menjadi tanggung jawab rumah sakit."

Wanita paruh baya itu kembali menangis. "Tolong jangan biarkan dia keluar sebelum benar-benar sembuh."

Nadira ikut merasa iba, pasti berat menjadi keluarga pasien gangguan jiwa seperti ini. Ia tidak tahu... air mata wanita itu hanyalah sandiwara.

Adrian digiring menuju bangsal khusus, sepanjang perjalanan ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Beberapa pasien lain mulai berteriak ketika melihatnya.

"Ada orang gila!"

"Ih orang gila baru!"

Sebagian tertawa sendiri, sebagian lagi bertepuk tangan. Namun Adrian tetap diam, tatapannya sesekali mengarah ke jendela yang dipenuhi jeruji besi. Di balik wajah tenangnya, pikirannya berputar.

Nadira segera membuka pintu perlahan. Ruangan itu terlihat rapi di dengan satu tempat tidur, satu meja kecil dan ada sebuah jendela yang dipasangi jeruji besi.

"Silahkan duduk."

Adrian menurut tanpa perlawanan.

Nadira melepas borgolnya dengan bantuan petugas keamanan. "Aku Nadira," ucapnya sambil tersenyum.

Tidak ada jawaban.

"Aku yang akan merawatmu mulai hari ini."

Adrian tetap diam, pandangannya tetap kosong.

Nadira tersenyum tipis. "Tidak apa-apa kalau belum mau bicara." Ia mengambil kotak P3K, di pergelangan tangan Adrian tampak bekas luka akibat borgol yang terlalu kencang. "Ini pasti sakit."

Dengan sangat hati-hati Nadira membersihkan luka itu menggunakan kapas dan cairan antiseptik. Gerakannya begitu lembut, tak sekalipun ia menunjukkan rasa jijik ataupun takut.

Adrian hanya memperhatikan wanita itu. Sudah lama... tak ada yang menyentuhnya dengan kelembutan seperti ini. Sejak ayahnya meninggal, semua orang hanya menganggapnya sebagai beban. Hari itu ada seseorang yang mengobati lukanya tanpa mengharapkan apa pun.

"Kalau terasa perih, tahan sebentar, ya." Suara Nadira begitu lembut.

Adrian menurunkan pandangannya. Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Bukan karena sakit, melainkan karena ia hampir lupa bagaimana rasanya diperlakukan seperti manusia.

Nadira selesai membalut lukanya. "Nanti siang, akan ku bawakan makanan untukmu."

Ia berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat menoleh. "Selamat datang di Bangsal Mawar, Adrian."

Pintu tertutup perlahan.

Ruangan kembali sunyi, Adrian memandangi perban putih yang melingkari pergelangan tangannya. Lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang sangat tipis.

Di luar ruangan, Nadira menarik napas lega. "Semoga suatu hari nanti dia bisa sembuh."

Waktu terus berjalan, kini jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Bangsal Mawar kembali dipenuhi berbagai suara yang sudah akrab di telinga para perawat.

Ada pasien yang tertawa sendiri, ada yang terus memanggil nama seseorang yang tak pernah datang, dan ada pula yang duduk diam menatap halaman rumah sakit tanpa berkedip.

Nadira bersama beberapa perawat lain sibuk membagikan makan siang.

"Suster Nadira, kamar tujuh belum diberi makan," ucap seorang perawat senior.

"Baik, Sus. Biar aku saja."

Nadira mengambil nampan berisi nasi, sayur bening, ayam rebus, serta segelas air hangat. Ia kemudian berjalan menuju kamar nomor tujuh.

Tok... tok...

"Adrian, aku masuk ya."

Tak ada jawaban.

Nadira membuka pintu perlahan.

Adrian masih duduk di tepi ranjang dengan posisi yang sama seperti beberapa jam sebelumnya. Tatapannya lurus mengarah ke jendela.

"Kamu belum berpindah tempat dari tadi?" gumam Nadira pelan. Ia meletakkan nampan di atas meja kecil. "Waktunya makan."

Adrian tidak bergerak sedikit pun, Nadira sudah terbiasa menghadapi pasien yang menolak makan. Karena itu, ia tidak merasa aneh.

"Kalau kamu tidak makan, nanti lambungmu bisa sakit."

Adrian tetap tidak merespons.

Nadira menghela napas pelan. Ia mengambil kursi, lalu duduk di samping Adrian. "Aku suapin, ya?"

