Indonesia
NovelToon NovelToon

DOSEN DUDA DINGIN

01

Halo, Na' Lo lagi dimana ?

skripsi udah mau dikumpulkan sekarang ?

Gu masi ngantre di tempat print, gimana dong ?

T'erus gimana dong kalau lo ngga ngumpulin sekarang lo gak akan ikut wisudah Tahun ini

Terus gimana ? Tempat printnya rame banget

Cari tempa lain aja, Na ?

Gak ada waktu lagi, ini tempat yang udah paling dekat

Ya udah, nanti gue bujuk dosennya, lo lanjut printnya dulu, kalu ngga lo bujuk tukang printnnya siapa tau tukang printnnya berbaik hati untuk lo printnya duluan.

Mana bisa sih ?

Tuutt....

Zafana Dominic adalah salah satu mahasiswa tingkat akhir yang harus merevisi semua skripsinya gara-gara ulah dosennya.

Sungguh sial hidup'ku.....

Mana mungkin skripsi yang sudah benar secara keselurahan harus direvisi?

Bukan masalah uang, tapi masalah waktu, dia sudah melakukan pengetikan ulang kemrin sore dan belum sempat mengubah semua revisinya dan apesnya lagi dari kemarin semua tempat fotocopy didekat rumahnya penuh dan ada beberapa yang tutup, jadi zafana baru bisa mencetak ulang skiripsi pagi ini.

Bang, masi lama gak ? akhirnya zafana memberanikan diri untuk bertanya dan menawarkan kepada si abang tukang print.

Masi, neng mau ngeprint apa emangnya ?

Mau ngeprint skripsi bang... bisa bantuin dong Bang bisar cepat selesai.

Aduh Neng mohon maaf ya, ini juga ada yang nitipin dari semalam skripsinya juga,

apa mau nunggu dulu, gak lama kok ?

Yah bang bisa di tikung dikit gak gitu ?

Nanti orangnya sebentar lagi kesini Neng

Zafana menghela nafas kemudian mengangguk pasrah kemudian Zafana memndudukan kembali dirinya diatas bangku yang sudah sediakan disana.

Pikirannya dipenuhi dengan beberapa kemungkinan ia tidak akang wisuda di tahun ini, dan itu membuat jantungnya berdebar.

dibuka ponsel zafana, kemudian dia mencari tempat fotocopy terdekat.

"Gak ada lagi emang". Gumaannya dengan alis berkerut.

Dengan kesabaran yang sisa Zafana memutuskan menunggu sembari membeli minuman dingin dan cemilan. ia memakan gorengan dan miminum es teh manis yang pas di pagi hari untuk menemaninya di pagi hari yang kacau.

Tidak berselang lama Hp nya zafana berdering memperlihatkan nama panggilan roos yang kembali meneloponnya.

Hallo, kenalapa lagi roos ?

Gue udah kasih tau pak oliver, lo bisa ngumpulin skripsi sekita Jam Tiga sore"an.

Ya udah....makasi bayak ya roos.

iya sama-sama, boleh tau lo lagi ngapain ?

Gue lagi makan goreng di kantin, Lo mau gak ?

Bisa-bisanya lo masi bisa makan gorengan di tengah kondisi genting kaya gini ?

Ya habisnya gimana ? gue lapar belum sarapan dari pagi.

Terserah lu ajah deh, nanti kalau udah selesai kabaran gue ya ?

iyaaa,,,,

Tanpa menjawab apapun lagi, roos langsung mamatikan panggilan itu sepihak dan membuatnya menghela nafas cukup berat.

Zafana Selesai dengan Sarapannya di kantin, zafana memulai Pergi dan ngeprint skripsinya untuk di kumpulkan kepada dosennya.

" Pak Saya mau ngumpulin Skripsi " ucap seorng mahasiswa yang baru saja berlari mengejar dosen tampannya, Oliver.

