Dentang lonceng gereja menggema pelan, menyatu dengan alunan orkestra yang memenuhi aula megah di pinggiran Kota Florence. Ratusan tamu dari kalangan pengusaha, politikus, bangsawan, hingga para petinggi dunia bawah duduk rapi di kursi mereka. Tidak ada yang berani berbicara terlalu keras. Semua memahami bahwa pernikahan hari ini bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan peresmian aliansi antara dua keluarga yang selama puluhan tahun menjadi kekuatan besar di dunia bisnis internasional.
Di ujung lorong gereja, para wartawan hanya diizinkan mengambil gambar dari kejauhan. Tak seorang pun diperbolehkan mendekati altar. Pengamanan begitu ketat hingga setiap tamu harus melewati tiga lapis pemeriksaan.
Hari ini, pewaris keluarga Theo, Dante Theo, akan menikahi putri sulung keluarga Milano, Alessia Milano.
Di atas kertas, pernikahan itu tampak sempurna.
Keluarga Theo menguasai jalur distribusi dan investasi di Eropa. Sementara keluarga Milano adalah konglomerat Asia yang tengah memperluas bisnisnya ke pasar Barat. Pernikahan ini akan menggabungkan dua kerajaan bisnis dengan nilai investasi miliaran dolar.
Namun, hanya sedikit orang yang tahu bahwa calon pengantin pria dan wanita tidak pernah bertemu sebelum hari ini. Bagi mereka berdua, cinta bukanlah syarat mutlak terjadinya sebuah pernikahan. Kesepakatan keluarga jauh lebih penting. Seperti kata pepatah cinta tidak bisa dimakan.
Dante Theo, pria dingin dan berhati keras itu sudah berdiri di depan altar. Setelan jas hitam yang dikenakannya dijahit khusus oleh penjahit terbaik di Milan.
Wajahnya tampan dengan rahang tegas, tetapi ekspresinya sedingin marmer. Kedua tangannya terlipat di depan tubuh, sementara sepasang mata abu-abunya menatap lurus ke pintu utama gereja. Ia tidak terlihat gugup. Ia juga tidak terlihat bahagia. Pernikahan ini baginya tak lebih dari sekedar eksekusi perjanjian bisnis yang perlu dituntaskan.
Seolah apa yang akan terjadi beberapa menit lagi hanyalah satu agenda dalam daftar panjang pekerjaannya.
Di bangku paling depan, sang kakek yang juga kepala keluarga Theo memperhatikan cucunya dengan puas. Senyum mengembang di bibirnya.
"Dante tidak pernah mengecewakan keluarga," gumam pria tua itu. Setelah pernikahan besar ini, Dante akan mengambil alih kedudukan nya sebagai kepala keluarga Theo.
Para tetua keluarga mengangguk setuju. Sepanjang hidupnya, Dante selalu melakukan dan mempertimbangkan apa yang terbaik bagi keluarga besar mereka. Nyaris kesepakatan bisnisnya tak pernah mengalami kerugian. Ia adalah dewa fortuna mereka.
Pernikahan ini juga bagian dari langkah terakhir, sebelum kontrak kerja sama lintas benua resmi ditandatangani malam nanti. Karenanya tidak boleh ada kesalahan.
Di sisi lain bangunan, ruang rias pengantin dipenuhi kepanikan.
"Di mana Nona Alessia?" Seorang penata rias berlari keluar ruangan dengan wajah pucat. Ia mencari-cari Alessia Milano dengan panik.
Seorang pelayan memberitahukan padanya sudah tidak ada seorangpun di ruangan rias itu.
"Apa maksudnya tidak ada?" tanya penata rias itu pada pelayan yang berdiri di depannya.
"Bagaimana mungkin Nona Alessia tidak ada? Gaunnya masih di sini, tapi orangnya hilang," celoteh perias itu kehilangan semangat hidup. Ia lalai menjaga pengantin wanita keluarga besar Theo. Hidupnya sebentar lagi mungkin akan tamat.
Suasana langsung membeku.
"Hilang?" suara kepanikan makin menjadi riuh di dalam ruangan.
"Padahal aku baru keluar lima menit mengambil buket bunga. Saat kembali Nona Alessia sudah tidak ada."
Semua orang saling berpandangan. Seorang pengawal segera memeriksa seluruh lorong.
