Indonesia
NovelToon NovelToon

Batas Dimensi Takdir

Bab 1 Pria dalam Mimpi

Alena kembali bermimpi tentang pria itu. Ia berdiri di tengah sebuah taman yang tidak pernah ia kenal, dikelilingi bunga-bunga berwarna putih dan merah yang bergoyang perlahan diterpa angin malam. Di kejauhan, sebuah istana megah berdiri di bawah cahaya bulan.

Tempat itu begitu indah. Namun entah mengapa, setiap kali berada di sana, Alena selalu merasakan kesedihan yang sulit dijelaskan. Ia menunduk.

Gaun panjang berwarna putih yang dikenakannya menyapu rerumputan. Rambut panjangnya dihiasi mahkota kecil bertabur permata.

Alena menatap kedua tangannya dengan bingung. Lagi-lagi ia mengenakan pakaian yang sama, berada di tempat yang sama, dan seperti malam-malam sebelumnya, suara langkah kaki terdengar dari belakang.

Tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.

“Alena.” Suara berat itu membuat jantungnya berdebar.

Alena perlahan berbalik. Seorang pria berjalan menghampirinya. Tubuhnya tinggi dan tegap. Ia mengenakan pakaian kerajaan berwarna hitam dengan jubah panjang yang berkibar tertiup angin. Wajahnya sangat tampan, tetapi tatapannya dingin dan mengintimidasi.

Pria yang menurut semua orang adalah raja kejam. Namun ketika melihat Alena, ekspresinya selalu berubah. Tatapan dinginnya mencair. Ia berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapan Alena.

“Kau datang lagi,” bisik Alena.

Pria itu mengangkat alis. “Akulah yang seharusnya mengatakan itu.”

“Apa?”

“Kau terus datang ke dalam mimpiku.”

Alena terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Aneh. Setiap kali berada di hadapan pria ini, hatinya selalu terasa hangat.

Seolah-olah mereka telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun. Padahal Alena yakin mereka tidak pernah bertemu. Pria itu mengangkat tangannya dan menyentuh pipinya. Sentuhannya begitu lembut.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Aku sedang mencoba mengingat.”

“Mengingat apa?”

“Siapa kau.”

Senyum tipis muncul di bibir pria itu. “Aku adalah orang yang akan selalu menunggumu.”

“Menungguku?”

“Ya.” Pria itu menarik Alena ke dalam pelukannya. Aroma tubuhnya begitu nyata. Alena bahkan bisa mendengar detak jantung pria itu.

Duk.

Duk.

Duk.

Jantungnya berdetak begitu kuat hingga Alena merasa sesak. “Jangan pergi lagi,” bisik pria itu di dekat telinganya.

Alena mengerutkan kening. “Memangnya aku pernah pergi?”

Pria itu tidak menjawab. Pelukannya justru semakin erat. “Jika suatu hari kau melupakanku, aku akan mencarimu.”

“Mencariku ke mana?”

“Ke mana pun kau pergi.”

Alena hendak bertanya lagi, tetapi pria itu tiba-tiba melepaskan pelukannya. Tangannya berpindah ke wajah Alena. Ia menatap mata Alena cukup lama. Tatapan itu membuat Alena gugup. “Apa?”

“Tidak ada.” Pria itu tersenyum kecil. “Aku hanya ingin memastikan wajahmu benar-benar ada di hadapanku.”

Sebelum Alena sempat memahami perkataannya, pria itu menundukkan wajah. Bibirnya menyentuh kening Alena. Lalu pipinya. Dan akhirnya bibirnya. Mata Alena membesar. Namun anehnya, ia tidak menolak. Ciuman itu terasa begitu nyata, hangat dan lembut. Sampai seluruh tubuh Alena terasa seperti dialiri listrik.

Ketika pria itu melepaskan ciumannya, ia berbisik, “Jangan lupa aku.”

“Namamu...” Alena mencoba mengingat. “Siapa namamu?”

Pria itu tersenyum. Namun sebelum ia sempat menjawab— Alena terbangun.

“Hah!”

Alena terduduk di atas tempat tidurnya. Napasnya memburu. Kamar masih gelap. Cahaya matahari belum masuk melalui celah tirai.

Ia menyentuh bibirnya masih terasa hangat.

“Ini lagi?”

Sudah hampir satu bulan Alena mengalami mimpi yang sama. Selalu tentang kerajaan. Selalu tentang pria itu dan selalu berakhir sebelum ia mengetahui namanya.