"Taruh diruangan saya" jawan Oliver dengan wajar yang datar lalu melanjukan langkahnya kembali.

" Pak teman saya belum bisa ngumpulin hari ini soalnya fotocopy penuh terus pak.

" Oliver menatap datar kearah Roos," Saya tunggu sampai jam tiga sore"

ucapnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.

" Dasar dosen sok ganteng, sok cool Pantesan teman gue gak mau ngelirik loe'! cibir Roos sambil berjalan menuju ruangan oliver.

02

Zafana akhirnya mendapat giliran mencetak skripsinya. Ia memperhatikan setiap lembar kertas yang keluar dari mesin printer, rasanya lambat sekali kertas itu bergerak keluar. Hingga sebelas menit terakhir, skripsinya siap dengan jilid berwarna merah maroon.

"Udah selesai nih Bang"ucap si tukang fotocopy.

Mendengar itu Zafana mengerjapkan matanya beberapa kali, "udah bang? Berapa?"

"Seratus Delapan Puluh"jawab si tukang fotocopy

Zafana segera mengeluarkan dompetnya  lalu membayarnya dan langsung membawa skripsi itu pergi menuju kampusnya yang tidak jauh dari sana

ia berlari seperti sedang dikejar oleh anjing besar yang menakutkan.

Ya, anjing besar dibayangannya adalah Oliver, Hingga tidak memperhatikan jalan dan menabrak beberapa orang dikoridor kampus itu.

Sampailah Zafana didepan sebuah ruangan lalu mengetuknya perlahan kemudian menetralkan napasnya.

"Permisi, pak"ucap Rheyna sambil membuka pintu itu dan menimbulkan kepalanya.

"Ya"jawab pria yang sedang berhadapan dengan laptopnya.

"Saya mau ngumpulin skripsi, pak"ucap Zafana

dengan kegugupan yang sangat luar biasa.

Ia masuk kedalam ruangan yang terasa sangat dingin itu dan berdiri tepat didepan meja dosennya.

Oliver menatap arlojinya sebentar lalu berdecak.

"jam berapa sekarang? Harusnya tadi jam sembilan kamu kumpulin skripsi itu!"ucapnya tegas membuat Zafana terlonjat kaget.

"M-maaf pak, tapi dari kemarin tempat fotocopy penuh, saya baru dapat giliran tadi"jawab Zafana

sambil menunduk Ketakutan yang lainnya adalah dibentak dan berhadapan dengan orang marah.

"Saya tidak ingin menerima alasan apapun dan saya tidak akan meluluskan mahasiswi yang tidak bisa tepat waktu seperti kamu!" ucap Oliver dengan tegas dan lantang, dosen tampan nan dingin yang dikenal disetiap penjuru kampus ini.

"T-tapi pak, saya udah ngantre dari pagi"ucap Zafana sambil menahan tangisannya.

"Sekali saya bilang tidak ya tidak!" tegasnya lagi sambil menggebrak meja.

Zafana kembali terlonjat kaget, kali ini air matanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia meneteskan sebutir air mata lalu menyimpan skripsinya dimeja dan berbalik keluar dari ruangan itu.

Zafana tidak bisa kalau harus seperti ini, Ia bukan gadis yang mempunyai mental kuat jika harus dibentak seperti itu.

Secuek-cueknya Zafana pada kehidupan orang lain, ia tetaplah anak yang manja dimata keluarga dan sahabatnya.

Sedangkan didalam ruangan itu Oliver hanya diam dengan wajah datarnya.

Setiap mahasiswi, bahkan mahasiswa sekalipun yang berhadapan dengannya pasti berujung seperti Zafana barusan, tapi kenapa kali ini ia merasa bersalah, Bahkan melihat Zafana sudah berkaca-kaca saja ia merasa sangat tidak tega.

Tapi apa boleh buat, ia dituntut oleh kakeknya untuk bersikap tegas pada setiap mahasiswa disana. Kampus ini memang didirikan oleh kakeknya dan kini beliau sudah tiada.