"Kunci semua pintu!" perintah suara yang terdengar paling keras. Itu sepertinya suara kepala pengawal pribadi Tuan besar Milano.
"Tidak ada seorang pun yang boleh keluar dari tempat ini!" serunya lagi lebih tegas.
Puluhan pengawal bergerak serempak menyisir seluruh penjuru bangunan. Lima menit kemudian, salah satu dari mereka kembali dengan napas memburu.
"Jendela belakang terbuka."
Pengawal yang sama berkata lagi, "Mobil hitam yang diparkir juga sudah tidak ada."
Ruangan mendadak sunyi. Semua orang memahami arti laporan itu. Alessia kabur.
Di ruang VIP, Victor Milano meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Apa maksud kalian belum menemukannya?" bentaknya.
"Maaf, Tuan." Tidak ada seorangpun yang berani menatap balik tuan besarnya. Mereka ketakutan. Tubuh mereka berkeringat dingin.
"Kami sudah mengejar ke jalan utama," kata pengawal pertama yang ditimpali oleh pengawal kedua, "Tetap tidak kami temukan jejak Nona Alessia."
Victor memejamkan mata. Dadanya naik turun menahan amarah.
Putri sulungnya benar-benar menghancurkan semua rencana yang telah ia susun bertahun-tahun.
Pintu ruangan terbuka. Seorang pria tua dari keluarga Theo masuk ditemani dua pengawal.
"Kami mendengar ada masalah."
Victor langsung berdiri.
"Berikan kami sedikit waktu."
Pria tua itu menatapnya tanpa senyum.
"Apakah calon menantu kami melarikan diri?"
Tidak ada jawaban. Giliran Victor yang menundukkan kepala kali ini. Ia benar-benar dibuat kehilangan muka oleh kelakuan putri sulungnya.
Keheningan di ruangan itu telah menjadi jawaban paling jelas.
Tatapan pria tua itu berubah dingin.
"Apakah keluarga Milano hendak mempermainkan kami?"
"Tidak. Tentu Tidak." Victor buru-buru menggeleng.
"Kalau begitu, temukan putrimu." Jeda. Pria tua itu memicingkan mata. Pupilnya menatap tajam bak anak panah ke kepala keluarga Milano.
"Upacara dimulai dua puluh menit lagi." Ucapan terakhirnya ini bukan ancaman. Ini peringatan. Ia harap keluarga Milano tahu apa yang harus dilakukan.
Setelah mengatakan itu, pria tua itu melangkah pergi.
Sementara itu...
Di sebuah kafe kecil yang berjarak hampir tiga puluh kilometer dari gereja, seorang gadis muda sedang menikmati secangkir cokelat hangat sambil membaca novel elektronik di tabletnya. Namanya Ara Milano. Ia adik kandung Alessia.
Berbeda dengan kakaknya yang sejak kecil telah disiapkan menjadi penerus perusahaan ayahnya, Ara lebih memilih bekerja di divisi desain kreatif perusahaan kecil di kota itu. Ia menghindari sorotan media dan hampir tidak pernah menghadiri pesta kalangan elite.
Seperti hari ini ia sebenarnya juga tidak ingin datang. Tapi bagaimanapun ini adalah hari besar kakaknya. Ia diminta hadir sebagai pengiring pengantin. Namun Alessia semalam sempat menelepon dan berkata, "Datang agak siang saja. Aku ingin menikmati waktu bersama Mama sebelum upacara."
Karena itulah Ara saat ini belum tiba di gereja. Ia berencana baru akan datang setelah upacara digelar atau janji nikah dikumandangkan. Tokh, itu juga tidak berarti apapun baginya.
Ia masih sibuk membaca ketika ponselnya tiba-tiba bergetar. Layar menampilkan nama ayahnya.
"Papa?"
Suara di seberang terdengar berat.
"Di mana kamu sekarang?"
"Masih di kafe."
"Segera ke gereja."
"Acaranya belum selesai, kan?"
"Datang sekarang."
Nada bicara Victor membuat Ara mengernyit.
"Apakah terjadi sesuatu?"
"Tidak usah bertanya. Dalam sepuluh menit kamu harus sudah sampai."
Sambungan teleponnya langsung terputus.
Ara menatap layar ponselnya dengan bingung. Ayahnya tidak pernah berbicara sekeras itu.