Tanpa menunggu jawaban, ia mulai menyendok sedikit nasi dan lauk, kemudian mengarahkannya ke bibir Adrian.

Beberapa detik berlalu.

Akhirnya Adrian membuka mulutnya.

Nadira tersenyum lega. "Nah... begitu dong."

Suapan demi suapan ia berikan dengan sabar. Sesekali ia meniup makanan agar tidak terlalu panas. Bagi Nadira, semua itu adalah bagian dari pekerjaannya.

Namun... bagi Adrian, setiap perhatian kecil itu terasa begitu asing. Sudah berberapa bulan terakhir, di rumahnya sendiri... ia tidak pernah diperhatikan lagi. Bahkan semua orang percaya, kalau ia berbahaya.

"Kamu harus cepat sembuh, ya," ucap Nadira lembut. "Di luar sana pasti masih banyak orang yang menunggumu."

Kalimat itu membuat tangan Adrian yang berada di atas pahanya mengepal pelan. Menunggu? Tidak... tak ada siapa pun yang menunggunya. Yang ada hanyalah orang-orang yang berharap ia tidak pernah kembali.

Selesai makan, Nadira menyodorkan segelas air putih.

"Minum dulu."

Adrian menerimanya tanpa membantah.

"Bagus." Nadira kemudian mengeluarkan beberapa butir obat dari kemasan. "Ini obatmu."

Tatapan Adrian langsung jatuh pada obat-obatan itu. Jantungnya berdegup lebih cepat. Obat-obat itulah yang selama ini membuat kepalanya sering terasa berat dan tubuhnya lemas.

Ia tahu obat itu bukan untuk menyembuhkan dirinya. Melainkan untuk membuatnya terlihat seperti orang yang benar-benar mengalami gangguan jiwa.

Adrian mengangkat wajahnya, menatap Nadira beberapa saat. Di mata wanita itu tidak ada kebencian. Tidak ada tipu daya, hanya ketulusan. Perlahan, Adrian mengambil obat itu lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Nadira tersenyum puas. "Terima kasih sudah mau meminum ini."

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sesaat setelah dirinya menoleh untuk merapikan nampan, Adrian diam-diam menyembunyikan obat itu di bawah lidahnya.

Begitu Nadira keluar dari kamar, Adrian segera memuntahkan obat itu ke dalam tisu.

"Aku tidak boleh kehilangan kesadaran lagi..." gumamnya lirih.

Ia tahu, selama pikirannya masih jernih, masih ada harapan untuk keluar dari tempat itu.

Sore harinya, Nadira kembali melakukan pemeriksaan rutin. Saat melewati taman kecil di tengah bangsal, ia melihat beberapa pasien sedang mengikuti terapi melukis.

Seorang pasien menggambar matahari berwarna hijau. Yang lain menggambar rumah tanpa pintu. Namun pandangan Nadira tertuju pada Adrian. Pria itu duduk sendirian di bawah pohon ketapang dengan sebuah buku kosong di pangkuannya.

"Pria yang aneh..." gumam Nadira.

Bukannya mencoret-coret seperti pasien lain, Adrian justru memegang pensil dengan cara yang benar. Tatapannya tenang, sesekali ia menulis sesuatu dengan tulisan yang indah dan teratur.

"Suster Nadira!" Seorang perawat memanggilnya dari kejauhan.

Nadira spontan menoleh. "Ya?"

"Tolong bantu di ruang terapi."

"Baik!"

Saat Nadira kembali menatap ke arah Adrian. Pria itu telah menutup bukunya dan kembali memasang wajah kosong.

Nadira hanya menggeleng pelan. "Mungkin dia sedang mengalami fase tenang," pikirnya.

Sementara itu, Adrian menggenggam buku kecil di tangannya. Di halaman pertama, hanya ada satu kalimat yang baru saja ia tulis.

"Namaku Adrian Mahendra... aku tidak gila."

Kalimat itu menjadi satu-satunya pengingat bahwa dirinya masih waras... meski seluruh dunia telah memutuskan untuk menganggapnya orang gila.

Episode 2 : Tidak Berani Bercerita

Kini kegiatan terapi sore berakhir. Satu per satu pasien kembali digiring menuju bangsal masing-masing. Beberapa masih tertawa sendiri, ada yang bersenandung pelan, sementara yang lain berjalan sambil menggenggam boneka lusuh kesayangan mereka.