Tangan Oliver terulur mengambil skripsi yang tergeletak diatas meja miliknya lalu melihat setiap lembarnya.

"Tidak buruk"gumamnya saat melihat bagan-bagan yang dibuat oleh Zafana.

Zafana terduduk disalah satu tempat duduk yang berada disekitaran kampus menunggu kedatangan Roos. Sejak tadi ia terus menangis karena mendapat ucapan tegas dari Oliver. Sebenarnya ia tidak masalah jika skripsinya kembali dikritik, tapi bisakah cara lelaki itu mengeritik sedikit lembut?

Roos yang melihat bahu Zafana bergetar dari kejauhan itu segera berlari dan duduk disampingnya.

"Lo gak papa?" tanya Roos.

Zafana menoleh, "huaaa..gue sakit hati sama dosen itu, Roos"ucapnya.

Roos panik dan langsung menoleh kesekitarnya, "ssshhhh, dilihatin Na, malu..nangisnya pelan-pelan aja"

Zafana memelankan tangisannya, "gue gak mau ketemu sama dosen itu lagi"

Roos menghela, "pak Oliver Zafana, namanya Pak Oliver"

"Gue gak peduli! Mau siapa kek nama dia, yang penting gue gak mau ketemu sama dia lagi!"jawab Zafana.

"Iya-iya..udah ya nangisnya"

Zafana mengerucutkan bibirnya lalu mengangguk membuat Alea terkekeh melihatnya.

"Cari makan yuk, gue laper nih" ucap Roos.

"Gue juga" jawab Zafana.

"Tapi tadi lo udah makan batagor kan, Na"ucap Ross.

"Gue kan barusan nangis, jadi batagor gue udah ilang"jawab Zafana.

Roos menepuk keningnya, ia bingung dengan tingkah sahabatnya ini yang selalu makan banyak tapi badannya tidak berisi.

"Yaudah lah ayok" ucap Roos sembari bangkit dan menarik lengan Zafana untuk pergi ke kantin.

Malam hari disaat semua orang sudah tertidur, Zafana malah dibangunkan oleh rasa dingin yang menusuk tulang-tulangnya. Tangannya terangkat menyentuh kepalanya yang terasa sangat pusing. Tunggu, sudah berapa jam ia tertidur?

Sepulang dari kampus, Zafana terus saja menangis sampai dirinya tertidur pun ia baru menyadarinya. Ia mengaktifkan ponselnya dan terlihat beberapa pesan bermunculan dari sahabatnya, Roos. Ia memilih tidak menghiraukannya dan turun dari tempat tidur untuk mengambil minum didapur.

"Belum tidur Dek ?"suara berat itu terdengar dari arah ruang tamu.

"Baru bangun"jawab Zafana sembari berjalan kearah Alaska dengan segelas air putih ditangannya.

Alaska menoleh kearah Zafana dan menilik penampilan adiknya yang sangat kacau. Rambut yang acak-acakan, baju yang lusuh dan mata yang sembab.

"Kayak OGB lo"Dek ledek Alaska

"Enak aja!" jawab Rheyna sambil menoyor kepala Alaska.

"Lo nangis Dek?"tanya Alaska Azherkan.

"Iya, karena ulah dosen sok kegantengan itu"jawab Zafana lalu berjalan menuju dapur.

Alaska terkekeh, "makanya kalau ngerjain skripsi tuh tepat waktu"

"Gue udah tepat waktu ya! Emang dasarnya aja tuh dosen rese"jawab Zafana

Alaska tertawa renyah."hati-hati suka"

"Dih? Ogah banget" cibir Zafana sambil bergidik.

"tidur Dek, ps mulu, besok kerja sekalian cari jodoh" lanjutnya sambil duduk disamping kanan Alaska.