Alena mengusap wajahnya. “Cuma mimpi.”

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Cuma mimpi.”

Namun ketika hendak bangun dari tempat tidur, tangannya berhenti. Ada sesuatu yang terasa aneh di lehernya.

Alena berjalan menuju cermin. Begitu melihat pantulan dirinya, wajahnya langsung berubah.

Di sisi lehernya terdapat bekas kemerahan. Tepat di tempat pria dalam mimpinya mencium dirinya. Alena menyentuh bekas itu dengan tangan gemetar. “Tidak mungkin...”

Mimpi tidak mungkin meninggalkan bekas. Beberapa jam kemudian, Alena sudah berada di kantor. Ia berusaha melupakan kejadian pagi tadi. Pekerjaannya cukup banyak sehingga ia memaksa dirinya untuk berkonsentrasi. Namun sesekali tangannya masih menyentuh leher. Bekas itu belum hilang.

“Alena.” Teman kerjanya, Mira, menepuk bahunya.

Alena terkejut. “Kenapa?”

“Dari tadi bengong terus. Kamu sakit?”

“Tidak.”

“Yakin?”

Alena mengangguk. “Hanya kurang tidur.”

Mira menatap lehernya. “Itu kenapa?”

Alena langsung menutupinya dengan rambut. “Digigit nyamuk.”

Mira tertawa. “Nyamuk zaman sekarang agresif sekali.”

Alena hanya tersenyum kaku. Saat itulah suara langkah kaki terdengar dari arah pintu utama. Seluruh ruangan tiba-tiba menjadi lebih tenang. Seorang pria memasuki kantor bersama beberapa orang. Ia mengenakan jas hitam yang rapi. Posturnya tinggi dan wajahnya sangat tampan. Namun Alena tidak memperhatikan semua itu. Karena begitu melihat wajah pria tersebut, tubuhnya langsung membeku.

Pulpen di tangannya terjatuh. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Wajah itu... Wajah yang sama dari mimpinya. Pria yang selama sebulan terakhir selalu muncul dalam tidurnya, yang tadi malam memeluk dan menciumnya.

Alena mundur satu langkah. “Tidak mungkin...”

Pria itu terus berjalan. Kemudian pandangannya menyapu seluruh ruangan. Sampai akhirnya... Tatapan mereka bertemu. Pria itu berhenti. Wajah dinginnya berubah seketika. Matanya membesar. Seolah baru saja melihat sesuatu yang mustahil. Ia meninggalkan orang-orang di belakangnya dan berjalan cepat ke arah Alena.

Alena panik.

“Pak?”

Pria itu semakin dekat.

“Jangan mendekat.”

Namun pria itu seolah tidak mendengarnya. Begitu sampai di hadapan Alena, tangannya langsung meraih tubuh wanita itu. Alena terkejut ketika pria tersebut memeluknya sangat erat. Seolah takut jika melepaskannya, Alena akan menghilang.

“Kau...” Suara pria itu bergetar.

Alena membeku.

“Masih hidup?”

Mata pria itu memerah. Ia memeluk Alena semakin erat. “Selama ini... kau ternyata masih hidup.”

Alena mendorong tubuhnya dengan panik. “Lepaskan saya!”

Pria itu akhirnya melepaskannya. Alena mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat. Semua orang di kantor menatap mereka. Pria itu hanya diam. Matanya tidak pernah lepas dari wajah Alena.

Kemudian ia berkata dengan suara rendah, “Alena...”

Alena menelan ludah. “Bagaimana Anda tahu nama saya?”

Pria itu terdiam. Untuk pertama kalinya, tatapan dingin seorang pria yang ditakuti semua orang itu terlihat hancur. “Kau benar-benar tidak mengingatku?”

Alena menggeleng. “Tidak.”

Pria itu memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, tatapannya berubah menjadi sangat dalam.

“Kalau begitu...” Ia melangkah mendekat. “Sepertinya aku harus membuatmu mengingat semuanya.”

Alena mundur. Karena ia menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada mimpi. Pria dalam mimpinya ternyata benar-benar ada.

Bab 2 Pasangan Bos

Pria itu menarik Alena ke dalam ruangannya dan mengunci pintu. Tanpa banyak bicara, dia langsung menciumnya. Alena meronta, berusaha melepaskan diri dari ciuman itu, namun tenaganya jelas kalah jauh dibanding tenaga bosnya. Dalam hati dia hanya bisa mengumpat, “Astaga… ciuman pertamaku hilang begitu saja?!”