Adrian berdiri paling belakang. Sejak datang pagi tadi, ia tidak pernah membuat keributan. Bahkan, ia lebih banyak diam dibandingkan pasien lain.

"Pasien baru itu aneh, ya?" bisik salah seorang perawat.

"Iya, dia kelihatan tenang."

"Mungkin saja itu efek obat."

Nadira yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum tipis. "Setiap pasien punya cara yang berbeda untuk menghadapi traumanya," ujarnya. "Jadi jangan langsung menilai."

Kedua perawat itu mengangguk lalu kembali bekerja.

Malam mulai turun...

Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat berubah jauh lebih sunyi. Lampu-lampu lorong menyala redup. Aroma obat-obatan bercampur cairan disinfektan memenuhi udara.

Nadira mendapat giliran jaga malam. Ia berjalan memeriksa setiap kamar pasien, memastikan semuanya sudah beristirahat. Ketika sampai di kamar nomor tujuh, ia mengintip dari jendela kecil di pintu.

Adrian belum tidur, pria itu masih duduk menghadap jendela dengan tatapan kosong.

Nadira lalu membuka pintu perlahan. "Kamu belum tidur?"

Tidak ada jawaban seperti biasa.

Ia masuk sambil membawa segelas susu hangat. "Biasanya susu hangat bisa membuat orang cepat tertidur"

Adrian melirik sekilas ke arah gelas itu. Sesaat kemudian, tanpa diduga, ia mengulurkan tangan dan menerimanya.

Nadira sedikit terkejut. "Syukurlah." Ia duduk di kursi yang sama seperti siang tadi. "Aku tahu mungkin kamu belum percaya padaku. Tapi tidak apa-apa, aku akan tetap merawatmu."

Adrian menundukkan kepala, sudah lama tidak ada seseorang yang berbicara kepadanya tanpa nada menghakimi.

Nadira kembali tersenyum. "Kalau suatu hari nanti kamu mau bercerita, aku pasti akan mendengarkannya."

Kalimat itu membuat jantung Adrian berdegup lebih cepat. Ia ingin mengatakan semuanya, bahwa dirinya dijebak dan dipaksa berada di tempat ini.

Namun ia mengurungkan niatnya, ia masih ingat bagaimana dokter menertawakannya saat pertama kali ia mengatakan dirinya tidak gila. Sejak saat itu Adrian memilih bungkam.

***

Sementara itu, di sebuah rumah mewah di pusat kota. Seorang wanita berusia lima puluh tahun duduk santai di ruang keluarga sambil menyeruput teh.

Wanita itu adalah Miranda Mahendra, Ibu sambung Adrian.

"Bagaimana keadaan Adrian?" tanyanya kepada seorang pria berkacamata yang duduk di hadapannya.

Pria itu tersenyum tipis. "Masih sama seperti sebelum di bawa kerumah sakit, Nyonya."

Miranda mengangguk puas. "Bagus. Pastikan dia tidak pernah keluar dari sana."

"Tenang saja Nyonya. Selama pihak rumah sakit percaya dia mengalami gangguan jiwa, tidak akan ada yang mendengarkan ucapannya," jawab pria itu dengan santai.

Miranda tersenyum puas. "Sebentar lagi seluruh saham Mahendra Grup akan resmi menjadi milikku."

Di sudut ruangan, seorang pemuda yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. "Bagaimana kalau Kak Adrian berhasil membuktikan dirinya tidak gila?"

Miranda menatap putra kandungnya itu dengan kesal. "Itu tidak akan terjadi. Orang yang pernah masuk rumah sakit jiwa akan selalu dianggap gila. Dan jika perlu..." Ia berhenti sejenak. "Kita akan membuat Adrian kehilangan kewarasannya."

Pria itu bernama Dimas Mahendra dia adalah anak kandung Miranda, dan sebentar lagi Dimas yang akan mengantikan posisi Adrian di perusahaan Mahendra Grup.

"Aku harap juga begitu Ma," sahutnya sambil tersenyum senang.

***

Di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat...

Adrian masih berdiri di balik jendela kamarnya. Tatapannya menerobos kegelapan malam yang diselimuti rintik hujan. Dari balik kaca, ia bisa melihat lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan.

Dulu di jam seperti ini, ia masih berada di ruang kerjanya sebagai Direktur Utama Mahendra Grup. Menyelesaikan tumpukan laporan sambil menikmati secangkir kopi hitam buatan sekretarisnya. Namun kini, ia hanya seorang pria yang dianggap memiliki gangguan jiwa.