Tanpa membuang waktu, ia segera meninggalkan kafe. Ia sama sekali belum tahu jika dalam beberapa menit ke depan, hidupnya akan berubah selamanya.
Di gereja, Dante menahan emosi, ia melirik jam tangannya. Sepuluh menit telah berlalu. Pengantin wanita tak kunjung muncul. Bisik-bisik mulai terdengar di antara para tamu. Lagu pernikahan mulai mengalun kembali.
"Kenapa belum dimulai?" suara kasak kusuk salah satu tamu terdengar.
Salah satu pengawal mendekati Dante dan membisikkan sesuatu. Ekspresi pria itu tidak berubah sedikit pun. Namun udara di sekelilingnya seakan langsung membeku. Aura membunuhnya terasa lebih kuat dari sebelumnya.
"Dia kabur?"
Pengawal itu menundukkan kepala.
"Iya, Tuan."
Dante hanya mengembuskan napas pelan. Ia hanya berbalik menghadap jendela gereja, menatap langit kota yang mulai diselimuti awan kelabu.
Di belakangnya, para tetua keluarga Theo mulai berdiskusi dengan wajah suram. Jika pernikahan batal, bukan hanya harga diri keluarga mereka yang dipertaruhkan. Kontrak kerja sama senilai miliaran dolar juga akan gugur. Aliansi dua keluarga bisa berubah menjadi permusuhan. Bahkan tidak mustahil, menjadi malam pembantaian.
Dan ketika dua keluarga sebesar Theo dan Milano berubah menjadi musuh, akibatnya bisa sangat fatal. Dunia bisnis internasional akan ikut terguncang.
Mereka, dua keluarga besar masuk ke dalam ruang rapat tertutup. Di dalamnya, keputusan yang akan mengubah nasib seseorang mulai dibahas.
Sepuluh menit kemudian...
Di halaman gereja, Ara baru saja menginjakkan kaki, tanpa menyadari semua tatapan perlahan beralih kepadanya. Terutama tatapan keluarga besar Milano nya. Dan di balik pintu kayu besar gereja, takdir yang tak pernah ia bayangkan sedang menunggunya.
***
Ruang rapat kecil di belakang gereja berubah menjadi tempat paling mencekam. Tidak ada senyum ramah ataupun sapaan sopan yang lazimnya terlihat di hari pernikahan. Hanya tersisa wajah-wajah tegang dan tatapan penuh tuntutan.
Victor Milano berdiri di depan meja panjang dengan kedua tangan mengepal. Di sampingnya, sang istri, Clara Milano, tampak pucat. Sementara di seberang mereka duduk tiga tetua keluarga Theo.
"Putri sulung Anda telah mempermalukan keluarga kami." Suara Lukas Theo menyerang. Ia adalah salah satu anggota senior di keluarga Theo.
Victor mengembuskan napas panjang. "Kami akan bertanggung jawab."
"Bagaimana caranya kau akan bertanggungjawab?" tuntut Ardo Theo sesepuh lainnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi.
Keheningan memenuhi ruangan.
Kontrak kerja sama lintas benua yang telah dinegosiasikan selama bertahun-tahun bergantung pada pernikahan ini. Para investor, media, dan keluarga-keluarga sekutu telah hadir. Karenanya tidak mungkin pernikahan ini dibatalkan. Apalagi jika harus membatalkan upacara pernikahan ini beberapa menit sebelum dimulai. Bukankah itu artinya sama saja dengan mengumumkan kepada dunia bahwa aliansi mereka telah gagal.
Victor memejamkan mata beberapa detik, sebelum berkata, "Kami masih memiliki seorang putri."
Tatapan seluruh orang menjadi lebih serius beralih kepada Victor.
Di luar ruangan, Ara baru saja memasuki gereja ketika dua orang pengawal menyambutnya.
"Nona Ara, Tuan Victor meminta Anda ikut kami."
"Papa?"
Ia belum sempat bertanya lebih jauh, kedua pengawal itu sudah membawanya menuju ruang rapat.
Begitu pintu terbuka, ia langsung menyadari ada sesuatu yang sangat tidak beres. Ayahnya tampak kacau. Ibunya tampak membeku kehilangan semangat hidup. Seolah mereka baru saja membuat keputusan besar atau mengorbankan seseorang.