Setelah puas, Raka Bima melepaskannya. Alena langsung menampar pipi pria itu dengan keras, lalu buru-buru keluar dari ruangan dengan wajah merah padam. Sesampainya di ruang kerja, Mira langsung menggodanya dengan senyum usil. “Eh, muka kamu merah banget. Habis digigit nyamuk apa digigit bos?” godanya pelan. Alena hanya membuang muka, tidak menjawab.

Beberapa saat kemudian, suara Dito—sekretaris pribadi bos—terdengar jelas dari arah ruang utama. Dia mengumumkan bahwa malam ini Direktur akan menghadiri pelelangan benda antik di museum. Dan untuk acara tersebut, beliau akan menunjuk seseorang sebagai pasangan sekaligus perwakilan perusahaan.

Alena menghela napas lega dalam hati. Dia sama sekali tidak berharap namanya disebut. Mending siapa saja, asal bukan dia. Namun detak jantungnya langsung berhenti sejenak ketika suara pria paruh baya itu terdengar tenang namun tegas, “Alena. Kamu yang akan menemani pak Raka malam ini.”

Suasana ruang kerja seketika hening. Semua pandangan tertuju padanya. Alena membeku di kursinya. Dia bisa merasakan tatapan Mira yang membelalak di sebelahnya, juga senyum tipis Raka yang seperti sudah menduga dari tadi.

“Siap, Pak…” jawabnya pelan, hampir tak bersuara, meski seluruh tubuhnya menolak.

Alena masih terdiam di kursinya ketika Dito mendekat sambil membawa map hitam. “Alena, ini detail acaranya,” katanya profesional. “Pelelangan dimulai pukul tujuh. Kamu harus sudah siap di lobi hotel pukul setengah tujuh. Gaun sudah disiapkan di ruang ganti lantai tiga. Ada juga perhiasan yang harus dipakai.”

Alena menerima map itu dengan tangan sedikit gemetar. “Gaun… sudah disiapkan?”

Dito mengangguk. “Pak Raka yang pilih sendiri tadi pagi.”

Mira yang sejak tadi hanya menyimak, sekarang menyenggol lengan Alena pelan. “Astaga… serius dia pilihkan gaun? Ini mah bukan sekadar temenin acara, Len.”

Alena tidak menjawab. Dia hanya menghela napas panjang, lalu berdiri. “Aku ke ruang ganti dulu,” gumamnya.

Ruang ganti lantai tiga ternyata sudah disiapkan khusus. Di dalam, sebuah gaun hitam panjang dengan potongan bahu terbuka tersampir rapi di manekin. Gaun itu elegan, tapi jelas dirancang untuk menarik perhatian. Di sampingnya, sepasang heels hitam dan kalung berlian sederhana.

Alena menatap gaun itu lama. “Dia bahkan tidak bertanya ukuranku…” bisiknya sendiri.

Meski enggan, dia tetap mengganti pakaian. Ketika keluar dari ruang ganti, Dito sudah menunggu di lorong. “Alena sudah siap. Mobil Pak Raka menunggu di basement.”

Perjalanan menuju museum berlangsung dalam keheningan. Raka duduk di kursi belakang bersama Alena, sementara Dito berada di depan bersama sopir. Alena berusaha sebaik mungkin menjaga jarak, tapi kursi mobil yang tidak terlalu lebar membuat bahu mereka sesekali bersentuhan. Raka tidak berbicara sama sekali. Hanya sesekali menatapnya dari sudut mata, seolah menilai.

Sesampainya di museum, suasana sudah ramai oleh para kolektor dan pengusaha. Raka turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan ke arah Alena.

Alena ragu sejenak, tapi akhirnya meletakkan tangannya di atas tangan pria itu. Senyum tipis terpatri di wajah Raka, seolah dia baru saja memenangkan sesuatu.

Begitu mereka memasuki aula utama, beberapa orang langsung menyambut Raka. Sebagai pengusaha muda yang sedang naik daun, kehadirannya tentu menarik perhatian. Namun Raka tidak terlalu memedulikan mereka.

Tatapannya justru tertuju kepada Alena. “Jangan jauh-jauh dariku.”

Alena menghela napas. “Aku bukan anak kecil.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu lagi.”