Tok... tok...

Suara ketukan pelan membuat Adrian menoleh. Pintu kamar terbuka sedikit.

Nadira masuk sambil membawa selimut tebal. "Malam ini udara cukup dingin." Tanpa menunggu jawaban, ia menghampiri Adrian lalu menyampirkan selimut itu ke bahunya. "Kalau kamu sampai sakit, nanti aku akan tambah repot."

Adrian menatap wajah wanita itu beberapa detik. Tatapan mereka sempat bertemu. Untuk sesaat, Nadira merasa ada sesuatu yang berbeda. Mata pria itu tidak seperti mata pasien gangguan jiwa yang biasa ia rawat dan tatapannya begitu tenang.

Namun pikiran itu segera ia singkirkan. "Mungkin hanya perasaanku saja." Nadira tersenyum kecil. "Selamat malam." Ia berbalik hendak keluar, namun baru dua langkah berjalan...

Bruk!

Suara benda jatuh membuat Nadira menoleh cepat. Adrian rupanya kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya terduduk di lantai.

"Adrian!" Nadira berlari menghampiri. "Astaga... kamu tidak apa-apa?"

Tanpa berpikir panjang, ia membantu Adrian duduk kembali ke tepi ranjang. Saat memegang lengannya, Nadira sedikit terkejut.

"Ototnya keras sekali..." gumamnya dalam hati.

Selama menjadi perawat, jarang ada pasien dengan kondisi fisik sebaik Adrian. Bahkan telapak tangannya dipenuhi kapalan halus, seperti orang yang terbiasa berolahraga atau bekerja keras.

"Apa sebelum sakit kamu sering olahraga?" tanyanya tanpa sadar.

Adrian hanya menatapnya, tak sepatah kata pun keluar.

Nadira tersenyum canggung. "Maaf... aku lupa."

Ia kembali mengoleskan salep pada luka di siku Adrian yang sedikit tergores akibat terjatuh. "Sekarang sudah selesai, besok jangan berdiri terlalu lama di dekat jendela, ya."

Adrian mengangguk sangat pelan. Itu adalah respons pertama yang benar-benar ia berikan sejak datang ke rumah sakit.

Mata Nadira langsung berbinar. "Nah... begitu lebih baik. Aku senang kamu mulai merespons."

Adrian kembali menundukkan kepala. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya memang selalu mengerti setiap ucapan Nadira. Hanya saja... ia tidak lagi berani mempercayai siapa pun.

***

Keesokan paginya...

Seorang pria berjas rapi turun dari mobil mewah yang berhenti di halaman rumah sakit. Di tangannya terdapat sebuah tas kulit hitam. Ia langsung menuju ruang direktur rumah sakit.

"Silahkan masuk."

Pria itu menutup pintu rapat setelah berada di dalam. Direktur rumah sakit menyambutnya dengan senyum tipis.

"Bagaimana keadaan pasien?"

"Masih aman terkendali."

Pria berjas itu mengangguk lalu meletakkan tas hitamnya di atas meja. Resleting tas dibuka, tumpukan uang pecahan seratus ribu memenuhi isi tas itu

"Ini bagianmu."

Direktur rumah sakit tersenyum puas. "Tenang saja. Selama aku masih menjabat di sini, Adrian Mahendra akan tetap tercatat sebagai pasien dengan gangguan jiwa berat."

Pria itu mengangguk puas. "Lakukan apa pun agar dia tidak pernah dinyatakan sembuh. Kalaupun nanti ada perkembangan... buatlah laporan bahwa kondisinya masih belum stabil."

Direktur rumah sakit mengambil tas itu tanpa ragu. "Kau bisa mempercayaiku."

Tanpa mereka sadari... percakapan itu terdengar samar oleh seseorang yang sedang berdiri di balik pintu. Seseorang itu adalah Nadira, namun karena hanya mendengar beberapa potong kalimat yang tidak jelas, ia mengira mereka sedang membahas pasien lain.

Dengan sopan ia mengetuk pintu. "Permisi, Pak Direktur. Saya membawa berkas pemeriksaan pasien."

Kedua pria di dalam ruangan langsung saling berpandangan. Ekspresi mereka berubah tegang.

"Masuk."

Episode 3 : Kamu itu sakit atau tidak

Nadira meletakkan map berisi laporan pemeriksaan pasien di atas meja Direktur. "Ini laporan pemeriksaan seluruh pasien Bangsal Mawar, Pak."