Itu juga pertama kalinya Ara melihat salah satu senior Keluarga Theo dari jarak dekat. Lukas Theo. Pria itu jauh lebih tinggi daripada yang ia bayangkan. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi, matanya dingin, dan aura yang dipancarkannya membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama.
Lukas adalah kakak tertua dari Dante. Ia dituakan di keluarga Theo. Tetapi ia bukan kepala keluarga Theo. Dante lah yang sedang mereka bicarakan yang memegang mandat sebagai kepala keluarga Theo.
Ara melirik sekilas ke arah Lukas sebelum kembali memandang lurus ke depan.
"Ada apa ini?" tanya Ara pelan.
Victor menjawab dengan suara berat, "Alessia kabur."
Arabelle membelalak.
"Mustahil," katanya setengah tak percaya. Bagaimana bisa kakaknya yang ambisius itu rela meninggalkan dan melepaskan jabatan penerus perusahaan dan kabur begitu saja tanpa penjelasan.
"Kami sudah mencarinya. Dia benar-benar pergi. Kami tidak bisa menemukannya." Suara Clara terdengar sangat tertekan.
"Cari lagi. Kita harus terus mencarinya sampai ketemu," sahut Ara menggebu-gebu.
"Tidak sempat. Pernikahan sudah di depan mata." Suara Clara lemah, seolah ingin menangis.
"Kenapa tidak kita tunda dulu saja pernikahan ini. Kita cari hari baik lainnya." Ara mengusulkan apa yang ada dalam pikiran polosnya.
BRAKKKK!! Meja digebrak sangat keras. "Kau pikir pernikahan ini mainan?" bentak Lukas yang kehilangan kendali.
"Bukan begitu maksudku. Jangan marah. Bagaimanapun kakak perempuanku telah kabur. Bukankah seharusnya kita harus menemukannya dulu, baru kemudian kita bisa melangsungkan upacara pernikahan ini?" terang Ara panjang lebar.
"Tenanglah. Kami keluarga Milano tak akan ingkar janji. Upacara pernikahan ini akan tetap dilanjutkan," putus Victor menengahi.
Belum sempat Ara mencerna semuanya, Victor kembali berbicara.
"Kamu yang akan menggantikan kakakmu."
Ara merasa pendengarannya salah. "Apa?" ulangnya. Dunianya seakan berhenti berputar mendengar kata-kata ayahnya barusan.
"Kamu yang akan menikah dengan Dante." Victor Milano tak memberi ruang bagi putri bungsunya untuk pura-pura bodoh atau pura-pura tak mendengar.
"Tidak!!" Jawaban itu keluar spontan dari mulut Ara. Ia jelas menolaknya.
Penolakan itu mengagetkan seluruh aula. Karena selama ini tidak ada yang berani menolak Dante Theo secara terbuka.
"Kamu putriku, kamu yang harus menikah!" tegas Victor tak berkompromi.
"Tidak!" protes Ara memperjuangkan nasibnya. "Aku bahkan tidak mengenalnya!"
Victor menghantam meja. "Ara Milano!" Suara ayahnya menggema di seluruh ruangan. "Kamu tahu apa yang dipertaruhkan hari ini?"
Ara menggigit bibir. "Aku tahu. tapi ini juga hidupku."
Clara menggenggam tangan putrinya. "Sayang, tolonglah Mama. Tolonglah keluarga kita." Air mata mulai menggenang di pelupuk mata ibunya.
"Kalau pernikahan ini batal, bukan hanya kerja sama bisnis yang hancur. Kepercayaan semua mitra akan runtuh. Ribuan karyawan bisa kehilangan pekerjaan. Keluarga kita juga akan menjadi bahan tertawaan."
Ara menatap ibunya dengan tatapan nanar tak percaya. "Lalu aku? Bagaimana denganku?"
"Pikirkanlah, tidak akan ada hal baik yang akan terjadi jika pernikahan ini hancur. Bahkan bukan tidak mungkin jika keluarga kita bakal lenyap." Clara masih berusaha membujuk putri bungsunya.
Semua orang mengabaikan penolakan Ara. Keputusan itu tidak dapat ditawar lagi. Itu harga yang harus dibayar keluarga Milano. Harga yang harus ia bayar, karena ia putri ayahnya.
Di sudut ruangan, Dante yang baru masuk berbicara. "Aku tidak keberatan."