Alena terdiam. Kalimat itu kembali membuat dadanya terasa aneh. Dia tidak mengerti kenapa Raka selalu berbicara seolah mereka pernah mengalami sesuatu yang begitu besar. Mereka kemudian duduk di barisan depan. Pelelangan dimulai. Berbagai benda antik ditampilkan. Mulai dari lukisan tua, pedang kuno, perhiasan kerajaan, bahkan patung-patung yang usianya ratusan tahun.

Alena memperhatikan semuanya dengan biasa saja. Sampai pembawa acara mengumumkan barang berikutnya. “Barang selanjutnya merupakan benda yang ditemukan dalam penggalian reruntuhan kuno.”

Sebuah kotak kaca dibawa ke atas panggung. Di dalamnya terdapat sebuah kalung. Kalung dengan batu merah tua yang berkilau di bawah cahaya lampu. Alena langsung membeku. Jantungnya berdetak keras. “Itu...”

Raka menoleh. “Apa?”

Alena berdiri perlahan. “Aku pernah melihat kalung itu.”

Raka menatap benda tersebut. “Aku tahu.”

Alena menatapnya. “Dari mana?”

Raka tidak menjawab. Pembawa acara melanjutkan penjelasan. “Menurut para peneliti, kalung ini ditemukan di sebuah reruntuhan yang diduga merupakan bagian dari sebuah kerajaan yang sampai sekarang belum berhasil diidentifikasi.”

Layar besar menampilkan gambar simbol di belakang kalung. Alena memegang dadanya. Simbol itu terasa sangat familiar. Tiba-tiba kepalanya berdenyut. “Aduh...”

Raka langsung berdiri. “Alena?”

“Aku tidak apa-apa.” Namun pandangan Alena mulai kabur. Suara-suara asing terdengar di kepalanya. “Yang Mulia...”

Alena menoleh ke sekeliling. Tidak ada siapa pun yang memanggilnya. “Yang Mulia, pasukan musuh sudah mendekati gerbang.”

Alena memegang kepalanya. “Apa ini?”

Raka langsung menggenggam bahunya. “Alena, lihat aku.”

Alena menatapnya. Dalam sekejap, wajah Raka berubah dalam pandangannya. Bukan lagi seorang bos perusahaan. Melainkan seorang pria mengenakan mahkota raja. Dan di belakangnya berdiri sebuah istana yang terbakar.

Alena tersentak. Gambaran itu menghilang. “Raka...”

“Aku di sini.”

“Kau... seorang raja?”

Raka terdiam. Dia tahu saat itu akan datang. Namun ia tidak menyangka secepat ini. “Aku bisa menjelaskan.”

“Jadi semua yang selama ini aku impikan...”

“Bukan mimpi.”

Alena menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Lalu apa?”

“Kenangan.”

Pelelangan terus berlangsung. Namun Alena tidak lagi memperhatikan benda-benda lain. Pikirannya hanya tertuju pada kalung itu. Ketika harga mulai disebutkan, Raka mengangkat papan penawaran. “Satu miliar.”

Beberapa orang langsung ikut menawar. “Satu koma lima miliar.”

“Dua miliar.”

Raka tetap tenang. “Tiga miliar.”

Ruangan menjadi sunyi. Tidak ada lagi yang berani menawar.

Pembawa acara mengetukkan palu. “Terjual kepada Tuan Raka Bima.”

Alena menatapnya. “Anda benar-benar mengeluarkan tiga miliar untuk benda itu?”

Raka mengangguk. “Ya.”

“Kenapa?”

Raka menatap kalung yang baru saja dibelinya. “Karena benda ini pernah menjadi milikmu.”

Alena terdiam. “Milikku?”

“Ya.”

“Bagaimana mungkin?”

Raka tidak langsung menjawab. Ia mengambil kotak kalung tersebut dan menyerahkannya kepada Alena. “Pegang.”

Alena ragu. “Kenapa?”

“Karena hanya kau yang bisa membangunkan kekuatannya.”

Alena menatapnya bingung. “Kekuatan?”

“Percayalah padaku.”

Alena perlahan membuka kotak itu. Tangannya menyentuh kalung tersebut. Seketika—Cahaya merah menyala. Alena terkejut dan hampir menjatuhkan benda itu. Suara musik di dalam aula seolah menghilang.

Bab 3 Kalung dari Dunia Lain

Dia melihat sebuah tempat yang tidak pernah ia kenal. Sebuah istana besar, taman bunga, pelayan yang berlutut, dan dirinya sendiri berjalan mengenakan gaun putih. Seorang pria berdiri di ujung taman. Pria itu tersenyum kepadanya. “Alena.”