Direktur rumah sakit segera mengambil map itu sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Baik. Terima kasih, Suster Nadira."

Nadira mengangguk sopan. "Kalau begitu saya permisi."

Setelah pintu tertutup, pria berjas itu mengembuskan napas lega. "Hampir saja."

Direktur tersenyum tipis. "Dia tidak mendengar apa-apa. Aku akan pastikan tidak ada yang mencurigai kita."

Pria berjas itu mengangguk sebelum meninggalkan ruangan melalui pintu belakang.

Sementara itu, di Bangsal Mawar...

Adrian sedang duduk di kursi dekat jendela ketika seorang petugas datang membawa obat-obatan.

"Sudah waktunya minum obat."

Adrian hanya melirik sekilas. Petugas itu mengeluarkan beberapa kapsul dan meletakkannya di telapak tangan Adrian.

"Ayo, telan."

Adrian menatap obat itu beberapa saat. Ia tahu, jika terus menolak, mereka akan menyuntiknya dengan obat penenang. Dengan perlahan ia memasukkan obat itu ke mulut. Petugas memperhatikan hingga Adrian meneguk segelas air putih.

"Bagus."

Setelah yakin obat telah diminum, petugas pun keluar. Beberapa menit berlalu, Adrian mencoba memuntahkan obat seperti biasanya. Namun kali ini... salah satu kapsul telah terlanjur larut.

"Aduh..."

Kepalanya mendadak terasa berat. Pandangannya mulai kabur. Ia mencoba berdiri, tetapi kedua kakinya kehilangan tenaga.

Bruk!

Tubuh Adrian ambruk menghantam lantai.

Di ruang perawat...

"Suster Nadira!" Seorang perawat berlari tergesa-gesa. "Pasien kamar tujuh pingsan!"

Wajah Nadira langsung berubah panik. "Adrian?"

Ia spontan berlari menuju kamar nomor tujuh. Saat pintu dibuka, Adrian sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai.

"Ya Tuhan..." Nadira segera berlutut di sampingnya. "Adrian... Adrian!" Ia menepuk pelan pipi pria itu.

Tidak ada respons.

"Nadi lemah..." gumamnya sambil memeriksa pergelangan tangan Adrian. "Cepat panggil dokter!"

Beberapa perawat segera berlari, tak lama kemudian dokter jaga datang sambil mendorong brankar.

"Angkat dia ke ruang observasi!"

Dengan sigap mereka memindahkan tubuh Adrian. Nadira ikut mendorong brankar sambil terus memperhatikan wajah pucat pria itu. Entah mengapa... dadanya terasa sesak melihat Adrian dalam keadaan seperti itu.

Di ruang observasi... Dokter segera memasang infus dan memeriksa tekanan darah Adrian. "Hipotensi... tekanan darahnya turun cukup drastis."

Nadira berdiri di samping ranjang dengan wajah cemas. "Dok, apa penyebabnya?"

Dokter melirik hasil pemeriksaan sekilas. "Mungkin tubuhnya belum bisa beradaptasi dengan obat."

Jawaban itu terdengar sederhana, namun Nadira masih merasa ada yang janggal. "Kalau begitu, apakah dosis obatnya perlu dikurangi?"

Belum sempat dokter menjawab...

Direktur rumah sakit tiba-tiba masuk ke ruangan. "Tidak perlu... Biarkan semua tetap sesuai prosedur."

Dokter langsung mengangguk. "Baik, Pak."

Direktur kemudian menoleh kearah Nadira. "Kamu kembali bekerja saja. Pasien ini akan kami tangani."

Nadira tampak ragu. "Tapi, Pak... saya ingin tetap mendampinginya."

Direktur menggeleng tegas. "Tidak perlu... nanti setelah kondisinya stabil, kamu boleh kembali."

Mau tak mau Nadira menuruti perintah atasannya. Ia melangkah keluar dengan perasaan gelisah. Sesaat sebelum pintu tertutup, ia sempat menoleh. Dilihatnya Adrian masih terbaring tak sadarkan diri, wajahnya semakin pucat.

Tanpa disadari, jemarinya mengepal kuat. "Aku harap kamu baik-baik saja..." bisiknya lirih.

Begitu Nadira pergi, senyum ramah di wajah Direktur menghilang. Ia memandang dokter jaga dengan tatapan tajam.