Semua mata beralih kepadanya. "Siapa pun putri keluarga Milano yang menikah denganku, hasilnya tokh masih sama."
Kalimat itu terdengar datar. Tidak kejam. Tetapi juga tidak menyisakan sedikit pun kehangatan.
Bagi Dante, pernikahan hanyalah bagian dari kesepakatan. Pengantinnya hanyalah nama di dalam kontrak. Entah Alessia atau Ara Milano, tidak ada bedanya.
Anehnya, justru sikap itu membuat Ara semakin kesal. "Semudah itu?"
"Sesederhana itu." Dante sengaja mengoreksi perbendaharaan kata Ara yang kurang tepat.
Ara sungguh tak berdaya, ia tersudut dan digiring memilih pernikahan yang tak ia inginkan ini. Ia dibawa paksa masuk ke ruang rias.
Beberapa penata rias segera bekerja. Gaun yang tadinya disiapkan untuk Alessia mulai disesuaikan dengan ukuran tubuhnya. Kerudung panjang dipasang. Perhiasan dikenakan. Semuanya berlangsung begitu cepat hingga Ara bahkan tidak sempat memprotes lagi.
Saat semua orang sibuk, pikirannya justru bekerja jauh lebih cepat. Kalau Alessia bisa kabur, kenapa aku tidak?--pikirnya. Ia menyesal kenapa hari ini ia harus datang ke pernikahan kakaknya.
Ia melirik jendela. Jendela terlalu tinggi letaknya dari halaman gereja. Ia tidak mungkin melompat dan meresikokan kakinya patah. Pintu belakang juga dijaga ketat dua pengawal. Lorong samping penuh keluarga.
"Sial," umpatnya menggeram. Ia menarik napas panjang. Tenang dulu, Ara.---gumamannya membatin. Kalau sekarang ia nekat kabur, pasti langsung tertangkap. Mereka baru kehilangan Alessia. Ini tidak akan semudah membalikkan telapak tangan menyusun rencana pelariannya.
Pikirnya--ikuti saja semua prosesi pernikahan ini. Jangan membuat mereka curiga. Ia akan menunggu waktu yang tepat baru pergi.
Ara mengangkat wajah dan menatap ke cermin. Seperti kata pria tak berperasaan itu, tokh tidak ada bedanya apakah aku atau Alessia yang menikah dengannya. Ini hanya pernikahan di atas kertas.
Musik gereja kembali dimainkan. Pintu besar perlahan terbuka. Semua tamu berdiri.
Ara menggenggam buket bunga begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Selangkah demi selangkah ia berjalan menyusuri lorong yang seharusnya dilewati kakaknya.
Di ujung altar, Dante berdiri menunggu. Tatapan mereka akhirnya bertemu. Tidak ada senyum. Tidak ada rasa gugup layaknya sepasang calon pengantin. Yang ada hanyalah dua orang asing yang sama-sama dipaksa menjalani sebuah pernikahan.
Ketika Ara tiba di hadapannya, pendeta mulai memimpin upacara. Sampai pada saat kerudung pengantin harus dibuka, suasana mendadak khidmat.
Dante mengangkat kerudung putih itu perlahan. Wajah Ara terlihat lebih jelas dari dekat. Untuk sesaat, ia terpaku. Bukan karena jatuh cinta. Melainkan karena gadis di depannya menatap lurus ke arahnya tanpa rasa takut. Tatapan itu justru lebih mirip kekesalan dan kemarahan tertahan.
Ara seolah membalas tatapannya sembari berkata, "Jangan salah paham. Aku juga tidak menginginkan pernikahan ini."
Entah mengapa, sudut bibir Dante hampir bergerak. Namun akhirnya keduanya kembali datar.
Upacara selesai. Tepuk tangan bergema. Lampu kilat kamera memenuhi gereja. Semua orang tersenyum seolah tidak pernah ada kekacauan sebelumnya.
Ara ikut menjalani sesi foto. Ia ikut menghadiri jamuan makan. Ia juga menyapa tamu. Bahkan ia mengangkat gelas untuk bersulang. Ia duduk berdampingan dengan Dante di meja utama. Ia benar-benar memainkan perannya dengan sangat baik.
Dari luar, mereka tampak seperti pasangan sempurna. Padahal di balik senyum tipis yang dipaksakan, Ara terus mengamati keadaan. Jumlah pengawal. Pintu keluar. Letak mobil. Posisi kamera pengawas.