Alena dalam ingatan itu berlari menghampirinya. “Yang Mulia.”

Raka memegang tangannya. “Jangan panggil aku seperti itu ketika hanya ada kita berdua.”

“Kalau begitu, aku harus memanggilmu apa?”

“Raka.”

Wanita itu tersenyum. “Baik, Raka.”

Gambaran berubah, istana terbakar, suara pedang beradu terdengar dari segala arah.

Raka menggenggam tangan Alena. “Kau harus pergi.”

“Aku tidak mau!”

“Kalau kau tetap di sini, mereka akan membunuhmu.”

“Aku tidak peduli!”

Raka memeluknya erat. “Aku peduli.”

Air mata mengalir di wajah Alena. “Kapan kau akan menyusulku?”

“Begitu semuanya aman.”

“Janji?”

“Janji.”

Cahaya putih muncul. Alena perlahan menghilang. Raka berteriak, “Alena!”

Alena tersadar. Dia sudah berada di sebuah ruangan pribadi di museum. Raka berdiri di depannya. “Alena.”

Air mata mengalir di pipinya. “Aku...”

Ia memegang kepalanya. “Aku melihat semuanya.”

Raka menahan napas. “Apa yang kau lihat?”

“Kita.” Alena menatapnya. “Kita pernah hidup bersama.”

Raka mengangguk perlahan. “Kau adalah...”

Alena kesulitan mengucapkannya. “Tunanganmu.”

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Raka berubah lega. Namun Alena segera bertanya, “Kalau memang aku tunanganmu, kenapa aku bisa berada di dunia ini?”

Raka terdiam.

“Dan kenapa aku tidak mengingatmu?”

Raka menatapnya cukup lama. “Ada alasan.”

“Alasan apa?”

Raka mengepalkan tangannya. “Aku belum bisa mengatakannya.”

“Kenapa?”

“Karena jika kau mengingat semuanya sekarang, kau mungkin tidak akan pernah memaafkanku.”

Alena terdiam. Sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari luar. Seorang pria masuk dengan tergesa-gesa. “Yang Mulia.”

Alena membeku. Pria itu langsung berlutut di hadapan Raka.

Raka menatapnya dingin. “Berdiri.”

Pria itu bangkit. “Portal sudah terbuka.”

Alena menatap mereka bergantian. “Portal?”

Pria tersebut mengangguk. “Jalan menuju kerajaan sudah terbuka kembali.”

Raka menoleh kepada Alena. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, seluruh museum tiba-tiba bergetar. Lampu-lampu padam. Kalung merah di tangan Alena menyala semakin terang. Di tengah ruangan muncul lingkaran cahaya. Alena mundur. “Apa itu?”

Raka berdiri di depannya. “Jalan pulang.”

Alena menatap cahaya tersebut. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mimpi-mimpi yang selama ini menghantuinya bukanlah mimpi.

Itu adalah kehidupannya yang lain. Dan sekarang... dunia tersebut sedang memanggilnya kembali.

Namun tiba-tiba suara keras terdengar dari luar ruangan.

BRAK!

Pintu museum bergetar. Raka langsung berdiri di depan Alena. “Siapa?”

Tidak ada jawaban. Kemudian terdengar suara seorang pria dari balik pintu. “Serahkan wanita itu.”

Raka menatap pintu dengan wajah dingin. Alena bersembunyi di belakangnya. “Siapa mereka?”

Raka menggenggam tangannya. “Mereka adalah alasan kenapa aku kehilanganmu. Dan sekarang mereka sudah menemukanmu.”

Pintu kembali dihantam.

BRAK!

Raka menatap Alena. “Mulai sekarang, jangan pernah meninggalkanku.”

Alena belum sempat menjawab ketika pintu itu akhirnya jebol. Beberapa pria berpakaian hitam menyerbu masuk. Namun yang membuat Alena benar-benar ketakutan bukanlah jumlah mereka. Melainkan simbol merah yang terukir di pakaian mereka.

Simbol yang sama persis dengan lambang pada kalung antik itu. Raka berdiri di depannya. Tatapannya berubah dingin dan mengerikan.

Seperti tatapan seorang raja yang siap menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh miliknya. “Jadi kalian akhirnya datang.”

Salah satu pria tersenyum. “Yang Mulia...”

Alena membeku. "Yang Mulia?"