"Pastikan pasien itu tetap berada di bawah pengaruh obat Jangan sampai dia terlalu cepat sadarkan diri."

Dokter itu tampak ragu. "Pak... kalau dosisnya terus ditambah, saya khawatir akan membahayakan kondisinya."

Direktur mendekat. "Kerjakan saja, kalau tidak... orang lain yang akan menggantikan posisimu."

Dokter itu menelan ludah, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menatap botol obat penenang di atas meja.

Kini suara monitor detak jantung terdengar teratur. Adrian masih terbaring tak sadarkan diri. Infus menetes perlahan, sementara wajahnya terlihat jauh lebih pucat dibandingkan sebelumnya.

Dokter jaga berdiri di samping ranjang dengan raut wajah gelisah. Tangannya beberapa kali mengepal sebelum akhirnya menatap botol obat penenang yang berada di atas meja.

"Apa aku harus melakukan ini...?" gumamnya lirih.

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Direktur rumah sakit masuk dengan langkah tenang. "Kenapa belum kau diberikan?"

Dokter itu menoleh. "Pak Direktur, tekanan darahnya masih rendah. Kalau dosis obat ditambah lagi, saya khawatir kondisinya akan semakin memburuk."

Direktur itu menatapnya tajam. "Dokter Bima. Saya rasa Anda masih ingat siapa yang membantu melunasi hutang rumah sakit anak Anda."

Wajah Dokter Bima langsung berubah pucat, ia menggigit bibir bawahnya. Ancaman itu membuatnya tak mampu berkata apa-apa lagi. Dengan tangan gemetar, ia mengambil spuit berisi cairan bening. Saat jarum hampir menyentuh selang infus Adrian...

"Tunggu!" Suara seorang perawat membuat keduanya menoleh.

Nadira berdiri di ambang pintu sambil membawa hasil pemeriksaan laboratorium. "Maaf, Pak. Hasil darah pasien Adrian sudah keluar."

Direktur segera mengubah ekspresinya menjadi ramah. "Oh... letakkan saja di meja."

Nadira menghampiri meja dokter, tanpa sengaja matanya menangkap spuit yang masih berada di tangan Dokter Bima.

"Dok, bukankah pasien baru saja mendapat obat tadi siang?"

Dokter Bima tampak gugup. "I-iya... ini hanya vitamin."

"Vitamin?" Nadira mengernyit. "Kalau vitamin biasanya warnanya kuning, kan?"

Belum sempat Dokter Bima menjawab...

Direktur lebih dulu menyela. "Nadira. Kamu terlalu banyak bertanya."

Ucapan itu membuat Nadira langsung menundukkan kepala. "Maaf, Pak."

"Silahkan kembali ke bangsal."

"Baik."

Nadira pun keluar dari ruangan. Namun langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Entah mengapa, ia merasa semua orang bersikap aneh sejak Adrian dirawat.

Setelah Nadira pergi, Dokter Bima mengembuskan napas panjang. "Hampir saja."

Direktur menatapnya dingin. "Jangan sampai dia curiga."

"Saya mengerti."

Dengan perasaan bersalah, Dokter Bima akhirnya menyuntikkan cairan tersebut ke dalam selang infus Adrian.

Beberapa detik kemudian...

Alis Adrian sedikit berkerut. Kelopak matanya bergerak pelan.

"Dia akan sadar!" seru Dokter Bima.

Direktur segera mendekat. Namun bukannya membuka mata, Adrian kembali terkulai lemah. Tubuhnya kembali kehilangan kesadaran.

Direktur tersenyum puas. "Bagus, biarkan dia tetap seperti ini."

Sementara itu, Nadira kembali ke ruang perawat. Namun pikirannya terus dipenuhi wajah Adrian. Ia membuka berkas medis pasien itu sekali lagi.

Semakin lama membaca, semakin banyak kejanggalan yang ia temukan. "Tidak ada riwayat gangguan jiwa sejak kecil, tidak pernah menjalani terapi psikiatri, tidak ada catatan rawat inap sebelumnya..."

Nadira mengernyit. "Lalu kenapa diagnosisnya bisa langsung gangguan jiwa berat, ini sangat aneh." Ia membalik halaman berikutnya. Matanya membulat. "Semua hasil pemeriksaan psikiater... ditandatangani oleh dokter yang sama." Perasaan tidak nyaman mulai menyelimuti hatinya. "Sebenarnya kamu itu sakit jiwa atau tidak sih, Adrian Mahendra?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!