Malam makin larut. Semakin malam, para tamu satu per satu juga pulang.
Konvoi mobil pengantin akhirnya bergerak menuju kediaman keluarga Theo. Ara duduk di kursi belakang bersama Dante. Perjalanan berlangsung hampir satu jam. Tak satu pun dari mereka berbicara. Hanya suara mesin mobil yang menemani.
Sesekali Ara melirik ke luar jendela, mencoba menghafal jalan yang mereka lewati. Setidaknya ia akan tahu kemana arah yang dapat membawanya kembali ke pusat kota.
Malam telah turun sepenuhnya ketika mereka tiba di mansion keluarga Theo. Rumah itu lebih menyerupai istana daripada tempat tinggal. Puluhan pelayan sudah berbaris menyambut.
Ara kembali memainkan perannya. Ia tersenyum simpul dan menyapa. Semua dilakukan tanpa cela. Namun, dalam hati ia menghitung waktu. Sebentar lagi ---batinnya bersabar.
Setelah prosesi penyambutan selesai, seorang pelayan mengantar Ara ke kamar pengantin yang telah dipersiapkan. Ruangan itu luas, elegan, dan dipenuhi bunga putih.
Pintu ditutup dari luar. Mereka membuat Ara sendirian.
Begitu sendiri, ia segera melepaskan gaun pengantin nya yang berat. Ia menggantinya dengan pakaian yang lebih sederhana yang ia temukan di kamar.
Ia mendekati balkon lalu melihat ke bawah. Taman belakang terlihat jauh lebih sepi dibanding halaman depan. Beberapa lampu taman menyala redup. Hanya ada dua pengawal yang berpatroli. Jauh lebih sedikit daripada siang tadi di gereja.
Jantung Ara berdegup lebih kencang. Inikah kesempatannya. Ia menoleh ke arah pintu kamar.
Menurut jadwal yang didengarnya, Dante masih berada di ruang kerja bersama para tetua keluarga. Itu artinya ia memiliki sedikit waktu.
Ara menarik napas dalam-dalam. Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu balkon, melangkah keluar ke udara malam yang dingin, lalu mulai mencari jalan turun, sebelum sang pengantin pria sempat memasuki kamar mereka.
***
Malam telah melewati pukul sebelas. Udara musim semi yang sejuk berembus pelan di halaman belakang Kediaman Theo. Cahaya bulan menerangi taman luas yang dipenuhi pepohonan cemara. Air mancur mengalir tenang. Dari kejauhan, suara tawa para tetua yang masih berada ruang kerja Dante belum memudar.
Ara berdiri di balkon lantai dua dengan napas tertahan. Ia menggenggam pagar besi sambil menatap ke bawah.
"Terlalu tinggi," gumamnya.
Ia mengamati dinding mansion. Sulur tanaman rambat menghiasi salah satu sisi bangunan. Tidak cukup kuat untuk menopang seluruh berat tubuhnya, tetapi cukup sebagai pijakan.
"Aku tidak punya pilihan."
Ia melepaskan sepatu hak tingginya, mengikat bajunya agar lebih mudah bergerak, lalu memanjat pagar balkon. Tangannya mulai terasa perih saat bergelantungan di tepian balkon.
Ia melompat ke semak-semak. Ranting-ranting patah menahan suara jatuhnya. Ia meringis sambil mengusap siku yang lecet. Belum sempat ia berdiri tegak—
"Siapa di sana?" Suara seorang penjaga membuat darah pada tubuh Ara serasa berhenti mengalir.
Senter penjaga menyala.
Ara langsung merunduk di balik semak.
"Tadi sepertinya ada suara. Dari arah taman." kata penjaga itu bergumam sendiri. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dua pengawal berjalan mendekat. Ara menahan napas. Senter mereka semakin dekat. Tiba-tiba terdengar suara lain dari arah depan mansion.
"Tuan Dante mencari kalian!"
Kedua pengawal itu saling berpandangan.
"Ayo," ujar yang satu kepada yang lain. Mereka berdua berbalik meninggalkan taman.
"Nyaris saja," gumam Ara berdegup kencang.
Di ruang kerja, Dante baru saja menandatangani dokumen terakhir kerja sama bisnis. Lukas Theo menepuk bahunya.