"Besok sabtu" Lagian jodoh gue udah ada" jawab Alaska sambil menatap layar televisi didepannya.

"Oh ya? Masa sih Kakak Alaska yang dekil ini punya cewekk?" ledek Zafana.

"Dasar Adik Kurangajar"

Zafana tertawa kemudian menepuk pundak Alaska membuat lelaki itu terlonjat kaget.

"Kalau udah ada ya bawa dong ke rumah, gue sama mama juga kan mau kenal sama cewek Kakak itu" ucap Zafana.

"Nanti gue bawa, gue jamin ada gue pasti insecure sama dia" jawab Alaska

Zafana kembali tergelak, membuat Alaska emosi adalah salah satu hal yang paling ia suka. Karena dengan begitu ia dapat terbebas dari segala macam gangguan yang sering dilakukan oleh Alaska terhadap dirinya.

"Besok anterin Ade ke mall dong, kak"ucap Zafana

Alaska mengangguk dengan mata tetap fokus pada televisi didepannya, "Jam berapa?"

"Gimana besok deh ya, gue juga mau jogging dulu"

"Oke, Dek lari sama siapa?"tanya Alaska.

"Ya biasa lah, Roos"jawab Zafana

Alaska sedikit menghentikan kegiatannya lalu kembali menetralkan detak jantungnya dan hanya mengangguk membuat Zafana kembali diam.

"Yaudah deh, gue balik ke kamar ya"

Alaska lagi-lagi mengangguk membuat Zafana segera kembali ke kamarnya membuat Alaska bisa dengan tenang melanjutkan permainannya.

03

Pagi ini Zafana terbangun dengan tubuh yang terasa pegal. Ia berjalan keluar dengan penampilan dengan mata yang belum terlalu terbuka dan piyama kebesaran yang sangat lusuh.

"Pagi Na"

"Pagi, pa..ma" jawab Zafana lalu terduduk disalah satu kursi meja makan.

"Libur kuliah hari ini?"tanya Damian, papa kandung Zafana. Zafana berdehem lalu menyimpan kepalanya diatas lipatan tangan.

"Lemas banget Na, sakit kamu?"tanya Clara, ibu kandung Zafana.

"Enggak ma, Zafana cuma capek aja kemarin kurang tidur terus gara-gara ngerjain skripsi"jawab Zafana.

"Terus hasilnya gimana?" tanya Clara.

Zafana menghela, ia teringat kembali dengan perlakuan Oliver yang membentaknya kemarin.

"Zafana dibentak sama dosen kemarin" jawab Zafana lalu mengerucutkan bibirnya.

Damian terkekeh, "udah biasa itu Na, buat nguji mental kamu"

"Ya tapi kan papa tau anak papa ini kayak apa, dibentak dikit aja udah langsung ciut" ucap Zafana.

"Makanya jangan manja jadi anak" timpal Alaska.

"Apa sih Ka' berisik banget!"ucap Zafana sebal.

Alaska terkekeh, "Dek ke mall sendiri deh ya, Kaka ada urusan"

"Sepenting apa sih urusan Kakak hah? Janji gak bisa dibatalin!"jawab Zafana . "Dek tapi----" "Lalalalalala....intinya gak.bisa.batal!"potong Zafana lalu meneguk habis segelas susu yang sudah dibuatkan oleh Calara lalu berlari kembali ke kamarnya.

"Zafana ngapain ke kamar lagi? Sarapan dulu sini!"teriak Clara.

"Zafana mau siap-siap dulu mau jogging sama Roos!"jawab Zafana balik berteriak.

Sabtu pagi ini Zafana dan Roos sudah berjanji untuk berolahraga bersama, bahkan Roos sudah menunggu Zafana sejak lima menit lalu dan sebenarnya ia mempunyai janji pada seseorang, tapi janji itu tiba-tiba saja dibatalkan sepihak oleh orang itu.