Raka mengepalkan tangan. Pria itu melanjutkan, “Ratu telah ditemukan.”

Alena menatap Raka. Dan pada saat yang sama, seluruh lampu museum padam. Dalam kegelapan, kalung merah di tangan Raka kembali menyala.

Cahayanya semakin terang. Lalu sebuah lingkaran cahaya terbentuk di belakang Alena. Sebuah pintu menuju dunia lain. Dan dari balik pintu itu... terdengar suara seseorang memanggilnya. “Ratu kami, kembalilah.”

Alena menggeleng, “Tidak.”

Raka menatapnya, “Alena...”

“Aku tidak mau!” Alena tiba-tiba melempar kalung itu ke sofa di sudut ruangan. “Tidak!”

Cahaya merah langsung meredup. Portal yang sebelumnya terbuka perlahan mengecil. Dalam hitungan detik, lingkaran cahaya itu menghilang sepenuhnya. Ruangan kembali sunyi.

Alena berdiri dengan napas memburu. “Tidak...”

Ia memegang kepalanya. “Aku tidak bisa menerima kenyataan ini.”

Raka menatapnya tanpa berkata-kata. Alena menggeleng berkali-kali. “Kerajaan? Ratu? Tunangan? Dunia lain?”

Ia tertawa kecil, tetapi terdengar seperti orang yang sedang berusaha menahan tangis. “Ini tidak masuk akal.”

“Alena.”

“Jangan panggil namaku!”

Raka terdiam.

“Aku hanya ingin hidup normal.” Alena menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku punya pekerjaan. Aku punya kehidupan. Aku tidak pernah meminta semua ini.”

Raka mengepalkan tangan. “Aku tahu.”

“Tidak! Kau tidak tahu!”

Alena menatapnya marah. “Kau muncul begitu saja dalam hidupku dan mengatakan bahwa aku pernah menjadi seseorang yang bahkan tidak kuingat!”

Raka menundukkan kepala. “Aku tahu ini sulit.”

“Kalau begitu biarkan aku pergi.”

Raka hendak menjawab, tetapi suara langkah kaki terdengar dari arah pintu. Pria berjubah yang sebelumnya berdiri bersama mereka tiba-tiba bergerak maju. Tatapannya tertuju kepada Alena. “Yang Mulia harus kembali bersama kami.”

Alena mundur, “Aku bukan ratu kalian!”

Pria itu terus mendekat. “Ingatan Anda memang belum pulih sepenuhnya.”

Raka segera berdiri di depan Alena. “Berhenti.”

Pria berjubah itu tidak menghiraukannya. “Kerajaan membutuhkan ratunya.”

“Aku bilang berhenti.” Nada suara Raka berubah dingin.

Namun pria itu justru maju satu langkah lagi. “Kami tidak datang untuk meminta izin.”

Ia mengulurkan tangannya ke arah Alena, “Kami datang untuk membawanya pulang.”

Alena langsung mundur. “Jangan sentuh aku!”

Dalam sekejap, bayangan hitam bergerak dari bawah kaki Raka.

Whoosh!

Beberapa sosok berpakaian hitam muncul dari dalam bayangan. Mereka bergerak cepat dan langsung berdiri membentuk barisan di antara Alena dan pria berjubah tersebut.

Alena terkejut. “Dari mana mereka datang?”

Raka tidak menjawab. Ia hanya berkata, “Halangi mereka!”

Salah satu anak buahnya mengangguk. “Baik, Yang Mulia.”

Alena menatap Raka. “Yang Mulia?”

Raka meraih tangannya. “Sekarang bukan waktunya menjelaskan.”

“Aku bisa berjalan sendiri.”

“Aku tahu.”

Raka tetap membawanya pergi.

Di belakang mereka terdengar suara benturan. Anak buah Raka menahan pria berjubah dan orang-orangnya. Raka membawa Alena keluar melalui pintu belakang museum. Begitu sampai di luar, udara malam menerpa wajah Alena.

Ia menarik tangannya dari genggaman Raka. “Aku tidak mau pergi bersamamu.”

“Kalau kau tetap di sini, mereka akan membawamu.”

“Biarkan!”

Raka menatapnya tajam. “Kau tidak tahu siapa mereka.”

“Aku juga tidak tahu siapa kau!”

Kalimat itu membuat Raka terdiam. Alena langsung merasa bersalah, tetapi ia masih terlalu bingung untuk meminta maaf. “Aku hanya ingin semuanya kembali seperti semula.”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!