"Mulai malam ini kau bukan hanya kepala keluarga Theo. Tetapi juga seorang suami."
Dante hanya mengangguk tipis. "Aku akan ke kamar dan melihat istriku." Ia berjalan melewati lorong panjang menuju lantai dua.
Begitu membuka pintu kamar, ruangan kosong. Tempat tidur masih rapi. Gaun pengantin tergeletak di sofa kamar.
Pintu balkon terbuka. Angin malam meniup tirai putih.
Dante menghampiri balkon. Tatapannya langsung jatuh ke sepasang sepatu hak tinggi yang tertinggal di depan balkon.
Ia tersenyum tipis.
"Bukan hanya kakaknya, adiknya juga suka kabur."
Ia menekan tombol interkom. "Luca."
Suara tangan kanannya langsung terdengar.
"Ya, Tuan."
"Tutup semua gerbang. Cari Nyonya muda. Jangan biarkan dia keluar dari area mansion."
"Baik."
Kurang dari dua menit kemudian. Sirene pendek berbunyi tiga kali. Seluruh pengawal bergerak. Gerbang utama ditutup. Lampu taman dinyalakan. Anjing pelacak mulai dilepas.
Ara yang sedang berlari di balik pepohonan langsung membeku.
"Astaga, Mereka cepat sekali menemukan aku kabur." Ia segera bersembunyi di balik patung batu.
Puluhan pengawal kini menyisir taman.
"Periksa rumah kaca! Kolam renang juga! Jangan lewatkan gudang!"
Ara menggigit bibir. "Aku benar-benar terkurung." Tapi ia belum menyerah. Ia terus bergerak memanfaatkan gelapnya malam. Sesekali berlari. Sesekali merangkak di balik semak. Beberapa kali nyaris tertangkap.
Saat melewati rumah kaca, ia menemukan pintu kecil menuju kebun anggur. Matanya berbinar. Ia mempercepat langkah.
Sayangnya—Seekor anjing penjaga menggonggong keras.
"Aduh!" Ara spontan berlari.
"Dia di sana!" Suara pengawal bergema.
"Sisi timur!" Suara pengawal lain menyahut.
Detik berikutnya, kejar-kejaran dimulai.
Ara berlari sekuat tenaga di antara deretan pohon anggur. Napasnya mulai memburu. Sepatu sudah ia tinggalkan. Kakinya beberapa kali menginjak kerikil tajam. Namun ia tak berani berhenti.
Di belakangnya terdengar langkah kaki semakin dekat.
"Lewat kanan!"
"Kepung!"
Ara berbelok mendadak. Ia melompati pagar kecil.
Salah satu pengawal kehilangan keseimbangan dan jatuh.
"Dia gesit sekali."
Di ruang kontrol keamanan. Puluhan layar CCTV menampilkan seluruh area mansion. Luca berdiri memperhatikan monitor.
"Nyonya muda menuju sektor timur."
Dante yang baru datang ikut melihat. Di layar tampak Ara berlari sambil sesekali menoleh ke belakang.
Dante tersenyum kecil.
"Perlu kami tangkap?" tanya Luca.
Dante menggeleng. "Biarkan saja dulu. Buat ia lelah. Kalian cukup halangi jalannya."
Ia menunjuk layar. "Gadis itu belum mengenal wilayah mansion ini. Ia tak akan bisa pergi."
Namun Dante salah. Ara ternyata cukup cerdas. Ia sengaja berlari berputar-putar. Kadang ia sengaja menuju utara. Lalu ia berbalik ke selatan. Sesekali masuk gudang. Bahkan keluar lewat jendela. Atau naik ke loteng. Tak lama kemudian ia turun lagi.
Beberapa pengawal mulai kelelahan.
"Dia manusia atau tupai?"
"Kenapa sulit sekali ditangkap?"
Pukul satu dini hari. Ara berhasil masuk ke garasi belakang. Di sana berjajar belasan mobil mewah.
Ferrari.
Rolls-Royce.
Bentley.
Lamborghini.
Matanya berbinar. Ia membuka pintu satu demi satu mobil. Siapa tahu ada yang tidak terkunci. Tapi tebakannya salah. Semua mobil terkunci.
"Sial..."
Suara langkah kaki kembali terdengar. Ia buru-buru bersembunyi di bawah truk logistik.
Dua pengawal masuk.
"Sudah diperiksa?"