"Maaf gue telat"ucap Zafana yang baru saja datang dengan napas terpengangah.

"Iya gak papa, udah biasa kok lo telat, yang gak biasa itu kalau gue yang telat" jawab Roos sambil tersenyum memperlihatkan gigi putih dan rapinya.

"Bacot lo" cibir Zafana lalu ikut duduk disamping sahabatnya. "Lesuh banget sih lo, masih galau?"tanya Roos.

Zafana kembali mengingat kejadian dimana ia dibentak oleh pria itu.

"kayaknya gue bakalan jadi mahasiswi abadi deh, Roos. Dan bakalan ketemu sama dosen itu lagi"jawabnya dengan suara lesuh.

"Jangan ngomong gitu lah! Emang lo mau jadi mahasiswa abadi?" tanya Roos tidak percaya dan Zafana hanya mengangkat bahunya.

"Ya mau gimana lagi, kan lo tau sendiri itu dosen kayak apa. Dan gue juga bilang apa, itu dosen tuh ngeselin tau gak?! Kerjaannya bikin mahasiswanya benci aja gitu sama dia"cibir Zafana.

"GWS ya Zafana, padahal mahasiswa lain bilang kalo dia ganteng, lo doang yang bilang dia ngeselin"ucap Roos membuat Zafana menghela panjang.

"Roos, lo tau gak kemarin ada kasus mahasiswa bunuh diri karena frustasi temenan sama babi?" Zafana bertanya dengan sorot mata yang sayu namun tajam membuat Roos mengerjap lalu menyegir. 

"Hehehe, bercanda kok Na" jawab Roos sambil mengusap bahu Zafana.

Keduanya terdiam, sibuk dnegan pikiran masing-masing hingga mereka lupa dengan tujuan awal mereka bertemu.

"Enzi, jangan lari-lari!"

Pandangan keduanya teralih pada seorang gadis yang sedang mengejar anak kecil laki-laki. Anak kecil itu berlari kearah Zafana lalu memeluk kakinya dengan erat membuat Zafana sedikit terkejut.

"Mami" gumam anak itu.

Roos yang mendengar itu sontak menatap sahabatnya dengan penuh tanda tanya.

"Enzi jangan nakal dong!" gadis perempuan yang mengejar bocah laki-laki itu menarik tangannya secara paksa hingga terlepas dari kaki Zafana.

"Maaf ya kak, keponakan saya nakal" ucapnya sambil berjalan menghampiri Enzi, anak lelaki dengan mata bulat dan pipi gempal.

Zafana tersenyum."iya gak papa, namanya juga anak kecil" jawab Zafana.

"Hehe, iya kak"

"Enzi, ayo itu papa udah nungguin dimobil" bujuk gadis itu sambil mengangkat tubuh Enzi kedalam gendongannya.

Enzi pun menurut dan langsung berhambur ke gendongan gadis itu. Matanya tak henti memandangi Zafana meski sudah berada didalam mobil dengan jendela yang sedikit terbuka.

Mobil itu segera beranjak dan Enzi melambaikan tangannya pada Zafana dengan senyuman yang menggemaskan.

"Kok lucu ya, dia tiba-tiba meluk lo dan manggil lo mami" celetuk Roos yang juga memperhatikan Enzi.

Zafana menghela, "pasti lo lagi mikirin drama"

Roos terkekeh lalu matanya beralih menatap mobil yang membawa Enzi.

"eh gue kayaknya kenal deh sama mobil itu, lo tau gak?"tanyanya.

"Orang tuanya kali" jawab Zafana asal sambil membenarkan ikatan rambutnya.

"Bukan gitu, tapi lo ngerasa pernah lihat mobil itu gak?"tanya Roos sekali lagi.

"Mana gue tau, Roos"jawab Zafana lalu berdiri."ayo, keburu siang"

lanjutnya lalu keduanya berlari pelan mengitari taman itu diikuti Roos disampingnya.