"Belum."
Senter mereka menyapu lantai. Cahayanya hampir mengenai wajah Ara. Untung saja salah satu pengawal menerima panggilan radio.
"Tim barat menemukan jejak."
"Ayo."
Pukul tiga pagi.
Ara mulai kelelahan. Perutnya lapar. Kakinya lecet. Bajunya kotor penuh lumpur. Tapi gerbang utama masih belum berhasil ia capai. Ia akhirnya menemukan dapur luar yang kosong.
"Setidaknya, aku makan dulu."
Ia mengambil sepotong roti dan sebotol air.
Baru satu gigitan—Klik. Pintu terbuka.
Seorang koki masuk. Mata mereka saling bertemu.
"Nyonya?" ujar koki itu kaget. Ia kira tadi tikus yang menyusup masuk dapur.
Ara langsung meletakkan telunjuk jari pada bibirnya. "Ssst!"
Koki itu mengangguk bingung.
Lima detik kemudian, tetap saja koki itu menekan tombol alarm.
"Maaf, Nyonya," katanya sungguh-sungguh.
Ara membelalak. "Kau serius?" Ia kembali kabur sambil membawa rotinya.
Pukul empat pagi. Langit mulai berubah kebiruan. Kabut tipis menyelimuti taman.
Ara kini berada di dekat pagar belakang. Ia tersenyum lega. "Akhirnya."
Pagar itu memang tinggi. Tapi masih mungkin dipanjat. Ia mulai memanjat perlahan.
Saat tangannya hampir mencapai atas—Suara dingin terdengar dari belakang.
"Kalau jatuh, aku harus menjelaskan apa kepada kedua orang tuamu?"
Ara membeku. Perlahan ia menoleh. Dante berdiri sekitar lima meter darinya. Masih mengenakan jas pengantin, hanya dasinya telah dilepas. Tangannya dimasukkan ke saku. Ekspresinya tetap datar.
Ara buru-buru memanjat lebih cepat.
Dante menghela napas. "Kau benar-benar keras kepala."
Ia memberi isyarat kecil kepada para pengawal.
"Kau turun sendiri atau mereka yang akan memaksa mu turun!" tandas Dante tegas.
Ara hampir saja berhasil melompat ke sisi luar. Tapi ia mau tidak mau harus kembali turun.
Belasan pengawal sudah menunggu dengan tangan terlipat. Salah satu dari mereka bahkan membungkuk sopan.
"Selamat pagi, Nyonya."
Ara berbalik perlahan. Dante berdiri kaku di hadapannya. Tatapan mereka kembali bertemu.
"Kau sudah berlari semalaman. Apa sekarang sudah puas?"
Ara mendengus. "Belum."
"Belum?" ulang Dante tak percaya. Kedua alisnya bertautan dingin.
"Aku hanya kehabisan tenaga." Sudut bibir Ara berkedut.
"Kalau begitu kau masih bisa mengajak mereka berlari lagi setelah kau sarapan," tantang Dante memberi penawaran.
Ucapan itu membuat Ara spontan memelototinya. "Kau kira aku hamster?"
"Bukannya kau memang hamster. Karena istriku pasti tahu tidak akan mudah melarikan diri dari mansion ini." sindir Dante tajam.
"Aku lebih memilih jadi hamster," gerutu Ara berkomat-kamit tak jelas.
"Kembalilah ke dalam. Mandi. Sarapan dan istirahat. Malam pertamamu habis untuk bermain petak umpet." Dante menegur halus tapi masih terdengar dingin.
"Baiklah," jawab Ara pasrah. Ia tokh sudah kehabisan kata-kata.
"Bagaimanapun kau sudah menang, kau harus puas dengan kemenangan kecilmu ini," tutur Dante sembari menyamakan langkah kakinya dengan Ara.
Ara mengangkat alis. "Menang darimana?"
"Percaya tidak? Belum pernah ada orang yang membuat tiga puluh pengawalku berlari mengelilingi mansion dari malam sampai pagi."
Di belakangnya, beberapa pengawal saling menahan tawa. Ara menghela napas panjang. Ia kesal dengan cara Dante menyanjung lalu menjatuhkannya.
Dengan langkah berat, ia kembali memasuki halaman mansion. Dalam hati ia berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan mencari cara lain. Ia tidak akan menyerah semudah ini.
***
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!