Mereka berolahraga tidak jauh dari komplek tempat mereka tinggal.

Enzi Geano Alveric dan Aileen Giano Alveric, adalah anak berusia 3tahun dengan kelucuan yang tidak manusiawi. Keduanya lahir dihari dan jam yang sama. Ya, mereka kembar.

Anak dari Oliver Gio Alveric dan Casandra Brown.

3 tahun lalu istrinya meninggal, tepat saat hari persalinannya Membuat Oliver harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi si kembar. Oliver memang sosok yang dingin, tapi dibalik itu semua, Oliver adalah sosok yang baik hati dan penyayang terhadap kedua anak dan orang tuanya.

Mengurus dua anak kembar yang tidak sejenis itu merepotkan baginya, meski ia baru saja memilih untuk benar-benar merawat mereka. Biasanya Enzi dan Aileen bisa bertemu dengan Oliver dihari libur saja, itupun tidak pernah lama karena Oliver selalu mengerjakan pekerjaan kantor setelahnya.

Oliver menghentikan mobilnya saat sudah memasuki pekarangan rumah orang tuanya.

"Bang, mobil siapa tuh?" tanya Aqila, adik ipar Oliver saat melihat mobil sedan berwarna merah dihalaman rumah Rina.

"Sintya kayaknya" jawab Alvano singkat lalu membuka seatbelt miliknya.

"Papa, bukainnn" ucap Aileen yang kesulitan membuka seatbelt

Oliver dengan sigap membukakan nya untuk Aileen lalu menggendongnya keluar dari mobil diikuti Aqila yang menuntun Enzi.

Mengenai Sintya, dia adalah wanita yang berstatus sama seperti Oliver tapi dia tidak mempunyai anak. Oliver mengenalnya 2bulan lalu saat orang tuanya meminta mereka untuk menikah sama seperti permintaan Rina pada Oliver dan Kirana.

Perbedaannya Kirana sama sekali belum pernah menikah dan Sintya sudah.

Meskipun yang dikenalkan pada Oliver adalah gadis-gadis cantik dan mempunyai karrier yang bagus tapi tidak sedikitpun Oliver berminat untuk menerima perjodohan itu. Ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama setelah ia gagal satu kali dalam pernikahannya dengan Casandra yang berujung pada seebuah penyesalan yang hebat.

Pintu rumah yang sedikit terbuka membuat Oliver dan Aqila langsung masuk kedalam. Oliver menurunkan Aileen dan langsung menyuruhnya masuk kedalam kamar bersama Enzi dan Aqila.

"Itu, Oliver sudah pulang"ucap Rina saat melihat Oliver berjalan kearah mereka.

"Mas pulang olahraga?"tanya Sintya dengan senyuman manis diwajahnya.

"Gak lihat saya pakai celana training?" tanya balik Oliver, Dan satu lagi, jangan sebut saya dengan sebutan itu, saya muak dengar kamu panggil saya seperti itu!" lanjutnya.

"Kok mas begitu? Sebulan lagi kita menikah mas!" jawab Sintya.

"Menikah dengan siapa? Saya? Memang saya ada menerima perjodohan konyol ini? Saya rasa tidak"

"Tapi mas"

"Oliver! Kamu jangan seperti itu, dia wanita baik-baik" tegas mamanya, Rina Ambara.

"Semua perempuan yang mama kenalin sama Oliver juga mama sebut mereka wanita baik-baik, kan?" sarkas Oliver.

"Ma udah, mungkin mas Oliver memang belum siap"ucap Sintya meredakan emosi Rina.

"Sampai kapan pun saya tidak akan siap sama kamu" jawab Oliver kamudian berlenggang pergi.

Ini yang tidak Oliver suka jika harus tinggal bersama orang tuanya. Keributan setiap hari pasti terjadi hanya karena permasalahan yang sama.

Apa salahnya jika belum siap untuk kembali berkeluarga?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!